Akatsuki no Yona
Chapter 10 – Memory of Snow Fallen
.
15 tahun yang lalu...
Masuk laporan ada desa yang diserang malam itu dan dicurigai mereka dari kerajaan Xing. Mundok membawa serta pasukannya. Begitu tiba di desa itu, Mundok menemukan Maya yang tengah sekarat, terkapar berlumuran darah dengan beberapa anak panah menancap di punggung Maya.
"Mundok, lupakan apa yang terjadi padaku malam ini, tolong rahasiakan apa yang dilakukan Wu Tian malam ini pada siapapun, termasuk pada Aina... cepat temukan dia sebelum pasukan dari Xing..." ujar Maya sebelum tangannya terkulai lemas, menghembuskan nafas terakhirnya.
Mundok mengepalkan tangan, tak ada waktu menyalahkan dirinya yang terlambat datang, dia segera pergi mencari, mengitari desa itu hingga fajar menyingsing.
"sayangnya, tidak ada yang selamat..." ujar salah satu prajurit suku angin yang juga mencari.
Mundok berniat menguburkan Maya, namun saat ia menyadari ada yang aneh di semak-semak dekat tempat jasad Maya berada, ia membuka semak-semak itu dan menemukan Hak dan Aina. Sementara Aina sembunyi di belakang Hak dengan tubuh gemetar dan berurai air mata, Hak yang tak memperdulikan darah yang keluar dari kepalanya mengacungkan pisau kecilnya ke arah Mundok. Setelah membujuk dan meyakinkan keduanya bahwa ia bukan orang jahat, Hak tak sadarkan diri. Nampaknya luka di kepalanya ia dapat karena melindungi Aina dari serangan prajurit lain yang mencoba menyerang mereka. Saat Mundok berdiri di depan makam Son Ren dan Maya, ia menggendong Hak yang dibalut perban tengah tertidur dan menggandeng tangan Aina yang menatap kosong makam itu "apa yang harus kukatakan pada kedua anak ini jika ia bertanya kemana orang tuanya...".
"...ibu?" ujar Aina meneteskan air mata saat ia mendongak.
"Mundok, jangan salahkan dirimu karena kau tak datang tepat waktu... sebagai gantinya, tolong rahasiakan identitas aslinya dan jagalah dia sebagai cucumu, agar ia tumbuh menjadi anak yang kuat... sampai kelak, ia bisa memilih jalannya sendiri dan bisa melindungi dirinya sendiri... maafkan aku karena aku selalu merepotkanmu hingga akhir... terima kasih banyak atas semua yang kau berikan padaku dan Ren, Mundok..." ujar arwah Maya yang muncul di depannya.
Senyuman yang begitu lembut dari sosok arwah Maya terasa memilukan hati sehingga Mundok meneteskan air mata "aku berjanji, tuan putri Maya... akan kuberikan nama 'Son' pada putrimu dan akan kupenuhi permintaan terakhirmu...".
"Aina, jadilah anak yang baik dan tinggallah bersama Mundok, maafkan ibu karena ibu harus pergi meninggalkanmu... selamat tinggal..." ujar arwah Maya yang menghilang perlahan, saat sosok Maya menghilang sepenuhnya berganti dengan kelopak bunga Tsubaki berwarna merah yang terbang tertiup angin, Aina terduduk lemas dan menangis keras "HUWA!? IBU!?".
Hak terbangun, ia meminta Mundok menurunkannya dan memeluk Aina dari belakang setelah menyelimuti Aina dengan syalnya "tak apa-apa... kau tidak sendirian...".
Mendengar ucapan Hak, Aina memeluk erat Hak sambil menangis.
"aku mengangkat keduanya sebagai cucuku dan mengajarkan semua yang kubisa, keduanya tumbuh menjadi anak yang kuat... keduanya adalah taring suku angin, jika Hak adalah prajurit terkuat dengan julukan Raijuu, Aina sebagai prajurit wanita terkuat di suku angin kami juluki Maboroshi Choko (kupu-kupu ilusi / mimpi)...".
"tapi... siapa Wu Tian yang telah membunuh putri Maya itu?" ujar Yun.
"dia adalah pengawal pribadi putri Maya ketika putri Maya masih ada di kastil dan salah satu dari Lima Bintang, tapi sudah lama dia menghilang" ujar Neguro.
"dia sudah mati 4 tahun yang lalu..." ujar Mundok menutup mata sesaat sebelum melanjutkan ceritanya "tepatnya awal musim dingin 4 tahun yang lalu, Wu Tian berusaha membunuh Aina karena mengetahui Aina masih hidup... Hak berhasil menemukan Aina yang diculik dan hampir terbunuh oleh Wu Tian, sehingga Hak membunuh Wu Tian demi melindungi Aina... saat itu Hak masih berusia 15 tahun dan itu pertama kalinya Hak membunuh orang...".
Terlihat Hak yang berusia 15 tahun, berlari di tengah salju yang turun lebat. Ia menemukan Aina yang ditusuk tepat di tengah oleh Wu Tian sehingga Hak membunuh Wu Tian tanpa ragu. Melihat sekujur tubuh Aina dipenuhi dipenuhi kamaitachi dan banyaknya darah yang keluar, Hak menahan pendarahan di tubuh Aina dengan kain yang ia sobek dari bajunya dan baju Aina yang sudah sobek "wajahnya pucat pasi dan tubuhnya dingin sekali... aku harus bergegas?!".
Setelah Hak menyelimuti Aina dengan rompinya, Aina terbangun "...Hak, aku...?".
"diamlah, kau terluka parah..." ujar Hak membopong Aina dan berlari.
"...apa aku akan mati?".
"jangan bicara seperti itu?! aku takkan membiarkanmu mati?!".
"Hak... aku mencintaimu...".
"apa yang kau katakan? Kita memang tak ada hubungan darah, tapi... ini tak sepertimu...".
"karena jika aku mati setelah ini... ini akan jadi saat terakhirku... biarlah kukatakan semuanya... entah sejak kapan, aku berhenti melihatmu sebagai kakakku... aku..." ujar Aina terpotong saat Hak menciumnya, setelahnya Aina tak ingat apapun karena ia tak sadarkan diri akibat rasa sakit di tubuhnya.
"kakek, cepat tolong Aina?!" ujar Hak yang tiba sambil membopong Aina ke rumah mereka.
"sebenarnya aku sudah merasa ada yang aneh saat itu karena atmosfernya jadi lain, tapi kukira itu karena Aina luka parah saat itu sampai Hak jadi sepanik itu, tak kusangka ternyata keduanya sudah sadar perasaan mereka berdua satu sama lain, karena bisa kurasakan setelah peristiwa itu, gelagat keduanya mulai berubah dari hubungan yang akrab sebagai kakak beradik menjadi hubungan antara 'pria' dan 'wanita' meski mereka berdua tetap bersikap layaknya kakak adik di hadapan yang lain...".
"dua-duanya benar-benar lihai menyembunyikan perasaan... kalau begitu ceritanya, wajar saja kita tak sadar..." gumam Han Dae.
"begitu? kalau aku sih sedikit banyak merasa itu akan terjadi cepat atau lambat" ujar Tae Woo.
"lalu bagaimana ceritanya sampai anda bisa tahu hubungan mereka berdua?" tanya Kija.
Saat tersadar, Aina melihat Hak tertidur di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya "...aku masih hidup, toh?".
"jangan bicara seolah kecewa kau selamat" ujar Hak yang membuka matanya dan duduk sambil menguap "tidurlah lagi, ini masih tengah malam... kau tertidur seminggu penuh...".
Beberapa hari setelah itu, saat Aina mulai pulih, Hak kembali menjenguknya "tubuhmu sudah tak apa-apa?".
Aina mengangguk "Hak, kau tak memberitahu kakek apa yang sebenarnya terjadi?".
"dan membuat kakek membunuhku? Aku masih sayang nyawa, tahu...".
"lalu... kenapa saat itu kau menciumku?" ujar Aina mendongak dengan wajah memerah.
"...karena entah sejak kapan, aku juga berhenti melihatmu sebagai adik perempuanku" ujar Hak mengecup kening Aina "aku mencintaimu, Aina...".
"Hak, jangan..." ujar Aina menahan Hak saat Hak ingin memeluknya.
"maaf, lukamu...".
"tenang saja, tubuhku sudah tak apa-apa, kok... hanya saja ada bekas luka di tubuhku... jelek kan...".
"aku tak peduli..." ujar Hak memeluk erat Aina "bagiku kau tetap cantik... tak peduli berapapun banyaknya bekas luka di tubuhmu...".
Saat Hak mencium tengkuk leher Aina dan memeluk Aina dari belakang, Mundok masuk tiba-tiba.
"untung aku yang masuk, dan jika bukan karena Aina memintaku untuk tak menghajarnya, aku sudah siap menghajarnya habis-habisan atau mencambuknya, apalagi aku tambah naik darah saat dia malah berbalik menantangku sambil mengacungkan tombaknya padaku dan berkata kalau ia tak akan mundur...".
"justru menurutku tuan Hak lagi sial, karena anda yang memergoki mereka berdua" ujar Tae Woo.
"setelah itu aku mengajak mereka berdua bicara dan...".
"maaf..." ujar Hak dan Aina duduk bersimpuh di depan Mundok.
"yah, aku tak keberatan jika memang seperti itu perasaan kalian berdua... aku hanya... terlalu terkejut...".
"kurasa orang tua manapun akan terkejut jika mereka memergoki anak gadisnya dipeluk laki-laki, kan?" ujar Aina tertawa kecil.
"benar, dan jika kalian berdua memang serius, buatlah kepastian... sebentar lagi kalian berusia 16 tahun jadi untuk sementara waktu tak apa jika kalian bertunangan lebih dulu, kan?" tanya Mundok.
"setuju" ujar Hak langsung.
"eh!? langsung!? tak kau pikir dulu?" ujar Aina terkejut menoleh ke arah Hak.
"kenapa? kau tak mau? aku takkan memaksa jika kau memang tak mau".
"bukannya aku tak mau!?".
"ya sudah, tak masalah, kan?".
"tapi aku...".
"apa yang kau takutkan?".
"bukannya aku tak mau, hanya saja aku... merasa takut... kalau aku tak pantas untukmu...".
"bodoh, percaya dirilah... lagipula aku tidak punya alasan untuk menolakmu karena hanya laki-laki bodoh yang menolakmu..." ujar Hak terkekeh.
Kali ini bukan hanya wajah Aina yang merah padam, tapi sampai ke leher dan telinga Aina.
"jadi, jawabanmu... Aina?" tanya Mundok.
"...aku senang sekali" ujar Aina tersenyum lebar.
"Mundok, apa reaksi Aina saat Hak akan pergi dari Fuuga karena menjadi pengawalku?" tanya Yona.
Mundok melirik ke arah lain "...".
"jangan bilang pas mereka berdua selesai kejar-kejaran dari rumah ke gunung itu, baru mereka bertengkar mulut dan mesra-mesraan?" ujar Han Dae tertawa karena teringat apa yang terjadi.
"kurasa itu karena nona Aina cemburu dan lagi nona Aina tak suka ditinggal, kan?" ujar Tae Woo terkekeh "aku ingat betul keduanya berdebat sambil adu tombak meski mereka bertengkar dengan bersikap layaknya kakak beradik di depan kita, tapi sebenarnya apa masalahnya?".
"tanyakan pada orangnya langsung..." ujar Mundok.
"sejujurnya ketimbang ia harus menikah dengan Soo Won, aku lebih setuju jika Aina menikah dengan pria bernama Hak itu" ujar Kou Ren menghela napas.
"kenapa namaku disebut-sebut?" ujar Hak yang kembali sambil membopong Aina yang tidak sadarkan diri "tolong baringkan dia, kelihatannya demamnya naik... sejak aku menyentuhnya dari awal, suhu tubuhnya memang sudah panas".
