Love Disease

.

.

.

Keranamu aku tersenyum tanpa alasan

.

.

.

Karenamu aku menangis tidak berguna

.

.

.

Karenamu…

.

.

.

.

Jongin melangkah lebih cepat dari biasanya pagi itu. Kegiatan bersekolah seolah membuatnya bersemangat. Ia melewati setiap tubuh tanpa peduli apapaun. Hanya senyumnya yang terus mengiring. Bukan tanpa alasan. Hari ini partner in crime nya kembali masuk sekolah setelah seminggu menghilang.

Jongin sudah membicarakan semuanya pada Chanyeol. Ia akan meminta maaf dan berdamai dengan kejadian yang telah lalu. Sehun mungkin memiliki tekanan yang tak dapat ia ungkapkan sekarang. Ia hanya harus kembali bersikap layaknya saudara yang selama ini telah memahami seluruh masalah yang Sehun hadapi.

Dan saat dua tubuh itu saling berhadapan d depan pintu kelas, batas transparan tak kasat mata yang memiliki ritme luapan rasa yang berbeda itu bertabrakan dengan sangat keras. Salah satunya terjatuh dengan hentakan aneh yang mengganggu pernafasannya.

Senyum Jongin luntur hanya dalam sepersekian detik ketika Sehun melewati tubuhnya dengan keterdiaman yang menyesakkan. Tanpa satu kata. Tanpa balasan sepasang manik biru kelam. Jongin bahkan tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk sekedar menghentikan langkah kaki Sehun yang kian menjauh.

Satu keputusan

Untuk beribu kepalsuan

Pantaskah disebut kejujuran?

Chanyeol disana. Melihat rasa sakit yang coba di elak oleh pemilik hati. Pertama kalinya ia melihat Jongin kehabisan kata hanya karena keterdiaman Sehun. Pertama kalinya ia melihat Sehun mengambil keputusan untuk ketidak pekaan Jongin.

Dua hati yang memiliki jalan berbeda itu kini terjebak dalam lingkaran takdir yang mereka ciptakan sendiri. Bertahan dalam kekeluan pembenaran hati yang tak bisa terungkap. Dan Chanyeol memaki untuk diamnya.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

All the beautiful days in your eye

We don't need a smile

Today to say goodbye

(BGM : Sejeong Gugudan – One In Ten Thousand )

Jongin masih tak bergeming. Makanan yang mendingin diatas nampan hanya terus diaduk tanpa semangat. Celoteh Chen tak membantu mengembalikan konsentrasinya. Elusan di kepalan tangan dari Seolhyun pun tidak mampu mengembalikan ingatan akan punggung Sehun yang menjauhinya.

Seolhyun tak berani berkata setelah Chanyeol berbisik perihal apa yang membuat kekasihnya menjadi pendiam dadakan. Chanyeol tidak tau pasti apa yang terjadi selama jam pelajaran berlangsung. Sehun mungkin masih mengabaikan Jongin. Dan hal tersebut sungguh tidak baik untuk mood Jongin. Ia hanya melihat Sehun duduk di kumpulan anak-anak kelas dua dan tiga. Kim Tae Woo salah satu yang duduk disamping Sehun, mengobrol akrab dengan santai.

Sehun sama sekali tidak terlihat memiliki banyak pikiran layaknya Kim Jongin. Ia tertawa seperti semua beban telah hilang dari punggungnya. Seolah ia lega untuk satu hal yang tidak dapat Chanyeol ketahui.

Apakah mengabaikan adalah caramu untuk bertahan?

Bagaimana dengan rasa sakit itu?

Jongin mengikuti pergerakan Sehun saat si pirang menjauh dari kelompok barunya. Sehun melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun. Jongin menghela nafas sebelum ikut berdiri dan bergegas mengikuti Sehun. Seolhyun tidak memiliki satu alasanpun untuk menahan Jongin. Ia hanya menatap Chanyeol dengan guratan membingungkan.

"Semua hal menjadi rumit sekarang" gumam Chen yang sibuk memilah jamur diatas nampan.

Seolhyun hanya menunduk menatap kuah sup tanpa minat. Chanyeol mengerti kebingungan seperti apa yang meliputi adik sepupunya kini. Mereka yang tidak tau dan tidak pernah mau tau bagaimana suatu yang mereka anggap salah akhirnya saling menunjukkan eksistensinya.

Kepala Seolhyun mungkin dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang selalu ia abaikan dan buang jauh-jauh. Ia mungkin sedang berusaha keras untuk percaya pada apa yang ia jalani sekarang akan selalu berjalan dengan semestinya.

Bel yang berbunyi memaksa pikiran Chanyeol untuk teralihkan. Ia ingat memiliki jadwal bersama anggota kepengurusan Osis untuk membahas rencana tahunan festival sekolah. Helaan nafas lelah keluar dari celah bibirnya. Chanyeol hanya merasa memiliki terlalu banyak beban akhir-akhir ini. Ia dengan mudah menyuruh Jongin meminta maaf pada Sehun, padahal dia sendiri belum bicara apapun pada Sehun akan perihal yang sama.

Chanyeol tersentak saat Tae Woo menepuk pelan bahunya.

"Jangan sampai terlambat hanya karena kau banyak melamun, Tuan muda"

Chanyeol menipiskan bibirnya, tersenyum tanpa minat. Kalau bisa, ia ingin sekali ini saja tidak ikut rapat dan membolos di atap sekolah. Itu jika ia ingin mendapati amukan Tae Woo. Chanyeol akhirnya memilih mengikuti si ketua Osis dan berjalan berlawanan arah dengan Seolhyun.

.

.

.

.

Saat Sehun berkata ingin buang air kecil pada Tae Woo, ia tidak benar-benar melakukannya. Ia hanya ingin menghindar sebentar dari rasa tidak nyaman saat berada dekat dangan teman baru dan jauh dari sahabatnya. Sehun hanya membilas wajah dengan air di westafel dan berdiam diri kemudian tanpa peduli pada bel yang berbunyi.

Pantulan wajah basahnya di cermin tak menjadi fokus yang berarti. Matanya seolah memandang jauh pada apa yang terjadi belakangan ini. Hubungannya dengan Jongin dan Chanyeol berubah dalam satu kedipan mata.

Sehun meremas pinggiran westafel. Bayangan kejadian satu minggu yang lalu kembali berputar menyakiti kepala. Sisi dirinya menyesal, namun sisi lain membenarkan apa yang telah ia lakukan. Ia hanya ingin melihat bagaimana Jongin akhirnya bersikap. Ia ingin melihat seberapa besar yang namanya cinta itu sudah mengambil alih perhatian Jongin.

Jika Sehun yang melakukannya.

Dan yang terjadi, Jongin bahkan tidak bertanya apapun. Hanya meluapkan emosi sebagaimana ia akan melindungi kekasihnya. Menatap Sehun layaknya seorang musuh yang harus dijauhkan. Sehun mendengus, tidak mendapati pengakuan seperti apa lagi untuk menjelaskan keadaannya.

Dia kalah.

Lagi.

Sehun baru saja menjangkau tisu saat suara pintu yang terbuka mengalihkannya. Ia ingin lari saat itu juga, namun tatapan Jongin memaku kakinya untuk tidak bergerak seinchi pun. Sehun hanya kembali menarik tisu, lalu mengeringkan sisa-sisa air di wajahnya.

"Aku tidak akan berbasa-basi lagi, Sehun"

Sehun menghentikan gerakan tangannya, namun masih enggan menatap Jongin. Sedangkan pria itu kini melangkah mendekat untuk tau ekspresi seperti apa saja yang akan Sehun tunjukkan.

"AKu tidak ingin terus berjauhan darimu seperti ini." Jongin tidak berusaha menahan suaranya yang gusar. "Jadi, aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi?"

Sehun kembali menghela nafas sebelum memutuskan untuk berbalik dan bertemu dengan manik coklat yang kini manatapnya redup. Sehun mengigit bibir tanpa sadar. Perasaan tersakiti saat melihat kesedihan Jongin pun masih tertanam dalam dirinya.

"Bukankah ini sangat terlambat" kini giliran Sehun yang membiarkan getaran suaranya membuat Jongin bingung.

"Kau selalu menghindar" Jongin membela diri.

Sehun terdiam membenarkan. Ia bukan seseorang yang pintar berdebat ternyata.

"Lalu apa yang ingin kau dengar?"

"Apa yang terjadi?"

"Yang sekarang terjadi"

"Sehun—"

"Bahkan jika ku jelaskan semuanya, kau hanya tidak bisa mengerti Jongin."

Sehun tidak tau pasti apa yang Jongin fikirkan. Pria itu memilih menatap Sehun. Menyalurkan sesuatu yang tidak bisa Sehun tangkap.

"Kau menyukai Seolhyun?"

Sehun mendengus, mengejek dengan tawa singkatnya. Kepalanya menggeleng tak habis fikir.

"Kau bodoh?" suara Sehun yang meninggi menjadi jawaban untuk Jongin.

"Lalu apa?" kini suara mereka memenuhi kamar mandi. Jongin terlihat frustasi untuk pertanyaan yang sama.

"Minggir!"

Jongin menahan lengan Sehun sebelum Sehun sempat menyentuh kenop pintu. Dan berhasil terlepas dalam sentakan pertama yang Sehun lakukan.

"Kenapa kau marah?"

"Karena kau bodoh"

Jongin hampir mengacak rambutnya. "Iya, aku memang bodoh. Jadi, kumohon jelaskan semuanya Oh Sehun"

sehun membuang wajah. Rasa kecewa itu tidak bisa ia pungkiri. Kenapa sulit sekali untuk Jongin mengerti arti sikap Sehun? Ia sudah berusaha untuk terlihat jelas walau sedikit.

"Aku tidak ingin persaudaraan kita berakhir seperti ini"

"Teruslah membual Kim Jongin" Sehun menyerah untuk menahan amarahnya. "Buang semua omong kosongmu tentang kedekatan kita. Karena kau tidak mengerti apapun tentangku."

Aku hanya harus menyerah kan?

"Kau tidak pernah mengerti apapun"

Jika aku bisa mencintaimu satu hari saja

Seluruh cintaku hanya untukmu

Bahkan nafas terakhirku…

.

.

.

.

Sehun hanya menghabiskan waktu duduk di depan jendela kamar. Suara ketukan pintu yang sudah terulang berkali-kali sejak setengah jam lalu tidak ia hiraukan. Sehun hanya terlalu malas melakukan apapun. Bahkan perut kecilnya meraung lapar tanpa dipedulikan sama sekali oleh pemilik tubuh.

Yixing mungkin saja sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sehun tidak ingin membuat makanan yang pria itu buat terbuang sia-sia, tapi ia benar-benar tidak ingin beranjak barang sejengkal. Ia hanya menunggu waktu untuk berangkat ke tempat kerja.

"Sehun"

Kembali suara Yixing terdengar dari balik pintu. Sehun mengalah, memilih mengangkat tubuhnya dari kursi dan membuka pintu. Yixing tersenyum tipis dengan nampan berisi piring makanan ditangan. Sehun tidak tau bagaimana Yixing masih bisa bersikap setenang itu setelah ia berperilaku seenaknya sejak sore.

"Sebentar lagi jam kerjamu kan? Kau akan pingsan kalau tidak makan" ucapan Yixing dibenarkan oleh Sehun dalam hati.

Sehun meraih nampan, melangkah kembali memasuki kamar diikuti oleh Yxing. Si pirang menarik kursi sedangkan yang lebih tua memilih berbaring di kasur. Langit-langit kamar menjadi pemandangan menarik untuk Yixing selama beberapa suapan nasi yang masuk ke lambung Sehun.

"Dia seumuranmu sekarang"

Sehun menelan makanan dengan kening berkerut biingung. Yixing menoleh, menatapi Sehun dengan lekukan yang menimbulkan cekungan di kedua pipinya. Sehun selalu suka melihat senyuman itu. Walaupun kadang menyebalkan, Yixing selalu memperhatikannya lebih dari apapun. Mungkin karena mereka sama-sama pernah ditinggalkan seseorang, jadi tanpa bertanya pun Yixing seolah selalu tau apa yang sedang Sehun hadapi.

Kamar yang sempit dengan suara sunyi di luar menjadi sedikit menyenangkan untuk Sehun. Walaupun Yixing sudah terlalu baik padanya, mereka tidak pernah sedekat ini untuk mengobrol berdua. Sering kali mereka saling berteriak di bar karena suara music yang berlebihan.

Yixing bangkit, dan memilih duduk dengan dua tangan menyangga tubuhnya. Helaan nafas terdengar keras di sela sepi saat kedua bola mata sepekat malam itu bergerak menelusuri setiap sudut kamar.

"Adikku, dia seumuran denganmu sekarang" Yixing menjawab rasapenasaran Sehun sebelumnya.

Sehun mengangguk, "Benarkah?" tanyanya degan satu suapan nasi.

"Ini malam ulang tahunnya"

Sehun berhenti mengunyah. Entah mengapa suara yang keluar tidak seperti sebelumnya. Kesediahna itu kini mendominasi.

"Sampaikan ucapan dariku untuk adik hyung" Sehun tersenyum untuk mendapatkan balasan yang sama dari Yixing.

"Akan aku sampaikan" Yixing taunya menghela nafas. "Setelah aku berhasil menyampaikan hal yang sama"

Sehun tidak tau dengan pasti bagaimana alur cerita sebenarnya untuk kisah Yixing. Pria itu teman sekamarnya saat di panti asuhan. Mereka tidakdekat sama sekali. Sehun si pendiam dan Yixing yang memperhatikan adiknya lebih dari diri sendiri.

Yixing berbicara padanya setelah Sehun keluar dari rumah sakit karena jatuh dari tangga. Ia hanya bertanya bagaimana keadaan Sehun, dan hampir berlari ketakutan karena Sehun tiba-tiba menangis. Setelahnya mereka hanya terlihat lebih akrab. Yixing yang lebih tua lima tahun dari Sehun memutuskan keluar dari panti lebih dulu, membawa adiknya untuk tinggal di rumah susun kumuh yang hanya sekali pernah Sehun singgahi.

Janji itu masih Sehun ingat hingga kini. Yixing bahkan menepatinya.

Yixing hanya berkata akan bertemu dengan ibu Sehun dan menyampaikan kabar bagaimana kehidupan Sehun selama dipanti. Sehun menunggu, selama yang ia mampu. Berharap Yixing akan membawa ibunya dan mengeluarkannya dari sana.

"Sehun" yang di panggil bergumam, "Kau tidak pernah menjawab pertanyaan ku"

"Pertanyaan apa?"

"Kenapa waktu itu kau menangis?"

Sehun melamun sesaat, dan setelahnya ia mengagguk samar saat ingatan lama itu muncul kembali. sehun tersenyum tanpa arti apapun.

Hampa.

"Hyung masih ingat?" matanya melirik Yixing, masih dengan senyum yang sama. "Tidak ada yang pernah bertanya keadaan ku. Sebelumnya aku hampir menangis karena ku kira hyung akan memperlakukan ku seperti yang lain, padahal sakit yang ada belum sembuh sama sekali. Tapi ternayat hyung menanyakan luka ku. Aku hanya tidak bisa menahan rasa terkejut"

Yixing terkekeh. Suasana kembali sunyi. Sehun menyelesaikan makan malamya dengan lahap. Suara langkah kaki serta gurauan dari kumpulan siswa yang melewati rumah Yixing terdengar hangat. Sehun jadi teringat tiga orang temannya yang kini mungkin saling berperang dengan kesibukna mereka masing-masing.

"Aku tidak pernah tau bagaimana ia tumbuh menjadi remaja sepertimu. Aku tidak tau bagaimana kebahagiaan dan kesedihan yang ia alami selama ini. Aku tidak tau apapun"

Sehun mengerti bagaimana rasa kehilangan itu menyakiti Yixing. Selama ini Yixing hanya terus berusaha menyembunyikan semua hal dengan kebaikan hatinya. Sehun mengerti. Mereka duduk di kursi yang sama.

"Hyung tidak berusaha mencarinya?"

Sehun tidak menyangka Yixing akan menggeleng. "Dia sudah hidup dengan baik. Aku tidak harus mengganggunya lagi"

Sehun mendengus, "Hyung bahkan merawatnya seperti berlian, menjaganya tanpa peduli bahkan jika hyung harus melompati jurang. Bukankah itu menyakitkan?"

"Apa?"

"Perpisahan hyung dengan Yin"

Yixing melamun. Raut wajahnya terlihat lebih ringan, Sehun akan memberikan apapun jika Yixing mau memeberi tahu bagaimana caranya tetap bersikap seperti itu meski takdir sudah mengiris saraf-sarafnya.

"Hal yang lebih menyakitkan dari perpisahan itu adalah kehilangan, Sehun" dan saat mata itu manatapnya, Sehun tau ia tidak akan bisa sekuat Yixing. "Aku tidak pernah kehilangannya. Dia belahan jiwaku. Dia masih disini. Sejauh apapun, aku masih memilikinya"

Suatu hari nanti

Kehilangannya adalah pelajaran berharga untuk menjadi lebih kuat

Dan hari di saat Yixing kembali ke panti asuhan. Hari dimana semuanya telah hangus menjadi abu.

.

.

.

Sehun tidak bisa beralih dari percakapannya dengan Jongin di toilet sekolah tadi siang. Ia sedikit merasa menyesal sudah mengabaikan proposal perdamaian dari pria itu. Namun Sehun pun merasa benar dengan tindakan yang ia ambil. Meskipun dalam kondisi sekarang ia menjadi satu-satunya yang bisa disalahkan, bukan berarti ia akan minta maaf dan memaafkan dengan mudah.

Anggaplah Sehun egois atau kekanak-kanakan. Tapi rasa penasaran terhadap apa yang akan diakukan Jongin ternyata terjawab. Jongin memilih mengalah seperti dulu, walau ekspektasi yang diambil Jongin membuat Sehun semakin marah.

Bagaimana mungkin pria hitam bodoh itu mengira bahwa Sehun menyukai Seolhyun? Walau sikap yang Sehun tunjukan memang jelas seperti ia tidak merestui hubungan kedua orang tersebut. Tapi itu Jongin. Bukan Seolhyun.

"Jongin bodoh"

"Kau mengumpat?"

"Huaaa!"

Sapu yang Sehun pegang jatuh kelantai karena si pemilik tangan terlonjak berlebihan. Lorong lantai empat yang sepi sedikit banyaknya membuat Sehun waspada pada suara yang muncul.

"Kenapa kau selalu muncul seperti Goblin?" Sehun bisa saja melemparkan kain lap ke wajah Kris yang tertawa.

"Kau mengumpat sambil melamun?"

Sehun berdecak, membungkuk untuk meraih gagang sapu. "Kenapa hyung tidak pernah menjawab pertanyaanku?"

Kris mengangkat bahunya acuh. "Kau tidak pernah benar-benar bertanya. Kupikir, 'kau muncul seprti Goblin' itu adalah 'hai' dalam bahasamu"

Sehun memilih menghindar dari perdebatan tidak bermutu yang akan terjadi jika ia menyahut. Ia hanya kembali membersihkan lantai yang sebenarnya tidak kotor itu dengan lebih cepat. Sehun ingin segera berbaring di kasur.

"Kau lapar?"

"Pekerjaan ku masih banyak, bagaimana mungkin aku lapar"

"Walaupun sebenarnya kau lapar?"

Sehun meniup poni rambutnya kesal. Ia berbalik menghadap Kris yang lebih tinggi. Sehun sempat kagum pada proporsi tubuh Kris yang lebih berisi dan tinggi dari Chanyeol.

"Jadi apa sebenarnya yang hyung lakukan disini?" sebelum Kris menjawab, Sehun kembali melanjutkan. "Jangan membodohiku lagi. Kita bertemu dua kali disini, tidak mungkin kali ini hyung hanya lewat dan berteduh dari hujan" Kris terkekeh saat Sehun menatapnya dengan mata memicing curiga. "Kau bekerja disini?"

"Anggap saja begitu"

Sehun berkacak pinggang, "Sudah kuduga"

Sehun melihat Kris lagi-lagi tersenyum. Sehun memang tidak tau seberapa popular pria tinggi itu, tapi ia yakin wanita manapun pasti rela melepaskan gandengan tangan dari kekasihnya untuk berbalik menghadap Kris.

Kris memiliki wajah asia yang akan terlupakan jika dilihat sekilas karena darah campuran yang ia miliki. Rambut pirangnya juga menambah keyakinan bahwa ia memang lahir dari dua orang tua yang berbeda ras.

Seperti Sehun.

Tidak banyak yang tau. Karena Sehun pun masih belum yakin akan hal tersbut. Sehun hanya menebak dari iris matanya yang berwarna biru tua. Warna yang sangat jarang dimiliki oleh mayoritas penduduk asli korea selatan.

Seandainya ia tau…

"Kau melamun lagi"

Sehun kembali berfokus pada pekerjaannya yang belum selesai tanpa peduli pada Kris. Sudah hampir tengah malam, dan lorong itu seolah bertambah panjang saat Sehun menyapu satu sudut lebih banyak.

"Kapan ini akan selesai?" gumamnya yang masih mampu di dengar Kris.

"Aku lapar"

Sehun memutar bola matanya tanpa berbalik menghadap Kris. "Pergilah makan"

"Baiklah, aku akan menunggumu di bawah"

Sehun baru saja menangkap maksud Kris saat pria itu sudah memasuki lift.

"Ap—yak!" terlambat, Kris melambai padanya dan pintu lift tertutup dengan rapat. Sehun menghela nafas dengan berlebihan. Kesal karena sikap seenaknya dari seorang Kris Wu.

.

.

.

.

.

(BGM : Kim Bo Hyung – Today)

"Apa dia anak seorang mafia?!"

Chanyeol tak mempunyai tanggapan untuk menyahuti kekesalan Jongin. Jalanan padat kota Seoul malam hari tidak menarik bagi mereka. Satu orang yang menjadi tujuan pencarian mereka seolah tidak memiliki kejelasan dimana kini ia berada.

Sudah hampir tengah malam saat Jongin menelpon Chanyeol untuk menemaninya mencari Sehun. Percakapannya di toilet sekolah beberapa hari lalu dengan Sehun nyatanya tidak membuat Jongin tenang. Selama berhari-hari itu pun Sehun seolah tidak memilki masalah apa-apa lagi dengan Jongin.

Sehun hanya terus menghindar saat di kelas dengan berpindah tempat duduk atau makan siang bersama Tae Woo saat di kantin. Entah sadar atau tidak, Jongin bahkan hampir selalu mengabaikan Seolhyun. Mood nya memburuk setiap kali tidak menemukan jalan keluar untuk berbaikan dengan Sehun.

Kini bocah Oh itu seolah bersembnyi di lorong bawah tanah. Tidak ada yang tau ia berada dimana. Hal tersebut sedikit banyaknya membuat Chanyeol merasa bersalah. Ia sudah menganggap Sehun sebagai seorang adik, ia selalu mencoba mengerti tiap getaran di mata Sehun. Tapi ia tidak pernah tau siapa Sehun. Dimana dia tinggal. Bagaimana kehidupannay diluar jam sekolah.

Perasaan bersalah itu mengemuka seiring dengan rasa penasaran di diri Chanyeol. Ia tau bahwa Sehun berasal dari panti asuhan. Namun hanya sebatas itu.

"Aku benar-benar frustasi hyung" Jongin menghempaskan punggung pada sandaran kursi. Helaan nafasnya terdengar berat.

"Aku juga" sahut Chanyeol. Matanya lelah karena terlalu lama menatap jalanan yang bergerak cepat.

"Siapa lagi yang harus kita tanyai?"

Itu pun menjadi pertanya yang terus berputar dikepala Chanyeol sejak tadi. Setiap tempat yang ditunjukkan oleh temen-temen mereka bahkan tidak memiliki satu nama Oh Sehun disana. Mereka juga telah mencari di alamat yang tertera pada biodata Sehun, namun tetangga disana bilang bahwa si pirang sudah lama tidak kembali.

"Dia benar-benar anak mafia" Jongin menggeleng, mengingkari ucapannya sendiri.

Chanyeol baru saja ingin menyahuti ucapan Jongin ketika handphone Jongin bergetar.

"Oh, Chen"

Chanyeol kembali fokus pada jalanan di depan.

"Ya, aku masih bersama Chanyeol hyung"

"Aku berpikir untuk kembali ke rumah saja setelah ini"

Chanyeol terkejut saat tiba-tiba Jongin menegakkan posisi duduknya. Handphone ditelinga semakin ia rapatkan.

"Aku akan memukulmu jika kau bercanda Chen. Kau tidak tau betapa buruknya mood ku saat ini"

"Kami akan kesana sekarang"

Chanyeol menatap Jongin setelah pria itu menyimpan handphonenya. "Ada apa?"

"Kau tau dimana Red Club?"

Chanyeol mengangguk, "Hongdae. Wae?"

"Kita jemput Sehun disana"

Chanyeol tidak mengerti mengapa kilatan mata itu seolah menahan amarah tak kasat mata yang bahkan tidak disadari oleh pemiliknya. Gurat lain di wajah Jongin pun tidak dapat menjawab rasa ingin tau Chanyeol.

.

Hingar binger club malam di kawasan Hongdae tersebut bahkan terdengar sampai keluar. Sehun sering berkata bahwa ia tidur di club, namun itu hanya dianggap bualan oleh Chanyeol ataupun Jongin. Saat Chen berkata bahwa ia melihat Sehun di club ternama tersebut, entah mengapa Chanyeol berharap bahwa si troll bersuara nyaring itu hanya salah lihat. Kemungkinan-kemungkinan terburuk tentang keberadaan Sehun disana tak bisa Chanyeol hindari.

Saat mereka kleuar dari mobil, Chen sudah menunggu di depan pintu masuk.

"Aku tau kalian tidak akan bisa masuk tanpa bantuanku" bahkan lelucon Chen hanya seperti angin lalu untuk ekspresi serius yang kini melekat di wajah Jongin. "Oh baiklah, kita cari tau dulu saja"

Chanyeol dan Jongin membuntuti Chen memasuki club, tanpa peduli pada penjaga yang seolah tidak melihat mereka. Tebak saja, club ini milik kakek Chen atau milik kerabatnya yang lain. Suara samar-samar dari luar akhirnya merasuk dengan jelas di pendengeran mereka. Tubuh diluar kendali para wanita di lantai dansa begitu menarik perhatian.

Tapi Jongin bahkan tidak melirik, ia hanya mengedarkan pandangan mengelilingi sudut-sudut yang masih bisa ditangkap oleh penglihatannya di keredupan cahaya ruangan.

"Santai saja Jongin, belahan jiwamu itu tidak jauh darisini" Chen lagi terkekeh, ia kembali melangkah menuju meja bar. "Hyung"

Seorang barteder dengan pakaian khas menoleh padanya. Lesung pipi yang manis tercetak saat ia tersneyum menyapa. Ramah.

"Ah ya, Kim Jongdae-ssi. Kau ingin pesan sesuatu?"

"Aish, sudah ku bilang tidak perlu seformal itu" mereka berdua tertawa akrab, "Aku hanya ingin bertanya." Chen melirik sekilas pada Jongin, "Hyung tau dimana Oh Sehun?"

Perubahan air wajah Yixing dapat ditangkap dengan baik oleh Chanyeol. Bartender itu terkejut sebelum menatap Jongin dan dirinya bergantian. Lalu seperti memiliki kepribadian ganda, ia kembali tersenyum dengan ramah. Tanpa sisa keterkejutan sebelumnya.

"Sehun? Dia mungkin beristirahat dikamarnya"

"Kamar…..nya?" gumam Jongin, kernyitan halus mengemuka di keningnya.

Yixing mengangguk, "lantai dua, paling ujung"

.

Chen memilih tetap berada d bawah saat Jongin dengan tidak sabaran memacu langkah menuju lantai dua. Ia berkata pada Chanyeol ingin menyelesaikan masalahnya dengan Sehun sesegera mungkin. Tapi Chanyeol tau, ada kekhawatiran lain yang kini merasuki Jongin.

Ia gelisah untuk sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti. Saat pintu paling ujung sudah di depan wajah, Jongin bahkan tidak bisa menutupi segalanya. Gugup entah karena apa, dan kekhawatiran yang seperti apa. Serta kegusaran mengunci raut wajahnya.

Chanyeol tidak memilki bayangan apapun. Ia hanya mengingat ucapan Yixing. Sehun mungkin saja benar-benar sedang beristirahat mengingat bagaimana pria itu selalu tertidur lebih awal jika menginap dirumahnya.

Jongin mengetuk pintu. Suara bising dari bawah masih jelas tedengar hingga Jongin mengetuk lebih keras di kali kedua. Tidak ada respon sama sekali dari dalam, jadi Jongin kembali mengetuk.

Penasaran, Jongin pun mencoba memegang gagang pintu, memutarnya sepelan mungkin agar tidak mengganggu waktu istirahat Sehun.

Klek!

Pintu terbuka seiring nampaknya sosok Sehun. Chanyeol terdiam beberapa detik sebelum mencari tau bagaimana raut wajah Jongin. Kaki pria itu seolah terpaku di atas lantai. Matanya berkedip, bergetar tidak karuan. Sedangkan cengkaramannya pada gagang pintu menguat hingga buku tangannya memutih.

Di depan sana, di dekat jendela kamar berlapis gorden berwarna maroon, Sehun berdiri. Atau lebih tepatnya memeluk seseorang. Perawakan Sehun dapat mereka kenali dengan sekali lihat, sedangkan posisi laki-laki yang di peluk Sehun menghadap tepat pada pintu hingga mereka dapat mengenali Kim Tae Woo disana.

Satu tangan Tae Woo yang menelusup masuk kedalam baju Sehun serta kedua belah bibir yang saling bertaut agresif saling mendominasi menjadikan suasana semakin panas. Mereka tidak perduli pada dua orang di depan pintu yang berdiri seperti orang bodoh menontoni mereka.

Kedua tangan Sehun yang menggantung di leher Tae Woo seolah menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat mengganggu kesenangan mereka. Bahkan suara kecupan lirih itu terdengar begitu nyaring ditelinga Jongin.

Chanyeol menahan pergelangan tangan Jongin saat pria tanpa kesadaran penuh itu ingin menerobos masuk ke dalam kamar. Jenis amarah yang meluap di diri Jongin terlihat jelas kini. Jongin akhirnya memilih berbalik meninggalkan tempat tersebut, mencoba mengabaikan Sehun yang masih nyaman berada di pelukan ketua osis mereka dengan bibir yang saling bertaut.

Kim Tae Woo memeluk mesra pinggang Sehun.

Sehun dan Kim Tae Woo berciuman seolah tidak ada hari esok.

Chanyeol menebak Jongin memiliki puluhan kata tersebut dikepalanya. Meskipun samar, namun kenyataan akhirnya membuat Chnayeol tau bagaiamana perasaan terdalam Jongin.

"Hyung"

Chanyeol ikut menghentikan langkahnya di anak tangga. Jongin tanpa berbalik kembali berkata,

"Sehun-ku bersama pria lain"

Seperti bom waktu

Perasaanmu meluap

Bersama amarah tak berguna

.

.

.

Yixing mengangkat satu alisnya saat Sehun bersama Tae Woo kembali ke meja bar. Senyuman tak mampu ia tahan. Sekilas ia melirik Tae woo yang ikut tersneyum aneh. Sehun hanya menghela nafas, tau dengan pasti apa yang ada di pikiran dua orang di depannya.

"Dia sangat agresif hyung. Aku suka"

"Aish!"

Sehun berusaha menggeplak kepala Tae Woo namun berhasil dihindari.

Yixing tertawa sambil terus menuangkan cairan-cairan berwarna-warni itu ke dalam gelas. "Kau tidak akan tau bagaimana raut wajah Jongin saat menuruni tangga tadi"

Sehun menuangkan birnya sendiri, meminumnya dengan sekali tegukan. "Aku tau" sahutnya, "Dia pasti jijik padaku"

Yixing mendengus, "Benarkah? Aku tebak kalian masih saling berbagi bibir saat Jongin keluar dari club. Bagaimana mungkin kau yakin dengan jawabanmu?"

Sehun berdecak, kesal karena Yixing kembali membahas apa yang baru saja ia lakukan bersama si ketua osis. "Dia normal, hyung. Melihat sesama laki-laki berciuman pasti membuatnya mual"

"Aku tidak mual sama sekali. Kau bahkan sangat manis, Sehun"

"Diamlah!"

Tae Woo kembali tertawa melihat raut kesal di wajah Sehun. Yixing menggeleng tak habis pikir. Sedangkan Sehun mengabaikan semua kelakuan mereka. Ia hanya mengkhawatirkan keputusan yang kembali ia ambil. Sudah bernarkah?

"Hyung"

"Hm"

"Aku ingin pulang"

Aku akan membencimu

Karena aku tidak bisa menyentuhmu lagi…

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf untuk typo yang bertebaran bagai daun maple di musim gugur -_-

Maaf untuk alur yang makin aneh.

Maaf untuk author yang main nyeleneh.

Maaf untuk semua kekurangan di ff ini.

Terima kasih untuk semua reader-nim setia See You In Autumn yang belum bisa kusebutin satu-satu.

SARANGHAE :*

Chapter depan udah end :" (tergantung mood author sih, hehe)

Sampai jumpa di chapter selanjutnya dua minggu lagi, byebye~~