Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Hanya satu orang dari kalian yang bisa selamat. Bunuh atau dibunuh. Pilihan ada di tanganmu, Obito-kun."

.

.

.

Bab 11 [ Penghianat ]

Hari pertama Naruto di SMP

.

Itachi SIDE

"Omedetou!"

Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman hingga kedua matanya menyipit. Surai pirangnya bergerak acak mengikuti arah angin membawanya. Pemandangan yang indah, dia adalah ciptaan Tuhan yang selalu dia kagumi diam-diam. Semakin bertambah umurnya, semakin aura kecantikannya keluar. Hawa kehangatan dan keceriaannya juga telah membuatnya terkenal di berbegai kalangan. Siapa yang bisa menolak senyuman secerah matahri miliknya. Kemudian keinginan egois itu datang. Tuhan, apa aku boleh untuk mencintainya?

"Arigatou Itachi-nii. Ah, apa sekarang aku harus memanggilmu Itachi-senpai? Tehee."

Pertanyaan seperti. 'Apa aku bisa melindunginya?' mampir kedalam otaknya. Memaksa Itachi untuk sadar dimana dunia tempatnya tinggal saat ini. Tidak seharusnya dia membahayakan Naruto dengan terus menyukainya. Gadis pirang ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kelemahan utamanya.

"Mou jangan mengacak rambutku!"

Hampir menyerah. Kemudian pertanyaan lain seperti 'Apa aku harus melepaskannya?' ikut andil dalam memperdalam pemikirannya.

"Maaf."

Keinginan melindunginya yang kuat membuat Itachi ragu, 'apa dia akan aman jika bersamaku?'. Tapi Itachi juga ingin bahagia, dia ingin memiliki seseorang yang bisa dia ajak untuk membagi bebannya. Dia tidak ingin hidup seperti ini untuk selamanya. Dia ingin sebuah bahu untuk dia bisa bersandar saat dia lelah dengan semua masalah yang datang padanya.

"Ah, apa aku cocok dengan seragam ini?"

Cubit

'Tidak peduli berapa kalipun aku melihatnya, dia tetap saja menyilaukan. Memabukkan. Dan susah untuk di lepaskan.'

"Itwachwi-swenpwai i-itwai."

'Sudah aku putuskan! Aku tidak akan melepaskanmu, sekalipun kau merengek untuk lepas dari pengawasanku, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan pernah.'

.

End Itachi SIDE

.

.

.

"Kau sudah dengar beritanya?"

Kisame berlari menghampiri Itachi yang baru saja masuk kedalam kelas. Tangannya terulur memberikan amplop surat berwarna hitam kepada Itachi. Nafasnya terdengar tidak beraturan, ekspresi wajahnya pun tidak kalah sama buruknya.

"Apa aku perlu menyuruh Yahiko-senpai melarikan diri?"

Itachi terdiam. Tangannya terkepal erat. Meremukkan kertas yang baru saja di bacanya. Matanya memicing tajam pada setiap mata yang tanpa sengaja memandang kearah mereka berdua. Itachi tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dia akan menyelamatkan Yahiko, bagaimanapun caranya.

"Apa ada yang kau curigai?"

Kisame melirik keadaan sekitar. Setelah memastikan tidak ada orang lain selain mereka. Barulah Kisame mengeluarkan ponsel pintarnya dan memberikannya pada Itachi. Itachi sama seklai tidak terkejut melihatnya, karena memang dia sudah mencurigai orang itu sejak mendiang Konan memberitahunya. Tapi tetap saja sedikit sulit menerima kebenaran yang sudah dia antisipasi sejak awal.

"Kau yakin dia orangnya?"

Kisame mengangkat bahu. Diam-diam dia melirik kebelakang. Tepat kearah seorang siswa yang terlihat asik mendengarkan lagu di ujung lorong.

"95%"

Itachi menarik sudut bibirnya. Ma, jika memang begitu kenyataannya hanya harus dia bereskan bukan. Tidak berguna jika hanya terkejut dengan keadaan yang ada. Sejak awal memang keadaan tidak pernah berpihak kepadanya. Jadi masalah ini tidak akan mengurangi kewibawaannya sebagai pemimpin.

"Ah, apa kita akan menjalankan plan B?"

Kisame tertawa. Akhirnya Itachi mengerti. Ini akan menyenangkan, lebih menyenangkan daripada melubangi kepala mereka secara langsung. Lebih menyenangkan jika melihat mereka putus asa dan memohon kematiannya padamu. Kisame tidak sabar untuk segera melihat ekspresi itu dari wajahnya.

"Up to you bos. Tapi apa tidak seharusnya kita menyisakan kepalanya? Sayang kalau kepalanya ikut di lenyapkan. Yah, dia juga pernah menjadi anggota tim. Kita bisa menjadikan kepalanya sebagai hiasan dinding di markas. Sebagai hadiah kenang-kenangan mungkin. Bukankah itu ide yang bagus Tobi-senpai?"

Siswa yang tadinya berdiri di lorong tersentak, kemudian bergegas pergi meninggalkan keduanya. Baik Kisame ataupun Itachi hanya melihat punggung yang berjalan menjauh tanpa melihat wajah pucat orang itu yang menyamai mayat yang baru saja merenggang nyawa.

"Jangan percaya pada siapapun. Sekalipun anggota tim, dia juga bisa menjadi duri dalam daging kan?"

.

.

.

.

Flashback Tobi POV

.

.

.

.

Bau apa ini? Menyengat. Seperti bau bangkai.

Krincing

Ah, apa aku akan di'siksa' lagi? Tolong siapapun selamatkan aku! Aku muak harus menjadi orang menjijikkan seperti ini. Hidup sebatang kara. Menjadi pelacur yang harus mendesah menjijikkan saat pria hidung belang itu meraba tiap inci tubuhku. Tidakkah mereka jijik saat melihat kemaluanku yang menggantung seperti milik mereka. Kenapa mereka tidak memesan pelacur wanita yang jelas-jelas memiliki lubang yang pas untuk menampung sperma mereka, sebanyak apapun yang mereka inginkan. Kenapa harus aku?

"Khukhukhu apa dia sudah sadar?"

Siapa? Sial, kenapa gelap sekali. Tunggu, kenapa aku merasa ada yang aneh disini? Bukankah dua jam yang lalu aku sedang keluar untuk membeli sarapan. Tiba-tiba ada yang memukul kepalaku dari belakang. Lalu semuanya gelap. Saat aku terbangun, kedua tanganku dalam kondisi terborgol dan kedua mataku ditutup. Apa aku diculik? Cih, apa gunanya menculik ku? Aku tidak memiliki siapapun, tidak akan ada yang memberikan mereka uang jika mereka menculikku. Kasihan sekali.

"Obito desu ka?"

Aku tidak harus menjawab kan?

Sret

"Argh!"

Kepalaku terangkat. Aroma tembakau bercampur alkohol menyapa indra pembauku. Menjijikkan.

"Obito desu ka?"

Aku mengangguk takut. Siapapun mereka, pasti mereka orang jahat. Aku yakin itu. Well, lupakan fakta bahwa aku juga bukan orang baik-baik.

"Lepaskan pengikat matanya."

Ikatan di mataku melonggar. Mataku memicing untuk mengobservasi keadaan sekitar. Perhatianku langsung terfokus pada seorang laki-laki yang berjalan masuk kedalam sel yang kutempati. Wajahnya terlihat gusar.

"Orochimaru-sama objek 704 gagal."

Laki-laki misterius yang berdiri dihadapanku mengangguk. Tangannya bergerak memungut sebuah tali tambang yang tergeletak tidak jauh dari posisinya.

"Bawa dia kemari."

Laki-laki bersurai perak itu mengangguk kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua. Aku dan laki-laki misterius itu.

"Tidak lepaskan aku hahahaha berikan aku obat itu lagi hahaha tolong aku hahaha."

Keningku berkerut melihat seorang laki-laki tanpa selehai benangpun yang di seret masuk kedalam sel yang di tempati. Laki-laki itu terus meronta tapi sesekali kulihat dia tertawa seperti orang gila.

"Aku akan memberimu tes pertama Obito-kun."

.

.

.

.

.

"Lepaskan aku brengsek!"

Jarum suntik itu menembus kulit laki-laki bugil itu. Tiba-tiba dia menjadi tenang. Tidak lagi memberontak seperti tadi. Tapi kenapa aku merasa akan ada kejadian buruk yang akan terjadi sebentar lagi.

"Hanya satu orang dari kalian yang bisa selamat. Bunuh atau dibunuh. Pilihan ada di tanganmu, Obito-kun."

Klik

Borgol yang mengunci kedua tanganku dilepaskan. Tapi kenapa aku tetap tidak bisa menggerakkan kedua tanganku. Pandanganku terfokus pada laki-laki bugil yang kini berdiri dihadapanku dengan tatapan kosong.

Klik

Aku melotot horor saat kulihat laki-laki misterius itu menarik sudut bibirnya. Tangannya tersilang di depan dada sambil terus mengamatiku. Apa yang dia rencanakan.

Tuk tuk tuk

"Let's party!"

Aaaaaargh!

.

.

.

.

.

"Brengsek!"

Bruk

Kutendang perut laki-laki bugil itu saat dia akan menyerangku –lagi. Tubuhnya terhempas membentur dinding. Tapi dia tertawa. Matanya tetap kosong tapi aku bisa mendengar suara jeritan putus asanya dari kedua mata itu.

"Aaargh!"

Laki-laki itu mengeram lagi entah untuk keberapa kalinya. Tangannya menodongkan pistol kearahku. Tapi kulihat tangannya bergetar hebat saat memegang pistol itu. Cih, amatir.

"J-jangan mendekat!"

Aku terkekeh melihat ekspresi ketakutannya. Rasanya menghibur. Lebih menghibur dari suara desahan pria hidung belang yang selama ini menjamah tubuhku dan memperlakukanku seperti seorang jalang.

Ctak

Kretek

"Ah maaf aku tidak sengaja."

Laki-laki itu membulatkan kedua matanya saat aku mematahkan tangan kanannya.

"Hmmmp."

Dan membekap mulutnya tentu saja.

Kretek

"Hmmmp."

Dor

"Fuih."

Kulepaskan cengkramanku dan kupandangi jasatnya yang kini tergeletak diatas lantai. Matanya memandang tajam kearahku.

Crash

"Berhenti menatapku seperti kau akan mengulitiku hidup-hidup."

Apa ini? Kenapa aku bahagia melihat darah menggenang dari kedua matanya yang kucongkel paksa.

"Hahahahaha."

Dan kenapa aku tertawa?

.

.

.

.

.

.

"Misi pertamamu adalah menjadi mata-mata di tim khusus yang di bentuk Fugaku."

Aku mengangguk. Akhirnya aku bergabung dengan kelompok mafia. Tidak masalah. Setidaknya disini aku tidak harus menjadi jalang untuk bertahan hidup. Mereka sudah menjamin kehidupanku dengan baik. Hanya dengan mengangkat senjata dan menuntaskan hasratku untuk membunuh, semua itu terlalu mudah untukku.

"Mulai sekarang namamu Tobi."

Aku mengangguk dan berjalan keluar dari markas. Saat akan melewati lorong menuju pintu keluar, langkahku terhenti. Aku menoleh kesamping. Tepat pada sebuah tengkorak yang terlihat menyedihkan, hanya seonggok tulang yang berdiri menggunakan tiang penyangga.

"Ohayou 704-san. Semoga harimu menyenangkan."

Aku melirik label harga yang terpasang di lehernya. 704 dolar? Sesuai dengan nomor yang diberikan Orochimaru padanya. Harga yang sesuai sepertinya.

"Ah mereka tidak membersihkan dagingmu dengan baik. Semoga masih ada yang mau membelimu 704-san. Selamat tinggal."

.

.

.

.

.

"Siapa ketuanya?"

Perempuan bersurai biru itu mengangkat bahu. Matanya memicing tajam saat melihatku. Dia tidak sedang mencurigaiku kan?

"Hei, siapa namamu?"

Aku menunjuk diriku sendiri. Perempuan yang mengaku bernama Konan itu mengangguk.

"Tobi."

Konan mengelus dagunya sendiri. Mengamatiku dari atas ke bawah lalu keatas lagi. Sesekali dia mengendus bajuku seperti anjing pelacak.

"Kau bau darah. Apa kau pernah membunuh orang sebelumnya?"

Sial untuk wanita dan instingnya yang terkadang tepat sasaran.

"Hahaha begitu kah? Kurasa tidak. Aku bersih kok tenang saja."

Konan terkekeh lalu merangkul pundakku.

"Kurasa juga begitu. Mari kita berteman Tobi-san."

Tap tap tap

"Adik kecil kenapa masuk ke tempat ini? Disini bahaya loh."

Tanyaku saat seorang laki-laki berusia dibawah sepuluh tahun berjalan masuk kedalam markas. Bocah bersurai raven panjang itu mendelik tajam kearahku.

"Kau Tobi?"

Aku mengangguk. Rasanya hawa di ruangan ini menjadi lebih berat saat bocah raven ini masuk.

"Kau tidak tahu aku? Lalu kenapa kau masuk kedalam kelompokku?"

Oh jadi dia ketuanya. Pantas saja –

"Ha? Jadi kau pemimpinnya?"

Hari itu adalah pertama kali aku bertemu dengan Itachi dan menjadi mata-mata di dalam timnya. Menjadi informan bagi kelompok Hebi sekaligus menjadi informan bagi kelompok Itachi. Bisa dikatakan aku double agen sekarang. Itu dulu, sebelum akhirnya Itachi menugaskan Yahiko untuk menyusup kedalam kelompok Hebi dan Kisame yang berhasil membongkar identitasku. Setelahnya keadaan berubah menjadi semakin rumit.

.

.

.

End Flashback and End Tobi POV

.

.

.

.

"Katakan apa yang direncanakan bos ingusan itu!"

Yahiko mengatupkan mulutnya. Menolak untuk mengatakan sepatah katapun.

Buk

Ugh!

Yahiko terbatuk saat tendangan itu kembali menghantam perutnya. Pandangannya memburam, tapi dia bersumpah tidak akan mengatakan apapun kepada mereka. Dia bukan pengecut yang merengek untuk keselamatan nyawanya dan mengorbankan misi yang di embannya.

Ctar

'Hmmmp'

Yahiko menggigit bibirnya saat cambukan itu menyapa kulitnya. Darah segar mengalir dari bekas cambukan itu. Rasanya perih, tapi ini tidak seberapa. Untuk tes yang pernah dia lalui untuk bisa menjadi rekan kerja Itachi jauh lebih parah dibandingkan ini. Karena itu dia tidak akan menyerah hanya karena ini.

"Masih belum menyerah eh?"

Yahiko menggeleng. Walaupun nafasnya sudah terasa berat. Samar-samar dia melihat Konan tersenyum kearahnya. Ah, mungkin sebentar lagi aku akan menyusulmu, Konan. Menyusulmu dan menceirtakan semuanya, kau tahu lelahnya aku hidup sendiri tanpa omelanmu. Pikiran Yahiko mulai melantur, dia sudah merasa akan mencapai batas. Tapi mengingat tugas yang diberikan Itachi, dia tidak akan menyerah semudah ini. Dia tidak akan membuat adik kesayangan Konan –Itachi bersedih karena kematian anggotanya lagi.

"Cih keras kepala."

Byur

'Hmmmp.'

Yahiko meringis saat tubuhnya disiram air cuka. Luka cambukannya berdenyut nyeri. Kepalanya terasa berat. Pandangannya memburam. Perlahan-lahan kulitnya mulai terlelupas. Haruskah dia menyerah?

.

.

.

.

.

TBC