Disclaimer : karakter yang berada di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto loh.

Genre : Humor (sedikit mungkin), Romantice (sedikit mungkin), Hurt/Comfort.

Rate : M (untuk perkataan dll.)

Pair Utama :
-Sasuke U (20-) X Hinata H (19-),
-Naruto U (19) X Sakura H (19)
-Pair slight SasuNaru dan SakuHina.

Warning : typo (pastinya banyak), AU (tentunya), gaje, abal, pasaran, OOC, dll. Dan maaf ucapannya terlalu vulgar.

Summary : "Kalau begitu bereskan seluruh pakaian kalian dan angkat kakilah dari rumah ini."/ "Oke kalau itu mau mu. Jadi jangan salahkan aku jika kau akan mendapatkan malu TUAN GAY."/ "Kau yang menjadi pasangan seks Naruto."/ "HINATA AWAS!"

Keterangan:

-("…") tanda petik dua adalah ucapan atau kata-kata secara langsung. Contohnya: "Naruto"

-('…') tanda petik satu adalah ucapan atau kata-kata dalam hati / kalimat yang diucapkan tapi berulang. Contohnya : 'Sasuke…'

-Kalimat dalam tanda kurung menjelaskan akan sesuatu. Contohnya : meninggalkan ayah Sasuke (Fugaku) sendirian.

-Kalimat dalam tanda kurung kotak (gak tau namanya) digunakan untuk penggunaan nama yang berbeda tetapi kalimatnya sama. Contohnya : "Naruto [Sasuke] tidak mau keluar dari kamarnya." (bisa dibaca; "Naruto tidak mau keluar dari kamarnya." Atau "Sasuke tidak mau keluar dari kamarnya.")

Notes : Bila kalian membaca satu kalimat dan di kalimat selanjutnya berubah nama jangan heran dan teruslah membaca agar kalian tahu. Misalnya kalian membaca kalimat sebelumnya diucapkan oleh "Naruto" dan ucapan selanjutnya diucapkan oleh "Sasuke" jangan heran ok karena ini fic aneh saya jadi teruslah baca.

.

.

.

"Gaara lepaskan aku." Berontak Hinata saat dirinya semakin ditarik oleh Gaara.

"Biarkan mereka menyelesaikan pembicaraan mereka berdua Hinata." Ucap Gaara tetap menyeret Hinata.

"Aku bilang berhenti dan lepaskan aku." Ujar Hinata sambil menyentakan tangannya agar Gaara melepaskan cengkramannya. "Jangan pernah sekali-kali kau mencegahku untuk menemui suamiku, karena kau bukan siapa-siapaku!" Ucap Hinata dengan tegas membuat Gaara terdiam.

Setelah memastikan Gaara sudah tidak mencengkram tangannya lagi Hinata pun segera kembali ke tempat Sasuke dan Ino berada, meninggalkan Gaara yang sedikit geram karenanya.

"Kau..." suara Sasuke terdengar diindra pendengaran Hinata, sehingga membuat langkahnya terhenti.

"Kenapa? Kaget melihat gambar ini? Atau kaget karena aku mempunyai gambar ini?" Ucapan Ino membuat Hinata memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih dahulu.

"Bagaimana ya jika aku menunjukan foto ini kehadapan ayah, ibu dan seluruh keluarga ini!?"

'Foto apa?' Batin Hinata.

"Bagaimana kalau kita lihat reaksi mereka saat ini."

"Jangan tunjukkan itu pada keluargaku."

"Itu bisa diatur. Asalkan kau mau menikah denganku."

"..."

"Bagaimana?"

"Aku sudah punya istri."

"Aku tahu tapi aku tidak perduli.

""Tapi ak-"

"Kau punya dua pilihan dariku Sasuke. Aku akan tetap menyimpan aib Hinata asalkan kau menikahiku dan menjadikan aku istri keduamu atau kau ingin aku menunjukan foto ini pada keluargamu dan mereka akan menceraikanmu dengan Hinata lalu menikah denganku dan menjadikanku sebagai satu-satunya istrimu, karena yang ayahku tahu kau lah yang menghamiliku." Hinata kaget mendengar ancaman Ino. Jadi ini jebakan dari Ino?

"Kau pilih mana Sasuke? Menduakan Hinata atau menceraikan Hinata?"

"Aku... aku..."

"Jangan sekali pun kau berani menduakanku Sasuke!" Ujar Hinata membuat Sasuke dan Ino menoleh kearahnya.

"Hinata." Ujar pelan Sasuke.

"Jika sampai kau menduakan ku aku yang akan meminta cerai darimu."

"Tapi-"

"Sekarang kau pilih! Kau ingin menduakanku atau bercerai dariku!?" Ujar Hinata yang terbawa suasana emosi sehingga membuat Ino menyeringai.

"Hinata jangan membuatku tertekan ak-"

"Siapa yang membuatmu tertekan!? Aku hanya menyuruhmu memilih satu diantara dua pilihan yang aku berikan."

"Aku sebenarnya tidak ingin menduakanmu tapi jika aku tidak menduakanmu dia akan memberitahu keluargaku kalau kau adalah lesbian." Jelas Sasuke.

"Kalau begitu biarkan saja mereka tahu kalau aku homo."

"Tidak segampang itu Hinata. Kau masih ingat saat paman Minato menelpon ayah dan menceritakan soal Sakura? Kau pasti mendengar apa yang ayah katakan."

" Aku dapat kabar bahwa menantu Minato adalah seorang lesbian. Dan kalau sampai Hinata seperti itu aku akan membuat Hinata dan Sasuke cepat-cepat bercerai tanpa perlu waktu lama lagi. Dan akan ku hajar Sasuke kalau sampai dia menutupi fakta bahwa istrinya adalah lesbian."

"..." Hinata terdiam. Ino semakin di atas angin.

"Kalau kau tidak mau mengambil resiko terhadap ayahmu lebih baik kita bercerai." Ujar Hinata.

"Kau gila-"

"Ya, aku gila. Dan itu karena kau Sasuke!"

"..."

"Kau menyuruhku untuk belajar mencintaimu tapi disaat aku mulai mencintaimu kau mau menduakanku! Jangan gila."

"..." Sasuke menunduk.

"Dulu kau melarangku hamil dengan lelaki lain dan sekarang waktunya aku yang melarangmu menikahi wanita lain selama aku menjadi istrimu Sasuke. Jadi sekarang aku serahkan pilihan padamu."

"..."

"Apa kau memilihku atau sahabat TERBAIKKU." Ucap Hinata sinis sambil menatap Ino.

"Aku..." Sasuke menarik nafas dan membuangnya.

"Aku akan mengatakan pada mereka semua." Putus Sasuke dan melangkah menuju ruang tamu. Ino kaget mendengar pilihan Sasuke yang diluar perkiraannya. Harusnya Sasuke memilih mau menikahinya dan menduakan Hinata dari pada memilih membuka aib istrinya pada keluarga. Kalau pun Sasuke memilih tidak mau menikah dengannya Ino sendirilah yang akan membongkar aib Hinata dengan sedikit tambahan keburukan dalam aib tersebut. Tapi kalau Sasuke sendiri yang mengatakannya... Ino lupa jika Sasuke adalah pemuda yang selalu melakukan apa saja asalkan wanita yang dicintainya senang dan bahagia serta tidak menderita.

"Ayah ada yang ingin aku katakan." Ucap Sasuke yang baru sampai di ruang tamu rumahnya dan membuat semua yang berada di tempat itu menoleh.

"Ada apa?" Tanya Fugaku.

"Ku harap kau mau bertanggung jawab." Sambung Inoichi berbarengan dengan kehadiran Ino dan Hinata.

"Aku akan mengatakan yang sejujurnya." Ucap Sasuke membuat Fugaku mengangkat alisnya.

"Untuk tuan dan nyonya Yamanaka aku ingin memberitahukan kepada kalian bahwa sebenarnya aku adalah seorang homoseksual..."

"!" Semua tersentak (keluarga Ino, Ino, dan keluarga Uchiha). Tapi kekagetan keluarga Uchiha berbeda dengan ayah dan ibu Ino. Mereka kaget karena anak keduanya bisa-bisanya berkata seperti itu.

'Sasuke homo?' Batin Ino syok.

"Dan aku sudah memiliki seorang istri bernama Hinata Hyuuga. Aku menikah dengannya karena suruhan ayahku yang tidak ingin membuatku terus-terusan menjadi seorang gay."

"Pernikahanku dengan Hinata baru berjalan selama 1 bulan kurang jadi tidak mungkin aku menikah dengan orang lain sedangkan pernikahan pertamaku baru sebesar benih yang ditanam."

"Lalu aku harus bilang WOW!" Ujar Inoichi.

"Aku hanya memberitahu kalau aku tidak ingin menikah dengan Ino karena aku memang tidak memperkosanya. Aku seorang gay yang tidak mungkin bisa terangsang dengan wanita. Kalau tuan dan nyonya Yamanaka tidak percaya kalian bisa menanyakan kebenarannya pada ayah dan ibuku." Inoichi dan istrinya pun menatap Fugaku.

"Yeah, anakku memang seorang gay makanya aku tidak percaya jika dia dengan mudahnya menghamili wanita lain." Ujar Fugaku.

"Bohong! Kalau Sasuke memang seorang gay kenapa dia bisa melakukannya dengan Hinata!?" Tanya Ino tidak terima.

"Itu karena aku mencoba untuk menjadi normal. Bukan hanya aku tapi juga Hinata. Hinata sebenarnya juga adalah lesbian..." Fugaku tersedak kopi saat sedang meminumnya.

"Apa kau bilang?" Tanya Fugaku tidak percaya. Hinata diam.

"Hinata adalah seorang lesbian. Dia sama sepertiku. Sebelum pernikahan kami berjalan kami sudah mengetahui kelainan seksual kami masing-masing."

"..."

"Tapi seiring berjalannya waktu kami dapat merasakan perasaan nyaman diantara kami berdua sehingga kami memutuskan untuk belajar menjadi normal dan kemarin malam kami telah melakukan seks untuk pertama kalinya dan tadi pagi adalah yang kedua." Hinata sebenarnya malu dengan penuturan terakhir Sasuke, namun ini bukan waktunya untuk malu-maluan.

"..."

"Jadi untuk terakhir kalinya aku katakan bahwa aku, Sasuke dan istriku, Hinata adalah seorang homoseksual. Kami adalah gay dan lesbian." Jelas Sasuke semua terdiam.

"Jadi kalau kau gay... lalu siapa yang menghamili putriku?" Ujar Inoichi seperti orang linglung. "Kau tadi-"

"Aku dijebak. Ino mengirimkan foto Hinata yang terlihat seperti melakukan sesuatu yang berbaur romantis sehingga membuatku mendatanginya langsung. Saat aku sampai dirumahnya dan mencari-cari keberadaannya tiba-tiba dia mendorongku masuk kekamar dengan tubuh yang hanya menggunakan handuk." Jelas Sasuke membuat Inoichi menatap Ino yang wajahnya sedikit keringat dingin.

"Katakan pada kami kalau kau hamil bukan karena Sasuke. KATAKAN INO!" Bentak Inoichi pada putrinya.

Tidak mau menjawab ucapan ayahnya akhirnya Ino memilih untuk pergi meninggalkan mereka semua.

"INO!... INO!... IN-"

"Lebih baik kita bicarakan dirumah." Ujar ibu Ino meredakan amarah Inoichi.

"Kau benar. Kepala ku hampir pecah hari ini." Keluh Inoichi pada istrinya. "Dan untuk semua keluarga Uchiha kami keluarga Yamanaka ingin meminta maaf terutama pada kau bocah."

"Iya tidak apa."

"Kalau begitu kami permisi." Keluarga Ino pun kini perlahan pergi meninggalkan keluarga Uchiha yang terdiri dari Fugaku, Mikoto, Sasuke, dan Hinata. Oh iya, Gaara udah pergi semenjak dimarahi oleh Hinata XD

"Jadi apa benar kalau Hinata itu adalah seorang lesbian?" Tanya Fugaku setelah kepergian keluarga Ino. Sasuke dan Hinata mengangguk.

"Kau tahu Sasuke, aku paling benci sesuatu berbau homo. Aku juga benci dibohongi tapi rupanya aku malah dibohongi oleh menantu dan anakku sendiri." Ucap Fugaku geleng-geleng.

"Kau tahu Sasuke apa yang akan aku lakukan." Ucap Fugaku menyandarkan lengannya dilengan sofa dan menutup matanya dengan menggunakan telapak tangannya.

"Aku tidak tahu. Aku akan menerima resiko apa pun asalkan ayah tidak menyuruhku untuk bercerai dengan Hinata. Saat ini aku sudah mulai mencintainya ayah." Ujar Sasuke jujur sedangkan Fugaku hanya melihatnya dari sela jendela.

"Apa pun yang aku inginkan akan kau turuti?" Tanya Fugaku.

"Iya ayah." Jawab Sasuke.

"Lalu kau Hinata?"

"Aku juga akan menuruti kemauan ayah."

"Kalau begitu bereskan seluruh pakaian kalian dan angkat kakilah dari rumah ini." Ujar Fugaku masih dengan menutup matanya dengan telapak tangan.

Mendengar perintah ayahnya Sasuke dan Hinata menunduk sedih dan mengangguk pasrah. Perlahan mereka berdua pun melangkah menuju kamar mereka untuk membereskan segalanya.

"Apa ayah yakin?" Tanya Mikoto pada Fugaku.

"Aku yakin."

Selesai berkemas-kemas kini Sasuke dan Hinata menemui Fugaku dan Mikoto untuk berpamitan. Namun yang mereka lihat hanya lah Mikoto.

"Ayah dimana?"

"Diteras, sedang berbicara dengan kakakmu. Dia baru pulang." Jawab Mikoto yang tubuhnya dirangkul Sasuke.

'Sepertinya Itachi akan menjadi satu-satunya anak ayah dan ibu.' Batin Sasuke lirih dengan wajah senduh.

Sesampainya diteras kini Sasuke dan Hinata dapat melihat Fugaku dan Itachi sedang berbicara dengan posisi berdiri. Melihat adiknya menghampiri, Itachi pun segera menyapa dengan senyumnya.

"Yo adikku yang man- loh? Kau mau kemana?" Tanya bingung Itachi.

"Aku mau keluar kota. Ada metting mendadak." Ujar Sasuke yang masih sempat bercanda.

"Hah?" Itachi bingung, Fugaku juga.

"Aku mau pergi dari sini bodoh." Ujar Sasuke dengan senyumnya. 'Mungkin ini terakhir aku mengataimu bodoh Itachi.'

"Ayah aku ingin pamit." Ujar Hinata.

"Hm."

"Kak Itachi, ibu kami pergi." Ucap Sasuke.

Setelah berpamitan Sasuke dan Hinata pun segera melangkahkan kakinya menuju gerbang dengan jalan kaki. Saat tepat berada di depan gerbang Itachi memanggil Sasuke.

"Kau mau pergi jalan kaki?" Tanya Itachi, Fugaku menyusul bersama Mikoto.

"Iya."

"Kenapa tidak naik mobil?"

"Itu bukan milikku, itu milik ayah."

"Sasuke." Panggil Fugaku tegas membuat Sasuke tegang. "Ambil ini." Tambahnya sambil melempar sesuatu pada Sasuke. Sasuke menangkap sesuatu itu dengan sempurna. Dan saat dilihat Sasuke dibingungkam dengan benda tersebut, begitu juga Hinata.

"Apa ini?"

"Itu kunci rumah." Jawab Itachi. "Ayah sudah membelikan kalian rumah untuk kalian tempati dan itu kuncinya." Jelas Itachi membuat Sasuke tambah bingung.

"Tapi ayah mengusirku." Ujar Sasuke polos lalu menatap ayahnya yang kini sedang tersenyum sendiri bersama ibunya.

"Ya, aku mengusirmu agar kau pergi dari rumah ini dan menempati rumah yang sudah aku siapkan." Ujar Fugaku.

"Ayah tidak marah?"

"Sebenarnya sih iya. Tapi mengetahui kalian sudah melakukan seks dan belajar menjadi normal sudah membuatku senang. Setidaknya perlahan anak dan menantuku bisa menjadi normal dalam waktu dekat ini." Senyum Sasuke mengembang mendengar penuturan ayahnya.

"Terima kasih ayah." Ujar senang Sasuke.

"Hm. Satu lagi cepatlah lulus karena aku akan memberikan satu perusahaan yang ada di Oto untuk kau tangani. Itachi sudah memegang di kota Kiri dan aku akan menyuruhmu memegang perusahaan di Oto."

"Ayah mempercayaiku?"

"Tentu."

"Terima kasih." Ujar senang Sasuke. "Hinata lihat, ini adalah buah dari keberanian kita hari ini." Ujar Sasuke menunjukan kunci rumah barunya dan perlahan Sasuke memeluk Hinata sambil berloncat-loncatan.

Fugaku, Mikoto dan Itachi tersenyum melihat tingkah Sasuke yang seperti bocah.

"Baiklah sekarang sudah malam, lebih baik aku antar kau sekarang." Ujar Itachi sambil menyeret komper mereka.

"Oh iya, ayah." Panggil Hinata.

"Hm?"

"Bisakah ayah menutupi bahwa aku ini adalah seorang lesbi dari ayah dan ibuku sendiri?"

"Tentu. Asalkan kau dan Sasuke berjanji untuk menjadi normal."

"Oke, kami pasti bisa. Sampai jumpa ayah, ibu. Bye-bye." Ucap Hinata.

"Bye."

.

Keesokan paginya.

TING TONG...

TING TONG...

TING TONG...

Bunyi menggema di pagi yang sejuk dikediaman Namikaze. Seorang wanita pirang yang tidak lain adalah Shion saat ini sedang mengunjungi rumah Naruto untuk memastikan apakah wanita yang bernama Sakura itu telah pergi atau tidak dari sisi Naruto. Untuk memastikannya lagi Shion pun hendak menekan bel rumah tersebut namun sebelum bel-nya kepencet pintu utama kediaman Namikaze sudah terbuka oleh seseorang.

"PAGI NARU... to?" Sapa Shion terhenti saat melihat sosok yang membukakan pintu dengan seksama. 'Wow, sudah lama tidak bertemu sekarang ayah Naruto tambah kece.' Batin Shion saat menatap sosok yang tidak lain adalah Minato.

Memang sebelum ini Shion pernah bertemu dengan Minato, yaitu saat Minato mengantar Naruto ke kampus dan dengan ganjennya Shion langsung nempel ke Naruto untuk melihat wajah tampan ayah dan anak yang sangat identik itu.

"Maaf nyari siapa ya?" Tanya Minato menyadarkan Shion dari rasa terpesonanya (bisa mati kau kalau sampai Kushi tau Shion).

"Naruto ada paman?"

"Ada. Dia lagi di kamarnya." Jawab Minato sambil tersenyum.

"Kalau Sakura?"

"Dia ada di kamarnya juga." Mendengar ucapan Minato, Shion pun terdiam sejenak.

"Boleh aku menemui Sakura? Ada yang harus aku bicarakan padanya." Ujar Shion.

Sebelum menjawab Minato melihat jam tangannya lalu mengumpat kesal dihadapan Shion 'Sial! Jamnya mati lagi. Pasti batrenya habis.' Shion bertanya-tanya dalam hati sambil melihat Minato yang sedang mengeluarkan ponselnya.

'Semoga dapet nomor ayah Naruto, semoga dapet, semoga dapet.' Harap Shion.

"Sekarang pukul setengah 8 harusnya sih mereka berdua sudah bangun. Coba saja kau ke kamar mereka. Aku harus menjemput ibu Naruto yang sedang pergi ke pasar." Ujar Minato seraya menjauh.

'Yah, gak dikasih.' Galau Shion. Namun itu tak berapa lama. Setelah Minato menjauh Shion segera masuk ke rumah Naruto serta menutup pintu dan berjalan mencari kamar Naruto.

Disalah satu kamar dilantai dua kini Naruto yang sedang tengkurap di atas ranjang di samping Sakura sedang asik menatap wajah tidur seseorang. Tersenyum sendiri membuat Naruto malu sendiri. Ternyata tidak sia-sia dia menaruh obat tidur di dalam gelas Sakura agar istrinya bisa tidur agak lama dari biasanya.

Semalam setelah Naruto melakukannya Naruto pura-pura tertidur. Saat itu juga Sakura mencoba beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Saat Sakura di kamar mandi dengan gesit Naruto memasukan obat tidur pada minuman Sakura, Naruto yakin setelah keluar dari kamar mandi Sakura pasti akan minum. Dan tebakan Naruto benar, dalam keadaan tubuh yang terlilit handuk Sakura kembali duduk ditepi ranjang dan langsung meminum gelas yang sudah diberi obat tidur oleh Naruto.

Dengan mata yang mengintip Naruto menyeringai dan dalam hati berkata 'Semoga kau tidur nyenyak sampai 'dia' datang.' Tidak berapa lama akhirnya Sakura jatuh tertidur dengan tubuh yang masih terlilit handuk pink miliknya.

Puas memandangi Sakura, Naruto pun beranjak dari ranjangnya dan memungut celana kolornya lalu memakai celana tersebut sambil berjalan mendekati pintu untuk keluar kamar. Namun saat pintu kamarnya sudah terbuka (walau baru seperempat) dapat Naruto dengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya.

Itu suara Shion!

Dengan cepat Naruto berlari menaiki ranjangnya tanpa menutup pintu. Masuk ke dalam selimut dan kembali melepaskan boxer jingga miliknya lalu segera mengatur posisinya tepat di atas Sakura yang masih terlelap.

"Naru..." bersamaan dengan suara Shion yang memanggilnya Naruto segera melahap bibir mungil Sakura. Shion membeku ditempat, syok.

"Engghhh..." desah Sakura sedikit menggeliat dari tidurnya. Perlahan-lahan mata Sakura yang sempat tertutup kini mulai terbuka dengan pandangan sayu. Melihat Sakura bangun Naruto melepaskan ciumannya dan tersenyum lalu memberi ucapan "Selamat pagi Saku." Dikecupnya lagi bibir sang istri.

"Pagi." Sapa balik Sakura yang masih setengah sadar.

"Brengsek kalian!" Geram Shion dengan nada bergetar yang sukses membuat Sakura dan Naruto menoleh kearahnya. Seketika itu pula Sakura baru ingat seharusnya dia bangun lebih pagi dan pergi dari rumah ini, tapi kenapa malah dia bangun siang seperti ini.

"Kalian brengsek! Dan kau pink bukan kah sudah ku peringatkan agar ku menjauh darinya! TAPI KENAPA KAU MASIH DISINI!" Ucap Shion dengan mata merah menahan tangis akibat melihat adegan mesra Naruto dan Sakura.

"Aku... ak-"

"Kenapa? Kau berharap agar Sakura pergi setelah menerima ancamanmu?" Ujar Naruto sinis. Ya, Naruto memang sudah mengetahui rencana Shion karena pada saat Naruto akan pulang meninggalkan Sakura secara tidak sengaja Naruto sempat mendengar obrolan antara Shion dan Sakura di depan toilet wanita. Setelah obrolan mereka selesai Naruto segera pulang meninggalkan Sakura yang akan melakukan praktik dan mengetes bagaimana sikap Sakura terhadapnya setelah dia pulang nanti. Dan sesuai dugaan Naruto, Sakura sedikit berubah dari biasanya, istrinya bimbang. Namun Naruto tidak ingin Sakura mengetahui apa yang dia dengar dari pembicaraan Shion dan istrinya.

"Dia istriku, menantu dari keluarga Namikaze dan dia berhak disini, karena dia istriku." Ujar Naruto sambil memberikan tanda kepemilikannya pada leher Sakura. Sakura kegelian sehingga secara refleks Sakura menjauhkan wajah Naruto.

"Oh iya Shion. Aku mau cerita kalau kami semalam habis mela-"

"DIAM!" Bentak Shion memotong ucapan Naruto. "Karena kau sudah melanggar maka aku akan menyebarkan video rekaman pembicaraan kau dan Sasuke yang mengatakan kalau Naruto adalah GAY!" Ujar Shion pada Sakura.

"Ja-"

"Sebarkan saja. Aku tidak peduli." Ujar Naruto sambil mencekal tangan Sakura yang hendak turun dari ranjang untuk mendekati Shion.

"Oke kalau itu mau mu. Jadi jangan salahkan aku jika kau akan mendapatkan malu TUAN GAY." Ucap Shion dengan nada penekan dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan emosi.

"Shion!" Panggil Sakura namun dia tidak bisa melepaskan cengkraman Naruto. "Naru lepas."

"Kau pikir aku akan melepaskanmu sedangkan kau sedang tidak memakai pakaian sama sekali? Tidak. Lagi pula aku juga tidak mengijinkan kau untuk turun dari ranjang dan mengejar perempuan itu."

"Tapi kalau dia menyebarkan re-"

"Aku tidak peduli Saku. Asalkan kau tetap bersamaku aku akan baik-baik saja." Ujar Naruto sambil menahan wajah Sakura agar istrinya bisa melihat keseriusan dalam dirinya.

"Bagaimana kalau orang lain mencemohmu. Shion hanya tahu kalau kau gay tapi dia tidak tahu kalau aku juga sama."

"Biarkan saja semua orang mencemoh, aku tidak peduli, yang penting kau tetap disampingku, menemaniku."

"..."

"Aku butuh kau untuk menjadi penguatku disaat aku down, aku butuh kau untuk menjadi penyemat dalam hidupku. Aku butuh kau bukan orang lain."

"Naru..."

"Biarkan saja mereka mencemohku, karena aku akan tutup telinga bila mereka menghinaku yang penting aku punya kau untuk menghiburku dikala sedih, menjadi penguat dikala aku putus asa karena mereka. Tapi jika aku kehilanganmu mereka belum tentu bisa menjadi penopang bagiku." Sakura menunduk, tidak tahu harus bagaimana.

"Ingatlah Saku. Bagiku mereka tidak ada apa-apanya, tapi bagiku kau adalah wanita pertama dan terakhir untukku. Kau adalah wanita pertama dan terakhir yang aku cintai. Tidak ada yang bisa menggantikanmu terutama Shion." Ujar Naruto sambil mengangkat dagu Sakura agar pandangan mata Sakura tertuju padanya.

"..."

"Ingatlah jika sampai aku berpaling darimu pasti itu tidak akan bertahan lama. Aku pasti akan merasa sedih bila aku jauh darimu. Aku pasti akan merasa gelisah bila aku kehilanganmu. Dan jika aku pergi jauh darimu aku pasti akan kembali lagi padamu." Naruto mendekatkan wajahnya pada Sakura.

"Jangan

"Ingatlah kata-kataku Saku-" Naruto semakin dekat. "Karena aku..." Naruto mengarahkan bibirnya pada Sakura, mengecup singkat dan kembali melanjutkan kalimatnya "...mencintaimu." bisik Naruto dan kembali membawa Sakura pada surga dunia dipagi hari ini. Melupakan sejenak kekacauan antara mereka dan Shion.

.

"Brengsek! Apa-apaan ini!" Umpat Shion yang kesal dengan kelakuan Naruto dan Sakura. Dan yang membuat Shion tambah kesal adalah saat dirinya harus melihat Naruto yang hanya berselimut sedang bercumbu bersama Sakura.

Melihat adegan itu membuat Shion merasa kalau Naruto bukanlah seorang gay seperti apa yang dikatakan Sakura dan Sasuke. Naruto terlihat normal, bahkan terlihat mesum saat bersama Sakura.

"Sial!" Memikirkan hal itu membuat Shion secara sengaja menendang kaleng yang tidak bersalah.

KRATAAK...

DUK...

"ADAW." Pekik seseorang membuat Shion kaget. "Eh! Kau! Tidak di kampus tidak di jalan mana pun kau tetap menyebalkan yah!" Ucap sosok itu.

"Saori-"

"Sasori." Ucap sosok itu membenarkan namanya.

"Oke Sasori. HUWAAAH... AKU GAGAL." Teriak keras Shion membuat Sasori kaget bahkan membuat semua orang yang berjalan dipagi ini menatap mereka dengan tatapan membunuh.

"Cih." Decit Sasori sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyumpalkannya pada mulut Shion, sehingga jeritan Shion tersumbat. Merasa dimasukan sesuatu Shion pun mengambil benda yang ada dimulutnya yang masih tersegel.

'Roti?' Batin Shion. Selanjutnya Shion menangis lagi sambil membuka bungkus roti tersebut dan memakannya dengan gaya orang sebel sambil nangis. Sasori hanya memutar bola matanya saja.

"Hiks... aku melihat Naruto bercumbu ria bersama Sakura hiks..."

"Bukannya kau bilang Naruto gay?" Sasori heran.

"Makanya itu. Dilihat dari caranya bercumbu dia terlihat seperti lelaki normal, justru saat melihatmu kau malah yang terlihat dan cocok menjadi gay dan berperan sebagai Uke."

"Jaga bicaramu nona!" Sasori kesal.

"Bagaimana ini Saori hiks...?"

"Sasori."

"Iya-iya. Bagaimana Sasori?" Rengek Shion masih sambil memakan roti dan menangis.

"Bagaimana kalau kau buat Naruto terlihat seperti apa yang kau katakan sesuai dengan rekaman suara itu."

"Maksudnya? Bukti yang terlihat nyata kalau Naruto gay?"

"Iya semacam itu."

"Tapi apa?" Tanya Shion lagi, Sasori angkat bahu. "Akh, aku tahu. Bagaimana kalau aku merekam Naruto yang sedang melakukan adegan ranjang dengan lelaki?"

"Ya boleh lah. Itu termasuk bukti yang kuat untuk menyebarkannya keseluruh penjuru kota atau bahkan dunia. Dan itu akan membuatnya malu."

"Kalau begitu kau mau membantuku?"

"Apa?"

"Kau yang menjadi pasangan seks Naruto." Sasori membulatkan matanya menatap horor Shion.

.

"Tapi nona kami tidak bisa melakukan hal yang seperti itu. Kami sangat menghindari hal yang anda inginkan." Ujar seseorang perawat pada Ino.

"Aku tidak perduli. Aku ingin segera melakukan tindakan aborsi. Berapa pun biayanya akan aku bayar." Ujar Ino dengan nada tinggi.

"Tapi aborsi sangat membahayakan nya-"

"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin bayi ini diaborsi tapi kenapa kau melarangku. Bayi ini milikku jadi bebas aku apakan."

"Tap-"

"Tidak ada tapi, tapian aku ingin aborsi SEKARANG! CEPAT PANGGILKAN DOKTERNYA."

"Ba-baik."

.

Pagi hari di rumah SH yang baru kini Hinata sedang berkebun dihalaman belakang rumahnya. Sedangkan Sasuke sedang membaca buku diteras sambil kadang memperhatikan istrinya. Beruntung sekarang hari libur, jadi mereka bisa bersantai. Barang-barang pun sudah tertata rapi saat dirinya tiba untuk pertama kalinya dirumah ini (tinggal membereskan pakaian saja).

Memperhatikan sang istri yang menyiram bunga yang tumbuh disekeliling rumahnya membuat senyum Sasuke semakin terlihat. Namun sekitar 2 menitan memperhatikan Hinata, istrinya tersebut seperti sedang melamun sambil menatap sesuatu di luar gerbang rumahnya. Merasa penasaran Sasuke pun mengahlikan tatapannya pada objek yang Hinata tatap.

Anak kecil. Itu lah yang sedang ditatap oleh Hinata tanpa kedip, membuatnya melayang entah kemana bahkan air selang jadi terbuang sia-sia.

Merasa ingin irit air Sasuke pun berjalan menuju kran air dan mematikan air tersebut. Saat pandangannya berahli lagi pada Hinata, Hinata sudah hilang ditempat dan berlari mendekati anak kecil yang sedang bermain bola karet ditengah jalan.

"AWAS!" Teriak Hinata pada anak kecil tersebut.

"HINATA AWAS!" Teriak Sasuke saat dari arah kanan melaju mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearah Hinata dan anak kecil itu.

"KYYAAAK..."

.

"Sial! Kemana wanita pirang itu!? Kenapa nomornya tidak aktif." Keluh Gaara sambil memencet-mencet ponselnya.

'TUT... TUT... TUT...'

"Ck." Decit Gaara dan melemparkan ponselnya ke kursi mobil disebelahnya.

.

"Stt... sttt... sttt."

"Ng?"

"Sssttt... stt... ssstt..."

"Ada apa sih Naru?" Tanya Sakura yang sedang dandan di depan cermin yang berada disamping ranjangnya.

"Aku bosan. Kita jalan yuk." Ajak Naruto yang masih tidur-tiduran di atas ranjang hanya dengan selimut.

"Kemana?"

"Kemana aja yang penting jalan."

"Bagaimana kalau taman bermain?" Usul Sakura.

"TK? Itu khusus anak-anak Saku."

"Ya Tuhan sebenarnya berapa persen otak suamiku yang jalan." Ucap Sakura dengan tangan yang seperti orang berdoa.

"50%." Jawab Naruto asal.

"Pantas. Kadang pinter tapi kadang juga bodoh." Naruto cemberut. "Yang aku maksud itu taman bermain yang lebih besarnya lagi."

"Oh. Konoha Land?"

"Yups."

"Ide bagus. Aku mandi dulu ya."

.

"Hinata bertahanlah." Ujar Sasuke dengan panik saat istrinya dibawa oleh perawat rumah sakit menuju ruang UGD.

"Maaf anda diperkenankan untuk menunggu di ruang tunggu." Tanpa melawan Sasuke pun duduk dengan gelisah. Saat sedang khawatirnya pandangan Sasuke tertuju pada sesuatu yang dibawa oleh petugas rumah sakit.

Merasa penasaran Sasuke mencegah petugas itu sehingga para petugas tersebut terdiam. Meneliti dari ujung hingga ujung sampai pandangannya melihat helaian pirang yang muncul dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Merasa mengenali helaian pirang itu Sasuke pun segera menyingkap selimut tersebut. Dan mata Sasuke membulat sempurna saat melihat siapa sosok tersebut.

'Ino?'

.

"Cih, dia pikir siapa dia!? Seenaknya menyuruhku untuk melakukan seks dengan lelaki. Ihhh... membayangkannya saja aku geli." Gerutu Sasori sambil berjalan seorang diri.

Saat sedang asik-asiknya menggerutu tiba-tiba pandangannya manangkap sosok Naruto dan Sakura yang turun dari mobil untuk memasuki taman bermain yang berada tidak jauh dari tempat Sasori berdiri.

'Itu dia si gay.' Batin Sasori yang melihat Naruto. Awal menatap Naruto terkesan geli, namun semakin lama Sasori menatap Naruto tiba-tiba seolah ada sinar matahari yang terpancar dari wajah Naruto, Sasori pun terpesona oleh wajah Naruto sehingga tanpa sadar batinnya berkata 'cantik.' Apa lagi saat rambut pirang Naruto tertiup angin dengan wajahnya yang memasang senyum manis pada Sakura.

Dan secara perlahan sesuatu dalam diri Sasori bergejolak menahan sesuatu yang diluar perkiraannya.

.

.

.

.

.

TBC...

Holla mina! Ada waktu kosong nih jadi aku gunakan untuk membuat ficnya. Maaf ficnya kembali menjadi pendek karena ada pembaca yang sulit untuk membuka scenes yang panjang seperti chap 9 dan 10 di ponselnya, serta waktu seminggu gak memungkinkanku untuk ngetik lebih panjang dari ini apa lagi aku lagi sibuk ngurus karya tulisku.

Karena salah satu musuh sudah tidak ada maka tidak akan lama lagi IaS akan tamat. Kapankah itu? Tentunya masih rahasia author. Ikuti aja ceritanya pasti juga tahu.

Thanks to : RenCaggie, Renita Nee-Chan, Hee – chan, Cahya Uchiha, alta0sapphire, astia morichan, virgo24, ailla-ansory, re, Tsumehaza-Arief, NamikazeARES, Name Cheshire, Yunna Emiko, Hyuchiha, lovehina, hana, Kimichi-kun, sahna, Uppie Lupz, RenCaggie, aichan, Arcan'sGirl, tomtom, Rechi, gdtop, lilua zoldick, chipana, Barloxs, hinatauchiha69, Guest, , aindri961, sasuhina624 (2x), Guest.

Q : Kau 2 kali mengulang "sakitnya tuh disini". Apa mungkin kamu demen lagu itu?

A : bisa jadi XD

Q : boleh gw cekek Ino?

A : tidak perlu. Dia sudah dapat karma XD

Q : Ino hamil anak siapa tuh?

A : pasangannya dalam mengganggu SH.

Q : wow Ino hamil anak Gaara n Shion hamil anak Sasori? Tp mrka msh nekat mshn SasuHina ma NaruSaku?

A :disini cuma Ino yang hamil, Shion enggak. Shion itu jahat tapi enggak 'nakal', kalau Ino jahat iya 'nakal' juga iya.

Bagaimana kelanjutannya? Silahkan ikuti.
Maaf jika kayak sinetron ficnya ^^.v
Maklum nenek suka nonton sinetron jadi kebawa suasana.

See you next chap…