NARUTO BUKAN MILIK SAYA
...
...
Momoka duduk termenung di depan meja riasnya. Di cermin dapat terlihat wajahnya yang cantik sedang menatap telepon genggamnya dengan tatapan kosong. Sesekali ia akan menggigiti bibir bagian bawahnya dan lengannya sedari tadi terus memainkan telepon genggam yang ada di genggamannya.
Kini pandangan Momoka beralih pada cermin yang ada di hadapannya. Ia dapat melihat sosok Hiashi, Kekasihnya, yang sedang tertidur lelap. Setelah melakukan hal itu selama beberapa saat, akhirnya Momoka membulatkan keputusannya. Ia beranjak dari tempat ia duduk dan ia tak lupa membawa kunci mobilnya, lalu ia berjalan keluar kamar sembari menelpon seseorang.
"Hey..." Sapa Momoka dengan akrab. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya yang dipenuhi oleh make-up. "Ini aku."
Hiashi terbangun dari tidurnya ketika ia tidak mendapati Momoka di sampingnya. Perlahan ia membuka matanya yang masih lekat dengan rasa kantuk dan beranjak duduk di tempat tidurnya. Ia muai mencari keberadaan Momoka di ruang timur mereka, namun ia tidak mendapati sosok wanita pujaan hatinya itu di dalam kamar mereka.
Kini ia beranjak dari tempat tidur dan mulai berjalan menuju toilet dan mengetuk pintu toilet sembari meneriakkan nama wanita itu.
"Momoka? Apa kau di dalam?" Tanya Hiashi dengan lembut dengan suaranya yang sedikit serak yang masih diselimuti oleh kantuk. Namun, tidak ada juga jawaban yang ia dpatkan dari sang pujaan hatinya itu, hingga mulai membuatnya khawatir.
Namun, tak lama kemudian Hiashi mendengar suara mobil yang pergi meninggalkan rumahnya. Dalam seketika ia tengah berada di jendela kamarnya dan ia menyaksikan mobil Momoka pergi meninggalkan rumah. Hatinya terkejut. Ia tidak mengerti, kenapa wanita itu pergi di tengah malam seperti ini dan tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Pikiran Hiashi seolah berlari seribu kilo perdetik. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang muncul di benaknya. Dan kahirnya tanpa pikir panjang lagi, ia mengambil mantel dan kunci mobilnya lalu bergegas pergi meninggalkan kamarnya, bermaksud untuk membuntuti Momoka.
Dengan tergesa-gesa ia menuruni tangga, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara putrinya.
"Ayah?" Suara kantuk anaknya terdengar. "Apa yang sedang Ayah di tengah malam seperti ini?"
"Kembalilah tidur. Ayah harus pergi menyusul Ibumu." Tegas Hiashi sembari mengenakan mantelnya tergesa-gesa.
"Menyusul Ibu? Apa maksud Ayah?" tanya Hanabi menghampiri Ayahnya yang sedang setengah berlari menuju ke luar rumah. "Tunggu Ayah! Aku ikut!"
"Cepat naiklah." Sahut Ayahnya sembari masuk ke dalam mobilnya. Gadis kecil itu langsung mengambil tempat di kursi penumpang sebelah Ayahnya.
Hiashi langsung memarkirkan mobilnya dengan cepat dan bergegas pergi dengan harapan bisa mengejar mobil Momoka.
Momoka sampai di tempat tujuannya.
Dengan sebuah senyuman menggoda ia turun dari mobilnya setelah ia memarkirkannya terlebih dahulu. Ia menanggalkan mantelnya dan menampilkan sebuah busana mewah yang sangat seksi yang menampilkan setiap lekuk tubuhnya yang indah. Ia berjalan bak lah seorang model yang sedang berlenggak-lenggok di cat walk.
Namun, yang tidak ia sadari adalah kehadiran Kekasihnya yang sedari tadi tengah membuntutinya.
Setelah ia masuk, gemerlap lampu disko menyilaukan matanya, namun ia tidak memiliki kesulitan untuk menyesuaikan diri pada lingkungan Club yang bising dan segala kegemerlapannya. Tak dibutuhkan waktu lama untuk menemukan tujuannya.
Senyuman Momoka bertambah lebar ketika ia melihat pria tua berambut putih yang ingin ia temui berada tak jauh dari tempatnya berada. Lelaki itu sedang ditemani oleh banyaki wanita-wanita muda yang cantik, namun hal itu tidak membuatnya gentar ataupun minder.
Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia melangkahkan kakinya menuju lelaki itu.
Kedatangan Momoka tidak membuat kaget lelaki tua itu. Sebaliknya, lelaki itu menyambut kedatangan Momoka dengan sebuah senyuman. "It's about time." Ucap lelaki itu saat melihat kedatangan Momoka.
Melihat kedatangan Momoka, para gadis muda itu langsung berhamburan pergi meninggalkan lelaki itu.
"Kau menakuti mereka, kau tahu?" ujar lelaki tua itu pada Momoka sembari meminum minuman yang ada di gelasnya. "Kau mau?" tawarnya menyodorkan sebuah botol minuman padanya.
Momoka duduk tepat disamping lelaki itu dan menatapnya langsung di mata. "Kau tahu? Apa yang ku mau?" Momoka lebih mendekatkan wajahnya pada lelaki itu.
"Katakanlah." Ucap lelaki itu sembari menahan dagu Momoka dengan jari telunjuknya.
"Kau."
Itu menjadi hal terakhir yang mereka bicarakan sebelum akhirnya mereka saling bercumbu.
Jalanan di kota itu cukup padat pada malam hari, namun itu semua tidak menjadi alasan bagi Hiashi untuk tidak menemukan Momoka. Dengan hati-hati ia membuntuti mobil wanita itu. Hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh Wanita yang ia cintai itu? Kenapa dia tidak meminta izin darinya untuk ke luar malam, apalagi selarut ini? Sebenarnya apa yang ingin ia sembuntikan?
Batinnya terus menerka dan menerka, tapi, apa yang ia lihat selanjutnya lebih membuatnya syok karena ia mendapati Momoka berhenti di depan sebuah Club Malam terbesar di kota itu. Tapi, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan jnatungnya yang terasa berhenti berdetak ketika ia menyaksikan wanita yang iacintai melepaskan mantel kulitnya dan menampilkan sebuah tubuh seksi dengan baju yang sangat seksi yang bahkan hampir tidak bisa menutupi payudaranya.
"Ayah... bukankah itu Ibu?" tanya putrinya tak kalah terkejut. "Apa yang sedang Ibu lakukan di sana, Ayah?"
"Kau... tunggu di sini dan jangan ke mana-mana." Hiashi mulai melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun dari mobilnya, namun putrinya menahannya.
"Ayah... Mau pergi ke mana?"
Hiashi dnegan lembut melepaskan pegangan tangan putrinya dari mantel yang ia kenakan. Tak lupa sebuah senyuman di wajahnya. Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Tenanglah. Ayah tidak akan lama. Ayah hanya akan membawa Ibumu pulang. Jadi, kau jangan pergi ke mana-mana dan tetaplah di sini."
Hanabi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan.
Hiashi memberikan sebuah senyuman kecil pada putrinya dan lalu pergi meninggalkannya di dalam mobil. Ia setengah berlari memasuki Club Malam itu. Setelah sampai di dalam, Hiashi mengalami kesulitan untuk menyesuaikan pandangan matanya dengan berbagai macam cahaya dengan berbagai macam warna yang menyilaukan yang menyinari tempat itu.
Didapatinya banyak orang yang sedang menari-nari di tengah tempat itu. Hiashi mengerutkan dahinya. Namun, seketika pikiran tentang Momoka hinggap di benaknya dan ia pun akhirnya mengingat alasannya datang ke tempat seperti ini. Ia datang untuk membawa Momoka kembali ke rumah mereka.
Mata Hyuuga yang tajam itu mencari ke setiap sudut tempat itu untuk menemukan Momoka, namun apa yang dapatkan adalah sesosok wanita yang ia cintai sedang bercumb u dengan seorang lelaki tua.
Hiashi secara refleks memegangi bagian dadanya tepat di mana jantungnya berada. Ia menelan ludah beberapa kali dan akhirnya ia melangkah menuju Momoka dan langsung menarik wanita itu dengan paksa hingga dia harus berpisah dari lelaki tua yang sedang bermesraan bersamanya.
Momoka yang terkejut dengan aksi seseorang yang menariknya dengan kasar dan paksa itu, menolehkan kepalanya dan hendak memarahi orang yang kurang ajar itu, namun, semua perkataan yang hendak ia lontarkan mati tepat di ujung lidahnya.
Mulutnya yang terbuka untuk memaki kini menjadi semakin lebar karena tertegun melihat sosok Hiashi di hadapannya.
"Hiashi?" Gumam lelaki tua itu. "Jadi gossip tentangmu dan Presdir Hyuuga itu benar, eh?" lalu dia hanya menyusut sela bibirnya dengan ibu jarinya dan mengambil segelas minuman yang ada di mejanya. Tanpa ragu dan dengan santainya, lelaki tua itu meminum larutan yang ada di gelasnya.
"H-Hi-Hiashi..." Momoka menelan ludah beberapa kali. "A-apa yang sedang kau lakukan di... di sini!?"
"Tutup mulutmu dan ikut denganku." Perintah Hiashi pada Momoka sebelum akhirnya ia menyeret paksa Momoka keluar dari Clum Malam itu.
Momoka berusaha melepaskan diri dari cengkraman Hiashi yang kuat pada lengannya yang kini mulai menimbulkan bekas dan terasa sakit, namun Hiashi enggan melepaskannya dan malah menambah kuat cengkramannya. Dan dengan paksa ia mendorong Momoka ke dalam mobilnya dan ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan miobilnya dengan kecepatan tinggi kembali menuju tempatnya tinggal sekarang.
"Apa maksud dari semua ini Hiashi?! Kau menyakitiku!" teriak Momoka pada Hiashi yang sedang mengemudi. Salah satu tangannya memegangi bekas cengkraman Hiashi yang kini memebekas biru di pergelangan tangannya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang sedang kau lakukan bersama Si Tua Jiraya!" balas Hiashi tak kalah emosi.
"Apa yang ku lakukan, itu bukan urusanmu!" sahut Momoka sembari memalingkan wajahnya dari Hiashi dan memilih unutk melihat ke samping.
Tangan Hiashi dengan kasarnya mencengkram dagu Momoka dan membuatnya berpaling ke arahnya. "Jaga bicaramu ketika kau berbicara padaku!" tegas Hiashi lalu ia melepaskan cengkramannya dari wajah Momoka.
"Ah!" Momoka berteriak dengan keras. "Aku sudah muak dengan semua ini! Sudah cukup aku bersabar selama ini! Ketika kau hanya bisa datang padaku saat malam hari dan aku harus bersikap seolah kita tidak saling mengenal keesokan harinya di hadapan Yuriko!"
Momoka berbalik dan memandangi Hiashi yang fokus mengemudi.
"Dan sekarang?! Ketika aku kira aku akan menjadi Nyonya Hyuuga; istrimu yang syah, kau dan keluarga Hyuuga bahkan tidak pernah mengakui keberadaanku dan kini aku harus tinggal di kota kecil seperti ini! Dan aku juga Hanabi harus menerima penghinaan dari kedua anakmu itu! Sudah cukup! Aku." Momoma menunjuk ke dadanya sendiri. "Muak. Dengan. Mu!" tegasnya dengan setiap penekanan di setiap kata yang ia ucapkan dan ia tak lupa untuk menunjuk ke arah Hiashi.
Hiashi yang kini khalaf, akhirnya memalingkan wajahnya untuk bertatap muka dengan wanita yang duduk di sampingnya. "Kau! Apa maksud dari perkataanmu!"
"Kau tidak mengerti?" Momoka mendesis. "Aku bilang, aku sudah muak denganmu! Aku muak hanya berdiam diri di rumah dan mengurusi lelaki tua yang berpenyakitan sepertimu! Aku sudah cukup bersabar, Hiashi. Namun, kesabaranku juga ada batasnya!"
"Jadi kau lebih memilih untuk bersama lelaki tua tadi. Iya?!" bentak Hiashi sembari salah satu lengannya mencengkram wajah cantik Momoka.
Momoka menepis lengan Hiashi dan ia berhasil melepaskan cengkraman Hiashi dari wajahnya. "Kenapa tidak? Dia masih segar dan bisa memberikan semua yang ku mau yang tidak pernah kudapatkan darimu." Jawab Momoka. "Dia bisa memberiku career, uang dan... kepuasan."
Mendengar jawaban dari Momoka, membuat Hiashi kehilangan kendali. Jantungnya mulai terasa sangat sakit dan dadanya sesak. Dalam seketika salah satu lengannya beralih meremas bagian dadanya. Bibirnya terbungkam menahan rasa sakit.
"K-kau..." ujar Hiashi dengan giginya yang saling beradu menahan rasa sakit yang semakin menjadi. "K-kau ternyata—"
"AYAH! AWAS!"
Suara jeritan Hanabi dapat terdengar setelah sekian lama ia membungkam mulut dan hanya menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya dari kursi belakang, dan suaranya itu adalah hal terakhir yang Hiashi dengar sebelum akhirnya setiap hal yang terjadi seolah seperti dalam slow motion. Ketika Hiashi melihat ke arah samping, itu sudah terlambat karena sebuah mobil Kontener Gandengan sedang menuju ke arahnya. Walaupun Hiashi berusaha menghindari tambrakan antara keduanya, namun, hal itu sudah tidak terelakkan lagi.
Mobil itu menabrak bagian samping Mobil Hiashi dan setelah itu, ia tidak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba Dunianya menjadi gelap.
Dalam gelapnya, tiba-tiba bermunculan wajah-wajah yang tidak asing lagi baginya. ia melihat mantan istrinya, Yuriko yang sedang tersenyum hangat padanya dan di pangkuannya terdapat Hinata kecil yang sedang tertidur pulas, lalu datang Neji kecil yang berlari menuju Yuriko dengan sebuah senyuman kecil di wajah tampannya yang lucu dengan setangkai bunga matahari di genggaman tangan mungilnya yang ia berikan kepada Ibunya. Mereka terlihat sangat bahagia.
Namun, tiba-tiba semua itu hilang. Senyuman bahagia yang terpancar dari mereka menghilang begitu saja. Senyuman hangat di wajah Yuriko berganti menjadi butiran-butiran air mata yang membanjiri kedua belah pipinya, lalu muncul sosok Hinata dewasa yang menangis dan memohonnya untuk tetap tinggal di sisinya dan sosok Neji dewasa hadir dan merangkul Hinata dalam peluknya namun tatapan mata Neji menatap Hiashi dengan penuh kebencian.
Kala itu, untuk yang pertama kalinya, Hiashi merasakan penyesalan dalam hidupnya, tepat sesaat sebelum ia benar-benar tidak bisa merasakan ataupun melihat apapun lagi. Tepat sesaat sebelum dunianya gelap.
To be Continue...
