Pagi harinya Kyungsoo menemukan Sehun yang tertidur di teras rumahnya. Ia benar-benar heran dengan sikapnya akhir-akhir ini.

Kyungsoo mengguncangkan tubuh Sehun untuk membangunkannya. "Sehun, bangun!"

Perlahan Sehun menggeliat dan membuka kelopak matanya.

"Kanapa pagi-pagi sekali kau sudah datang? Ada masalah apa?"

"Kau mau ke mana? Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah rapi?" Sehun balik bertanya.

"Aku akan ke rumah Kai. Aku akan menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi padamu."

"Tidak perlu. Aku yang akan mengatakannya sendiri padamu."

Kyungsoo tiba-tiba merasa gugup. Ia takut bahwa apa yang akan dia dengar adalah hal yang sangat buruk.

"Dulu aku pernah punya kekasih, kau tau itu kan?" Sehun memulainya.

Kyungsoo mengangguk.

"Dan salah satu dari mantan kekasihku itu…" Sehun terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Namun ia harus berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya pada Kyungsoo. "Dia adalah anak dari pembantuku. Namanya Luhan, dia lebih tua empat tahun dariku. Dia adalah cinta pertamaku."

Sampai di sini Kyungsoo sama sekali tidak merasakan apa-apa. Wajar bukan jika Sehun mencintai seorang perempuan, sekalipun itu adalah anak dari pembantunya. Dia juga sudah mengatakannya sejak pertama kali mereka berkencan, bahwa Sehun memiliki banyak sekali mantan kekasih di masa lalu.

"Dan dia… pernah… mengandung."

"Apa?!" KYungsoo hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Luhan pernah mengandung anakku. Sekarang anak yang dilahirkannya telah meninggal dan dia menjadi sakit jiwa karena hal itu." Nafas Sehun terengah-engah saat mengatakannya. Dia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengatakan hal itu pada Kyungsoo.

Bukan rasa terkejut lagi yang dirasakan Kyungsoo. Mungkin dia sudah mati berdiri, jika ia bisa.

"Maafkan aku Kyungsoo… Aku juga tak tau hal seperti ini akan terjadi. Ibuku mengatakan Luhan telah menikah, tapi ternyata… Saat itu Luhan tiba-tiba meninggalkan rumah. Aku tak pernah mencari tau alasannya dan segera melupakannya." Sehun tidak tau harus berkata apa lagi. Ia menarik tubuh Kyungsoo dan menghadapkannya ke arahnya, "Bisakah kau memaafkanku?"

Kyungsoo segera menepis tangan Sehun. "Kenapa kau begitu yakin kalau aku bisa menerima semua kenyataan ini?" Sekarang Kyungsoo sadar, kenapa selama ini Kai selalu berusaha menghalangi hubungannya dengan Sehun.

Sehun berusaha membela diri. "Waktu itu aku masih berumur empat belas tahun. Aku tidak mengerti apa-apa."

"Jangan katakan waktu itu usiamu berapa. Jangan katakan ulah apa yang telah dilakukan ibumu. Juga jangan katakan padaku kalau menderita karena masalah ini."

"Bukankah kau pernah bilang, kau hanya peduli dengan masa depanku dan melupakan sepenuhnya masa laluku?"

"Kuakui aku salah sudah mengatakan hal itu. Aku pikir aku tidak peduli, tapi hasilnya tidak seperti itu."

"Ini ujian Kyungsoo. Ujian untuk cinta kita. Luhan hanya masa laluku…"

"Bukan! Ini bukan ujian, melainkan kenyataan. Bagaimana aku bisa menganggap cerita ini selesai begitu saja? Bagaimana kau bisa mencariku lagi setelah kau melihat Luhan? Apa kau tidak merasa bersalah pada Luhan? Apa kau tidak terpukul ketika melihatnya? Walaupun kau sudah melupakannya, tapi dia masih mencintaimu. Kau benar-benar kejam! Aku tak menginginkanmu yang seperti ini."

"Aku memang kejam. Tak punya perasaan. Sejujurnya setelah melihat Luhan, kalimat ini yang terus ada dalam kepalaku. Hanya saja aku tak mau mengakuinya."

Ternyata prediksi Baekhyun salah. Baekhyun bukanlah Kyungsoo. Ia menyesal telah mengatakannya pada Kyungsoo.

"Aku akan pergi supaya kau bisa memikirkan masalah ini dengan jelas. Seandainya kau masih menginginkanku, kau tau nomor teleponku. Aku akan menunggumu. Aku bersedia menerima hukuman atas catatan hitamku di masa lalu. Semoga ada kesempatan untuk menebus kesalahanku itu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Sehun meninggalkan Kyungsoo yang masih menangis sendiri.

.

.

.

Yixing dan Suho terkejut dengan kedatangan Wufan yang untuk kedua kalianya ke rumah mereka.

"Tuan Wufan kenapa anda kembali ke sini?"

"Apa aku tidak boleh mengunjungi kalian?"

"Tidak, bukan begitu…"

Wufan langsung masuk ke dalam rumah Suho dan duduk di ruang tamu meskipun sang pemilik rumah belum mengizinkannya masuk. Dia merogoh saku celananya dan meletakan beberapa lembar uang di atas meja. Yixing yang sedang menuangkan teh untuk Wufan sedikit terkejut.

"Suho, ambilah uang ini. Dan berhentilah jadi kuli panggul(?)." kata Wufan.

Yixing dan Suho saling berpandangan bingung.

"Maaf, kami tak bisa menerima uang ini." Suho menolak. "Beberapa tahun ini, kami bisa memenuhi kebutuhan hidup kami meskipun hanya ala kadarnya. Saya…" Suho menghela nafasnya perlahan. "Kami juga masih memiliki sedikit simpanan."

Wufan menyeruput teh yang dihidangkan oleh Yixing. Kemudian meletakkan cangkir itu dengan kasar di atas meja. "Uang ini bukan untukmu, tapi untuk Luhan."

"Tapi aku masih kuat untuk bekerja sebagai kuli panggul."

"Suho!" panggil Wufan dengan suara keras.

Suho sedikit terkejut dengan panggilan itu. Jika Wufan sudah memanggilnya dengan cara seperti itu, pastilah dia sedang marah padanya.

Wufan bangkit dan menghampiri Suho. "Apa kau masih bersedia mendengar kata-kataku? Kubilang jangan menjadi kuli panggul lagi. Apa kau sudah tidak mau mematuhiku lagi? Apa kau akan terus bekerja keras sampai seluruh tulangmu remuk?"

"Tulangku masih kuat. Tak akan pernah remuk." Suho menepuk dadanya sendiri seolah meyakinkan bahwa tulangnya terbuat dari besi yang tak akan pernah hancur di makan usia.

"Beraninya kau melanggar perintahku? Aku tak akan pernah bicara padamu lagi." ujar Wufan sambil menujuk wajah suho dengan telujuknya. "Yixing…" ia mengalihkan pandangannya pada Yixing. "Ambilah uang ini, dan simpan untuk Luhan." Ia mengambil uang yang ada di atas meja dan menyerahkannya pada Yixing.

Yixing tak tau harus berbuat apa lagi selain berterimakasih. "Terimakasih banyak Tuan Wufan."

"Ayah, apa di rumah kita ada tamu?" Luhan yang tadinya tertidur terbangun karena mendengar keributan dari ruang tamu.

Wufan menoleh dan terkejut melihat Luhan berdiri di hadapannya. Begitu pula Luhan.

"Luhan, lihatlah siapa yang datang?" kata Yixing dengan wajah berseri.

Luhan memandang Wufan dengan pandangan bingung. Ia berusaha mengingat siapa pria yang ada di hadapannya.

Perlahan Wufan mendekati Luhan. "Luhan… kemarin aku datang kemari. Tapi kau masih tidur. Apa kau bisa mengingatku?"

Yixing dan Suho saling berpandangan melihat ekspresi Luhan yang terlihat sangat bingung. Namun sesaat kemudian Luhan tersenyum, seolah mengingat sesuatu.

"Tuan Wufan…"

"Ya, ini aku. Mendekatlah."

Luhan berlari menghampiri Wufan dan berlutut di hadapannya.

"Luhan tak pernah melupakan anda. Dia bahkan sering menggumamkan nama anda." jelas Suho. "Sama sepertiku yang tidak pernah melupakan anda barang sehari pun."

Wufan membantu Luhan berdiri. Dia membelai kepala gadis yang ada dihadapannya itu dengan lembut. Bagaimanapun Wufan juga sangat menyayangi Luhan seperti darah dagingnya sendiri. Dia adalah putri dari orang yang paling ia percaya. "Luhan, kau telah menderita beberapa tahun ini…" Namun kalimat Wufan terputus karena Luhan menyela.

"Tuan, tolong aku…"

"Tentu saja. Aku akan menolongmu. Mulai sekarang aku akan menjagamu dan membantumu menyembuhkan penyakitmu."

"Apa kau sudah memaafkan aku? Apa kau tidak akan marah padaku?"

Wufan menggeleng. "Aku sudah memaafkanmu dari dulu."

"Terimakasih banyak." Luhan tersenyum sumringah. "Tunggu di sini, jangan pergi kemana-mana. Aku akan menunjukkan putriku. Kau harus melihatnya." Luhan segera melesat ke kamarnya.

Suho dan Yixing mulai panik. "Astaga.. bagaimana ini?"

Tak berapa lama Luhan kembali muncul dengan sebuah bantal dalam gendongannya dan menunjukkannya pada Wufan. "Lihatlah, ini putriku. Dia masih belum punya nama. Bisakah kau memberikan nama untuknya?"

Wufan memandang bantal itu dan mulai meneteskan air mata.

Luhan menatap Wufan bingung. "Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"

"Tentu saja aku sangat menyukainya."

Luhan memandangi bantal tersebut sambil tersenyum. Ia mengulurkan jari lentiknya untuk menyentuh bantal itu. "Rambutnya sedikit keriting, sama seperti saat ia lahir. Dan dia memiliki lesung pipi…" Luhan mengarahkan bantal itu pada Wufan. "Lihatlah, dia memiliki sebuah tahi lalat di paha kirinya."

Wufan hanya bisa menatapnya sedih. Ia tak pernah menyangka bahwa Luhan akan jadi seperti ini gara-gara ulah anak bungsungya.

"Peramal mengatakan bahwa anak ini adalah anak yang sangat beruntung. Dia akan memiliki derajat dan status sosial yang tinggi jika dewasa kelak." jelas Luhan.

Tentu saja. Jika anak itu tidak meninggal, maka ia akan menjadi anak Sehun yang notabene adalah penerus perusahaan besar yang dirintis Wufan sejak dulu.

"Dia pasti akan menjadi sukses seperti anda."

Yixing yang sudah tidak tahan dengan sikap Luhan segera menghampirinya. "Tuan Wufan sudah melihat anakmu. Lebih baik sekarang biarkan dia beristirahat."

Namun Luhan menolak. "Tidak. Aku ingin Tuan Wufan melihatnya sekali lagi." Luhan menyodorkan bantal itu pada Wufan.

Wufan akhirnya menggenggam bantal itu dengan airmata yang berlinang. "Dia anak yang sangat manis. Persis seperti ibunya. Siapa namanya?"

Luhan terlihat sedikit bingung. "Aku belum memberikan nama. Bagaimana kalau anda yang memberikan nama?"

Sebisa mungkin Wufan mencoba untuk tersenyum di hadapan Luhan. "Baiklah kalau begitu. Kita beri nama bayi ini Xiaolu."

"Xiaolu?"

Wufan mengangguk. "Xiaolu artinya rusa kecil. Kata Lu diambil dari namamu, Luhan. Kuharap dia akan menjadi Luhan kecil yang ceria seperti ibunya."

"Xiaolu… Xiaolu…" Luhan mengulang kata itu beberapa kali sembari menimang-nimang bantal tersebut. Ia berjalan ke sisi ruangan sambil menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuk anak/bantalnya.

Yixing menghampiri Luhan. "Luhan, karena bayinya sudah tertidur, cepat letakkan dia kembali di ranjang." bujuk Yixing. Ia menggiring Luhan kembali ke dalam kamarnya.

"Cucuku telah pergi. Bahkan sebelum aku sempat melihatnya." kata Wufan sambil menangis.

"Tapi anda memiliki Baekhyun, menantu anda. Dia pasti bisa memberikan cucu yang lebih cantik." Suho berusaha menghiburnya.

"Ya, aku memang masih memiliki Baekhyun. Tapi setelah beberapa tahun menikah dengan Chanyeol ia belum juga mengandung sampai sekarang."

"Baru kali ini anda merasakan kepedihan yang mendalam. Tetapi aku telah merasakannya selama bertahun-tahun. Dan aku selalu mencoba untuk menerima kenyataan itu. Dan anda juga harus berusaha untuk menerimanya."

Wufan mengangguk kemudian menepuk pundak Suho. "Ya, mungkin kau benar. Aku harus berusaha menerima kenyataan ini."

.

.

.

Pintu rumah Kai terbuka dan masuklah Kyungsoo ke dalam. Ia sudah terbiasa masuk ke dalam rumah Kai tanpa permisi seperti ini.

"Kai apa kau ada di rumah?" teriak Kyungsoo.

Kai membuka pintu kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah sehabis keramas dengan handuk. "Kyungsoo? Kenapa kau datang kemari?"

"Sehun sudah menceritakan semuanya padaku." kata Kyungsoo. Matanya sembab, pasti dia habis menangis.

Kai sudah menduga, bahwa kedatangan Kyungsoo kali ini pasti ada hubungannya dengan Sehun. "Bagaimana keadaanmu?"

"Keadaanku sangat buruk. Aku benar-benar bingung." katanya panik. "Bawa aku untuk bertemu dengan Luhan."

Kai mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. "Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku tak bisa, karena masalah ini juga menyangkut paman suho dan bibi Yixing. Sedangkan aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak untuk ikut campur. Selain itu, Luhan juga bukan barang pemeran yang bisa dilihat semua orang. Keluarga paman Suho sangat terpukul ketika aku membawa Sehun kala itu. Aku tidak bisa membawamu ke sana." jelas Kai panjang lebar. "Statusmu saat ini adalah kekasih Sehun, mereka akan mencurigai maksud dan tujuanmu saat kau mengunjungi mereka."

Tapi Kyungsoo tak bisa menerima alasan itu. Ia tetap memaksa Kai untuk mempertemukannya dengan Luhan. "Aku hanya ingin bertemu dengan Luhan dan mengetahui gadis macam apa dia."

Kai sedikit terkejut dengan ucapan Kyungsoo. "Apakah kau memikirkan perasaan paman Suho? Jika kau sudah mengetahui keadaan Luhan yang sebenarnya, apakah dia akan menjadi sebuah ancaman untukmu?"

"Bukan itu tujuanku."

"Aku tau. Tapi bagaimana dengan keluarga paman Suho? Mungkin mereka akan menganggapmu akan berniat buruk pada Luhan."

"Aku tau, rencana untuk mengunjungi Luhan adalah ide yang cukup buruk. Tapi…" Kyungsoo mulai menangis. "Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku terus meyakinkan diriku bahwa aku dan Sehun saling mencintai satu sama lain dan tak ada yang bisa memisahkan kami. Apa yang dilakukan Sehun ketika berusia empat belas tahun bukanlah urusanku. Tak perlu kuhiraukan. Tetapi masalah Luhan selalu menghantuiku. Bahkan ia sampai masuk ke dalam mimpiku. Seperti yang Sehun pernah katakan. Ia terjebak, begitu pula dengan diriku. Aku terjebak oleh seseorang yang bahkan belum pernah kutemui."

Kai mendekati Kyungsoo dan meremas bahunya perlahan. "Ini semua kesalahanku. Aku yang telah menyebabkan dirimu menderita. Dan sekarang aku tak bisa menenangkanmu."

"Ini semua bukan kesalahanmu. Aku sendiri yang tak bisa menerima semua kenyataan ini. Mungkin aku akan tenang suatu hari nanti. Tapi, aku sudah tidak bisa menghadapi Sehun lagi."

Kai menenggelamkan Kyungsoo dalam dadanya yang bidang, dan ikut menangis bersamanya. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. semua ini kesalahannya. Ia tidak ingin Kyungsoo terluka, namun akhirnya justru ia lah yang melukai Kyungsoo.

"Katakan pada Sehun untuk tidak menggangguku lagi. Karena untuk saat ini aku tidak ingin bertemu dengannya."

"Kau sungguh ingin meninggalkan Sehun?"

Kyungsoo menggeleng lemah. "Aku tidak tau. Sehun yang sekarang bukanlah Sehun yang kukenal dulu."

.

.

.

~~~ Bersambung ~~~

Chapter kemarin terlalu banyak kesalahan dalam penulisan. Termasuk cara memanggil "appa" dan "ayah". Di keluarga Wufan, Baekhyun dan Chanyeol sedang "galau" ketika memanggil Wufan. Antara "appa" dan "ayah". Mulai chapter diusahain manggilnya pakai "appa" aja. Panggilan "ayah" diperuntukkan Luhan kepada Suho. Duibuqi ^^ Xiexie nimen ^^