Aasaa no Harem

Interbelum Chapter II—

Hetalia Fanfiction

Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

Story (c) Yami Youichii

Rate : T

Genre : Romance/Tragedy

Warn : each girl has different genre/AU/gakuen life/Country names are female/Human names are male/Harem (don't like, don't read)/etc

Enjoy Reading~

"Selamat datang, masa dimana lapar berkepanjangan datang."

Dengan tatapan kosong dan tanpa harapan, Arthur duduk di beranda rumahnya meratapi langit biru sambil meminum secangkir teh terakhir yang tersimpan di lemarinya, menyambut bulan puasanya sendiri. Sambil menghitung-hitung waktu sampai gajinya turun, ia memikirkan dimana dia akan makan walau cuma sekali. Kalau setiap hari di rumah Francis, nggak enak juga, lagipula resiko tubuhnya dalam bahaya akan bertambah. Arthur menghelakan napas panjang, dan disaat itu juga seseorang menekan bel.

Ting Tong—

Refleks Arthur langsung mendongakkan kepalanya, melihat keluar pagar untuk mengetahui siapa yang datang. Disana, murid kesayangannya dari asia berdiri dengan senyum manis sambil mengangkat sebuah bingkisan yang dibungkus dengan kain.

"Sensei, aku bawakan sarapan."

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

"M... Makasih ya. Jadi merepotkan." gumam Arthur sambil meletakkan secangkir teh hijau yang Japan bawa.

"Ah, tidak. Aku justru senang ada yang mau memakan masakanku." ujar gadis itu tersenyum. "Aku suka memasak, tapi karena di rumahku tidak ada orang, aku tidak bisa berbagi makananku." tambah gadis itu sebelum ia meminum teh hijau yang disediakan Arthur.

Arthur terdiam sebentar. Kemarin saat pesta yakiniku di rumah Japan memang tidak ada siapa-siapa, barang-barangnya pun sedikit. Apa dia tidak kesepian sendirian di rumah sebesar itu?

"Sensei pasti berpikir apa aku tidak kesepian, kan?" Arthur tersentak kaget saat Japan menebak pikirannya. "Tenang saja, aku tidak kesepian kok! Justru aku senang, aku bisa tenang dan merelaksasikan pikiranku." jelas gadis itu sambil memberikan senyum manis miliknya.

Untuk yang itu Arthur memiliki pendapat yang sama dengannya. Saat sendirian adalah saat-saat yang terbaik. Tapi kalau terus sendirian... Apa tidak kesepian?

"Sensei, setelah sensei makan, ayo kita ke kota." ajak Japan.

"Ngapain?" tanya Arthur setelah menelan nasi yang ada di mulutnya.

"Mengumpulkanflag... Uhuk... Membeli bahan makanan. Kulkasku sudah hampir kosong." Japan memulai ucapannya dengan cepat yang kemudian ia hentikan dengan membersihkan kerongkongannya dan ia kembali berbicara dengan suara lembutnya.

"Hmm... Baiklah. Sebagai ganti kamu sudah membuatkan kusarapan." seru Arthur setuju sambil memberikan senyum lembut pada Japan.

Mendengar persetujuan Arthur, Japan tersenyum senang.

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Setelah Arthur sarapan dan bersiap, mereka berangkat ke kota dengan bus. Begitu turun di halte kota, mereka langsung berjalan menuju shopping district yang tak jauh dari halte. Mereka pun berkeliling sambil mencari bahan makanan, sesekali mereka berhenti di toko souvenir untuk melilihat-lihat atau toko hewan.

"Aku suka kucing! Mereka itu lucu! Mata mereka bulat tapi terkesan tajam, sikap mereka yang pemarah tapi sebenarnya lembut dan tingkah mereka yang panikan bila mendengar suara keras itu manis!" seru Japan sambil mengelus kucing yang ada di toko kucing dengan senang.

"Sungguh? Pendapat orang tentang kucing itu berbeda." gumam Arthur sambil melihat ke suatu hal nun jauh di sana.

"Menurut sensei begitu? ... Menurutku sensei mirip dengan kucing." gumam Japan hampir tidak terdengar oleh Arthur.

"Kamu bilang sesuatu?"

"Nggak! Nggak bilang apa-apa!" seru Japan sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya dengan wajah yang merah.

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Usai berbelanja merekapun pulang. Tanpa mereka sadari langit sudah memerah. Arthur kebingungan memikirkan apa yang ia lakukan dengan Japan di kota, kenapa bisa selama ini. Belanja dengan Japan sangat menyenangkan, sampai lupa waktu. Tapi sebenarnya pria Inggris canggung itu tidak sadar kalau ia sedang berkencan.

Merekapun berjalan menuju halte untuk pulang. Tapi di halte, Japan memeriksa tasnya dengan panik. "Ada apa?" lantas Arthur bertanya.

"Dompetku tidak ada!" serunya panik.

"Apa!? Jangan-jangan dicuri?"

"Tidak. Aku yakin tidak ada yang menyentuh tasku. Lagipula saat melewati taman tadi dompetku masih ada saat aku mengecek handphone." jelas Japan.

"Apa letak dompetmu saat itu di atas handphone?" Japan mengangguk. "Kalau begitu mungkin jatuh saat kamu mengeluarkan handphone. Ayo kita cari di taman."

Atas analisis Arthur, mereka kembali ke taman untuk mencari dompet Japan yang jatuh. Setelah berjalan beberapa lama di taman, mereka melihat dompet terjatuh di taman. Arthur pun segera berlari kecil menuju tempat dompet itu, ia memungutnya dan melihat isinya, di dalamnya ada kartu pelajar Japan.

"Japan! Ini dompetmu!" seru Arthur memanggil Japan.

"Sungguh?" Japan berlari kecil menuju Arthur dan Arthur berjalan sambil mengecek isi dompet tersebut ke arah Japan.

Dan sesaat sebelum mereka berhenti, seseorang muncul dari semak-semak dan menabrak Arthur, mereka berdua jatuh terduduk.

"Aduuuh! Sakit aruuu!" keluh gadis itu kesakitan sambil mengelus pinggangnya.

Entah apa yang mengutuk Arthur, tapi banyak sekali gadis yang menabraknya akhir-akhir ini (baik sengaja ataupun tidak disengaja). "Chi... China-kun!" sahut Japan terkejut melihat teman sekelasnya itu.

"Japan!? Kenapa kamu sama guru playboy ini!?"

"Siapa yang kau bilang playboy! Kalau berlari lihat ke depan!" seru Arthur menyela sambil memegangi kepalanya yang pusing akibat tabrakan yang cukup keras.

"Mau gimana lihat ke depan aru!? Aku sedang dikejar!" sahut China emosi.

"Dikejar?" tepat saat Arthur dan Japan bergumam bersamaan, muncul 2 orang berpakaian Cina dan mata mereka ditutupi oleh kacamata bulat ala boboho.

Reflek dengan kemunculan mereka, China kembali berlari kabur dari mereka. Tapi sambil menarik tangan Arthur...

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Meninggalkan Japan yang terkejut senang(?) China terus berlari kencang sambil menarik tangan Arthur hingga pemuda itu kewalahan mengejar kecepatan gadis kung fu itu. Sambil berlari dan memacu napas, Arthur mencoba meminta penjelasan dari China, tentu saja China mengabaikannya. Mereka berhenti saat mereka dijepit oleh orang-orang mencurigakan itu.

"Menyerahlah, nona! Ayah anda melakukannya demi kebaikan anda!" seru pendekar kung fu yang ada di depan mereka.

"Bohong, aru! Dia menjodohkanku semata-mata untuk menggabungkan kedua aliran kung fu dan mencari pewaris, kan!? Aku tidak mau dijodohkan dengan alasan seperti itu aru!" seru China menolak.

'Hah? Menjodohkan? Perjodohan? Hah? Apaan sih!?' Arthur yang tidak tahu apa-apa kebingungan dan bertanya di dalam hati sendiri.

"Tapi nona, aliran kung fu kita sedang krisis! Murid yang masuk tahun ini saja hanya 43 orang!"

"Apa peduliku! Itu urusan ayah!" sahut China sambil mempererat ngenggaman tangannya.

"Maaf menyela. Ngomong-ngomong, nona..." pendekar kung fu lain yang ada di belakang memotong pembicaraan. "Laki-laki yang ada di belakang nona, siapa?"

"Eh? Aku gu..." belum selesai Arthur memperkenalkan hubungannya dengan China, gadis itu menyela—

"Dia pacarku." dengan suara yang lantang.

... ... ... ...

Suasana hening untuk beberapa saat dan akhirnya keheningan pecah oleh sahutan kaget 3 orang, yaitu kedua pendekar dan Arthur. "EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHH!?"

Mendengar ucapan China Arthur panik dalam hati, tapi begitu ia merasakan tangan China yang menggenggam tangannya gemetar, ia memutuskan untuk membantu gadis yang akan dicomblangi tersebut.

"No... Nona! Di... Dia pacar nona!?" tanya salah satu pendekar itu meyakinkan telinganya.

China sedikit gelagapan, takut Arthur tidak setuju dengan perkataan tanpa rencananya. Tapi ketakutannya langsung sirna saat Arthur berdiri di depannya dan berkata : "Tak akan kubiarkan kalian membawa gadis-ku seenaknya."

Mata sipit(?) China terbelalak mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka gurunya itu justru berbalik membantunya. Mungkin ia salah menilai pemuda itu. Mendengar itu, pendekar kung fu itu kebingungan, seolah mereka tidak mau nona mereka diambil tapi tidak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya mereka membuat keputusan. "Lawan kami! Buktikan kalau kau pantas untuk nona!" sahut salah satunya.

"Oke. Majulah berdua." tantang Arthur sambil melepas jaket jeans-nya dan menitipkannya pada China.

"Sen... Arthur! Kamu bodoh apa!?" sahut China kaget.

Arthur tahu ini tindakan bodoh. Hanya orang gila yang menantang dua orang pendekar kung fu bersamaan. Tapi kalau tidak melawan mereka berdua sekaligus, salah satunya akan membawa China. Lagipula...

Arthur cukup percaya diri dengan pengalamannya.

"Bersiaplah, bocah!"

Salah satu dari mereka melompat ke arah Arthur, hanya dengan satu lompatan mereka bisa meluncur sejauh 10 meter dan meninju dagu Arthur, tentu saja ditangkis oleh pemuda penggemar film bajak laut itu. 'Mereka menyerang dagu. Salah-salah menahan bisa one hit kill, nggak sungguh, aku bisa mati. Kalau begitu konsentrasi melindungi dagu—' belum sempat Arthur berpikir, satu serangan lagi datang dari pendekar kung fu yang lain. Kali ini yang datang adalah tendangan, tidak sempat menangkis, Arthur berusaha menghindar untuk melindungi dagunya tapi tendangan itu masuk, tendangan itu mengenai tulang pipi pemuda Inggris itu.

"Arthur!" melihat wajah gurunya kena telak, ia berteriak panik memanggil nama pemuda itu.

Tapi bukannya jatuh, Arthur justru menyerang balik dengan menarik kaki pendekar itu dan membantingnya ke lantai batu. Bantingan itu cukup keras, cukup untuk membuat orang biasa tidak bergerak, tapi tidak cukup untuk membuat seorang pendekar kung fu berhenti. Pendekar itu pun loncat menjauh dari Arthur dan kini mereka berdiri bersebelahan sejauh 20 meter dari Arthur.

"Dia kuat. Kita tidak bisa meremehkannya." bisik pendekar yang terbanting oleh Arthur. "Benar juga, lagi pula matanya..."

Mereka menatap pada mata emerald Arthur yang menatap tajam pada mereka, seakan-akan gerakan mereka tidak akan luput dari pandangan itu. Melihat mereka yang terdiam melihat Arthur, ia kembali menantangi mereka. "Kenapa? Sudah tahu kemampuanku?"

Terpancing oleh sindiran Arthur, salah satu dari mereka kembali melompat ke tempat Arthur, tapi tidak hanya pendekar itu yang melompat, Arthur juga melompat sehingga mengacaukan titik sadaran pendekar itu, dan saat mereka bertemu, Arthur meninju perut pendekar itu dengan keras di tambah kekuatan dorongan dari lompatannya dan pendekar itu, membuat kekuatan tinju itu meningkat dan kena telak. Pendekar itu tersungkur di lantai batu taman, satu pukulan tinju itu mampu membuat isi perutnya keluar, dan benar saja, pendekar itu memuntahkan isi lambungnya hingga ia meringkuk gemetaran karena kesakitan.

"Satu." gumam Arthur sambil remas tangannya.

Teman pendekar itu dan China tidak percaya. Tidak terlihat oleh Arthur, tapi dari balik kacamata hitam itu pasti pendekar kung fu itu terbelalak. Ia menggeritkan giginya sambil mendecak. Tidak menunggu serangan pendekar itu, Arthur berlari ke arah pendekar itu, bermaksud meninju pendekar itu tepat di pipinya. Tapi serangannya ditangkis dan perutnya terkena pukulan dari pendekar kung fu dengan tangannya yang lain. Pendekar kung fu itu memasang wajah senang, tinjunya yang memiliki kemampuan yin dan yan itu telak mengenai lawannya, tapi itu kalau ia sedang berkonsentrasi.

"Maaf ya, tuan. Aku sudah pernah menerima yang lebih keras dari ini."

Sebelah tangan pendekar itu menangkis tinjunya, yang lain meninju perutnya, itu artinya kedua tangan pendekar kung fu itu telah terpakai. Mengetahui lawannya dalam keadaan tidak bisa menahan serangannya, dengan tangan kirinya yang bebas Arthur langsung mencengkram bahu pendekar tersebut dan menariknya ke bawah sambil mengangkat lututnya, hingga lututnya menghantam keras perut pendekar tersebut. Saat pendekar itu membungkuk menahan sakit perutnya, Arthur menambah pukulan pada pipi pendekar tersebut hingga ia tersungkur di tanah.

Melihat lawannya tidak bisa bangkit lagi, Arthur menghela napas dan kembali ke tempat China berdiri. "Uh... China?" Arthur mencoba memanggil China yang terus diam merundukkan kepalanya.

Kemudian China mengangkat jaket Arthur dan menutup wajah Arthur dengan jaket tersebut sambil berteriak. "Bodoooh!" terlihat bulir air mata keluar dari matanya. "Bodoh! Bodoh! Sensei bodoh!"

"Chi... China! Aku tidak bisa bernapas!" seru Arthur sambil megap-megap mencari udara.

Tapi Arthur langsung berhenti saat ia merasakan sesuatu menempel di dadanya dari balik jaketnya. "Kau membuatku khawatir, bodoh." isak gadis itu dengan suara yang pelan. Arthur terdiam. Kemudian ia mengambil alih jaketnya dan menutup wajah China. "Fuah! Apaan sih!" keluh China tidak bisa melihat, dan terdiam begitu Arthur menempelkan kepalanya pada kepalanya.

"Maaf... Aku membuatmu takut."

Suara lembut Arthur terdengar sangat dekat, membuat China tidak bisa tidak berdebar-debar. Ia tahu kalau wajahnya pasti merah, karena itu saat Arthur akan melepas jaketnya dari wajahnya, ia menahannya. Ia malu.

"China? —!"

Tepat saat itu, ternyata pendekar yang terakhir Arthur lumpuhkan bangkit dan sudah berada di dekat mereka dengan lompatan bernama shun dong, ia bermaksud menghajar mereka berdua agar Arthur tidak akan menahan mereka dan China akan mudah dibawa pulang karena pingsan. Arthur sesegera mungkin mendorong China dan akibatnya...

dagunya kena telak.

Arthur terpental ke belakang dan dalam sekejap pingsan. Melihat Arthur yang tidak sadarkan diri, China panik dan segera berlari ke tempat Arthur tergeletak. "Huh, hebat juga bocah ini. Kalau aku dalam kondisi bagus, isi kepalanya pasti sudah hancur."

"Kau! Itu curang aru! Pertarungan kan sudah selesai!" sahut China kesal.

"Yang jelas pengganggu sudah lenyap. Ayo pulang, nona."

"Barusan kau memukulnya karena masalah pribadi! Perguruan kami tidak mengajarkan hal itu! Perguruan menjadi krisis karena orang-orang seperti kalian!"

"Tidak ada hubungannya dengan kami, kami hanya menjalankan tugas membawa anda pulang untuk mempertemukan anda dengan ayah anda." ujar pendekar itu sambil membalikkan punggungnya dari China. "Kalau kau ingin menolak perjodohan itu, bawalah pemuda yang menjadi pacarmu itu. Mungkin kepala biksu akan mengerti." tambahnya sambil membenarkan topi lucunya.

China terdiam. Ternyata pendekar itu tidak seburuk yang ia kira. "Bertemu ayah? Dimana?"

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Saat Arthur terbangun, ia berada di ruangan yang tidak ia kenal. Ruangan yang penuh dengan tirai dan sulaman khas Cina. Lukanya di pipi, perut dan dagu sudah di obati. Di sampingnya ada China, lantas ia bertanya.

"China? Ini dimana?" tanyanya sambil memegang kepalanya yang pusing.

"Di Cina." jawab China santai.

To Be Continue

Nagai... Nagai... Nagai

Maaf atas keterlambatan update yang sangat lambat. Kepala ini dihantui ama akuntansi ama doujin(terutama akuntansi). Dan berhubung kelas 3 juga... Entah kenapa mau nggak mau harus mau jadi anak rajin. God... Mendokusai /inicurhat /staph

So'p! Disaat galau mau lanjut ke chapternya siapa, akhirnya tangan ini menuntun saya untuk ke chapternya CHINA! /jengjengjengjeng karena temanya kung fu, aku mesti belajar dasar2 kungfu (bongkar koleksi komik kung fu boy) tapi males.

Agak susah nyampurin cerita Arthur di sela-sela cerita para heroine-nya, tapi aku akan berjuang~

Thanks for reading~

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Omake

Japan yang ditinggalkan oleh 'flag' yang mendadak muncul tidak tinggal diam. Ia segera mengejar mereka sambil semangat mengeluarkan kamera yang ia bawa, melupakan dompet yang dijatuhkan Arthur saat bertabrakan dengan China. Di balik semak-semak ia melihat pertarungan Arthur dan mengambil banyak gambar dan fangirling-nya memuncak saat ia menjepret foto China saat menempelkan kepalanya secara tidak langsung pada dada Arthur. Kemudian ia membiarkan mereka membawa Arthur, untuk perkembangan flag berikutnya.

-End-

From, YamiYouichii

With Love