~ Snowy Wish ~
.
.
.
Yewook Fanfiction © R'Rin4869
.
Genre : Hurt, Romance
Pairing : YeWook
Genre : T
Warning : Typos, YAOI, OOC
Disclaimer : Semua tokoh di fic ini milik diri mereka sendiri, fans, dan orang tuanya sedangkan cerita ini milik saya
.
Dont bash the charachter
Dont Like Dont Read
.
.
.
Kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
Tidak.
Setidaknya sampai kau mencoba untuk mengalaminya.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Dua kali ketukan dengan nada santai di pintu kantornya terdengar jelas oleh Kibum. Dokter muda itu mendongak dari laporan-laporan pasien di mejanya dan berkata pelan,
"Masuk,"
Tanpa suara lebih banyak lagi pintu itu terbuka, menampakkan seorang pria yang beberapa tahun lebih muda darinya sedang melangkah masuk. Wajahnya yang innocent terlihat memiliki sorot dingin, tidak sepolos kelihatannya kan? Kibum jelas tahu itu. Sudah beberapa tahun ini topeng dingin itu dikenakan oleh adiknya. Entahlah berapa lama, dia sedang tidak mood untuk menghitungnya.
"Ryeowook," sapanya, berusaha tersenyum manis. Tangannya bergerak untuk melepas kacamatanya kemudian memijit pelan hidungnya. Rasa letih jauh lebih menderanya kali ini, tampaknya dia baru sadar apa efek dari begadang semalaman dan terus menerus berkutat dengan pekerjaannya.
"Pagi, Dokter Kim." Ryeowook membalas sapaan itu dengan nada sopan yang agak mengejek.
Kibum mengabaikannya. "Ada apa? Pagi sekali." Karena mungkin memang bukan bakatnya untuk berbasa-basi, Kibum mencetuskan pertanyaan itu.
Ryeowook tetap berdiri di depan mejanya, seolah tak melihat adanya keberadaan kursi di sana.
"Sarapan." Dia mengangkat tas kecil yang dibawanya dan tersenyum simpul. Barulah menghempaskan diri ke kursi di dekatnya.
"Aku bahkan belum mandi."
"Dan aku sama sekali tidak bertanya soal itu. Apa itu penting?"
Kibum agak meringis. "Baiklah dongsaeng, kau menang. Apa yang kau bawa?" Dia melirik gerakan tangan Ryeowook yang sudah membuka tas itu dengan penuh perhatian. Oh, kapan terakhir kali dia makan? Tatapannya seolah ingin mengunyah tangan adiknya saja.
Kalau boleh jujur, bau masakan yang dibawa oleh Ryeowook itu benar-benar menggugah selera. Seolah dia baru saja mencium bau yang membuatnya ketagihan. Bertepuk tanganlah pada Ryeowook yang sukses membuat perutnya berbunyi nyaring sekarang ini.
"Hyung, kau ini seperti baru melihat makanan saja!" Tegur Ryeowook.
Kibum mendengus. Tapi kemudian memandang dengan wajah semenderita mungkin. "Aku lupa kapan terakhir kali aku makan."
Ryeowook melotot mendengarnya.
"Semalaman apa saja yang kau lakukan?" Tanyanya dengan penuh selidik. "Kapan terakhir kali hyung tidur?"
"Eh?" Wajah Kibum terlihat bingung. "Aku...aku lupa."
Jika tadi Kibum merasakan hawa dingin di sekeliling adiknya, kali ini yang dia rasakan malah hawa mencekam, seolah berada di dekat pembunuh berantai. Mata Ryeowook menyipit mengerikan padanya.
"Rye-...hamppphh"
Kata-kata Kibum terpotong tepat saat Ryeowook menyuapkan sebuah telur gulung ukuran besar ke mulutnya tanpa belas kasihan. Membuat Kibum megap-megap untuk bernapas saking kagetnya. Astaga, adiknya ini mencoba melakukan usaha pembunuhan atau apa terhadapnya?
Lupakan, itu terlalu hiperbolis. Ryeowook hanya menyuapinya dengan makanan, walaupun gerakannya yang langsung menyurukkan telur gulung ke mulut Kibum sama sekali tidak bisa dihitung sebagai menyuapi. Kibum mengunyahnya dengan susah payah, menelan makanan itu untuk melewati tenggorokannya. Rasanya sama sekali tidak buruk, enak malah.
"Pelanlah sedikit." Protes Kibum.
Ryeowook berdecak. Mendorong tempat makanan itu tepat ke depan Kibum. "Makan sendiri saja kalau begitu, aku bukan baby sitter."
Kibum menatap makanan itu. "Dan aku bukan bayi." Dia mengambil sumpit di tangan Ryeowook dan mulai makan.
Namja manis itu terkikik. Menatapi wajah kakaknya yang terlihat lusuh.
"Apa?" Kibum mendongakkan kepalanya. Bingung karena tatapan adiknya itu.
Ryeowook mengangkat bahu. "Tidak ada."
"Kau sendiri sudah sarapan?"
Ryeowook mengangguk pelan.
Sementara Kibum menggumam tak jelas sambil mengunyah.
Ryeowook menaikkan sebelah alisnya dengan wajah bingung. "Kau bilang apa?"
"Aku bertanya," ujar Kibum sabar. Mengulangi gumamannya. "Kau masih menunggui kekasihmu di sini, hmm?"
Ryeowook mengalihkan wajahnya.
"Tidak."
"Benar-benar tak pandai berbohong." Mata Kibum menyipit menatap adiknya itu, kemudian nyengir lebar.
Ryeowook mengerang frustasi. Tangannya bergerak untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dari mana asalnya sampai ada spekulasi macam itu?"
"Gampang saja, aku melihatnya kok." Jawab Kibum kalem, menyuap sepotong kentang ke mulutnya. "Pasien di kamar nomor 211 lantai 4 kan? Kim Jongwoon, korban kecelakaan sejak 3 hari yang lalu."
"Kau menguntitku ya?" tuduh Ryeowook.
"Katakan saja begitu, dan itu karena aku penasaran kenapa kau selalu terlihat di lantai empat setiap kali aku pergi ke sana."
"Kulihat kantormu berada di lantai tujuh, Dokter Kim." balas Ryeowook malas. Ia tak mau menanggapi terlalu jauh untuk ini.
Kibum tertawa pelan. "Dan karena itu kau pikir aku tidak seharusnya berada di sana, Presdir Kim?"
"Aku bukan Presdir!" sergah Ryeowook dengan nada ketus. "Dan yang kutunggui itu bukan pacarku!"
"Sungguhkah? Aku melihatmu dengan seorang gadis setaraf model cantik di kafetaria kemarin. Mungkin yang itu pacarmu?" Kibum tak mau berhenti untuk menggodanya.
"Yak!" Ryeowook kehabisan kesabaran. "Kenapa kau jadi menginterogasiku, hyung?"
"Hei, hei," Kibum tetap tenang di tempatnya, tersenyum kecil. "Aku hanya ingin tahu adik kecil, apa salahnya aku memantau kegiatanmu sedikit? Aku hanya memastikan keadaanmu dan apa yang kau lakukan di sini. Berhubung aku jarang bisa pergi ke tempat lain."
Perhatian yang terpancar dari mata Kibum yang biasanya datar itu...
Ryeowook terdiam. Kehabisan stok kata-kata tampaknya cukup tepat untuk menggambarkan keadaannya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan kakaknya barusan. Dia membuang pandangannya ke bawah, berpura-pura fokus dengan lauk di depan Kibum sebelum akhirnya berkata, dengan nada agak gugup,
"Terserahmu saja. L-Lebih baik habiskan makananmu, hyung. Lalu ambillah istirahat sejenak. Jangan jadi contoh dokter yang buruk untuk pasienmu. Aku ada urusan lain." Dia beranjak dari kursinya, ingin menuju pintu keluar secepatnya.
Kibum tersenyum kecil mendengarnya.
"Tunggu, Ryeowook-ah,"
Ryeowook menoleh pada kakaknya sekali lagi. Memberi pandangan bertanya.
"Aku menunggu makan siangku." Ujarnya ringan.
Menghembuskan napas lega, Ryeowook mengangguk walau agak kaku.
"Kuusahakan." Jawabnya. "Annyeong, Kibum hyung." Dia tersenyum sekilas.
"Annyeong."
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Yoona keluar dari rumahnya dengan agak tergesa. Berusaha merapikan rambut dan pakaiannya sambil berjalan dan menutup pintu, kemudian menguncinya. Sedikit merengut mengingat penyebab dari ketergesaannya yang menyebalkan ini. Sepatunya nyaris tenggelam dalam salju yang menumpuk di depan rumah begitu kakinya menapak pada pekarangan. Dinginnya udara akhir bulan Desember menerpa wajah cantiknya dengan sensasi kebas, nyaris hilang rasa dalam suhu minus derajat celcius seperti ini. Membuatnya merasakan dorongan untuk kembali ke rumahnya, menyalakan penghangat dan meringkuk dalam balutan selimut tebal. Tapi apa daya jika ia memang harus menendang dorongan itu untuk keluar dari pikirannya.
Seorang namja sedang menunggunya di depan mobil mewah yang diyakini Yoona berharga ratusan juta won dengan gaya yang santai. Sebetulnya lebih tampak dingin dan tak bersahabat, jika saja Yoona tak melihat binar hangat di sepasang karamel cantik milik namja itu. Gadis itu tersenyum ramah.
"Mianhae oppa harus menungguku," Yoona berucap dengan nada menyesal.
Ryeowook membukakan pintu untuknya.
"Tak apa, aku juga salah karena tiba-tiba menelpon untuk menjemputmu."
Yoona meringis sedikit, masuk ke dalam mobil dengan tatapan berterima kasih.
"Ini masih pagi sekali." Yoona menghenyakkan diri di kursinya, menatap Ryeowook yang kini sedang menyalakan mesin.
"Lalu?" Ryeowook melempar senyum usil padanya. "Jangan bilang kau terganggu karena oppa membangunkanmu."
"Bukan itu," Yoona menampik. Jujur saja, ucapan Ryeowook itu juga benar. "Hanya saja, untuk kerumah sakit pada jam seperti ini bukannya tidak boleh? Jam jenguk kan baru akan dimulai dua jam lagi."
Ryeowook mengangguk, paham. "Itu urusan oppa untuk menerobos masuk ke kamar kakakmu." ucapnya santai.
Yah, itu kan memang tak sulit. Toh sejam yang lalu dia berhasil masuk. Hanya saja rupanya berada di rumah sakit sendirian bukan favoritnya. Tempat itu punya hawa dingin dan bau disinfektan sterilisasi ruangan yang membuatnya tak nyaman. Jadi daripada menunggui Yesung dengan gelisah sendirian, Ryeowook memilih untuk menjemput Yoona. Bersyukur Heenim mau memberinya alamat rumah kakak beradik Kim itu semalam, walaupun dibarengi dengan godaan ringan yang menjengkelkan.
Yoona menatap Ryeowook dengan pandangan aneh.
"Ada apa?" Tanya Ryeowook.
"Oppa aneh. Lama-lama mirip dengan Jongwoon oppa." Ujar Yoona kelewat jujur.
Ryeowook melotot, tapi akhirnya menghela napas pelan. "Akibat terlalu sering dekat dengan kakakmu akhir-akhir ini." Katanya beralasan, tatapannya tetap fokus ke depan. Tak ingin mengambil resiko jika mereka harus menemani Yesung di rumah sakit dengan status yang sama, sebagai pasien kecelakaan.
Yoona terkikik. "Berarti kalian cocok." Ucapnya, berusaha memberi Ryeowook penghiburan. Tapi sama sekali tidak digubris oleh namja itu.
"Kau merestui kami kalau begitu?"
Yoona langsung mengangguk tanpa ragu.
"Tapi tunda saja perizinanmu denganku untuk hal itu oppa, sampai Jongwoon oppa mengingatmu kembali setidaknya."
Ryeowook mendesah pelan.
"Doakan saja dia cepat mengingatku, sebelum aku menyerah nantinya."
"Hwaiting!" Yoona mengepalkan tangannya di dekat Ryeowook dengan wajah ceria, membuat keduanya tertawa bersamaan.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Yoona tidak pernah tahu bagaimana harus bereaksi yang sebenarnya di depan namja tampan itu, Kim Kibum. Pria muda yang sudah berstatus sebagai dokter ahli jantung itu tiba-tiba saja datang dari arah berlawanan ketika ia dan Ryeowook berjalan di lorong rumah sakit.
Ryeowook malah merengut.
"Apa lagi?" Tanya namja itu, seolah mereka berdua sudah bertemu belum lama ini.
Dokter itu tersenyum, dan Yoona merasa itu terlalu over, karena senyumnya jelas mampu melenyapkan kemampuannya untuk berkedip.
"Aku hanya mau mengatakan kalau dia sedang dipindahkan ke ruang pemeriksaan, sebentar lagi akan ada uji coba terapi berjalan untuk kakinya yang patah. Lukanya nyaris sembuh seluruhnya, tidak terlalu buruk."
"Berhentilah untuk mengurusi hal itu. Kau seperti punya penyadap di rumah sakit ini." Ryeowook menghembuskan napasnya. "Ada baiknya kau tidur."
"Aku janji akan istirahat sehabis ini." Sahut Kibum santai. "Mau kuantar ke ruang terapinya dulu? Keluarga diijinkan masuk."
Tidak ada gunanya untuk menolak, jadi Ryeowook mengangguk. Dan Yoona mengikuti langkah dua orang pemuda itu tanpa satu kata pun yang bisa dia ucapkan.
.
.
.
"Dia kakakku," Ryeowook berbisik.
Langkah mereka cukup jauh dari Kibum sehingga pria itu tidak dapat mendengarnya. Yoona memandang Ryeowook dengan terkejut.
"Kupikir-"
"Keluargaku sudah tiada semuanya?" Ryeowook melanjutkan kata-kata gadis itu dengan sikap tenang. "Sudah tidak ada lagi di rumah, itu benar. Kibum hyung tinggal terpisah dariku sejak lama, bahkan sejak orang tuaku masih hidup. Dia punya tujuan yang sangat berbeda."
Yoona mengangguk-angguk. Cukup merasa geli akan kekecewaan yang terbersit di hatinya barusan karena pengakuan Ryeowook jika Kibum adalah kakaknya. Pria itu memang sangat menarik untuknya.
"Berarti kita sama."
"Tidak juga."
"Bukankah kita sama-sama punya kakak laki-laki sekarang?"
"Tapi keadaannya berbeda." Balas Ryeowook muram. "Yesung hyung perhatian padamu, sementara Kibum hyung mengontrolku seolah aku adalah pasiennya, bukan adiknya."
Yoona tersenyum. "Setidaknya kita punya keluarga." Ujarnya. "Dan jika oppa ingin punya seseorang yang perhatian seperti Jongwoon oppa, oppa bisa segera bertanya padanya kapan kalian mau menikah."
Ryeowook mencubit lengan atas Yoona dengan tatapan garang setelahnya.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
"Suster Song akan menunjukkan bagaimana anda harus menjalani latihan berjalan ini, Jongwoon-ssi, ini tidak akan sulit. Luka anda tidak parah. Saya akan mengawasi perkembangannya saja. Jadi saya permisi."
Dokter paruh baya itu tersenyum, kemudian melangkah ke ruangannya lagi.
"Ah ye, gamsahamnida, Uisanim." Yesung balas tersenyum.
Pintu ruangan itu sudah sepenuhnya menutup. Yesung meringis. Menatapi ruang latihannya yang tampak seperti ruang latihan balet untuk anak dibawah sepuluh tahun. Dengan palang-palang besi yang setinggi pinggangnya, dan permukaan ruangan itu yang disusun atas busa lembut.
"Bisa kita mulai sekarang, oppa?" Qian bertanya ramah, melihat-lihat reaksi Yesung.
Namja itu mengangguk agak kikuk.
"Oppa gugup?"
"Tidak. Aku tidak gugup."
"Lalu kenapa?"
Yesung tertawa pelan. "Rasanya agak aneh saja. Belajar berjalan. Aku yakin sudah melalui tahap itu bertahun-tahun yang lalu."
Mau tak mau Qian ikut tertawa.
"Ini hanya latihan dasar kok, karena tangan oppa masih patah, dan lukanya belum sembuh semua maka oppa harus menjalani ini di rumah sakit. Kupikir oppa sudah bosan di kamar?"
"Memang. Tapi tempat ini tidak jauh lebih baik."
"Setelah ini kita bisa pergi ke luar, ke taman rumah sakit." Qian tersenyum penuh pengertian.
"Bukan ide buruk." Yesung nyengir. "Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Qian mengulurkan kedua tangannya. "Bangun saja dari kursi roda. Coba lihat apakah kaki oppa cukup kuat untuk menopang beratnya."
Yesung mengangguk. Ini tidak akan menyulitkan. Mungkin semakin cepat dia bisa berjalan, maka semakin cepat juga dia bisa keluar dari rumah sakit. Jujur saja Yesung tak betah berlama-lama di sini. Dia menumpukan sebelah kakinya ke lantai, lalu kaki sebelahnya lagi. Menerima uluran tangan Qian dan mencoba mengangkat tubuhnya sendiri dengan perlahan.
"Pelan-pelan saja," Qian bergumam. Menarik tangan Yesung dengan perlahan.
Namja itu tersentak seketika. Rasa nyeri menjalari tulang keringnya, nyaris membuatnya berteriak kesakitan di saat bersamaan dengan tubuhnya yang langsung oleng. Yesung tidak sanggup lagi menahan dirinya untuk tetap tegak. Alih-alih jatuh ke belakang, Yesung malah jatuh ke arah depan, dimana tangan Qian masih memegang tangannya sendiri dengan erat.
"Oh!" Keduanya terkesiap.
Brugh!
'Buruk' pikir Yesung dongkol. Kini bukan saja kakinya yang sakit, tapi juga tangannya yang masih memakai penyangga. Tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Qian dalam usahanya mencari pegangan. Sayang, nyatanya tubuh gadis itu terlalu kecil untuk menahan beban mereka berdua.
Cklek!
"Yesung oppa!"
Dua pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan tatapan berbeda. Dan Yesung merasa dirinya bukan dalam kondisi yang aman sekarang. Alarm peringatan mulai berbunyi di kepalanya saat dia mengenali dua sosok yang berdiri di depan pintu.
.
.
.
Aura di kamar itu dingin. Jauh lebih dingin daripada suhu di luar sana yang sekarang sedang diterpa hujan salju. Yesung merasa hari ini sangat kelam. Seolah-olah ada keadaan berkabung di sini. Hanya saja keadaannya tidak persis seperti itu, dua tatapan garang masing-masing dilakukan oleh dua orang tamunya. Satu, dari adiknya tersayang yang kini tampak tak mau berkompromi untuk merasa kesal padanya, dan kedua dari seorang namja mungil yang menatap penuh intimidasi pada Qian. Entahlah apa alasannya.
"Berhenti menatap oppa seperti itu, Yoona-ya."
"Tidak."
"Oppa sudah memberimu penjelasan." Yesung memohon sedikit.
"Penjelasan atau alibi?"
"Itu bukan alibi, Nona Kim." Bantah Qian.
Kali ini tatapan Yoona tampak lebih garang ketika mengalihkannya pada gadis itu.
"Bisa kau diam dan tidak ikut campur di pembicaraan kami, Suster Song? Aku tak peduli dengan jawabanmu, karena aku sedang bertanya pada kakakku."
Wajah Qian tampak memerah mendengar teguran tegas itu. Gadis di depannya tampak benar-benar tidak menyukainya.
"Kalau begitu saya keluar saja. Maaf atas gangguannya, Nona Kim."
Yesung yang merasa tidak enak sekarang ini. "Qiannie, maafkan aku."
Qian tersenyum, mengerti. "Gwaenchana, oppa. Permisi."
Pintu ruangan itu terbuka, sosok Qian melaluinya dengan langkah-langkah tenang. Kemudian pintu menutup lagi.
"Kau puas, Kim Yoona?"
Yoona terperanjat melihat tatapan kakaknya.
"Aku tidak-"
"Kau tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya." Ujar Yesung, nadanya terdengar tegas.
"Oppa, aku biasanya tidak peduli dengan siapapun kau mau berdekatan. Tapi keadaannya sekarang berbeda, oke?"
"Tidak ada yang berbeda sekarang." Sanggah Yesung.
"Kau hanya tidak mengerti, oppa."
"Aku berkali-kali memintamu memberiku penjelasan, Yoona-ya. Kau menolak. Seolah kau punya rahasia dariku."
"Bukan rahasia." Yoona menggeleng. "Tapi-"
Sebuah cengkeraman pelan di tangannya membuat Yoona menoleh pada Ryeowook. Namja itu menatapnya dengan sorot mata memohon, memintanya untuk berhenti bicara. Yoona mengangguk sekilas. Menenangkan dirinya.
Dia bukan anak-anak lagi. Bukannya dia tidak mengerti kalau kejadian antara Yesung dan suster itu hanyalah kecelakaan kecil. Tapi tak tahukah Yesung apa dampaknya pada namja yang kini satu ruangan dengan mereka itu?
Samar, Yoona bisa merasakan jika napas Ryeowook tertahan pada saat itu. Dia sendiri benci harus berada pada situasi dimana dia tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada kakaknya. Tapi, lagi-lagi, dia harus mengingatkan diri jika ini bukan urusannya.
"Tidak ada rahasia di sini, oppa."
Yesung mendengus keras. "Semaumu saja, Kim Yoona."
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Gelapnya malam tampak jauh lebih terang hari ini. Butir-butir salju memantulkan sinar lampu jalan dengan gemerlap yang berbeda. Suasana di luar cukup ramai. Ini sudah memasuki akhir bulan Desember. Dan malam ini adalah Christmas Eve.
Bulu kuduk Ryeowook merinding.
Dia menepis jauh-jauh segala hal yang ada di pikirannya dan tetap fokus ke depan, pada jalanan yang sedang dilalui oleh mobil mewahnya. Ryeowook heran mengapa dirinya masih sanggup untuk berada di luar malam ini. Segala kenangan pahit, mimpi buruk, dan kenyataan kelam terjadi di Christmas Eve sebelum ini. Semuanya berdampak satu hal baginya. Kepiluan. Yang berbuah rasa takut, trauma, dan menghilangnya sisi dirinya yang ceria.
Tidak seharusnya dia pulang semalam ini dari toko buku. Harusnya dia ingat waktu dan kembali secepatnya sebelum matahari sempat menyentuh horizon barat tadi.
Mengerikan.
Dia menyadari sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang berbahagia. Bahagia karena malam ini mereka bebas untuk mengekspresikan diri dengan seharusnya, bersuka cita. Menyambut malam kudus dengan doa-doa bersama keluarga, bersyukur untuk segala nikmat pada Kristus, menghaturkan salam pujian pada Bunda Maria.
Namun, bagi Ryeowook, tradisi itu sudah tidak ada untuknya. Dia memilih untuk melupakan apapun kebiasaan yang harusnya dilakukan pada malam ini. Mengurung diri di kamar dengan sebuah buku bacaan, itu sudah cukup. Maka itu juga yang paling ingin dilakukannya malam ini.
Pohon-pohon natal dan hiasan holy terlihat di sepanjang kawasan pertokoan. Nuansa merah dan putih ada dimana-mana. Boneka santa berada di depan toko untuk menyambut tamu, sedangkan kado-kado mainan dipajang di etalase toko. Ryeowook melewati semuanya tanpa berpikir panjang, mengemudikan mobilnya tanpa peduli lagi dengan segala hal macam itu.
Dia memarkir mobilnya di garasi rumah dengan mulus. Lalu cepat-cepat memasuki pintu utama bangunan itu demi menepis rasa dingin yang ada di sekelilingnya. Tapi ketika melalui ruang keluarga, langkah Ryeowook terhenti. Alisnya mengernyit bingung pada pintu ruang keluarga yang terbuka lebar, serta cahaya jilatan lidah api di perapian yang menyala di ruangan itu.
Ruangan itu biasanya kosong. Ryeowook tidak mau dekat-dekat lagi dengan tempat yang terlalu banyak menyimpan kenangan manis untuknya. Terlalu suram, dan membuatnya pedih. Tak ada seorang pelayan pun yang berani membuka pintu ruangan itu di saat-saat biasa, kecuali di pagi hari untuk membersihkannya dengan rutin. Itulah sebabnya Ryeowook heran kenapa ruangan itu terbuka sekarang.
Agak ragu, Ryeowook mendekati ruang keluarga dan melongok ke dalam. Sekedar memastikan ruangan itu kosong sebelum dia menutup pintunya kembali dan meminta pelayan mematikan perapian, namun kemudian Ryeowook membeku di depan pintu itu. Memandang tak percaya dengan siapa yang dilihatnya di sana.
Kibum.
"Ada apa ini?"
Suaranya terdengar tegas.
Kibum terlonjak kecil, sepertinya ia sedang melamun tadi, kemudian bangkit dari kursinya. Menghampiri Ryeowook dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bersantai sedikit." Sahut Kibum kalem.
Ryeowook menilik pada pakaian Kibum. Jubah dokternya sudah dilepaskan dan diganti dengan kaos coklat, dilapisi pullover tebal berwarna biru tua yang lengannya dilipat sampai mendekati siku. Celananya jelas bukan celana kerja yang selalu mengilap, melainkan celana khaki yang terlihat santai. Sama sekali tidak mencirikan seorang Kim Kibum yang selalu serius dan workaholic.
"Menikmati libur natalmu?" Ryeowook bertanya acuh, melepas mantelnya dan mengantungnya di ujung ruangan.
"Menikmati kembali ke rumahku yang sekarang." Koreksi Kibum.
Ryeowook berbalik dengan cepat. Ternganga.
"Apa?"
"Aku bilang aku menikmati rumahku yang sekarang." Kibum nyengir.
"Kau bercanda." Suara Ryeowook nyaris tidak terdengar.
Kibum menggeleng. Membuka tangannya lebar-lebar, dan berkata, "Aku pulang, Ryeowookie." Dia tersenyum.
Ryeowook terpaku di tempatnya. Setelah selama ini? Setelah semuanya yang terjadi? Kakaknya kembali? Pulang ke rumah?
Dia balas tersenyum, meskipun matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Bibirnya bergetar untuk mengucapkan satu kalimat pendek sebelum dia menghambur memeluk Kibum.
"Selamat datang, Kibum hyung!"
.
.
.
"Bagaimana kalau menghias pohon natal?"
"Aku sudah tidak menyimpannya."
"Menggantung hiasan holy?"
"Sudah kubuang."
"Lompat saja kalau begitu. Acara buka hadiah?"
"Demi Tuhan, Kibum hyung! Kenapa ajakanmu seolah-olah kau punya adik yang masih balita sih?" Ryeowook memelototi kakaknya dengan jengah.
Natal pagi ini sudah dimulai dengan perdebatan tidak penting di antara keduanya.
"Aku hanya mengikuti rutinitas seperti orang lainnya di hari natal." Kibum menghela napas. "Salah?"
"Lupakan saja." Ryeowook mendengus. "Tidak ada rutinitas macam itu di rumah ini selama bertahun-tahun. Aku tidak mau melakukannya."
"Kau tidak mau hidup normal."
"Tidak."
Kibum mengacuhkannya, menyodorkan sebuah kotak besar ke arah Ryeowook.
"Aku. Tidak. Mau." Ryeowook menjauh. Menyerahkan lagi kotak itu pada Kibum.
Kibum menggeleng. "Ayolah, hanya satu."
Ryeowook diam.
"Satu saja, oke? Anggap saja pemberian biasa jika kau tidak suka kado natal." Bujuk dokter bermarga Kim itu.
Ryeowook menatap kotak di depannya ogah-ogahan. Seperti menatap sesuatu yang bukan seleranya, atau bahkan membuatnya mual.
"Bukalah," suruh Kibum dengan lembut. Dia menatap Ryeowook sungguh-sungguh.
Diam-diam dia merindukan saat-saat seperti ini bersama adiknya.
.
"Kibum hyung," namja kecil itu merengut. "Hanya hyung saja yang tidak memberiku hadiah natal."
"Kau sudah besar, Ryeowook." Kibum beralasan.
"Aku masih kecil." Mata Ryeowook memerah.
Dia memang baru berusia sembilan tahun, bagaimana Kibum bisa mengatakannya sudah besar?
"Kau cengeng sekali." Kibum mengejeknya.
Mata Ryeowook makin memerah sekarang. Sebagai anak bungsu dalam keluarga, dia biasa dimanja. Oleh Heechul maupun orang tuanya. Tapi Kibum tidak, kakaknya itu lebih suka bersikap cuek padanya.
"Oke, oke! Ini!" Kibum mengambil sebuah kotak besar dari bawah meja belajarnya sebelum suara cempreng Ryeowook berkumandang di kamarnya sebagai isak tangis.
"Diam dan jangan menangis jika tidak ingin hadiahmu kubatalkan!"
Dengan senyum cerah Ryeowook kecil mengangguk, menghapus airmatanya yang tadi hampir turun. Lalu mengambil hadiahnya. Membuka kotaknya dengan tak sabaran.
Sebuah boneka. Boneka jerapah besar berada di dalam kotak itu, dan sebuah kartu tersampir di telinganya.
'My name is 키키~'
Mata Ryeowook mengerjap lucu mendapati hadiahnya.
"Kiki?" Ryeowook menatap penasaran pada Kibum sambil menggumam pelan.
Kibum mengangguk. "Jaga dia baik-baik, arraseo?" Dia mengacak rambut Ryeowook sambil tersenyum.
"Nde!" Suara Ryeowook terdengar nyaring. "Aku akan menjaganya dengan baik!"
.
"Ki... ki?"
Kibum kembali dari lamunannya, menatap pada wajah Ryeowook yang memandang kosong pada boneka jerapah besar di tangannya.
"Kupikir... aku harus menyelamatkan yang satu ini. Kau sangat menyayangi Kiki. Tapi sayang boneka itu terbakar." Jelas Kibum.
Pandangan Ryeowook menggelap selama beberapa saat, tersaput kabut kesedihan.
"Ya,"
Dia hanya mampu merespon pelan.
"Kau tidak menyukainya?" Tanya Kibum khawatir.
Ryeowook menggeleng. "Aku hanya kecewa."
"Kecewa?"
Ryeowook mengangkat wajahnya, menatap kakaknya dengan senyum pahit.
"Aku tak pernah bisa menyelamatkan apapun yang kusayangi."
Suara Ryeowook bergetar. Antara rasa sesak dan airmata yang ingin segera dia tumpahkan.
"Aku tahu."
"Kau tidak tahu, hyung."
"Aku minta maaf."
Secara tiba-tiba, Ryeowook memeluk Kibum. Membuat Kibum tersentak kaget.
"Tidak. Kau tidak harus minta maaf, hyung." Ujar Ryeowook pelan dalam pelukannya. "Dan terima kasih untuk hadiahnya."
Kibum terenyuh. Dia membalas pelukan Ryeowook, memgelus dengan hati-hati kepala Ryeowook.
"Ne, cheonmaneyo. Selamat natal, Ryeowook."
Ryeowook mengumpulkan suaranya, berbisik pelan,
"Selamat natal juga, hyung."
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Yesung tahu, jika pada hari natal beberapa suster pasti mengambil ijin untuk libur. Mereka punya kegiatan sendiri-sendiri pada hari itu, sementara sisanya tetap bertugas untuk melayani pasien. Tapi Yesung tidak menyangka jika Qian juga ikut mengambil libur di hari ini. Dan demi apapun itu membuatnya sebal. Bukan berarti dia egois dengan tidak membiarkan orang lain bersantai pada hari natal, tapi itu otomatis membuatnya sendirian terkurung di kamar rumah sakit ini.
Dalam hati Yesung menggerutu panjang lebar dan berjanji akan mengatakan hal ini pada Qian jika perawat manis itu sudah kembali masuk dan merawatnya.
Cklek!
Namja dengan suara merdu itu menoleh ketika mendengar pintu kamarnya dibuka. Berharap itu adiknya, Kim Yoona yang sudah disuruhnya untuk datang secepat mungkin kemari dan bukannya suster lain yang akan merewelinya dengan jenis-jenis obat.
Tapi, tidak. Nyatanya, yang muncul dari pintu pucat itu adalah seorang namja berparas manis yang tersenyum kecil padanya.
"Mau keluar bersamaku?"
.
.
.
Mungkin Yesung memang bosan, tapi setidaknya ada banyak hal lain yang bisa dilakukan olehnya selain berjalan-jalan dengan kruk di taman rumah sakit yang suram ini!
Yesung menggertakkan giginya dengan kesal.
"Aku tahu kau tidak suka berada di sini." Ujar Ryeowook, dengan nada datar.
Dia duduk sambil memandang pohon di depannya, ekspresinya tak terbaca.
"Kau... " Yesung mengambil napas, mencoba sadar. "Bisa tidak bersikap baik pada orang sakit? Kau menemaniku dalam diam di tempat sedingin ini. Aku bisa membeku!"
Ryeowook menghela napas. "Tidak, kau belum membeku di sini."
"Kau mencoba melakukannya?" tanya Yesung sinis.
Ryeowook menggeleng pelan.
Yesung mendengus keras, emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia berdiri dari tempatnya, mencengkeram kruknya erat.
"Kau sama sekali tidak sabaran." Ryeowook berucap lelah. "Duduklah,"
Yesung merasa malas sekali menuruti kata-kata namja itu. Maka Ryeowook memandangnya dengan sorot memohon, seolah mengucapkan kata 'please?' dari tatapan itu. Dia duduk kembali dengan tak rela.
"Aku mau bicara sesuatu."
"Bicarakan saja. Dan cepat. Aku kedinginan." Yesung melempar tatapannya pada kakinya.
Ryeowook tertawa parau. "Sama sepertimu, sebenarnya aku juga tidak sabaran. Itu sebabnya aku mengajakmu kesini."
Yesung mendongakkan kepalanya. Menatap heran pada Ryeowook. "Maksudmu?"
"Aku mau bertanya sedikit."
"Ya?"
"Apa yang akan kau lakukan jika... kau mencintai seorang idiot yang sama sekali tidak akan sadar jika kau mencintainya?"
Dahi Yesung mengerut. Perumpamaan macam apa yang diselipkan di pertanyaan itu?
"Kupikir aku tidak akan memcintai orang seperti itu." Jawabnya acuh.
Ryeowook menghembuskan napasnya tak sabaran. "Ini 'jika', jadi kau bayangkan saja."
"Itu sulit." Yesung protes. "Tapi mungkin jika aku terlanjur mencintainya... " Dia tercekat. "Aku memilih untuk tinggal dan terus bertahan dengan keadaan itu. Aku pikir dia pasti akhirnya sadar dengan perasaanku. Kemungkinan itu pasti ada."
"Dan apa yang kau butuhkan untuk itu?" Ryeowook bertanya lagi.
"Kesabaran." Yesung mengangguk pasti. "Dan cinta."
Ryeowook menunduk. Selama beberapa saat, dia membiarkan keadaan hening melanda keduanya. Sama sekali tidak berkata apapun lagi.
Yesung yang memang sudah malas di tempat itu memilih untuk berdiri lagi. Bermaksud pergi.
"Sudah kan? Aku mau pergi."
Terlambat, baru saja Yesung membalikkan tubuhnya, Ryeowook sudah menahan tangannya lebih dahulu.
"Bagaimana jika aku bilang aku tak punya kesabaran itu?"
Wajah Ryeowook tampak putus asa, nyaris menangis.
"Kau... " Suara Yesung terdengar amat lirih. "Kau punya pilihan untuk meninggalkannya kan?"
Ryeowook menggeleng keras. "Aku sudah terlanjur mencintainya." Ujarnya dengan suara bergetar. "Aku akan hancur jika aku pergi."
Yesung terdiam. Cengkeraman Ryeowook di tangannya yang sehat terasa makin kuat.
"Kau sangat mencintainya kalau begitu?"
"Aku tidak tahu." Ryeowook tersenyum kecut. "Tapi aku tidak mau kehilangannya."
Lagi-lagi hening. Yesung maupun Ryeowook sejenak berkutat dengan pikiran masing-masing.
"Tanganmu dingin." Ujar Ryeowook tiba-tiba. Membuat Yesung agak terlonjak.
Namja manis itu menyusul Yesung, berdiri dan berhadapan dengannya.
"Maaf, aku membuatmu kedinginan."
Ryeowook tersenyum kecil. Tangannya mengelus pipi Yesung dengan gerakan ragu, namun sentuhannya begitu lembut.
"Aku bertanya-tanya apa yang harus kubawa kesini sebagai hadiah natal, dan aku tidak mendapat satupun ide."
"Kau-hmmphh... "
Kata-kata Yesung terpotong begitu saja saat Ryeowook dengan gerakan yang sangat mendadak menciumnya. Tepat di bibirnya. Mata Yesung membuat sempurna. Menatap wajah Ryeowook dalam jarak yang amat dekat dengannya.
Bibir Ryeowook melumat bibirnya dengan lembut. Memberikan friksi nyata yang begitu panas di dalam dirinya. Tanpa terasa Yesung membalas ciuman itu. Melumat balik bibir tipis yang tadinya terasa amat dingin.
Ciuman itu terhenti dengan sendirinya saat Yesung merasakan jika wajah Ryeowook basah oleh cairan hangat yang ternyata mengalir dari karamelnya. Matanya terbelalak.
"Ada apa?" Tanyanya panik.
Ryeowook hanya menggeleng, menggigit bibirnya kuat.
"Mianhae... aku salah... " Lirih Ryeowook.
"Salah?"
"Katakan padaku... " Ryeowook mengabaikan pertanyaan dari Yesung. "Apa yang kau rasakan sekarang?"
Yesung awalnya diam, tidak menjawab pertanyaan itu. Kemudian akhirnya bibirnya bergerak, menyuarakan sebuah jawaban.
"Nothing. Aku tak bisa merasakan apapun."
Ryeowook tersenyum pahit.
Sesulit inikah?
Dalam satu kali gerakan Ryeowook sudah bergerak lagi untuk mencium Yesung. Kali ini sarat dengan perasaan frustasi dan terasa amat mendesak. Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan namja itu dalam ciumannya. Yesung, yang meskipun kewalahan dengan tingkah Ryeowook, tetap membalas ciuman itu, berusaha mengimbangi keagresifan Ryeowook. Sekaligus berusaha menopang tubuhnya agar tetap tegak dengan kruk.
Deru napas keduanya terdengar sama-sama memburu ketika ciuman itu dilepaskan. Wajah Yesung jelas memerah, begitu juga Ryeowook. Hanya saja bulir-bulir airmata tidak mau berhenti membasahi wajah Ryeowook yang manis.
Deg!
Yesung merasa bersalah dengan sendirinya saat melihat Ryeowook menangis. Kepedihan itu terlihat jelas di karamel Ryeowook yang saat ini bercahaya redup. Dadanya berdenyut menyakitkan menyaksikannya. Tanpa bisa dicegah, tangannya terangkat untuk menghapus airmata Ryeowook, yang tanpa diduga malah ditepis oleh namja itu. Dia berjengit kaget.
"Kau tidak merasakan apapun?" Tanya Ryeowook, nadanya mencibir.
Yesung memasang wajah datar kali ini, tidak ingin menunjukkan emosi apapun.
"Kau... kau benar-benar tidak mengingatku? Sedikitpun? Bahkan tak merasakan apapun padaku?" Ryeowook bertanya lagi, kali ini suaranya lebih keras.
Sama saja, Yesung tetap tidak merespon.
"KATAKAN KALAU KAU INGIN AKU PERGI SEKARANG JUGA! SEBELUM AKU KEMBALI HANCUR UNTUK KESEKIAN KALINYA. TIDAKKAH KAU TAHU AKU TERLANJUR JATUH CINTA PADAMU?!"
Ryeowook mengelap airmatanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Napasnya terengah setelah dia berteriak sekencang itu. Tak peduli sama sekali jika ada orang lain yang mendengar suaranya. Tangisnya makin mengeras.
"Aku... aku tidak tahu... aku tidak mengerti... harus membuatmu ingat... ingat padaku... aku sudah mencobanya... tapi aku tidak berhasil... aku... aku ingin menyerah..."
Gumaman Ryeowook terdengar acak dan tidak karuan. Namja itu menunduk, poninya menutupi pandangan Yesung padanya.
Yesung yang sedari tadi hanya memperhatikan dengan shock, mulai bergerak perlahan ke arah Ryeowook. Memeluk namja itu dengan satu tangan. Merengkuhnya dengan lembut, dan penuh kehati-hatian. Seolah Ryeowook bisa pecah berkeping jika Yesung salah menyentuhnya. Ryeowook tidak menolaknya, sama sekali tidak mendorong Yesung untuk menjauh. Dan Yesung, dengan berdebar, berbisik,
"Kim Ryeowook... dengarkan aku... "
.
.
.
[ T . B . C ]
.
.
.
Dua bulan kurang ya? ;; *dibunuh reader*
MAAFFFFF BANGET!
Rin kalo hari biasa sibuk, dan kemaren itu baru aja namatin drabble, jadinya lanjutan ff ini sempet mandek pas di 2k word ;; ngga tega dong Rin update cuma 2k words padahal ini ff lamanya minta ampun kalo update
Makanya Rin coba panjangin lagi.
Tuh Rin baik loh! Pas ff ini comeback, YeWook udah kissing X')) *plak*
Kali ini lagi ngga bisa balas review~ so sorry :((
Tapi Rin sangat berterima kasih sama all reader yang setia sama ff ini. Rin harap kalian ngga bosen sama ceritanya. *hug satu satu*
Oh ya buat yang nanya... Song Qian itu nama aslinya Victoria F(x) ya... Bukan member SNSD -.-
Thanks juga buat 'ririn chubby' buat koreksi namanya :))) kamu satu-satunya yang memperhatiakn detail itu. Aku kayaknya lagi linglung pas ngetik *loh*
Yaudah ngga banyak cuap-cuap deh ya~
So, mind to gimme your review? ^^
.
.
.
