Disclaimer : Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini
Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian
Chapter 11 : REALITY
Jari-jemarinya lembut mengusap gaun pengantin yang akan ia kenakan di dalam pesta pernikahan, terbentuk sebuah lengkungan yang membingkai wajah ayunya, sebuah senyuman yang terus-menerus ia perlihatkan karena ekspresi kegembiraannya. Sebentar lagi ia, Yamanaka Ino akan menjadi seorang Uchiha.
"Kau suka?" kedua tangan kekar Sasuke memeluk tubuh wanita Yamanaka itu dari belakang, pemuda itu membisikkan pertanyaannya yang disambut dengan senyuman tipis Ino, calon istrinya.
"Menurutmu?" kekeh Ino sedikit menggoda ayah dari bayinya kemudian membalikkan diri agar dapat bertemu pandang dengan Sasuke, jemari lentiknya kini berpindah dari Kimono cantik ke pipi mulus sang pemuda raven.
"Kau sangat menyukainya!" chupss~ Sasuke mencium pipi calon istrinya, ia mengembangkan senyum jahil yang kemudian dihadiahi oleh Ino cubitan gemas pada kedua pipinya "Lihatlah nak, Otou-san kalian benar-benar mesum!"
"Jika aku mesum, aku akan melakukan lebih dari sekedar menciummu Ino-chan!" elaknya, ia menghembuskan nafasnya, tersenyum dengan ekspresi Ino yang tengah cemberut menatapnya.
Anak Yamanaka Inoichi itu kemudian melepaskan pelukannya pada Sasuke, pelan ia berjalan berhati-hati menuju tempat tidur, membuat sang Uchiha jabrik heran karena perilaku Ino yang tiba-tiba saja menjadi seperti itu.
Ia melihat calon istrinya itu mendudukkan dirinya di tepian ranjang, satu tangannya ia gunakan untuk menyangga berat tubuhnya dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk memijat pelan punggungnya "Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke pada wanitanya, ia mendekat ke tempat dimana Ino berada, memposisikan dirinya untuk duduk di samping wanita yang tengah mengandung 3 keturunan Uchiha itu.
Tangan kekarnya membantu memijit pelan punggung Ino "Punggungku sangat pegal, kau tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya membawa 3 bayi di dalam perutmu!"
"Maafkan aku, Ino-chan tapi aku tak pernah menyesal!" goda pemuda itu lagi, ia menyeringai jahil pada Ino yang berdecak kesal "Kau sangat kejam, Sasuke-kun!" protesnya, membaringkan tubuh lelahnya pada ranjang, dengan seksama ia memandang wajah tampan Sasuke dari posisinya tidur.
Ia mengamati setiap jengkal wajah pemuda itu, matanya, hidung mancung, bibir tipis, garis rahang yang terbentuk sempurna mencerminkan ketegasan dan juga kedinginan dari seorang Uchiha.
"Aku berharap Kazuki-kun dan adik-adiknya tidak akan merasakan apa yang pernah kau rasakan, Sasuke-kun! aku ingin kau menjadi ayah yang baik untuk mereka, selalu ada untuk mereka, mengajari mereka cara menggunakan Shuriken dan Kunai, jangan selalu beralasan bahwa kau sedang sibuk, jangan bersikap dingin pada mereka! Aku ingin kita membentuk keluarga yang hangat untuk anak-anak kita!"
"Hn~"
Jawabnya singkat, setengah berfikir dan menerawang jauh saat ia masih kecil, saat sang ayah, ibu dan kakaknya masih hidup. Ia tak bisa menyalahkan Ino jika sampai Kunoichi cantik itu pada akhirnya berbicara demikian.
Ia terdiam. Wajah tampannya terlihat menjadi sedih, namun ia berusaha tersenyum memandang Ino "Aku tidak bisa berjanji padamu, namun aku akan berusaha! Jika aku lupa, ingatkan aku!"
"Aku yakin kau mampu, Sasuke-kun!" Ino mendudukkan dirinya, mencium pipi Sasuke singkat ia kemudian membelai lembut bibir tipis sang pemuda Uchiha dan mengecupnya sesaat "Kami yakin Otou-san pasti bisa!" Ino terkikik geli melihat eksresi Sasuke yang setengah tak mengerti dengan perilaku yang ditunjukkan Ino terhadapnya "Ino!"
Wanita bunga itu berdiri dari tempatnya duduk, ia tersenyum lembut pada pemuda yang akan segera menjadi suaminya itu, dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya, karena perutnya yang besar otomatis membuat langkahnya menjadi sangat lambat dari biasanya.
Tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan tak sadarkan diri "Inooooooooooooooooooooo!"
.
.
.
.
REALITY
Kenyataannya wanita berambut pirang itu masih tergolek lemah di atas tempat tidur Konoha Hospital, urgh! Dia benar-benar membenci keadaan dimana ia harus menunjukkan sisi lemah miliknya, Yamanaka Ino tidak selemah itu bukan?! dan mimpi macam apa yang ia miliki tadi malam?
Dengan berhati-hati ia mendudukkan tubuhnya pada dashboard ranjang, ia tak menghiraukan sakit kepala yang menyerangnya efek dari tubuhnya yang lemah, ia edarkan pandangannya pada direksi dimana semalam kedua sahabatnya berada di ruangan ini untuk menemaninya, Ino tersenyum kecut, ia memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa dan sangat peduli terhadapnya, namun bagaimana dengan Sasuke sendiri? Dimana keberadaan pemuda itu sekarang? Bersama dengan Karin, atau …
Ahh~ apa yang dia fikirkan?! Ia tidak boleh stress dan larut dalam kesedihan jika tidak ingin membahayakan keselamatan janin yang berada di perutnya sekarang. Dengan penuh kasih sayang ia memandangi perutnya yang terlihat membesar, meletakkan keduatangannya untuk membelai lembut perutnya "Apa aku benar-benar mengandung 3 bayi sekaligus?" tanyanya lirih entah pada siapa, ia sadar bahwa semua yang membahagiakannya itu hanyalah mimpi dan pada kenyataannya saat ini ia masih berada di ranjang Rumah Sakit dengan usia kandungannya yang masih 4 bulan, tepat setelah peristiwa Karin datang ke Konoha, tepat sehari setelah Sasuke mengabaikannya.
Samar-samar dapat Ino dengar langkah kaki yang berjalan mendekati kamar tempatnya di rawat, chakra ini adalah chakra yang sudah tidak asing lagi untuknya, ia nampak terkejut sesaat sebelum akhirnya dapat menguasai diri dan tersenyum ketika sang pemilik chakra sebesar itu sudah membuka pintu dan berdiri terpaku tepat di ambang pintu kamar yang syarat akan warna putih itu.
"Naruto-kun" sapanya dengan menunjukkan senyuman bodoh, senyuman yang selalu ia tunjukkan untuk menutupi suasana hatinya.
"Ino-chan!" pekiknya, dengan kasar ia menutup pintu kayu berlapiskan cat berwarna cokelat muda itu, langkahknya tertahan sepersekian detik ketika menyadari bagaimana keadaan wanita yang dicintainya itu, dicintai? Oh tentu saja Naruto tidak begitu saja melupakan perasaannya pada Ino, tidak begitu saja terlebih dengan perlakuan Sasuke pada Ino, itu semakin menguatkannya untuk mendapatkan wanita itu.
Ia melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekatkan dirinya pada Ino yang masih memasang senyuman pada wajahnya, "Baka!" itu adalah kata pertama yang meluncur dari mulut Hokage muda Konohagakure itu.
"Oh?" Ino sekali lagi meyakinkan pada pemuda jabrik yang berada di hadapannya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Baka!"
Ino terdiam, berusaha mencerna apa yang baru ia dengar. Perlu sepersekian detik hingga akhirnya ia mencerna apa yang baru saja Naruto katakan padanya "Narutooooo!" ia mengerucutkan bibirnya, kesal. Namun, hal itu malah membuat Naruto tertawa karena melihat tingkah Ino yang kekanakan, pemuda itu dengan penuh percaya diri malah mengacak rambut Ino gemas.
"Kau baik-baik saja? apakah masih ada yang terasa sakit? Atau kau perlu sesuatu?" Naruto memperhatikan Ino dari ujung kepala hingga kaki, khawatir dengan keadaan wanita yang ia kagumi itu.
Ino menggeleng lemah, kemudian tertawa terkikik dengan perhatian yang tengah diberikan oleh Naruto padanya, wajahnya kembali sumringah begitu mendapati bahwa Naruto kini bernafas lega dengan menghembuskan nafasnya panjang "Kau khawatir, huh~?"
Naruto mengangguk, tangan kekarnya menyambar kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri dan meletakkannya tepat di samping ranjang Ino kemudian mendudukinya "Sakura-chan tidak mau memberitahuku tentang apa yang terjadi sampai aku memaksanya pun ia tidak membuka mulutnya sedikitpun perihal dimana dan bagaimana keadaanmu, namun Shikamaru memberitahuku semuanya! Ino-chan . . . sudahi semuanya! Atau aku akan mengirim Karin ke Suna saja!"
Ino tersenyum kecut. Jemari lentiknya dengan lembut menyibak helaian rambut yang menutupi pandangannya dari Hokage muda itu, "Jangan melakukan apapun, Naruto-sama!" ungkapnya untuk menggoda Naruto, ia terkikik geli begitu mendapat pandangan kesal dari Naruto "Karin juga Uzumaki sama sepertimu, dia sendiri dan Klannya telah dibantai habis, bagaimanapun juga ada darah Uzumaki yang mengalir padamu, Naruto-kun! kalian pasti memiliki perasaan yang sama dengan apa yang terjadi pada kalian! Aku berjanji akan lebih bahagia dan tidak memikirkan apapun lagi, aku tidak akan membahayakan keselamatan anakku lagi!"
"Kau sudah berjanji juga saat itu padaku untuk tidak sedih lagi, namun apa? Kau melanggarnya lagi Ino-chan!" dengus Naruto kesal, dengan keduatangan terlipat di dada "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?!"
"Aku tidak akan menangis, aku tidak akan bersedih dan bukankah aku gadis yang kuat dan cerewet? Huh~?" ujar Ino bangga, sedikit menggoda Naruto dengan nada sombong khas miliknya.
Mata biru sapphire milik Naruto meneduh begitu memandang senyuman yang menghiasi wajah ayu milik Ino, wajah cantik dengan mata sebiru lautan yang berhasil menghipnotisnya. Kenapa Kami-Sama malah membuatnya hidup tersiksa dalam cintanya terhadap Sasuke, ada dia yang setidaknya mampu untuk membahagiakan keturunan Yamanaka itu, Mengapa bukan dia saja yang mendapatkan cinta Ino?.
"Kau melamun?"
Naruto hanya diam, tak menjawab pertanyaan Ino sama sekali.
"Naruto-kun?! jangan membuatku mengkhawatirkanmu! Bukankah seharusnya kau yang mengkhawatirkanku?" dengus Ino, menggoda Naruto yang hanya mengedipkan matanya perlahan memandangnya dengan ekspresi yang Ino sendiri tak dapat menggambarkannya seperti apa.
"Demi Tuhan Naruto-kun, apa ang terjadi padamu?!"
Ino mengguncang-guncangkan tubuh Naruto pelan hingga pemuda itu mendapatkan kesadarannya kembali "Kau kenapa?"
"Ino-chan! Kau cantik!"
Blush~
Pipi Ino merona demi mendengar pernyataan yang keluar dari bibir pemuda itu, "Heuh~ sejak kapan kau menjadi penggoda seperti itu, Naruto-kun?" kedua aquamarine Ino membulat manakala Naruto menggenggam tangannya erat dan menciumnya lembut "N . . . Nna . . . Naruto-kun!"
"Jangan berfikir macam-macam, Ino-chan! Oh, Kau tidak lapar?"
Kembali Ino mengerucutkan bibirnya karena kelakuan Hokage jabrik itu, tawa renyah tak elak meluncur dari bibir Naruto karena memandang ekspresi aneh Ino "Kenapa kau tertawa? Bukankah seharusnya kau sekarang berada di Hokage Tower untuk menyelesaikan tugas-tugasmu, Hokage-sama?" tanya Ino pada Naruto yang hanya dihadiahi dengan seringaian khas Uzumaki Naruto.
"Uzumaki Naruto-Sama, apakah kau akan terus-menerus menyeringai seperti itu sementara aku menunggu jawabanmu? Hah~ Kau benar-benar menguras energi orang yang mengajakmu bicara!" ungkap Ino kesal, sementara wanita itu menatap kesal dirinya, pemuda tampan itu kemudian beranjak dari tempatnya duduk "Aku mengkhawatirkanmu, Ino-chan! Harus ku ucapkan berapa kali padamu?"
Ino mau tidak mau menyunggingkan senyum lembut, ia tau benar tentang bagaimana perasaan Hokage Konoha itu padanya, di lain pihak ia sangat mencintai ayah dari janin yang dikandungnya, namun di lain pihak ia merasa iba dan bersalah pada Naruto karena tak dapat membalas perasaan pemuda itu padanya.
"Kata Forehead aku sudah bisa keluar Rumah Sakit sore ini, aku begitu lapar dan ingin makan Ramen! Jadi apakah kau bisa mentraktirku kembali seperti saat itu Hokage-sama?"
Naruto menaikkan satu alisnya heran "Kau? Ramen? Yakin? Saat itu ku kira kau hanya ngidam saja Ino-chan!" celoteh pemuda itu, namun dalam hati dirinya merasa sangat bahagia karena itu berarti bahwa Ino akan menghabiskan waktu bersamanya hari ini.
Tapi . . .
Bagaimana dengan Sasuke? bagaimana jika pemuda itu mengetahui hal ini? bagaimana jika hubungan pemuda itu bersama Ino bertambah runyam? Apa dia sanggup untuk melihat wanita yang ia cintai dan sahabatnya sendiri seperti itu?
Naruto menghela nafasnya panjang atas gejolak batin yang kini telah ia rasakan, memandang Ino dengan tatapan memelas "Aku …."
"Sasuke-kun? kau tidak akan menyakitinya dan dia tidak akan merasakan sakit hati karena Karin sudah berada di sini, ayolah Naruto-kun!" rengek Ino merajuk pada Hokage muda desanya itu, bibirnya untuk kesekian kalinya ia kerucutkan, membuat Naruto gemas untuk mencubit pipi gadis itu dengan keduatangannya "Kau sudah akan menjadi ibu namun kelakuanmu ini masih seperti anak-anak Ino-chan!" ungkapnya kemudian mengacak gemas rambut pirang panjang yang terasa halus pada tangannya.
"Tapi kau suka 'kan?" ucap Ino asal. Tak ada maksud apa-apa dari ucapan Ino tadi namun sukses untuk membuat Naruto menahan nafasnya untuk sesaat "Aku selalu akan menyukaimu, Ino-chan!"
"…"
"…"
"…"
"Pig~! Oh? Narutoooo?!"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Well . . . karena syukurlah masih ada yang menanyakan Fict ini via PM or FB xD, ini untuk mengobati rasa rindunya hehehe, wordnya hanya 1,8k saja. Tunggu minggu depan untuk word lebih panjang ya *kalau ada mood nulis sih xD* dan chapter 10 kemarin Ino hanya mimpi loh, baikan dengan Sasuke dan memiliki anak kembar 3. Apakah Ino akan berbaikan dengan Uchiha dan memiliki bayi kembar? Atau malah dia akan berbalik arah dan memberikan cintanya pada Naruto?
Nantikan di chapter berikutnya xD.
Enjoy ^^
#VALE
