Disclaimer: NARUTO by Masashi Kishimoto
This story plot and Runa belongs to Lazuardi Loo
Kediaman Uchiha, jam 08.30
Itachi membawa 2 plastik yakisoba, untuk makan malam. Ketika ia melepas sepatunya di genkan, Sasuke berjalan dari tangga, membawa sebuah gulungan.
"Aku pulang," ucapnya pada Sasuke.
"Selamat datang," sahut Sasuke, memberikan sebuah gulungan di tangannya pada Itachi. "Ini gulungan dari hokage untukmu, kak."
"Ah, baiklah..." Itachi menerimanya, lalu memberikan seporsi yakisoba padanya. "Makan malammu."
"Terima kasih," Sasuke menerimanya. Ia berjalan menuju dapur, sementara Itachi menuju washitsu, membaca gulungan tersebut. Matanya naik turun membaca gulungan tersebut, sebelum dilihatnya Sasuke membawa kotak styrofoam berisi yakisoba itu, dan duduk di dekat kakaknya yang belum menyentuh yakisobanya sedikitpun.
"Sasuke,"
"Hn?"
"Kau tak apa?"
"Bagaimana aku tahu?"
"Maksudku tentang isi gulungan ini..."
"Memang apa isinya?"
"Posisimu digeser, menjadi wakil ketua ANBU," sahut Itachi, meletakkan gulungan tersebut. "Tanpa masa percobaan. Ia menganggap aku pernah jadi ketua ANBU, jadi masa percobaan itu tak perlu dilakukan."
"Kakak memang hebat sejak dulu," Sasuke membaca surat tersebut, lalu meminum air dari gelasnya yang diletakkan di sebuah meja berkaki rendah. "Wajar kalau kau menggeser posisiku."
Itachi memandang adiknya dengan wajah yang tak bisa diekpresikan. "Aku akan mengatakan pada hokage, kalau aku menolak posisi ini."
"Tidak, tak perlu," Sasuke menggeleng. "Terima, atau aku yang akan marah padamu, Kak."
Itachi memandangi wajah adiknya dengan tatapan sayangnya, menghela nafas.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku tak bisa apa-apa kalau kau sudah marah, ayo makan..." Itachi membuka bungkusan yakisoba miliknya, dan mulai makan. Keduanya sama-sama dalam keheningan, karena sejaka dulu keduanya diajarkan agar tidak bicara selagi menikmati makanan. Itachi sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pula adiknya.
"Sudah lama sekali kita tak bersama," Sasuke angkat bicara. Ia telah menghabiskan makannya. Itachi mengangguk, karena ia harus menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Kapan-kapan kita latihan bersama," katanya, mengajak Itachi. Itachi meletakkan kotak styrofoamnya yang telah kosong, lalu minum. "Dan jangan ada kata 'lain kali'."
Itachi tertawa kecil, "kau masih ingat, eh?"
"Kakak selalu bilang, 'maaf Sasuke, lain kali ya' sembari menekan keningku dengan kedua ujung jarimu, ketika aku mengajak latihan atau sekedar bermain, dan sekarang kau tak punya alasan..."
"Tentu, kalau kita sama-sama tak sibuk..." Itachi mengacak-acak rambut pantat ayam Sasuke. "Ngomong-ngomong, lusa aku mulai berangkat untuk misi."
"Ah, dengan siapa?"
"Runa. Kau kenal dekat dengannya?"
Hati Sasuke mencelos. Namun, bagaimanapun ia harus menyembunyikan perasaannya.
"Tidak, dia menyebalkan..."
"Aku tahu alasannya..." seringai Itachi membuat Sasuke memalingkan wajahnya. "Ia sudah menceritakan insiden 'menyumpal dengan onigirinya' padaku."
"Tch. Terserah saja," Sasuke melipat tangannya ke dada.
"Ngomong-ngomong, kau pernah satu misi dengannya?"
"Tidak. Ia lebih banyak menjalani misi solo," sahut Sasuke. "Ia dianggap bisa melakukan hal tersebut karena ia dikenal dengan kemampuannya bergerak sendiri dan pengalamannya saat menjadi pembunuh. Ia biasa bergerak sendiri semenjak masih jadi kriminal."
"Apa yang kau tahu tentangnya?" Itachi memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Tak banyak. Yang aku tahu ia bisa membunuh dalam lima detik dengan jutsu rahasianya ketika ia menggunakan Mangekyou Sharingannya. Dia terkenal dengan panggilan si pembunuh dingin, meski jika dilihat sepintas ia tak seperti sebutannya. Ia tampak konyol, menurutku," kata Sasuke menjelaskan.
"Itu watak aslinya, Sasuke..." Itachi tersenyum. "Ketika tanpa ada tekanan, ia begitu santai dan tampak bodoh."
"Ya, asal jangan dengan pandangan dinginnya dengan Mugen Susano'o yang berkoar menyelubungi tubuhnya. Aku jadi teringat Madara jika melihat bentuk Susano'o miliknya."
"Mugen Susano'o?"
"Hn. Ia memiliki mugen Susano'o dengan dua wajah berwarna hijau."
"Ah, begitu rupanya," Itachi melipat tangannya kedada, menyentuh dagunya, berpikir. "Oh, ya. Besok aku berangkat dini hari, bersama Runa dan Kakashi."
"Perlengkapan ANBU-mu sudah kuletakkan di kamarmu. Semoga sukses untuk misi lusa nanti," Sasuke menguap, membawa styrofoam bekas dan kedua gelas. "Sudah malam. Aku juga banyak laporan, jadi...selamat malam kak."
"Ya, selamat malam..." Itachi mengangguk, dan sosok Sasuke menghilang dibalik shoji. Itachi beranjak, membawa gulungan tersebut ke kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas sebuah ranjang single bed bercover tebal.
Ia harus tidur awal.
~oOo~
Dua hari kemudian, jam 04.45 pagi
Runa dengan wajahnya yang kuyu – mendapati ruangan hokage yang tampak sudah terang. Semalaman ia kembali tak bisa tidur. Mimpi buruk kembali menghantuinya. Imbasnya, pagi-pagi ini ia malah mengantuk. Sesampainya di depan kantor Hokage, ia tak langsung masuk dan mengetuk, melainkan terduduk di sisi pintu, menekuk kakinya ke dada, berusaha tidur sejenak, meski cuma lima menit. Matanya terpejam dan kepalanya tertunduk.
"Kau tampak lelah sekali Runa," tanya sebuah suara, mengagetkan Runa. Ia menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya Naruto dengan baju Hokagenya, dengan kotak makanan di tangannya, tersenyum kecil. "Sudah sarapan?"
"Belum," Runa berusaha bangkit. "Aku bahkan belum tidur."
"Hah?! Kenapa kau tak tidur semalam?"
"Masalah sepele," Runa tersenyum kecil, menyembunyikan kebenaran. Ia merasa hokage di depannya tak perlu tahu dengan mimpi-mimpi buruk yang selalu membayanginya saat sendiri.
"Ayo masuk. Aku membawa onigiri. Hinata-chan menyuruh salah seorang pelayannya untuk mengirimkanku ini pagi-pagi – kau mau?" Naruto menyodorkan kotak bambu itu, dan Runa mengambil sekepal onigiri.
"Terima kasih," Runa mengikuti sang hokage menuju ruang kerjanya sembari menunggu yang lain. Setelah menghabiskan nasi kepalnya, ia kembali duduk menekuk lutut ke dada dan tertidur. Hanya tidur ayam – mungkin sekitar 20 menit, karena ia sempat mendengar ketukan pintu, lalu langkah-langkah kaki diikuti pembicaraan – suara baritone lelaki yang kini telah di kantor Hokage. Dua orang lelaki.
"Tuan hokage,"
"Ah kalian sudah datang," Naruto meletakkan kotaknya, lalu tersenyum pada kedua ANBU tersebut. Ia memberikan dua buah gulungan pada Itachi.
"Gulungan yang kecil berisi misi yang akan kalian laksanakan, satu gulungan yang tebal lagi harus di serahkan. Setelah misi berhasil, bakar gulungan berisi misi tersebut."
"Dimana Runa?"
"Itu dia," Naruto menunjuk salah seorang yang sedang melipat lututnya ke dada, "Oy, Runa-san!"
Yang dipanggil tersentak, lalu beranjak berdiri. Itachi tampak sedikit kaget dengan penampilan Runa yang mengenakan seragam ANBU. Sebuah tato simbol anggota ANBU di tangan kirinya, sebuah topeng kucing yang diletakkan miring di kepala sebelah kanannya, serta celana ninjanya yang berwarna abu-abu.
"Yo, semuanya!" sapa Runa pada ketiga pria tersebut. "Mencariku?"
"Kupikir kau belum datang," ucap Kakashi dengan matanya yang selalu tampak mengantuk. "Jadi, kita berangkat?"
"Ya, dan berhubung Kak Itachi sudah menjabat sebagai Ketua Pasukan ANBU, untuk misi ini aku tak akan memberikanmu kerjaan ganda. Kakashi-sensei akan menjadi ketua tim kalian," ucap Naruto. "Baiklah, selamat jalan kalau begitu."
Normal POV
"Tch," Itachi mengalihkan pandangannya kearah lain, saat dilihatnya Runa terluka akibat terkena ranting-ranting tajam. Perjalanan mereka terhenti karena Runa mendapat beberapa memar di lengan atasnya sehingga harus disembuhkan dulu. "Ini baru sepertiga perjalanan, kunoichi."
"Maaf," Runa mengobati dirinya sendiri. Meski ia tak begitu hebat dalam ninjutsu medis, setidaknya ia masih bisa mengobati dirinya sendiri.
"Sebaiknya kita sembari istirahat saja, lagipula hari mulai gelap..." Kakashi memandang langit di ufuk barat yang mulai kemerahan, menandakan siang hampir berakhir. Itachi menghela nafas bosan, lalu duduk di sebuah batang pohon yang sudah tumbang, menunggu Runa menyembuhkan luka-lukanya.
"Aku hanya ingin misi ini cepat usai," gumam Itachi, lalu meminum air dari botol yang dibawanya.
"Maafkan aku," Runa menghela nafas. "Ayo kita berangkat la – SIAPA DISANA?"
"Doton: doryuheki!" Kakashi membuat segel.
CRAK CRAK CRAK.
Tiga kunai menancap di benteng tanah yang entah sejak kapan sudah melindunginya.
DUAR!
"Loncat Runa!"
Tidak sempat. Sebuah kertas peledak dalam ujung waktunya saat lengan-lengan kekar itu mengangkat tubuhnya ke atas pohon.
DUAR!
"Bodoh, kau hampir ikut meledak, kunoichi..."
Perempatan siku-siku muncul di pelipis Runa. Kunoichi? Enak saja. Ia punya nama! Seketika ia turun dari Itachi yang menggedongnya dengan gaya bridal style, lalu kembali berdiri di dahan , tepat di sebelah Itachi. Sementara itu Kakashi telah siap menyerang dengan Raikiri, namun berhasil ditepis. Itachi kembali turun ke medan tempur. Runa menghela nafas, lalu berusaha tenang.
"Kunoichi! Sedang apa kau disana? Cepat bantu kami!"
Mari sedikit bermain pintar dengan taijutsu.
"Kau lawanku," kata seorang pria dengan pakaian ninjanya, memegang sebuah kunai di tangan kanannya. Seorang pria bertubuh besar dengan gigi tidak rata. Runa mengernyit jijik dalam topeng ANBU-nya.
"Dengan senang hati," Runa mengangguk. Keduanya maju, dan serangan tangan kaki serta kibasan kunai hampir mengenai tubuh Runa. Runa menghindar, dan sebuah pukulan telak menghampiri rahang pria bertubuh besar tersebut. Runa mendengungkan telinganya dengan tamparan keras pada kedua telinganya, membuat sang pria besar tersebut limbung. Ia mulai menyerang serampangan, tangkis dengan tangan, dan Runa kembali memukul sisi rahangnya yang satu lagi. Block serangannya, lemahkan rahang dan pipi, serang lagi rahang tadi, pukul ulu hatinya, dan tendang diafragmanya dengan sebuah chakra yang cukup besar.
BRUAGGHH!
Pria itu terlempar, merobohkan beberapa pohon yang menjadi imbas dari tenaga gilanya. Runa mendekati pria itu, dan mematahkan lehernya seketika.
KRAK!
Suara itu menginterupsi Itachi, Kakashi serta lawannya. Runa menendang kepala itu dengan sepakan kaki kanannya.
Sementara musuh dan kedua anbu pria itu memandang Runa dengan tatapan horor sekaligus nanar, meski Runa tak mengetahuinya, karena wajah dua ANBU itu tertutup topeng.
"Mau jadi korban berikutnya?" tanya Runa, memandang dua musuh yang kini wajahnya tampak pucat. Saat itu mata mereka tampak melotot, dan tanpa diminta, Itachi mengaktifkan mangekyou sharingan miliknya, menatap lawannya.
"Tsukuyomi."
BRUK. Tubuh itu tiba-tiba terjatuh dan berteriak-teriak sendiri. Runa tahu jurus itu. Tsukuyomi yang menyeret seorang terjebak dalam dunia ilusi sang pemilik genjutsu. Ia berlari menolong Kakashi, menendang, memukul, menarik katana, dan dengan tanpa dosanya, menusuk sang musuh dengan katana miliknya.
POFFF.
"Kau salah orang," sebuah suara menginterupsi Runa, dimana sang musuh kini menodongkan kunai ke lehernya. Saat itu Runa yang asli dengan sebuah bunsin miliknya menodongkan 2 katana ke arah musuh.
"Selamat tinggal," ucap Runa dingin.
CLEBH.
STRATCH.
Lawan itu tersungkur seketika. Jantungnya tertusuk, dan lehernya hampir putus. Percikan darah mengenai topeng dan pakaian ANBU kebanggaan mereka. Saat itu Runa tersenyum, melepas topengnya. Itachi dan Kakashi melepas topengnya, kehilangan kata-kata. Itachi baru tahu, bahwa ada orang yang lebih sadis dan tega dan masih bisa tersenyum setelah membunuh 2 orang dengan cara yang sadis, apalagi ia adalah seorang wanita!
Itachi sadar, bahwa saat ini ia berhadapan dengan seorang mantan kriminal yang dulunya seorang pembunuh bayaran.
"Kau memang dirancang untuk membunuh," ucap Itachi bergumam saat Runa memunggunginya.
Runa menoleh, memandang Kakashi dan pria tampan di hadapannya. "Bisa kita lanjutkan perjalanan? Misi kita belum berakhir."
~oOo~
Itachi POV
Kami meloncati dahan-dahan pohon menuju desa yang kami tuju. Sepanjang perjalanan aku memikirkan gadis yang kini ikut melompati pohon beberapa meter lebih jauh dariku. Mengingat ia wanita, ia seharusnya lebih dilindungi, sehingga formasi kami dari depan adalah Kakashi – Runa – dan aku, Itachi. Tapi mengingat kemampuan taijutsu dan hatinya yang benar-benar pembunuh, sepertinya aku harus memikirkan ulang formasi ini, karena gadis ini benar-benar bukan seorang pembunuh yang bisa diremehkan. Aku belum tahu apa yang bisa ia lakukan selain ini, karena ia tampak lebih suka menggunakan kemampuan Taijutsu yang selalu tepat guna – menyerang titik lemah. Kuakui, aku kagum akan kemampuanmu Taijutsunya, tapi cara dia mematahkan kepala manusia tadi...sepertinya aku tak akan makan kare beberapa hari karena pasti shock mengingat kuah berwarna merah – yang bisa aku asumsikan sebagai darah.
Aku memang pembunuh. Dulu. Seorang tokoh utama dari pembantaian klan Uchiha. Yang harus – mungkin tepatnya terpaksa – kulakukan demi kedamaian desa. Namun, semua itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dikenang. Aku tetap menangis saat membunuh orang tuaku. Jiwaku tetap hancur melihat kenyataan bahwa klan Uchiha hampir punah di tanganku. Aku jamin, jika aku diposisinya, aku tak akan pernah mampu tersenyum setelah membunuh. Bahkan meski sekedar seringai.
Hati nuraniku tetap berteriak, bahwa aku tak boleh melakukan itu.
Namun gadis dihadapanku, ia lebih tampak disebut seorang mesin pembunuh. Cara ia membunuh, ekspresi tenangnya setelah membunuh, senyum ringannya yang tampak enteng seolah mengatakan; hei-membunuh-ini-hanya-satu-dari-kegiatan-sadis-lainnya-yang-kulakukan-teman, membuatku bergidik. Apa sedingin itukah gadis berwajah manis ini, yang membunuh ratusan nyawa hanya demi uang?
Demi uang.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, menghempaskan segala pikiran tentangnya. Ia memang tercipta sebagai pembunuh. Gadis ini benar-benar pembunuh.
Ia benar-benar berubah.
"Kita beristirahat disini, sembari menunggu matahari terbit. Bagaimana, Itachi?"
"Hn."
"Baiklah," Kakashi turun, memijakkan kakinya di tanah. Runa tampak mendarat dengan anggun, terlihat gontai. Aku turun terakhir, lalu memandang sebuah mata air yang tak besar tak jauh dari kami. Aku mengisi botol minumku yang telah habis, lalu meminum sepertiga dari isinya, kemudian mengisinya lagi. Kakashi tampak merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput hijau, membuka buku kesukaannya. Runa membuka topengnya, duduk bersila sembari memakan kol rebus dan onigiri.
Hei, itu khan makanan kesukaanku?
~oOo~
Normal POV
Runa menghela nafas kesal. Baru saja kemarin ia merasa lebih dekat dengan pria berdarah Uchiha ini, tapi kenapa hari ini moodnya tampak berubah lebih hitam dan dingin? Kalau tidak karena rasa kagumnya dan memenuhi hasrat penasaran di hatinya, ia tak akan mau berinteraksi dengan pria Uchiha seperti Itachi. Sayangnya, makhluk bermarga Uchiha hanya dua, ia dan Sasuke, dan keduanya sama angkuhnya–
–mungkin.
Untung saja mereka itu tampan.
Atau mereka dingin, angkuh dan tampak stoic karena mereka sadar mereka tampan?
Runa tersenyum tipis. Dilihatnya Itachi yang kini merebahkan tubuhnya tak jauh dari Kakashi. Kedua pria itu tampak damai, tenggelam dalam lelapnya, mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Runa menghela nafas. Wajah pria bermarga Uchiha itu tampak tenang. Dadanya tampak naik turun, menunjukkan sebuah eksistensi nyawa didalamnya.
Tsk, pria dingin. Dia tampan, tapi saat dingin, ia jadi sangat menyebalkan.
Wajah itu memang tampan, dengan dua guratan di wajahnya membuat ia tampak lebih dewasa. Runa tersenyum kecil lagi. Ia jadi teringat saat Itachi mengangkat tubuhnya untuk menjauhkannya dari kertas peledak tadi. Aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat Runa melamun lebih dalam. Harum tubuhnya membuat Runa tak ingin lepas. Tubuh tingginya, otot-otot yang menyembul tertutup apapun dalam seragam ANBU miliknya...berkhayal sejenak jika tangan-tangan itu bisa ia lendoti sejenak tanpa harus terkena omel dari sang empunya tangan...
Ah tidak. Sang Uchiha tak akan membiarkan siapapun menyentuh tubuhnya semaunya sendiri. Yang berhak melakukannya mungkin hanya kekasihnya. Eh iya, seperti apa jika Itachi memiliki kekasih? Runa tersenyum lagi. Apa ia akan tetap dengan stoic face-nya? Atau jangan-jangan watak dinginnya hanya menjadi benteng yang menutupi keagresifan dirinya pada wanita yang harus ditembus bagi wanita yang hendak melakukannya? Runa mendesah pelan.
Pria ini memang sulit digapai, sangat sulit digapai untuk menjadi miliknya...
Hei, apa yang kau pikirkan, Runaaaa?!
~oOo~
Misi berakhir. Genap tiga hari mereka sampai kembali ke Konoha. Setelah melapor pada sang Hokage, mereka pulang bersama. Kakashi yang mengambil arah berbeda, meninggalkan sang Uchiha dan gadis berkulit gelap itu berjalan dalam keheningan karena mengambil arah blok yang berbeda.
Apa yang terjadi padanya? Runa menggeleng dengan wajah kuyu. Ini baru saja perjalanannya pulang dari misi pertamanya dengan Itachi dan Kakashi. Semenjak berangkat – tiga hari yang lalu – hingga saat ini, hatinya selalu berdesir saat didekat Itachi. Begitu juga saat ini, saat ia berjalan pulang menuju rumahnya. Berharap bisa cepat pulang dan bermain bersama Mia, ia tak sadar, bahwa sedari tadi mata si sulung Uchiha telah beberapa kali mengerling ke arahnya.
"Sampai sini dulu, Itachi-san...jaa nee!"
"Hn."
Tubuh Runa menjauh, mengibarkan rambut hitam panjangnya yang berkilau. Itachi mendongak melihat sosok itu meloncat jauh melompati atap-atap rumah.
~oOo~
Sementara itu, Runa sibuk dalam pikirannya. Ia teringat wajah dingin Itachi, suara baritone Itachi, bahkan wajah Itachi yang menaikkan alisnya. Raut Itachi tampak lebih hidup daripada ketika ia masih menjadi anggota Akatsuki. Yah, bagaimanapun, si sulung Uchiha telah diberikan kesempatan hingga 3 kali untuk memperbaiki hidupnya. Sekarang Sasuke kini telah kembali ke Konoha, bersama kakaknya yang begitu ia sayangi. Setidaknya pria tampan dan dingin itu tak se-moody sebelumnya. Eh, Runa tercenung. Apa seorang Sasuke – mantan nuke-nin yang dingin masih tetap dingin meski kakaknya telah kembali dan ia mengetahui semuanya? Lalu bagaimana sebenarnya perilaku sejati seorang Itachi di kesempatan hidupnya yang ketiga ini?
BRUAKKK!
Dan sosok Runa kini terjatuh kebelakang setelah 'mencium' tiang listrik.
~oOo~
Kalau mungkin scene fighting nya agak crappy, maklumi. Abaikan saja. AKu memang parah bikin fighting scene. Huoho. Abaikan...
Yosh saatnya bales repiu :
corn flakes : Suka? Maaciw. Aku juga suka deh kalau kamu suka. *kedip-kedip mata* #digaplok
seitem apa ya? Gelap, deh. Mmmm...tau murid Killer bee? Karui? Nah seperti itu gelapnya.
.
Hmmm Nananana Anae-chan : Siap. Hampir menjelang fase akhir nak. Sepertinya selanjutnya akan menekankan ceritanya pada sasusaku setelah Itachi sama Runa nikah :3
.
Mizuhashi Kyousuke : uohoho, maaciw . Untuk canon tentu saya usahakan ga akan OOC karena itu akan menghancurkan karakternya. Mungkin OOC pada ...beberapa kondisi. Kondisi yang...yah mendukung.
.
Demon and Thief :
Writer: Tidak, Itachi punyakuh!
Runa: *meng-shinra Tensei penulis*
Baca terus ya :3
.
Uchiha Cesa: nduk, ini aku post beberapa chapter sekaligus. Nggak usah nangis, aku tahu kamu rindu aku dan cerita ini. #digampar
Dan untuk beberapa akun lainnya: yang minta sasu saku, bos, harap bersabar. Kalau terpusat dengan dua cerita, takut ceritanya ngawur XD tunggu ya XD
