Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 owned by ATLUS
Jika kau menghadapi pilihan yang sangat sulit ditentukan, apakah kau akan merasa ragu dalam memutuskannya?
Pilihannya adalah kau akan lari menjauhi masa lalu, hidup dalam ketenangan layaknya rakyat biasa, memutuskan hubunganmu dengan dia, dan kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri... atau kau tidak akan meninggalkan dia, tetapi hidupmu dipenuhi teror, perasaan khawatir, dan tekanan dari segala sisi. Akibatnya yang lain jika kau mengambil pilihan kedua, adalah kau harus bekerja keras, memanfaatkan indra yang kau miliki untuk melaksanakan tugas tidak wajib ini... dan kau bersama dengannya akan menemukan kebahagiaan.
...Kebahagiaan yang tidak pasti. Kebahagiaan yang akan terwujud hanya jika kau berhasil.
Pilihan pertama terdengar manis, pilihan kedua terasa manis jika keberhasilan memihak padamu.
Dan jika kau tidak berhasil?
Kau akan berhadapan dengan tembok, sementara pembunuh tanpa suara tengah mengepungmu. Kau akan terjatuh dan tenggelam selamanya dalam jurang yang gelap dan dingin. Aku ingin bertanya kepadamu. Jika kau berada di posisiku, pilihan mana yang akan kauambil?
Aku? Tak perlu kau menanyakan hal itu padaku. Aku mengambil pilihan kedua.
Waktu itu pisau-pisau es menusuk kulitku tanpa ampun. Tubuhku serasa terpaku oleh mereka. Aku tidak dapat berpikir.
...Memangnya bagaimana aku berpikir? Otak ini palsu... tubuh ini, jiwa ini, tangan ini... semuanya palsu.
Jika kau bertanya kepadaku, adakah sesuatu yang selalu kupikirkan, maka aku akan menjawab 'tubuh ini'. Sesungguhnya, apa artinya diriku bagi dia? Tidak ada. Ia bahkan tidak pernah peduli... lalu apakah alasanku berada di dunia? Keberadaanku hanya mendatangkan rasa kecewa bagi setiap orang. Karena aku tidak sempurna.
Segala yang tidak sempurna ini sama sekali bukan kesalahan mereka. Ini kesalahanku sendiri. Karena itu aku layak mendapatkan ini semua... tidak, bahkan aku tidak layak mendapatkan ini.
Aku layak menerima maut.
(Tetapi tubuh ini tidak juga berhenti. Selalu dan selalu meneriakkan kedagingan. Pertanyaannya adalah, adakah sesuatu yang mereka sebut 'roh' dalam tubuh ini?)
Liebe und Rache
Chapter 10
Dark Theater: Lock On
Sang gadis kecil mengayunkan kedua kaki dengan tidak sabar, sementara kedua matanya terus memperhatikan setiap gerak-gerik seorang koki yang tengah memasak di hadapannya. Sesekali ia memainkan jari-jarinya dengan gelisah. Sejauh ini segalanya baik-baik saja.
"Botol apa itu...?" tiba-tiba sang gadis kecil membuka mulutnya. Sang koki menolehkan kepala ke arahnya, mengikuti arah pandangan telunjuk sang gadis. Pandangan sang koki jatuh pada sebuah botol dengan cairan transparan yang tengah digenggamnya. Ia baru saja memasukkan cairan itu pada masakannya yang masih belum matang.
"...Arak." Sang koki menjawab.
"Arak?" gadis kecil itu mengulang kata tersebut. Ia melompat turun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri sang koki. "Boleh kulihat?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tidak dapat mempercayaimu." Sang koki menjawab ketus. Sang gadis kecil memandangnya bingung.
"Kau bisa mempercayaiku..." gadis kecil itu memohon. Ia mengangkat satu tangannya untuk meraih botol itu. Sang koki mendesah pelan, kemudian menyerah dan membiarkan tangan mungil itu meraih botol tersebut dari tangannya.
Ia tidak dapat terus mengawasi gadis kecil ini. Sang koki melanjutkan kegiatan memasaknya. Sesekali ia akan melirikkan matanya ke arah sang gadis kecil, yang memperhatikan botol di tangannya tersebut dengan seksama. Untunglah botol tersebut kecil, bukan botol arak besar. Gadis kecil ini pasti menjatuhkannya jika botol itu besar dan berat.
"Kembalikan botol itu, Naoto-chan." Sang koki berkata pada akhirnya. Sang gadis kecil justru menggelengkan kepala.
"Belum..."
"Cukup. Kembalikan..." ia mengulurkan tangan pada sang gadis kecil, tetapi anak kecil itu justru mundur beberapa langkah. Sang gadis kecil kemudian menyunggingkan senyum tipis.
"...Boleh kuminum?" sang gadis kecil bertanya seraya ia membuka tutup botol kecil itu.
"Apa? Tentu saja tidak!" Sang koki mengecilkan api di bawah penggorengan itu dan berjalan menghampiri sang gadis kecil.
Tetapi usahanya terlambat. Sang gadis kecil meminum keseluruhan isi botol itu. Gadis kecil itu memejamkan mata setelah ia membiarkan cairan itu mengaliri tenggorokannya. Ia menjatuhkan botol itu begitu saja, membuatnya membentur permukaan lantai dapur dan pecah berkeping-keping. Kedua tangan sang gadis kecil mencengkeram dadanya seperti sedang menahan sakit.
"...Ini bukan arak." Gadis kecil itu akhirnya berkata. Ia terbatuk-batuk. Sang koki mengira tidak lama lagi gadis kecil itu akan memuntahkan cairan itu dari perutnya. Tetapi tidak terlihat tanda-tanda gadis kecil itu terlihat mual. Mata sang gadis kecil mulai berair dan tampak seperti tengah menangis, tetapi gadis kecil itu mengangkat tangannya dan mengusap punggung tangannya di sekitar mata yang berair itu.
"Ck... sialan, Naoto-chan! Kau tidak seharusnya meminum itu!" Sang koki menatapnya frustasi. Sang koki terlihat seakan-akan ia hampir mengangkat penggorengan di atas kompor itu dan melemparkan benda panas itu ke arahnya.
"Ini bukan arak!" Naoto berteriak cukup keras. Sang koki tersentak kaget. "Ini racun! Kau berencana meracuni mereka!"
"Tutup mulutmu, gadis kecil!" Sang koki mencengkeram kuat lengan gadis kecil itu. Naoto memberontak kuat sembari berteriak. Koki itu membekap mulut sang gadis kecil dengan satu tangan kemudian menariknya kasar. Ia menggendong tubuh kecil yang terus-menerus memberontak tersebut, kemudian melemparkan sang gadis kecil ke sebuah ruangan yang gelap gulita.
Naoto terjatuh ke lantai dan meringis kesakitan ketika cahaya dari dunia luar semakin menghilang dari pandangan. Ia berusaha bangkit secepat yang ia bisa. Tetapi pintu itu tertutup dari luar dan sang gadis kecil mendapati dirinya terkunci ke dalam ruangan dingin dan gelap itu.
Bagaimanapun ia berteriak keras dan memukulkan tangannya pada pintu, tidak ada yang mendengarnya.
:-:
.
.
Kujikawa Rise tidak pernah benar-benar merasa puas dengan performa dirinya. Ketika ia berakting, ketika ia melantunkan satu lagu, ketika dirinya diidolakan dan disanjung oleh begitu banyak manusia, gadis muda manis itu tahu bahwa segala yang ia lakukan sesungguhnya tidak memiliki sesuatu arti yang dalam. Ia mungkin hanya mengulur waktu. Dan saat ini ia mengenakan sebuah topeng bernama 'Risechi', sosok yang ada di hati para penggemarnya, sosok yang dikagumi... yang bukan dirinya.
...Ia merasa entah 'Kujikawa Rise' atau 'Risechi' adalah palsu.
Saat ini ia tengah duduk di depan meja rias ruang ganti, memilin ikal rambut merah kecoklatannya itu dengan diselimuti kecemasan. Rise tahu bahwa ia tidak pernah merasa aman... terutama di tanah yang tengah ia injak sekarang, Verstannia. Biasanya, entah buket-buket mawar dan bunga-bunga lain atau setumpukan surat-surat para penggemar akan dilemparkan ke kamar gantinya seperti tempat pembuangan sampah akhir. Mawar-mawar merah maupun putih, surat-surat yang mengandung kata-kata pujian dan kekaguman yang manis didengar... jumlahnya begitu banyak hingga dapat diibaratkan sebagai onggokan sampah.
Kuku-kuku jari Rise yang dicat warna merah muda membuka dan membaca surat-surat penggemar di atas mejanya itu satu persatu dengan penuh kesabaran. Terkadang, seulas senyum tulus akan membingkai di wajahnya ketika ia menemukan beberapa kata yang mengandung unsur humor, bukan hanya kalimat-kalimat manis yang sudah bosan ia dengar. Tetapi hanya begitu saja. Surat-surat itu tidak pernah benar-benar meninggalkan arti khusus bagi Rise, bagaimanapun idola berusia belia itu menghormati para penggemarnya.
Sekejap, sepasang permata kecoklatan Rise berbinar-binar ketika ia menemukan secarik surat yang menarik hatinya. Surat itu bukan berasal dari laki-laki seperti kebanyakan surat lainnya. Ia membuka amplop putih sederhana surat tersebut dan menarik secarik kertas di dalamnya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum ia membuka dan mulai membaca surat itu. Jantungnya berdegup dan ia merasakan suatu kebahagiaan tersendiri.
Ditelusurinya setiap kata dalam surat itu, yang terlihat begitu manis dan berharga di mata Rise. Ia telah menunggu surat ini sejak beberapa bulan lalu. Surat itu berisi dukungan penuh untuk karirnya, menyemangatinya dan terkesan begitu bermakna bagi sang idola. Rise tidak dapat menahan senyuman kebahagiaan untuk tidak tersungging di wajahnya. Ia tersenyum begitu lebar.
"Dari gadis itu lagi?"
Rise nyaris melompat dari kursi ketika ia mendengar suara yang telah ia kenali itu di telinganya. Kedua tangannya refleks meremas kertas surat itu... yang kemudian disesalinya. Rise terburu-buru menoleh pada sumber suara, dan mendapati seorang pria muda yang tengah tersenyum jahil padanya.
"Oh, Kou... jangan mengagetkanku!" Rise memprotes, ia berusaha meluruskan kertas surat yang tengah ia genggam.
"Kau terlihat begitu gembira membacanya, hingga aku khawatir jiwamu benar-benar berada di awang-awang." Pria yang dipanggil Kou itu tertawa kecil. Ia menyisir rambut biru keunguan yang menghias kepalanya itu dengan jari-jarinya sambil melanjutkan, "Gadis itu sudah seperti sahabatmu, ya?"
"...Kalau ya, memang kenapa?" Rise menjawab pelan, raut wajahnya menunjukkan perasaan khawatir.
"Menurutku, kau tidak boleh semudah itu percaya padanya. Aku tidak dapat menjamin gadis itu adalah perempuan baik-baik." Kou mengangkat bahu.
"Tentu saja dia perempuan baik-baik. Kau buta jika kau tidak dapat melihatnya, Kou." Rise bersikeras.
"...Oh ya? Baiklah jika kau berpikir begitu, Rise..." Kou mendesah, "gadis bernama Shirogane Naoto ini menarik kecurigaanku... itu saja yang ingin kukatakan padamu."
"Sayang sekali, Fräulein. Jika Anda tidak memiliki tiket, saya tidak dapat mengijinkan Anda masuk." Seorang petugas menjawab dengan suara sesopan mungkin. Sepasang matanya terpaku pada gadis muda berambut pendek di hadapannya.
"Oh, tapi... Kujikawa-san sendiri telah mengajak saya. Bisakah...?" gadis muda itu sedikit menunduk.
"Fräulein, jika saya dapat melakukan itu, saya telah menawarkannya pada Anda. Sayang sekali, tidak bisa." Pria itu menggelengkan kepala, ekspresinya menunjukkan sedikit keprihatinan. Hati sang petugas serasa sedikit tersayat melihat kekecewaan gadis muda yang manis di hadapannya. Gadis itu mungil, dengan gaun hitam anggun berlengan sampai siku dengan ujung berenda hitam dan rok selutut. Stocking putih tipis menutupi bagian kakinya.
"Tapi... Anda bersedia membantu saya? Saya mohon. Jika Anda memberitahukan nama saya pada Kujikawa, ia pasti sudah tahu." Gadis itu menatapnya sedih. Hati sang petugas benar-benar tersayat sekarang.
"...Uh... tapi..."
"Hei, ada masalah di sini?" terdengar suara yang lain dari dekat mereka. Kedua orang itu menolehkan kepala dan mendapati seorang pria muda berusia kira-kira dua puluh tahun berambut biru keunguan yang mengenakan jas berjalan ke arah mereka. Senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Ichijo-san... gadis ini..." Petugas itu memandang sang gadis sekilas, "...minta agar diinjinkan masuk ke gedung teater, tapi ia tidak memiliki tiket."
Kou memandang gadis itu sambil mendesah pelan, "Fräulein, Anda tahu sendiri bahwa jika Anda ingin masuk, bawalah tiket Anda."
"Saya tahu." Gadis itu menjawab singkat, "Tapi untuk kali ini saja... saya harus..." gadis itu tampak berpikir sejenak, "...menontonnya."
"...Itu tidak mungkin, Fräulein." Kou menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Pertama, bisa sebutkan identitas Anda dulu?"
"Nama saya..." gadis itu kembali terdiam sejenak, "Shi...ne..." ia mengucapkannya begitu pelan. Kou memiringkan kepala sedikit.
"Lebih keras, Fräulein, saya tidak dapat mendengar Anda."
"Shirogane Naoto."
Kou terdiam sesaat. Waktu seakan-akan membatu di sekitarnya. Tidak lama, pria itu membuka mulutnya, "...Saya akan berusaha membantu Anda. Mohon ikut saya."
"Jika tidak ada seorang pun yang menyukaimu... apa yang akan kaulakukan?"
"...Apa?" Souji tampak kebingungan sejenak. Naoto kecil masih memperhatikan dirinya. Tatapannya begitu tajam.
"Bagaimana reaksimu, Onii-san?" sang gadis kecil kembali bertanya.
"...Jika tidak ada yang menyukaimu? Erm..." Souji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pasti ada. Minimal satu orang saja..."
"Tidak ada yang menyukaiku..." sang gadis kecil menjawab agak dingin. Souji mengangkat satu alisnya, kemudian menggelengkan kepala.
"Pasti ada. Kau hanya tidak menyadarinya, aku yakin." Souji menjawab pelan.
"Apa kau menyukaiku, Onii-san?" Naoto kecil bertanya pelan. Sesuatu dalam pandangan matanya menunjukkan ekspresi ketakutan.
"...Uh..." Souji tampak berpikir sejenak, "kurasa... ya. Aku menyukaimu..." Souji tersenyum tipis, "...mungkin." Pemuda itu menambahkan dengan sangat pelan, sepertinya sang gadis kecil tidak mendengar kata terakhir itu.
"Hmm..." gadis itu berpikir sejenak. Ia tampak ragu. Apa ia tidak mempercayai kata-kata Souji? Mungkin gadis kecil ini tidak sepolos yang ia duga.
"Jadi... apa kegiatanmu selanjutnya, Onii-san?" Naoto kecil bertanya pelan, matanya menatap Souji penuh rasa ingin tahu. Ia mengubah topik pembicaraan sekarang.
Dalam beberapa hari semenjak hari Minggu kemarin, Souji telah beberapa kali mengunjungi gadis kecil ilusi ini setiap kali ia memiliki waktu luang. Salju masih mewarnai hutan musim gugur itu dengan keputihan mereka. Naoto kecil tidak mengenakan jaket Souji lagi. Ia mengembalikan jaket itu pada Souji di hari Souji meminjamkannya, dan pada hari lain Souji menawarkan, gadis itu hanya menggeleng pelan. Ia sudah terbiasa menghadapi cuaca dingin.
Dengan pakaian seperti itu? Jangan bercanda.
Gadis kecil ini tampak semakin tertarik dengan kehidupan Souji, menanyakan berbagai hal dengan kepolosan anak-anak, seperti 'Mengapa bulan hanya muncul waktu langit gelap? Tidakkah ia bosan?', 'Potongan ponimu aneh, Onii-san. Apa terasa menggeletik di dahi? Seperti sapu.' dan lain sebagainya.
Baiklah, pertanyaan kedua cukup menyinggung perasaan pemuda itu. Ia telah memiliki poni rambut ini sejak masih kecil dulu. Apa gadis kecil ini tidak bisa menanyakan hal yang sedikit lebih bermakna?
Souji menceritakan banyak hal. Nyaris apa saja yang ditanyakan gadis kecil ini padanya. Mengapa matahari itu panas, mengapa angin tidak kelihatan, mengapa bumi itu bulat... dan mengapa-mengapa lainnya. Setiap kali Souji menjelaskan apa yang ia ketahui, gadis kecil ini akan mengangguk mengerti dan memang ia berhasil menjelaskan ulang kata-kata Souji. Pemuda itu dapat menyimpulkan gadis kecil ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya.
...Jika memang ia memiliki 'usia', atau tidak usia yang sama dengan penampilannya sekarang. Lagipula... gadis kecil ini kemungkinan dapat dikatakan 'program'. Komputer menyimpan data yang kita simpan di dalamnya sampai kita menghapusnya sendiri, bukan? Mungkin hal yang sama berlaku pada gadis kecil ini.
"Kegiatanku..." Souji mencoba mengingat-ingat perintah Shinjiro terakhir kali, "pemimpin kami mengatakan, sebelum aku menjalankan tes terakhir untuk WPM, aku akan diberi sebuah misi bersama dengan rekanku. Kami akan menjalaninya sebentar lagi... setelah aku berbicara padamu, aku akan berangkat."
"...Berangkat? Kau tidak akan meninggalkanku untuk selamanya, bukan, Onii-san?" Naoto kecil bertanya khawatir.
Souji tersenyum tipis. "Tentu saja tidak. Aku akan menemuimu lagi setelah misi ini."
Ketika ia melihat Naoto kecil menyunggingkan senyuman kelegaan, Souji tidak dapat menahan diri untuk tidak melebarkan senyumannya juga. Meskipun gadis kecil ini ilusi... ia bisa juga menyentuh hatinya perlahan-lahan. Souji tidak merasa begitu keberatan menemuinya di waktu luang yang ia miliki. Tapi sekali lagi Souji nyaris mengoreksi pendapatnya. Jika memang sang gadis kecil adalah ilusi... bagaimana ia dapat menyentuh tubuh ilusi ini? Dan rasanya sangat nyata.
"Onii-san... mungkin aneh jika aku baru menanyakan hal ini padamu. Kau telah mengetahui namaku, tetapi..." gadis itu menarik napas, "Wie heißen Sie?"
Souji tersenyum tipis, "Seta Souji." Pemuda itu menjawab. Ia dapat melihat gadis kecil itu juga tersenyum.
"Seta... Souji..." gadis kecil itu mengulang lagi nama sang pemuda, seperti sedang menghapalkan sebuah ayat, "Seta... Souji... Souji... Souji... nii-san...?"
"Hei... sudahlah. Tetap panggil aku seperti biasa jika itu sulit untukmu." Pemuda itu tertawa kecil melihat reaksi sang gadis kecil. Naoto kecil mengangguk mantap.
"Jika itu yang kau inginkan, Onii-san."
Sejak awal, mengapa ia terus dan terus saja mengunjungi gadis kecil ini? Tidak untuk memenuhi janji kosong itu, bukan? Tetapi gadis kecil ini memang menarik sedikit perhatiannya. Ada sesuatu dalam diri gadis kecil ini yang membuat Souji merasa berkewajiban menemaninya. Dan lagi, parasnya terlalu mirip dengan Shirogane. Souji tidak dapat mengenyahkan bayangan gadis yang dilukainya dengan pistol hari-hari yang lalu.
"Selamat berjuang... kau tidak memiliki banyak waktu lagi, aku tahu itu." Gadis kecil itu kembali tersenyum, ia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong tubuh Souji sedikit menjauhinya dengan lembut. "Sampai bertemu lagi."
Souji mengangguk pelan, kemudian ia mengangkat satu tangan dan meraih memory visor di sekitar kepalanya. Senyuman sang gadis kecil masih mengembang manis ketika sosoknya mulai memudar.
Ketika Souji telah melepas memory visor itu dari kepala dan kembali membuka mata menghadapi dunia nyata, ia mendapati Iori Junpei berdiri di depan ranjang tempat Souji duduk, tengah tersenyum jahil memandangi dirinya. Junpei mengangkat bahu.
"Kadang-kadang, ketika kau memiliki waktu luang, kau mengenakan memory visor itu. Apakah kau melihat sesuatu yang menyenangkan dalam masa lalumu? Ataukah kau masih menemui gadis kecil itu? Manis sekali jika memang demikian, Souji 'onii-chan'." Junpei tertawa pada kata 'onii-chan' yang ia lontarkan sendiri. Souji mendesah pelan. Cukup salah juga ia menceritakan hal ini pada Junpei. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakannya, tetapi Junpei bersikeras dan bahkan mengancam tidak ingin bekerja sama dengannya. Tindakan yang kekanakan menurut Souji.
"Sudahlah..." Souji berdiri dari ranjang dan meletakkan memory visor di atas lemari. "Kita berangkat sekarang?"
"Aku sudah menunggumu sejak tadi. Waktu kita hanya beberapa jam... Verstannia tidak sejauh Letzvetrie, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Di dalam ruangan yang luas itu, sebuah meja kaca berdiri di antara dua sofa yang saling berhadapan. Karpet merah bercorak tetumbuhan terbentang di bawah kedua jenis benda tersebut. Hanya ketiga jenis benda itu yang ada di dalam ruangan, sekelilingnya kosong. Suasananya tidak terlalu jauh berbeda dengan ruang tamu sebuah hotel mewah.
Shirogane Naoto duduk di atas salah satu sofa. Sesekali, jari-jarinya akan mengetuk-ngetuk permukaan sofa putih halus tersebut. Mungkin tindakan itu saja yang menunjukkan sedikit kegelisahan. Secara keseluruhan, Naoto terlihat terlalu tenang seperti patung. Kedua matanya tengah tertutup, tetapi kemudian membuka ketika ia mendengar suara ketukan halus pada meja kaca di depannya. Kou meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja.
"Silahkan dinikmati." Kou tersenyum sementara ia duduk di atas sofa depan gadis itu. Satu tangannya juga memegang cangkir kopi. "Kopi terbaik yang dapat saya seduh."
"Terima kasih banyak." Satu tangan Naoto meraih cangkir kopi tersebut. Ia memperhatikan cangkir tersebut cukup lama, kemudian menyunggingkan senyuman tipis. "Bisakah saya percaya bahwa tidak ada racun dalam kopi atau cangkir ini?"
Kou mengangkat alisnya sejenak, kemudian tawa kecil meledak dari bibirnya. Ia menyesap kopinya sedikit, kemudian matanya teralih pada Naoto. "Jika Anda mengkhawatirkan hal seperti itu, baiklah. Ingin bertukar cangkir kopi ini dengan saya? Saya rasa tidak ada racun di dalam kopi saya."
"...Ya, Anda baru saja membuktikannya dengan menyesap sedikit kopi itu." Naoto menutup matanya sejenak. "Saya tidak khawatir dengan hal seperti itu." Naoto menyesap sedikit kopinya, membiarkan cairan panas itu mengaliri tenggorokannya sebelum ia kembali berbicara, "...Tidak ada racun."
"Tentu saja tidak." Kou tersenyum, "Lagipula, apa gunanya saya memasukkan racun?"
"Anda tidak akan pernah tahu..." Naoto bereaksi singkat, meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca.
"Baiklah, Fräulein..." Kou menarik napas, "saya akan menyediakan tempat duduk untuk Anda. Jika memang sudah penuh, tidak masalah bagi Anda jika Anda harus berdiri, bukan?"
Sesaat, ia dapat melihat Naoto memandangnya sedikit kebingungan. Ekspresi sang gadis berubah khawatir, ia kemudian memelankan suaranya, nyaris berbisik, "Hei... apa kau terlalu cepat—"
"Udara, dinding dan besi memihak kita," Kou memotong perkataan Naoto, "tidak ada di antara mereka yang berkhianat... sekarang ataupun nanti." Kou menjawab santai.
"Kau yakin?" Naoto masih nyaris berbisik, "Tidak... tidak semudah itu. Ada baiknya berjaga-jaga, bukan?"
"Baiklah, aku menyerah..." Kou menarik napas sebelum menyesap kopinya lagi. "Mohon bantuan Anda, Fräulein."
Naoto menyunggingkan senyum tipis, kemudian berdiri dari sofa tempatnya duduk. Kou memperhatikan penampilan gadis itu. "Jarang sekali Anda berpakaian seperti ini."
"Hanya untuk hal-hal tertentu. Saya tidak menyukainya, memang." Naoto melangkahkan kaki berjalan menuju pintu. Tiba-tiba Kou menghentikan gerakan sang gadis dengan menggenggam lengannya dan menarik Naoto mundur. Sang gadis tersentak kaget dan merasakan besi dingin tipis menyentuh lehernya. Kou menggenggam erat sebuah belati di depan leher sang gadis.
"...Lepaskan..." Naoto bergumam pelan, ia merasakan tubuhnya sedikit gemetar. "Tolong..." ia berbicara pelan, nyaris berbisik.
"Anda kurang berhati-hati, rupanya. Saya harap kejadian ini tidak berulang di lain waktu." Kou melepaskan Naoto pelan-pelan. Sang gadis langsung mengangkat tangannya dan meraba kulit lehernya. "Oh maaf..." Kou angkat bicara, "saya melukai Anda."
"...Tidak masalah." Naoto menjawab pelan, merasakan tetesan darah menelusuri jari sang gadis ketika ia menyentuh lehernya yang sedikit tersayat. "Tidak apa-apa..."
"Perlukah saya obati?" Kou bertanya pelan. Naoto menggelengkan kepala.
"Tidak perlu." Sang gadis menjawab, kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan. Kou dapat melihat langkahnya yang terkadang sedikit gontai. Samar-samar, ia dapat melihat balutan perban pada kedua kakinya di balik stocking putih yang dikenakan sang gadis.
Kou mengangkat kembali belatinya, memperhatikan sedikit tetesan darah sang gadis pada sisi belati. "...Dark technology... mungkin memang berbeda." Kou bergumam pelan.
"Kita terlambat! Oh man..." Junpei terburu-buru melepas topinya. Ia mengancingkan jas hitam di sekitar kemeja putihnya. Begitu juga dengan Souji.
"Kau bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita akan sampai tepat waktu." Souji berkata pelan, namun ketus. "Siapa yang punya ide menikmati pemandangan selama perjalanan kita?"
"Cerewet." Junpei memasang dasi kupu-kupu hitam di sekitar lehernya. "Merepotkan sekali. Kita masih harus berganti pakaian. Ini sebabnya aku kurang menyukai opera."
"Tidak kusangka Verstannia masih memiliki gedung teater sebesar itu. Kukira bangunan seperti itu cocok untuk Letzvetrie." Souji berpendapat, sementara ia mengencangkan dasi kupu-kupu pada lehernya.
"Verstannia itu negara yang luas, Souji." Junpei tersenyum, "Kau tidak pernah kemari, ya?"
"Belum." Souji menjawab jujur. Ia menggunakan kedua tangan untuk mengibaskan ujung jas berekornya. "Selesai..." Souji mengumumkan, ia melihat Junpei juga telah selesai berpakaian rapi.
"Bagus, ayo berangkat," ucap Junpei sementara mereka keluar terburu-buru dari kamar tempat penginapan. "Kau bawa tiket, kan?"
"Tentu saja." Souji mengeluarkan dua lembar tiket dari saku celananya.
"Fokus pada misi, bukannya menikmati pertunjukkan." Junpei mengingatkan sementara mereka berlari keluar.
"Aku tahu. Katakan itu pada dirimu sendiri."
National Theater Verstannia memiliki kapasitas sekitar 1780 penonton. Bagian dalam teater itu sangat mewah. Deretan kursi-kursi merah, tirai-tirai, dan panggung yang sangat luas. Di bawah teater terdapat sarana hiburan bagi para turis. Bar dan restoran, lounge, dan lain sebagainya.
Di depan panggung, deretan kursi-kursi itu telah penuh ditempati orang-orang. Shirogane Naoto berdiri di belakang deretan kursi-kursi. Ia tidak mendapatkan tempat duduk kosong. Semua tiket telah habis. Sejujurnya, ia sedikit terkejut gedung ini benar-benar dipenuhi sekitar 1700 orang lebih malam ini. Baginya, National Theater Letzvetrie memang lebih mewah dibanding ini, tetapi tetap saja ia masih sering merasa takjub dengan apa yang ada di Verstannia.
Gadis itu menggelengkan kepala. Sekarang bukan saat yang tepat memikirkan hal ini. Ia harus mengawasi gedung ini... para pemainnya... dan Kujikawa Rise. Kou telah meminta bantuannya. Tidak ada alasan baginya untuk gagal.
Ia telah menghadapi beberapa masalah sehubungan dengan kepergiannya ke Verstannia. Aigis menerangkan panjang lebar segala macam bahaya yang mengancamnya di Verstannia, sedangkan Yukiko tidak menunjukkan ekspresi setuju walaupun ia menjawab 'terserah padamu' dan berpesan pada Naoto untuk menjaga diri. Akihiko-sama menatapnya cukup lama hingga ia bertanya apakah Naoto telah memikirkan segala konsekuensi yang menimpanya jika ia berangkat hanya dengan beberapa pengawal. Mitsuru-sama hanya tersenyum tipis dan berkata bahwa ia percaya pada Naoto. Masahiro Satoshi menatapnya tajam dan dingin, tetapi Naoto dapat melihat suatu kekhawatiran dalam tatapan Masahiro. Pria itu meminta Naoto untuk meminta ijin pada sang Emperor dan Empress, bukan dirinya.
Ya, Naoto berdiri sendiri disertai beberapa pengawal yang bersembunyi di sekitar teater dan menyamar sebagai pengunjung biasa. Itu saja. Jika ia diserang pengguna WPM seperti WPM yang membakar sekolahnya dahulu, ia tahu itu adalah hal berisiko tinggi. Tetapi ia harus melindungi gadis itu. Sebagian besar penghuni kerajaan Letzvetrie telah mengetahui hubungan Shirogane Naoto dengan Kujikawa Rise.
Pikirannya melayang begitu jauh, sehingga sang gadis baru menyadari bahwa pertunjukkan telah dimulai.
Hari ini, Rise beserta pemain lainnya membawakan Die Meistersinger von Nürnberg, hasil tulisan dan komposisi Richard Wagner, dimana Rise berperan sebagai Eva Pogner, seorang putri kaya raya dari Veit Pogner. Walther von Stolzing, seorang ksatria muda jatuh cinta pada Eva Pogner dan melamar sang gadis. Eva juga jatuh cinta pada Walther, tetapi ayahnya telah menjanjikan Eva untuk menikah dengan siapa saja yang memenangkan Mastersinger contest. Walther telah berusaha menjadi Mastersinger, sayangnya ia tidak dapat melakukannya dengan baik dan melenceng dari prinsip-prinsip mengkomposisi sebuah musik.
Naoto ingat pernah membaca kisah itu di suatu tempat. Tetapi ingatannya tentang bagaimana ia tahu kisah tersebut dan lain sebagainya... semuanya tampak seperti kabut. Saat ini, gadis itu juga tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di panggung. Perhatiannya terus teralih pada sekitar gedung itu. Jantung sang gadis berdegup kencang, berharap ia tidak menemukan apa yang ia cari.
'Apa aku harus melepasnya sekarang...?' sang gadis berpikir. Ruangan teater ini gelap, kecuali panggung. 1700 lebih pasang mata memperhatikan panggung, dan tidak akan ada yang melihat dirinya di sudut belakang ruangan ini. Ia menarik napas perlahan, kemudian mengangkat satu tangan dan menyentuh mata kanannya.
Ia memegang hati-hati benda kecil di satu jarinya sekarang. Sebuah lensa kontak biru kelabu yang selalu dikenakannya.
Naoto menyimpan benda itu hati-hati ke dalam kotak kecil dari sakunya. Ia mulai memperhatikan sekelilingnya dan berjalan pelan untuk mengitari gedung itu ketika tubuh seorang lelaki yang tengah berjalan terburu-buru menabraknya dari samping hingga ia terjatuh.
"Maaf..." sebuah suara yang familiar menyentuh gendang telinganya. Naoto sulit mempercayai suara itu.
"Hei, Souji! Cepat..." Naoto mendengar suara yang lain lagi. Suara ini juga terdengar familiar, tetapi ia tidak dapat mengingatnya sama sekali. Tetapi suara satu lagi...
"...Seta... Souji..." Naoto bersuara pelan, kemudian mendongakkan kepalanya menatap sang lelaki. Tidak salah lagi, ia masih ingat Seta Souji. Lelaki yang telah menembaknya... sekaligus dua kali menyelamatkan nyawanya pada peristiwa sekitar satu minggu lalu. Ia mendapati Souji menatapnya dalam. Ekspresi pria itu tampak sedikit kebingungan... mulutnya menganga cukup lebar ketika ia melihat Naoto. Kedua bola mata perak itu juga tampak membesar.
Sang gadis baru sadar ia telah melepaskan lensa kontaknya. Naoto mengumpat pelan, sesuatu yang sangat jarang dilakukannya.
Souji ingin sekali berusaha mengoreksi penglihatannya. Gadis ini memang Shirogane Naoto, ia ingat jelas. Bagaimana ia tidak ingat? Setidaknya ia sudah beberapa kali menemui ilusi sosok kecil gadis ini, tetapi bukan itu yang membuat mulutnya menganga tanpa ia sadari.
Sepasang mata gadis itu memiliki warna berbeda. Mata kirinya masih sama seperti terakhir Souji melihatnya. Biru dan kelabu bagai perpaduan permata safir dan perak, tetapi mata kanannya adalah sesuatu yang tidak ia ingat pernah melihatnya.
"Souji!" ia mendengar suara bisikan yang cukup keras dari Junpei. Ketika Souji mengalihkan perhatiannya dan mencari bayangan Junpei di antara ribuan penonton, ia menyadari Shirogane Naoto langsung berlari secepat mungkin meninggalkan dirinya. Souji tidak sempat bersuara ketika gadis itu berlari menjauhinya. Ia berdiri di sana cukup lama, hingga ia berjalan turun ke sekitar deretan kursi sementara matanya terus memperhatikan Shirogane Naoto yang sekarang berdiri di sudut lain di belakang deretan kursi. Gadis itu membelakangi Souji. Tetapi ia tidak dapat menghapus bayangan tajam mata kanan gadis itu.
Ada kemungkinan ia salah melihat, tetapi... entah kenapa, mata itu terlihat begitu nyata.
Junpei berjalan melewati deretan kursi-kursi penuh penonton itu. Ia memperhatikan dua lembar tiket yang dipegangnya. Oh menyebalkan... di mana tempat duduknya dan Souji berada? Pemuda itu akhirnya menemukan dua tempat duduk kosong di samping seorang pria yang tampak berkonsentrasi memperhatikan panggung.
Itu pasti tempat duduknya dan Souji, Junpei berpikir. Ia berjalan melewati orang-orang yang tengah duduk. Walaupun dalam kegelapan, Junpei dapat menduga ekspresi tidak senang mereka karena merasa terganggu dengan tubuh Junpei yang menghalangi pandangan mereka. Pemuda itu menggumamkan kata 'maaf' berkali-kali sambil menoleh ke belakang, mendapati Souji juga tengah mengikutinya. Tetapi perhatian Souji tampak terfokus pada bagian belakang ruangan raksasa ini. Apa yang dilihat Souji sebenarnya?
Junpei sempat melihat Souji bertabrakan dengan seorang gadis... walaupun Junpei tidak melihat wajah sang gadis. Apa Souji jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu hingga tidak dapat melepaskan tatapannya? Heh, lucu sekali. Souji benar-benar junior. Bahkan Junpei saja tidak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama. Baiklah, sesungguhnya mungkin pernah... berkali-kali bahkan. Tetapi ia terpesona sesaat, bukan jatuh cinta. Itu dua hal yang berbeda, bukan?
Ketika Junpei telah sampai di depan dua kursi penonton yang kosong itu, ia segera duduk dan melemaskan tubuhnya pada kursi empuk yang nyaman itu. Souji juga melakukan hal yang sama di kursi sebelahnya. Baiklah, tugas selanjutnya akan mudah. Ia hanya perlu mengawasi. Berdasarkan informasi yang Shinjiro berikan pada mereka, ada seseorang atau sekelompok orang yang berencana melakukan pembunuhan di tempat ini. Junpei tidak dapat berhenti bertanya-tanya mengapa Shinjiro meminta mereka melindungi National Theater Verstannia beserta siapa saja yang ada di dalamnya. Verstannia adalah musuh mereka, bukan? Tetapi kapan Shinjiro pernah memberikan tugas yang tujuannya jelas?
"Kalian akan segera tahu."
Demikian jawaban Shinjiro ketika Junpei menanyakan alasan misi ini dilaksanakan. Jawaban yang sama saja dengan jawaban-jawaban lain ketika Junpei bertanya. Ia yakin waktu itu Shinjiro sengaja membuatkan ID card dan meyakinkan mereka tidak akan ketahuan, tetapi jelas sekali Shinjiro sudah tahu mereka akan ketahuan juga gara-gara ID card itu. Apa yang ia inginkan, sebenarnya?
Junpei menguap. Ia mulai merasa bosan menonton pertunjukkan ini. Pemuda itu harus mengaku bahwa ia tidak cocok untuk hal-hal seperti ini. Tetapi setidaknya pemain wanitanya cantik-cantik. Dan lihatlah Kujikawa Rise, dia manis sekali. Tetapi ia harus mengawasi sesuatu yang lebih penting, bukan?
"Menurutmu, apa Kujikawa Rise memerankan Eva Pogner dengan baik?"
Tiba-tiba terdengar suara dari seorang pria yang duduk di sebelah Junpei. Pemuda itu memandang sekilas ke pria di sebelahnya, kemudian menjawab acuh tak acuh, "Lumayan." Junpei mengangkat bahu. Gedung teater ini gelap, ia tidak benar-benar dapat melihat orang di sekelilingnya.
"Setidaknya, dia manis, kan?" tanya suara itu lagi. Junpei mengangkat satu alisnya.
"Tentu saja..." Junpei menjawab dengan senyuman. Rise memang manis. Sejujurnya, ia sering menonton pertunjukkan gadis itu di televisi. Rise juga adalah seorang pop idol, bukan hanya seorang pemain opera.
...Tunggu.
Tunggu. Tunggu dulu. Sepertinya ia mengenal suara itu... suara pria di sebelahnya. Mustahil...!
"...Orange...?" Junpei bertanya memastikan. Ia menolehkan kepala pada pria di sebelahnya. Teater yang gelap menghalau pandangannya, tetapi ia sepertinya telah mengenal penampilan saingannya itu.
"Apa?" suara itu kembali terdengar, kali ini nadanya menunjukkan keterkejutan yang sama. "Apple?"
Oh sial. Apa yang dilakukan si Jeruk itu di sini? Tepat di sebelah tempatnya duduk? Kebetulan kadang-kadang membawa nasib buruk.
Naoto merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Seta Souji telah melihat matanya, tidak salah lagi. Gadis itu memutar otaknya cepat dan ia merasa panik. Mengapa ia bisa begitu bodoh dan ceroboh?
Ia berusaha mengenyahkan segalanya... segala konsekuensi dari perbuatan cerobohnya. Tetapi sekarang ia harus memfokuskan diri pada tujuannya semula. Naoto tidak akan membiarkan rencananya hancur hanya karena kecelakaan kecil semacam ini. Gedung opera ini gelap, tetapi sepertinya memang Seta Souji telah melihatnya. Tetapi hal itu tidak akan mengganggunya lagi.
Naoto mendengar suara Kujikawa Rise, yang tengah mengenakan 'topeng'nya sebagai Eva Pogner, menggema di gedung opera itu. Kalimat gadis itu bagai doa bagi dirinya sendiri.
"Mein Herz, sel'ger Glut,
für euch liebesheil'ge Hut!"
(My heart, blessed glow,
for your love's holy protection!)
Pria itu telah berjaga-jaga sejak tadi. Seseorang berencana menghancurkan gedung teater. Seharusnya hal ini sama sekali bukan urusannya, tetapi jika Naoto-sama memaksakan kehendak... apa dayanya sebagai prajurit biasa?
Penampilannya tidak lebih dari sekadar pegawai kantoran biasa. Jas abu-abu, tas kerja, telepon seluler yang digenggamnya... sesekali ia juga akan melirik jam dan memperhatikan jalanan, berpura-pura sedang menunggu taksi yang lewat. Terkadang ia akan mencengkeram jaketnya lebih erat. Udara dingin menerpa tubuhnya, bahkan ada kemungkinan salju akan turun. Tetapi untungnya tidak malam ini, walaupun jalanan telah tertutupi oleh salju. Sejauh ini tidak ada bayangan mencurigakan. Naoto-sama bertugas memeriksa bagian dalam... atau lebih tepatnya, gadis itu bersikeras memeriksa bagian dalam teater. Kemungkinan mereka memang hanya bisa mengandalkan Naoto-sama. Kemampuan penglihatan gadis itu di atas rata-rata.
Ia merapikan sedikit dasinya sambil memperhatikan setiap orang-orang yang berlalu lalang di depan teater. Seorang pegawai dengan penampilan mirip seperti dirinya, seorang gadis remaja menemani seorang pria paruh baya, seorang anak kecil yang tengah menangis, seorang nenek yang kesulitan berjalan, sekelompok remaja laki-laki dengan pakaian-pakaian dan penampilan bergaya punk... tetapi beginilah Verstannia, sejauh yang ia tahu. Masyarakat dengan budaya mereka masing-masing dan ketidakpedulian tingkat tinggi terhadap sesama. Mungkin bukan berarti tidak peduli. Sudah bagaikan suatu hukum tidak tertulis di Verstannia untuk tidak memperhatikan orang lain seperti mereka adalah suatu pertunjukkan sirkus jalanan.
"Percuma kau berjaga-jaga di tempat seperti ini."
Terdengar suara asing di dekatnya. Pria itu tersentak kaget dan nyaris menodongkan senjata yang tersedia di balik jas abu-abunya, tetapi ia berhasil mengurungkan niat tersebut ketika ia hanya mendapati seorang lelaki pirang dengan sepasang bola mata biru yang indah. Ia mengenakan kemeja putih dengan bunga mawar pada bagian dada sebelah kiri, dan celana hitam panjang. Tiga buah balon dengan warna berbeda-beda dan pegangan berupa benang digenggam di satu tangan pemuda itu.
Hanya seorang remaja lelaki biasa.
"Apa maumu?" tanya pria itu. Sang remaja lelaki menyunggingkan senyuman penuh arti. Tatapannya polos.
"Kubilang, percuma kau berjaga-jaga di tempat ini." Pemuda itu mengulang kembali perkataannya. "Kau tentunya sudah tahu tentang rencana penghancuran dan pembunuhan itu, kan, Letzvetrie?"
"Apa?" pria itu bertanya tidak percaya. Apa yang diketahui pemuda tidak jelas ini? Dan bagaimana ia dapat mengetahui tentang Letzvetrie?
"Jangan terlihat kaget seperti itu. Tentu saja aku tahu dari... Hei, ladies!" perhatian pemuda itu tiba-tiba beralih pada sekelompok remaja yang berjalan di tepi jalanan itu. Ia mengangkat satu tangan untuk menyapa dan pria itu dapat melihat kilauan misterius memancar dari tubuhnya.
Kilauan apa itu...?
"Wah, maaf! Kulanjutkan lagi..." pemuda itu berdeham ketika ia memperhatikan pria di hadapannya, "Aku tahu tentang kalian. Tentu saja, karena kau berbau Letzvetrie. Aroma yang kau pancarkan adalah aroma Letzvetrie. 'The nose knows'." Pemuda itu tertawa-tawa kecil.
"Siapa kau sebenarnya?" pria itu bertanya curiga pada pemuda di hadapannya ia pandang aneh ini. Apa pemuda ini bermaksud mempermainkannya?
"Tidak perlu banyak berbasa-basi." Pemuda itu masih tersenyum, ia kemudian mengangkat ketiga balon yang ia genggam di satu tangannya. "Sampaikan ini pada Nao-chan! Sampai jumpa!"
Dengan kalimat itu, sang pemuda misterius berlari meninggalkan sang prajurit Letzvetrie itu sendirian, yang tengah terpaku pada tiga buah balon di hadapannya sekarang. Sebuah kartu ucapan pendek diikat pada ujung pegangan balon berwarna-warni tersebut.
'Semoga balon-balon ini dapat menolongmu, Nao-chan!
-Teddie-'
A/N:
Halo. :')
Sebelumnya saya mau minta maaf... saya lagi ingin minta maaf... itu aja, ga tau kenapa. Kepala saya sakit... (_ _") oh maaf, ini bukan tempat curhat macem gini... apalagi dari saya.
Oh... dan... maaf karena apdetnya lebih lama dibanding yang lain. Saya abis kena penyakit 'malas'. Ah, tapi saya akan mulai nulis kalo penyakit itu udah lewat. Maaf kalo chapter ini makin gaje aja. :') saya ngerjain chapter ini bukan dalam kondisi yang benar-benar prima -?- sebenarnya.
Tapi saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada para pembaca~ XDD terima kasih untuk toganeshiro-chan dan... err... Mys...tery. -ditimpuk- untuk review kalian yang berharga XD maaf karena review reply yang sangat .sangat. terlambat. :')
Mind to review? Chapter ini terlalu g.a.j.e. jadi silahkan bertanya jika ada yang gajelas :) -ditimpuk- oh ya, 'Wie heißen Sie', artinya bisa diliat dari context clues yang ada. Tapi yang belum ngerti, artinya 'What is your name?' :D sedangkan Fräulein adalah young lady ato young miss.
Jika ada pertanyaan dan lain sebagainya, boleh disampaikan lewat tombol berbentuk balon di bawah! See ya at the next chap! :D
Best regards,
Snow Jou
