I'M SORRY TO LOVE YOU
CAST :
JUNG YUNHO
KIM JAEJOONG
SHIM CHANGMIN
Other Cast :
CHO KYUHYUN
WU YI FAN-KRIS
RATED : T
GENRE : Hurt/Comfort, Angst , Romance
CHAPTER 10
BOLD WORDS = FLASHBACK
.
.
.
Perasaan seseorang yang mencintaimu
Tak bisa kau hapus begitu saja
Meskipun kau mencoba untuk membunuh orang tersebut
Tetapi rasa cintanya padamu, tak akan pernah hilang
Cinta itu akan tetap ada meski terbawa mati olehnya
Terkecuali,
Jika kau mengatakan….
"Aku tidak mencintaimu"
Hatinya akan terhenti seketika
Dan perlahan tapi pasti, kau telah membuatnya mati
Hatinya yang mati, karenamu.
.
.
.
Huruf-huruf dengan ukuran kecil tercetak menjadi kalimat yang menyatu pada sebuah majalah. Bola matanya yang terus bergerak mengikuti arah kalimat tersebut, mendadak terhenti ditengah bacaan. Memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan indera penglihat yang dimilikinya. Jung Yunho, namja yang tengah membawa majalah itu sejujurnya tidak terlalu peka dengan apa yang dibacanya. Hanya sekedar membaca tanpa mengerti dari maksud kalimat-kalimat yang sudah dibacanya. Kini pikirannya sangat jauh, yang diingatnya hanyalah kejadian kemarin malam. Kejadian dimana yang membuat keganjalan hatinya pada Jaejoong sudah terjawab.
Dibukanya kembali mata musangnya, Yunho menatap sebuah buku kecil atau lebih tepatnya agenda kecil dengan sampul merah yang tidak diketahuinya apa. Tadi changmin yang mengantarnya. Ia hanya mengatakan untuk membacanya dan jangan tanya apa-apa tentang agenda kecil itu pada dirinya. Ia hanya menyampaikan apa yang disuruh oleh orang yang disayanginya, agar agenda itu sampai ditangan Yunho.
Kaki panjangnya berjalan kearah dimana agenda itu terletak. Yunho melempar agenda itu keatas ranjangnya. Maksud untuk membacanya nanti saja karena ia sedang tidak mood untuk mengerjakan apapun. Tapi saat dilemparnya agenda itu, halaman tengah tanpa sengaja terbuka dan membuat Yunho penasaran dengan tulisan tangan yang mencoretkan pena diatas kertas agenda tersebut. Yunho mengernyitkan keningnya ketika dilihatnya sebuah kalimat
Yunho, bisakah kau memanggil namaku satu kali saja? Aku ingin mendengarnya. Aku ingin mendengarkan suaramu yang memanggil namaku. Bisakah?
Jaejoong
Dengan cepat Yunho mengambil agenda itu dan membalikannya ke halaman selanjutnya
Entah sudah berapa kalimat kasar yang kau lontarkan untukku, tapi apa kau tahu? Itu tidak membuatku menyerah untuk mendapatkan cintamu Yun.
SREKK
Malam ini, kita melihat langit malam yang diwarnai oleh kembang api
Kita sama-sama melihatnya
Disaat kembang api itu meledakan warna indahnya
Aku mencoba membuatnya untuk tersenyum, meskipun menggunakan kedua tanganku
Tapi, Jung Yunho jika kau tersenyum kau terlihat lebih tampan kekekekkeke~^^
SREKK
SREKK
Di hari ulang tahunmu, aku membuatkan sebuah lukisan. Tapi kau menolaknya dan memintaku untuk jangan menganggu hidupmu lagi. jika kita bertemu, aku harus menganggapmu tidak ada. Baik, jika itu yang diinginkan untuk membuatnya bahagia, aku akan melakukannya, meskipun hatiku sakit untuk melakukannya. Kumohon air mata, berhentilah mengalir. Aku tidak ingin terlihat lemah
Tangan putih itu meraba tulisan Jaejoong dengan tintanya yang sudah berlobor diatas kertas
"Kau menangis saat menulis ini, hmm?"
TES
TES
Yunho tidak bisa menahan air matanya. Lagi-lagi tulisan itu terjatuhi oleh air mata, membuat tulisan yang sebelumnya sedikit tidak terbaca, kini semakin tidak jelas. Dengan kasar dihapusnya air mata yang semakin membasahi pipinya. Ia takut, kertas ini akan robek jika volume air matanya semakin banyak terjatuh.
"Maafkan aku" Yunho tersenyum miris "Lihat, air mataku membuat halaman ini semakin tidak jelas"
Yunho mencari halaman terakhir dari catatan tangan milik Jaejoong, begitu banyak isi hati Jaejoong untuknya yang dicurahkan dalam agenda ini.
SREK
Aku berharap, aku adalah matahari yang dapat mencairkan hatimu untukku. Lalu kita akan menyatu, menyatu menjadi cairan bening yang disebut cinta. Cinta yang bening dan mengalir dengan perlahan. Kita tidak akan pernah berpisah jika kita menyatu. Tapi, aku terlalu jauh untuk menghangatkan hatimu. Mianhae, aku tidak dapat menggapaimu lagi. Mianhae.
Yunho menggelengkan kepalanya keras, kalimat yang baru saja dibacanya mengingatkan perkataan Jaejoong yang diucapkannya semalam.
"Kini tidak ada lagi Kim Jaejoong yang mencintai Jung Yunho. Semua telah berakhir"BRAKKK!
Yunho membanting pintu kamarnya dan berlari tergesa menuruni tangga rumahnya. Betapa bodoh dirinya yang selalu membuat orang yang mencintai dan menyayanginya selalu dibuatnya menangis. Betapa sakit hati orang yang mencintainya itu menerima perlakuan yang seharusnya tidak ditunjukkan padanya, pada Jaejoong. Tolong, jika seseorang dapat memutarkan waktu, putarkan waktu saat dirinya bertindak kasar pada Jaejoong, menghiraukannya dan membuatnya menangis. Ia akan membayar semua hal itu dengan perilaku yang pantas untuk Jaejoong dapatkan.
Yunho menarik nafasnya dalam-dalam saat dirinya tepat berada di depan rumah Jaejoong. Sedikit membungkukan tubuhnya dengan tangan yang di sangga pada lututnya. Berlari seperti tadi sedikit menguras tenaga hingga nafasnya menjadi tidak stabil. Matanya menangkap sosok changmin yang tidak terlalu jauh berdiri di dekatnya. Changmin tersenyum lembut saat melihat Yunho yang tengah menatapnya juga. Changmin melirik tangan Yunho yang memegang agenda milik Jaejoong, jari telunjuknya mengarah ke tangan Yunho yang menggenggam agenda merah itu "Hyung sudah baca?"
Yunho tidak menghiraukan pertanyaan changmin barusan, dirinya langsung berjalan kearah pagar rumah Jaejoong. Bermaksud ingin menekan bel rumah yang menempel pada tembok putih itu, tiba-tiba tangannya ditahan oleh tangan Changmin
"Apa?"
"Aku daritadi berdiri disini untuk menunggumu hyung. Aku tahu, setelah kau membaca agenda milik Jae hyung kau pasti akan mencarinya"
"Dia kemana?"
"Jadi hyung sudah tau bagaimana perasaan hyung untuk Jae hyung?" Changmin mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Yunho. Jujur, dia belum sanggup untuk mengatakannya pada Yunho
"Kemana?" Yunho mengulang pertanyaan sebelumnya. Dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan barusan, yang dibutuhkannya sekarang adalah bertemu dengan Kim Jaejoong.
"Dia telah pergi hyung, kau terlambat"
Yunho menyatukan keningnya hingga terbentuk sebuah kerutan kecil, menatap nanar bola mata hitam Changmin. Changmin hanya menghela nafas panjang yang dihembuskan melalui hidungnya. Tatapan Yunho seperti itu membuatnya harus mengerti dari maksud Yunho.
"Kembali ke China. Dan aku tidak tahu kapan dia akan kembali atau tetap untuk tinggal disana"
Bibirnya terangkat sebelah, hingga menampilkan keremehan untuk ucapan changmin barusan. Dia pasti ditipu, tidak mungkin Jaejoong kembali ke China. Jari tangannya yang berjumlah sepeuluh dapat menghitung mundur saat Jaejoong menemuinya dan itu tidak lebih dari 24 jam. Tapi kini Jaejoong sudah tidak disini lagi? Ini bukan sesuatu hal yang lucu. Lelucon yang sungguh tidak masuk akal. Walaupun ini bukan kejadian yang mustahil untuk terjadi.
Yunho membuang arah mukanya yang masih ditatap changmin. Tangannya menekan-nekan tombol yang dapat mengeluarkan suara bunyi yang nyaring
Nihil.
Tak ada hasil.
Yunho memukulkan tangannya pada benda berbesi yang menjadi halangannya untuk masuk ke dalam rumah jaejoong.
"Hey! Buka pintunya"
Yunho terus berusaha untuk menggedor pintu pagar rumah Jaejoong. Hingga menimbulkan suara tangan dan besi itu saling beradu. Changmin mulai melihat tangan Yunho yang memerah. Tak ingin membuat tangan hyung-nya itu semakin parah, digenggamnya tangan Yunho untuk mengehentikan tingkahnya ini. Tapi sayang, tenaganya tidak sehebat tenaga Yunho, hingga tangan itu juga ikut terayun saat Yunho terus menggedor pintu pagar itu lebih keras.
"Hentikan hyung" Tak cukup dengan tanda genggaman itu untuk menyuruh Yunho mengehntikan aksinya, changmin mencobanya dengan kata-kata
"Buka pintunya ! Aku ingin mengatakan sesuatu. Buka pintunya!"
"Hyung, tolong hentikan"
Yunho tetap tidak menggubris changmin. Tidak dipedulikannya tangan changmin yang semakin kuat menggenggam tangannya sampai sekarang. Ucapan changmin yang menyuruhnya untuk berhenti, seakan telinganya tak mendengarnya. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah hanya bertemu Jaejoong.
"JUNG YUNHO, HENTIKAN KUBILANG!"
Changmin menghempaskan tangan Yunho dengan kuat hingga tubuh itu juga ikut tersungkur ke tanah. Entah kekuatan darimana hingga tenaganya mampu melawan Yunho. Dada changmin yang berarah keatas dan kebawah membuat siapa saja yang melihatnya akan tahu jika emosi namja itu tengah dipenuhi oleh amarah.
Sedangkan Yunho tengah sibuk menyembunyikan wajahnya yang sudah berlinang air mata di sela kedua lututnya. Rasa sakit yang dibuat oleh dirinya sendiri tak sebanding dengan rasa sakit yang berada dalam tubuhnya. Kini ia sadar, betapa sakitnya hati Jaejoong. Walaupun tak semua ia dapat merasakannya, tapi ini seperti goresan kecil untuk memulai hatinya yang akan terluka.
Changmin tersadar dengan tindakannya yang diluar batas. Ia mengusap rambutnya kasar dan merendahkan tubuhnya sejajar dengan tubuh Yunho.
"hiks…hiks… aku belum minta maaf padanya. AKU BELUM MENGATAKAN PERASAANKU PADANYA…. hikss"Changmin membawa Yunho dalam pelukan hangatnya. Mengusap punggung itu, memberikan sedikit ketenangan "Kenapa Tuhan baru menyadarkanmu sekarang? Disaat dirinya telah pergi meninggalkanmu" Ucap lirih changmin
.
.
.
Air sungai Han mengalir dengan sangat tenang. Membuat siapapun yang melihatnya akan memberikan kenyamanan tersendiri. Ditemani dengan bintang-bintang yang tak pernah lelah memperlihatkan keindahan sinarnya. Lampu terang yang berdiri tegak di sepanjang jalan tak membuat siapapun merasakan suasana gelap walaupun awan hitam yang sedang menemaninya.
Dalam ketenangan yang damai, sosok itu duduk dikursi taman yang tak jauh dari keindahan sungai han. Menatap genangan air yang tenang, tanpa memperdulikan orang disekitarnya. Yang dirasa, jika dirinya sajalah yang berada disini, hanya dirinya. Tangan kirinya yang selalu menggenggam agenda merah seakan ia tengah menggenggam tangan orang yang sedang dipikirkannya, Jaejoong.
"Yunho hyung, suatu saat kau akan merasa kehilangannya jika dia tidak ada sekitar kita nanti"
"KARENA DIA MENCINTAIMU HYUNG! SANGAT MENCINTAIMU. AKU INGIN MENYADARKANMU BAHWA ORANG YANG KAU BENCI SANGAT MENCINTAIMU"
"Aku ingin kau jangan menganggu hidupku lagi. Anggap saja kau tidak pernah melihatku"
"Aku janji, aku akan jarang muncul dalam kehidupanmu. Mungkin kau akan melihatku dua kali, sekali atau bahkan tidak sama sekali?"
Kalimat tadi seperti kilasan film yang berputar dengan tiba-tiba, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Dirinya mungkin orang paling bodoh yang pernah ada di dunia ini, merasakan cinta disaat orang yang sudah mencintainya berhenti untuk mencintainya. Dan kini, dirinyalah yang menyesal telah menyia-nyiakan orang yang mungkin paling berharga dalam hidupnya
"Kenapa kau sungguh pergi dari hidupku? Kau dimana? Aku membutuhkanmu" Yunho bergumam sembari memeluk tubuhnya erat "Aku membutuhkanmu, sekarang".
.
.
Yunho berjalan limbung menuju rumahnya. Dalam hidupnya, mungkin ini penyesalan yang paling berat untuknya? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan lihat, seorang Jaejoong mampu membuatnya menjadi seperti sekarang. Tapi semua ini tidak akan terjadi jika saja dirinya peka terhadap perasaan Jaejoong. Tapi nasi telah menjadi bubur, takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan hanya mampu dijalani oleh manusia, menentukan arah yang benar untuk menjadi pilihan hidupnya.
KLEK
Pintu kamar Yunho terbuka dengan sempurna. Menampilkan benda-benda yang sama seperti kamar tidur yang dimiliki oleh orang-orang. Direbahkan tubuhnya yang sudah lelah diatas kasur yang selalu menjadi tempatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Yunho membalikan tubuhnya kearah kiri, tanpa sengaja matanya melebar saat menangkap gambar lukisan yang tiba-tiba sudah terpajang dalam kamarnya. Bukankah itu?
"Saengil Chukka Hamnida Yunho"
"Aku tidak butuh kado darimu bodoh!"
Tanpa sadar, air matanya lagi-lagi menurun untuk kesekian kalinya. Yunho sedikit berjalan untuk menggapai lukisan itu hingga kedua tangannya menyentuh lukisan tersebut. Lukisan yang menampilkan dirinya tengah tersenyum. Yunho tersenyum miris, tangannya meraba sebuah sobekan yang masih sedikit terlihat walaupun mungkin Jaejoong mencoba untuk memperbaikinya.
Ponsel Yunho mendadak berdering, tanpa Yunho lihat ia tahu siapa orang yang tengah menghubunginya sekarang. Segeranya ditekan tombol hijau dan mengarahkan ponselnya pada telinganya.
"Gwenchana?" Itulah kata pertama yang diucapkan oleh si penelpon
"Hmm…" Jawab Yunho singkat,
"Kau sudah melihatnya?"
"Ya"
"Hyung maaf, aku langsung menaruhnya sa—"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" Bohongnya
"Sebelum kau menutup telfon ini, aku ingin mengatakan sesuatu hyung"
"Katakan"
"Changmin-ah, katakan pada Yunho maaf jika lukisannya sedikit rusak. Aku sudah memperbaikinya semampuku, tapi hasilnya seperti ini" Changmin berbicara pelan dan halus seakan menyampaikannya sesuai dengan cara Jaejoong "Saat mengatakan itu Jae hyung sedikit tertawa hyung"
Terdengar suara tawa kecil changmin yang diselingi dengan isakannya. Yunho menggigit bibir bawahnya, dirinya tidak beda jauh seperti keadaan changmin. Hanya saja ia menahan isakan itu
"Hadiah ini mungkin tidak semahal hadiah yang lainnya. Tapi aku membuat ini dengan tulus. Tolong ucapkan selamat ulang tahun lagi untuknya dariku. Semoga Yunho bisa selalu tersenyum seperti lukisan ini saat aku pergi nanti" Changmin mengambil jeda sebentar, lalu melanjutkan "Dan, ia menangis hyung"
TIIIT
Yunho mematikan ponselnya. Cukup, cukup sudah. Ia sudah tidak kuat menahan ini semua. Ini terlalu sakit. Yunho memukul dadanya keras, mencoba menghilangkan rasa sakit yang terus mengganjal dalam hatinya. Isakannya terdengar sangat jelas. Air mata dan kata 'maaf' tak bosan-bosannya dilontarkan oleh Yunho untuk Jaejoong.
"Kau akan melihatku yang tersenyum untukmu, bukan orang lain atau siapapun. Aku harus menemukanmu, harus"
4 MONTHS LATER
Butiran-butiran dingin yang terjatuh membuat jalanan kota seoul hampir seluruhnya berubah menjadi warna putih. Udara dingin yang meningkat membuat semua orang harus menggunakan baju tebal guna untuk menghangatkan tubuhnya. Tak jauh berbeda dengan namja yang tengah merapikan syal putihnya yang menutupi leher jenjangnya agar tak merasakan udara dingin saat ia akan keluar dari rumahnya sekarang. Tanpa terasa musim dingin telah tiba, sudah 4 bulan lamanya dirinya mencari keberadaan sosok itu. Kenapa sangat susah untuk mendapatkan alamatnya di China? Apakah ini karma Tuhan yang diberikan untuknya ?
Suhu yang terlalu dingin, membuat nafas Yunho yang dihembuskan membuat sebuah gumpalan asap dingin. Hari ini, ia akan kembali mencari sosok Jaejoong. Tak hanya dirinya, ia juga menyuruh beberapa orang pesuruh untuk mencari keberadaan Jaejoong. Tapi sudah dikatakan sebelumnya, mungkin ini karma Tuhan karena sampai sekarang ia tak mendapatkan info sedikit pun tentang Jaejoong.
"YUNHO HYUNG"
Teriakan melengking dari changmin membuat langkahan kakinya terhenti. Dilihatnya Changmin yang berjuang berlari diatas tumpukan salju yang sedikit tebal menutupi jalanan. Dibelakangnya di susul dengan Kyuhyun yang juga terlari tergopoh-gopoh.
"Ada apa?" Yunho tersenyum melihat dongsaengnya masih kesulitan untuk mencapai tempatnya sekarang, tapi mendadak bibir itu kembali datar saat dilihatnya changmin yang menggoyang-goyangkan kertas diudara untuk memberi tahu Yunho apa yang telah di dapatnya. Tanpa babibu lagi Yunho berlari kearah changmin dan kyuhyun berada. Tak dipedulikan sepatunya yang terus kemasukan salju setiap ia melangkah.
Kertas itu beralih ketangan Yunho sekarang. Mata musangnya melihat deretan kalimat yang sudah lama dicarinya. Ia tersenyum puas.
Yunho memeluk changmin dengan erat. Ia sangat-sangat berterima kasih pada orang yang telah menemukan apa yang dicarinya selama ini. Terasa tangan hangat changmin yang memebalas pelukan Yunho.
"Gomawo changmin-ah"
"Kau harusnya berterima kasih pada orang disampingku hyung"
Yunho melepaskan pelukannya pada changmin dan langsung memeluk tubuh Kyuhyun. Kyuhyun yang belum siap menerima pelukan Ynho sedikit terhuyung kebelakang. Tapi ia senang, akhirnya Yunho dapat menemukan orang yang selama ini dicarinya.
"Gomawo kyuhyun-ah"
Kyuhyun tersenyum "Sama-sama hyung"
Yunho melepaskan pelukannya, kini ditatapnya dua sejoli didepannya yang tengah tersenyum padanya "Darimana kalian mendapatkan ini?"
"Aku punya klien dari China lalu aku mengatakan bahwa changmin juga mempunyai teman yang sekarang tinggal di China. Saat changmin mengatakan nama Jaejoong hyung orang itu sedikit terkaget dan sepertinya mengenalnya. Lalu changmin mengatakan ciri-ciri Jaejoong hyung dan yah, ini hasilnya. Kita mendapatkan alamat Jaejoong hyung di China"
"Ah, jadi sekarang dia bekerja di perusahaan? Dia sepertinya terke—"
"Tidak" Cela changmin cepat "Bukan Jae hyung yang bekerja diperusahaan"
Yunho mengernyitkan keningnya menatap changmin dan Kyuhyun. Matanya seakan mewakili dirinya yang terlihat bingung seperti lalu-siapa-kalau-bukan-Jaejoong.
"Karena klien itu mengenal Kris"
"Kris?" Tanya Yunho semakin bingung
"Kris, kekasih Jae hyung sekarang"
.
.
.
Warna blonde yang mengganti warna hitam dirambutnya tak mengurangi ketampanannya. Jas Hitam yang melekat ditubuhnya membuat wanita-wanita akan menjerit histeris melihat sosok berkharisma itu. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih, dan bibir merahnya yang selalu terlihat. Dan jangan lupa dengan lekuk garis wajahnya yang sangat sempurna.
"Aku berangkat dulu. Kau harus baik-baik baby. Wo Ai Ni" Wu Yi Fan atau yang lebih dikenal dengan nama KRIS mengecup pipi kekasihnya yang tertidur. Tak ada balasan atau balasan kata yang dapat dirasa atau di dengar oleh kris.
Bibi Hyejin yang berdiri di pojok pintu kamar tersebut tersenyum melihat kris yang berpamitan dengan yah, kalian pasti tau siapa nama kekasih dari Kris. Bibi Hyejin merupakan bibi Jaejoong yang telah tinggal bersamanya sejak kecil di China. Sejak sang mama pergi meninggalkan Jaejoong, bibi Hyejinlah pengganti dari sosok sang mama yang merupakan adik kandung dari .
Bibi Hyejin menutup pintu kamar Jaejoong dan berjalan menyamai langkahan kris yang menuju pintu keluar. Kris tersenyum pada Bibi Hyejin. "Aku titip Jaejoong. Kuharap Bibi bisa membantuku selama 3 hari ini. Jika tugasku telah selesai aku akan kembali secepatnya"
Bibi Hyejin mengangguk "Tentu. Kau hati-hatilah di Ningxia"
"Tentu, Aku pamit dulu"
Bibi Hyejin menutup pintu apatement itu. Sejak Kris mengajak Jaejoong untuk tinggal di apartementnya 3 bulan yang lalu ia jarang untuk menjenguk Jaejoong. Karena jarak rumahnya yang sangat jauh dari apartement elit ini. Bibi Hyejin berjalan kearah dapur untuk membuat makan siang, tapi saat didengarnya bel apartement ini berbunyi ditundanya hal yang akan dilakukannya.
KLEK
Namja dengan mata musangnya tersenyum saat melihat sosok yang wanita yang membukakan pintu apartement ini. Wanita yang menerima senyuman dari namja asing yang belum dikenalnya ini juga membalas senyuman dari namja tampan didepannya.
"Apa benar ini rumah err—Kris?" Tanya namja itu ragu dengan bahasa mandarinnya yang fasih
"Benar. Tapi Kris baru saja pergi dan mungkin 3 hari lagi baru akan kembali"
"Ah, jadi seperti itu" Yunho, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mencari akal agar dapat masuk ke dalam apatement ini, tapi …
"Apa kau orang Korea?"
Yunho mengangguk "Yah, aku orang korea. Beberapa jam yang lalu aku baru sampai dari Korea"
Bibi Hyejin tersenyum "Kalau begitu masuklah, aku tidak mungkin mengusir tamu yang baru sampai di China"
Yunho tersenyum menerima sambutan hangatnya yang diberikan oleh wanita yang tak diketahui namanya. Tapi saat melihat mata wanita ini, ia teringat dengan namja yang tengah sebentar lagi akan dilihatnya, Kim Jaejoong. Yunho mengedarkan pandangan kesekitar. Mencari sosok yang selama ini ingin ditemuinya. Tapi yang dilihatnya hanya peralatan mewah dan juga 3 kamar dengan pintu tertutup.
"Duduklah. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu"
"Xie-xie" Yunho tersenyum pada Bibi Hyejin. Sebelum bibi hyejin benar-benar menghilang dari arah pandangannya, Yunho membuat wanita itu terhenti melangkah menuju dapur "Bibi, dimana letak kamar mandi?"
Disitu, kamar mandi utamanya" Bibi Hyejin mengarahkan jarinya pada sudut ruangan sebelah kiri
Yunho mengangguk. Sembari berjalan kearah kamar mandi Yunho terus mengedarkan pandangannya untuk mencari Jaejoong. Tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Jaejoong untuk muncul. Apa mungkin ia berada di dalam kamar atau sedang keluar?
Mencari letak kamar mandi hanya alasannya untuk bisa menemukan Jaejoong. Yunho mengarahkan tangannya pada kenop pintu kamar yang tertutup rapat. Ini memang tindakan kurang sopan, tapi bukankah ini tujuannya untuk datang kemari?
KLEK
Kosong.
Tak ada orang.
Yunho kembali menarik pintu itu dan menutupnya rapat seperti semula. Dirinya kembali melangkah untuk menuju ke pintu kamar selanjutnya. Dengan sedikit ragu, Yunho memegang kenop itu dan mendorongnya kecil.
Matanya mendadak memanas. Disela pintu kecil itu, terlihat orang yang selama ini dicarinya terbaring lemah. Yunho semakin mendorong pintu itu hingga matanya dapat melihat seluruh tubuh Jaejoong yang ditempeli begitu banyak alat-alat rumah sakit. Mulai dari alat pernafasan hingga pendeteksi jantunng.
"Jae…"
Untuk pertama kalinya. Bibir itu menyuarakan nama Jaejoong.
Yunho berjalan terseok mendekati tubuh Jaejoong yang tak bergerak sama sekali. Bukan ini yang dimaunya saat ia menemukan Jaejoong. Yunho ingin senyum Jaejoong yang menyambutnya atau pelukan hangat yang sama seperti sebelum dia pergi meninggalkan Yunho. Bukan sosok yang sangat pucat terbaring lemah dengan mata terpejam seperti sekarang.
Yunho berlutut disamping ranjang Jaejoong, menggenggam tangan Jaejoong yang terasa sangat dingin dengan erat. Berharap tangan itu dapat menggenggamnya balik.
"Jaejoong" Lirih Yunho
Air mata yang sedaritadi mengumpul dipelupuk mata Yunho kini berjatuhan satu demi satu.
"Aku merindukanmu" Yunho mencium tangan Jaejoong yang berada pada genggamannya. Menyalurkan rasa rindu yang tak terbayangkan sudah berapa lamanya.
"Sangat merindukanmu..hiks..hiks…"
"….."
Yunho melepas genggaman tangannya dan kini beralih mengelus rambut Jaejoong dengan pelan. Memperhatikan wajah pucat itu dengan detail. Dalam tangisannya itu, dia tersenyum. Tersenyum karena akhirnya dapat melihat Jaejoong. Melihatnya dengan jarak sedekat ini.
"Jae-ah?" Bisiknya pada telinga Jaejoong. Berharap Jaejoong dapat mendengarkan apa yang dikatakannya
"Kenapa kau bisa seperti ini hmm?" Air mata Yunho yang terus berjatuhan membasahi bantal Jaejoong yang tengah digunakannya
"Bangunlah Jae, bukankah kau ingin mendengarkan suaraku yang memanggilmu? Bangunlah Jae"
"Aku kemari ingin membawakan kabar bahagia untukmu"
"Kau ingin mendengarnya?"
"…"
"Aku mencintaimu Kim Jaejoong"
CUP
Yunho mencium pipi Jaejoong. Memejamkan matanya, menyalurkan kehangatan tubuhnya pada tubuh Jaejoong yang terasa dingin. Air matanya menyatu pada pipi Jaejoong. Bukankah kejadian ini pernah terjadi? Saat sebelum Jaejoong pergi meninggalkan Yunho, Jaejoong lah yang menangis. Tapi sekarang? Saat mereka bertemu kembali, Yunho-lah yang menangisi Jaejoong dan mengatakan bahwa dirinya MENCINTAI JAEJOONG
.
.
.
TO BE CONTINUE
Chapter 10 selesai :D
Maaf, baru sekarang bisa saya siksa Yunho habis-habisan ya lol
Saya masih sibuk PKL. ini aja saya ngebut buatnya /? Gomen ne, kalau di chap ini mengecewakan readers T.T
Thanks ya sudah baca dan reviews dichap sebelumnya ^^ *bow
Untuk chap depan mungkin saya akan membalas reviews kalian. Jadi kalau ada yang ingin ditanyakan, Tanya aja ya. Saya akan bales kok di chap depan :D
Dan untuk chap depan saya akan update sekitar awal Agustus, mungkin habis lebaran :D
Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalaninya ya ;;)
Saya tunggu reviews, kritik, dan saran untuk chap ini.
Makasih sudah baca, comment, follow, dan fave fanfic ini
SORRY IF THERE ANY TYPOOSSS
SEE YOU IN NEXT CHAPTER. PAI-PAI ^^
