Standard disclaimer applied.
I do not own Naruto. No material profit was taken.
Knight, Hunter, and Queen
a Naruto fanfiction
.
Chapter XI
"Kau yakin?"
Sakura menghela napas panjang, setelah lelah setengah sebal. "Benar-benar yakin, Sasuke-kun. Kau sudah menanyakannya empat kali dan sudah empat kali juga aku memberi jawaban yang sama." Ditatapnya pemuda itu tepat di kedua mata, mencoba meyakinkan Sasuke bahwa dia siap diinterogasi hari ini, seperti yang sudah dia coba katakan sejak dua puluh menit lalu. "Apa sebenarnya maumu? Bukannya seharusnya kau juga membantu memperlancar penyelidikan? Kau ANBU 'kan sekarang?" tuntutnya.
Sasuke mendengus samar, tidak suka diingatkan dengan fakta bahwa dia pun kini seorang anggota ANBU.
Di belakang mereka, Hatake Kakashi tertawa. "Kau dengar itu, Sasuke-kun."
Sasuke mendesis tak suka ketika mendengar namanya dipanggil seperti itu. Harus berapa kali dia bilang dia tidak suka dipanggil seperti itu? Kakashi benar-benar keras kepala jika sudah menyangkut beberapa hal, terutama yang dia tahu bisa menyulut kekesalan Sasuke. Namun mendengarnya dari Sakura sama sekali tidak membuat Sasuke keberatan.
"Ayo kalau begitu." Sasuke akhirnya menyerah meyakinkan Sakura supaya tidak mengiyakan tawaran interogasi Kakashi hari ini. Sakura masih butuh istirahat, dalihnya tadi, padahal sudah tiga hari ini mereka menunda interogasi. Kakashi sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Mendengarnya, Sakura mengembangkan senyum lega. "Nah, begitu 'kan lebih baik. Padahal yang akan diinterogasi aku, kenapa kau yang ribut," cibirnya setengah menggoda setengah sebal.
Sasuke menanggapinya dengan memutar mata, kemudian berbalik menghadap Kakashi. "Aku akan membawanya."
"Akan kusiapkan ruangannya." Kakashi beranjak mendekat dan mengacak-acak rambut Sakura, lalu menyunggingkan senyum. "Terima kasih, Sakura," ucapnya lembut.
Gadis itu mengangguk mantap. Mata hijaunya kini terlihat terang. "Tentu, Kakashi-sensei."
Begitu Kakashi menghilang di balik pintu kamar rawat Sakura, Sasuke kembali mendesah. "Kau bisa melakukannya besok."
Kali ini ganti Sakura yang memutar mata. "Kau juga mengatakan hal yang sama kemarin, lalu kemarinnya lagi, dan lagi," todongnya sebal. "Kenapa kau khawatir sekali sih?"
Sasuke diam tidak memberikan jawaban. Atau tepatnya, dia tidak memiliki jawaban bagus untuk pertanyaan itu. Dia sendiri tidak begitu paham dengan sikapnya belakangan ini. Baru kali ini Sasuke merasakan ketertarikan kuat terhadap lawan jenis. Belum lagi dia berhasil memproses fakta itu, tiba-tiba saja muncul sisi protektif yang sangat kuat karena dipicu kejadian ini. Satu-satunya hal kini penting baginya hanyalah memastikan Sakura aman dan terlindungi.
Sasuke membutuhkan Sakura aman. Untuk itu, Sasuke rasa dia siap melakukan apa pun. Sejauh itukah Sasuke akan bertindak?
"Ayo." Dihentikannya laju pikirannya yang penuh oleh Sakura. Sasuke mengulurkan tangan dan langsung disambut antusias oleh Sakura. Kini, segala hal mengenai kontak fisik dengan Sakura menjadi hal paling lumrah, paling alamiah.
"Terima kasih, Sasuke," ujarnya membuyarkan pikiran Sasuke.
Pemuda itu menunduk memandang Sakura dan memberinya tatapan bingung.
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku ketika yang lain tidak. Terima kasih karena sudah menemaniku. Terima kasih karena ada untukku." Ada rona kemerahan di wajahnya yang tidak bisa ditutupi.
Untuk sejenak Sasuke hanya diam memandang Sakura, membuat rona merah di wajah gadis itu bertambah. "Hn."
.
"Syukurlah kau sudah tidak apa-apa." Tsunade tersenyum sembari menepuk-nepuk bahu Sakura ketika dua remaja tanggung itu tiba di ruangan yang telah Kakashi siapkan.
Gadis itu membalasnya dengan senyuman tipis. "Terima kasih, Tsunade-sama," ucapnya lirih.
Seminggu ini adalah hari-hari yang berat. Tragedi kematian ayahnya beberapa hari lalu masih membekas jelas dalam ingatannya. Terkadang dia terbangun di tengah malam akibat mimpi buruk dan mendapati dirinya gemetaran dengan napas tersenggal-senggal dan peluh di sekujur tubuh. Kesedihannya begitu besar, masih ditambah dengan hantaman kekecewaan yang dia rasakan terhadap sahabatnya. Kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dia miliki dan dituduh sebagai pembunuhnya adalah satu hal, tetapi menghadapi ketakutan sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil dan melihatnya sebagai pembunuh adalah hal lain yang baru Sakura tahu lebih berat rasanya.
Beruntung dia memiliki Sasuke di sampingnya. Pemuda itu selalu menemaninya di setiap waktu bebas yang dia miliki. Walaupun Sasuke tidak pernah bicara banyak, kehadirannya di sisi Sakura sudah cukup untuk menguatkan dirinya. Dia memang sedih dengan kematian ayahnya dan luar biasa sedih saat kembali mengingat ekspresi Ino terakhir kali dia melihatnya. Namun, kehadiran Sasuke selalu cukup untuk menenangkannya dan sedikit demi sedikit mengobati luka hatinya.
Karena itulah, sekarang dia bisa berada di ruang interogasi ANBU untuk dimintai keterangan mengenai kejadian mengerikan yang terjadi tepat di depan matanya. Kalau saja tidak ada Sasuke—dan Naruto yang terkadang menitipkan salam lewat Sasuke, Sakura tidak tahu bagaimana jadinya dia sekarang.
Sasuke membimbingnya untuk duduk di seberang meja tepat di depan Kakashi, kemudian pemuda itu berdiri di belakangnya.
"Kalau nanti kau merasa tidak enak badan, katakan saja, Sakura. Aku tidak ingin memaksamu," pesan Kakashi. Kedua tangannya ditumpukan ke atas meja.
"Baik, Sensei."
"Kita mulai, kalau begitu." Kakashi berdehem sejenak. "Bisa kau ceritakan bagaimana kau bisa ada di sana?"
Sakura menundukkan kepala, memandang jemarinya yang bertaut gugup. Dia tarik napas panjang dan kembali menatap Kakashi sebelum memulai ceritanya. Rasanya ada gumpalan besar yang mengganjal di lehernya hingga suara dan napasnya tidak bisa dia kendalikan. Suaranya terdengar bergetar dan air mata sudah mengancam keluar dari matanya saat dia kembali mengingat momen terakhir pertemuannya dengan sang ayah.
"Malam sebelumnya aku sudah mendengar berita kedatangan Ayah ke acara peringatan akademi lewat berita malam. Aku mencoba mengiriminya sebuah pesan, menanyakan kebenaran berita itu. Kemudian Ayah memberikan jawaban dan memintaku untuk menemuinya. Aku tahu kami tidak boleh bertemu dengan pihak keluarga tanpa izin tertulis. Karena itu kami memutuskan untuk bertemu sembunyi-sembunyi. Ayah bilang ada sesuatu yang ingin dia berikan kepadaku."
"Kalian berjanji untuk bertemu di taman itu?"
Sakura mengangguk dengan mata buramnya. "Ayah memintaku datang ke taman itu jam sepuluh. Jadi aku ke sana setelah memisahkan diri dari teman-teman. Kami hanya sempat berbincang-bincang sebentar."
"Apa ayahmu sempat memberikan sesuatu kepadamu?"
Gadis itu kembali mengangguk. "Sebuah kalung. Ayah bilang, ini kalung milik Ibu." Dengan tangan gemetar, dia keluarkan kalung kristal bening yang di dalamnya menyimpan sekuntum bunga sakura dari balik bajunya. "Ayah bilang Ibu ingin aku memilikinya karena sekarang aku sudah tujuh belas tahun."
Kakashi mengamati kalung yang ditunjukkan Sakura. Tampak seperti kalung biasa, kecuali kalung itu dibuat dari platina dan kristal bening itu tidak mungkin kristal murahan. Kakashi bertanya-tanya dalam hati apakah ada maksud tertentu di balik kalung itu, atau kalung itu semata-mata hanya hadiah dari orang tua untuk seorang anak gadis yang baru bertambah usia.
"Jadi, ayahmu yang mengusulkan tempat itu?" tanya Kakashi sekali lagi untuk memastikan dan Sakura segera mengangguk membenarkan. "Boleh kulihat pesan yang kalian kirimkan?"
"Ya. Aku mengirimnya lewat e-mail."
Kakashi segera mengulurkan sebuah tablet yang dia terima dari salah satu bawahannya. "Coba tunjukkan kepadaku."
Sakura bergegas mengambil tablet yang diberikan Kakashi, kemudian masuk ke akun e-mailnya. Susah payah dia mengetikkan id dan password miliknya. Dia buka satu percakapan terbaru yang ada di inbox pesannya. Setelah itu, dia mengembalikan tablet itu.
Kakashi menerimanya dan sejenak membaca pesan yang ditunjukkan Sakura. Memang benar. Ayah dan anak itu bertukar pesan singkat mengenai kedatangan sang ayah. Hanya beberapa pesan singkat tanya-jawab. Tidak ada pesan-pesan mencurigakan, sama sekali tidak ada.
Kalau sudah begini, Kakashi kehilangan petunjuk, atau tepatnya dia tidak memiliki petunjuk apa pun untuk melanjutkan penyelidikan. Tempat pertemuan mereka digagas oleh si ayah dan bagaimana mugen no ko mengetahuinya adalah satu tanda tanya besar. Sistem e-mail dan privasi lain bukan hal mudah untuk dibongkar. Sistem keamanannya berada di tingkat tinggi.
Apa mungkin dia melakukan hacking? Itu akan sulit sekali, kalau enggan dikatakan mustahil. Atau setelah mendengar kedatangan korban ke akademi, anak itu membuntutinya seharian? Mungkinkah itu? Apalagi dengan keamanan polisi yang diperketat mengingat banyaknya tokoh-tokoh penting publik dan tidak ada rekaman CCTV yang mencurigakan.
Kakashi meletakkan tablet tipis itu di meja. Kedua sikunya menumpu di meja dan tangannya di depan mulut. "Apa kau bisa menceritakan bagaimana ayahmu terbunuh?" tanyanya hati-hati. Dia tidak ingin membuat Sakura kembali histeris. "Kalau kau merasa enggan, kita bisa melewatkan pertanyaan itu."
Gadis itu menggeleng kuat untuk meyakinkan Kakashi bahwa dia baik-baik saja, tetapi wajahnya tampak seperti menahan sakit. "Tidak apa-apa, Kakashi-sensei." Sakura menarik napas panjang dan dalam. "Aku tidak melihat siapa yang menusuk ayahku karena posisiku membelakangi. Ketika kami berbincang, tiba-tiba saja belati itu sudah menusuk ayahku dari arah depannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap tubuh ayahku yang jatuh ke tanah." Getaran dari suaranya seolah-olah merambat hingga setiap senti tubuhnya, tetapi Sakura terus berusaha bercerita. "Aku terlalu panik sampai tidak bisa melakukan apa-apa. Beberapa saat setelah itu, mereka datang."
Kakashi mengangguk paham. Yang dimaksud Sakura dengan mereka adalah Sasuke dan teman-temannya. "Kau tidak merasa atau mendengar sesuatu yang aneh di sekitarmu sebelum dan sesudah kejadian?"
Kali ini Sakura terdiam. Matanya menerawang ketika dia mencoba mengais ingatannya yang tumpul. Keningnya mengernyit. "Aku tidak begitu memperhatikan sekitar," katanya lamat-lamat. "Jadi aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya aku mendengar suara desingan mirip anak panah yang dilepaskan sesaat sebelum melihat ayahku terbunuh. Begitu aku menyadarinya, sudah ada belati yang mengenai dadanya."
"Suara anak panah?" Kakashi mengerutkan kening. Dia membagi kebingungannya dengan Sasuke yang berdiri diam di depannya.
"Mungkin belati itu ditembakkan dengan arrow gun dari jauh," ucap Sasuke seketika.
"Bisa jadi. Kemungkinannya besar." Kakashi menganggukkan kepalanya berulang kali, tampak menyetujui pemikiran Sasuke. "Aku perlu bicara dengan Shikamaru. Kau bawalah Sakura kembali ke kamarnya." Dikembalikannya tatapan penuh sayang kepada Sakura. "Terima kasih untuk hari ini. Sekarang istirahatlah, Sakura."
Sakura mengangguk, kemudian meraih tangan Sasuke yang diulurkan kepadanya. "Baik. Sampai jumpa, Kakashi-sensei," ucap Sakura sesaat sebelum dia menghilang di balik pintu.
"Aa. Istirahatlah."
.
"Teme, bagaimana kondisi Sakura-chan?"
Sasuke menghentikan aktivitasnya berkutat dengan komputer untuk memberi Naruto sebuah tatapan tajam. "Ini area terlarang untukmu, Naruto."
"Aku tanya bagaimana kondisi Sakura-chan!" ulang Naruto jengkel, sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh Sasuke. Dia sudah kangen sekali. Sudah seminggu dia tidak melihat Sakura karena gadis itu masih harus tinggal lebih lama di markas pusat ANBU demi kepentingan penyelidikan. Belum lagi, kondisi Sakura masih belum stabil untuk berkumpul di tengah-tengah asrama.
Menyadari pemuda keras kepala di hadapannya tidak akan berhenti mengganggunya sebelum dia memberikan jawaban, Sasuke mendesah keras. "Dia baik," jawabnya singkat.
Binar kegembiraan di mata biru itu terlihat. "Dia di mana sekarang? Aku belum melihatnya saat sekolah tadi."
Kegiatan belajar di akademi sudah dimulai sejak empat hari yang lalu begitu rangkaian kegiatan peringatan berdirinya akademi selesai. Untungnya kegiatan-kegiatan selama tiga hari itu tidak terganggu oleh kejadian tersebut. Taman tempat kejadian juga sudah dibersihkan dari sisa-sisa pembunuhan setelah kondisi di sana tercatat lengkap. Kabar meninggalnya anggota parlemen itu tidak disiarkan dan sejauh ini hanya ANBU dan saksi mata saja yang mengetahuinya.
"Kondisinya belum benar-benar stabil." Sasuke menjawab. Dia kembalikan lagi konsentrasinya ke monitor di depannya, berniat melanjutkan perkerjaannya yang sejenak ditinggalkan.
"Di mana? Aku ingin bertemu!"
Sasuke menggeram jengkel. Dia sudah cukup sebal karena harus setiap malam berada di satu dari sekian banyak ruang bawah tanah di markas pusat ANBU. Kehadiran Naruto di sana sama sekali tidak memberinya angin segar.
"Kau. Bagaimana kau sampai di sini?" tuntut Sasuke dengan tatapan menuding diarahkan kepada Naruto.
"Eh? Aku mengikuti Kakashi-sensei," jawabnya polos.
Kakashi? Sasuke memicingkan mata berbahaya. Untuk apa pemuda berisik ini dibawa ke mari? Untuk menganggunya? Kalau memang itu alasannya, Kakashi berhasil. Dengan gemilang. "Di mana dia sekarang?"
Naruto mengangkat bahu. "Tadi dia pergi setelah meninggalkanku di depan," jawabnya ringan seraya menunjuk pintu besi yang ada di seberang ruangan. "Hei, tadi aku bertanya di mana Sakura-chan!" pekiknya kencang, menyadari Sasuke baru saja mengacuhkan pertanyaannya. Lagi. Beberapa ANBU bertopeng yang sedang bertugas ikut mendongakkan kepala ke arah mereka.
Sasuke memberinya tendangan keras di tulang kering, hingga menyebabkan Naruto memekik tertahan.
"Apa-apaan, teme!"
Sepertinya urusannya dengan dobe baka ini tidak akan selesai kalau dia terus mengacuhkannya. Lebih baik dia menuruti permintaan Naruto, kemudian setelah itu dia bisa menggiring pirang berisik itu keluar. Diliriknya jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, memastikan dia punya cukup waktu untuk menemui Shikamaru nanti.
"Ikut aku," gerutu Sasuke. Sekali ini saja dia akan menuruti rengekan Naruto yang tak ada habisnya. Lagipula, dia juga bermaksud mengunjungi Sakura. Sekalian saja.
Naruto yang girang dengan patuh mengikuti Sasuke dari belakang. Sepajang jalan dia hanya bersiul-siul senang, sama sekali tidak memedulikan beberapa ANBU bertopeng yang mengarahkan tatapan tak terbaca kepadanya. Dari sekian banyak orang yang ditemui Naruto, hanya Sasuke yang tidak mau repot-repot memakai topeng keramiknya. Naruto jadi penasaran, kira-kira hewan apa yang ada di topengnya.
"Kau tidak memakai topengmu, teme?"
Akhirnya dia bertanya juga karena saking penasarannya. Namun seperti dugaannya, Sasuke hanya memberinya gerutuan "Hn" andalan.
Mereka menaiki tangga untuk mencapai lantai di mana Sakura berada. Lift kapsul super cepat hanya boleh dipakai oleh Kakashi dan orang-orang berkepentingan lainnya. Untuk menjelajah wilayah bawah tanah yang memiliki lima tingkat itu, mereka harus menggunakan tangga. Mereka berdua sampai di level dua yang merupakan bagian khusus untuk medis ANBU yang dinding-dindingnya sepenuhnya dicat dengan warna hijau mint. Sasuke berbelok ke kanan di koridor yang bercabang, kemudian berhenti di depan pintu bernomor 215.
Melihat angka yang tertera di daun pintu bercat putih itu, Naruto mengerutkan kening. "Woa, ada dua ratus lebih ruangan di sini?" tanyanya terkejut.
Sasuke mendengus. "Digit pertama untuk nomor level," jawab Sasuke sekenanya. Dia tidak lagi memusingkan rentetan omelan Naruto mengenai repotnya sistem penomoran ruangan ketika dia memutar kenop pintu dan mendapati Sakura tengah duduk manis di ranjangnya sambil menikmati makan malam.
"Oh, Sasuke-kun!" seru gadis itu riang. "Naruto!" Melihat teman baiknya muncul di belakang Sasuke, senyumnya bertambah lebar. Sakura bangun dari ranjang dan setengah berlari untuk memeluk Naruto. Makan malamnya yang baru setengah habis ditinggalkan begitu saja.
"Sakura-chan! Kau baik-baik saja? Tidak bosan?" tanya Naruto riang setelah mereka melepaskan pelukan masing-masing.
"Aku bosan sekali. Tidak ada apa-apa di sini," keluh Sakura, diikuti dengan serentetan keluhan lainnya.
"Tenang saja, Sakura-chan! Ada aku sekarang, kau tidak akan bosan lagi!" Naruto terkekeh, kemudian mengikuti Sakura yang sudah menariknya masuk dan duduk di tepi ranjang bersama Sakura.
Gadis itu sudah jauh lebih baik dari beberapa hari lalu. Begitu dia menumpahkan amarah dan kesedihannya kepada Sasuke, sedikit demi sedikit Sakura kembali ceria. Bukannya Sasuke tidak senang melihat Sakura kembali ceria. Namun jika Sakura langsung lengket begitu saja kepada pemuda lain di depannya, mana bisa Sasuke bernapas lega. Ditariknya longgar kerah tinggi kaus hitam yang menjadi seragam standar ANBUnya. Tiba-tiba dia merasa gerah di ruangan berpendingin itu.
Sembari bersedekap di ambang pintu, Sasuke diam mengamati interaksi Sakura dengan Naruto. Dia berceloteh begitu riang sambil sesekali menyuapkan makan malamnya, seolah-olah beban yang menghimpitnya beberapa hari lalu tak pernah ada. Walaupun di kala sendiri gadis itu masih berwajah murung, paling tidak kini dia bisa tersenyum.
"Nee, Sasuke. Sampai kapan Sakura-chan harus di sini?" tanya Naruto memecah lamunan Sasuke.
Sasuke menjawabnya dengan gelengan singkat. "Belum bisa dipastikan."
Mendengar jawaban tidak memuaskan itu, Naruto mengerutkan kening. "Ada apa lagi memangnya?"
Untuk pertanyaan itu, Sasuke juga tidak mengetahui jawabannya. Dia juga sempat protes kepada pimpinannya mengenai hal itu, tetapi Kakashi tetap bersikeras menempatkan Sakura di wilayah markasnya. "Tanya 'kan saja pada Kakashi," jawabnya kemudian.
"Ada apa ini? Kenapa aku disebut-sebut?"
Tiba-tiba saja suara Kakashi terdengar dari balik punggung Sasuke. Pemuda itu menoleh ke arah suara pimpinannya, tetapi tidak berniat memberi salam hormat seperti yang seharusnya bawahan lakukan kepada atasan.
"Hah, rupanya Kakashi-sensei benar-benar ANBU," Naruto mendesah panjang. Hingga detik ini, Naruto belum bisa membawa dirinya untuk memercayai fakta bahwa sensei yang dia kenal sangat santai, suka terlambat, dan selalu memberi alasan-alasan konyol untuk keterlambatannya itu sesungguhnya adalah pimpinan ANBU.
Hatake Kakashi memberinya senyuman hingga membuat mata berbeda warnanya menyipit.
"Sedang apa Sensei di sini?" tanya Sakura penasaran. Kakinya yang menggantung di ranjang diayun-ayunkan ringan.
"Ayo ikut aku sebentar, Sakura. Kalian berdua juga, ikutlah."
Tanpa menunggu jawaban ketiganya, Kakashi kembali berbalik menuju arah kedatangannya. Dengan pandangan bertanya, ketiganya mengikuti Kakashi turun melalui tangga ke level empat bawah tanah, letak ruang-ruang penyelidikan berada.
Kakashi membimbing mereka memasuki sebuah ruangan berpintu besi. Pintu berat itu berbunyi seperti mesin uap berat ketika dibuka secara mekanik dengan memasukkan serangkaian sandi pengaman. Sasuke tahu ruangan apa yang menanti mereka, lain halnya dengan Naruto dan Sakura yang sekarang saling bertukar pandang kebingungan.
Ruangan itu memiliki sistem keamanan paling ketat di seluruh markas ANBU. Atau dengan kata lain, keamanan paling ketat seantero Jepang—kalau boleh dikatakan. Ruangan itu hanya bisa dimasuki oleh buntaichō, presiden, dan orang-orang yang dikehendaki keduanya. Sebuah ruangan yang hanya digunakan untuk kepentingan presiden memberikan misi khusus yang bahkan tidak boleh bocor ke pihak ketiga, anggota ANBU lain sekali pun.
"Masuklah," Kakashi mempersilahkan ketiganya masuk lebih dulu sebelum dia mengikuti di belakang ketiganya dan menutup pintu.
"A–ada apa ini, Kakashi-sensei?" tanya Sakura cemas mendapati tiga orang dewasa yang sudah ada di dalam ruangan itu. Senju Tsunade dan asistennya Shizune, serta Namikaze Minato sendiri.
"Kami ingin membicarakan sesuatu denganmu, Sakura. Kalau kau sudah setuju nantinya, kami ingin kau bersedia melakukan serangkaian tes." Tsunade menunjuk sebuah peti logam yang diletakkan di atas meja.
Sakura memandang peti itu curiga. "Bicara mengenai apa?"
"Jangan menakut-nakutinya dulu, Tsunade-sama." Namikaze Minato yang duduk di kepala meja menengahi.
Dengan lembut, Tsunade tersenyum. "Aku tidak bermaksud begitu, Minato. Duduk dulu, Sakura, Naruto."
Dengan tatapan bingung dan cemas, Sakura duduk di sebelah Naruto, tak jauh dari tempat Minato dan Tsunade berada. Sasuke berdiri bersandar di dinding yang dingin. Air mukanya tidak dapat ditebak. Namun yang pasti, pemuda itu tidak tampak senang. Kakashi ikut berdiri di samping Sasuke seraya menghela napas. Dia juga tidak terlalu senang dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Uh… Omong-omong, kenapa aku juga dibawa ke sini? Aku harus bersaksi lagi?" Naruto bertanya bingung. Dia bisa melihat bahwa urusan di ruangan metalik itu hanya mengenai Sakura. Karenanya, dia tidak habis pikir kenapa Kakashi juga membawanya serta.
"Ya, Naruto. Kau akan bersaksi, tapi bukan lagi mengenai kasus pembunuhan itu. Aku ingin kau bersaksi sebagai satu teman terdekat Sakura yang mengenalnya sejak kecil," jawab Tsunade tegas. "Kami tidak ingin kasus ini bocor lebih jauh, jadi hanya kau saksi yang bisa kami mintai keterangan. Kuharap kau mau bersikap kooperatif," tambahnya kemudian.
"Kalau itu bisa membantu Sakura-chan, tentu aku mau," tegasnya tanpa ragu.
Di sebelahnya, Sakura menghela napas lega. Dia tidak tahu-menahu untuk urusan apa dia kembali diinterogasi. Hal tersebut kembali menimbulkan rasa takut dan cemas. Namun, rasa takutnya sedikit teredam oleh kehadiran Naruto yang terus membelanya dan Sasuke yang selalu bersikap protektif kepadanya.
"Terima kasih," Tsunade mengambil duduk di sebelah Minato, kemudian bertukar pandangan sejenak dengan pria itu. "Sakura, sebelumnya aku berterima kasih atas kejujuran yang sudah kau sampaikan selama interogasi berlangsung. Aku tahu itu adalah pekerjaan berat, mengingat apa yang sudah terjadi. Dan kali ini, kuharap kau juga kembali menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kami dengan jujur. Aku mempercayaimu, tapi bukan di situ letak permasalahannya. Aku perlu membuat orang lain juga mempercayaimu untuk memastikan namamu bersih. Kau bersedia?"
Menatap sosok yang selalu menjadi panutannya, Sakura mengangguk setelah menarik napas panjang. "Tentu, Tsunade-sama."
Sekali lagi, Tsunade tersenyum. "Minumlah." Diulurkannya sebuah botol kaca berisi cairan berwarna kuning encer.
Sakura tahu itu, atau paling tidak dia punya gambaran sedikit mengenainya. Sebuah serum yang baru dikembangkan Tsunade untuk meningkatkan tanda-tanda biologis ketika seseorang berbohong. Dengan meminum cairan kuning tak berasa itu, tubuhnya akan berada dalam kondisi rileks dan bagian-bagian tubuh Sakura yang dapat menunjukkan reaksi terhadap kebohongan—seperti kontraksi iris mata, detak jantung, produksi keringat—akan ditingkatkan ketika dia berbohong sehingga kebohongannya akan terlihat.
Untuk sejenak, dia terdiam memandang botol itu. Tentunya Tsunade sudah tahu bahwa Sakura bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia meminum serum itu. Di situlah letak tes pertamanya. Kebenaran apa pun yang ingin Tsunade ketahui darinya harus memiliki bukti kuat. Dengan memberinya serum itu, semua orang akan yakin dirinya tidak berbohong. Jika Dan apapun yang dia katakan nantinya adalah kejujuran, atau setidaknya adalah fakta yang diketahui Sakura. Jika sekarang Sakura menolak, kecurigaan apa pun terhadapnya akan membesar.
Dengan tangan gemetar, dia ambil botol itu dan menengak isinya hingga habis. Beberapa menit kemudian, Sakura bisa merasakan tubuhnya menjadi tenang secara signifikan. Tangannya tidak lagi gemetar dan napasnya sudah normal. Ditatapnya Tsunade dengan wajah tenang, membuat wanita itu tersenyum lega.
"Baru saja Sakura meminum serum hasil ciptaanku yang akan membuat gelagat kebohongannya terlihat. Ketika nanti dia berbohong, tubuhnya akan merespon dengan meningkatkan debar jantung, jumlah keringat yang diekskresikan, atau tanda-tanda fisik lain yang akan dengan mudah kita amati," terang Tsunade ketika melihat kernyitan bingung di wajah-wajah dalam ruangan itu. "Kau meminumnya dengan mengetahui itu semua, bukan?"
Sakura mengangguk mantap. "Tentu, Tsunade-sama."
"Nah, Kakashi, Minato, kalian bisa memulai pertanyaannya. Efek serum yang diminumnya hanya bertahan paling lama dua jam. Aku masih belum bisa memastikan efektivitas serum itu pada dosis kedua. Sebaiknya kalian cepat."
"Terima kasih, Tsunade-sama," Kakashi beranjak dari tempatnya berdiri dan memilih duduk di depan Sakura. "Nah, Sakura. Pertanyaan pertama dariku. Haruno Kizashi adalah ayahmu, benar?"
"Ya."
"Boleh kutahu nama ibumu?"
"Haruno Mebuki."
"Di mana dia sekarang?"
Sakura, yang merasa bingung kenapa pembicaraan mereka berputar pada ibunya, hanya bisa pasrah menjawab. "Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil."
Hatake Kakashi mengulas senyum hambar. "Kau masih mengingat bagaimana wajah ibumu?" tanyanya halus.
Sejenak Sakura terdiam memandangi jemarinya yang saling bertaut, kemudian dia menggeleng. "Aku sudah tidak ingat. Ibuku meninggal saat aku masih kecil." Dia ingin bertanya kenapa Kakashi menanyakan perihal ibunya. Apakah ibunya memegang peran penting di sini?
"Kau masih ingat mengenai kasus penculikan Orochimaru belasan tahun lalu?"
Dengan kening mengernyit, Sakura berusaha mengangguk. "Ya." Dia berusaha mencari hubungan pertanyaan Kakashi barusan dengan ibunya. Adakah suatu hubungan? Atau Kakashi menanyakannya hanya sebagai pertanyaan pembuka?
Setelah menarik napas panjang beberapa kali dan bertukar pandang dengan Minato, pria itu kembali melanjutkan. "Sakura, apa kau tahu status keberadaan ibumu hingga saat ini?"
Kerutan di kening putihnya semakin dalam. Kebingungannya terlihat jelas. "Aku tidak paham dengan maksud pertanyaan itu, Kakashi-sensei."
"Saat melakukan penyelidikan mengenai latar belakang Haruno Kizashi, salah satunya adalah kartu keluarga, kami mengetahui bahwa istrinya, Haruno Mebuki, berstatus hidup."
Sakura membeliakkan mata. Mulutnya terbuka. "Ba–bagaimana mungkin…"
"Itulah yang menjadi permasalahan di sini, Sakura." Kakashi menatapnya penuh perhatian. "Status ibumu masih hidup. Hal itu tentunya mengherankan karena itu kami berniat mengonfirmasikannya denganmu, tapi sepertinya kau pun sama bingungnya." Kakashi mengambil jeda sejenak. "Ada dua kemungkinan. Pertama, ibumu memang masih hidup dan sudah lama tidak diketahui keberadaannya. Kedua, ibumu sudah meninggal seperti ucapanmu dan ayahmu sengaja memalsukan statusnya."
"Bagaimana…" Suaranya tercekat. Dia merasa ada gumpalan besar di tenggorokannya membuatnya tidak bisa bernapas. "…apa itu mungkin…?"
Dengan lemah, Kakashi menggeleng. "Kalau ibumu masih hidup di luar sana, keberadaannya pasti sudah bisa dilacak. Jadi…" Kakashi memandang Sakura cemas. "Kemungkinan pertama tampaknya agak mustahil."
Sakura menganggukkan kepala lambat. "Aku ingat betul Ayah pernah mengatakan kepadaku saat aku masih kecil kalau Ibu sudah meninggal. Wajahnya begitu sedih saat itu."
"Itu menegaskan kemungkinan kedua. Dari sana, kami ingin mengetahui alasan ayahmu memalsukan status ibumu. Kau tahu sesuatu tentang hal ini, Sakura?"
"Tidak. Aku tidak pernah menanyakan perihal Ibu kepada Ayah." Suaranya melirih. Kepahitan membuat wajahnya kembali murung.
Naruto yang duduk di sebelahnya kembali senewen melihat Sakura bersedih karena pertanyaan Kakashi. Dia hampir sama bangkit dan menggebrak meja, kalau saja Sasuke yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya tidak menahan bahunya kuat-kuat supaya dia tetap duduk.
"Jangan buat keributan," desisnya.
Kakashi tidak berkomentar mengenai Naruto yang tiba-tiba marah. "Kami sudah menebak sejauh itu." Dihelanya napas berat. Punggungnya yang kaku disandarkan ke sandaran empuk kursi. "Kau tahu bukan kalau pergerakan mugen no ko itu hanya memburu orang-orang yang mendukung proyek Orochimaru? Dan kalau motif itu juga berlaku dalam kasus ayahmu, kecurigaan kami ada dua." Mata itu menatap Sakura hati-hati, mengantisipasi ledakan apa pun yang mungkin terjadi, termasuk amarah Sakura.
Namun alih-alih berteriak histeris, gadis itu justru semakin merosot di kursinya. Sakura mati-matian menelan gumpalan bernama kesedihan di kerongkongannya. "Bahwa ayahku juga mendukung proyek terkutuk itu…" Tidak perlu memerlukan orang jenius untuk menebaknya. Dari gelagat Kakashi yang lebih mirip cacing kepanasan di kursinya, Sakura sudah bisa melihat ke arah mana interogasi ini berlanjut. Dan sebuah kecurigaan yang menghantamnya dengan keras... "…dan kecurigaan bahwa mungkin aku adalah salah satu anak mugen."
"Haa?" Naruto adalah yang pertama bereaksi. Tidak lagi dia pedulikan cengkeraman Sasuke di bahunya—karena toh pemuda itu sama tercengangnya dengan Naruto. Naruto berdiri, menggebrak meja. "Apa-apaan itu!" teriaknya marah kepada Kakashi. "Kalian mencurigai Sakura-chan? Bagaimana mungkin!"
Mata memandang tajam tidak hanya datang dari Naruto yang murka. Sasuke yang berdiri di sampingnya juga memberikan tatapan serupa, dengan tambahan satu atau dua derajat aura dingin di sekelilingnya.
"Kalian berdua duduk!" Tsunade balas berteriak. Dia melotot semakin lebar ketika dua muridnya mengacuhkan kata-katanya begitu saja. "Naruto! Sasuke! Duduk dan kita akan membicarakan ini baik-baik!"
"Bagaimana hal ini bisa dibicarakan baik-baik, Baa-chan?!" Suara Naruto naik beberapa oktav. "Kalian lagi-lagi menuduh Sakura-chan!"
"Itulah sebabnya kenapa kau dibawa kemari, Naruto." Satu pihak yang sedari tadi diam akhirnya bicara. Suaranya yang dalam dan penuh kuasa berhasil mengalihkan amukan Naruto dan Sasuke sejenak. Setelah dia pastikan dua pemuda emosional di depannya diam, Minato kembali bicara. "Kau akan meyakinkan kami bahwa Sakura bukan seperti yang kami duga."
Gelombang amarah Naruto seketika padam. "B–bagaimana aku meyakinkan kalian?"
Minato mengulas senyum tipis. "Cara yang sama dengan Sakura. Kami akan menanyaimu nanti. Bersabarlah," Minato memindahkan tatapannya kepada Sasuke. Senyumnya hilang, digantikan sorot mata pengertian. "Dan kau, Sasuke. Ikat kuat-kuat keinginanmu untuk menghajar kami untuk sementara. Tidak sedikit pun kami berniat menyakiti Sakura."
Keinginan menghajar tiga orang dewasa di depannya tidak lantas mereda begitu Minato selesai bicara. Mata hitamnya tertuju kepada Minato, tajam, dan mengancam.
"Kau memerlukan sumpah kami, Sasuke?" Mata biru itu menajam bagai langit yang berkilat-kilat.
Setelah beberapa saat, Sasuke mundur—menyatakan kesediaannya secara tidak langsung untuk menjadi pendengar.
"Lanjutkan, Kakashi," perintah Minato kepada Kakashi setelah mengawasi Sasuke kembali menepi ke dinding dan berdiri diam di sana.
Dengan ragu, Kakashi kembali melanjutkan ucapannya yang belum sempat dia katakan karena Naruto sudah berseru marah lebih dulu kepadanya. "Ya, benar. Itu dugaan terkuat kami. Kami butuh bukti yang lebih kuat untuk menyangkalnya. Bukti itu adalah dirimu sendiri, juga pernyataan Naruto yang mengenalmu dengan baik."
Tsunade kemudian menyodorkan botol berisi cairan yang sama kepada Naruto. "Minumlah."
Tanpa banyak berkomentar, Naruto merenggut botol itu dari atas meja dan menandaskan isinya dalam sekali teguk. "Nah, cepat tanyakan apa saja."
Tsunade mendengus melihat kelakuan Naruto yang mudah panas. "Apa pendapatmu tentang Sakura?"
Mata birunya berputar ke atas, melirik atap ruangan yang tinggi. "Seram, aw!" —Sakura segera menginjak kakinya kuat-kuat. "Tuh 'kan, baru saja kukatakan. Hm!" Pemuda itu bersedekap dengan bibir merucut. "Untuk ukuran seorang gadis, tenaganya barbar—itte!" Naruto memekik lagi. Kali ini lengannya yang dicubit gemas. "Tidak anggun, tidak manis, tidak sabaran, suka main pukul," ucap Naruto cepat dalam satu tarikan napas. Sesudahnya, Sakura mencubitnya empat kali.
Melihat kelakuan dua muridnya yang masih saja bisa bercanda, Tsunade menghela napas sedangkan Kakashi terkekeh.
"Sepertinya percuma menanyaimu, Naruto," keluh Tsunade.
"He? Aku 'kan sudah menjawabnya sebisaku! Itu kejujuran, Baa-chan!" protesnya tidak terima.
"Sudah kubilang berapa kali, jangan memanggilku seperti itu!" Tsunade lepas kendali. Tangannya memukul meja, membuat Kakashi, Minato, dan Naruto mengernyit masam. "Kau saja yang menanyainya, Kakashi. Aku tidak pernah sabar kalau sudah menghadapi tingkahnya."
"Hai, hai," ujarnya. "Nah, Naruto. Jawab dengan serius." Hatake Kakashi berdehem, menampilkan wajah paling seriusnya. "Bagaimana pendapatmu mengenai adanya kemungkinan Sakura seorang mugen?"
Ditatap dengan begitu serius oleh orang paling santai yang dia kenal membuat Naruto tiba-tiba gugup. Dia menatap meja dan Kakashi bergantian. "Tidak. Itu…mustahil. Sakura-chan bukan anak mugen."
"Dari mana kau bisa seyakin itu, Naruto? Apa kau benar-benar mengenal Sakura?" tantang Kakashi. Kesan seriusnya begitu kuat hingga terasa menakutkan.
"Aku yakin. Sangat yakin." Naruto menjawabnya dengan serius. Binar jenaka di mata birunya hilang, menguap dengan cepat. Raut wajahnya tidak lagi dihiasi senyuman. "Sakura bukan anak mugen."
"Tapi sayangnya, pendapatmu tidak cukup. Kami harus memeriksanya sendiri." Kakashi mendesah berat, seolah baru saja mengatakan hal paling berat.
Naruto menatap gurunya penuh selidik. "Memeriksanya bagaimana?"
Kakashi menunjuk peti yang sedari tadi keberadaannya terlupakan. "Tsunade sudah menyiapkan alat-alat untuk melakukan tes fisik sederhana terhadap Sakura."
"Tes macam apa yang akan kalian lakukan? Apakah tubuh mugen no ko berbeda? Kalian akan mengecek DNAnya?" Naruto membombardir mereka dengan rentetan pertanyaannya.
Naruto terlihat begitu serius sekarang, sampai-sampai membuat Kakashi dan Tsunade yang sudah mengenalnya sejak kecil tertegun melihat perubahan sikap dan nada bicaranya.
"Dari yang kita ketahui, tubuh mugen no ko memiliki banyak kelebihan. Sel mereka beraktivitas lebih cepat dari orang biasa. Beberapa di antaranya adalah aktivitas regenerasi sel, pembentukan jaringan baru, dan blood clotting." Tsunade menatap Naruto tepat di kedua mata. Dua iris sewarna madu yang hangat itu tampak teguh dan sedih sekaligus. "Kami bermaksud…melukai fisik Sakura dan melihat bagaimana kondisi lukanya sesudahnya. Sebagai mugen no ko, luka akan lebih cepat sembuh."
Naruto kembali bangkit, menggebrak meja dengan kekuatannya yang menakutkan. Kayu meja di depannya retak, tetapi tidak ada cukup waktu bagi empat orang di dekatnya untuk terkejut karena detik berikutnya Naruto sudah berteriak marah. Marah sekali, hingga tubuhnya gemetar hebat. Beberapa saat kemudian, Sasuke sudah kembali berdiri di belakang Sakura dengan murka yang sama.
"Kalian akan melukai Sakura? Kalian berniat menjadikannya kelinci percobaan?" Suara Naruto naik tinggi.
Bagaimana mungkin orang-orang dewasa itu mengatakan dengan entengnya akan melukai salah satu teman paling berharganya di dunia hanya untuk membuktikan teori mereka? Kenapa kata-katanya tidak dipercaya? Kenapa mereka tega melakukan hal itu kepada Sakura yang begitu hancur menyaksikan kematian ayahnya di depan mata? Kenapa lagi-lagi Sakura harus dituduh atas apa yang tidak dia lakukan? Ke mana perginya belas kasih mereka? Atau jangan-jangan belas kasih itu tak pernah ada dari awal?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membutakan Naruto. Kepalan tangan pemuda itu sudah akan melayang kalau saja Sasuke tidak menahannya, lagi-lagi. Naruto baru akan membanting pemuda di sebelahnya karena berusaha menghalanginya kalau saja tangan pucat itu tidak bergetar hebat selagi menahan tinju Naruto.
Aa. Maknanya sudah jelas. Kalau ada yang perlu dihajar hingga kepalanya mencium tanah, Sasuke lah yang akan melakukannya.
Kilatan amarah Naruto mereda, hanya sedikit dan hanya cukup untuk membuatnya kembali mampu bicara. "Jangan pernah kalian melukai Sakura. Sedikit saja niat itu terlaksana, kalian akan tahu akibatnya," ancam Naruto. Suaranya rendah dan dingin, lebih dari cukup untuk membuat Kakashi, Tsunade, dan Minato tertegun luar biasa. "Dan bukankah tadi kalian sudah berjanji tidak akan melukai Sakura?" Mata biru itu terarah menantang mata biru yang lain, yang pemiliknya telah berjanji kepada Sasuke tidak akan menyakiti Sakura.
"Duduklah, Naruto, Sasuke," pinta Tsunade. Wajahnya masih tampak kaget melihat ledakan kemarahan dua pemuda di hadapannya. "Kami tidak akan melakukannya seekstrem yang kalian bayangkan!" Suaranya diwarnai kecemasan yang nyata, cemas kalau-kalau dua pemuda itu lepas kendali. Bukannya Tsunade takut terluka atau apa, toh Minato dan Kakashi lebih dari cukup untuk menghentikan mereka jika ada kekerasan. Namun, dia tidak ingin amarah yang sudah di ujung tanduk itu membawa masalah berbuntut panjang ke depannya. Yang berdiri di depan mereka, yang sosoknya menjadi sasaran amarah dua pemuda itu tidak lain adalah presiden sendiri.
Hah, dia sudah menolak mentah-mentah ide menyertakan Minato dalam interogasi ini, tetapi pria di sampingnya ini begitu keras kepala. Lihat saja sekarang suasana ruangan ini yang begitu panas. Tsunade merutuk dalam hati. Mungkin Sakura bisa mengendalikan monster-monster penjaganya.
Tsunade mengerling ke arah Sakura yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan memohon. Gadis itu bingung dan cemas melihat Sasuke dan Naruto yang kemarahannya nyaris meledak dan menerjang kalau saja tidak ada meja kayu di depan mereka. Wanita itu memberi isyarat menyuruh Sakura untuk menenangkankan Sasuke dan Naruto.
Masih dengan wajah cemasnya, Sakura meraih tangan Sasuke yang bebas. "Sasuke-kun…" panggilnya.
Mendapati tangannya yang lain digenggam oleh Sakura, pemuda itu menoleh. Hasrat membunuh yang tadi meliputi wajah dinginnya lenyap seketika saat menatap mata hijau Sakura. Keinginannya untuk mengenyahkan siapa saja yang berniat mencelakai Sakura masih kuat dalam dirinya, tetapi mendengarkan keinginan Sakura berada di nomor yang lebih utama.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Gadis itu mengangguk. "Jangan marah. Aku tak apa."
Mengingat kembali alasan kemarahannya, Sasuke mengernyitkan kening. Dia kembali mengarahkan tatapannya ke arah Minato dan Kakashi.
"Sudahlah, jangan marah. Mereka belum melakukan apa-apa," pintanya mengiba. Bibir bawahnya digigit cemas.
Dengan berat hati, Sasuke mengangguk.
"Hentikan Naruto juga. Dia kalau sudah mengamuk tidak bisa dihentikan."
Tanpa berpikir dua kali, Sasuke menarik lengan atas Naruto dan menyentaknya mundur. "Hentikan, dobe."
Naruto yang masih diliputi kemarahan berbalik. "Apa-apaan, teme!"
"Hentikan." Mata hitamnya, masih menyimpan kemarahan yang sama, memandang Naruto tepat di mata birunya. "Paling tidak biarkan Sakura bicara lebih dulu."
Naruto menarik napas panjang, berusaha memadamkan kobaran amarahnya.
"Terima kasih," ucap Sakura sungguh-sungguh kepada Sasuke. Dia ikut berdiri di samping pemuda itu dan memandang Tsunade tanpa berkedip. "Aku tidak keberatan, Tsunade-sama. Kurasa itu adalah cara tercepat untuk mencari tahu."
"Sakura-chan!" Naruto berteriak kaget, lalu buru-buru bungkam karena menerima pelototan Sakura.
"Mereka hanya akan membuat luka kecil. Kalian berlebihan sekali. Aku tidak akan ditusuk sampai berdarah-darah atau apa," kata Sakura berusaha meredakan emosi dua pemuda itu.
Kalau hanya luka kecil, yah, mungkin Naruto masih bisa memberi toleransi. Namun, fakta bahwa Sakura kembali dicurigai tanpa memikirkan bagaimana perasaannya itulah yang menyulut api amarahnya. Sakura tidak seharusnya rela begitu saja dijadikan bahan percobaan. Mereka harusnya memercayai Sakura, apapun kondisinya.
"Aku sudah bilang 'kan kalau Sakura-chan bukan mugen no ko! Kalian ngotot sekali!"
Sakura semakin melebarkan mata memandang Naruto kesal. "Justru kau yang ngotot. Kenapa kau yakin sekali? Aku saja tidak seyakin itu. Kita semua tidak tahu apa yang sudah ayahku lakukan hingga dia menjadi sasaran perburuan anak mugen itu. Kemungkinan tetap ada, Naruto! Kalau memang benar—"
"Kau bukan salah satu anak-anak terkutuk itu, Sakura-chan! Aku tahu!" seru Naruto marah.
"Sakura benar. Kenapa kau seyakin itu, Naruto? Aku tahu kau menyayangi Sakura selayaknya saudarimu, tapi caramu menyangkal ini semua…" Kakashi memandangnya heran. "…seolah kau tahu betul siapa anak-anak itu."
"Tentu saja aku tahu." Naruto kembali memosisikan diri hingga menghadap ke arah Kakashi sepenuhnya. Untuk satu dua alasan yang tidak dia ketahui, mata birunya mencari-cari keberadaan sepasang mata biru yang lain—yang kini tengah memandangnya curiga sekaligus bingung.
"Apa maksudmu, Naruto?" tanya Tsunade hati-hati. Raut wajahnya tidak terbaca. Begitu juga dengan mada cokelat madunya.
"Kau tidak perlu sejauh ini hanya untuk membelaku, Naruto!" Sakura berseru cemas. Temannya itu seolah sudah siap menantang Minato melalui isyarat mata.
Tanpa memandang Sakura, pemuda itu menggeleng. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang belum pernah Sakura lihat. Ekspresi kemantapan, keseriusan, dan entah kenapa ada setitik kebencian dan kegetiran di mata birunya yang tidak lagi bersinar jenaka.
"Tentu saja aku tahu. Karena aku adalah satu dari lima anak itu."
.
[Edited 4/25/2017]
