Selamat Membaca!

Sorry for typo ^^

.

.

Can I Be With You?

-Our Destiny-

Chapter 2-6

.

.

Kyungsoo terus berlari tak tahu arah. Ia hanya mengikuti lorong rumah sakit dan berbelok sesuka hatinya, ia berbelok melewati lorong-lorong dengan cahaya terang. Ia berharap ia dapat menemukan jalan keluar dari rumah sakit yang membuatnya sesak ini. Ia terus berlari hingga melewati sebuah pintu yang ia yakini sebagai pintu surga. Ia keluar dari bangunan rumah sakit itu tentu saja, ia menemukan hal sangat indah di sana, tak salah kalau ia sebut sebagai pintu surga.

Ternyata itu adalah sebuah taman rumah sakit. Taman yang sangat menyenangkan sepertinya, taman itu terletak di samping rumah sakit agak di belakang, karena ruang rawatnya ada di lantai 3, berarti taman ini terletak di lantai 3.

Taman itu berhiaskan banyak tanaman seperti taman biasanya, tetapi dinding taman itu telah disulap menjadi lukisan-lukisan warna-warni penyemangat bagi orang-orang yang sakit. Dari sini bisa langsung melihat pemandangan taman bunga kota. Ditengah taman terdapat air mancur cukup besar dan.. oh Kyungsoo melihat ada kursi di sana, jadi ia memutuskan untuk berhenti di tempat sejuk ini untuk menenangkan pikirannya.

Ia menarik napasnya yang sedikit bergetar karena dirinya masih merasa ingin menangis. Kyungsoo ingat sekali saat matanya menatap Kai, mata Kai menyiratkan ketidaktahuan yang membuat hati Kyungsoo berdenyut sakit. Tetapi dari mata Kai juga menyiratkan kesedihan dan rasa frustasi karena ketidaktahuannya, hal itu yang membuat Kyungsoo lari dari sana. Kenyataan yang mengatakan bahwa Kai benar-benar tidak tahu adalah hal yang paling menyakitkan baginya.

Kyungsoo kembali menangis dalam diam ditemani suara gemericik air dari pancuran yang jatuh ke kolam.

.

.

Sementara itu, Luhan berlari di koridor rumah sakit dengan bingung. Ia terus menolehkan kepalanya kesana kemari berharap menemukan Kyungsoo. "Dimana kau Kyung.." gumam Luhan.

Ia menghampiri kursi ruang tunggu yang ditempati banyak pasien. Ia melihat dengan seksama, tetapi tak menemukan Kyungsoo di sana. Bahkan Luhan sudah mencari hingga ke atap rumah sakit, lantai rumah sakit yang lain, dan ke halaman depan rumah sakit. Memang sudah cukup lama Luhan mencari hingga kakinya merasa lelah. Ia duduk sebentar di ruang tunggu.

Sambil beristirahat, Luhan melihat para ibu dan juga mungkin saja calon ibu yang tengah menunggu giliran pemeriksaan. Mereka terlihat sangat bahagia, apalagi para ayah itu menemani mereka. 'Semoga aku mendapatkan satu seperti calon ayah itu' gumam Luhan dalam hati. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya, lalu tertawa karena pikirannya terlalu jauh hingga memiliki anak.

"Ah benar juga, hubungi Kyungsoo" ucap Luhan ditengah khayalannya. Ia segera menghubungi Kyungsoo, tetapi tidak diangkat, membuat Luhan tambah khawatir. Dimana sebenarya sahabatya itu ugh!

Satu notifikasi dari ponselnya berbunyi, Luhan segera melihatnya yang ternyata dari Kyungsoo. Lu, aku di taman samping rumah sakit lantai tiga. Aku butuh waktu sendiri, aku mohon. Jangan khawatirkan aku. Begitulah isi pesan dari Kyungsoo yang membuat Luhan berapas lega. Luhan memutuskan untuk kembali ke ruangan Kai.

Luhan baru saja membuka pintu ruang Kai dirawat, tapi Kai langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan.

"Apa kau menemukan Kyungsoo?"

"Apa Kyungsoo baik-baik saja?"

"Di mana Kyungsoo?"

"Mengapa kau tak bersama Kyungsoo?"

Ya itulah pertanyaan yang ditanyakan oleh Kai, dan Luhan hanya menjawab "ia baik-baik saja"

"Apa kau sudah kembali memasang selang infusmu?" tanya Luhan.

"Tentu saja, tadi perawat masuk ke kamarku. Jadi, ia sekalian memasangkannya," jawab Kai.

"Kai-ya,"

"Hm?"

"Kau tahu, mengapa Kyungsoo memutuskanmu?" tanya Luhan.

"Demi Tuhan, aku tak tahu apa kesalahanku hingga ia memutuskan hubungan kami,"

"Kau benar-benar tidak tahu atau tidak menyadarinya?"

"Entahlah, aku tidak merasa melakukan apapun yang akan membuat hubungan kami berakhir. Bahkan tidak terpikirkan olehku jika hubungan kami akan berakhir. Aku merasa frustasi Lu setiap memikirkan apa kesalahanku," lirih Kai.

Luhan duduk di kursi dekat ranjang, "apa kau mengingat semua yang kau lakukan di hari Kyungsoo memutuskanmu?"

"Tentu, hari itu selalu terulang di benakku. Apa yang aku lakukan, bahkan aku mengingat setiap aktivitasku di Amerika sana saat masih menjalin hubungan dengan Kyungsoo,"

"Kalau begitu mustahil jika kau tidak tahu apa kesalahanmu," sinis Luhan.

"Jadi, kau tidak percaya jika aku benar-benar tidak mengetahuinya?"

"Yang benar saja Kim Jongin!"

"Aku berani bersumpah Lu. Kecuali.. ini ada hubungnnya dengan Krystal?"

"Krystal?" tanya Luhan.

Kai mengangguk, "ia adalah temanku di sana. Ia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, padahal aku selalu menghiraukannya. Di hari saat Kyungsoo memutuskanku, aku berada di perpustakaan bersamanya. Hanya itu yang aku tahu,"

Luhan mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto yang selama ini sengaja ia simpan di memori ponselnya. Foto yang membuat Kyungsoo kehilangan arah dan akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Kai. "Lalu, kau akan bilang bahwa kau tak tahu ini?!"

Mata Kai membesar, ia bahkan tidak tahu jika salah satu kegiatannya di sana adalah berci– sudahlah, lagipula Kai berani bersumpah jika tidak melakukan itu.

"Kalaupun aku bilang tidak, kau tidak akan mempercayaiku, kan Lu?" tanya Kai.

"Jadi benar kau melakukannya?"

"Tidak. Aku tidak pernah melakukannya–"

"Kau bajingan Kai!"

"Dengarkan–"

"Kau telah membuat Kyungsoo menderita kau tahu?! Sebenarnya apa salah Kyungsoo hingga kau menyelingkuhinya seperti itu!" Luhan mulai tak bisa bersabar.

"Dengarkan–"

"Kau membuat Kyungsoo–"

"DENGARKAN PENJELASKU DAHULU XI LUHAN!" bentak Kai.

"JANGAN JELASKAN PADAKU KIM JONGIN! JELASKAN LANGSUNG PADA KYUNGSOO!" teriak Luhan emosi.

"Kyungsoo ada di taman lantai tiga rumah sakit ini. Temui dia," ucap Luhan datar setelah bisa meredakan emosinya.

"Arasseo, gomawo" ucap Kai cepat, lalu ia menarik selang infusnya yang baru saja dipasangkan kembali padanya.

"Jangan lepas selang infusmu!" pekik Luhan ketika melihat Kai menghempas selang infusnya.

"Tidak ada waktu untuk membawa tiang infus sialan itu" jawab Kai cepat lalu berlari keluar untuk menyusul Kyungsoo.

Luhan menengadahkan kepalanya sambil menutup mata. Ia menghembuskan napasnya perlahan sambil bergumam 'semoga kalian bisa kembali bersama.'

Kai berlari menyusuri lorong yang menuju ke satu tempat, Luhan memberitahu bahwa Kyungsoo ada di sana.

Segera saja matanya menjarah ke seluruh sudut taman setelah ia sampai di pintu taman. Matanya menangkap sosok Kyungsoo yang sedang duduk menengadah ke atas.

"Kyungsoo-ya," panggil Kai.

Kyungsoo yang tadinya menutup mata, membuka matanya dan menoleh ke asal suara. "K..kai?"

"Mianhae, aku memaksa Luhan memberitahu dimana kau berada,"

Kyungsoo tetap diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Kai mendudukkan dirinya di rerumputan dekat Kyungsoo yang tengah duduk di kursi. Kai menunduk, "mianhae, jongmal mianhae" lirih Kai.

Kyungsoo hanya menatap Kai dengan terkejut.

"Aku memang bodoh. Aku memang berengsek. Kau boleh memakiku dan memukulku, bahkan hingga aku mati, aku bersedia. Tapi.. aku mohon, jangan pergi dari hidupku lagi. Jangan benci aku Kyungsoo-ya, aku tak bisa," ucap Kai.

"Setiap hari yang aku pikirkan hanya dirimu, aku tidak pernah memandang siapapun di sana kecuali dirimu. Maafkan aku," Kai menitihkan air matanya tanpa sepengetahuan Kyungsoo karena dirinya makin menundukkan kepalanya.

"Aku benar-benar hanya mencintaimu, sungguh,"

"K..kai.." Kyungsoo menahan isakannya agar tak terdengar.

"Ma..maafkan aku juga," Kyungsoo tak bisa menahan isakannya lagi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup menatap Kai.

Kai menghapus cepat air matanya dan melihat pada Kyungsoo yang sudah bergetar di tempatnya.

"Mianhae, hiks.." isak Kyungsoo.

Kai bangkit dari duduknya dan membawa Kyungsoo dalam dekapannya. Kai menggeleng, "ani, aku yang meminta maaf Kyung, mianhae" lirihnya.

Kai melepaskan pelukannya pada Kyungsoo lalu memegang kedua pundak gadis itu. Ia menatap sedih pada Kyungsoo, tidak seharusnya ia membuat wanita yang ia cintai menangis, tidak seharusnya.

"Maukah kau mendengar penjelasanku?" tanya Kai.

Kyungsoo mengangkat wajahnya menatap Kai, lalu ia mengangguk.

"Jadi, hari itu.. aku memang bersama Krystal. Kami sedang berada di perpustakaan, aku memang tidak memberikan kode pada ponsel maupun aplikasi chatting. Ponselku aku letakkan begitu saja di meja dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi. Jika foto itu yang kau dapat dari Krystal, maka itu hanya kesempatannya saja saat aku tertidur," jelas Kai dengan nada bersalah.

Kyungsoo hanya terdiam mendengar penjelasan dari Kai. "Kyunggi?" panggil Kai.

"Gwaenchanha, lanjutkan,"

"Aku bahkan masih memiliki vn yang ternyata Krystal tidak pernah menghapusnya karena sepertinya ia tak sempat lagi untuk menghapusnya karena aku sudah terbangun,"

Kai mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan sesuatu yang baru saja ia ketahui selama ini. Ternyata vn ini adalah salah satu penyebab hubungannya berakhir dengan Kyungsoo. Saat Kyungsoo pergi, Kai mencoba menghubungi Kyungsoo tapi tak diangkat. Luhan juga belum kembali ke ruangannya. Jadi, Kai mengotak-atik ponselnya dengan gelisah dan ia melihat sebuah rekaman, selama ini ia tak pernah merekam apapun dengan ponselnya. Akhirnya ia mendengarkan rekaman itu dan membuatnya terkejut setengah mati.

Kyungsoo menatap ponsel yang ada di tangan Kai lalu beralih menatap Kai.

"Ingin mendengarkannya?" tanya Kai.

"Ne,"

"Kai-ya aku mencintaimu"

"Ya, aku mencitaimu chagi.. uri Kyungsoo"

Tangis Kyungsoo pecah saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. "Mianhae, hiks.." tentu Kyungsoo merasa bersalah saat ini.

"Aku juga minta maaf hm?"

Kyungsoo hanya mengangguk dalam pelukan lelaki yang selama ini tak pernah ia lupakan cintanya. Tak pernah seharipun Kyungsoo tak merindukannya.

"Saranghae," ucap Kai lalu mencium tepat di bibir Kyungsoo.

.

.

Seorang laki-laki berambut pirang yang waktu kedatangannya ke Korea sama dengan Luhan (Chapter 2-1) tengah menyusuri koridor rumah sakit yang dilewati Luhan sebelumnya. Ia adalah Kris, Wu Yifan. Apa kalian ingat dengan Kris? Ya, ia adalah lelaki yang pernah merasakan penolakan dari gadis Xi Luhan.

"Aku yakin Luhan lewat sini," gumamnya sambil melihat ke segala arah agar menemukan Luhan. Tadi dirinya ada di ruang tunggu yang sama dengan Luhan, dirinya tak sengaja melihat Luhan. Jadilah dirinya sekarang berjalan tanpa arah untuk menemukan Luhan.

BLAM

Bersamaan dengan itu, Luhan keluar dari ruang rawat Kai bermaksud menyusul Kai dan Kyungsoo, ia khwatir kalau dua orang itu kembali bertengkar.

"Luhan!" Luhan menolehkan kepalanya ke segala arah mencari seseorang yang memanggilnya.

"Oh.. Kris?"

"Hai Lu, apa kabar?" tanya Kris. Akhirnya ia menemukan Luhan juga.

"Kris?!" Luhan baru menyadari jika yang menyapanya benar-benar Kris.

"Ya Lu, ini aku,"

"Sudah lama sekali," gumam Luhan. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dneganmu?" tanya Luhan.

"Tentu aku juga baik," jawab Kris tersenyum. "Siapa yang sakit?" tanya Kris.

"Sahabatku,"

"Kyungsoo?" tanya Kris. Luhan mengangguk. "Di mana Kyungsoo? Aku bisa sekalian menjenguknya,"

"Ia sedang ada urusan. Lagipula Kyungsoo sudah membaik, ia hanya kelelahan. Oh ya, kau sendiri, sedang apa di sini?" tanya Luhan.

"Oh, aku sedang menemani istriku ke dokter kandungan," jawab Kris sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Mwo?" Luhan membolakan matanya, "kau sudah menikah?" tanya Luhan terkejut.

"Ne, begitulah. Aku melanjutkan kuliahku ke Kanada, aku menemukan istriku di sana," kekeh Kris.

"Chukhae Kris!" ucap Luhan senang. "Untung saja aku menolakmu, begitukan Kris?" goda Luhan.

Kris tertawa renyah, "tapi aku benar-benar terluka karena kau," kekeh Kris.

"Mianhae," ucap Luhan.

"Tidak masalah Lu, lagipula aku kesini bukan untuk membicarakan itu. Hanya saja.." Kris menggantung kalimatnya. Haruskah ia tanyakan tentang hal ini? Apa tidak masalah jika ia membahasnya? Ia bisa saja diam, tapi tidak bisa karena dirinya mengkhawatirkan gadis di depannya.

"Hanya?" tanya Luhan.

"Tidak," Kris menggeleng, "apa kehidupanmu menyenangkan?" tanya Kris, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Biarlah, itu adalah masalah pribadi Luhan, ia tak berhak mencampurinya.

"Yah, seperti inilah. Biasa saja," ucap Luhan tertawa.

"Sepertinya baik-baik saja, baguslah" Kris tersenyum.

"Kau kaku sekali, Kris" kekeh Luhan.

"Oh ya?" Kris mau tak mau tersenyum karena Luhan bisa tertawa dan tersenyum. Sejak Luhan menolaknya di taman itu, Kris memang merasakan sakit hati yang sangat. Tapi, kejadian yang tak teraduga terjadi di depan matanya, Luhan yang terjatuh sambil menangis adalah hal yang paling menyakitkan melebihi hatinya saat itu. Ya, Kris tahu apa yang terjadi saat Luhan menolaknya saat itu, ada kesalahpahaman yang terjadi di antara Luhan dan seorang laki-laki yang ia ketahui bernama Sehun.

Sejak saat itu, Kris selalu mencari tahu tentang Luhan maupun Sehun melalui bawahannya. Hingga ia pergi ke Kanada-pun, ia tetap mendapat laporan dari bawahannya. Ia juga mengetahui bahwa Luhan dan Sehun tidak saling berhubungan selama ini. Tapi ia tidak tahu bahwa Sehun dan Luhan sudah bertemu lagi karena ia menghentikan seluruh pencariannya tentang informasi Sehun dan Luhan.

"Lu–"

Luhan menghentikan tawanya dan menoleh ke arah suara lain yang memanggilnya. "Sehun?"

Kris yang melihat Sehun di depan matanya bergerak gelisah di tempatnya. Ini persis kejadian seperti beberapa tahun lalu, hanya saja kali ini ia dan Sehun saling tatap.

Wajah Sehun berubah datar, "oh kau sedang sibuk. Baiklah aku akan ke dalam saja," ucap Sehun dingin lalu hendak masuk ke ruang rawat Kai tetapi tangannya di tahan oleh Luhan. Luhan tanpa pikir panjang menahan tangan Sehun karena kejadian ini sangat familiar di kepalnya, ia khawatir akan terulang apa yang pernah terjadi. Tidak, tidak lagi.

"Sehun-ah, ini Kris, teman lamaku" ucap Luhan, ia menatap Sehun meyakinkan saat mengatakan 'teman lamaku'.

"Oh, hai," Sehun hanya berkata seperti itu dan hendak melepas genggaman tangan Luhan padanya. Tapi Luhan bersikukuh menahan Sehun.

Kris yang melihat itu megepalkan tangannya. Mengapa Sehun sangat bodoh eoh?! Pikirnya. Kris hampir saja memaki Sehun, tetapi matanya menangkap bayangan istrinya seperti orang bingung. Mungkin dengan adanya istrinya, ia bisa sedikit membantu Luhan meyakinkan si bodoh Sehun. Pikirnya.

"Tao-ya!" panggil Kris. Luhan dan Sehun pun mengikuti arah pandang Kris, Sehun tak lagi mencoba melepaskan tangannya yang digenggam Luhan.

Tao pun tersenyum menemukan suaminya dan menghampirinya. "Aku mencarimu," Tao mempoutkan bibirnya.

"Mianhae yeobo," Kris mengecup kilat bibir Tao. Ia tak peduli dengan Luhan dan Sehun yang melihat, itu justru bagus bukan? Haha. Tao mencubit gemas lengan suaminya karena seenaknya mencium bibirnya dihadapan orang lain, ia kan malu, lihat saja pipinya sudah memerah.

Luhan terlihat salah tingkah melihat adegan di depannya. Tao sangat cantik, ia tinggi semampai, rambutnya cokelat muda bergelombang indah, kulitnya eksotis memang kontras dengan kulit Kris yang sangat putih tetapi itulah yang membuat mereka Nampak cocok satu sama lain.

Jika Luhan salah tingkah, maka Sehun terdiam. Sepertinya ia menyadari bahwa dirinya telah salah paham.

"Luhan, ini istriku yang aku ceritakan tadi, Tao" Kris memperkenalkan.

Luhan melepaskan genggamannya pada Sehun lalu membungkuk sedikit, "Annyeong Tao-ssi, kau sangat cantik" puji Luhan.

"Terima kasih Luhan-ssi, kau juga cantik," Tao tersenyum malu. Luhan tertawa melihat betapa imutnya istri dari laki-laki yang dahulu menyukainya itu. "Kris sering membicarakan tentangmu," ucap Tao.

Luhan tersenyum canggung, untuk apa Kris menceritakan tentangnya?

"Tentu saja, Luhan adalah 'temanku'," ucap Kris, ia sengaja menekankan kata 'temanku' dan sambil menatap Sehun tajam.

"Aku rasa kami akan pulang. Maafkan hanya bisa menyapamu sebentar Lu," pamit Kris. Ia benar-benar menghiraukan Sehun ternyata.

"Ne, Kris gwaenchanha. Hati-hati di jalan. Sampai berjumpa lagi Tao-ssi,"

"Ne. Annyeong Luhan-ssi,"

Kris dan Tao sudah menghilang dari pandangan Luhan. Ia melihat pada Sehun yang masih terdiam. "Sehun-ah," panggil Luhan.

"Hm?"

"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Luhan.

"Lu,"

"Ne?"

"Mianhae," ucap Sehun sambil menatap mata Luhan.

Luhan sepertinya mengerti ke mana tujuan ucapan Sehun. Apa drama ini sudah selesai? Tidak akan ada kesalahpahaman lagi, gumam Luhan dalam hati. Ia tersenyum lalu mengangguk, "kau memang menyebalkan Oh Sehun!" lalu ia mengerucutkan bibirnya.

"Mianhae karena aku mengakui cintaku saat kita berpisah dan.. aku juga tidak mencarimu sekali lagi," ucap Sehun "mianhae, aku benar-benar seperti pecundang"

Luhan menggeleng, "kalau kau ingat, aku juga menyatakan perasaanku padamu," ucap Luhan dan rona merah menghiasi pipinya.

Sehun mengangguk, "aku selalu mengingatnya dan selalu membuatku tersiksa,"

"Wae?" tanya Luhan.

"Karena aku hampir gila untuk mencarimu dan aku hanya sebentar berada di Amerika dan langsung kembali ke Korea tanpa menemukanmu terlebih dahulu," mata Sehun menunjukkan berapa kadar penyesalannya hingga saat ini.

"Mianhae," lirih Luhan. Sehun memandang Luhan bingung. "Sudah membuatmu tersiksa," lanjut Luhan.

"Kalau begitu.." Sehun memegang kedua tangan Luhan lalu menciumnya kedua punggung tangan Luhan bergantian, "Lu, would you be mine?" tanya Sehun, tatapannya langsung tertuju pada mata rusa yang membola lucu itu.

"Se.." Wajah Luhan memerah karena kini Sehun bersimpuh di hadapannya membuat para orang-orang yang melihat mereka tertawa. Tetapi Sehun tidak mempedulikan jika semuanya menatapnya aneh, Luhan menutup wajahnya, jujur saja ini cukup memalukan.

"Bagaimana?" tanya Sehun.

"Berdiri Sehun-ah! Kau membuat semua mata tertuju pada kita!" bisik Luhan, ia tetap menutup wajahnya.

Sehun terkekeh melihat bagaimana merahnya wajah Luhan, "arraseo, aku hanya menggodamu saja,"

"MWO?!" pekik Luhan membuat semua mata menatap mereka terkejut.

"Hahaha.." Sehun tertawa melihat bagaimana reaksi Luhan yang menurutnya lucu. "Arrasseo jangan berteriak disini kalau kau tidak mau kita diseret satpam" Sehun menarik Luhan ke dalam ruang rawat Kai.

"Eh, Kai eodi?" tanya Sehun ketika melihat ruangan Kai kosong.

"Menyelesaikan masalahnya," jawab Luhan cuek. Sehun tersenyum ketika menyadari masalah yang dimaksud Luhan adalah masalah Kai dengan Kyungsoo.

"Kau marah?" tanya Sehun ketika melihat Luhan meninggalkannya begitu saja dan duduk si sofa tanpa melihat ke arahnya.

"Ani!"

"Seram sekali," kekeh Sehun.

"OH SEHUN KAU MENYEBALKAN!"

Sehun tertawa keras membuat Luhan makin menekuk wajahnya. Sehun duduk di samping Luhan lalu menatapnya sedangkan Luhan membuang wajahnya.

"Lu, apa kau sungguh marah?" tanya Sehun, sebenarnya ia menahan tawanya karena tak ingin membuat Luhan semakin mengamuk.

"Lu-"

"AKU MEMBENCI-"

Sekali lagi, dengan seenaknya Sehun mencium bibir Luhan. Itu sukses untuk menghentikan Luhan yang berteriak. Setelah dirasa Luhan tenang, Sehun melepaskan ciumannya dan mengecup bibir Luhan singkat sebelum benar-benar melepaskannya.

"Saranghae Lu," ucap Sehun tersenyum. Luhan hanya mampu terdiam karena mendapat serangan sekaligus tepat di bibir, hati, dan matanya. Air mata Luhan sudah tergenang di pelupuk matanya, sepertinya air itu tidak sabar untuk meluncur ke wajah cantiknya.

"Walaupun yahh ini tidak romantis, tapi.."

Sebelum Sehun menyelesaikan ucapannya, Luhan sudah menabrakkan bibirnya dengan bibir Sehun. "Nado saranghae," balas Luhan. Sehun tersenyum di sela Luhan berbicara. Dengan cepat, Sehun meletakkan tangan kanannya di belakang kepala Luhan dan tangan kirinya menarik pinggang Luhan mendekat padanya. Luhan langsung saja mengalungkan tangannya pada leher laki-laki di hadapannya. Mereka sibuk menyalurkan perasaan mereka dan tidak menyadari bahwa pemilik ruangan itu kembali.

Kedua orang yang baru saja masuk itu terkejut mendapati adegan berbahaya yang membuat mata mereka sedikit sakit (?) haha.

"Yak! Oh Sehun!"

"Xi Luhan!"

Kedua orang itu, Kai dan Kyungsoo berteriak bersamaan menangkap basah sahabatnya. Luhan yang terkejut mendengar suara Kyungsoo segera mendorong Sehun menjauh hingga Sehun hampir terjungkal dari sofa.

"Oh ha..hai hahh Kyung, Kai" sapa Luhan terengah.

"Kau!" Kai menunjuk wajah sahabatnya, "kau gila Oh Sehun!"

"Wae?" Sehun tak terima, "kau iri? Lakukan saja dengan kekasihmu,"

"Mwo?!" pekik Kai dan Kyungsoo berbarengan.

"Lu, kau jadian dengan Sehun?!" heboh Kyungsoo.

"Kau menantangku?" ucap Kai.

Ternyata mereka berteriak bersamaan dengan alasan yang berbeda. Kyungsoo karena terkejut dan Kai karena Sehun meremehkannya.

Luhan dan Sehun hanya diam. Lalu Sehun menggenggam tangan Luhan, "kenalkan, kekasihku, Xi Luhan" ucap Sehun.

Kyungsoo hanya membulatkan matanya begitu juga Kai.

"Kalau begitu,"

CUP

"Kenalkan, kekasihku, Do Kyungsoo" cengir Kai.

Kai mencuri kecup bibir Kyungsoo membuat bola mata mereka bertiga hampir keluar. "Kim Jongin!" pekik Kyungsoo, wajahnya berubah merah membuat Luhan dan Sehun tertawa.

"Jadi, bisakah kalian jelaskan bagaimana kalian berbaikan?" tanya Luhan.

"Bagaimana denganmu?" tanya Kyungsoo.

Akhirnya, mereka berempat duduk dan berbincang bersama membicarakan bagaimana masing-masing dari mereka berbaikan. Di hati mereka masing-masing sangat bersyukur akhirnya mereka berkumpul bersama dan tentu saja.. mereka kembali ke orang yang mereka cintai.

.

.

–Takdir tidak akan berakhir buruk, jika itu buruk maka belum berakhir

Sekalipun berakhir buruk maka percayalah itu adalah jalan menuju hal paling indah–

.

.

.

Seminggu kemudian

Sebuah mobil berhenti di kawasan taman kota yang kini telah dipenuhi oleh warga Seoul yang memilih menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya dengan bertamasya. Hari ini, Luhan dan Sehun mengajak teman-temannya untuk piknik. Cuaca yang sangat mendukung –tidak panas dan tidak hujan.

Mereka mengusulkan untuk terlebih dahulu datang dan mencari tempat yang cocok. Sehun dan Luhan keluar dari mobil setelah memarkirkannya di tempat yang disediakan. Luhan membuka pintu belakang mobil dan mulai mengeluarkan makanan serta perlengkapan piknik mereka.

"Lu, apa saja yang kau buat? Banyak sekali?" keluh Sehun saat Luhan memberikannya 2 keranjang berisi makanan, satu termos minum, dan kantungan berwarna putih yang berisi makanan ringan.

"Aku hanya membuatkan sandwich, kimbab, dan mandu," jawab Luhan santai.

"Sebanyak ini?" tanya Sehun tak percaya.

"Ish kau ini cerewet sekali. Kita akan piknik dengan banyak orang," Luhan menutup pintu mobil sambil membawa tikar kecil yang akan mereka gunakan. Luhan mendahului Sehun yang terlihat kesulitan membawa semua makanan. Satu keranjang masing-masing di tangan kanan dan kirinya, satu kantungan ia gantung di lengan kanannya, dan termos yang ia apit di lengan kirinya.

"Luu" panggil Sehun, ini cukup memalukan diperhatikan banyak orang apalagi kebanyakan tertawa karenanya.

Luhan berbalik dan hampir saja tertawa karena melihat Sehun memerah menahan malu, oh ia sangat imut, pikir Luhan. "Pallii!"

Sehun berdecak sebal karena Luhan tak membantunya dan malah menyuruhnya cepat. Ia sedikit berlari menyetarakan langkahnya dengan Luhan.

"Wae?" tanya Sehun.

"Aku akan membantumu," cengir Luhan lalu mengambil alih satu kerajang makanan dan termos dari Sehun.

"Mengapa tidak sejak tadi," gumam Sehun yang akhirnya bisa bernapas lega.

"Hanya ingin melihatmu kesulitan," kekeh Luhan lalu ia menjulurkan lidahnya dan berjalan cepat mendahului Sehun.

"Ya! Kemari kau rusa!" pekik Sehun lalu berlari berpura-pura akan menangkap Luhan, hal itu membuat Luhan memekik dan berlari menjauhi Sehun.

Kini mereka sudah mendapatkan spot yang bagus untuk piknik, tidak terlalu ramai di sini, tidak terlalu panas, dan dekat dengan danau buatan. Mereka merentangkan tikar dan meletakkan makanan disana.

"Aku masih ada urusan denganmu, nona rusa," ucap Sehun sambil menatap Luhan intens.

"M..mwo?" tanya Luhan berpura-pura.

"Kau tadi mengerjaiku, ya kan?"

"A..ani," Luhan kewalahan sendiri menghadapi tatapan Sehun dan Sehun yang kini semakin mendekat dengannya.

Notifikasi ponsel Luhan menyelamatkannya dari tatapan singa lapar. Sehun menghentikan gerakannya membuat Luhan bernapas lega. Luhan segera mengecek ponselnya dan menghela napas kecewa.

"Wae?" tanya Sehun.

"Kyungsoo memberitahu bahwa mereka tak bisa bergabung. Kai sakit," ucap Luhans sedih.

Diam-diam Sehun tersenyum penuh rahasia, "gwaenchanha Lu, masih ada Baekhyun-Chanyeol dan Suho Hyung-Yixing Noona,"

Luhan mengangguk, "benar–" Luhan menghentikan ucapannya ketika melihat Sehun kembali menatapnya intens.

"A..aku rasa, kita salah spot," ucap Luhan menyadari tempat ini menjadi sepi.

"Ini spot yang bagus Lu," puji Sehun.

Nada dering ponsel Luhan kembali menginterupsi, Bekhyun calling, membuat Sehun tersenyum. "Yeoboseyo,"

"Arrasseo, Baek, gwaenchanha," ucap Luhan lesu.

"Wae?" tanya Sehun pura-pura.

"Baekhyun dan Chanyeol tidak bisa datang karena kedai mereka sangat ramai. Mereka tidak bisa menutupnya,"

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menunggu Suho Hyung dan Yixing Noona sambil makan? Aku lapar Luuu" rengak Sehun seperti anak kecil, ia juga sudah melupakan kegiatannya menatap intens Luhan.

"Baiklah. Luhan mulai membuka tutup keranjangnya dan terlihatlah beberapa makanan yang Luhan buat. Semuanya menggoda iman seorang Oh Sehun (?) hahaha.

"Aaa," Luhan menyodorkan sebuah mandu pada Sehun. Degan cepat Sehun melahap makanan itu tanpa pikir panjang.

"Massitta," puji Sehun. Ia tidak rela makanan ini dibagi pada yang lain. Untung saja sebelumnya Sehun sudah melarang mereka yang Luhan undang untuk datang. Ya, itu memang kerjaan Presdir kita satu ini.

"Ngomong-ngomong, mengapa Suho Oppa belum datang?" tanya Luhan pada Sehun.

Sehun menggeleng. "Hmm, aku akan telepon Suho Hyung kalau begitu," Sehun menawarkan. Luhan mengangguk lesu. Ia sudah tidak bersemangat jika piknik mereka sepi.

"Suho Hyung? Kapan datang?" Sehun terlihat sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana.

"Jongmalyo? Whoa chukhae Hyung, Noona. Kalian tak usah datang… Ya baiklah," Sehun memutuskan sambungan, ia melihat Luhan seperti berharap jawaban.

"Mereka tidak datang. Mereka sedang ada di rumah sakit. Yixing Noona hamil," Sehun memberitahu. Bukan, ini bukan kebohongan, Sehun hanya menyuruh mereka berdua untuk tidak datang, manatahu jika Yixing akan mengalami muntah-muntah dan pusing lalu dibawa ke rumah sakit. Hehehe.

"Whoaa, akhirnya," Luhan tersenyum, ia tidak sadar bahwa air matanya menetes.

"Lu? Mengapa menangis?" tanya Sehun.

"Hah?" Luhan mengusap pipinya yang basah, "aku hanya senang. Melihat seseorang yang akan mendapatkan sebuah anugerah yang Tuhan berikan, mereka akan menjadi sepasang orangtua. Mereka pasti bahagia"

"Kau akan menjadi seperti itu juga Lu, kau akan mejadi eomma yang baik," Sehun membawa Luhan kepelukannya.

"Atau kau ingin memiliki anak sekarang?" bisik Sehun di telinga Luhan membuat Luhan membolakan matanya.

"Yak! OH SEHUN!" pekik Luhan sambil memukul lengan Sehun.

Sehun tertawa, "wae? Wae? Bukankah kau menginginkan menjadi orangtua yang bahagia?" goda Sehun lalu beranjak dari duduknya.

"Aku siap jika kau ingin mejadi eomma sekarang juga,"

"OH SEHUUUUNNN!" Luhan mengejar Sehun siap menghujaninya dengan pukulan-pukulan.

Sehun tertawa sambil berlari, rasanya sangat meyenangkan bisa menggoda Luhan. "LUHANIIEE SARANGHAEE!" teriak Sehun. Luhan mendengarnya sedikit menutup wajahnya malu. Oh Sehun ini memang memalukan! Gerutu Luhan dalam hati, wajahnya merona.

"Sehun merentangkan tangannya lalu terseyum lebar pada Luhan. Luhan menoleh ke kanan dan kiri, apakah ada orang yang memperhatikan mereka. Lalu ia sedikit berlari menghampiri Sehun.

BRUK!
Keduanya teratuh degan Luhan yang berada di atas Sehun. Luhan terdiam, berada di jarak sedekat ini degan Sehun membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Sehun tersenyum lalu membuat Luhan lebih dekat dengannya, bahkan Sehun dapat mendengar bagaimana detak jantung kekasihnya itu.

"Se..Sehun," ucap Luhan tak nyaman. Ia takut Sehun mendengar detak jantungnya. Ia malu, sungguh!

"Tenanglah, dengarkan" bisik Sehun.

Luhan merasakan detak jantung Sehun yang juga berdebar.

"Saranghae," ucap Sehun sambil menatap manik Luhan yang berkilau.

Luhan lemas hanya dengan mendengar ungkapan cinta dari Sehun. Ia menyembunyikan kepalanya di antara perpotongan leher Sehun, "nado," bisik Luhan.

.

.

E.N.D

.

.


-Sehun-

Hari paling membahagiakan menurutku adalah hari saat aku bisa melihat orang yang aku cintai dengan kedua mataku tanpa halangan. Bagaimana perasaannya terhadapku, aku tidak peduli asalkan aku memiliki perasaan cinta untuknya dan aku bisa melihatnya tersenyum. Aku sungguh mencintainya, Luhan, ia adalah cinta pertama dan terakhirku. Cukup untukku mengaguminya selama setahun lamanya, memendam perasaan suka terhadapnya. Merangkai kenangan singkat bersamanya dan merasakan perasaan sukaku tumbuh mecari rasa cinta. Berpisah degannya selama beberapa tahun membuatku semakin mencintainya.


-Luhan-

Laki-laki itu adalah segalanya bagiku. Haya dia yang mampu membuatku berdebar saat didekatnya. Membuatku merasa seperti orang bodoh karena menunggunya. Membuatku seperti wanita jahat karena menyakitinya. Membuatku melemas hanya karena ungkapan cintanya. Sehun.. aku benar-benar mencitainya. Sungguh.


Yeeeyyyy! Akhirnnya cerita yang rada-rada ini selesaii. Udah berapa bulan ini baru selesai huhuhu. Makasi ya semuanya udah mendukung dan suka sama ff ini :') Maaf baru bisa update yang seharusnya dijanjiin kemarin huhu. Laptopnya ngambek kemaren huhu, sekarang pun juga rada ngambek nih huhu.

Gak bisa berkata-kata lagi nih, bingung malah hahaha. Tapi aku bener-bener berterimakasih banget benget beget gomawooo :* saraghaeee 3

Semoga endingnya gak mengecewakan ya semuannya hihihi

Big Thanks to you all:

Arifahohse|CatmanHunDeer|Apink464|Princess Xiao|Seravin509|Oh Jemma|Hannie222|ohjasminxiaolu|KimaHunhan|akaindhe|littlehunhan|sarahachi|chamomille|misslah|kartikaandri15|LuVe94|Baby niz 137|Blossom16|Freez MingTean|Happy2810|Hunhanmeal|LunaKwon|LureeOh|
MbemXiumin|NarulLoveAnime|RealE07ka|candygum7|candyhun|kidsrhan|redmascarpone|xoslzyxhh|justnyaou|nilnachanill112|widi88|yuniaeri0

Maaf apabila ada yang tidak tersebut atau salah tulisan username nya hehehe. Semua reviewers, story followers, dan yang memfavoritkan sudah terlampir di atas (yah biar agak banyak gitu ya kkk) :p makasi kalian sudah merivew dan menmangatikuu yuhuuu :D makasi juga sudah follow dan favorite(-in) ^^

.

Balasan Review:

#LuVe94: Bakalan menikah kok (*tapibayanginsendirigitumaksudnya :p) kkk makasi ya udah nungguin ceritanya :) hihi sama-sama, akan selalu dilestarikan :D

#Princess Xiao: Sipp! Hunhan dah jadian (check) & Kaisoo dah rebes eh beres kesalahpahamannya (check). Makasi udah nungguin sampe akhir :)

#misslah: Okee Hunhan dah dataaangg, apa senang :D hehe makasi dah nungguin cerita sampai akhir ^^

.

Akhir kata..

- Kasi kesan kalian untuk chapter terakhir

- Mau ff baru (?) eh Adventurous Dream aja belum update-update ya kkkk. Tapi gak papaloh penyegaran *nyengir

Slogan kita:

Gamsahamnida *loveforHUNHAN yeayy!

.

.

Sampai jumpa di cerita lainnya dan di "Adventurous Dream!"