Trap in Your Apartment (Chapter 10)
A fan-fiction by vkookiss
ft. NCT Mark & NCT Jeno
.
.
.
.
.
.
Suasana hati Renjun semenjak pertengkarannya dengan Jeno tadi memburuk. Wajah cowo itu muram sekali, aura hitamnya begitu menguar di sekelilingnya sampai-sampai Chenle bergidik ngeri.
Ia membungkam mulutnya, padahal Chenle sudah siap menyembur Renjun dengan kata-kata yang sudah dia siapkan. Tapi semuanya tertelan begitu saja.
Chenle mengusap tengkuk belakangnya, suasananya semakin canggung dengan Renjun yang bad mood. Entah apa yang harus ia lakukan agar bisa menceriakan hati Renjun lagi.
Melirik takut kearah Renjun, semua orang yang melihat wajah cowo itu pasti langsung bisa menebak jika dirinya sedang marah. Renjun terlalu memperlihatkan itu.
Chenle menghembuskan nafasnya secara perlahan. Rileks, ini cuma Renjun, batinnya.
Tapi sebelum separah sekarang, Renjun sempat buka suara.
Sepi mengurung mereka, hanya terdengar desau angin dan gesekan antara dedaunan juga langkah mereka yang berisik. Setidaknya masih ada suara, biar gak canggung banget, pikir Chenle.
Oke, mari kita mulai…
"Kak Renjun, harusnya lo jangan terlalu keras sama Jeno." Ujar Chenle takut-takut, mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor.
Beberapa menit lagi bel berbunyi, jadi bagi Renjun percuma saja mereka kembali ke kelas. Siapa tau saat ingin membuka pintu kelas bel sudah berbunyi, jadi mending bolos sekalian—awalnya Chenle menentang ini, tapi akhirnya dia menyetujuinya juga.
Renjun memandang Chenle sejenak, tetap memasang wajah dingin. "Harus sedikit kasar Le, kalo enggak dia bakalan terus begitu,"
Huang Renjun dengan wajah dinginnya, membuat Chenle jadi sungkan berbicara lagi. Dan cowo manis itupun menunduk, memandang lantai.
Renjum memasukan kedua tangannya dalam saku celana. "Dia sendiri kan yang ambil keputusan buat tetap jadi boneka mereka? Gue ngerasa, udah cukup bagi gue buat mengerahkan semuanya tadi. Tapi Jeno malah nolak."
Chenle kembali mendongak dan menghembuskan nafasnya, kalo udah begini Renjun gak bakal mau berurusan lagi. Justru inilah yang semakin di khawatirkan Chenle.
"Tapi kak lo gak mau nyari jawaban gitu kenapa mereka bisa ngebully Jeno?"
"Paling-paling cuma soal Mark. Lo taulah fans nya Mark itu lebih brutal dari fans gue."
Chenle mengangguk-angguk. Kadang doi suka heran, kenapa malah Jeno yang di bully? Padahal kan—menurut prediksi dia—Mark lah yang pertama kali mendekati Jeno. Juga, selama ini Mark gak pernah mendekati salah satu diantara fans dia itu.
Perempuan memang susah di mengerti.
"Kak?" Chenle bertanya, namun pandangannya lurus ke depan. "Kak Mark suka sama Jeno ya?"
Saat mendengar lanjutan pertanyaan Chenle, Renjun menoleh cepat. Kemudian ia tertawa kecil, "menurut lo aja gimana? Mark nya juga lagi gak cerita sama gue, jadi kita main tebak-tebakan aja."
"Atau—Jeno lah yang suka sama Mark? Atau emang keduanya sama-sama suka?"
Renjun memandang Chenle lelah, kenapa adik kelasnya ini punya penyakit kepo akut? Kemudian dia merangkul Chenle erat dan berjalan sedikit cepat. "Udah ah diem, kepo banget lo!"
"Ih kak! Lepasin bego nanti kalo ada yang liat gimana?"
"Ga ada yang ngeliat kali, udah apa lo diem aja. Yang ngerangkul lo ini cogan jadi harusnya lo gausah protes dan harus ngerasa beruntung."
Perut Chenle mendadak bergejolak sekarang mendengar penuturan narsis kakak kelasnya itu, berdecih. "Ew kak, geli gue."
"Kalo geli kenapa lo gak ngelepas aja sih?"
"Percuma gue ngelepas kalo lo pasti ngerangkul gue lagi kan?"
Diam-diam Renjun menyeringai, Chenle di sampingnya masih sibuk menggerutu, menghujat Renjum dengan kata-kata kasar yang sejujurnya gak pantas buat keluar dari bibir merah Chenle.
Bibirnya Chenle gak pantes di pake buat ngeledek Renjun, pantesnya buat ngedesahin namanya—
Renjun menelan ludah kala pemikiran kotor itu mendadak hadir di pikirannya—yang juga udah kotor. Ia mengalihkan pandangan kearah lain, yang pasti jangan sampe kearah Chenle.
Mereka berjalan melintasi koridor menuju kantin dengan Renjun yang merangkul Chenle erat. Walaupun kadang-kadang cowo manis itu berusaha melepaskan rangkulan Renjun, tapi dia gagal dan Renjun yang langsung tersenyum mengejek setelahnya.
"Kak, gue tanya sekali lagi. Bener gamau coba bantu Jeno lagi?"
Renjun memasang wajah keras lalu menggeleng tegas.
Huft, Chenle membuang nafas kasar. Baik, dia coba hargai keputusan Renjun sekarang.
"Le, mau gue traktir gak?" Tanya Renjun, setelah mereka mendudukan diri di kursi kosong. Saat itu cukup lenggang, biasanya banyak siswa yang memutuskan untuk menunggu bel di sini.
Chenle mengernyitkan dahinya, "wah ada apaan traktir? Lo lagi gak kesambet kan kak?"
Oh, tentu Chenle merasa heran. Ada apa gerangan si Huang Renjun berinisiatif mentraktirnya, begitu tiba-tiba. Seinget Chenle, ulang tahun Renjun sudah sangat lewat.
Renjun memutar mata. Sedikit kesal ia di ragukan. "Gak kok. Mau gak? Mumpung gue lagi baik nih."
"Dalam rangka apaan?"
"Bukan apa-apa. Sekarang yang gue tanya, lo mau atau gak?" Kali ini suara Renjun terdengar tegas dan tak main-main.
Tapi Chenle masih meragukannya. Sebenarnya ia bisa saja menerima tawaran baik Renjun (sekaligus menghemat uang jajan), tapi ia takut ini hanya akal-akalan si Renjun saja supaya bisa mengerjainya. Chenle masih diam, menatap Renjun sedangkan otaknya mencari jawaban.
Renjun berdecak. "Enggak Chenle sayang, gue gak ngerjain lo. Ini ikhlas serius, lo bebas milih apa aja yang ada di kantin."
Chenle memicingkan matanya. "Ketika semua orang gak mau traktir orang lain, sedangkan lo di sini mohon-mohon biar gue terima tawaran traktiran lo itu?"
Renjun mengangguk. "Gue tau lo pengen. Makanya terima aja, kapan lagi sih di traktir cogan."
Oke, Chenle tergiur sekali dengan tawaran ini. Ia tak bisa melihat kilatan kebohongan di mata Renjun, akhirnya ia mengangguk menyetujui.
"Yaudah iya. Bener kan terserah gue mau pilih apa aja?" Tanya Chenle memastikan.
"Bener. Sekalian gue mesenin."
Matanya semakin berbinar cerah. Chenle memang berencana memesan yang paling mahal untuk ukuran kantung pelajar. Atau, dia akan memesan banyak makanan.
"Bakso sama mie, terus minumnya es teh manis, terus kak gue juga mau siomay!"
Renjun mengangguk-angguk. "Tapi Le, lo kenapa mesen es teh manis?"
"Lah, emang kenapa? Ada larangan buat gue mesen itu? Kata lo tadi apa aja, bebas terserah gue!"
Renjun mengulum senyum tipis lalu mendekatkan wajahnya. "Buat apa mesen yang manis kalo pemesan-nya sudah manis?"
Setelah itu, Huang Renjun langsung pergi. Meninggalkan Chenle yang terpaku di tempatnya, dan tak lama tercetak semburat merah muda samar di pipi yang lebih muda.
Chenle menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Oh, Zhong Chenle sangat memahami apa kata-kata Renjun barusan.
Sialan, dasar kerdus!
—OoO—
Senyum miring itu tercetak di paras cantiknya, matanya pengawasi pergerakan sang objek dengan pandangan mencemooh. Senyumannya pun semakin melebar, hatinya memekik kegirangan.
Sampai, tepukan di bahunya menghancurkan segalanya. Cewe itu menoleh dan mendengus setelah beradu pandang dengan seseorang yang sudah ia label sebagai penganggu.
"Apa?" Kata cewe itu ketus.
Yang di tanya terkekeh lalu mengambil tempat duduk di samping si cewe, ia menyampirkan rambutnya di belakang telinga. "Tidak."
Si cewe memberi pandangan sinis padanya. "Kalo ga ada apa-apa, urusan lo ke sini tuh apa?" Ia mendesis berbahaya.
"Tenang dong. Emang gue ga boleh ikutan ngeliat kebahagiaan temen gue sendiri apa?"
Si cewe menggeleng cepat. "Lo merusak segalanya, gue sedang menikmati kebahagiaan itu."
"Yaudah, yaudah. Gue Cuma pengin ngeliat doang, ga boleh apa?"
"Enggak. Sono gih dah lo pergi." Jawabnya terdengar datar, namun sangat menyebalkan.
Ia mendengus. Untung temen, kalo ga, udah dia tendang dari tadi, pikirnya. Ia memutuskan untuk tak banyak omong, atau ia memilih semburan pedas sahabatnya.
Mereka saling terdiam, si rambut arang memandang bawah dan kakinya menendang udara sedangkan si rambut cokelat memandangi sesuatu yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Seringai si rambut cokelat makin lama makin terlihat menyeramkan, sebetulnya. Diam-diam si rambut arang memperhatikannya diam-diam, dan itu membuatnya sedikit takut.
Setelah mengambil nafas, ia memecah keheningan diantara mereka. "Jadi—lo ke sini buat menikmati hasil yang lo capai?"
Dia mengangguk semangat. "Gue ga pernah ngerasa sepuas ini, rasanya seneng banget!"
"Itu sih emang lo-nya aja yang demen ngeliat orang menderita!"
Dia memutar mata mendengar ucapan itu. "Gue yakin lo juga seneng kan? Ngaku deh,"
"Oke, gue emang seneng pake banget ngeliatnya."
"Itu yang gue rasain," dia menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. "Apalagi sesuatu ngebuat kebahagiaan gue semakin bertambah!"
Si rambut arang memicing, "wah apaan tuh? Keknya bener-bener kabar bahagia sampe lo senyum terus kek orang gila."
"Heh! Lo juga gila ya, tapi nanti aja deh, gue takut lo teriak lagi."
"Ga asik lo!" Ia merengut sebal.
"Nanti aja."
Akhirnya ia mengangguk pasrah, meski sebelumnya ia ingin terus memaksa sahabatnya agar berbagi kebahagiaan itu karena ia sudah sangat penasaran sekali. Apalagi kata-katanya sangat misterius, otaknya sampai memunculkan beberapa kemungkinan yang akan di sampaikan sahabatnya.
"Gue ga nyangka bakal semudah ini, gue kira dia bakal ngeberontak. Tapi taunya apa?" Katanya penuh semangat. "Gue makin demen nih jadinya."
"Kira-kira apa yang sedang di rangkai otak iblis lo ya sekarang?" Ucapnya setengah mengejek.
"Sesuatu yang bakalan seru abis," ia kembali menyeringai. "Liatin aja, sampe bener-bener gue buat dia menderita!"
Si cewe berambut arang itu sedikit tercengang dengan intonasi suara yang keluar dari bibir sahabatnya, penuh dengan amarah yang menggebu-gebu, matanya berkilat berbahaya.
"Lo ga pernah separah ini, apa yang ngebuat lo sampe begini?" Katanya pelan, melihat kearah lain.
"Kalo bukan pake tindakan ini, mau pake apa lagi? Seinget gue, kita paling baik sama si jalang satu itu. Tapi apa yang kita dapetin? Lo liat sendiri kelakuannya makin menjadi, makin gatau diri!" ucapnya berapi-api, dia menggeram.
Ia bisa merasakan amarah kuat yang menghantam jiwa sahabatnya itu, bukan main-main, ia bahkan sampai bergidik. Ia mengalami hal yang sama, namun lebih pintar mengendalikannya agar tidak lepas kendali.
Dia mendesis. "Ga ada yang bisa nyentuh apa yang udah menjadi milik gue! Lo tau itu."
"Ya, gue tau." Jawabnya setengah gugup. "Lo udah dapet sesuatu yang harus dilakukan?"
"Oh itu," dia bersedekap sambil memandang ke depan. "Gue udah mikirin ini dari kemarin. Kita tinggal melaksanakannya saja."
Tanpa sadar ia juga ikut menyeringai. Ini pasti sesuatu yang seru, pikirnya. "Tapi lo ga mikir sesuatu apa? Kalo dia bilang macam-macam gimana?"
"Emangnya dia siapa bisa menentang kita dan sampe punya keberanian buat ngebocorin itu?"
Ya, memangnya dia bisa memberitahu hal tersebut? Tidak kan, karena semuanya telah berpihak pada mereka. Jika dia melakukan itu, ada yang akan percaya? Tidak, dan sesuatu yang lebih buruk akan menimpanya.
Sesungguhnya itu yang keduanya harapkan. Tapi menggunakan tangan serta otak mereka jauh lebih memuaskan.
"Dan, dia ga punya teman. Semua temannya udah pergi meninggalkannya."
"Memangnya ada yang ingin berteman dengan gay menjijikan sepertinya? Keknya, enggak deh. Kalo pun ada, itu pasti cuma karena kasihan."
Keduanya mendadak tertawa.
"Temen sekaligus pelindungnya."
"Pelindung?"
Seringaian itu perlahan memudar. "Iya. Tapi lo ga perlu cemas, orang itu menjauh dengan sendirinya."
"Itu bagus."
Dia menambahkan, "juga, kita punya dia yang berada di pihak kita. Pasti bakal lebih seru dan menantang."
Ia menjentikan jari. "Bener!"
Mereka kembali tersenyum puas. Lalu saling melirik satu sama lain.
"Tapi, dia ga bakal tau tentang ini kan?" Ia merasa harus memastikan hal ini.
"Dia siapa?"
Menghela nafas, lalu kembali menjawab. "Dia yang itu. Lo pasti tau."
"Oh—tenang, dia pasti Cuma mencari bahan mainan, ga mungkin serius-serius banget. Kerajinan banget dia mencampuri urusan kita."
"Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh, diantara mereka.." Katanya pelan.
Dia mengernyit bingung. "Sesuatu yang aneh, maksud lo?"
"Gue ngerasa mereka punya suatu hubungan…"
Dia mendelik dan mengibaskan tangan. "Ga lah, ga mungkin. Selama ini mereka ga pernah keliatan berinteraksi, baru sekarang-sekarang aja. Mana intim banget lagi,"
"Cuma perasaan lo aja kali," lanjutnya.
"Iya kali, Cuma perasaan gue aja." Ia bergumam, meskipun sejatinya tak begitu yakin.
Si rambut cokelat beranjak dari tempatnya dan merapikan roknya dari debu-debu yang menempel. "Ayo kita rencanain semuanya~"
Dan temannya, si rambut arang ikut berdiri. Mereka saling berjalan berdampingan, dengan seringai di wajah keduanya. Murid-murid yang melewati mereka buru-buru menyingkir, aura yang di keluarkan menakutkan sekali.
.
.
.
.
.
CONTINUE
.
.
.
.
.
[a/n: hay! Aku balik lagi dengan update ff ini, sori ya rada lama gue sempet ngestuck sebenarnya. Semoga suka yaa sama chapternyaa]
