Kurayami mo nagai sakamichi mo ~
Kegelapan ataupun jalan yang menanjak
Koete ikeru yōna~
Kau pasti bisa melewatinya sampai kapan pun
Boku ni nareru hazu~
Asalkan ada aku
Sepotong bait lagu itu mengalun lembut di tengah gemerisik suara dedaunan yang diembus angin. Sorot mata kedua iris sewarna darah itu begitu pedih. Entah apa yang dipikirkannya. Seulas senyum sendu pun tak henti-hentinya terpoles. Membingkai wajah rupawan yang kini memandang ke luar jendela.
Tersenyum lagi.
Rasanya tak pernah semenyakitkan ini, nii-san.
Senyum itu kini tertuju pada sesosok bocah bersurai langit di sebelahnya. Sebuah senyum teduh menenangkan dalam balutan kepura-puraan.
Rasanya tak pernah semenyakitkan ini saat melihat senyummu.
Jari jemari mungil mulai mengusap hati-hati cairan bening yang sempat mengalir deras dari sepasang azure sang adik. Tak ingin keindahan dua permata kesukaannya itu diselimuti kabut kesedihan. Cukup dirinya saja. Adiknya masih terlalu muda untuk bisa mengerti. Biar saja ia yang menanggung semua. Tugasnya kini adalah menjaga senyuman tetap terbit di wajah adiknya tercinta.
Seakan tahu tentang apa yang menjadi kegundahan sang kakak, sepasang tangan mungil turut menggenggam telapak tangan yang kini menangkup wajahnya. Menatap polos. Sirat bingung tergambar jelas dari wajah sang adik yang sembab dan memerah. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah tentang ibunya yang terbujur kaku. Tak menjawab meski telah ia panggil berkali-kali pun. Lalu kakaknya yang lebih tua setahun darinya datang. Membawa dirinya menjauhi kerumunan orang. Menyeretnya ke dalam kamar dan memeluknya. Merengkuh tubuh mungilnya yang ringkih, membuatnya merasa aman di tengah isak tangis yang terus terdengar dari seluruh penjuru mansion.
Hari itu adalah hari kematian ibu mereka.
… dan semenjak itu, semua tak lagi sama.
.
.
I'll Call Out Your Name
Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi
Saya hanya memiliki plot ini saja
Warning: OOC, Typo (s), Nubi, Plot hole, Alur maksa, dan sebagainya
Genre: Family, Friendship, Brothership, Hurt-Comfort, Semi-canon
Selamat membaca~
CHAPTER 10 Dosa dan Hukuman
.
.
Sebuah motor sport berwarna silver membelah jalanan kota Tokyo yang sepi. Si pengemudi tampak buru-buru sekali hingga mengabaikan traffic light yang meminta untuk berhenti.
Peduli setan!
Toh ia sama sekali tak menemukan pengemudi lain. Ralat, lebih tepatnya mengabaikan. Terlebih lagi, kini waktu telah menunjukkan tengah malam. Siapa pula polisi lalu lintas yang akan mengejarnya lalu memberikan surat tilang?
Tersenyum miring, sang kuda besi pujaan semakin ia pacu dengan kecepatan tinggi. Dia harus mengambil jalur memutar untuk sampai ke tempat yang menjadi tujuannya kini. Padahal sebenarnya perjalanan ke sana akan lebih dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi ia sangsi untuk berlari seorang diri di malam hari. Takut jika disangka sebagai seorang pencuri yang kabur karena ketauan saat beraksi. Maklum, dirinya kan sering disangka preman karena mewarisi wajah bengis dari keluarga Haizaki.
Motor dimatikan. Kuda besi itu kini terparkir di depan sebuah apartemen sederhana milik Midorima. Tak ingin membuang waktu lebih banyak, langkah kaki dibawa berlari melewati lobby dan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai paling atas.
Bel pintu ia tekan. Haizaki menunggu beberapa saat, tapi tak ada jawaban dari penghuni di dalam. Suasana apartemen itu tetap sunyi dengan latar suara jangkrik di kejauhan.
Menggaruk rambut frustasi. Bel pintu ia tekan kembali. Bukan lagi sekali, tapi berkali-kali. Membuat suara gaduh menggema di seluruh penjuru lantai.
"Haizaki. Kau tahu jam berapa ini?""
Suara tajam sarat akan ancaman mengalun rendah dari interkom di bagian kiri. Detik itu juga Haizaki tahu jika ia telah membangunkan iblis yang tengah berlayar di pulau mimpi.
Bib
Pintu apartemen terbuka. Menampilkan sosok Nijimura dengan wajah tak bersahabat. Terlihat jelas jika remaja bersurai arang itu merasa terganggu dengan kedatangan Haizaki yang merusak waktu tidurnya.
Tak berniat berbasa basi, Nijimura lantas meninggalkan Haizaki di depan pintu apartemen yang terbuka. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Nijimura tahu benar jika malam ini dirinya akan kembali membuka mata sampai pagi.
"Nah, apa yang membuatmu berani mengganggu jadwal tidurku?" tanya Nijimura sambil menyamankan diri di sofa. Kedua onyx-nya menyorot tajam Haizaki yang sedang duduk di hadapannya.
Haizaki bersikap acuh tak acuh. Kedua manik kelabunya tampak sibuk menyapu sekeliling apartemen Midorima. Mencari sesuatu—lebih tepatnya seseorang— yang seharusnya ada di sana tapi ia tak dapat menemukannya.
"Mencari Tetsuya, eh?" tanya Nijimura tepat sasaran. Kopi hitam di genggaman ia sesap dengan nikmat seraya mengamati tindak tanduk Haizaki.
Membuang muka. Haizaki berkilah dengan bertanya tentang keberadaan si pemilik apartemen. "Di mana Midorima?"
"Aku di sini nanodayo. Suara belmu memekakkan telinga. Bersyukurlah Tetsuya tidak terbangun." Sesosok remaja bersurai lumut menyembul dari arah dapur. Sebuah cangkir bergambar keroro berada di tangan kanannya. Uap mengepul. Menguarkan bau susu cokelat hangat nan menggugah selera.
"Ah, maaf. Berdiri di luar sendirian di tengah malam membuat diriku tak nyaman," ucap Haizaki sambil menyeringai ke arah Nijimura.
Mengerti dirinya tengah diejek, Nijimura mendengus kesal. "Cepat katakan apa yang membuatmu datang berkunjung saat larut begini. Atau kubuat wajahmu babak belur," desis Nijimura mengancam.
Haizaki memperbaiki posisi duduknya. Sepasang manik kelabunya memandang Nijimura dan Midorima bergantian.
"Bukan mereka pelakunya," ucap Haizaki dramatis.
Hening meraja. Deru mesin pendingin menginvasi secara tiba-tiba. Nijimura dan Midorima bertukar pandang dengan raut wajah tak percaya.
"Apa maksudmu?!" Suara Nijimura meninggi. Jelas sekali ia merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Haizaki.
"Berdasarkan apa kau menyimpulkan hal itu nanodayo!" Midorima tak habis pikir dengan kelakuan remaja ubanan bertampang preman di hadapannya kini. Datang tengah malam, mengganggu tidur orang, lalu menyampaikan argumen mengejutkan yang entah kenapa ia sangsikan kebenarannya.
Semua keluarga Akashi itu gila!
"Kau ingat insiden tujuh tahun yang lalu?" tanya Haizaki dengan wajah serius.
"Insiden apa yang kau bicarakan?!"
"Insiden yang menyebabkan satu keluarga tewas hingga hanya menyisakan satu anak perempuannya."
Alis Nijimura terangkat. "Apa yang kau bicarakan, Shougo?"
"Momoi Satsuki yang meracuni Tetsuya."
"A-Apa?!"
Kesimpulan gila macam apa ini?! Sungguh Nijimura tak habis pikir. "Apa kau yakin? Kau punya bukti?" cecar Nijimura frustasi. Dirinya tak terima jika harus melewatkan tidurnya hanya demi informasi yang lebih menjurus ke fitnah seperti ini.
"Dia yang memberikan botol air mineral keparat itu pada Tetsuya. Di depan mataku, asal kau tahu!" Haizaki bersikeras. Cukup merasa sakit hati dengan sikap tidak percaya dua orang remaja tanggung di hadapannya.
"Kami sudah tahu akan hal itu, nanodayo. Tapi itu tidak membuktikan hipotesismu."
Masih bersikeras, Haizaki bersiap untuk membentak jika saja tatapan membunuh Nijimura tidak membuatnya meneguk ludah dengan susah payah. "Dia putri dari keluarga itu. Aku bisa membuktikannya."
Haizaki meminta Midorima untuk membawakannya sebuah laptop. Dia bermaksud untuk menunjukkan apa yang telah berhasil ia temukan sebelumnya.
Jemari cekatan mulai bekerja. Haizaki kembali memasuki tautan demi tautan yang akan menuntunnya pada informasi yang ia inginkan. Lalu akhirnya ia menemukan sebuah artikel yang memuat keterangan tentang insiden yang terjadi tujuh tahun yang lalu. Kemudian ia meretas beberapa file yang ada dan mengunduhnya.
"Kau lihat? Wajah mereka terlihat sama," ucap Haizaki seakan itu bisa menjelaskan segalanya.
"Tapi marga dan nama kecil mereka berbeda."
"Ia bisa saja merubah keduanya."
"Lalu, atas alasan apa kau mencurigainya?"
"Dia yang memberi Tetsuya air itu!"
"Selain itu?"
"Aku tak menyukainya."
"Kau tak pernah menyukai siapapun."
"Aku menyukai Tetsuya."
"Kita semua menyukainya."
"Sampai kapan kalian akan terus membantahku?!"
Nijimura pening. "Kau hanya menginginkan kartu kreditmu kembali, bukan begitu?"
Checkmate
"Kau meragukan intuisiku." Haizaki membuang muka. Dia memang menginginkan kartu kreditnya kembali. Tetapi ia tak akan sampai sejauh ini jika ia sama sekali tak yakin. Bayangkan saja bagaimana dirinya rela dan mengambil resiko menyambangi mantan kapten iblis monyongnya di tengah malam dengan wajah tampannya sebagai taruhan. Lagi pula Haizaki takkan pernah main-main jika urusannya menyangkut si mungil biru muda.
"Kalau begitu yakinkan kami, nanodayo!"
"Tidak Midorima. Shougo benar. Kita tak bisa mengambil risiko hanya karena kita tak mempercayainya." Nijimura memutar otak. Mencoba mengaitkan potongan puzzle yang didapatkan Haizaki satu demi satu sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Percayalah. Aku bersumpah demi bibir mo-"
Bugh
Sebuah buku melayang dari arah yang tak disangka-sangka.
Nijimura tampak amat sangat murka dengan aura hitam yang menguar dari sekelilingnya. Siapa suruh membawa topik sensitif ke dalam perdebatan ini. Jadi terima sendiri konsekuensi yang harus dihadapi.
Midorima berdeham. Bermaksud menyembunyikan tawa dan membuat suasana kembali kondusif. "Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang nanodayo?"
"Ah. Ngomong-ngomong, aku belum memberi tahu aniki tentang ini," ujar Haizak dengan gaya tak peduli.
Nijimura mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan. Enggan berbicara sepatah kata pun pada titisan iblis lain di hadapannya. Jujur saja, kepala Nijimura mulai berdenyut tak karuan sejak Haizaki datang. Mungkin itu adalah alarm bahaya yang mengingatkan dirinya untuk waspada.
"Saat menemukan fakta itu, aku langsung datang ke mari. Jadi, tak bisakah kalian sedikit menunjukkan rasa terima kasih?"
Bugh
Buku lain melayang dengan mulus ke muka Haizaki. Sedangkan tersangka pelemparan tampak tak merasa bersalah sama sekali.
Nijimura sungguh heran bagaimana bisa kakak dan adik kelakuannya asem semua?! Apa bibinya sewaktu hamil dulu mengidam cuka?
Mendengus kesal, Nijimura bangkit dari sofa. "Kau," ucapnya sambil menunjuk Haizaki. "Beritahu kakakmu tentang apa yang kau temukan. Aku lelah dan ingin tidur sekarang. Sebaiknya kalian juga."
Nijimura berjalan pergi. Meninggalkan dua remaja bersurai kontras yang saling pandang dengan perasaan ngeri akibat aura yang dikeluarkan Nijimura.
"Aku akan mengantarmu ke kamar tamu yang lain, nanodayo. Atau kau bisa tidur satu kamar dengan senpai jika kau mau," ucap Midorima seraya membenarkan letak kacamatanya.
Haizaki mendecih. "Jika aku menerimanya, keesokan harinya aku hanya akan tinggal nama!"
Midorima tersenyum tipis. Ingin tertawa tetapi bukan dirinya sekali. Lagi pula Midorima lebih sayang nyawanya dan tak ingin mati malam ini. Sungguh, Midorima hampir saja gagal menyembunyikan tawa sejak perdebatan pertama Nijimura dan Haizaki terjadi.
"Sepertinya lucky item-ku besok harus lebih besar, nanodayo," batin Midorima meringis.
^0^
Nijimura tersenyum tipis. Diusapnya helaian langit selembut sutra tatkala sang pemilik tengah sibuk menghabiskan sarapan paginya. Sebuah kegiatan yang beberapa hari ini menjadi rutinitasnya.
"Kau tampak kurus, Tetsuya," ucapnya membuka pembicaraan.
Denting sendok beradu dengan piring mengudara. Sepasang azure menyorot datar remaja bersurai arang yang masih tampak betah memperhatikannya.
"Makanku memang segini, Shuuzou nii." Piring yang masih menyisakan seperempat porsi ia sodorkan pada Nijimura. "Jika nii-san memaksaku lagi, aku akan muntah."
"Alasanmu selalu sama sejak dulu, Tetsuya. Dan hanya Seijuurou yang bisa memaksamu menghabiskan makananmu."
Tetsuya membuang muka. Merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Nijimura. "Itu karena nii-san memberiku porsi lebih banyak."
Nijimura terkekeh. Ini adalah hari keempat ia menemani Tetsuya. Banyak yang telah terjadi, termasuk kejadian tadi malam bersama Haizaki. Untungnya ia sudah pergi saat Tetsuya terjaga pagi ini.
Tetsuya tidak boleh tahu tentang Momoi Satsuki.
"Aku melakukannya agar kau segera pulih. Kau tidak bisa terlalu lama bolos sekolah. Seseorang takkan berhenti bertingkah aneh jika kau tak segera menampakkan diri," timpal Nijimura dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat.
Tetsuya tersenyum tipis. "Apa ia sangat mengkhawatirkanku?" tanyanya antusias.
Nijimura mengangkat bahu. "Kau bisa tanya pada Midorima jika kau mau. Aku sendiri heran bagaimana bisa nalurinya setajam itu."
"Tapi …." Tetsuya terdengar ragu. Mendadak saja perasaannya menjadi tak enak. Dirinya takut, amat sangat takut. Ia takut hal yang lebih buruk terjadi dan ia tak yakin keajaiban akan terjadi lagi di lain hari.
Tetsuya sudah tahu semuanya. Tentang racun yang ia minum dan tentang Seijuurou yang menjadi target dari racun itu. Batinnya sakit. Merasa beruntung bisa melindungi sang kakak dari ancaman maut walau dirinya harus menjadi perisai itu. Tetsuya rela. Amat sangat rela. Tetapi sampai kapan? Sampai kapan badai ini akan selalu datang? Sampai kapan dirinya akan kuat berdiri di sisi sang kakak?
Tetsuya menghela napas lelah. "Apa semua akan baik-baik saja nii-san? Aku benar-benar takut mereka akan—"
"Ssst …." Sebuah telunjuk mendarat di bibir semerah plum. "Kau tak perlu khawatir. Kami akan mengurus segalanya," ucap Nijimura meyakinkan. Mereka semua memang akan mengurus segalanya. Termasuk menyelidiki keterlibatan Momoi dalam insiden ini.
Tetsuya menunduk. "Semua karena aku. Semua terjadi karena aku." Suaranya terdengar bergetar. Nijimura berani bertaruh jika azure itu kembali diselimuti cairan bening.
"Berhenti menyalahkan dirimu. " Tangan kokoh Nijimura mulai kembali mengusap pelan helaian langit Tetsuya. "Semua ini terjadi bukan karena dirimu."
Tetsuya menggeleng. "Aku hanya beban, nii-san."
"Kau salah." Nijimura menarik dagu Tetsuya. Memaksanya untuk mendongak dan menatap manik hitam kelamnya.
"Tetsuya, tatap aku." Kedua azure menatap sendu Nijimura. Nijimura dapat melihat kesedihan dan kekhawatiran di sana.
"Kau telah melindunginya. Kau telah berkorban banyak," ucap Nijimura sambil mengangguk mantap. Bermaksud membuat si bungsu Akashi paham akan perkataanya.
Menggeleng pelan, jemari mungil menggamit tangan Nijimura. Menggenggam tangan kokoh itu dengan ke dua telapak tangan kecilnya. "Hanya itu yang bisa kulakukan nii-san. Kini giliran aku untuk melindunginya." Tetsuya tersenyum. Sebutir cairan bening lolos dari mata kanannya.
"Kita akan melakukannya bersama-sama."
^0^
Seijuurou mematung. Smartphone di tangan ia lihat dengan tatapan membunuh. Sudah satu jam yang lalu ia mengirim pesan. Namun balasan tak kunjung datang. Jika saja ini bukan orang itu, pasti Seijuurou dengan senang hati akan memberikan hukuman tanpa ampun.
Benar sekali.
Seijuurou baru saja mengirimkan pesan kepada Tetsuya, dan kini ia sedang menunggu balasan bak seorang kekasih yang dirundung rindu berbulan-bulan. Padahal baru empat hari berlalu sejak mereka terakhir bertemu.
Dering smartphone memecah sunyi.
Bukan sebuah balasan pesan yang datang kini, namun sebuah panggilan dari Tetsuya yang menghampiri. Apakah ini mimpi? Sungguh Seijuurou girang bukan main.
Seijuurou berdeham. Bermaksud membersihkan tenggorokan agar suara yang keluar tidak memalukan. Ah,jangan lupakan seringai kemenangan yang kini menghiasi bibirnya.
"Tetsuya?" ucapnya dengan penuh afeksi.
'Akashi-kun?' Suara merdu bak lorelei menyambutnya. Membuat seringai mengerikan semakin merekah pada wajah tampannya.
"Apa orang tuamu baik-baik saja?" tanya Seijuurou basa-basi.
'Ha'i. Mereka berdua baik-baik saja. Terima kasih karena sudah khawatir dan menanyakan kabar.'
Seijuurou tersenyum. Tetsuya-nya memang selalu sangat sopan.
"Lalu bagaimana denganmu, apa kau baik-baik saja?" Sebenarnya inilah yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
Demi Tuhan! Perasaannya beberapa hari ini sungguh tak karuan. Dan itu adalah akibat remaja mungil yang tengah berbicara dengannya kini. Jadi mungkin kalian sekarang bisa membayangkan kelegaan dari Seijuurou saat mendengar suara dari Tetsuya.
'Aku baik-baik saja Akashi-kun. Maafkan aku karena tidak bisa mengikuti latihan untuk beberapa hari ke depan.'
Seijuurou tersenyum lagi. "Kau tak perlu khawatir. Aku akan mempersiapkan menu latihan khusus saat kau kembali."
'Ha'i. Arigatou gozaimasu. Kalau begitu sudah dulu nee, Akashi-kun.'
Panggilan terputus. Seijuurou memandang benda pipih di tangannya dengan wajah puas. Walau hanya sebentar, bagi Seijuurou itu sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan kewarasannya.
Melirik ke luar jendela, Seijuurou berjalan ke arah balkon. Bermaksud duduk bersantai sambil memandangi matahari sore. "Kekhawatiranku sungguh tak beralasan. Apa ini wajar?" ucapnya setelah menyamankan diri di kursi yang tersedia di sana. Sepasang matanya kini tertuju pada lembayung senja yang menggantung ditimpa cahaya keemasan.
"Mungkin jika aku memiliki adik, aku ingin dia sepertimu."
^0^
Tetsuya mengakhiri panggilannya. Wajah pucatnya sedikit merona akibat perasaan bahagia yang membuncah.
Singkat cerita. Tetsuya baru saja membuka ponselnya setelah sekian lama. Dari sana ia menemukan banyak panggilan dan juga pesan dari rekan-rekan basketnya di Teiko, termasuk Seijuurou. Lalu, saat ia sedang membalas satu persatu pesan yang masuk, sebuah pesan baru dari Seijuurou datang.
Ah, pesan baru Seijuurou pending rupanya.
"Kau terlihat sangat senang, nanodayo." Sosok tegap Midorima masuk sambil membawakan cemilan untuk Tetsuya.
Tetsuya tersenyum. "Aku baru saja menelepon Sei-nii."
Mengerti, Midorima memilih tidak bertanya lagi. "Ayahmu tadi menelepon, nanodayo."
"Otou-san?"
Midorima mengangguk sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja. "Sebentar lagi adalah hari peringatan kematian ibumu. Kau harus datang, Tetsuya."
Tetsuya memandang Midorima dengan raut tak percaya. "Otou-san menyuruhku pulang?"
"Dia tak pernah mengusirmu," jawab Midorima tajam.
… lalu menyesal saat melihat kesedihan mulai membayangi wajah Tetsuya.
Menghela napas, Midorima menempatkan diri di samping Tetsuya. "Pulanglah Tetsuya. Ayahmu pasti akan senang. Ia sangat merindukanmu. Bahkan berkali-kali ia berencana mengunjungimu."
"Aku tak bisa pulang nii-san. Sei-nii juga ada di sana." Cairan bening telah menggenang di kedua pelupuk mata azure-nya.
"Ia takkan tahu. Kami akan mengurusnya. Datanglah. Ibumu pasti ingin kau datang," ujar Midorima meyakinkan. "Kau tahu? Bahkan hubungan Seijuurou dengan ayahmu tak pernah baik sejak hari itu."
Sepasang azure membulat. Sirat bingung nan kentara terpancar dari wajah pucatnya. "Apa maksud nii-san?"
"Akashi hanya mengingat bahwa ayahmulah yang bertanggungjawab atas kematian ibumu."
Kata-kata Midorima bagai sambaran petir. "Ba-bagaimana bisa?" Tetsuya terbata. Jelas sekali ia kaget luar biasa. Bukan itu yang terjadi. Ibu mereka meninggal bukan karena kesalahan ayahnya, tapi dirinya.
"Itulah harga yang harus ia bayar," jawab Midorima cepat.
"Tetsuya," Midorima menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Tetsuya. Memaksa azure itu menatapnya. "Ingatan Akashi kacau. Kami tidak tahu apa saja yang tertinggal di sana. Ia bisa sangat berbahaya."
Tetsuya meneguk ludahnya susah payah. "A-pa maksudnya?"
Midorima berdecak kesal. Tak tahan lagi dengan sikap keras kepala sosok mungil di hadapannya. "Ia labil Tetsuya. Sesuatu bisa memicunya untuk berbuat hal yang mengerikan!"
Kapan kau bisa mengerti?!
Tetsuya menggeleng keras. "Tidak. Bohong. Dia adalah Sei-nii. Aku mengenal betul kakakku."
Midorima menghela napas lelah. "Untuk saat ini. Karena itulah, aku memintamu untuk tak terlalu dekat dengannya," terang Midorima lagi. "Ingat tujuanmu Tetsuya. Semakin kita menjaga jarak, ia akan lebih aman."
Midorima mengakhiri percakapan. Meninggalkan Tetsuya yang masih memasang raut wajah terluka. Remaja bersurai biru muda itu jelas baru tahu tentang fakta ini. Apakah selama ini mereka menyembunyikan fakta tersebut darinya?
Midorima menutup pintu kamar Tetsuya dengan pelan. Berjalan menyusuri koridor apartemennya yang sunyi dengan tak enak hati. "Maafkan aku, Tetsuya. Tapi itulah yang sebenarnya." Midorima tersenyum sendu. Langkah kakinya terhenti beberapa saat. Satu tangan kekarnya tampak berpegang pada dinding lorong guna menopang tubuhnya. Dadanya sungguh sesak luar biasa.
Menghela nafas, Midorima kembali menegakkan posisi tubuh. Tak ketinggalan pula dengan memperbaiki posisi kacamata yang tak pernah bergeser dari wajahnya.
"Setidaknya dengan mengetahui ini, kau takkan lagi terlalu dekat dengannya."
TBC
Yeay ketemu lagi. Semoga tak bosan bertemu dengan nara.
Ga terasa ya udah sampai 10 chapter dan arc Teikonya ga selesai-selesai juga. Salahkan alurnya yang lambat kayak username nya.
Kalau ada yang bertanya ini mau berapa chapter, rasanya nara ga bisa jawab. Tapi buat gambaran, sementara ini alur yang dipakai akan mengikuti versi cannonnya. Jadi sampai wintercup mungkin ya? #dibuang.
Maaf juga jika ada yang masih bingung. Nara ga bermaksud bikin bingung, sungguh. Mungkin ini keterbatasan nara sebagai pemula yang belum bisa meramu alur dengan benar. Tapi jujur, nara juga ga nyangka kalau ceritanya akan serumit ini. Salahkan ide dadakan yang suka muncul dan memperumit semuanya.
Oke, terimakasih untuk yang sudah bersedia mampir. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
