Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Author : Rifvany Hinata-chan
.
Rated: Fiction T
.
Title: Protect The Princess
.
Pair: Naruto & Hinata (NaruHina)
.
Genre: Romance, Hurt, Love, Action (mungkin), + supranatural, mistery (mungkin)
.
.
Maaf ya, kalau tidak bekenan di hati mohon maaf,,,,...
yahh maklum ini kan FanFic pertama saya. Jika ada kesamaan Judul, Ide, Latar, Setting, dll dengan Author dan Admin lain nya ini hanya fiktif belaka yang muncul dari otak saya yang paling dalam dan sedikit agak terbentur tadi...
#Plakk XD
Warning : Jika tidak suka ,,Jangan membaca!..bisa mengakibatkan kerusakan pada...
Yosshhh...Lama Amat!,,,,,,
Now, Happy Reading! :D
.
.
.
.
Previous Capther :
TENG!
Bel pulang akhrinya berbunyi, saat-saat yang paling ditunggu siswa manapun.
"Hinata pulang bersama yuk!" ajak Sakura. "Ah tidak usah, nanti aku pulang sendiri kok."
"Benar? Maksudku kau akan pulang kerumah kan, tidak menghilang seperti kemarin lagi kan."
"Iya. Aku janji." Hinata tersenyum pada Sakura.
"Baiklah."
Saat tiba didepan gerbang sekolahnya, Hinata menghentikan langkahnya.
"Aku lupa, harus ke toko buku. Mungkin aku akan terlambat pulang."
.
.
.
.
.
Capther #11
Suara decitan pintu menggema disepanjang sudut ruang tamu, Hinata membuka pintu rumahnya dengan hati-hati dan diusahakan sepelan mungkin karena pintu itu sudah tua maka suara decitan itu tidak bisa dihindarkan. Ketika memasuki ruang tengah ia terkejut saat menyalakan lampu ruangan ini, seseorang tampak duduk disofa, tampaknya sedang menunggu kedatangan gadis itu. Memperlihatkan raut muka yang tidak jelas dan terlihat masam.
"Kemana saja kau?" tanya pria itu
"A-ano Neji-nii a-aku pergi ke..." belum ia selesaikan kalimatnya Neji sudah memotong penjelasannya.
"Kenapa sampai jam segini?" tanyanya lagi. Sebenarnya tidak sepenuhnya Hinata pergi ketoko buku, setelah selesai membeli buku yang dicarinya gadis itu merasa malas pulang kerumah jadi ia putuskan untuk pergi ke taman itu. Yah, awalnya hanya ingin menghabiskan waktu saja, tidak dikiranya dia terlalu kemalaman dan pada akhirnya perbuatannya itu malah membuat masalah dan dimarahi oleh Nii-san nya.
"Eh itu..."
"Seharusnya tadi kau menghubungiku, bukankah sudah ku beri tahu. Kalau nanti kau diculik bagaimana? Jika kau pingsan seperti kemarin apa yang harus kulakukan?" Pria itu sedikit mengeluarkan nada marah.
"Gomen Nii-san a-aku..."
"Sudahlah" Potongnya sebelum Hinata melanjutkan kalimatnya. "Ke kamarlah." Perintah Neji, Hinata mengiyakan dan langsung pergi ke kamarnya. Tapi sebelumya, "Hime, besok kau tidak usah sekolah dulu!"
"Eh? Apa?" Hinata mendongak. "Kenapa?"
"Turuti saja!"
"Ta-tapi..."
"Baiklah." ucapnya kemudian setelah melihat reaksi Neji ketika ia akan protes.
Hinata terus mengerutu sambil merutuki dirinya sendiri karena semua tindakan bodohnya hari ini. "Kenapa hari kacau semua."
"Aku lelah."
.
.
.
Ke esokan harinya..
"Kenapa Hinata belum datang juga," Ino celigukan.
"Tidak masuk mungkin." Sela Sakura
"Apa dia sakit ya." Ino tampak berfikir sebentar
"Bisa saja." Ujar Sakura
.
.
-***-Protect The Princess-***-
Ino mengangguk pelan sembari mengunyah roti isinya. "Hari ini Hinata tidak berangkat."
" Benarkah?" tanya orang itu berkali kali. "Aku sudah menjawab semuanya. dan pertanyaanmu selalu sama, Kiba." Teriak Inno pada orang dengan tatao segitiga di kedua pipinya.
"Yah.. padahal hari ini aku akan mengembalikan buku miliknya." Keluh Kiba yang duduk diseberang Ino.
"Sai, kita pergi saja." Ajak Kiba pada orang yang bernama Sai itu, kemudian menariknya.
"Huh dasar pria!" celetuk Ino. "Dan kemana Sakura?" tanyanya tidak jelas pada siapa. Sesaat kemudian Sakura muncul dengan cengiran lebar.
"Aku berhasil mendekati Sasuke-kun." Pamernya setelah duduk di depan Ino
"Apa?!"
"Mak siap-siap saja kau kalah." Godanya lagi.
"Huh, pasti kau curang." Ucapnya, sebenarnya tidak mau mengakui ucapan barusan Sakura
"Kau hanya tidak mau mengakuinya saja." Ejeknya
"Aku tidak percaya."
Mereka berdua masih berdebat, saat Naruto dan Sasuke tib-tiba saja mendekati meja mereka berdua, dan duduk di kursi yang kosong disebelah mereka berdua.
"Sepertinya ada yang kurang dari kalian." Sela Sasuke, membuat Sakura dan Ino mendongak mendengar suara seksinya.
"Dimana, Hime?" tanya Naruto-to the poin-. Baik Sakura maupun Ino pasti tahu siapa yang dipanggil Hime itu. Oh, panggilan sayang Naruto..
"Hinata hari ini dia tidak masuk." Jelas Sakura, emeraldnya melirik Sasuke. Ada rasa bersalah dalam diri Naruto, karena ia ingat hari kemarin saat Hinata menyatakan perasaannya. "Apa mungkin karena kemarin." Naruto merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Hei, Dobe!" teriak Sasuke karena dilihatnya Naruto meinggalkanya di meja dengan kedua gadis-aneh- karena terus menatapinya dengan tatapan yang...
Sudahlah!
.
.
.
Hinata terus berbaring dikasur, tak melakukan apapun, hanya memandang langit-langit kamar tidurnya berharap itu bisa mengusir rasa bosannya. Namun nihil, percuma, apa bisa hanya memandangi langit-langit kamara bisa mengusir kebosanan nya. Haa, bodoh. kemudian gadis itu beranjak dari kasurnya dan melangkahkan kaki menuruni tangga rumahnya hendak menuju ke suatu tempat.
Gadis berambut panjang dengan poni rata dan surai indigo itu tampak sedang menuntun sepedanya dengan hati-hati, sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara apapun, lebih tepatnya mengendap-ngendap sedang menuntun sepeda melewati pekarangan yang berada disebelah rumahnya dan keluar dari gerbang Manshion Hyuuga dengan tergesa-gesa.
"Huh, dengan begini aku bisa sedikit tidak bosan." Katanya sembari mengayuh sepeda miliknya meninggalkan kompleks rumahnya. "Nii-san bilang jangan pergi ke sekolah hari ini, tapi tidak ke tempat lain, kan." Hinata tampak tersenyum jail pada dirinya sendiri sembari mengayuhkan sepedanya menuju tempat yang ditujunya, kemudian memarkirkan sepedanya tepat di depan toko buku kesayangannya.
Bunyi klinting bel manyabut kedatangan Hinata ketika membuka pintu toko.
"Selamat datang, Hinata." Sapa seorang wanita ketika gadis itu memasuki toko buku.
"Ah, shizune-chan." Balas Hinata.
Setelah memilih buku apa yang akan dibelinya, Hinata langsung menuju kekasir dimana disana ada manita berambut pendek sebahu, yang bernama Shizune dan menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar harga bukunya.
"Eh, Hinata tumben, tidak sekolah?" Tanyanya halus
"I-iya hari ini tidak sekolah. Tepatnya aku tidak berangkat." Jawab gadis itu tersenyum. Melihat tatapan Shizune janggal Hinata segera meluruskannya. "aku tidak di ijinkan Neji-nii untuk sekolah hari ini." Jelasnya seakan mengerti arti tatapan tadi.
"Oh."
"Baiklah. aku pergi ya." Gadis itu pamit dan menerima bungkusan yang berisi buku yang dibelinya.
"Lain kali berkunjung lagi, ya." Ujar Shizune sembati membungkukan badan
"Iya." Hinata membalas dengan membungkukan badannya.
Kemudian gadis bersurai indigo itu kembali mengayuh sepeda birunya untuk sekedar berkeliling sebentar, ketika melihat sebuah toko bunga diseberang jalan membuat gadis itu tertarik untuk berkunjung walau hanya sekedar melihat-lihat ataupun membeli beberapa bunga.
"Keranjangku belum penuh." Ucapnya girang dan langsung melajukan sepedanya. Saat melihat papan besar yang terpampang diatas toko itu, Hinata sedikit terkejut.
'TOKO BUNGA YAMANAKA'
"Bukankah ini toko milik Ino." Gumamnya. Ino pernah bercerita bahwa keluarganya punya bisnis toko bunga, namun ia belum sempat berkinjung. "Ah, jadi ini toko milik Ino." Gumamnya dalam hati. Didepan toko itu tertata rapi oleh bunga-bunga yang sengaja ditampikan untuk menarik pehatian pelanggan. Gadis bersurai indigo itu mendekati sebuah bunga yang menarik perhatiannya. Kemudian menciumi bau khas bunga berwarna orange kekuning-kuningan itu, meresapi aromanya dalam-dalam.
"Permisi." Seseorang dari samping tampak mengintrupsinya.
"Ya." Balas Hinata, dan ternyata bila dilihat wanita ini adalah Kaa-san nya Ino.
"Bisa ku bantu, nona?" Tawarnya.
"Ah, ini bunga apa?" Tanya Hinata sembari menunjuk-nunjuk bunga yang tadi menarik perhatiannya.
"Ini adalah bunga Seruni atau Krisan, tepatnya Crysanthemum."
"Namanya indah. Bunga ini awalnya ku kira adalah bunga Aster."
"Memang hampir sama kan."
Hinata mengangguk kecil lalu melihat sekilas bunga itu.
"Warnanya sangat bagus, aku ambil ini." Ujar Hinata akhirnya.
"Pilihan yang tepat." Kemudian Kaa-san Ino memotong beberapa tangkai bunga itu lalu membawanya masuk untuk dibungkus.
"Ku dengar ini hanya bisa bertahan dua minggu saja." Kata Hinata setelah beberapa waktu mengamati Kaa-san Ino membungkus bunganya.
"Benar. Kau tahu gadis manis, julukan dari bunga Krisan ini adalah bunga musim gugur."
Hinata memasang wajah 'Oh' nya.
"Bunga ini mempunyai arti pesona, persahabatan dan..." Kaa-san Ino tidak melanjutkan kalimatnya karena ia tampak sedang mencari gunting.
"Dan cinta rahasia." Lanjutnya. Hinata memasang wajah 'Oh' nya untuk yang kedua kali. "Nah sudah."
"A-arigatou."
Melihat keranjang sepedanya sudah penuh-maupun diisi buku atau bunga-bunganya-Hinata segera mengayuh sepedanya unuk pulang, takut jika ada seorang maid yang tahu akan dirinya yang menyelinap keluar, gadis itu terburu-buru pulang.
Sesampainya dirumah, Hinata langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa yang empuk. Sekarang ia tidak peduli lagi lagi jika orang-orang dirumah ini mengetahui bahwa nono mereka tadi kabur, secara diam-diam, mengebdap-ngendap pergi keluar dengan sepedanya yang kimi terparkir tepat di halaman depan pintu rumah.
Setelah menyuruh orang untuk menyembunyikan sepedanya dari halaman-supaya Neji tidak memergokinya keluar rumah-Hinata langsung menuju kamarnya dan meletakan bunga tadi didalam vas kaca yang terletak di nakas samping ranjangnya, supaya bisa selalu memandangi bunga Krisan itu.
Nb: Bunga Krisan, Chrysantemum adalah bunga Nasional negara Jepang, karena bunga Krisan ini dapat membawa kebahagiaan dan tawa didalam keluarga.
Ia meletakan begitu saja buku yang tadi dibelinya dan langsung melempar tubuhnya ke kasur untuk sekedar mengistirahatkan kakinya setelah mengayuh sepeda dengan begitu kencang, bahkan ia berlomba dengan angin. Sumpah.
Beberapa menit kemudian dia tidak sadarkan diri karena mengantuk disertai dengan semilir angin yang menyeruak masuk ke kamarnya membawa hawa sejuk melalui jendela kamra yang tebuka.
Korden-korden dipermainkan angin malam kala itu, udara sejuk yang sempat tadi siang disaranya kini menjadi hawa dingin yang memenuhi kamar bernuansa Lavender itu. Gadis itu terbangun saat dirasanya ada seseorang yang membelai ujung kepalanya. Perlahan dia membuka matanya yang berat, terkejut saat di dapatinya seseorang yang tak disangka tengah menadangi wajah parselennya, semburat rona merah seketika membanjiri seluruh wajah porselen putih Hinata.
"eh, a-apa yang ka-kau lakukan disini?" Tanya Hinata menuntut.
"Hime." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya.
"Da-dari mana kau ma-masuk?" Tuntutnya lagi, pria itu mengangkat dagu dan menunjuk kearah luar jendela yang terbuka dengan wajah terangkat. "EH, Je-jendela?" Kali ini Hinata syok, Beneren deh! Hinata tidak mempermasalahkan dari mana pria ini bisa disini, namun untuk apa sih?!
"Tapi.."
"..."
"Untuk apa?"
"..."
"Jawab aku!"
"Untuk menemuimu, aku khawatir." Akhirnya pria itu berkata setelah beberapa saat bungkam.
"Kau tidak masuk hari ini,"
"..." kini sekarang Hinatalah yang diam.
"Apa karena kemarin?"
"..." gadi itu masih terdiam dalam posisi berbaringnya. Dia tidak mungkin kan mengatakan salh satu alasan ia tidak masuk sekolah karena orang ini, bukan, oh, sungguh malu, sedih, marah, sakit bukan.
"Mangapa malah kau yang diam." Pria itu ganti menuntutnya.
"Ti-tidak." Celetuk Hinata, pria itu tersenyum kecil disudut bibirnya melihat rekasi Hinata. "Sepertinya tidak ada untungnya kau khawatir akan aku." yang anehnya Hinata mangatakan itu tanpa tergagap, binggo secara halus gadis itu mengusirnya.
"Lagi pula aku sudah ditolak, bukan." Timpalnya. Kali ini Hinata sedikir bersikap agak kasar. Pria yang ada disampingnya terlihat geram dengan perkataanya, tanpa diketahuinya pria itu dengan sigap saling menempelkan keningnya dengan Hinata dan menatap sepasang mata amethyst itu, Hinata tidak bisa berbuat apa-apa selain memjamkan mata dan mengerutkan dahinya.
"Tunggulah aku."
"..." mendengar pernyataan pria itu membuatnya membuka lagi kelopak mata yang menenggelamkan amethyst nya.
"Setidaknya hingga misi ini selesai." Tuturnya lagi
"Na-naruto-kun," Suara Hinata terdengar bergetar, ia tidak mengerti sedikitpun maksud perkataan Naruto.
"Bagaimanapun kau harus kulindungi..." Naruto berbisik ditelinga Hinata. "Itulah misi ku." Katanya jujur.
"Selama itu aku tidak memiliki perasaan maupun rasa yang tertingal dihati manapun." Kali ini dia hampir mengungkapkan diapa dirinya jika tidak ditahan oleh ucapan Hinata, "Baiklah. Aku akan menunggu." Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti apa mau pria ini, meskipun hatinya masih bimbang tidak pasti.
"Kau sungguh mengharapkan hatiku bukan."
Hinata mengangguk pelan tanpa sadar.
"Bersabarlah."
Gadis itu tersenyum.
"Arigatou, Hime." Naruto bersyukur penjelasn singkatnyabisa diterima Hinata, hal ini semakin membuat Naurto mengembalikan perasaanya yang kosong dan sempat hilang.
Naruto kini menghadap Hinata, ia meletakan tangannya disebelah kanan dan kiri pinggang Hinata dengan posisi yang eerr..
Jarak diantara mereka nyaris tidak ada, terlebih ketika ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata dengan kepala dimiringkan. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat dan merasakan nyawanya seperti pergi dari raganya ketika Naruto menutup jarak diantara mereka dengan cara menekan kan bibirnya pada bibir mungil Hinata.
.
.
-***-Protect The Princess-***-
.
.
Suara decitan burung pagi hari membangunkan Hinata dari tidurnya, ia menggeliat seraya menutup mulutnya karena sedikit menguap, mengucek kedua matanya dengan kedua tangannya, dia menuju jendela yang semalam dibiarkan terbuka dan menghisap udara pagi hari ini.
Angin pagi mempermainkan rambut indigo kusutnya semakin berantakan. Ia menatap matahari yang samar-samar terlihat dari persembunyiannya, "Apa semalam itu mimpi?" Tanyanya pada diri sendiri.
Pusing dengan pikiran-pikiran yang mengelayangi otaknya, Hinata segera ke kamar mandi dan bergegas berangkat sekolah.
Hinata terburu-buru dengan segalanya karena terlalu bersemangat, sebab kemarin sempat dilarang nii-san untuk sekolah. Sebelum turun, gadis itu menyempatkan waktunya sebentar untuk menyapa bunga Krisan berwarna orange kekuning-kuningan yang kini menjadi penghuni kamaranya. "Apa semua ini karena bunga Krisan ini, apapun itu semoga hari ku ini menjadi baik." Katanya tersenyum. Sebelum ia mencapai pintu, Hinata menyambar tas hitam sekolahnya dan berjalan menuruni tangga dan berakhir dimeja makan yang disana Neji sedang menunggunya.
"Ohayou, Nii-san." Sapa Hinata, "Hmm." Gerutu pria itu, tampaknya Hinata tidak mempermasalahkan jawaban apa yang akan Neji keluarkan, alih-alih dia malah tersenyum, menarik kursi dan kemudian duduk dihadapan sepupu over protectivenya.
"Yakin hari ini akan berangkat?"
"Hmm," Balasnya dengan mengangguk penuh semangat, "Aku bosan tidak kemana-mana, hanya dirumah saja." Tuturnya.
"Bosan, ha?"
"Iya."
"Oh." Neji sedikit menekan katanya dengan nada mengejek. "Lalu siapa kemarin yang bersepeda warna biru, ya." Lanjut Neji bermaksud meledeknya,
dan Binggo.
Alhasil Hinata tersedek air yang ia minum. "Eh, ano yang itu... ehm..."
"Ketahuan 'kan," Potong Neji, Hinata hanya memandangi Neji dengan tatapan sebal.
"Dasar kau ini tidak bisa berdiam diri dirumah walau hanya sehari." Pria itu berdiri, mendekati Hinata dan mengacak-acak puncak rambutnya.
"Ayo berangkat." Ajaknya, gadis itu terkikik sambil memendangi punggung Neji yang menjauh. "Cepatlah!"
"Baik nii-san."
.
.
.
Sesampainya didepan gerbang pembatas antara jalanan diluar dan dunia sekolahnya, Hinata sedikit terkejut dengan kehadiran Naruto yang tengah berdiri didepan pintu sekolah, entah seperti sedang menunggu seseorang. Gadis itu bersembunyi dibalik tubuh tinggi Neji yang berhasil menutupi tubuhnya yang mungil, kecil. Hinata melewati Naruto begitu saja, mencengkram erat baju Neji.
Hinata berjengkit ketika ia memasuki kelasnya, saat secara mendadak seseorang tengah berseru, "Hinataa-chan!" sambil merangkul, bisa dibilang memeluk dirinya. "Eh?!" hanya dua konsonan-terkejutnya- itu yang keluar dari bibirnya yang kini dirinya mematung. "Ino-san."
"Hinata-chan, apa kau baik?" Tanya Ino yang menghawatirkan keadaan Hinata sejak kemarin. Hinata tidak menjawab saat Ino melepaskannya dan kini berganti seorang pria berwajah putih pucat merangkul lehernya. "Ohayou Hinata-chan, apa tidurmu nyenyak?" Sapanya, apa itu bisa dibilang sapaan, lebih tepatnya pertanyaan.
"Apa-apaan kau ini, Sai." Cletuk Ino. "Memangnya ada apa dengannya, dan kau sok kenal, sok peduli." Katanya sedikit geram, namun tidak terlalu tampak karena Ino berusaha mati-matian menyembunyikannya.
Apa lagi ini, sebanarnya apa yang terjadi? Hinata kan hanya tidak berangkat satu hari, mengapa jadi seheboh ini ketika ia masuk sekolah.
"Lupakan dia Hinata." Ucapnya seraya menarik Hinata menjauh dari Sai. Gadis berambut panjang dengan poni menutupi sebagian wajahnya itu melirik Sai yang ada dibelakangnya sambil menjulurkan lidahnya pada orang itu.
"Ino, Sakura-san sudah berangkat ya?
TENG!
Bel berbunyi tanda sebentar lagi para murid akan berkutat dengan pikiran yang menyita tenaga. Yah, nama lainnya, sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai dan tepat saat seorang pria dengan rambut putih yang seperti biasa berantakan-tapi masih bisa dibilang maco- juga tidak lupa masker yang menutupi sebagian wajah hingga sebatas hidung, dia masuk kekelas dengan diikuti Sakura dibelakangnya tengah mengendap masuk, segera berjalan hati-hati kearah para murid yang masing-masing sedang menata duduknya dan Sakura langsung kekursinya yang berada tidak jauh dari tempat Hinata.
"Sst, Sakura. Hei jidat!" Ino mengambil sebuah kertas, menggulungnya kemudian melemparkan pada Sakura yang tidak mendengarnya.
"Apa?!" Gerutunya menengok kearah Ino.
"Dari mana kau?!"
"Ha, ini introgasi?"
"Cepat katakan saja." Jawabnya tak sabar, namun masih dalam sura berbisik.
"Bertemu dengan.. ehm.. Naruto-kun." Sakura terlihat sumringah, membuat Hinata yang sedar tadi memperhatikan menjadi beku, dingin, retak, oh.. Dissapear
"Apa ini?" tanyanya dalam hati. Namun mencoba tenang.
.
.
"Eh mau kemana Sakura-san?" tanya Hinata begitu bel istirahat, tadinya dia ingin mengobrol dengannya.
"Aku mau bertemu dengan.. hm kesana, ja Hinata." Jawabnya terlihat sedikit gugup, sebelum dia keluar ia sempat mengambil sebuah amplop yang senada dengan warna rambut pinknya.
Di Taman,..
"Ku mohon tolong terimalah,"
"Tidak."
"Ayolah, Naruto-kun-senpai."
"Apa-apaan itu." Pria itu mengernyit mendengar namanya dipanggil seperti itu oleh gadis yang bersurai merah muda itu.
"Terima sajalah! Ini permintaanku yang paling dalam." Kata nya sambil menyodorkan amplop pink yang berisi surat pada pria yang ada dihadapannya. "Ini apa?" Tanyanya mencoba mengulur waktu untuk menerima surat itu, padahal dia tahu itu surat. Ckckckck.
"Surat," jawabnya singkat, Naruto yang sedari tadi bersandar dibawah pohon yang berdaun sama dengan gadis yang berada didepannya itu maju perlahan untuk menerima uluran tangan yang ada suratnya diujung jarinya.
"Untuk?"
"Untuk siapa lagi,"
"..."
"Kau..."
"Hhh.." terdengar sebuah suara yang pelan namun terdengar dipendengaran Naruto membuatnya langsung merespon dan menoleh ke sekeliling hal itu membuat Sakura menghentikan kalimatnya.
"Ada apa?' tanya Sakura melihat gelagat Naruto yang mencurigakan seolah-olah dia ketahuan seperti sedang selingkuh.
Whatt?! Selingkuh sepertinya itu kata yang tidak cocok dehh... gini- seolah olah dia mencari orang yang sedang menguntit mereka.
"..."
"Jangan lupa untuk dibalas!" ucap Sakura setelah Naruto menerima Suratnya dan berjalan menjauh dari pria itu.
"Tch, surat cinta seperti ini..." sedikit nada meledek.
.
.
.
Yosh...karena ini FanFic pertama Ric-chan,,,
Mohon kritik dan sarannya OK! Maaf jika alurnya kecepetan,,,
Review ya..pembaca yang baik akan meninggalkan komentar...
# hihi maksa bgt
.
T^_^T
TBC
.
.
A/N : hadeh binging nih mo bales Revieuw-nya,,
tapiii Ric-chan mau bilang makasih,
arigatou,
Grazie,
Gomawo,
Thank you,
Abrigado,
Gracias, dan teman-temannya...
Karena udah me-Revieuw, fav, ataupun follow... ^^
