Baekhyun adalah orang yang paling bingung disini. Ia memikirkan banyak sekali teori bahkan sampai dengan kemungkinan-kemungkinan aneh yang mungkin menimpa Luhan. Ia mencoba mengingat banyak hal yang bisa diraih oleh ingatannya yang bisa dikatakan baik. Ada banyak yang muncul dan semuanya aneh. Luhan berubah. Hanya itu yang bisa ia simpulkan dan ia tak bisa menjelaskan pada bagian mana gadis itu berubah.

Ini sudah seminggu semenjak ia bertemu dengan Kris. Seminggu juga kakak dari kekasihnya itu tidak menghubungi. Terakhir yang Baekhyun tahu adalah Kris berjanji akan menghubunginya dan pria itu mengingkarinya— belum sempat mungkin, atau apapun.

Baekhyun mendesah. Ia memikirkan Kris yang bersikap aneh pula seminggu yang lalu. Pria itu seperti menutupi kenyataan bahwa Luhan sedikit sakit jiwa. Nafas panjang lolos dari dada Baekhyun, ia tak percaya bahwa baru saja ia menyebut Luhan sebagai orang tak waras. Tapi memang benar seperti itu, ia yakin.

.

.

Dalam urusan ini Kris yakin ia tak akan melibatkan Chanyeol dan Baekhyun. Ia akan menyelidiki semuanya sendiri. Ia sudah berbicara banyak dengan Kim Jongin. Lelaki itu menceritakan semua yang terjadi di Milan dan Kris menyimpulkan bahwa apa yang terjadi pada Luhan tidak berhubungan dengan kejadian di Milan. Ini berbeda, sangat berbeda.

Ia terus berfikir keras dan membuka kembali smartphone-nya, pada foto-foto yang ia ambil di apartemen Luhan, matanya meneliti tiap sudut ruangan yang ada disana. Meneliti satu per satu sudut yang mungkin ia lewatkan. Ia mendesah tertahan sambil menutup matanya dingin. Tangan kanannya mengangkat gagang telepon dan menekan speed dial 2.

"Nona Min, bisa kau cetakkan foto yang kukirimkan kepadamu? Ya, usahakan foto itu tercetak jelas. Hm, masing-masing dua. Antarkan padaku secepatnya."

Ia mendesah lagi dan mengurut keningnya. Perusahaan dalam keadaan baik akhir-akhir ini jadi ia merasa bersyukur karena bisa fokus pada masalah 'pribadinya'. Tapi apakah ini masalahnya? Seberapa berarti Luhan baginya? Kris sekali lagi menggeleng kuat, ia tak ingin memikirkan hal tak penting lainnya, ia hanya ingin membantu Luhan. Tapi Kris tak biasa membantu orang. Atau mungkin Luhan masih sangat berharga baginya.

Kris sedang mengatur level steam di mesin espresonya saat pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Kakinya yang panjang berjalan cepat pada pintu yang terkunci. Ia tak terbiasa mengunci pintu tapi beberapa hari ini ia tak ingin seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu— Chanyeol yang sering bertingkah begitu— dan Kris tidak sedang dalam mood yang baik untuk berbincang dengan adiknya itu.

"Nona Min, kau membawanya?"

Orang yang dipanggilnya Nona Min itu tersentak kaget. Kris tak terlalu yakin apa yang membuat wanita muda itu tersentak namun ia yakin bahwa alasannya adalah Kris.

"Seperti apa yang anda minta," wanita itu masih berdiri dibelakang pintu. Biasanya Kris akan berteriak 'silahkan masuk' dari balik meja kerjanya namun sekarang bossnya sedang berdiri mengintip dari dalam ruangan dan membiarkannya berdiri bodoh diluar ruangan.

"Terima kasih dan anda boleh pergi," lalu Kris menutup pintu.

Ia kembali ke kursinya dan menjajar empat foto diatas meja. Ia memandang semuanya dalam diam. sekian detik kemudian ia melemas frustasi.

Tangannya kembali memegang gagang telepon dan menekan angka dua. "Nona Min, datanglah ke ruanganku." Setelahnya ia menutup telepon dan langsung berdiri kearah pintu. Tangan panjangnya meraih knop pintu dan memutar kuncinya.

"Tuhan! Anda mengagetkanku!" Nona Min terperanjat dibalik pintu bersamaan dengan Kris membukanya. Wanita tak terlalu tinggi itu mundur dua langkah dengan cepat— insting manusia untuk melindungi diri.

"Maafkan aku, aku sengaja," Kris membuka pintu lebar-lebar. "Masuklah, Nona Min." Kris berjalan cepat lagi pada kursinya. Tangan kirinya tertinggal membentang dibelakang seolah menggiring Nona Min untuk berjalan lebih cepat. "Kemarilah."

Nona Min mendekat dengan hati-hati. Ia melihat pada empat foto yang seingatnya adalah foto yang ia cetak tadi. Keningnya berkerut bertanya-tanya.

"Nona Min, apa yang kau lihat dari gambar ini?"

"Hm?" Nona Min memandang Kris dengan cepat kemudian menunduk kembali setelah mendapatkan pandangan serius dari bossnya. "Hm, saya tidak yakin..."

"Ceritakan secara detail."

"Itu sebuah ruangan berantakan dan berdebu. Disana ada sebuah televisi menyala," Nona Min mendeskripsikan.

"Dapur ini..." ia menunjuknya dan menatap Kris. Kris mengangguk pelan sebagai pertanda bahwa Nona Min bisa melanjutkan ceritanya. "Dapur ini lama tak dipakai dan ada banyak bungkus makanan disana. Ah, ada seorang pria berdiri memandang kamera."

Telinga Kris meradang. Jantungnya berdetup kencang. Dan matanya menyipit sangsi. "Siapa? Pria?"

"Pria ini. Apa dia model?" Nona Min menunjuk lagi pada sisi dalam kabinet.

"Dimana, Nona Min, tepatnya. Tunjukkan. Ini... tandai dengan ini. Dimana dia berdiri." Kris mengambil pena mahal disakunya dan memberikannya pada Nona Min.

"Ditandai?"

"Ya. Semacam... kau bisa mencoretnya atau semacamnya..." Kris mulai tak fokus.

Kris lama terdiam. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya lurus menatap pada lukisan abstrak di samping pintu. Sedang giginya menggigit kuku jempol kanan.

Apa yang Kris lihat, apa yang Baekhyun lihat, dan apa yang Nona Min lihat adalah hal yang berbeda. Bagaimana bisa? Apa ada hantu di apartemen itu atau kamera ponselnya yang rusak?

"Apa ada hal lain yang bisa kulakukan untuk anda?" Nona Min berkata pelan, takut-takut.

Kris hanya menggeleng tak bersemangat tanpa memalingkan wajah. "Kembalilah, Nona Min, terima kasih atas bantuan anda."

Ia tak bersemangat, masalah ini seperti berbelit-belit namun terus menguap menjelma menjadi hal lain yang semakin membesar. Kaki panjangnya berdiri berjalan melalui pintu ruangannya. Ia berjalan menelusuri lorong koridor dan berhenti pada ujung tangga kebanggaan ayahnya. Matanya menyapu pada segala hal dibawah sana. Pada poster-poster besar para artisnya— ada foto Luhan disana. Foto sekitar delapan bulan yang lalu dan belum diperbarui.

Kris mendesah. Ia berjalan menuruni tangga dan melangkah keluar. Mungkin udara segar akan membantunya berfikir jernih.

Berjalan sejauh satu kilometer mungkin, Kris tak yakin, kemudian ia berhenti pada kafe yang tak pernah ia kunjungi. Sekedar mencoba bukanlah ide yang buruk. "Satu amerikano," ia ingat ia belum makan sama sekali hari ini. "dan apakah kau punya sandwich?"

Pelayan kafe itu terlihat masih muda, mungkin seorang pelajar yang bekerja paruh waktu. Hal itu membuat Kris tersenyum, ia suka dengan pemuda yang bersemangat.

"Apa anda mau telur? Aku bisa memberikan ekstra untuk anda," pelayan itu tersenyum sopan.

"Apa itu tidak mencurangi managemen cafe?"

"Tidak. Ini jam dimana para orang sibuk sarapan," ia melirik jam dinding. Pukul 10:30 pagi. "Anda pasti tidak sempat sarapan. Bosku mengatakan ekstra telur untuk orang-orang seperti anda."

"Kebijakan yang aneh," Kris tertawa. Tawa pertamanya untuk hari ini. "Ini," ia menyerahkan selembar uang diatas meja. "aku duduk diseberang sana, antarkan pesananku."

"Aku akan mengantarkannya."

Bocah pria itu bersahabat dan Kris suka. Ia duduk di kursi tak jauh dari meja kasir. Tempat ini bernuansa cokelat muda dengan lampu kuning cerah yang menenangkan. Ada lampu neon biru yang terpasang disetiap dinding membuat rasa nyaman semakin mendalam. Pot-pot kaktus kecil dipasang di dinding dan itu terlihat manis.

Bicara tentang kaktus, Kris teringat akan Luhan. Gadis itu...

Tangan kirinya sontak mengambil ponselnya disaku. Ia membuka galeri foto dan memandangi foto yang sama seperti apa yang ia lihat selama ini. Bagaimana bisa ponsel mengambil foto yang sama namun menampakkan hasil yang berbeda disetiap mata. Sudah ada empat orang yang melihat foto itu dan ada tiga persepsi yang berbeda.

Kris mendesah.

"Sepertinya hari anda tak terlalu baik," suara bocah pelayan memecahkan lamunannya. "Americano dan sandwich dengan telur. Serta ini uang kembalian anda. Selamat menikmati."

Pelayan itu memutar tubuhnya dan hendak berlalu namun Kris menghentikannya.

"Hey!"

Bocah dengan seragam kafe berwarna cokelat muda seperti kopi susu itu mengangkat alisnya. Terlihat tampan.

"Kafemu sepi,"

"Ya, ini belum jam makan siang jadi tidak ada yang kesini untuk beristirahat atau sekedar minum kopi. Kenapa?"

"Duduklah. Temani aku," Kris menunjuk kursi didepannya dengan pandangan.

"Aku harus belajar. Aku ada ujian sore ini."

"Kau masih pelajar?"

"Tahun kedua di universitas."

"Sounds good. Kalau begitu pergilah."

Bocah itu berdiri sekian detik seperti menimbang sesuatu. "Baiklah, aku akan menemanimu sepuluh menit. Itu cukup, kan?"

Kris tersenyum. "Siapa namamu?"

"Kim Taehyung," bocah pelayan itu memperkenalkan diri.

Kris lagi tersenyum. Taehyung seperti memiliki kemampuan membakar kepenatan dan menimbulkan energi positif untuknya. Cara bocah ini tersenyum dan wajahnya seperti tak biasa dimiliki orang.

"Namaku Kris."

"Hai Kris. Salam kenal. Kau terlihat tak baik."

"Apa seperti itu? Aku sedang memiliki hal yang kubingungkan," Kris berbicara. Menarik bisa berbicara dengan bocah ini.

"Kau hanya perlu untuk menyelesaikannya. Mungkin sulit, kadang masalah orang-orang berjas sepertimu tak semudah masalah yang dihadapi oleh orang-orang sepertiku."

Kris mengangguk. "Taehyung, bisa aku minta sedikit bantuan?"

Taehyung sedikit mendelik. Ia meneliti wajah Kris yang seperti orang tak waras. Jangan-jangan Kris adalah gay. Ia mengeram ngeri.

"Tidak akan lama. Tidak akan menghabiskan waktu 10 menit yang kau berikan untukku," Kris menegaskan.

"Apa?"

Kris menyodorkan ponselnya. Ia membukanya dan membuka galeri. Telunjuknya mengetuk layar ponselnya dan itu membuat foto disana membesar. "Bisa kau deskripsikan foto ini. Apapun," Kris mengakhiri kalimatnya dengan mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia mempersiapkan diri jika saja Taehyung menemukan sesuatu yang aneh didalam foto itu.

"Boleh aku memegangnya?" Taehyung dengan hati-hati bertanya. Ponsel Kris adalah ponsel mahal— enam series setelah seri ponsel miliknya. Ia mengangkat ponsel itu setelah mendapatkan anggukan dari Kris.

Dan Kris memperhatikan Taehyung.

"Ini sebuah apartemen, bukan?" Taehyung memutar-mutar ponsel Kris dan sesekali jemarinya mengetuk Zoom-In Zoom-Out, "ini hanya seorang pria yang kau potret di apartemen yang tak berpenghuni. Iya kan?"

Pria. Taehyung melihat pria disana. Nona Min tidak mengarang. "Ada pria disana?" Kris mencoba mencari penjelasan lebih— penegasan lebih tepatnya.

Taehyung mengangguk. "Ya, dia memandangmu tanpa ekspresi. Maksudku memandang siapapun yang memotretnya. Apakah kau yang mengambil gambar ini?"

Kris mengangguk kemudian membenahi letak duduknya. Ada seorang lagi yang berbeda dengan pandangannya. Ia mendesah. "Bisa kau deskripsikan bagaimana pria itu?"

Pertanyaan Kris membuat Taehyung memandangnya dengan tatapan aneh. "Ia terlihat begini," tangan Taehyung membuat pola abstrak diudara dan itu tidak bisa ditangkap oleh bayangan Kris.

"Bagaimana?"

"Sebentar..." Taehyung berlari ke kabinet kafenya kemudian berdiri dan memandang ponsel Kris. "Begini," ia sedikit berteriak.

Taehyung berdiri disamping kabinet dan memandang Kris. Ia hanya berdiri tegak dan diam.

"Terlihat menakutkan," Kris menanggapi dengan teriakan pula.

"Kau tak bisa memandangnya? Apa ia hantu? Mengerikan. Tingginya hampir sama denganmu dan ia sangat tampan. Bagaimana bisa ada hantu setampan ini? Apa ia adikmu?"

Kris menggeleng. "Aku hanya tidak bisa melihatnya padahal aku sangat ingin."

"Sebentar."

Taehyung pergi dan kembali dengan membawa kertas dan pena.

"Kau bisa menggambar?"

"Aku suka menggambar. Aku bisa melukis, ya walaupun tak begitu baik namun aku lumayan. Beri aku waktu sepuluh menit."

Kris tersenyum tipis. Bahagia. Ia tak menyangka akan menemukan bocah seperti Taehyung yang akan membantunya.

"Kenapa? Kenapa kau berdiri dan tersenyum begitu?" Taehyung keheranan. Kris berdiri dan menatapnya aneh sembari tersenyum.

"Aku bahagia karena kau membantuku."

Waktu berlalu dengan lambat saat melihat tangan Taehyung bergerak lincah dan sesekali mengetuk layar ponsel Kris agar tidak meredup. Taehyung adalah pemuda yang tampan. Matanya besar dan berwarna cokelat tua. Dibingkai oleh alis dan bulu mata yang tebal. Hidungnya mancung dan bibirnya yang tipis membuatnya sangat memikat. Kris melihat ada potensi dalam bocah ini. Model mungkin atau aktor. Bahkan bisa juga idol. Mungkinkah?

Ia menatap pada Taehyung yang serius saat bocah itu menatapnya. "Berhenti menatapku, itu membuatku takut."

"Kau tampan."

"Apa kau gay?" Taehyung menatap Kris sarkas. "Ini, sudah selesai." Ia menyerahkan selembar kertas pada Kris. Ada gambar hitam putih disana. Semua sama seperti apa yang Kris lihat pada foto, bukan pada apa yang sebenarnya ia lihat, ruangan itu lebih modern dan banyak sampah, namun yang membedakan adalah seseorang di dapur yang menatapnya.

"Taehyung, bisakah kau menggambar dengan jelas rupa orang ini?"

Taehyung menatap Kris lelah. "Aku ada kuliah sore ini dan aku harus bekerja. Sebentar lagi jam makan siang."

"Please..."

"Kris, kau hanya perlu melihatnya diponselmu. Untuk apa aku menggambarnya untukmu?" Bocah itu berdiri dari duduknya dan berjalan pada kabinetnya yang hangat.

"Aku akan membayarmu!"

"Aku tidak membutuhkannya Kris. Pergilah..."

"Kau bisa memiliki ponselku..."

.

.

Kris duduk di bangku halte bus dengan gelisah. Ia berulang mengangkat tangan kirinya yang sedang membawa gulungan kertas berwarna putih untuk melihat jam. Bus nomor 309 tidak segera datang padahal ia sangat tergesa. Kantornya berjarak 20 menit berjalan jika ia mau namun itu terlalu lama. Ia ingin menghubungi supir kantor tapi ponselnya sudah menjadi milik Taehyung sekarang. Ia ingin bertemu dengan seseorang. Ia hampir putus asa dan ingin pulang ke kantornya untuk mengambil mobil tapi untung saja bus 309 datang.

Ia bergegas berdiri dengan gulungan kertas dan tangan lainnya yang menenteng jas hitam mahalnya. Ia ingin pergi ke suatu tempat.

Ia menaiki bus nomor 309 dan duduk di ujung belakang. Kepalanya menunduk memandang sepatunya yang berdebu. Ia ingin menghubungi Baekhyun tapi ia tak lagi mempunyai ponsel. Ia berharap gadis mungil itu sedang bersama kekasihnnya. Bus berhenti dan Kris mendesah sekali, matanya melihat keluar jendela. Ini halte pertama, dua halte lagi dan ia akan sampai.

Kris keluar dari bus dan bergegas keluar dari halte, menyeberang jalan dan memasuki area apartemen. Ia menaiki lift sebentar kemudian memencet password di sebuah kamar.

"Chanyeol, kau dirumah?"

Chanyeol sedang menonton tv saat ia mendengar bunyi bip pada pintunya pertanda ada seorang yang akan masuk. Ia mengira itu adalah Baekhyun yang berjanji akan datang. Namun ia kecewa karena ada seorang lain yang datang. Kakaknya.

"Hm, aku disini. Kenapa kau kemari?" ia menjawab tak bersemangat, "aku sedang mengambil cuti untuk tidak bekerja." Ia menambahkan— khawatir jika kakaknya datang untuk memintanya untuk kerja.

Kris tak menjawab, ia duduk disamping Chanyeol tanpa semangat— kepalanya tertunduk dan rambutnya acak-acakan.

"Ada sesuatu yang terjadi?" Chanyeol bertanya— ia tahu bahwa ada yang terjadi, tapi ia memilih untuk bertanya karena ya... ia bukan orang yang bisa membaca pikiran orang lain.

"Aku menemukan hal yang aneh pada Luhan," kakaknya menjawab dengan lesu.

"Kupikir masalah pekerjaan," Chanyeol berdecak remeh. Matanya kembali pada TV dan duduknya kembali rilex.

"Ada yang serius dengan Luhan."

"Aku tahu. Kau mengulangi berita itu ribuan kali dan Luhan tak apa-apa."

Kris tak menyahut— ia memilih untuk diam. "Baekhyun tak disini?"

Chanyeol menoleh. "Kau kesini tak untuk mencariku, bukan? Kau mencari Baekhyun." Bibirnya manyun. "Aku kecewa." Nada sebal sangat ketara terlihat.

"Jangan berlebihan," Kris bangkit berdiri menuju dapur diikuti dengan mata Chanyeol yang mengawasinya. Chanyeol hendak bangkit berdiri mengikuti saat suara bip sekali lagi berbunyi dari pintu. Kakinya berjalan menuju pintu, ia yakin bahwa itu Baekhyun.

"Baekhyun?" Kris menoleh pada Chanyeol dan Chanyeol mengangguk tanpa ekspresi. Ia kembali duduk bertumpu pada meja dapur. Matanya masih mengekori Kris yang berjalan cepat menuju pintu— mendahuluinya.

"Oh, Kris oppa?" Suara Baekhyun tersentak, ia kaget melihat Kris ada disana. "Tumben." Ia melirik pada Chanyeol— dibalik punggung Kris— yang mengangkat bahu tanda bahwa ia juga tak tahu kenapa Kris disana.

Chanyeol mendapatkan ciuman singkat dari Baekhyun yang menatapnya masih menuntut sebuah jawaban. Kekasihnya membisikkan "Kenapa ia disini?" dengan raut wajah kecewa. Seperti mereka punya urusan lain yang perlu dikerjakan.

"Oke, hmm..." Kris menginterupsi. "Ada yang ingin kusampaikan."

Kedua pasangan disana menoleh, "Kupikir itu yang perlu kau lakukan sebelum kau pergi."

Kris berhenti sebentar kemudian berjalan meraih gulungan yang ia geletakkan di kabinet dapur. Mereka masih di dapur, di konter bar kecil milik Chanyeol.

"Well, Baek," kata Kris tersendat. "kupikir tentang Luhan—"

"Luhan?" Chanyeol memotong. "Kris, sudah kubilang kau berlebihan! Kau—"

"Aku tidak!" Kris menarik nafasnya kasar. "Tunggu sebentar, Chan. Dengarkan aku kali ini. Jika memang hal ini tidak membuatmu tertarik, maka aku tak akan mengganggumu lagi." Kris menatap keduanya dan mendapatkan sinyal bahwa mereka mau mendengarkan. Tangannya membuka lagi kertas yang ia bawa. Bibirnya tak berucap, ia hanya menunjukkan apa yang ia bawa.

"Apa ini?" Chanyeol membuka suara.

Baekhyun menggeser kertas itu menghadapnya. "Sebentar..."

"Kau merasa tak asing, Baek?" Kris menuntut. "Adakah sebuah apartemen yang kau beli tahun lalu terlihat seperti ini? Setidaknya sebelum kau merenovasinya?"

Baekhyun menatap Chanyeol. Yang ditatap diam tak mengerti. Ia menatap kekasihnya, menuntut sebuah penjelasan namun bibir Baekhyun terkatup rapat. Tiba-tiba Baekhyun meringkuk memeluk dirinya sendiri, kedua tangannya memegang lengannya. Ia mulai mengingat foto yang kapan waktu Kris tunjukkan. Sekarang ia melihat pada gambar yang ia pegang. Pria tinggi yang tampan dibalik kabinet dapur.

"Aku ingat sesuatu," Baek memulai. "Saat di Milan, kami membicarakan tentang seorang pria. Ia bilang bahwa ia dekat dengan seseorang. Pria tinggi yang tampan," suaranya tercekik. "Apa itu dia?"

Kris menggeleng. "Aku tak yakin."

"Kau baru dari sana lagi?" sekarang Chanyeol yang membuka suara.

Untuk kedua kalinya Kris menggeleng. "Tidak. Itu adalah gambar dari foto yang beberapa hari yang lalu kutunjukkan pada kalian."

"Ha!" Baek meledak. Ia seperti kaget atau semacamnya. Matanya membulat pada Kris.

"Kau lihat, antara kalian, aku, dan seseorang yang menggambar ini, kita memiliki penglihatan yang berbeda. Apa kau pikir ini masuk akal?"

"Kau pikir ia hantu?" Chanyeol meloncat dari kursinya untuk meraih botol minum di kabinet. "Bukankah ini tak masuk akal, Kris. Ini semakin tak masuk akal."

"Maka dari itu, aku ingin Baek datang kesana. Setidaknya kau harus melihat bagaimana keadaan Luhan."

.

.

Hening yang cukup panjang sampai-sampai Baekhyun bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia duduk terlampau tegak dan menatap meja lama. Ia menimbang hal apa yang akan ia sampaikan. Orang-orang mengenalnya sebagai orang yang cerewet namun hari ini ia bahkan tak bisa memulai sebuah obrolan.

"hm, Lu..." bisiknya. "Apa kabar?" Bodoh! Baekhyun bertanya dalam hatinya apakah ia terlihat canggung atau tidak. Mereka berteman sangat lama dan sekarang mereka seperti orang asing.

Luhan terkekeh. "Tentu saja aku baik. Apa yang kau lakukan, Baek? Kau seperti orang ketakutan." Gadis cantik yang sedikit kurusan itu melenggang menuju dapur. "Kopi atau jus jeruk?"

Baek menghela nafas linglung. "Hm, apa... saja..." ia tiba-tiba merinding. Merinding karena Luhan bertingkah seperti biasa.

"Lu, apa kegiatanmu akhir-akhir ini?"

"Aku? Aku merawat kaktus, bermain piano, dan kadang-kadang melukis," katanya sambil tertawa kecil.

Baekhyun terkesiap. "Baguslah." Ia tersenyum. "Apakah kau tidak merasa kesepian sendirian?" pertanyaan ini lolos dari bibirnya dengan sangat hati-hati.

Luhan tidak menyahut. Ia terus sibuk dengan sesuatu di dapurnya.

"Hm, aku hanya hm..."

"Aku tidak kesepian," Luhan menyahut ceria. "Ada seseorang yang menemaniku," ia melanjutnya lambat-lambat.

Baekhyun terdiam beberapa saat. Seseorang. Ia kembali merinding. Siapa?

"Lu, bagaimana kalau kita keluar? Apa kau tidak membutuhkan sesuatu untuk dibeli?"

"Aku tidak yakin, Baek," Luhan menghampirinya dengan dua gelas kopi ditangannya. "tapi sebentar, aku akan meninggalkanmu sebentar disini."

Baekhyun diam. Ia melihat punggung Luhan masuk ke kamarnya. Matanya melihat sekeliling. Melihat pada kanfas-kanfas kosong yang dipajang di tembok berbaris-baris bersama beberapa lukisan abstrak tak jelas. Ia ingin melihat lebih jauh namun ia tak berani. Ia merasa takut entah karena apa.

Sekejap ia teringat pada sosok pria di gambar yang kemarin ditunjukkan oleh Kris. Ia merinding lagi, matanya menoleh kebelakang dengan sekejap. Menakutkan.

"Lu..." ia berbisik. Keringat dingin mulai mengusiknya. Ia takut pada pikiran-pikirannya sendiri. Sontak ia berdiri dan melangkahkan kaki dengan cepat kearah pintu kamar Luhan.

"Apa benar tidak apa-apa jika kau dirumah sendirian? Aku akan keluar dengan Baek sebentar."

Baekhyun mendengar Luhan berbicara dari balik pintu. Itu memicu keringat dingin semakin menjadi keluar dari pelipis dan punggungnya. Mungkin ia sedang berbicara melalui telepon atau semacamnya. Baekhyun mencoba berfikir positif.

Ia membuka pintu pelan.

Baekhyun mematung melihat dari sela pintu. Menatap pada Luhan yang berdiri sendirian di dalam kamar yang jendelanya tertutup gorden putih— cahaya matahari samar mengintip dari sana. Tangannya memeluk ruang kosong disana.

"Aku mencintaimu."

Samar— lebih jelas dari tadi, Baekhyun mendengar Luhan mengatakannya.

Kakinya sontak melemas. Tidak ada siapapun disana. Ruang kosong disana. Tidak ada apa-apa.

Ia mundur dan menutup kembali pintunya. Tangannya bergetar.

Note :

Aku ga nyangka ada yang nungguin FF ini. Thanks.