Léift

.

.

BTS fanfiction

.

.

Namjin, with another BTS Members

Part 11: Don't Leave Me

(I love you, you love me, kan?)

.

.

Dengan nafas satu dua, aku berjalan cepat menghindari kejaran Namjoon. Aku sangat yakin sudah setengah berlari, tapi Namjoon berhasil mencekal tanganku, membawaku ke salah satu pilar basement. Mengunci tubuhku.

Hari ini aku berencana mengambil barang-barangku di apartment Namjoon. Aku datang saat Namjoon tidak ada di apartment—menurut jadwalnya yang aku hapal. Tidak tahu kapan jadwal itu berubah, saat aku akan masuk lift, Namjoon malah baru keluar lift. Aku kaget, dia lebih kaget lagi. Aku langung balik kanan gerak dan melesat secepat mungkin. Tapi berhasil ditangkap Namjoon.

"Apa maksudnya?"

Oh, ternyata surat gugatan ceraiku sudah sampai di tangan Namjoon. Baguslah. Berarti prosesnya bisa dipercepat.

"Baca saja. Bisa baca, kan?" Balasku ketus.

Namjoon dengan ekspresi datar mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia berdesis. "Pernikahan bukan main-main, Seokjin. Pikirkan semuanya baik-baik."

"Sudah, semua sudah kupikirkan. Seperti kau yang berpikir bahwa mengusirku adalah hal terbaik. Lalu aku yang kebingungan tidak tahu akan menginap di mana." Aku merasakan mataku memanas. Sialan. Aku tidak bisa untuk tidak menangis jika sudah adu mulut dengan Namjoon. "Tiga hari aku tidur di butik. Di sofa. Rasanya punggungku akan patah. Kedinginan. Takut."

Namjoon gelagapan. Dia mencoba merengkuh wajahku, tapi kutepis sedetik lebih cepat.

"Lalu kau blokir kartu kredit yang kau berikan. Apa kau lupa jika semua uangku masuk ke rekening yang tidak ada ATM-nya? Yang kabar buruknya adalah saat kau usir, aku lupa mengambil buku rekening itu." Aku sesegukan. "Kau tahu, Kim Namjoon, aku seperti gelandangan. Tidak punya uang untuk memesan kamar hotel, membeli makanan, bahkan untuk mengisi bensin mobil aku mengambil uang di kasir butik!" Tanganku melayang memukul dada Namjoon. Kuat-kuat.

Namjoon terdiam menatapku. Ekspresinya tetap datar, tapi aku bisa melihat keterkejutan luar biasa di matanya. Aku ingin tertawa jika mengingat betapa mirisnya aku saat aku harus meminjam uang pada Yoongi karena tidak memegang uang sama sekali. Gara-gara si sialan di depanku ini. Kegilaan apa yang melintas di kepalanya sampai-sampai dia tega mengusirku, yang katanya begitu dicintainya—yang akhirnya aku sadar jika Namjoon tidak secinta itu padaku.

"Tapi kenapa harus bercerai?" Tanyanya tertahan. Dia menatapku lebih dalam. Aku memalingkan wajahku. Tidak ingin mengambil resiko luluh karena tatapannya itu.

"Lalu menurutmu harus apa?" Aku berdecak tidak sabar. "Kita sudah masing-masing hampir tiga bulan. Yasudahlah, cerai saja sekalian."

"Kim Seokjin!"

"Kim Namjoon!" Aku balas membentak. "Aku membohongimu. Aku akui itu kesalahan besar. Tapi kau menghilangkan anakku. Itu kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Bukan hanya kau yang akan aku gugat, tapi Lee Jihyun akan aku laporkan dengan tuduhan pembunuhan."

"Pembunuhan apa?"

"PEMBUNUHAN ANAKKU!" Ku tampar wajah Namjoon kuat-kuat. "Brengsek. Aku benci kalian berdua!"

"Jinseok..." Namjoon mencoba menenangkanku, tapi aku yang sudah dikungkung emosi kembali memukuli Namjoon sekuat-kuatnya. Kulepaskan cekalan tangannya, lalu aku lari secepat mungkin ke mobil.

Masuk mobil. Ngebut meninggalkan basement. Aku hanya bisa berharap tidak akan menabrak apapun karena menyetir dengan tangan dan kaki yang gemetar.

###

Kenapa aku sampai lupa jika sidang pertama itu berwacanakan mediasi?! Harusnya tadi aku tidak perlu datang. Jadi di persidangan selanjutnya bisa langsung diputuskan. Mau Namjoon tanda tangan atau tidak, aku tidak peduli. Aku ingin cerai! Titik.

Kami ditinggalkan di satu ruangan—agar kami bisa mengobrol dengan tenang. Namjoon menatapku, gugup. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Beberapa kali dia kepergok sudah ingin mengatakan sesuatu, tapi malah tidak jadi.

Kami diam cukup lama. Aku juga tidak tahu ingin mengatakan apa. Bahkan aku tidak ingin menatap Namjoon. Kepalaku seakan mau pecah rasanya. Untung berita perceraian kami tidak sampai tercium wartawan. Walaupun aku sedang benci-bencinya pada Namjoon, aku tidak ingin menjatuhkan pamor Namjoon di depan penggemar-penggemarnya.

Sekilas aku melihat kesedihan di mata Namjoon. Apa dia sedih akan bercerai denganku? Apa dia juga sedang merasakan ketakutan yang sama dengan yang kurasakan saat ini? Takut kehilangan dan takut tak dicintai lagi. Tiba-tiba aku merasa baru saja mengambil keputusan yang salah. Ya Tuhan, apa terlambat?

"Aku ingin memperbaiki semuanya." Desah Namjoon pelan.

Kutatap Namjoon tepat di matanya.

"Kita mulai dari awal." Lanjutnya lebih pelan.

Mata Namjoon yang kecoklatan terlihat mendung.

###

Aku tidak akan menangis. Tidak boleh. Bisa kacau sketsa yang sedang kugambar sekarang jika sampai kejatuhan air mata. Jadi aku berusaha menahan air mata sebisa mungkin. Aku tidak mau memikirkan masalah perceraian itu dulu sekarang. Lupakan dulu. Lagipula sidangnya diundur sampai minggu depan. Masih tujuh hari lagi. Lebih baik aku fokus pada pekerjaanku saja dulu. Menimbun pundi-pundi untuk masa depanku.

Tidak boleh asal menggunakan uang lagi.

Tidak boleh shooping seenak jidat lagi.

Tidak boleh gadget freak lagi.

Tidak boleh boros lagi. Harus direm habis-habisan kebiasaanku yang suka menghambur-hamburkan uang. Saat ini hanya aku yang menghidupi diriku sendiri—beserta tetek-bengek gila shopping yang kupunya. Tidak ada lagi kartu kredit tak terhingga yang menghuni dompetku.

Tadi sore aku rasanya ingin terjun ke laut saat melihat tabunganku sudah berkurang nyaris setengah. Oh Tuhan, apa saja yang sudah kubelanjakan? Perasaanku hanya makan—dan sedikit shopping—tapi uangku sudah keluar sangat banyak.

Selama ini aku foya-foya menggunakan uang bulanan dari Namjoon—yang jumlahnya bisa membuat mata juling. Jadi artis benar-benar seperti mempunyai pohon uang. Ini serius. Tapi tidak tahu juga benar atau tidak. Yang pasti penghasilan Namjoon lebih dari cukup untuk kami berdua—tanpa menyentuh uangku sama sekali. Aku bersyukur bisa mendapatkan suami yang bisa memuaskan lahir dan batin seperti itu.

Pacaran, menikah, lalu sekarang proses bercerai. Ini hidupku. Terima kasih sudah mengingatkan.

"Kan sudah kukatakan jangan ganggu—" Aku berseru kesal sambil mendongak. Tadi aku sudah mengatakan pada Yoongi untuk tidak menggangguku dulu. Aku ingin menyelesaikan desainku. Tapi yang berdiri di depan pintu itu tidak mirip Yoongi sama sekali. Yoongi tidak akan mungkin memakai kemeja garis-garis yang lengannya digulung sampai siku, memakai jeans pipa, pantofel semi formal, dan tidak akan mungkin juga Yoongi lebih tinggi dariku. Angin ribut apa yang menyasarkan Namjoon sampai ke sini? Atau dia yang ingin mencari ribut denganku?!

Namjoon masuk, duduk di sofa. Sekilas aku melihat raut wajahnya yang lesu, kusam, berantakan. Bukan seperti Namjoon yang biasanya selalu membawa cahaya ke mana-mana. Kalau bukan sedang berada di situasi yang seperti ini, aku sudah pasti sesegera mungkin memeluk dan menciumi Namjoon sampai dia 'on' lagi.

"Bagaimana caranya, Jinseok?"

Aku mendongak, mengernyit bingung. Kebiasaan sekali tuan pelit ekspresi satu ini, kalau bicara tidak pakai kata pengantar langsung isi.

"Apa yang harus aku lakukan agar istriku memaafkanku?"

Istri? Ada kupu-kupu berterbangan di perutku, sebagian terbang ke kepalaku, membuatku melambung beberapa detik.

"Aku minta maaf sudah melakukan hal sejahat itu padamu. Suami mana yang tidak marah jika tahu istrinya menempel-nempel dengan mantannya."

Menempel-nempel apa yang barusan dia katakan?! Rasanya ingin ku jejalkan pensil ke mulutnya. Mulut yang dengan kurang ajar sudah mengusirku.

"Katakan, bagaimana caranya agar marahan kita saat ini selesai?"

"Apa sih pakai cerai-cerai." Namjoon berujar putus asa. Terselip nada menyesal dan memelas dan memohon—walau dengan wajah datar. Aku tidak mengerti kenapa ekspresi datarnya itu bisa membius jutaan orang untuk jatuh cinta gila-gilaan pada dirinya? Wajah yang jarang tersenyum apalagi tertawa. Kalau ada yang benar-benar sangat lucu baru dia tertawa.

Aku bangun, berjalan ke rak buku—mengambil satu majalah fashion. Kubuka-buka cuek sambil kembali ke tempat duduk. Duduk lagi, lihat-lihat majalah, buat sketsa. Herannya kenapa aku tidak berniat sama sekali mengusirnya? Ada semacam perasaan 'mumpung-ada-jadi-puas-puaskan-saja' yang sedang aku coba tepis.

"Masakan di restoran apartement tidak enak."

Aku memicing, alisku naik sebelah.

"Sudah lama sekali tidak sarapan nasi goreng kimchi."

Aku ingin menutup telingaku. Aku tidak ingin menangis di sini. Tidak boleh. Ingat, betapa dia sudah sangat jahat padaku: mengusir istrinya! Suami sinting!

"Sudah ya, sayang?" Pintanya memohon, manja.

Gerakan tanganku berhenti. Sial! Tidak boleh menangis, tidak boleh menangis, tidak boleh—terbentuk dua lingkaran basah di atas sketsaku.

"Aku menikah denganmu atas dasar cinta, aku tidak mau menjadi manusia yang tidak punya hati yang katanya dulu cinta mati tapi malah mengabulkan permintaan perceraianmu."

Pelan-pelan aku menarik garis sana-sini di atas kertas. Mencari-cari cela agar tidak terhanyut dengan gelombang romantisme yang sedang Namjoon ciptakan.

"Mau berbaikan, kan?"

Para penggemar yang katanya Namjoon itu adalah lelaki idaman karena ketika bernyanyi begitu ekspresif, saat ini idola yang mereka puja-puja sedang merayu istrinya untuk berbaikan dengan pertanyaan yang lebih cocok diajukan untuk mengajak membeli kue beras!

"Kau tidak mengasihani aku yang mengurus diri sendiri selama kau tidak ada?"

Selama 26 tahun mengurus diri sendiri sampai di umur ke 27 dia menjadikanku pasangannya. Bagian mana yang harus aku kasihani?

"Hanya kau yang mengerti aku, Jinseok. Sudah marahannya, ya?"

Aku curiga Namjoon kesini membawa bola karet lalu sebentar lagi mengajakku bermain lempar tangkap. Ampun yah, masih ada saja orang yang sedatar ini saat merayu? Sekali lagi kukatakan, untung ya, Namjoon, untung aku—tidak, tidak! Tidak boleh luluh. Dia mengusirku dengan keji. Membuatku keguguran. Sekarang meminta kembali dengan cara anak-kecil-mengajak-temannya-bermain-bola-karet seperti ini? Huh!

Aku tidak ingin melihat wajah memelasnya—takut luluh. Aku sibuk membuat desain yang bentuknya sudah awut-awutan. Menggambar sambil menahan isakan itu benar-benar tidak enak. Jangan ditiru.

"Sidang selanjutnya minggu depan. Jangan lupa." Potongku cepat saat menangkap gumaman 'ng…' dari Namjoon. Aku tidak ingin terlarut-larut dengan rayuan gombal yang-ujungnya-kalau-aku-salah-dia-pasti-mengusirku-lagi.

"Aku ingin berbaikan."

Kali ini aku menatap Namjoon. Melotot. "Apa-apaan? Kita sudah cerai."

"Aku belum tanda tangan." Desisnya. "Dan tidak akan pernah."

"Tapi kita sudah sidang pertama."

"Aku tidak peduli." Suara Namjoon naik satu oktaf. "Aku belum menandatangani surat cerainya. Kita masih suami istri. Sah. Jika aku ingin menidurimu sekarang pun kau harus mengabulkannya."

Tidak tahu, bukannya marah karena kalimat itu, aku malah merasa ada yang tiba-tiba terbangun di diriku saat telingaku menangkap kata 'menidurimu'. Aku ingin balas membentak, tapi Namjoon sudah lebih dulu berbicara. Dingin.

"Kita berbaikan."

"Aku tidak mau."

"Aku tidak bertanya. Itu pernyataan." Namjoon memandangku lekat-lekat. "Kita berbaikan. Kita damai. Kita tidak cerai. Tamat." Lalu si artis sok tampan ini mendekat ke arahku. Lalu menciumku! Di? DI BIBIR!

Aku dorong badannya—setelah hampir tiga menit. "Aku tidak mau."

"Bibirmu mengatakan tidak, tapi lidahmu mengatakan ingin lagi."

Wajahku sudah pasti langsung memerah. Namjoon sialan! Tahu saja kelemahanku. Atau aku-nya yang terlalu murahan sehingga mudah runtuh? Sial! Seharusnya tadi tidak kubalas ciumannya yang menggairahkan itu. Lihat, badanku jadi panas dingin sekarang. Tiga bulan puasa Namjoon benar-benar menyiksa.

"Aku kapok puasa kau, Jinseok." Namjoon duduk, menarikku kepangkuannya. Oke, aku memang murahan. Aku menurut saja dipangku, dibelai-belai pahanya oleh orang ini. "Sudah marahannya. Aku minta maaf."

"Dengan syarat."

"Apapun."

"Belikan rumah,"

"Dikabulkan."

"Atas namaku."

"Dikabulkan."

Persetan dengan sidang minggu depan, dengan pernah diusir, dengan keguguran, yang penting saat ini kami harus menuntaskannya. Semoga tadi Namjoon mengunci pintu ruanganku. Amin.

###

Besok aku harus memanggil tukang servis AC, lalu minta tolong CS mengepel ruanganku dan menyemprotkan banyak pewangi. Untung juga aku meninggalkan selimut di ruanganku. Aroma apel yang tadinya memenuhi ruanganku sudah bertransformasi ke aroma—pikir sendiri aroma apa. Ruangan yang hanya empat kali empat, terlalu kecil untuk sirkulasi udara. Tidak ada ventilasi apapun pula.

Aku merangkak ke atas sofa, menarik selimut di sandaran sofa, dan membalutkan ke tubuhku. Aku merebahkan diri di sofa, lima detik kemudian Namjoon melakukan hal yang sama. Dia memelukku, menjadikan tangannya sebagai bantalanku.

"Kau hebat, tidak sampai teriak-teriak." Namjoon tertawa pelan menerima cubitanku.

"Sampai terdengar oleh karyawan bisa mati berdiri mereka, Joon."

Namjoon menciumi wajahku. Tangannya bergerilya lagi di sekitar dadaku. Membuatku menggigit bibir agar tidak memekik. Itu area paling sensitifku setelah aku 'sampai'.

"Sayang…" Aku mendesah tertahan. "Shhh…"

Mulut Namjoon sekarang bertugas di dada, tangannya yang lebar dan kokoh itu bertugas di pangkal paha. Namjoon memindahkan tangannya yang di bawah kepalaku, dia atur letak kepalaku senyaman mungkin. Lalu dia naik perlahan menindih tubuhku. Tinggi Namjoon dan aku tidak terlalu jauh berbeda. Tapi dengan posisi seperti ini, aku merasa begitu kecil di bawahnya.

Kulingkarkan kedua kakiku di pinggang Namjoon. Kupejamkan mata merasakan sesuatu yang kembali masuk, mengaduk, menuntut, membuat aku lagi-lagi harus menggigit bibir—agar tidak berteriak. Namjoon mencium bibirku begitu lembut.

"Seokjin, buka pintunya sebentar, ada yang ingin kutanyakan."

Kami tidak bisa berhenti, Yoongi, tidak bisa. Nanti saja perlunya denganku.

And the big-O is coming. Again...

Besok juga aku harus mengurus pencabutan gugatan. Ah, sepertinya akan rumit sekali mengurusnya. Inilah kenapa EQ lebih penting daripada IQ. Tanya Uncle Google bagi yang tidak mengerti.

Kau tahu, suatu hubungan memang tidak hanya sebatas I love you, you love me, oke!

.

.

.

FIN

.

.

.

Yeayyy, finally berakhir juga perseteruan Namjin. Yang namanya saling mencintai memang saling membutuhkan, tidak bisa lepas satu sama lain sebenci apapun mereka. Wkwk. Apadah. Aku coba mengangkat alasan itu untuk ending cerita ini, mudah-mudahan oke yah. Sedikit adegan—ehem-ena-ehem—di akhir cerita buat bikin ceritanya ga terlalu hambar, ehe.

Gimana menurut kalian keseluruhan ceritanya? Aku berharap cerita ini—walopun newbie—tapi bisa ninggalin kesan tersendiri walopun ga banyak. Amin. Ditunggu reviewnya lho yaaa.

See ya in another story teman-teman.