Title :

Kuroko no Koi

Disclaimer :
I don't own anything

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Fem!Kuroko x GoM, etc

Warning :

GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko, OOC, etc :v


"HEEEEEE!? Dai-chan juga!?" suara itu membuat Kuroko harus menjauhkan ponselnya dari telinganya demi keamanan gendang telinganya.

"Momoi-san, suara mu bisa membuat telinga ku rusak," Satsuki terdengar cengengesan disana,

"Tapi kau sangat hebat, Tetsu-chan. Bisa menggaet 3 cowok sekaligus!" tanggap Satsuki,

"Iya, iya, terimakasih sudah memuji. Tapi bukan itu yang mau ku dengar."

"Jadi?" Kuroko menghela nafas,

"Ayolah Momoi-san. Aku butuh saran, apa yang harus aku lakukan...?"

"Hmm, hadapi saja!" Kuroko mengerutkan dahinya,

"Hadapi, bagaimana?" Satsuki terdengar menghela nafas,

"Katakan saja perasaan mu pada mereka, mereka pasti mengerti."

"Menurut mu begitu?" Di sana Satsuki mengangguk, walaupun Kuroko tidak mungkin dapat melihatnya.

"Kalau mereka benar-benar menyukaimu, mereka pasti mengerti."

"Baiklah, akan ku coba. Arigatou, Momoi-san." "Doita~"

KLIK!

Kuroko merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, bayang-bayang kejadian beberapa hari yang lalu masih menghantui Kuroko.

Ia masih bertanya-tanya apa yang sebaiknya ia lakukan agar tidak memiih keputusan yang salah. Kuroko hanya diam di kamarnya. Ia tak melakukan pergerakan sedikitpun, tetap meringkuk di atas tempat tidurnya.

Jika kalian bertanya-tanya tentang kabar Akashi, tenang saja, ia sering mengirimi pesan pada Kuroko. Hanya untuk sekedar bertanya, sedang apa, atau bagaimana keadaannya sekarang.

Midorimapun sering mengobrol dengan Kuroko melalui balkon. Tentu saja, ditemani oleh salju yang sudah memenuhi balkon mereka masing-masing.

Saat ini, Kuroko mencoba memikirkan saran dari Satsuki beberapa saat yang lalu.

"Mengatakan perasaan yang sebenarnya? Bagaimana caranya?" gumam Kuroko,

DRET! DRET! DRET! DRET! BRUKK!

Ponsel yang tiba-tiba saja berbunyi membuat Kuroko terjatuh dari tempat tidur.

"Moshi-moshi..?"

"Tetsuya, kau ada di rumah?" Kuroko yang tadi jatuh kembali bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidurnya.

"Akashi-kun? Iya, aku di rumah ada apa?"

"Aku ke sana sekarang," TUUUUUT "Eh?"

.

.

.

Ting! Tong! Ting! Tong!

"Akashi-kun!?" Kuroko terperanjat mendapati Akashi sudah berdiri di depan rumahnya,

"Aku sudah bilang aku akan kemari bukan?" Kuroko mengangguk lemas, ia mempersilahkan Akashi masuk. Akashipun memasuki rumah Kuroko. Keduanya kini duduk di ruang tamu.

"Akashi-kun? Aku akan buatkan minuman, ingin apa?" tanya Kuroko seraya beranjak dari tempat duduknya.

"Apa saja, yang penting hangat," balas Akashi, Kuroko mengangguk, iapun beranjak,

"Oh, aku tadi membuat soup tofu, apa mau coba?" tawar Kuroko, Akashi mengangguk dengan semangat.

Kuroko kembali dari dapur dengan nampan yang berisi semangkuk soup tofu dan segelas Earl Grey hangat.

"Silahkan," Kuroko meletakkan nampan itu di meja yang berada di depan Akashi.

Akashi langsung melahap soup tofu buatan Kuroko,

"Kau tidak makan? Tetsuya?" Kuroko menggeleng,

"Aku sudah tadi." Akashi ber-oh ria, kemudian kembali menikmati soup tofunya.

"Gochisosama," Akashi menyeka mulutnya dengan serbet yang diberikan Kuroko.

"Oishi desuka?" Akashi mengangguk,

"Sangat enak! Kau benar-benar berbakat," ujar Akashi kemudian menyeruput tehnya,

"Syukurlah, jika kau menyukainya," tukas Kuroko. Akashi meletakkan cangkirnya kembali di meja.

"Jadi? Ada apa?" tanya Kuroko, Akashi menyilangkan kakinya,

"Aku hanya datang untuk mengunjungi mu, melihat keadaanmu."

Kuroko langsung melongo, disertai sweat drop yang memenuhi kepalanya.

"Ano, apa maksudya, Akashi-kun?" Akashi menghela nafas,

"Lupakan, mau jalan-jalan keluar sebentar?" ajak Akashi, Kuroko mengangguk.

.

.

.

"Jadi, kita akan kemana?" tanya Kuroko yang kini sudah mengenakan sweater putih yang dihiasi garis vertikal berwarna merah dengan rok mini dan legging hitam. Tak ketinggalan syal merah marun melingkar di lehernya.

Akashi terperangah melihat Kuroko, matanya tak berkedip sedikitpun,

"Akashi-kun?" Kuroko melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Akashi, membuat Akashi tersadar dari lamunannya.

"Ah, sumanai, aku tidak menyangka kalau warna merah ternyata cocok untuk mu."

Kuroko langsung blushing, ia menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.

"Kau? Tidak menggunakan sarung tangan?" tanya Akashi, Kuroko melihat ke arah kedua telapak tangannya yang tak dibalut apapun.

"A-aku menghilangkan sarung tangan ku... Mu-mungkin aku akan membelinya nanti.."

Akashi mengehela nafas, kemudian ia melepaskan sarung tangan rajut berwarna hitam yang ia kenakan dan menyodorkannya kepada Kuroko.

"Eh?"

"Kenakan ini, aku tidak bisa membiarkan kedua tangan mu itu pucat dan membeku."

"A-Akashi-kun, tapi, hal itu tak perlu..." tolak Kuroko, Akashi membuat tatapannya menjadi tajam,

"Tetsuya, kenakan!" perintah Akashi, Kurokopun langsung menerima sarung tangan itu dan mengenakannya. Akashi tersenyum kecil,

"Baiklah, ayo pergi sekarang." Kuroko mengangguk. Ia berjalan di belakang Akashi, mengikuti setiap langkah dari seorang Akashi Seijuro.

Kuroko beberapa kali harus berlari kecil untuk menyamai langkah Akashi yang sedikit terlalu cepat baginya. Akashi yang mengetahui hal itu, sebisa mungkin mengurangi kecepatan langkah kakinya namun selalu gagal.

"Akashi-kun? Kita mau ke mana?" tanya Kuroko, Akashi tidak menjawab, keduanya terus berjalan tanpa tujuan. Yah, walaupun hanya Kuroko yang merasakan hal itu.

"Baiklah, kita sampai." Keduanya berhenti di depan sebuah keramaian,

"Eh? Festival? Di tempat ini?" Kuroko terkagum-kagum melihat pahatan es yang menghiasi pintu masuk festival itu. Kuroko baru tau kalau di daerah ini juga diadakan festival musim dingin seperti di Sapporo, Hokkaido.

"Perusahaan ayahku yang mengadakannya. Untuk ajang promosi." Jelas Akashi,

"Eh? Akashi group?" Akashi mengangguk, "Kau tau soal itu?"

"Kepala Akashi groupkan teman bisnis Papa." Ujar Kuroko, Akashi menepuk dahinya,

"Jadi dia putri dari Kuroko Takuya itu kah -_- Kenapa aku tidak menyadarinya!?"

Akashi menarik tangan Kuroko, keduanyapun mulai berjalan di tengah keramaian, menikmati festival. Ada banyak sekali pahatan es yang jauh lebih hebat dari pada yang ada di depan tadi.

Ada juga pedagang-pedagang yang menjual barang-barang antik di sana. Mata Kuroko tak henti-hentinya di manjakan oleh pemandangan pahatan es dan barang-barang antik yang sangat menawan.

Mata Kuroko tak henti-hentinya menelusuri semua celah yang ada di festival itu, hingga suatu ketika...

"Ada apa Tetsuya?" tanya Akashi yang heran karena Kuroko tiba-tiba berhenti.

"Are wa..." Kuroko menunjuk sebuah boneka beruang pada sebuah pelelangan. Loh? Pelelangan di sebuah festival?

"Akashi-kun! Akashi-kun! Lihat mata dan hidungnya yang seimbang, bentuk telinganya juga bagus, bagian yang sangat sempurna! Dari semua beruang yang pernah aku lihat, inilah yang paling imut!" seru Kuroko antusias sambil menarik-narik lengan coat Akashi,

"Kalau tidak salah itu harusnya buatan Jerman bukan?" tanggap Akashi, Kuroko mengangguk

"Boneka itu terkenal pada sekitar abad ke-19. Kalau begitu, itu hanya replika? Atau asli?" Kuroko sedikit bingung,

"Itu buatan Jerman, tapi bukan boneka yang kau maksud itu. Itu replika dari yang asli." Jelas Akashi, Kuroko mengangguk pelan tanda mengerti.

"Jadi? Kau menginginkannya?" tanya Akashi, Kuroko mengangguk dengan semangatnya, Akashi tertawa kecil melihat tingkah Kuroko yang seperti anak kecil.

"Kau menginginkannya?" Akashi kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, Kuroko yang baru sadar dengan sikapnya yang kekanak-kanakkan langsung menggeleng.

"A-aku sudah punya satu bonek beruang di rumah, jadi itu ano..." Kuroko memainkan jari-jarinya, Akashi mengelus puncak kepala Kuroko pelan.

"Tunggulah, aku akan memenangkan boneka itu untuk mu." Akashi berjalan menuju pelelangan itu, Kuroko berusaha meraih lengan Akashi namun gagal. Akashi sudah lebih dulu melangkahkan kakinya, meninggalkan Kuroko.


20 menit sudah Kuroko menanti, Kuroko sibuk menikmati vanilla shakenya. Di saat yang sama, Akashi menghampirinya dengan nafas terengah-engah.

"Lihat, Tetsuya.. hh.. aku memenangkannya, untuk mu." Akashi menyerahkan boneka beruang yang ada di tangannya pada Kuroko. Kuroko meletakkan vanilla shakenya di bangku yang ia duduki dan menerima boneka itu.

"Akashi-kun, ini benar untuk ku?" tanya Kuroko, Akashi mengangguk,

"Tapi ini kan..." Akashi menghela nafas, "Terima saja, hadiah natal dari ku."

"Tapi natal masih sangat lama, Akashi-kun." Protes Kuroko. Akashi hanya diam dan memalingkan pandangannya. Kuroko meletakkan boneka itu di bangku dan...

"Arigatou, Akashi-kun..." Kuroko menghambur pelukan kepada Akashi. Akashi terperanjat, wajahnya memerah, semerah rambutnya,

"Tetsuya.." Akashi membalas pelukan hangat Kuroko. Setelah beberapa saat Kuroko melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar pada Akashi.

Kuroko benar-benar kaget melihat tangan Akashi yang sudah benar-benar pucat, ia buru-buru melepas sarung tangannya dan memberikannya pada Akashi.

"Akashi-kun tangan mu benar-benar pucat, ini cepat kenakan!" Akashi menolak,

"Akashi-kun!" "Kalau aku bilang tidak ya tidak!" Akashi membentak Kuroko,

"Gomen, aku hanya tidak ingin kau kedingingan. Biar aku saja yang merasakannya," Akashi menundukkan kepalanya. Kuroko menghela nafas, kemudian ia meraih kedua tangan Akashi.

"Kalau begitu izinkan aku menggenggam keduanya!" Akashi kembali terperanjat, rona merah bersemu di pipinya.

"Arigatou, Tetsuya.." Kuroko mengangguk, tapi kemudian...

"Eh? Kalau begini, aku tidak bisa membawa boneka itu.." gumam Kuroko, Akashi sontak langsung menjitak kepala Kuroko. "Itch.."

"Kau ini benar-benar bodoh. Kau tidak perlu menggenggam keduanya. Cukup satu saja, yang lainnya bisa aku hangatkan di saku coatku. Dan tangan mu yang lainnya memeluk boneka itu." Kuroko yang tengah mengusap-usap kepalanya mengangguk pelan.

Mereka berduapun berjalan sambil bergandengan tangan, Akashi berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan bahagianya. Namun ia gagal, senyuman kecil bersemayam di wajah pemuda tampan itu.

"Akashi-kun, Akashi-kun, kira-kira nama yang bagus untuk boneka ini apa?" tanya Kuroko, dahi Akashi berkerut seribu,

"Nama? Kenapa perlu dinamai? Namanya sudah pasti boneka bukan?" tukas Akashi,

"Inikan benda spesial, harus dinamai!" sungut Kuroko,

"Seperti anak kecil saja -_-a" batin Akashi, ia menghela nafas, menciptakan kepulan uap di udara.

"AkaKuro?" usul Akashi, "Nama yang aneh," tanggap Kuroko,

"Heeh, kau sajalah yang beri nama!" Kuroko terkekeh,

"Jaa, Sei-kun!" "Eh?" "Sei-kun, namanya Sei-kun!" "Haah?" "Namanya imut bukan?"

Akashi kembali mengerutkan dahinya, jujur ia sedikit cemburu pada boneka itu karena mendapat perhatian spesial dari Kuroko. Ia jadi menyesal telah memberikan boneka itu. Tapi, dengan hadirnya boneka itu, Akashi dapat melihat kebahagiaan di wajah Kuroko.

"Aku juga ingin di panggil begitu oleh Tetsuya," gumam Akashi,

"Eh?" Kuroko menghentikan langkahya, kemudian menatap wajah Akashi,

"Coba, panggil aku dengan panggilan itu." Pinta Akashi, Kuroko menggeleng,

"Lakukan!" ujar Akashi dengan nada memerintah...

"Ba-baiklah..." Kuroko menunduk, mencoba mengumpulkan keberaniannya,

"Se-Sei-kun..." "Lagi!" "Sei-kun.." "Lagi.. lagi.."

"Sei-kun! Sei-kun! Sei-kun! Sei-kun!" Kuroko menyebut nama itu berkali-kali membuat Akashi tak kuasa menahan tawa. Kuroko yang sadar kalau ia di tertawai langsung menggembungkan pipinya.

"Uhuk.. uhuk.." Akashi kembali dengan wajah dinginnya yang biasa, berusaha jaga image.

"Mulai sekarang dan seterusnya, panggil aku dengan sebutan itu, mengerti?" Kuroko mengangguk. Di saat itu juga, Akashi mencuri cium dari pipi putih Kuroko.

"Aku mencintai mu, Tetsuya." Bisik Akashi, "Eh?"

"Ayo, kita pulang sekarang." Akashi menarik tangan Kuroko. Keduanyapun berjalan pulang, bersama, dengan ekspresi yang malu-malu, sambil terus bergandengan tangan.

.

.

.

Kuroko lagi-lagi duduk menggalau di pinggir tempat tidurnya, sambil memeluk boneka pemberian Akashi, Sei-kun.

Kuroko membenamkan kepalanya di boneka itu, ia terus terbayang ketika Akashi mencium pipinya dan membisikkan sebuah mantra di telinganya.

Kuroko berusaha menjernihkan pikirannya. Untuk hal itu, Kurokopun memutuskan untuk minum susu hangat, bukan vanilla shake ya. Namun, di kulkas, ia hanya menemukan cola milik Papanya. Hal ini memaksa Kuroko pergi ke super market terdekat.

Karena terburu-buru, Kuroko lupa mengenakan syalnya dan berpakaian asal-asalan. Sesampainya di super market, Kuroko betemu dengan seorang pemuda dengan rambut hijau,

"Midorima-kun?" "Kuroko?" Keduanya berpapasan di pintu masuk,

"Kau ingin beli sesuatu?" tanya Midorima, Kuroko mengangguk,

"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Kita bisa pulang bersama, nanodayo."

Kuroko terenyum kecil kemudian mengangguk,

"A-aku melakukannya bukan karena aku peduli atau semacamnya ya, nanodayo!" Kuroko terkekeh, kemudian berlari memasuki super market .

5 menit berlalu,

"Maaf membuatmu menunggu, Midorima-kun." Midorima menatap Kuroko yang baru saja keluar dari super market. Ia mendesah,

"Kau. Apakah kau ingin membuatku memberikan semua syalku pada mu?" ujarnya sambil melingkarkan syal yang tadi ia kenakan pada leher Kuroko.

"Kau tidak perlu memberikannya padaku kan? Meminjamkan saja, aku pasti akan mengembalikannya." Tukas Kuroko, Midorima menggeleng,

"Sudahlah, ayo kita pulang, nandayo." Midorima menarik tangan kanan Kuroko, keduanyapun berjalan sambil bergandengan tangan.

Rona merah bermuara di pipi Midorima, begitu pula dengan Kuroko. Beberapa kali dinginnya angin malam yang menerpa keduanya membuat tangan Kuroko gemetar. Dan tangan besar milik Midorimapun menggenggamnya dengan erat agar tangan itu berhenti bergetar.

"Baiklah, sampai jumpa besok, nanodayo." Kuroko mengangguk,

"Syalnya akan aku kembalikan besok ya," Midorima menggeleng,

"Untuk mu saja, nanodayo" ucapnya sambil berjalan meninggalkan Kuroko.

"Arigatou ne!" Kurokopun berlari memasuki rumahnya.


Matahari bersinar terang di pagi itu, walaupun musim dingin, Kuroko dapat merasakan hangatnya sinar sang surya yang masuk melalui ventilasi kamarnya.

Kuroko bangkit dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Hari ini, ia memutuskan untuk menyampaikan perasaannya yang sebenarnya pada Kise, Aomine, dan Murasakibara. Oleh, karena itu ia meminta ketiganya berkumpul di taman jam 10.

"Pukul 09.55, oh, aku terlambat." Kuroko mempercepat langkahnya, di taman ia mendapati 3 pemuda dengan rambut warna-warni telah menunggunya.

"Kurochin/Kurokocchi/Tetsu."

"Maaf, aku membuat kalian menunggu." Ketiganya menggeleng, Kuroko menghela nafas.

"Begini, aku akan langsung ke intinya. Aku senang saat kalian menyatakan perasaan kalian kepadaku, aku menghargainya. Namun, aku benar-benar minta maaf.. aku tidak bisa membalas perasaan tulus kalian. Ini bukan berarti aku membenci kalian, hanya saja, rasa suka yang aku rasakan pada kalian tidaklah sama. Oleh karena itu aku... tidak bisa membalas perasaan kalian.."

Aomine, Kise, dan Murasakibara termenung mendegar penjelasan Kuroko. Sementara Kuroko berharap-harap cemas dengan reaksi ketiganya. Kemudian, sebuah senyuman menghiasi wajah ketiganya.

"Meskipun begitu..." Kise mengenggam tangan kanan Kuroko,

"Sekalipun itu adalah keputusan mu.." Aomine mengelus punggug tangan kiri Kuroko,

"Walaupun itu yang terjadi..." Murasakibara berdiri tepat di depanku.

"Kami tetap mencintai mu, Kuroko Tetsuya."

Murasakibara memeluk Kuroko erat, Aomine mencium punggung tangan kiri Kuroko dan Kisepun mengecup punggung tangan kanan Kuroko.

Kuroko tersenyum lega, ia benar-benar terkejut sekaligus lega atas reaksi ketinganya.

"Arigatou... Arigatou.." gumam Kuroko. Saat itu, Kuroko berhasil melewati dinding penghalang pertamanya, sementara itu, dinding peghalang lainnya sudah menunggu gadis itu di depan sana.

"Kami tetap mencintai mu, Kuroko Tetsuya."

To be continued.


Fyuuh~ sempet-sempetin ngetik pas lagi belajar buat UTS :v wkwkwkwk, jangan di tiru ya :v

Gimana? Gimana pendapat kalian, readers tachi? Memuaskan kah? Atau tidak? Yang mana?

Yah, kemungkinan, chapter berikutnya merupakan chapter terakhir, jadi, selamat menunggu yaa~ ohohohooho, jujur aja, sebenarnya saya masih galau mau mengakhirinya dengan MidoKuro atau AkaKuro. Saya benar-benar dilema -_- Kenapa? Karena keduanya favorit saya ToT /nangis di pojokkan/

Siapa saja, bantu saya memutuskan akhir dari kisah gaje ini.

Yah, pokoknya makasih uda mau baca, keep waiting yo~ :-*