Disclaimer: Masashi Kishimoto

Happy Reading!

AUTHOR POV

Gaara, Hidan, dan Deidara kini sedang duduk-duduk di sofa lobby.

"Ada apa kalian menemuiku? Ku pikir kalian sudah duluan ke acara peluncuran album kedua SFx." Ujar pemuda bersurai merah maroon.

"Sebenarnya kami sudah akan berangkat kesana sampai akhirnya Konan-san manager kami menyarankan kami berangkat bersama leader SFx saja, hm." Ujar pemuda bersurai blonde sambil memberi ekspresi berbeda saat menyebut kata 'leader SFx'

Benar saja, sejak sepeninggal Naruto yang sejatinya adalah member termuda, tentu saja posisi itu digantikan oleh Neji yang tadinya adalah leader. Karena KonohaGakure Entertainment tidak mungkin membuat member termuda menjadi leader, jadilah posisi leader digantikan oleh Gaara. Begitupun posisi vokal utama yang tadinya dipegang Naruto. Main vocal Naruto digantikan Neji yang sebelumnya memegang posisi lead vocal. Sedangkan lead vocal berpindah posisi menjadi milik Sai. Sejak memegang posisi leader pula, Gaara berubah menjadi lebih baik.

"Sudahlah ayo kita berangkat. Acaranya 2 jam lagi, tempat acaranya kan cukup jauh juga." Ujar pemuda bersurai perak yang dibalas anggukan Deidara dan Gaara yang mulai berdiri dari sofa.

.

.

.

"Ini pertama kalinya SFx meluncurkan sebuah album dalam formasi baru." Gumam Sai sambil memberi tatapan kosong pada sudut backstage. Mungkin dia masih merindukan Naruto.

"Ya karena itu, kalian bersemangatlah! Kita lancarkan semuanya demi Naruto ya." Ucap Sakura menyemangati Sai, Neji, dan Shikamaru.

"Tapi kenapa Gaara belum datang? Padahal aku sudah menyuruh Hidan dan Deidara untuk ikut bersama mereka." Gumam Konan dengan raut wajah cemas.

"Ck, kenapa telponnya tak diangkat?!" Keluh Shikamaru yang sejak tadi sibuk menelpon seseorang.

From: Gaara-niisan

Jangan telpon terus, Shikamaru! Aku sudah di perjalanan dalam mobil Deidara-senpai bersama Hidan-senpai juga. Truk pengangkut bahan bakar di depan mobil kami mogok. Kalian bersabar dulu ya. Nanti kami juga sampai.

Pesan masuk yang diterima Shikamaru dari orang yang sejak tadi ditelponnya membuatnya membulatkan matanya lebar.

KRAK

Neji yang duduk di sofa backstage dan melihat gelas minuman di hadapannya meretak pun merasa tersentak.

'Aku tidak pernah percaya dengan firasat buruk ataupun tahayul lainnya. Tapi ada apa ini?' Batin pemuda bersurai panjang yang masih melihat retakan di gelas minumannya.

"Perasaanku jadi tak enak." Gumam Sai tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari Neji, Shikamaru, Sakura, dan Konan.

.

.

.

"Aduh, kenapa truk bensin ini mogok di tengah jalan sih, hm?" Gerutu Deidara yang duduk di bangku kemudi.

Hidan yang duduk di jok belakang melihat ke mobil-mobil yang terjebak macet di sekitarnya.

"Kenapa para pengemudi dan penumpang mobil-mobil itu pada keluar dan meninggalkan mobil mereka?" Tanya Hidan polos.

"Perasaanku tidak enak, senpai." Gumam Gaara pelan.

"Kalian berdua diamlah, hm!" Perintah Deidara yang langsung menciptakan keheningan di dalam mobilnya.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku yakin kita akan baik-baik saja, hm."

"Coba lihat! Ada seorang nenek di mobil sebelah sana." Tunjuk Hidan pada salah satu mobil yang ditinggal pengemudinya dan menyisakan seorang nenek yang kebingungan di dalam mobilnya yang pintunya terbuka. Seolah nenek itu juga mau berjalan meninggalkan mobil tapi tak bisa.

"Aku akan tolong dia." Gumam Gaara yang langsung keluar dari mobil Deidara.

"Hey, kau mau kemana, hm?!"

"Deidara-niisan! Perasaanku tidak enak. Tapi apapun yang terjadi, aku tidak mau bocah mata panda itu sendirian!" Gumam Hidan yang langsung pergi keluar mengikuti Gaara yang menghampiri nenek itu.

"Deidara-niisan, hm? Hidan, kau.."

Deidara langsung berlari keluar mobilnya dan menghampiri Gaara dan Hidan yang membantu nenek itu keluar mobilnya.

"Tenanglah, baa-san kau akan baik-baik saja." Ucap Gaara yang ikut diangguki oleh Hidan yang turut membantu nenek itu melangkah pelan-pelan meninggalkan mobilnya.

"Hidan! Kau tidak boleh menolong orang lain tanpa ajak-ajak aku!" Teriak Deidara yang kini sudah ada bersama Gaara, Hidan dan nenek itu.

"Ngomong-ngomong kenapa orang-orang itu berlari meninggalkan mobil mereka di tengah kemacetan ini?" Tanya Gaara yang masih tak mengerti.

"Aku juga tak tahu. Perasaanku jadi tidak enak." Sahut Hidan.

"Ah sudahlah, hm. Yang penting kita sama-sama." Celetuk Deidara yang langsung membuat senyuman menghiasi wajah Gaara dan Hidan yang ada bersamanya.

"Seenaknya saja kau bicara, Deidara-niisan. Kau pikir aku mau mati bersamamu?" Sahut Hidan mengejek

"Hey, kenapa kau jadi membicarakan kematian, hm?! Dan lagipula sejak kapan kau memanggilku niisan?"

"Entahlah. Seolah ini akan jadi terakhir kalinya aku memanggilmu begitu." Sahut Hidan tersenyum.

Deidara terdiam melihat senyuman Hidan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Dia pikir selama ini Hidan hanya akan tersenyum oleh Sakura. Tapi kali ini perasaannya begitu berbeda. Sedangkan Gaara, Gaara hanya membalas senyuman Hidan dengan senyuman sedih. Seolah dia jadi teringat senyuman pemilik manik sapphire blue juga.

"Truknya.." Gumam wanita tua yang ada bersama ketiga pemuda itu sontak membuat mereka bertiga menoleh ke arah truk bahan bakar itu.

"Perasaanku semakin tak enak." Gumam Gaara lagi.

'Jujur saja, perasaanku juga sama.' Batin Hidan dan Deidara bersamaan.

DUARR

.

.

.

Berita meledaknya truk pengangkut bahan bakar yang menewaskan belasan orang di kemacetan salah satu flyover di Tokyo masih terus terngiang di kepala para keluarga besar perusahaan agensi KG Entertainment. Hashirama, Sakura, Konan, member boygroup Akatsuki maupun SFx, tak terkecuali Temari turut berduka atas kepergian Gaara, Deidara, dan Hidan.

"Dari pengamatan CCTV flyover yang merekam insiden meledaknya truk bahan bakar itu, Gaara, Deidara, dan Hidan meninggal dalam keadaan memeluk seorang nenek yang tadinya ingin diselamatkan mereka."

Laporan polisi yang selesai melakukan evakuasi tragedy itu masih terus terngiang di benak Sakura sampai saat ini. Kini gadis bersurai soft pink itu berada di pemakaman tempat Gaara, Deidara, dan Hidan dimakamkan. Yang juga merupakan tempat yang sama dengan tempat Naruto dimakamkan. Ditemani member SFx dan Akatsuki yang tersisa, dia menengok lagi pemakaman teman-temannya.

"Aku lebih miris begitu mengetahui mereka bertiga melakukan itu di saat para pengendara yang lain pergi untuk menyelamatkan diri masing-masing sebelum truk bensin itu meledak." Gumam Sakura pilu masih sambil menatap batu nisan bertuliskan nama sepupunya.

"Aku hanya ingin membantu selagi bisa."

"Sama seperti aku, pada akhirnya kita semua akan sama-sama berakhir sebagai manusia yang lebih berguna."

'Sejak awal, sebenarnya kalian sangat ingin menjadi teman kan, Hidan, Deidara. Dan kali ini Gaara juga, pada akhirnya Gaara juga akan bersama Naruto. Sama halnya dengan Hidan yang selama ini ingin bisa berteman dengan Deidara.' Batin Nagato yang mengabaikan air matanya yang terus jatuh.

"Hidan dan Deidara, mereka itu sama-sama berisik. Ya, dan mereka juga temanku. Tak disangka pada akhirnya mereka pergi bersama-sama juga." Gumam Yahiko yang kini tersenyum sambil menyeka air matanya. Dengan pandangannya yang sedikit terhalang air matanya sendiri, Yahiko terus menatap kosong pada batu nisan bertuliskan nama Deidara yang berada di samping makam Hidan.

"Apa yang mereka lakukan adalah sama-sama ingin berakhir sebagai orang yang lebih berguna. Kalau begitu untuk apa kalian menangisinya?" Tanya Sai polos. Dia sudah tidak menangis lagi. Dia menangis paling banyak sejak mendengar kabar kematian Gaara, Hidan, dan Deidara.

"Hn, berhentilah menangis. Kita semua sama-sama akan bertemu mereka juga." Ujar Neji yang juga sudah tidak ikut menangis.

Perlahan, bibir dari wajah pemilik manik lavender yang mencoba berusaha untuk tegar itu tersenyum. Mencoba menunjukkan kesanggupannya yang sudah ditinggal kedua temannya. Terutama Gaara yang baru-baru ini menyusul kepergian Naruto.

"Neji-kun benar. Kita semua harus kuat."

"Lagipula, kita semua akan selalu ditinggal oleh setiap orang di dunia ini kan. dan kita juga ditinggal bukan untuk sendirian. Kita ditinggal untuk membiarkan waktu membuat kita bertemu mereka lagi. Percaya lah." Lanjut Sasori sambil menepuk pundak Yahiko yang memang berdiri di sebelahnya.

Sama seperti Sai, sebenarnya pemuda baby face itu memang salah satu orang yang menangis paling banyak sejak mendengar kabar tragedy itu. Berulang kali Nagato dan Yahiko menghiburnya tapi tak sanggup membuat kedukaan Sasori berhenti. Di awal pemakaman pada saat itu pun Sasori terus menunjukkan ekspresi duka yang seakan mengungkapkan bahwa dia tidak terima dengan takdir kematian kali ini. Deidara memang sangat dekat dengan Sasori di Akatsuki. Itulah yang membuat Sasori sangat berduka. Sejak masuk boygroup Akatsuki pun, Hidan memang cukup kenal dan dekat dengan Sasori. Sasori juga sudah menganggap Gaara sebagai adiknya sendiri sejak masa pelatihan sebelum boygroup Akatsuki maupun SFx debut. Itulah yang membuat Sasori merasa diruntuhkan dinding ketegarannya sejak mendengar kabar kematian ketiga pemuda itu. Tapi kali ini, seakan ada bahan baku untuk pondasi dinding yang baru lagi. Merasa bahwa dia harus tetap kuat demi teman-temannya, itulah yang membuatnya menjadi lebih kuat dengan dinding ketegaran yang baru. Sasori mencoba tegar. Dan dia berharap teman-temannya juga bisa melakukannya.

TBC

A/N:

Huwaaaaaa Fura jadi bikin fanfic isi cerita sedih

Entah fict ini masih ada yang baca atau tidak. Ini semua gara-gara Fura yang selalu tak sempat update. Fura yang salah, Fura sadar.

Ini semua karena Fura beberapa waktu lalu fokus untuk mendongkrak nilai semester ini. Sekarang lagi bisa, yasudah update.

Dan selama fict ini lagi gantung, jeniusnya diriku malah jadi nulis fict lain. Fura lagi nulis fict Naruto yang satu lagi. Fura mau tulis dulu sampai kelar, supaya gak gantung kayak fict yang ini.

Tapi yang ini masih lanjut kok. Mau dihapus saying, mau digantung seterusnya gak tega. Yasudah Fura lanjut aja. '-'

Kalian masih pada nungguin kah? *hanya suara jangkrik yang menyahut*

Yasudah Fura akan tetap habiskan bagaimanapun caranya. XD

Fura pamit ya, See you on next chapter, minna-san. ^-^/

Mind to Review?