Disclaimer: I don't own anything here. All belongs to JK Rowling, Warner Bros, EA Games, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
.
Seminggu setelah mereka berdua dilepaskan dari Rumah Sakit, Harry dan Hermione menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya. Masuk kelas, duduk, menyalin tulisan di papan tulis, mencoba mantra (mereka selalu berhasil dalam percobaan pertama, bersama Lily dan Remus, serta beberapa Ravenclaw), mendapat PR, pergi ke perpustakaan untuk mengerjakannya. Oh ya, juga jangan lupa dengan aktivitas pagi yang biasa mereka lakukan sebelum sarapan.
Setelah Pertempuran Hogsmeade, mereka berdua menjadi semakin terkenal. Para murid kagum akan mereka, bisa bertarung melawan para pengikut Penyihir Hitam yang baru, dan juga mengalahkan beberapa raksasa. Harry dan Hermione, tentu saja merendah. Tetapi beberapa orang justru semakin menyorotkan lampu sorot ke mereka. Di antaranya, kesaksian beberapa Profesor yang menyatakan telah menyaksikan 'Sebuah Sumber Cahaya Putih, yang bersinar begitu terangnya hingga menerangi seluruh langit dari ujung horizon ke ujung horizon lainnya. Belum lagi fakta bahwa ribuan Dementor dan awan gelap yang tadinya menutupi langit menghilang begitu saja setelah cahay putih tersebut menyala, yang berarti hanya bisa satu kesimpulan: Benda itu Patronus. Profesor Sinistra telah menyatakan bahwa dia menangkap seklias wujud Burung Elang, dengan sayapnya yang sangat lebar, menutupi Hogsmeade, bercahaya perak. Mcgonagall, Flitwick, dan Slughorn telah menyatakan melihatnya juga, lebih jelas. Spinnet yang akhirnya memberitahu mereka semua bahwa dia melihat wujud Hippogriff, Patronus Tesla dan Leroy. Bahkan Dumbledore pun terpana mendengar ini.
Belum lagi beberapa Penghuni Hogmeade, yang akhirnya diperbolehkan kembali ke desa mereka, dan menemukan keadaannya hancur lebur. Pukulan paling telak adalah bahwa toko Zonko rata dengan tanah, dan Three Broomstick lenyap. Tidak ada puing-puingnya yang tersisa. Yang akhirnya menemukannya adalah Beberapa anak kelas tiga, yang menemukan permainan menarik, yaitu: jalan-jalan dengan raksasa batu. Salah satu dari mereka naik di punggung Raksasa Hermione, dan melihat papan batu bertuliskan 'Three Broomstick' di bagian punggungnya. Dumbledore membuat Harry dan Hermione merasa bersalah, dia membayar ganti rugi atas pembangunan kembali Three Broomstick, karena di zaman ini Harry dan Hermione tidak mempunyai uang sama sekali.
Fakta bahwa empat raksasa batu tersebut masih bergerak, yang menandakan bahwa mantra animasi tidak menunjukkan tanda-tanda melemah, membuat banyak orang makin terkagum-kagum. Profesor Mcgonagall menepati kata-katanya, dan menghadiahi mereka berdua seratus poin masing-masing atas kehebatan mereka dalam pertempuran, dua puluh lagi untuk Hermione karena raksasa batunya lebih bagus (Harry mengeluh), dan ditambah seratus lima puluh dari Dumbledore untuk mereka masing-masing, lima puluh dari Slughorn untuk Hermione karena telah menyelamatkannya, lima puluh dari Mcgonagall lagi karena membantunya melawan Pelahap Maut, dan terakhir seratus lima puluh untuk mereka masing-masing, membuat Gryffindor dan Ravenclaw memimpin sangat jauh dalam Piala Asrama, dengan selang empat ratus lima puluh dari Hufflepuff. Tentu saja, Slughorn, Mcgonagall, dan Spinnet memberi mereka poin secara pribadi, tidak seperti Dumbledore yang mengumumkannya di Aula Besar.
Beberapa Gryffindor melihat dengan kagum bahwa poin mereka sudah hampir mencapai enam ratus lima puluh, padahal musim Quidditch belum dimulai. Ravenclaw masih memimpin dengan enam ratus tujuh puluh poin, hal yang tidak mengagetkan bagi Harry. Hermione menjawab semua pertanyaan dalam setiap pelajaran dengan selalu sempurna, mendapat minimal sepuluh poin per hari, menjadikannya mesin poin paling efisien untuk Ravenclaw.
Bagaimanapun juga, saat hari Rabu tiba, dan Ujian Akhir untuk Periode Musim Gugur sudah selesai seluruhnya, Harry menikmati perbincangan seru tentang Pertandingan Quidditch yang akan diselenggarakan hari Sabtu besok. Ayahnya, James, akan main sebagai Chaser, dan Sirius sebagai Beater. Harry baru mengetahui bahwa Sirius adalah Tim Quidditch juga. Ayahnya adalah kapten. Selain James dan Sirius, Tim Quidditch Gryffindor terdiri dari Frank, Keeper, Emmeline, seorang murid kelas tiga, sebagai Chaser, Helena, murid kelas tiga juga, sebagai Chaser, Nicholas, seorang murid kelas tujuh berbadan lebar dan tegap, sebagai Beater, dan terakhir, Tobias, murid kelas enam dan teman sekamar Frank, sebagai Seeker.
Yang Harry ketahui bahwa Tobias adalah Seeker yang brilian, tapi bukan yang terhebat. Dalam delapan pertandingan yang diikutinya, dia kalah dalam perburuan Snitch sebanyak tiga kali, dua dari Ravenclaw dan satu dari Slytherin. Ajaibnya, sejak James menjadi Chaser, Gryffindor merubah polanya menjadi All-Out-Quaffle-Hunter, Pemburu Quaffle. Terutama setelah Emmeline dan Helena masuk ke Tim tahun lalu, Tim Gryffindor bermain dengan Quaffle bagai bernafas, Frank mampu menjaga gawang dengan menakjubkan, dengan rekor selama musim kemarin, tidak kebobolan satu kali pun. Sirius menganggap memukul Bludger sebagai lelucon, memukul-mukulnya sekuat tenaga ke target-target tertentu, dan kadang absurd namun efektif, seperti ujung sapu. Nicholas, walaupun terlihat paling kalem dari seluruh tim, ternyata, berdasar yang Harry dengar, beringas. Harry tidak mengetahui maksudnya, tapi dia berpikir akan menontonnya nanti.
Dan sekarang Harry duduk dengan tenang di Aula Besar untuk makan malam. Di tahun ini masih sangat jarang orang memakai T-Shirt. Jadi, sesuai saran Hermione, Harry memakai Sweater sederhana yang dibelinya di toko Muggle saat Musim Panas kemarin. Harry mengambil puding cokelat banyak-banyak, yang sudah ditetapkannya sebagai makanan favoritnya di zaman ini. Dia mengambil delapan potong sekaligus, dan menatanya di piringnya. Harry tidak seliar Ron kalau makan, tapi Hermione selalu menatapnya mencela setiap kali melihatnya mengambil puding banyak-banyak. Harry memikirkan Hermione lagi, dan mengecek meja Ravenclaw. Hermione sedang duduk di sana, mengobrol dengan beberapa temannya. Harry terseyum melihatnya tertawa-tawa. Dia selalu senang melihatnya tersenyum.
Dan seseorang duduk di hadapannya, memblokir Hermione dari pandangannya.
Harry mengeluh keras-keras, dan orang di depannya mengangkat alisnya. Harry melihatnya lebih jelas, dan mengenalnya: Alice.
Alice masih mengangkat alisnya, dan dia menoleh ke belakangnya, mencoba mencari tahu apa yang dari tadi dilihat Ivan. Dan jelas, dalam jarak garis lurus dari situ, Jean Leroy terlihat sedang tersenyum riang, mengobrol dengan teman-temannya.
Alice menahan tawa, dan berkata, "Aku menghalangi pemandangan?" ke Harry.
Harry menggaruk lehernya, wajahnya memerah. Alice tertawa kecil, dan berkata, "Sepertinya kamu benar-benar naksir gila sama dia ya?"
"Oh, diamlah," kata Harry. Dia melanjutkan memakan pudingnya, sedangkan Alice mengambil beberapa kentang goreng dan ayam. Mereka makan dengan diam, dan Harry dengan bersemangat mengambil lagi tiga puding. Alice mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu suka sekali puding," kata Alice.
"Yup, aku suka. Entah kenapa, dulu aku tidak begitu sesuka ini. Kupikir puding di tahun ini benar-benar enak," ujar Harry. Tapi Alice mengangkat sebelah lagi alisnya.
"Tahun ini? Kamu kan baru ada di sini setengah tahun?" tanyanya.
Harry sekuat tenaga berhasil menahan diri agar tidak tersedak. Dia berkata, "Um, maksudku, di tahun-tahunku sebelumnya di Durmstrang."
Alice menurunkan kedua alisnya, dan Harry nyaris menghela nafas lega panjang-panjang, tapi berhasil ditahannya. Alice berkata, "Well, kupikir Durmstrang tak menyediakan puding selezat di sini, ya."
Harry mengangguk. Kenyataannya adalah, puding di zamannya tak seenak puding di zaman ini. Harry menyadari bahwa dirinya sedang membandingkan puding sekarang dengan puding di masa depan, yang mana puding di masa depan sudah dia rasakan dengan lidahnya, sedangkan di waktu ini puding tersebut bahkan belum dibuat, dan lidahnya di tahun ini juga belum jadi, heck, orang tuanya saja belum jadian di sini.
Paradoks lagi, pikir Harry. Aku kebanyakan mikir, pengaruh dari Hermione…
"Ivan?" tanya Alice. "Ada apa? Apa ada masalah?"
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Harry cepat-cepat.
Alice mengedikkan kepalanya. Dia berkata lagi, "Aku tahu aku bukan Jean, tapi aku temanmu, dan kamu bisa cerita apa saja padaku. Jangan khawatir, aku memang salah satu mesin gosip," Alice nyengir, dan Harry tersenyum kecil, "Tapi rahasia teman-temanku tidak ada yang kugosipkan, kok."
Harry nyengir sedikit, dan mendapat ide, dia bertanya, "Coba, kamu pernah tidak menggosipkan kalau Lily menyukai James?"
Alice mengerutkan dahinya, dan menjawab, "Tidak, tidak pernah. Kenapa-" Dia membelalak, sadar akan jebakan dari Harry. Harry tertawa. "-Oh, aku mengerti, pintar, pintar sekali, Ivan," ujar Alice, pura-pura cemberut.
"Jadi," mulai Harry lagi, "Sejak kapan Lily menyukai James? Dan kenapa dia tidak pernah menerimanya saja?"
Alice tertawa pelan, dan menjawab, "Ivan, Lily tidak menyukai James, tahu. Yah, mungkin harusnya suka, sih. Siapa, coba, yang tidak suka pria ganteng, pintar, jago Quidditch, seperti James…." Dan mata Alice menerawang, Harry mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dia mengenali wajah ini, dan memutuskan mengintervensi. Dia menepukkan kedua tangannya di depan wajah Alice, menyadarkannya.
Harry nyengir, dan berkata enteng, "Sori. Ada nyamuk."
Alice melempar buah anggur kecil ke muka Harry, yang ditangkap Harry dengan tangkas dengan sebelah tangan. Harry berkata, "Jangan bilang kamu pernah suka sama James."
Alice memerah, dan menjawab, "M-Mau gimana lagi? Aku cuma remaja kecil waktu itu, dan James begitu-memukau-"
Harry tersedak. Ibu Neville pernah menyukai Ayahnya… Apa kata Neville kalau dia mengetahui hal ini?
Alice masih berceloteh tentang alasan-alasan mengapa James keren, dan wajar untuk ditaksir. Harry membiarkannya sebentar, memakan pudingnya yang terakhir. Begitu selesai menelannya, Harry melihat dia masih berceloteh, dan akhirnya bertepuk tangan lagi di depan wajahnya. Alice sadar lagi, dan kali ini melempar dua buah anggur. Harry menangkap keduanya, nyengir.
Alice cemberut, sebelum mukanya kembali seperti semula, dan ekspresi wajahnya tak terbaca. Dia mengambil dua anggur lagi, yang dilemparkannya ke wajah Harry. Harry menangkap keduanya dengan satu tangan beruntun, dan mata Alice melebar. Dia mengambil tiga buah anggur lagi, melempar-lemparnya ke wajah Harry. Harry menangkapnya dengan tangan kirinya, dan terakhir Alice melempar buah apel ke sebelah kanan Harry, agak jauh dari tubuhnya, namun Harry masih menangkapnya dengan merentangkan tangan kanannya.
Harry mengerutkan dahinya, dalam hati bingung akan apa yang menimpa kepala Alice. Alice masih mengamatinya dengan mata lebar. Harry mengembalikan semua buah yang ditangkapnya ke mangkuk, dan menatapnya. Dia mengambil kesimpulan mungkin Alice kesal dengannya, dan melampiaskannya ke buah-buahan.
Harry berdeham, dan berkata, "Oke, Alice, aku minta maaf. Aku harusnya tidak menyinggung hal-hal pribadi seperti itu, ya. Kamu punya semua hak untuk marah, tapi jangan dengan melemparkan buah-buahan ke wajahku, dong. Aku minta maaf, oke?" dia menjulurkan tangannya.
Alice menggeleng pelan, masih memandanginya, dan Harry mulai agak khawatir. Alice berkata, "Ternyata yang dikatakan anak-anak benar."
"Er-tentang apa?" tanya Harry ragu-ragu.
"Berapa kali kamu bermain Quidditch di sini?" tanyanya.
"Satu kali, beberapa minggu lalu. Kenapa?" tanya Harry.
"Kamu menangkap Snitch berkali-kali?"
"Yeah," jawab Harry.
Alice mengangguk. "Kamu tahu, refleks dan kemampuan menangkapmu hebat. Matamu tajam, dan instingmu kuat. Benar-benar ciri-ciri Seeker."
Harry mengangguk perlahan, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
Alice bertanya, "Kenapa kamu tidak mendaftar jadi Tim Gryffindor? Kita bisa tak terkalahkan dengan ini. Kita sudah luar biasa dalam penguasaan Quaffle, Bludger. Kalau kamu masuk, kita bisa dipastikan bisa menang telak terus."
Harry membelalak, dan akhirnya tertawa pelan. Dia menjawab, "Makasih, Alice. Aku sangat suka terbang. Tapi, sepertinya di sini" –di zaman ini, pikir Harry – "Quidditch tidak begitu menarik untukku."
Alice mengerutkan dahinya, bertanya, "Kenapa?"
Harry menarik nafas, dan menjawab, "Banyak hal yang tidak bisa kuceritakan padamu, Alice," karena berbahaya, pikir Harry.
"Karena berbahaya jika aku mengetahuinya," sambung Alice pelan.
Harry nyaris tersedak dan terjungkal. Alice ternyata menyadari reaksinya, dan melanjutkan, "Dan kutebak berbahaya untukku-" Harry mau pingsan "-jika aku mengetahuinya kan?"
Harry masih diam. Alice melanjutkan dengan nada mengobrol, "Kamu bukan murid Durmstrang biasa kan? Dan Jean juga bukan murid Beauxbatons biasa kan?"
Harry masih diam. Alice berkata lagi, "Sehebat apapun Durmstrang dan Beauxbatons, sangat tidak wajar dua orang dengan kekuatan Patronus sebesar kalian, kemampuan duel sehebat kalian, sampai bisa meladeni Penyihir Hitam yang ini, plus pengikutnya pula, bisa dipindah ke sini begitu saja. Bersamaan, dan suka satu sama lain pula."
Harry mulai menganga sedikit. Alice melanjutkan, mendekatkan kepalanya ke Harry, "Kalian dikirim ke sini, bukan dipindah. Kalian tidak punya keluarga atau teman di luar. Kalian tidak pernah mengirim surat burung hantu pada siapapun. Kalian bahkan mungkin bukan dari Durmstrang dan Beauxbatons.
"Kalian dalam misi," tuntas Alice.
Mata Harry melebar. Dia memandang ngeri Alice, dan dia menyadari dengan ngeri bahaya Legillimency. Mata Alice memandangnya tajam, seperti tatapan tajam Dumbledore. Terfokus. Harry panik, berusaha mengingat pelajaran Occlumency dari Dumbledore, dan berusaha sekuat tenaga mengosongkan pikirannya, mendorong semua emosi, berusaha tenang –
"Tidak semua orang bisa membaca pikiranmu, tenanglah," kata Alice. Dia tersenyum sedikit melihat Harry gelisah dan mulai berkeringat dingin. Harry dengan bodohnya tergagap, "Bagai-bagaimana-"
"-teman-temanku mengatakan bahwa aku selalu tahu pikiran mereka, dan aku beberapa kali dianggap Legillimens. Di sini, aku dengan bangga mengatakan padamu, aku tidak bisa membaca pikiran. Aku hanya memiliki daya tangkap sangat tinggi, Ivan."
Alice menarik nafas, dan membungkukkan badannya, mendekatkan kepalanya ke Harry, dan Harry mengikuti. Kepala mereka beradu, dan Alice berbisik, "Aku telah mengamati kalian berdua sejak lama… Aku tahu kalian setiap pagi bangun sangat pagi, dan berjalan-jalan dan berciuman di tepi danau. Aku tahu ekspresimu selalu berubah setiap kali sebelum kalian berdua mengobrol dengan bahasa aneh."
Harry menahan nafas.
"Misi apapun ini, mengaitkan Dumbledore kan? Aku menyadari kalian bertiga sering melewati koridor menuju kantornya. Tadinya aku curiga pada kalian berdua. Tapi melihat kalian bersama Dumbledore, dan apa yang telah kalian lakukan pada kami, melindungi dan menyelamatkan kami semua, bisa kuambil kesimpulan bahwa kalian tidak bertujuan melukai kami. Kalian ingin melindungi kami.
"Aku melihat matamu, Ivan," kata Alice, "Matamu tidak bisa berbohong. Aku melihat kepedulian yang sangat besar darimu untukku, untuk Frank, Lily, Mary, Mark, dan bahkan Marauders."
Alice menegakkan diri, bersandar di sikunya, dan Harry menegakkan diri perlahan. Alice tersenyum perlahan hingga lebar, dan berkata lagi, "Kamu bisa mengatakan bahwa berkat bakatku ini aku bisa membaca sebagian besar orang bagai buku terbuka. Makanya aku bisa tahu sebagian besar hal yang terjadi di kastil, dan jadi mesin gosip. Kupikir itu sangat lucu.
"Bakatku ini baru muncul penuh saat aku kelas empat. Alias, tahun lalu. Makanya, tadi kubilang kan, wajar dong aku sempet suka sama James Potter. Habis, aku masih remaja kecil waktu itu kan?"
Harry tersenyum kecil. Dia tidak bisa menahannya, Alice Carrol, ibu Neville, ternyata jauh lebih sensitif dan berdaya amat sangat tinggi. Harry makin memandangnya tinggi, dan rasa hormatnya padanya makin besar. Harry sekarang tahu mengapa Neville bisa sesensitif itu.
Alice nyengir lebar, dan berkata lagi, "Jangan khawatir, aku sudah mengatakan padamu dari awal, aku tidak akan membongkar rahasia temanku, apalagi menggosipkannya."
Harry menghela nafas yang tidak sadar dari tadi ditahannya, dan Alice tertawa. Harry memandangnya bingung, dan Alice di sela-sela tawanya berkata, "OH- ha-harusnya kamu melihat wajahmu tadi! Luar biasa!" Dan dia tertawa sampai membungkuk, meletakkan kepalanya di atas meja, dan membentur-benturkannya.
"Hum," kata Harry, "Kupikir kamu menganggap semua bakatmu ini asset berharga, ya. Yap. Aku bayangkan bagaimana wajah orang-orang yang kamu bongkar semua rahasianya di depan mukanya! Brilian! Mukanya pasti lucu! Bada bing!" Ujar Harry sambil memasang wajah badutnya. Ini hanya membuat Alice tertawa lagi.
"Memangnya wajahku selucu itu apa?" tanya Harry, cemberut.
Alice tersedak, dan terbatuk-batuk. Matanya berair. "YUP!" katanya. Alice nyengir lebar, dan Harry tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya ikut-ikutan nyengir. Alice mempunyai kemampuan membuat orang tersenyum melebihi kekuatan Jampi Jenaka. Cengirannya menulari orang lain, tarikan kulit-kulit dan bahkan garis-garis di wajahnya sempurna membentuk senyuman. Menyadari Harry memandanginya terus, Alice tersenyum nakal, menyampirkan rambut pirangnya dari wajahnya. Dia berkata, "Hati-hati, lho. Aku sudah ada yang punya," ejeknya.
Harry menjulurkan lidahnya seperti anak kecil, dan Alice tertawa lagi. Semua ketegangan yang tadi didapatnya dari pembongkaran besar-besaran oleh Alice lenyap begitu saja. Beberapa anak Gryffindor yang ada di dekat mereka menoleh, memandangi mereka, ingin tahu apa gerangan hal yang begitu lucu baru saja terjadi. Alice mendapatkan nafasnya, dan berkata ke Harry, "Um. Sepertinya ini bukan tempat yang bagus untuk hal aneh-aneh begini. Mau balik ke Ruang Rekreasi?"
"Boleh," jawab Harry, berdiri juga.
Alice berjalan lebih dulu ke pintu, Harry mengikuti di belakangnya. Harry menangkap sekilas wajah Hermione, dan Hermione melakukan gerakan tangan menanyakan apakah Harry masih waras. Harry memutar bola matanya. Hermione nyengir.
Harry berjalan bersama Alice menaiki tangga. Dan, seperti biasa, Alice yang lebih dulu memulai pembicaraan.
"Ivan, aku mau tanya satu hal lagi." Katanya.
Harry menoleh, dan menatapnya. Alice juga menatapnya, dan dia bertanya, "Aku berbakat dalam membaca orang, tapi jujur, ada satu hal yang beberapa kali menggangguku karena aku tidak bisa membacanya."
Harry mengangkat sebelah alis. Alice menarik nafas, dan melanjutkan, "Aku tidak bisa mengerti tatapanmu pada Lily."
Harry melambatkan langkahnya, dan Alice juga. Akhirnya mereka berhenti di koridor jalan rahasia di balik permadani, di dekat obor. Alice menatapnya penuh, dengan tatapan tajam yang sama. Harry memandangi mata abu-abunya. Pupil mata Alice mengecil, menjadikannya seolah abu-abu total dalam penerangan remang-remang ini.
"Saat pertama kulihat caramu memandangnya, aku hanya bisa menafsirkan satu hal besar: Rasa Sayang," tutur Alice.
Harry tidak menjawab. Dia tahu Alice sudah mendapatkan jawabannya dari matanya. Alice melanjutkan, "Tadinya kamu mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti banyak remaja laki-laki lainnya. Aku benar-benar yakin awalnya, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Seolah… seolah rasa sayangmu sangat dalam, jauh lebih dalam dari semua orang di sekolah ini padanya. Aku belum pernah melihat seorang remaja laki-laki menatap remaja perempuan sebayanya seperti itu.
"Rasa rindu, rasa ingin tahu, bercampur dalam semuanya. Seolah… Hanya ini yang bisa kupikirkan. Seolah…"
Harry masih diam. Dia menunggu semua rahasianya dibongkar Alice. Dia tidak bisa apa-apa di sini. Alice sengaja membawanya ke menara, maksudnya agar bisa menyudutkannya dan membongkar satu hal yang paling dipikirkannya. Alasan mengapa Harry menatap Lily seperti itu.
"… Seolah kamu sudah mengenalnya seumur hidupmu, tapi kamu belum pernah bertemu dengannya," tuntas Alice.
Harry diam, tidak bereaksi, dan Alice juga diam sama sekali. Tapi Harry tahu bahwa matanya sendiri telah menjawab dengan sangat jujur. Dia melihat pupil mata Alice melebar perlahan, penuh kekagetan bahwa dugaannya tepat.
"Kau bukan sahabat penanya," kata Alice.
Masih diam.
"Kau belum pernah berkomunikasi dengannya sebelumnya, dari surat apapun. Kau mengetahui bahwa dia ada, atau dia pernah ada, dan melihatnya lagi menimbulkan kebahagiaan besar bagimu."
Masih diam. Semakin mengerikan.
"Ya, Tuhan," bisik Alice. "Ya, Tuhan…"
Harry memejamkan matanya akhirnya. Entah bagaimana caranya, Alice berhasil mengetahui bahwa Harry adalah anak dari Lily. Harry siap-siap akan tuduhan dan kata-kata Alice, dan mulai menyiapkan cerita yang masuk akal untuk menyangkal, sampai-
"Kau.. kau.. kakaknya yang dulu meninggal?"
Harry membelalak, mulutnya menganga lebar.
"Um! Sepertinya bukan. Yah, aku juga bisa salah lah. Hubungan kalian apa sih? Membingungkan sekali! Kompleks, rumit!" keluh Alice frustasi, mengangkat tangannya ke atas kepala.
Akhirnya, Harry bisa nyengir. Dia menepuk bahu Alice, dan berkata pelan, "Yup, itu Pe-eR untukmu, deh. Cari tahu apa hubungan kami. Oke? Satu hal saja yang kuberi tahu: Aku menyayanginya, ya. Tapi bukan hal yang sama seperti aku dengan Jean."
Harry menarik nafas, dan meletakkan tangan satunya di bahu Alice, dan berkata pelan, "Ada hal-hal yang sebaiknya kusimpan sendiri, Alice. Hal yang bahkan tidak bisa kuceritakan pada Dumbledore, bahkan pada Jean. Aku menyayangi banyak orang, itu paling benar, kuberitahu kamu. Dan, sebagian besar orang tersebut sudah-" Harry menarik nafas lagi, "-tiada, Alice. Hal yang kusimpan ini sangat berbahaya, dan dengan mudah dapat membahayakanmu juga.
"Kalian semua terlalu berharga untuk kubahayakan hidupnya. Kalian masih banyak kesempatan, masih banyak hal yang bisa kalian lakukan. Aku berusaha sekuat tenaga agar minimal kalian aman dan selamat, agar kalian bisa hidup dengan lebih bahagia di masa depan," tutur Harry.
Mereka terdiam. Dari kejauhan terdengar bunyi para murid lain keluar dari Aula Besar, berjalan sepanjang koridor, mengobrol riang. Tidak mengetahui sama sekali akan mereka berdua di sini.
Alice bertanya pelan, "Apa maksudmu, 'lebih bahagia di masa depan'? Apa kau mengetahui masa depan kami?"
Harry menatapnya pelan, dan menggeleng. Tapi Alice sudah dalam kondisi tinggi, dan dia tidak bisa dibohongi dalam kondisi ini. Dia mundur satu langkah.
"Merlin… Kau tahu…" gumam Alice.
Tongkat Pinus Harry meluncur ke tangan kirinya dari sarungnya, yang tersembunyi di lengan panjang Sweaternya. Dia berpikir untuk melancarkan mantra jampi memori pada Alice. Alice sudah terlalu banyak tahu. Sudah tidak aman. Dia sudah mau mengangkat tongkatnya, tapi melihat tongkat Alice juga sudah dikeluarkan di tangan kirinya.
Mereka berdua berdiri di situ, tongkat saling terhunus. Tidak ada yang bergerak sama sekali. Dada mereka naik turun perlahan, secara bersamaan.
Dan mereka bergerak.
"Stupefy", ujar Harry pelan.
"Protego," bisik Alice bersamaan.
Mantra bius Harry, memancar dari ujung tongkatnya, dan dengan kecepatan luar biasa, seperti dalam melawan Voldemort, melaju ke arah Alice. Perisai Alice memantulkannya dengan mudah ke Harry, yang meleset beberapa senti dari wajah Harry, dan menubruk punggung permadani tempat jalan masuk ke koridor tersebut.
Dalam keadaan normal, Harry akan mengagumi refleks Alice, kecepatan mantra biusnya tidak main-main, tetapi bisa ditangkis dengan mudah oleh Alice, padahal jarak antara mereka berdua hanya dua meter.
Kemampuan Alice… hebat. Hanya itu yang dipikirkan Harry.
Harry berkata tenang, dan pelan, "Aku tak mau melawanmu, Alice."
Alice menjawab, "Aku juga."
Mereka berdua diam lagi. Wajah Alice penuh perhitungan, siaga. Mata mereka berdua bertatapan, dan hijau bertemu abu-abu. Alice menatap tajam mata Harry, dan Harry menatapnya balik, penuh kemantapan.
"Semua hal yang sudah kamu ketahui tentang kami berdua, terutama aku, akan sangat membahayakanmu," ujar Harry pelan.
Alice menatapnya terus, dan, tidak disangka oleh Harry, dia tersenyum perlahan. Bukan senyuman penuh canda seperti di Aula Besar tadi, tapi senyuman pengertian.
"Kalau kamu khawatir akan seseorang atau siapapun, mengetahuinya dari aku, nah, aku dengan bangga akan memberitahumu, bahwa sebaiknya jangan terlalu khawatir, Ivan. Aku memiliki kemampuan bagus dalam Occlumency, kalau itu yang kau takutkan. Dumbledore pernah mencobaku saat kelas empat," ujar Alice, masih tersenyum.
Harry membelalak lagi, namun cepat-cepat menetralkan wajahnya.
"Occlumency disebut-sebut sebagai sihir yang sangat sulit, menutup pikiranmu. Itu salah," ujar Alice.
Harry masih menatapnya, dan Alice berkata tenang, "Semua tergantung tekad. Hampir seluruh sihir, seluruh mantra, terutama yang berkaitan dengan pikiran, memerlukan tekad, niat, dan hasrat. Konsentrasi, detail, semuanya hanya tambahan. Kau bertekad agar pikiranmu tidak dibaca, ya sudah. Tidak akan ada yang bisa membaca pikiranmu. Sesederhana itu."
Harry terus menatapnya, tidak percaya akan hal sesederhana itu. Sesederhana itu… dan dia terus-menerus tersiksa akan Occlumency, tidak pernah berhasil menguasainya.
Harry berpikir sejenak bagaimana Ibu Neville bisa sehebat ini. Alice jelas bukan kutu buku, dia mengeluh saat diberi banyak PR, tidak selalu bisa melaksanakan sihir di percobaan pertama, nilainya biasa saja, walaupun termasuk tinggi di kelas, tapi kalah jauh dibandingkan Lily, Remus, para Marauders.
Dan Harry sadar bahwa dia tidak pernah benar-benar mengenal Ibu Neville. Dia tidak mengetahui seperti apa Ibunya. Namun dia berhasil ingat akan kata-kata beberapa orang akan suami-istri Longbottom: Mereka Auror Hebat. Harry tidak mengerti bagaimana orang tua Neville bisa dikalahkan hanya dengan beberapa Pelahap Maut, dan disiksa sampai gila. Namun dia ingat Bellatrix Lestrange, yang kejam dan merupakan lingkar dalam Pelahap Maut. Dia ingat Crouch Jr, yang berhasil mengalahkan Moody dan menguncinya di petinya sendiri selama berbulan-bulan, sementara itu mengelabui Dumbledore. Orang-orang kejam, tetapi juga sakti, dan kuat. Tak kenal ampun.
Alice berdeham, dan berkata, "Apa kamu sudah berhasil kuyakinkan, untuk tidak menghilangkan memoriku ini?"
Harry menarik nafas dalam, dia tidak tahu sebaiknya bagaimana. Dia memutuskan akan bertanya pada Hermione nanti, apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mungkin akan lebih baik jika Hermione yang berbicara pada Alice.
"Baiklah," kata Harry tenang. Dia mengendurkan kuda-kuda duelnya, yang dari tadi ternyata masih dipasangnya. Namun, sebelum mereka berdua sempat bergerak lagi, ada gerakan dan suara-suara dari belokan koridor di belakang Alice. Dan Harry mengenal suara-suara itu.
"… Jadi, Remus, setelah Snivellus dan Slytherin lainnya melangkah memasuki kelas Ramuan, kamu akan – Whoa," ujar Sirius, berhenti berjalan, melihat Harry dan Alice. Peter, Remus, dan James juga berhenti berjalan, memandangi mereka berdua dengan takut dan khawatir. Jelas, menemukan dua orang, satu di antaranya si Pahlawan Baru, dan satunya lagi orang yang harusnya dihitung sebagai Sohib si Pahlawan, saling mengacungkan tongkat, dan memasang kuda-kuda duel, bukan pemandangan setiap hari. Apalagi di koridor rahasia.
Remus berhasil menemukan suaranya lebih dulu, berkata takut-takut, "Apa – apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tidak sedang berduel, kan?"
Harry dan Alice menghela nafas, dan memutar bola mata mereka. Harry menyentakkan lengannya, membuat tongkat pinusnya terpasang kembali ke sarungnya, dan Alice memasukkan tongkatnya ke saku samping celananya. Hebat, pikir mereka berdua. Empat orang yang sangat salah untuk salah paham.
Alice menoleh ke Harry, dan berkata, "Ayo, Ivan." Harry mengangguk, dan mereka berdua berjalan di koridor, mau melewati Marauders, saat Remus merentangkan lengannya, wajahnya khawatir dan takut.
"Kalian-kalian tidak akan mencari tempat lain untuk duel, kan?"
Alice memutar bola matanya lagi, dan Harry tertawa pelan. Dia menjawab, "Tidak, Remus. Bisa kujamin kami tak akan mencari tempat untuk duel. Ini cuma salah paham saja, kok."
Remus, ragu-ragu, menurunkan tangannya, dan berkata pelan, "Oh, Oke."
Harry dan Alice berjalan melewati mereka berempat. Saat berjarak kurang lebih lima meter, Harry mendengar Sirius bergumam, "Mau bertaruh, Prongs? Siapa yang akan menang…"
Harry memutar kepalanya. Malam ini benar-benar ramai dan membuat sakit kepala. Dia perlu istirahat. Untunglah semua tugas dan ujian sudah selesai, pikirnya.
/Gryffindor Common Room
Harry duduk di kursi berlengan dekat perapian. Alice duduk di hadapannya, dan melihat-lihat Ruang Rekreasi. Ruang Rekreasi hampir kosong, hanya ada beberapa murid tingkat bawah yang sedang mengobrol, bermain catur, dan menulis sesuatu. Harry menarik kursinya agar lebih dekat dengan Alice, dan dia berkata, "Kamu hebat."
Alice mengangguk pelan.
"Kamu yakin yang kamu lakukan bukan Legillimency?" tanya Harry.
"Seratus persen yakin," jawab Alice. "Aku akan merasakan bila sihir mengalir dari tubuhku. Dan selama ini, tidak. Aku hanya memiliki daya amat yang tajam, itu saja."
Harry mengangguk, masih kurang yakin. Alice jelas menyadari ini, dan berkata pelan, "Tidak pernahkah kamu menyadari sesuatu yang sedang dipikirkan orang, hanya dengan melihat wajahnya? Pernahkah kamu menyadari tanpa diberitahu, bahwa temanmu sedang sedih, marah, gelisah? Pernahkah kamu menatap mata seseorang, dan mendengarnya bicara, dan bisa mengetahui apakah itu jujur atau bohong? Dan pernahkah kamu berbincang dengan seseorang, saling menyambung kata satu sama lain?"
Harry mengingat semuanya. Dia mengingat melihat Ginny murung saat kelas kejadian Basilisk dulu.. dia sedang memikirkan sesuatu. Dia mengingat melihat Ibunya yang diam saja, dan menyadari bahwa dia sedang sedih. Dia mengingat Hermione, mengatakan pada Ron bahwa dia sudah punya pasangan dansa, dan dia tahu bahwa Hermione jujur. Dia mengingat, berbincang dengan Hermione…
Dan wajah Harry penuh akan kesadaran, akan semua selama ini.
Alice terkikik pelan. Dia berkata riang, "Je-las kamu pernah mengalami semuanya, ya. Ya, yang kulakukan hanyalah versi lebih dalam dari yang kamu lakukan, itu saja."
Harry tersenyum padanya. Dia berpikir sejenak, lalu berkata, "Maukah kamu mengajariku Occlumency?"
Alice mengangguk, lalu berkata, "Jelas kamu mau mencegah ada orang lain yang membongkar ini dari dirimu sendiri, kan?"
"ya," jawab Harry. Alice berpikir sejenak, lalu menjawab, "Boleh, aku bisa mengajarimu."
"Hebat," kata Harry, nyengir. Dia bertanya lagi, "Siapa yang akan menjadi Legillimens nya?"
"Tidak ada," jawab Alice enteng.
"Tidak ada? Tapi-tapi-" Harry tergagap, "Tapi bagaimana kita berlatih, kalau begitu?" Harry teringat saat berlatih Occlumency kelas lima dulu, yang bisa disebut gagal total. Snape jelas tidak tanggung-tanggung dalam Legillimency, dan Harry diserang dengan kekuatan tidak kira-kira. Harry tadinya berpikir Legillimens yang melatih Alice sangat hebat, bisa melatihkan Occlumency padanya, tapi sekarang-
"Oh, kamu berlatih dengan Legillimens ya, dulu," ujar Alice ringan. "Jangan khawatir, aku punya cara sendiri untuk berlatih, kok. Aku diajari Ayahku dulu. Agak makan waktu lama, tapi bisa juga, kok. Dan tidak, Ayahku bukan Legillimens," sela Alice, melihat Harry membuka mulut, "Kan sudah kubilang, tidak semua orang bisa membaca pikiran."
Harry menutup mulut, dan mengangguk. Lalu perasaan antusiasme menjalari dirinya, dia akan bisa menguasai Occlumency, hal itu saja sudah membuatnya senang. Harry bertanya, "Kapan kita bisa mulai latihan?"
"Ada yang kepengin nih," ejek Alice, nyengir. Harry memutar matanya lagi.
"Aku Serius,"ujar Harry.
"Bukan, kamu bukan Sirius, dia di bawah, lagi makan. Kamu Ivan," kata Alice, masih nyengir.
Harry menjulurkan lidahnya lagi, dan Alice tertawa membungkuk lagi. Harry dengan bijak (begitulah pikirnya) duduk di sebelah Alice di sofa, menepuk-nepuk punggungnya. Setelah tawanya mereda, barulah Harry bertanya lagi, "Jadi, kapan bisa latihannya?"
"Hmmm…" gumam Alice. "Kita kan sudah selesai ujian Periode Musim Gugur, sebentar lagi masuk periode musim dingin. Sampai hari Sabtu kita tidak ada kegiatan, yang jelas hari Sabtu ada Quidditch, jadi Sabtu tidak bisa. Hmmm…" Alice mengernyit, lalu berpaling ke Harry, bertanya, "Bagaimana kalau besok pagi saja? Pagi-pagi sekali, setelah sarapan, di ruangan kelas kosong?"
Harry mengangguk antusias. Alice juga. Dia berkata, "Harry, yang ingin kuberitahu padamu adalah, metode ini lamanya bisa berbeda-beda tiap orang. Aku sendiri berhasil setelah satu bulan. Tergantung kekuatan masing-masing orang. Jadi, kuminta adalah kesabaran."
Harry mengangguk. "Aye, Captain!" dan melakukan hormat militer.
Alice tertawa lagi, dan mereka berdua memandang perapian dalam diam. Ruang Rekreasi sungguh tenang malam ini, hanya ada suara beberapa anak mengobrol, suara bidak catur bergerak. Tidak ada suara bising, suara anak-anak perempuan bergosip. Tidak ada-
Harry sadar.
"Alice?"
"Yeah?"
"Di mana Lily, Mary, Frank, dan Mark?"
Alice menatapnya lagi, dan kali ini Harry mengerti tatapan itu.
"Kau kesepian," ujar Harry.
"Kau khawatir," ujar Alice.
Mereka berkata bersamaan. Dan meledak tertawa, sampai membungkuk-bungkuk.
"Oh-itu-itu bagus sekali, Mr. Tesla! Ajaranku berhasil rupanya!
"Te-ri-ma kasih, Miss Carrol!"
Akhirnya tawa mereka menurun, dan mereka bertukar pandang yang sama. Harry tahu Alice kesepian. Dia tidak biasa sendirian, ditinggal Lily, Mary, ataupun Frank dan Mark. Karena itu dari tadi Alice menempel bersamanya terus sejak pergi dari koridor rahasia itu.
"Lily dipanggil Mcgonagall akan sesuatu, kurasa tentang suatu riset Transfigurasinya. Biasa, maniak belajar," ujar Alice pelan, terutama di bagian akhir. Harry tersenyum.
"Mary tadi menemani Mark di lapangan Quidditch, sebagian besar anak-anak Gryffindor di sana dari sore tadi, bermain Quidditch bergantian. Frank juga ikut. Aku tidak ke sana karena aku tadi sedang terkena detensi dari Filch. Begitu selesai, ternyata sudah malam, dan aku langsung ke Aula Besar saja," jelas Alice.
Namun Harry bertanya, "Kenapa kamu terkena detensi dari Filch?"
"Oh, itu," Alice terkikik pelan, "Aku tadi dari kandang burung hantu setelah selesai Ujian. Aku mengirim surat ke orang tuaku, dan aku tidak sengaja menginjak kotoran burung. Rupanya kotoran tersebut masih menempel di sepatuku, dan tercecerlah di koridor tempat Filch sedang mengepel… Selesai deh!" kata Alice dengan nada dramatis.
Harry meneliti wajahnya, dan dia tahu masih ada hal yang belum diceritakan Alice. Tapi dia memutuskan tidak akan menanyakannya dulu, mungkin itu hal pribadi.
Merlin, meneliti wajah? Aku makin mirip Alice, pikir Harry.
Mereka berdua mengamati perapian lagi, menonton lidah – lidah api yang menari-nari. Jam besar di ruang rekreasi baru menunjukkan pukul delapan malam, tetapi ruang rekreasi sudah kosong. Murid-murid yang lebih muda sudah keluar dari ruang rekreasi, mungkin untuk makan malam, atau sekedar jalan-jalan. Dan kesenyapan menerpa mereka berdua.
"Kamu tahu? Aku merasa canggung sekarang," gumam Alice.
Harry menoleh ke arahnya, dan melihat senyum kecil menghiasi wajah Alice. Harry tersenyum kecil juga, dan berkata, "Benarkah?"
"Yup. Sudah lama aku tidak berdua saja dengan cowok lain selain Frank, di ruang rekreasi, di satu sofa, hanya ditemani perapian," ujar Alice, memejamkan matanya.
Harry menangkapnya. "Whoa, sabar, nona. Saya sudah ada yang punya," kata Harry dengan lagak gagah. Dia menyisir rambutnya dengan tangannya. Alice terkikik kecil.
"Santai dong, jangan khawatir. Becanda kok. Aku cuma mencari cara untuk memecah kesunyian," ujar Alice, masih menutup matanya.
Harry bertanya, "Lho aku santai kok, lha kamu yang gak santai."
Alice tersenyum, berkata, "Gantian cari topik pembicaraan dong..."
Harry terkekeh. Dia berkata, "Oke, kalau begitu mari kumulai… Katamu kamu punya gosip mengenai Mcgonagall dan Dumbledore?"
Mata Alice terbuka lebar, terlihat menari-nari gembira. Dia baru saja mau memulai celoteh panjangnya yang biasa, ketika Lukisan Nyonya Gemuk terbuka, dan beberapa langkah berlarian ke dalam Ruang Rekreasi. Harry menoleh ke arah tersebut, Alice juga. Dan, masuk berturut-turut, Remus, Lily, Frank, Mary, Mark, James, Peter, Sirius, Prefek kelas tujuh dan enam Gryffindor, Nicholas, semuanya masuk. Remus dan Lily tidak langsung melihat mereka, dan keduanya menyerukan nama mereka, jelas masing-masing hendak berlari ke asrama laki-laki dan perempuan.
Tapi Harry dan Alice menjawab tenang, "Ya?"
Mereka semua tersentak, dan terdiam. Frank bergerak lebih dulu, berlari dengan kecepatan luar biasa, mendekap Alice dan mengangkatnya, membawanya sejauh mungkin dari Harry. Alice meronta-ronta, dan Harry mengerutkan dahinya dengan penuh kebingungan. Remus berhasil mengumpulkan nafasnya, dan bertanya, "Ka-kalian dari tadi di sini?"
Harry mengangguk pelan, belum mengerti arah pembicaraan maupun penyebab rombongan orang ini bertingkah aneh.
"Tidak ada-erm-duel?" tanya Lily hati-hati.
Harry membelalak, dan dia menjulurkan kepala, melihat James dan Sirius meringis, dan mengeluarkan koin galleon dari saku mereka, menyerahkannya pada Peter yang nyengir. Frank sudah tersedu-sedu memeluk Alice dan berceloteh pelan tentang sesuatu, tidak memedulikan Alice yang meronta-ronta, sepertinya kehabisan nafas.
Harry membenturkan kepalanya ke lengan sofa. Edan semua… pikirnya.
.
Sampai Sabtu, semua berjalan dengan lancar bagi Harry. Setidaknya begitu.
Harry telah menemui Hermione dan memberitahu akan Alice. Awalnya Hermione menatapnya dengan Horor, tapi setelah Hermione berbicara berdua saja dengan Alice, semuanya menjadi beres. Hermione lebih pandai berbicara dibandingkan Harry dalam hal-hal begini. Jadi, sekarang setidaknya mereka sudah tenang sedikit. Ya, mereka menghabiskan sebagian besar hari dan waktu kosong dengan berjalan bersama dan mengobrol, sesekali ke perpustakaan, dan (menjelang sore) menghabiskan waktu di Kamar Kebutuhan, menyalurkan hormon mereka. Harry menyadari Hermione semakin agresif dalam intimasi mereka, namun tidak protes sama sekali, karena perlahan dia menyadari bahwa dia sendiri juga begitu.
Dan Harry menemukan metode dari Alice: cukup mudah juga.
Senantiasa isilah pikiranmu dengan tekad, niat, dan hasrat, jangan pernah biarkan melantur. Untuk itu, Alice mengatakan harus berlatih memfokuskan pikiran. Hal yang hampir sama dengan sihir tanpa-tongkat. Latihan memfokuskan pikiran dan tekad, digabung sekaligus, yaitu dengan lilin.
Harry menggenggam lilin di tangannya, lilin sihir yang tak akan memendek dan meleleh, dan berfokus pada lidah apinya. Fokus, dan perintahkan lidah api tersebut untuk mati, begitu kata Alice. Kita harus melakukannya dengan fokus, tidak boleh dengan sihir. Beberapa kali Harry berpikir dia berhasil, namun karena sebenarnya dalam hati dia berkata, 'Nox'. Hal yang sederhana ini membuat Harry agak frustasi, sudah tiga hari tetapi Harry sama sekali belum bisa melakukannya.
Alice telah berkata bahwa Api adalah media yang sangat bagus untuk melatih fokus. Api tidak berwujud, dan tidak berjejak. Api bukanlah materi, dan bukanlah energi. Api tidak memiliki massa dan partikel, yang mana syarat mutlak materi; juga tidak bisa berdiri sendiri, syarat energi. Api adalah suatu paradox, untuk yang tidak hidup tapi ada, sama halnya dengan pikiran. Pikiran tidaklah hidup, karena merupakan bagian dari jiwa. Orang bisa tidak mempunyai pikiran, tapi tetap hidup. Tapi tanpa jiwa, pikiran takkan bisa ada. Sama seperti api, tak bisa ada tanpa pembakarnya. Hal ini membuat Harry merasa agak bingung, berputar-putar di tempat. Alice sendiri nyaris frustasi karena Harry tidak maksud, jadinya dia mengatakan coba praktek saja.
Berdasar keterangan Alice, ada tiga tahap latihan pikiran dengan api: Satu, perintahkan api mati. Dua, perintahkan Api memanjang dan memendek. Tiga, nyalakan api dari pembakarnya, dalam hal ini lilin.
Harry belum bisa melakukan yang pertama, jadinya dia belum bisa lanjut ke tahap kedua. Hal ini membuatnya frustasi. Dia sudah cerita ke Hermione, dan Hermione bilang dia tidak tahu. Ini cara belajar unortodoks. Belum tercatat di buku manapun.
Bagaimanapun juga, hari Sabtu tiba, membawa keceriaan pada anak-anak Gryffindor, yang sudah yakin tim mereka akan menang. James bersama seluruh Tim Quidditch masuk ke Aula Besar bagai Pahlawan, berjalan dengan gagah. Sirius mengikuti di belakangnya, bersama Frank, tersenyum lebar. Emmeline dan Helena menunduk malu, tapi juga tersenyum. Nicholas, paling tinggi dan tegap di antara mereka semua, diam saja, memasang wajah netral. Harry melihat Tobias masuk terakhir, agak pucat, mengingatkan Harry akan Ron. Dia ditepuk-tepuk punggungnya oleh banyak orang, namun membuatnya tampak mau muntah.
Harry jadi teringat Ron di pertandingan sebelum kelas enamnya. Dia menyesal taktik yang sama tidak bisa dia lakukan di sini, dia ingin membantu Tobias.
Sabtu pagi ini Harry duduk bersama Hermione di meja Ravenclaw, mengobrol santai berdua saja. Harry melihat meja Gryffindor berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Hufflepuff juga bersorak-sorai, dan Slytherin mendesis atau mencibir. Hanya Ravenclaw yang sepertinya masih normal, beberapa tersenyum, bertepuk tangan sopan, dan beberapa hanya menggeleng-geleng.
"Hei, Harry," kata Hermione. Mereka berdua sudah mengaktifkan mantra alih-bahasa ke Italia dari tadi.
"Hmm?" tanya Harry, mengunyah tartnya.
"Bokap mu tuh…"
Harry melihat ke meja Gryffindor, dan melihat James berjalan ke tempat Lily duduk, dan menyihir bunga dari udara kosong. Meja Gryffindor senyap, menunggu dengan deg-degan. James meletakkan bunga tersebut di meja Lily, dan Harry, walaupun tidak bisa melihat wajah Lily dari tempatnya duduk karena Lily memunggunginya, bisa menebak ekspresi wajah Lily dari wajah ngeri Alice dan Mary yang duduk di hadapan Lily. Harry meringis.
Lily tampaknya melakukan mantra usir non-verbal tanpa-tongkat pada bunga tersebut, karena bunga tersebut melayang dari mejanya dan mendarat di hadapan cewek-cewek kelas tiga dan empat, yang langsung menjerit dan berebut mengambilnya. James melakukan adegan patah hati yang mungkin menurutnya romantic, namun bahkan Harry yang kurang mengerti cewek dan hanya mengerti Hermione sejauh ini, berpikir bahwa Lily pastilah menganggapnya menjijikkan. Terdengar keluhan besar dari meja Hufflepuff dan Gryffindor, dan beberapa murid sudah bangun dan menghibur James, masing-masing melakukan adegan over dramatic lagi, tampaknya sudah disusun James. Beberapa anak sudah saling menyerahkan uang taruhan, tentu saja. Para staf tertawa-tawa akan aksi James, yang mungkin menurut mereka lucu, kecuali Mcgonagall, tentu saja.
Harry membenturkan kepalanya ke meja tiga kali, berpikir semuanya edan. Hermione dengan penuh perhatian mengelus-elus kepalanya. Harry menggeletakkan kepalanya dengan putus asa.
"Harry, menurutku Ibumu berasap," ujar Hermione.
Harry mendongak sedikit, dan melihat bahwa Lily benar-benar berasap. Harry meringis. Dan, tampaknya bagi Sirius, menyiramkan Aguamenti ke kepala Lily adalah lelucon bagus. Hebat.
Harry memejamkan matanya mendengar teriakan Lily, dan saat dia membuka matanya, Lily sudah kembali duduk, James dan Sirius berlari dikejar-kejar kira-kira selusin burung kanari kecil. Harry mengingat yang dilakukan Hermione dulu pada Ron saat kelas enam. Hermione jelas menganggap itu lucu, karena dia tertawa. Banyak anak juga tertawa, para staf juga. Hanya Mcgonagall yang bibirnya sudah menipis menjadi garis lurus.
Harry menghela nafas, mengeluarkan tongkat pinusnya, mengacungkannya ke burung kenari yang sedang mengejar-ngejar Sirius dan James keliling meja Gryffindor.
"Finite Incantatem," ujar Harry dalam hati. Semua burung kenarinya hilang.
Hanya beberapa Ravenclaw di dekat Harry dan Hermione yang tahu bahwa Harry yang menghilangkan kenari tersebut. Terdengar raung kecewa, jelas banyak anak menganggap hukuman dari Lily akan jauh lebih lama. Taruhan dibayar lagi. Hermione menyenggol Harry, dan Harry melihat dengan ngeri Dumbledore mendapat tiga koin Galeon dari beberapa Staf lainnya, bahkan dari Flitwick. Dumbledore memandangnya penuh arti, tersenyum girang.
"Stop. Jangan membenturkan kepalamu lagi, Harry," ujar Hermione, menahan kepalanya.
Harry mengeluh. "Sepertinya James naksir dengan Lily di sini adalah lelucon, Hermione. Lagipula James sendiri yang seperti itu. Tak heran Ibuku menolaknya terus-terusan. Kalau begini, bisa-bisa dia jadi dengan Snape!"
Hermione berpikir sejenak, mencoba membayangkan Harry dengan rambut panjang berminyak, senantiasa mencibir, berjubah hitam, dan berwajah Snape.
"Nnah. Kamu udah bayangin kan?" kata Harry, mengamati wajah Hermione.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Hermione.
"Terlalu sering bergaul dengan Alice," jawab Harry. Hermione tertawa.
Jam sepuluh tepat, mereka semua bergerak ke lapangan Quidditch. Harry duduk di stand, bersama Hermione dan anak-anak Ravenclaw. Dia hari ini sedang agak tidak enak duduk di stand Gryffindor, terutama dekat-dekat Lily yang berwajah seram. Harry yakin dia tadinya mau tidak menonton, tapi karena Alice menyoraki Frank dan Mary diajak Mark, dia terpaksa ikut.
Harry menggeleng, melihat Tim Gryffindor memasuki lapangan. Tujuh jubah merah melayang di udara dengan kecepatan sedang (Harry menganggap kecepatan tinggi adalah kecepatan Firebolt-nya), disambut oleh teriakan meriah. Tim Slytherin masuk, disamput oleh boo dari hampir setengah stadion. Harry menggelengkan kepala lagi, merasa sebagian besar sekolah benar-benar kurang dewasa. Hanya anak-anak Ravenclaw yang masih bertepuk tangan sopan.
James dan Kapten Slytherin, seseorang bernama Crane, berjabat tangan. Harry melihat komentatornya, dan mengenalinya seketika.
"Hermione-" seru Harry.
"Apa?"
"Itu Lee Jordan!"
Hermione dan Harry memperhatikan lagi podium komentator. Di sana, dengan syal Gryffindor, seorang murid laki-laki, tinggi, berkulit hitam, duduk. Dia sangat mirip/persis dengan Lee Jordan, komentator Quidditch dan partner in crime si kembar Weasley. Perbedaannya hanyalah rambutnya yang ini bergaya Afro.
"Hei, Davies," kata Hermione ke pria di belakangnya.
"Apa?" tanya Davies.
"Siapa komentator Quidditch?"
"Oh. Adam Jordan," jawab Davies. "Dia komentator yang bagus. Sudah menjadi komentator sejak kelas tiga. Sekarang dia kelas tujuh."
Harry menatapnya. Adam Jordan. Kemungkinan besar ayah dari Lee Jordan. Harry tertawa pelan, dia makin banyak menemukan orang tua teman-temannya di sini. Dia menemukan orang tua Neville, Luna, si kembar Patil, dan banyak lagi.
"Dan pertandingan MUUULAAAAAIIIIII! Dan Quaffle dibawa oleh Potter! Lynch! Moore! Potter! Lynch! Moore! Ah, direbut oleh Derrick! Kembali ke Potter! Lynch! Moore! Dan GOOL! Sepuluh kosong untuk Gryffindor!"
Harry tidak bisa mempercayai ini. Satu-satunya saat dia pernah melihat chaser-chaser dalam satu tim bekerja sehebat ini hanyalah ketika dia menonton Piala Dunia, yaitu para Chaser Irlandia. Kecepatan pelemparan bola sangat cepat, terutama antara Emmelince Lynch dan Helena Moore. Mereka melemparkan bola bagai bernafas. James rupanya lebih sebagai pembuka jalan. Mereka bermain dengan serasi, kompak, tanpa cela.
Hawkshead Attacking Formation. James maju di depan, membawa Quaffle, dan alih-alih menanjak, dia menukik, tapi meninggalkan bolanya di tengah udara. Di ambil oleh Helena, dilempar ke Emmelince, dilempar lagi ke Helena, dilempar asal ke tengah udara kosong-
-mendadak James muncul dari bawah, menangkap Quaffle, dan seolah akan melemparnya ke Wright, keeper Slytherin, namun mendadak berputar, melempar ke Helena, yang dioper ke Emmelince. Gol lagi. Dan semuai itu berlangsung kurang dari lima detik.
Slytherin membawa Quaffle, hampir menerjang jatuh Helena. Namun, mendadak sebuah Bludger dengan kecepatan luar biasa menghantam dadanya, menjatuhkannya dari sapunya. Quaffle terlepas. Emmelince menangkapnya, dan melakukan formasi lagi.
Harry dengan ngeri melihat bahwa yang melakukannya adalah Nicholas, dan raut wajahnya dangat berbeda dengan tadi pagi. Dia beringas, menyeringai ganas memamerkan giginya, dan mengangkat pemukulnya, meraung keras, jelas senang mendapat korban pertama. Sirius ber-tos dengannya, dan Nicholas menukik lagi, mengejar Bludger berikutnya.
Harry menelan ludah melihatnya, dia jauh lebih mengerikan dari semua Beater Slytherin yang pernah diketahuinya. Dengan ngeri Harry melihat dia mengejar sebuah Bludger, yang seolah lari menjauhinya. Dia mendapatkan korban keduanya beberapa menit kemudian, keeper Slytherin. Raungan lagi, dan dia menanjak cepat.
Wright dan Chaser Slytherin, Harry tak tahu namanya, sudah ditandu dengan cepat ke luar lapangan. Slytherin segera menurunkan cadangan. Sirius juga tampaknya tak mau kalah. Tapi tampaknya dia lebih fokus pada melontarkan Bludger jauh-jauh dari James, Emmelince dan Helena. Bludger yang menjauh dihantam Nicholas, yang hampir selalu tepat sasaran.
Chaser Slytherin, Derrick, berhasil lolos dari Bludger dengan jarak beberapa mili, membawa Quafflenya dengan buru-buru ke gawang Gryffindor. Dia melemparnya, namun ditangkap dengan ringan oleh Frank.
Seolah Gryffindor tidak bisa salah, permainan mereka sempurna, Chaser luar biasa, Keeper hebat, dan Beater yang beringas. Seeker-
Ya, Harry baru mengingatnya. Seeker. Harry mencari-cari Tobias, dan melihatnya melayang diam di tengah udara, di atas semua pemain lainnya. Dia tampaknya mencari-cari Snitch. Seeker Slytherin di sisi lain juga sama.
Harry ikut-ikutan mencari snitch, dan menemukannya dalam sekejap – kilatan emas di rumput, terbang rendah dekat podium staf. Harry menyikut Hermione, dan dia juga melihat. Hermione mengangguk. Harry menatap Tobias, dan bingung kenapa dia belum bergerak. Wajahnya sudah terpaku pada Snitch, namun kemudian Harry tahu kenapa – Seeker Slytherin melayang di atas podium staf. Dalam balapan, Tobias tak akan menang karena perbedaan jarak yang cukup jauh.
Harry mengamati Tobias, yang mendadak menukik nekat ke snitch. Tentu saja Seeker Slytherin-kini Harry melihat nama di punggungnya – Green – juga menukik. Dan Harry tahu Green akan menang, dia jauh lebih dekat, Slytherin akan mendapatkan Snitch-nya, Harry geragapan berusaha melihat papan skor-
BLUG!
Dua Bludger, ya, keduanya, menghantam Green berturut-turut yang pertama tampaknya dari Sirius, yang lebih dekat, dan yang kedua dari Nicholas, dari sisi jauh lapangan, namun memukul Bludgernya jauh lebih keras dan cepat. Green jatuh, dan menimpa Snitch-nya. Dia pingsan. Nicholas meraung lagi, dan mengejar Bludger berikutnya, namun dia berhenti ketika menyadari seluruh arena terdiam. Harry tahu kenapa – Green menimpa Snitch. Apakah itu termasuk menangkapnya?
Dengan ngeri Harry melihat poin di papan untuk Gryffindor baru 140. Dia melihat ke Hooch, yang, juga bingung.
"Er.. Madam Hooch?" seru Jordan.
Hooch mengernyit, dan mengeluarkan sebuah buku dari saku jubahnya, tampaknya buku tentang peraturan Quidditch. Dia membalik-balik halamannya.
Harry melongo lebar-lebar, berusaha menyerap kebodohan ini. Dia melihat di sebelahnya Hermione sudah hampir berguling-guling akan hal ini. Wasit mengecek buku peraturan di tengah pertandingan! Madam Hooch yang Harry kenal tak akan melakukannya!
Hooch membaca dengan serius, dan akhirnya, menggelengkan kepalanya. Dia mengangkat jempolnya, mengisyaratkan permainan dimulai kembali. Dan terjadi kekacauan.
Green bergerak lemah, jelas sudah sadar. Tobias menukik cepat, tampaknya berusaha menangkap Snitch selagi masih tertindih Green. Nicholas kembali ke mode maniaknya, mengejar Bludger dan memukulnya ke arah Green. Salah satu Beater Slytherin memukulkan Bludger satunya ke Tobias yang masih menukik ke Green. Para Chaser Gryffindor menyerbu gawang Slytherin, jelas bertekad membuat skor menjadi 150 – 0. Para Chaser Slytherin berusaha menghalangi jalan mereka, berkumpul di sekeliling area gol. Keeper Slytherin maju menyerbu Quaffle. Sirius melaju ke Tobias, berusaha menyingkirkan Bludger dari Beater Slytherin yang mengarah ke Tobias. Nicholas, setelah Bludgernya dipukul, diserbu oleh Beater Slytherin satunya lagi, yang tampaknya murka pada Nicholas. Mereka berdua mengangkat kedua pemukul Beater mereka, dan sedetik kemudian-
Suara tubrukan, gedebukan, hantaman, dan gedebuk kemudian, Sirius ternyata berhasil menghalau kedua Bludger. Dia memukul keduanya jauh-jauh secara beruntun. Nicholas memenangkan perkelahiannya, walaupun sisi kepalanya berdarah. Dia meraung. James berhasil mencetak gol, para Chaser Slytherin bertabrakan. Emmelince dan Helena berhasil selamat di detik-detik terakhir.
Tidak, yang jadi masalah adalah Tobias dan Green, masih bergulingan di rumput, tampaknya berebut Snitch. Tidak jelas apa nasib si Snitch. James dengan buru-buru menangkap Quaffle yang baru saja dilemparnya, memasukkannya lagi ke gawang, untuk jaga-jaga. Sekarang skor Gryffindor sudah 160, dan dia menghela nafas lega.
Dan satu Bludger ke punggung Green, dari Sirius, yang dipukul dengan kalem, jelas mengakhiri pergulatan. Tobias mengangkat Snitchnya, dengan bangga, dan mengacung-acungkannya dengan bangga, walaupun hidungnya berdarah. Penonton bersorak.
Harry mendapati ini pertandingan terbrutal kedua yang pernah ditontonnya, setelah Bulgaria vs Irlandia dulu. Dia menghela nafas, menubrukkan kepalanya ke pinggiran stand, dan mengulangi semboyannya: Edan semua…
Hermione menghela nafas, dan menepuk-nepuk punggung Harry.
