"Setiap kamu pergi, aku sakit."
.
Sepuluh
.
.
.
Sore itu studio 4 LTV tengah sibuk-sibuknya. Ada sebuah perhelatan besar petang nanti, bekerja sama dengan sebuah perusahaan belanja online terbesar di Asia Tenggara. Sebuah konser akbar dan pembagian hadiah yang tidak main-main akan disiarkan langsung; mewah. Banyak artis yang akan telibat, lokal, adapula internasional. Hampir keseluruhannya telah rampung, tata panggung, persiapan, semuanya hanya mewakili dua kata; mewah, meriah.
Tapi, 'sibuk' yang Chanyeol temukan ketika memantau acara gladi resik bukanlah jenis sibuk yang dapat membuatnya tenang. Keadaan saat itu ... kacau, tepatnya. Seluruh tim kreatif kalang kabut karena model sekaligus brand ambassador mereka, yang nantinya akan membawakan acara sebagai salah satu host tidak juga diketahui keberadaannya. Tidak ada kabar sama sekali.
"Mana Im Jinah?" Ia bertanya pada penanggung jawab acara, yang menggeleng padanya putus asa.
"Kami masih berusaha menghubunginya, Sajang-nim. Beberapa hari lalu dia telah mengkonfirmasi dia akan datang. Tapi waktu kami menghubunginya lagi tadi pagi, telponnya tidak diangkat. Sekarang bahkan telfonnya mati, dan tidak ada kabar sama sekali. Padahal acara dimulai satu jam lagi."
"Hubungi manajernya."
"Sudah kami coba. Dia juga tidak tahu dan sedang mencari Jinah."
Chanyeol merapatkan bibir. Ia tidak mengenal Jinah satu dua tahun saja. Ia tahu reputasinya. Bagi gadis itu, profesionalitas adalah segalanya, di atas segalanya. Tidak mungkin, ia tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar seperti ini.
Tahu-tahu, mau tidak mau, ada perasaan buruk yang menimpanya.
"Kalau begitu siapkan host pengganti."
"Kita tidak mungkin menemukan pengganti di waktu semepet ini, Sajang-nim!"
Chanyeol menatap karyawannya tajam. Kemarahannya memuncak dengan cepat. "Kau penanggung jawab acara ini. Bagaimana mungkin, kau tidak menyiapkan cadangan? Kalau kau tidak becus bekerja di sini, temui aku di kantor untuk mengambil pesangonmu."
Segera setelah kalimat dingin Chanyeol terserap oleh otaknya, bisa Chanyeol lihat ketakutan yang seketika terpancar di wajah pria tiga puluh lima tahun di depannya. "T-tidak, Sajang-nim. Saya akan menemukan pengganti secepatnya. Acara ini pasti akan berjalan lancar."
"Bagus," Chanyeol mendengus, tidak benar-benar memaknai ucapannya. Perasaan buruk yang mencengkeramnya tidak mau pergi. Ia panik, kepanikan yang menjalari hingga denyut venanya.
"Sambungkan aku pada manager Im Jinah."
.
.
Terjebak kemacetan membuat Chanyeol frustrasi. Kepanikan setelah menerima kabar dari Kim Soohyuk, manager Jinah membuatnya melarikan mobilnya di jalanan secepat yang ia bisa.
Menguap komitmennya untuk tidak pernah menemui gadis itu lagi. Terlupakan janjinya untuk pulang cepat agar dapat makan malam bersama Baekhyun malam ini. Ia ... tidak bisa diam, jika menyangkut Jinah.
"Dia di dalam," Soohyuk membukakan pintu bahkan sebelum Chanyeol menekan bel. Pria itu tampak telah siap untuk pergi, entah kemana.
"Aku ada urusan. Banyak jadwalnya yang harus kucancel dan kuluruskan agar para klien tidak salah paham dan memblacklistnya," jelas pria dengan rambut dicat pirang kekuningan itu. Seolah ia dapat membaca pertanyaan di kepala Chanyeol.
"Bagaimana keadaannya?"
"Aku sudah memanggil dokter dan dia telah diberi obat. Sejak kemarin aku mencoba untuk menghubunginya tapi tidak berhasil," Soohyuk mendesah. "Seharusnya aku mengeceknya sejak kemarin. Demamnya sangat tinggi. Jika aku terlambat sedikit saja mungkin ... entahlah." Sambil tersenyum tipis, pria itu menepuk pelan pundak Chanyeol. "Jaga dia baik-baik, ya. Jinah itu ... paling lemah kalau sedang sakit."
Chanyeol tahu itu. Keras kepala juga. Jinahnya.
Pernah, sekali, ia begitu marah hingga berteriak pada Jinah karena sakit dan tidak memberitahunya. Gadis itu sakit sendirian, demam hebat dan hanya meringkuk seorang diri di kamarnya. Bagaimana mungkin Chanyeol tidak marah melihatnya yang begitu tanpa memberitahu Chanyeol?
Melepaskan sepatunya, Chanyeol berjalan ke kamar tidur. Ada gumpalan besar di bawah selimut, dan Chanyeol mendudukkan diri di sisinya.
"Nana," panggilnya, menyingkap selimut dan menemukan gadis itu tengah tertidur dengan kompres di keningnya. Chanyeol menempelkan ujung jari-jarinya di pipi gadis itu. Panas. Sangat panas. Mau tidak mau mengingatkan Chanyeol pada demam hebat yang pernah gadis itu alami dulu, sewaktu mereka masih kuliah dan tidak ada apa-apa di antara keduanya sebagai pembatas.
Jangan pernah lagi sakit tanpa memberitahuku! Titah Chanyeol saat itu. Jinah menangis dan memeluknya, berjanji ia akan selalu menghubungi Chanyeol ketika ia sakit nantinya.
Dan kali ini, gadis itu melakukannya.
Telpon kemarin. Telpon dari Jinah yang tidak berhenti. Sampai ... sampai Chanyeol memberitahunya untuk berhenti mengganggu.
Dan Jinah yang keras kepala untuk kali pertama menurutinya.
"Maaf," ia meraih tangan gadis itu, mengecupnya berkali-kali. "You should have told me that you are sick!" Ada kemarahan dalam nada suaranya. Kemarahan yang ia alamatkan pada diri sendiri. "I shouldn't have yelled at you."
"I..." suara lemah Jinah membawa pandangan Chanyeol naik, pada matanya yang terbuka dengan sorot sayu. Tidak ada lagi Im Jinah, model internasional dengan kearoganan yang ia bawa-bawa di setiap langkah sepatu tingginya. Dia hanya Jinah, Jinah yang keras kepala, perajuk, gampang sakit. Jinah yang Chanyeol pernah berjanji untuk selalu lindungi.
"I don't want to disturb you anymore," ia bergumam lirih, tampak kelelahan saat melakukannya.
"Nggak. Kamu nggak pernah menggangguku."
"You left me."
"Aku..."
"Setiap kamu pergi, aku sakit, Chanyeol." Jinah menatapnya kini. Matanya yang sembab seolah memohon. Ada sebulir airmata jatuh ke pipinya, dan ini adalah satu dari hitungan jari dimana Chanyeol pernah melihat gadis itu menangis. "Jangan pergi, please."
Chanyeol memejamkan mata. Sepertinya ia tahu apa yang benar-benar harus ia lakukan sekarang. Sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak lama.
.
.
Di luar jendela, hujan turun dengan derasnya. Bahkan di dalam ruangan, yang seharusnya kedap suara, ia masih dapat mendengar kebisingannya. Tapi bukan itu yang membuat Chanyeol tidak bisa duduk diam atau berhenti khawatir sedetik saja.
Bukan hujan itu, atau surat cerai yang ia keluarkan dari laci meja kerjanya dan sekarang ia letakkan di atas konter dapur. Bukan pula Jinah yang saat ini terbaring sakit di apartemennya dan keputusan bulat yang Chanyeol buat.
Baekhyun tidak ada di rumah.
Chanyeol telah mencarinya kemana-mana. Gadis itu tidak berada dimanapun tidak peduli sesering apa Chanyeol memeriksa. Ponselnya tidak dapat dihubungi. Tidak ada teks, atau kabar apapun sama sekali. Chanyeol tidak percaya dirinya dapat diserang panik berkali-kali hari itu. Tapi kali ini, rasanya ... jauh lebih parah.
Karena Baekhyun nyaris tidak pernah keluar rumah tanpa mengatakan padanya. Karena Baekhyun selalu ada di sana setiap Chanyeol pulang, seperti hal yang permanen. Ia khawatir setengah mati. Ia bahkan telah membawa mobilnya berkeliling kota demi mencari gadis itu. Dan nihil.
Bunyi pintu yang dibuka dari luar membuat Chanyeol berhenti dari kegiatannya berjalan mondar-mandir di seluruh ruangan. Ia nyaris melompat menuju ruang depan dan segera melempar napas berat begitu ia menemukan Baekhyun di sana.
Baekhyun pulang. Tidak ada yang lebih melegakan dari hal itu, meski keadaannya sekarang basah kuyup dan menggigil. Air menetes-netes dari ujung mantel selutut miliknya, namun senyum yang ia ulas ... senyum di bibirnya yang membiru ... tidak pernah berubah.
Chanyeol tidak membalasnya, tidak sempat. Ia segera meraih gadis itu dalam pelukannya. Memeluk gadis itu, rasanya seperti melepaskan beban berat dari pundaknya. Meski itu hanya sebentar karena Baekhyun yang mendorongnya menjauh.
Nanti kamu ikut basah! Omelnya. Meski gemetaran, tangannya lihai menirukan gerakan seperti menarik sesuatu ke bawah dengan kedua tangan.
Chanyeol tersenyum. Sejujurnya ia sudah sama basahnya ketika mencari Baekhyun. Seperti orang gila bertanya pada setiap orang yang ia temui apakah mereka melihat istrinya. Tapi ia tidak mengatakannya, tentu saja. Ada yang lebih mendesak untuk dipertanyakan.
"Kamu kemana aja?"
Baekhyun tidak segera menjawab, ia menatap Chanyeol cukup lama. Kemudian ia menadahkan satu tangan dengan ujung jemari di tangan yang lain mengetuk-ngetuk pangkal telapaknya.
Dokter, periksa.
Chanyeol menghebuskan napas berat. Ia ingin bertanya kenapa gadis itu tidak memberitahunya, kenapa tidak mengajaknya. Ia ingin berpura-pura lupa tapi tidak bisa. Ia ingat bagaimana ia membatalkan janjinya pada Baekhyun terakhir kali.
"Kenapa baru pulang?"
Terjebak hujan, jawabnya cepat, memosisikan kedua telapak tangannya di sisi kiri atas telinga lalu menyeretnya horisontal, menirukan 'hujan'.
Gadis itu mengatupkan bibir, gigi-giginya mulai bergemeletuk.
"Tunggu sebentar. Aku ambil handuk dan siapin air panas. Habis itu langsung mandi, ya?"
Baekhyun menurut saja kali ini. Ia mandi dengan cepat sehingga baru Chanyeol selesai membuatkan segelas susu hangat dan membawakannya ke atas, gadis itu telah keluar kamar mandi dengan handuk di atas kepala. Ia telah berpakaian, hanya mengenakan celana pendek dipadu kaus kebesaran yang Chanyeol tahu milik siapa dan bukannya piyama. Baekhyun bilang, pemborosan untuk membeli mahal-mahal baju hanya untuk tidur, lebih baik yang nyaman, seperti ... kaos Chanyeol yang sudah tidak pria itu pakai.
Chanyeol tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Lantas, apa yang gadis itu sering beli secara bulanan, yang terbukti dengan paket-paket yang sering mampir jika bukan baju-baju? Dasar wanita.
Berjalan ke arah Baekhyun yang membelakanginya, ia lalu meraih handuknya dan mengambil alih mengeringkan rambut gadis itu. Sesaat, Chanyeol dapat merasakan Baekhyun menegang, seolah ia tidak bernapas. Tidak lama, karena berikutnya Baekhyun memejamkan mata, menikmati perlakuan yang ia dapatkan. Membuat Chanyeol mendengus kecil. Ia meraih pipi gadis itu dengan kanannya dan menelengkan kepala, membuat mereka berhadapan dalam jarak yang dekat. Dari jarak ini, ia dapat membaui aroma sabun Baekhyun, aroma shampoonya, pasta giginya, dan ... napasnya yang hangat.
"Sudah makan?"
Tersenyum lagi. Baekhyun mengangguk mantap.
"Kalo gitu habis ini langsung minum susunya, lalu tidur."
Ia melanjutnya kegiatannya, mengusak-usak rambut Baekhyun yang sudah setengah kering dengan lembut, dengan lambat-lambat. Seolah-olah ia tidak ingin mengakhiri ini segera. Seolah-olah ia ingin berada dalam keadaan ini sedikit lebih lama.
Dan Baekhyun yang tersenyum kecil dengan mata terpejam tidak menolong sama sekali.
Chanyeol tertawa tanpa suara. Lucu. Jika Chanyeol tidak tahu apa-apa, ia pasti telah berpikir ia jatuh cinta pada Byun Baekhyun.
.
.
Chanyeol terbangun jauh lebih pagi dari biasanya oleh kepengapan luar biasa. Di ambang kesadarannya, ia penasaran kenapa Baekhyun tidak menyalakan air conditioner seperti biasa. Gadis itu, paling tidak bisa kepanasan, atau ia akan tidur dengan biji-biji peluh bercucuran. Namun ketika Chanyeol mengucek matanya sekali dan berhasil menguapkan sebagian kantuknya, ia menemukan sisian ranjang di sampingnya kosong. Dan dingin.
Ia tidak bermaksud untuk bersegera bersiap ke kantor. Dan ia tahu ia tidak bisa kembali tidur, entah bagaimana. Perasaan gamang yang menyergapnya tadi malam kembali. Terlalu tenang. Keadaan mereka terlalu tenang.
Seperti ketenangan sebelum badai.
Lalu ia menemukan jawabannya di atas meja nakas di samping tempat tidur, sebagian ujungnya ditindih lampu meja. Chanyeol tidak perlu membukanya untuk tahu apa map yang ia tarik dan sekarang berada di tangannya. Ia tidak perlu memeriksa isi surat perceraian mereka. Tapi ... ia melakukannya.
Baekhyun telah menandatanganinya.
.
.
Kesunyian yang tercipta rasanya mencekik, membuat Chanyeol kesulitan untuk fokus pada jalanan di depannya. Tidak ada musik. Tidak ada suara. Tidak ada jemar-jemari Baekhyun yang menyanyi dengan caranya sendiri.
Sunyi.
Tadi pagi Baekhyun masih melakukan segalanya seperti biasa; menyambutnya dengan selamat pagi, sarapan, kopi, pakaian yang telah ia siapkan dan setrika rapi. Hanya saja, yang mengganggu pandangan Chanyeol adalah penampilan gadis itu; rambutnya yang dianyam rapi di belakang kepala, dress selutut berwarna biru malam. Ia tampak seolah akan pergi jauh. Sangat jauh. Dan Chanyeol bahkan tidak perlu bertanya kemana.
Bisa ..., gadis itu memulai. Bisa antar aku pulang ke rumah?
Pada kata 'pulang', Chanyeol memahaminya. Hanya saja, aneh rasanya mengingat pulang adalah kata yang biasanya Baekhyun gunakan untuk rumah ini, di sini. Lalu semuanya berubah hanya karena selembar kertas.
Chanyeol hanya meneruskan makannya tanpa menjawab. Kediamannya cukup. Mereka tidak lagi bertukar interaksi apa-apa hingga usai sarapan, Chanyeol membatalkan segala kegiatannya di kantor pagi itu, lalu menyetir sendiri menuju Bucheon.
Mengantar Baekhyun pulang.
Selain menatap ujung-ujung kukunya sesekali, Baekhyun diam saja sambil memandang ke luar jendela, memperhatikan pepohonan yang seolah berlari ke belakang, lalu mengabur di ujung jalan. Tidak ada patah kata yang gadis itu ucapkan. Tidak ada tanda-tanda yang dapat dibaca dari wajahnya. Untuk itu, Chanyeol tidak tahu harus bersyukur atau sebaliknya. Karena ... seandainya Baekhyun mengatakan perubahan pikirannya, seandainya ia membuat gestur yang menyatakan keraguannya, niscaya Chanyeol akan memutar arah sekarang juga dan membawa gadis itu pulang.
Tapi Baekhyun diam saja dan keheningan yang tercipta kian menyiksa hingga tahu-tahu, mereka sudah tiba di tujuan.
Chanyeol memarkirkan Lexus hitam metalik miliknya di bawah pohon akasia rindang tepat di depan rumah yang familiar baginya. Di depan rumah ini, ia menjemput Baekhyun tiga tahun silam, dan sekarang mengantarnya kembali. Rumah yang ia kunjungi secara tahunan selama liburan singkat. Rumah yang, samar-samar di ingatan masa mudanya, pernah ia masuki, memetik setangkai mawar dari kebunnya, lalu memberikannya pada seseorang. Seseorang yang tidak ia ingat.
Tidak ingin larut pada pikiran masa lalu, Chanyeol bersegera turun lalu membukakan pintu. Ia kemudian membuka garasi untuk menurunkan tas yang gadis itu bawa. Baekhyun tidak membawa banyak, hanya satu buah tas berukuran sedang. Gadis itu lebih dulu masuk, dan berdiri di depan pagar kayu tua berpagar semak ivy di depannya, Chanyeol tidak tahu apa yang harus ia katakan pada orangtua Baekhyun nantinya.
Di luar dugaan ia disambut dengan ramah. Ayah Baekhyun hanya menepuk punggungnya dan tersenyum tipis, memberi wejangan-wejangan untuk bisnis dan kesehatan, tapi tidak berkomentar apa-apa soal Baekhyun. Ibunya, telah cukup lama tidak ada.
Ia pamit tidak lama. Baekhyun mengantarnya hingga gerbang dan di sana, mereka berdiri, berjarak lima langkah jauhnya.
"Well," Chanyeol merasakan kata berikutnya tercekat di kerongkongannya. Ucapan 'selamat tinggal' yang ia persiapkan sejak lama.
Jaga diri, Baekhyun memotongnya. Ia mengetuk jarinya yang membentuk huruf K dua kali. Lalu melanjutkan, aku memasak banyak tadi pagi, kusimpan di kulkas. Kamu bisa panasi nanti kalau mau makan. Atau kalau tidak suka, pesan saja, jangan makan makanan instan. Baju untuk hari senin sampai hari jum'at sudah kususun. Dasi ada di rak paling atas, kemeja di bawahnya, lalu celana paling bawah, kamu nggak akan sulit mencarinya.
Awalnya, gerakan gadis itu pelan. Lalu semakin cepat. Dan semakin cepat.
Aku sudah menghubungi seseorang untuk membersihkan rumah tiap akhir pekan, sudah dibayar di muka selama enam bulan. Alarm sudah kuset, tolong jangan bangun terlambat. Kalau-kalau kamu mencari mug kopi yang biasa kamu pakai untuk minum, kutaruh di atas lemari dapur paling kanan.
Jemari kurus itu bergerak cepat. Chanyeol tidak mungkin dapat menangkapnya, dan Baekhyun tahu itu. Namun itu tidak menghentikannya. Ada banyak ... ada banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan, selama ini mengendap di palung hatinya.
Sepatu sudah kucuci dan semir. Kamu punya satu lemari penuh, tidak perlu beli yang baru. Dan, oh, jangan lupa. Jika kamu pakai kemeja, jangan pakai dasi merah atau sebaliknya. Pakailah warna yang mirip. Jangan lupa mematikan televisi kalau kamu mau tidur.
Chanyeol mengambil satu langkah mendekat. Ia ingin gadis itu berhenti. Ia butuh gadis itu berhenti. Karena rasanya sesak, panas di matanya.
Dan Baekhyun, sama buruknya. Tangannya yang tampak rapuh gemetar di udara. Tapi ia tidak berhenti. Kali ini ia mengambil jeda, lalu, sambil menatap Chanyeol tepat di kedua manik mata hitamnya, Baekhyun menggerakkan tangannya pelan.
Ia menunjuk dadanya, lalu mendekap dirinya sendiri sebelum mengarahkan telunjuknya pada Chanyeol. Bibir gadis itu tersenyum, tapi matanya ... ada sebulir airmata yang jatuh dari sana.
Untuk pertama kalinya, Chanyeol tidak pernah merasa semenyesal ini untuk tidak mempelajari bahasa yang sama dengan yang Baekhyun gunakan.
.
.
.
A/N: Yang terakhir, ada maknanya. Dalam. Tapi aku tidak akan memberitahu sekarang. Kalian bisa tebak sendiri xD Chanyeol masih nyebelin seperti biasanya, ya. Tapi, seenggaknya mereka udah pisah.
PS: Makasih respons baiknya! Jadi nggak sia-sia nulis satu part berhari-hari sampai tiga kali nulis, kan.
