What Happened?!
Summary : "Dan bila Kurokocchi bertanya aku menganggap Kurokocchi sebagai apa, bukankah sudah jelas, aku tentu akan menjawab Kurokocchi adalah tunangan yang paling aku sayangi!" |"Apakah melihat-lihat adalah hobimu sejak dulu, Tetsuya?"|"Karena, kau diciptakan untuk terjerumus dalam pesona milikku." RnR please~
Kuroko no Basket bukan milik saya, kalau milik saya pasti Kuroko sudah saya jadikan uke para GoM.
Fict ini terinspirasi dari sebuah anime yang akhir-akhir ini saya sukai. Jadi, silahkan menikmati fanfiction ini :D
BRUUKK
Kuroko menghempaskan dirinya dengan penuh semangat ke atas kasur empuk di kamar tidurnya. Masih terngiang jelas apa yang baru saja terjadi kepadanya. Mayuzumi Chihiro, vampire paling normal—menurut Kuroko—memeluknya dan menyatakan bahwa dirinya adalah tunangannya.
"You don't need to think like that. Bagiku, kau adalah satu-satunya manusia yang berhasil membuatku tertarik. Bukan hanya karena darahmu, tapi semua yang ada pada dirimu—aku menyukainya."
BLUSH!
Wajah berkulit putih mulus itu segera saja berwarah merah, pertanda sang empu wajah tengah menahan malu dan senang bersamaan.
"Kuroko Tetsuya, kau adalah tunanganku."
'Ukh! Tuhan, hati ini benar-benar tidak kuat!' Kuroko menjerit dalam hati dengan begitu girang sampai-sampai ia berguling-guling di atas kasurnya. Ke kanan, ke kiri. 'Tapi tunggu! Kalau dipikir-pikir, vampire-vampire itu sebenarnya keren-keren dan memperhatikanku dengan cara mereka masing-masing sih,' Kuroko mendudukkan dirinya dan memasang pose berpikir
"Ha—ah, aku jadi pusing sendiri. Mana yang harus ku pilih?" Kuroko menggigit jarinya, ia berpikir keras
Kuroko membuka laci meja di sebelah kasurnya. Tangannya terjulur mengambil foto dirinya dan ayahnya. Dipandanginya foto itu dengan raut datar,
"Jangan melamun-ssu, bisa-bisa kau dirasuki makhluk halus, Kurokocchi." Sebuah lengan tertutup cardigan berwarna cream memeluk leher Kuroko dari samping, lelaki bersurai biru itu menolehkan kepalanya
'Kise Ryota, tampan dan selalu berlebihan. Tapi disitulah cara dia memperhatikan saudara-saudaranya dengan cara yang berlebihan pula.'
"Kurokocchi?" Kise memandang Kuroko dengan pandangan bingung, sedetik berikutnya pandangan bingung itu berubah menjadi pandangan bling-bling "Aku tau! Kurokocchi kagum pada wajah tampanku hingga tak bisa berkata-kata! Iya kan?"
"Aku tau Kise-kun itu orang yang narsis, tapi tak kusangka kau juga seorang yang sok tau." Kini pandangan Kuroko memancarkan pandangan mengejek, Kise yang dipandang seperti itu langsung pundung di pojok ruangan
"Hidoi-ssu! Kata-katamu tetap menusuk seperti biasanya, Kurokocchi."
"Kise-kun, boleh aku bertanya?" Kise mengangguk dan kembali memeluk Kuroko dari samping "Jawab dengan jujur. Kise-kun menganggapku sebagai apa?"
Kise memandang Kuroko yang tengah memasang wajah serius, otomatis ekspresi yang dikeluarkan lelaki berambut biru itu membuat Kise mengulum senyuman.
"Hm, apa ya. Awalnya, aku menganggap Kurokocchi sebagai tumbal-tumbal sebelumnya. Tumbal yang memang disajikan untuk kami para vampire. Tapi, sejak kejadian di gereja itu," Kise terkekeh senang ketika ia mendapati paras manis lelaki yang ia peluk mulai memerah karena teringat kejadian di gereja "Aku mulai merasakan perasaan yang berbeda. Aku merasa begitu senang ketika bisa melihat Kurokocchi, kadang aku merasa kesepian ketika Kurokocchi tidak ada di sampingku."
Kise mendekatkan wajahnya pada wajah Kuroko, sedangkan yang di dekati hanya terdiam membeku mendengar penuturan Kise. Telapak tangan berkulit putih itu mengusap lembut pipi Kuroko penuh perasaan.
"Kini, bukan hanya darahmu yang kusukai, tapi surai birumu yang lembut ini, iris sapphire yang begitu menenangkan, kulitmu yang putih bagai salju dan begitu lembut bagai kulit bayi, lalu bibir ranummu yang tampak lezat—ah, aku benar-benar menyukai Kurokocchi luar maupun dalam,"
Jarak diantara mereka pun sudah tiada, bibir mereka saling menempel. Kise mencium lembut Kuroko yang tengah membelalakkan sepasang matanya. Kise melepas ciuman itu dan tersenyum cerah.
"Dan bila Kurokocchi bertanya aku menganggap Kurokocchi sebagai apa, bukankah sudah jelas, aku tentu akan menjawab Kurokocchi adalah tunangan yang paling aku sayangi!" ucap Kise dengan lantang dan kelewat ceria
Kuroko berjalan santai menuju dapurnya, hendak mengisi perutnya yang sudah berbunyi berisik. Di perjalanan, Kuroko menyempatkan dirinya untuk melihat-lihat lukisan maupun benda-benda antik yang bertengger apik di lorong yang tengah ia lalui.
"Apakah melihat-lihat adalah hobimu sejak dulu, Tetsuya?" Kuroko hafala benar suara milik siapa yang baru saja menyapa dirinya. Suara berat yang pemiliknya adalah seorang absolut.
"Apakah itu mengganggu Akashi-kun?" Kuroko berbalik ke arah Akashi Seijuuro yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. Sebuah gelengan pelan sari sang surai merah menjadi jawaban
"Sama sekali tidak. Malah, aku jadi ingin mengajakmu ke suatu tempat," tanpa menunggu jawaban dari si pemuda manis, Akashi langsung menggenggam tangan Kuroko lembut dan membawanya ke sebuah taman yang penuh dengan bunga mawar putih.
Sesampainya disana, tak ada yang berinisiatif untuk membuka suara. Tangan Akashi masih setia menggenggam tangan Kuroko, seakan diantara kedua tangan mereka terdapat lem yang amat kuat.
Hembusan angin malam mengusap pelan wajah kedua pemuda dengan paras indah itu, memberikan sensasi dingin pada kedua pipi Kuroko yang mulai memerah karena kedinginan. Sepertinya, Kuroko memang tak pernah bisa bersahabat dengan hawa dingin.
"Akashi-kun, bisa kau jelaskan mengapa kau membawaku kesini?" akhirnya Kuroko merelakan diri untuk membuka percakapan di antara mereka.
Akashi masih saja diam, merasakan hangat yag mengalir dari tangan Kuroko menuju tangannya yang dingin. Lelaki absolute ini tak merespon apapun dan masih setia menyembunikan sepasang iris mata berbeda warna itu dalam kelopak mata miliknya.
"Akashi-kun, apa kau mendeng—" sebuah jari telunjuk dari tangan yang bebas tertempel pada bibir ranum Kuroko, sang empu jari tersenyum tulus. Menunjukkan senyum yang sudah lama tak pernah terukir di paras tampan tersebut
'Ah, bahkan aku lupa kapan terakhir aku tersenyum tulus begini. Tetsuya memang lain dari yang lain,' batin Akashi senang
Akashi selaku pemilik jari telunjuk itu membuka bibirnya, akan mengeluarkan sebuah kata-kata.
"Aku harap kau tak mempunyai pikiran untuk melarikan diri dari sini, Tetsuya," Akashi memberi jeda dan mengarahkan tangannya yang bebas untuk mengusap surai lembut tunangannya
Kali ini Kuroko lah yang membisu tanpa kata, membiarkan seorang Akashi Seijuuro melanjutkan ucapannya. Disisi lain, ia berharap usapan Akashi akan bertahan lama dengan pekerjaannya—mengusap seorang Kuroko Tetsuya tentunya. Oh, rupanya Kuroko menikmati tindakan sang pangeran vampire berambut merah. Dan Akashi tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui apa yang dirasakan Kuroko.
"Karena, bila kau berpikiran untuk melarikan diri…" lagi-lagi Akashi menghentikan ucapannya untuk member kesan penasaran pada diri Kuroko "Aku Akashi Seijuuro berjanji akan mengejarmu kemana pun kau pergi. Camkan itu Tetsuya," dan dengan itu Akashi mengecup puncak kepala lelaki yang lebih pendek darinya beberapa centimeter tersebut dengan lembut, berbanding terbalik dengan kalimat yang ia ucapkan.
Kuroko dibuat mematung karenanya, lelaki dengan wajah datar itu benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Oh, Kuroko sayang, ini belum saatnya kau terkejut sebenarnya,
"Kau tak 'kan lepas dari diriku, Kuroko Tetsuya wahai malaikat yang tersesat."
Tangan Akashi terangkat, menunjukkan sebuah cincin indah yang terbuat dari perak dengan permata ruby kecil sebagai hiasannya. Dipasangkannya cincin cantik itu pada jari manis pada tangan sebelah kiri sang tunangan.
"Karena, kau diciptakan untuk terjerumus dalam pesona milikku." Akashi mengecup lembut punggung tangan kiri sang surai baby blue
'Ah, Akashi-kun dan keegoisannya. Tapi…jujur saja, menurutku itu tidak buruk untuk dicoba,' Kuroko mengalungkan tangannya pada leher Akashi, ketika dirasakannya lelaki absolute itu ingin meminta 'jatah' darah dari dirinya.
'Tuhan memanglah adil, bahkan kepada diriku yang jahanam ini, benarkan Tetsuya? Bila tidak, mana mungkin diriNya mengirimkanmu—malaikat yang begitu suci—untuk tersesat dalam dekapanku.' Akashi membenamkan taringnya pada perpotongan leher tunangannya 'Entah itu untuk menuntunku ke jalanNya, atau menyuruhku menuntunmu ke jalanku,' Akashi Seijuuro menyeringai mengerikan malam itu bersama dengan sang malaikat yang ia cintai
"Momoi, jelaskan kembali rencana kita malam ini." Perintah Riko Aida dengan tegas, Momoi—gadis sexy berambut merah jambu—mengangguk paham
"Jadi, tepat pukul 00.30 kita akan pergi menuju kastil para vampire untuk menyelamatkan Kuroko-kun. Perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 30 menit." Momoi mengambil nafas "Setelah sampai di sana, kita langsung berpencar." Gadis cantik itu memandang Kagami dan Himuro
"Kagami-kun dan Himuro-kun, kalian segera menerobos ketika ada kesempatan. Takao-kun dan Hanamiya-kun akan mengalihkan perhatian para vamp—"
"Hei! Tunggu dulu, jangan seenaknya sendiri. Sejak kapan aku menyetujui bahwa aku akan membantu kalian?" seorang lelaki—dengan surai hitam berparas galak namun tampan—tengah berkacak pinggang dengan wajah sebal, lelaki itu mendengus
"Kau..!" Takao yang berada di dekat lelaki berkacamata—bernama Hyuuga Junpei—tersebut segera menahan tubuh Hyuuga agar tak menghajar lelaki dengan nama Hanamiya Makoto yang memang memiliki sifat menyebalkan
"Ha—ah, Hanamiya, apa kau tidak dapat bekerja sama dengan kami? Sekali ini saja. Kuroko Tetsuya adalah seseorang yang sangat penting bagi kami." Riko Aida bersuara, memandang penuh harap pada seorang Hanamiya Makoto
"Cih, tak 'kan pernah. Aku tau kalian tak ada bedanya dengan para pendeta di desa ataupun ayah dari para vampire, kalian hanya memperalat bocah menyebalkan itu kan." Setelah mengatakan yang menusuk Hanamiya melangkahkan kakinya untuk pergi entah kemana, meninggalkan rasa bersalah pada makhluk-makhluk di sana.
"Ah-ano…kalau begitu yang mengalihkan perhatian Takao-kun dan Hyuuga-san ya," Momoi mencoba menyairkan suasana, yang lainnya hanya mengangguk
Nampaknya, omongan menusuk Hanamiya memanglah tak ada tandingannya, bahkan lebih menyakitkan ketimbang benda tajam sekalipun.
_TBC_
Aih, maafkan saya! Saya telat updet dan sekali updet ini pendek sekali! T_T
Saya lagi Ujian Kenaikan Kelas, jadi gak ada waktu buat ngetik. Ini aja sembunyi-sembunyi pas orang tua lagi keluar. Gomenne mina-san,*mewek ala Kise*
Oh iya, selamat ya buat kakak-kakak kelas 3 SMA yang lulus jangan lupa traktiran kelulusan~ te-hee~
REVIEW TIME!
Hibari Misaki Cavallone_Pasangannya Mayuzumi? Berharap ya? Hehe, saya gak bias janji, itu masih dirahasiakan~ *ditendang* ini saya sudah lanju, maaf telat,
Yuzuru Nao_Iie, bukan kok, Murochin bukan tumbalnya Mukkun~
Ah Rin_Ah, boleh, kalo gak keberatan silahkan bantu saya nulis 'Nanodayo' XD hehe, habisnya saya gak kuat ngetik lanjutannya, kokoro ini gak bakalan kuat! Ngebayangin aja udah mesem-mesem sendiri, apalagi nulisnya..-_-
Krisho baby_Eh? Benarkah? Masa Mayuzumi kerasa lebih hidup? Saya ngerasa kalo character Mayuzumi di sini terlalu OOC deh. Ah, niat awal mau ngebanyakin KiseKuro dichap ini, tapi ternyata gak kesampaian. Gomenne,
Akakuro Lovers_Maaf ngebuat anda menunggu, saya terjebak dalam lautan tugas akhir dan Ujian Kenaikan Kelas. Amin, tapi saya gak bias janji akhirannya bakal Akakuro ato enggak :3
KakaknyaKurokoTetsuya_Sebelumnya saya minta maaf karena membuat anda kecewa. Di chap-chap depan konfliknya bakalan makin kerasa—mungkin—kok :3 Oh, dan terima kasih untuk dukungannya
Anggun Sektiaty_Karena belum saatnya XD *diinjek Anggun-chan*
Gemini otaku-chan _Ah, maaf-maaf, saya gak sempat bercinta dengan laptop kesayangan saya dan mencumbunya untuk menghasilkan fanfict lanjutan. Kalo ingin menyalahkan, silahkan salahkan guru-guru saya XD *murid kurang ajar* Ini sudah saya lanjutkan, silahkan menikmati~
Mey-chan_Hyaa! Mey-chan, kangeen~ *hug* *digampar* Karena kalo saya kasih Murochin yang asli, tiap hari itu mansion bakalan ada suara yang 'iya-iya' di kamar si Murasakibara. Mayuzumi sebenernya OOC gak sih di fanfict ini? Minta pendapat dong. Noh, si Akashi belum minum darah Kuroko-LAGI- XD MuraMuro sama MidoTaka tunggu tanggal mainnya aja ya Ini sudah lanjut~ *wink*
.7_Ya untungnya si Kuroko gak ngucapin kata "Suki" atau "Aishiteru" dengan wajah unyu XD
Terima kasih untuk para readers, silent readers, reviewer. Tanpa kalian saya tidak akan bisa membuat fanfict ini. Saya menerima nasehat dan flame yang MEMBANGUN. Akhir kata, Terima kasih karena telah menyempatkan diri untuk berkunjung dan membaca fanfict buatan saya~
