Sasuke menghiraukan perkataan Sakura. Dia masih tetap fokus dengan sketsa gambarnya. Sakura menunggu sampai Sasuke tidak mengacuhkannya, emeraldnya menyipit ketika dia melihat sketsa gambar yang sedang di gambar oleh Sasuke.

Itu gambar dirinya. Sasuke sedang menggambar dirinya.

Emerald miliknya mulai berair dan air matanya tumpah begitu saja. Dadanya terasa sesak dan dia ingin memeluk pemuda itu dengan erat. Tetapi dia tahu, jika dia tidak mungkin bisa melakukannya.

"Sasuke-kun, aku hamil."

.

.

Revenge

.

.

.

Sasuke Uchiha, Sakura Haruno

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

(Jika tidak menyukai dengan cerita yang dibuat oleh Author atau adegan di dalamnya. Silahkan tekan tombol back. Author sudah memperingati sebelumnya. Jika tidak menyukai Lemon, bisa melompati bagian Omake)

DLDR! Dilarang keras untuk COPAS atau PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Selamat membaca!

oOo Revenge oOo

Sasuke menghentikan kegiatannya menggambar sketsa. Menolehkan kepalanya, onyxnya menatap Sakura yang menatapnya dengan air mata membasahi kedua pipi gembil itu. Menghiraukan Sakura, dia kembali melanjutkan kegiatannya.

"Dia bukan anakku. Bukankah kekasihmu, Gaara? Jadi, dia pasti bukan anakku."

Tangisan Sakura semakin terdengar kencang. Dia sudah menduga jika Sasuke pasti akan mengatakan hal itu. Tidak, dia harus mengatakan yang sesungguhnya kepada Sasuke sebelum pesawat yang akan membawanya ke New York berangkat. Tidak ada waktu lagi, dia harus menjelaskan semuanya kepada Sasuke.

"Ini anakmu, Sasuke-kun. Kekasihku tetap dirimu, Sasuke Uchiha. Bahkan saat kita melakukannya, aku masih suci. Ini bayimu, darah dagingmu." Sakura menghapus air matanya. "Kamu mau tahu, mengapa aku melakukan ini?"

Sasuke terdiam. Tetapi, telinganya tetap mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Sakura.

"Kamu masih ingat Haruno Karin?" tanya Sakura. "Tentu saja kamu tidak mengingatnya, karena begitu banyak gadis yang kamu tiduri saat itu. Dia adalah kakakku, dia bunuh diri setelah mengandung darah dagingmu dan kamu menolaknya mentah-mentah. Aku melakukan ini deminya, demi kakakku yang kini telah berkalang tanah."

Sasuke menghentikan gerakan menggambarnya. Haruno Karin. Satu nama yang begitu menohok hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan gadis satu itu, bagaimana dia bisa tidak menyadari persamaan marga antara Karin dan juga Sakura?

Tentu saja dia mengingat gadis berambut merah yang selalu mengenakan kacamata itu. Dulu, sewaktu dirinya masih berada di sekolah menengah atas dan dia begitu populer, ada banyak gadis yang selalu mengikutinya kemana-mana, salah satunya adalah Karin. Gadis itu tak henti-hentinya meneriaki namanya bersama fans-fansnya yang lain.

Gadis dengan kacamata itu begitu memujanya, hingga rela menyerahkan apa yang dia punya. Termasuk keperawanan gadis itu.

Selama ini, Sasuke tidak pernah serius dengan gadis manapun kecuali Sakura. Bahkan dengan Karin, dia hanya menikmati satu malam mereguk kenikmatan dengan gadis itu. Hingga akhirnya, gadis itu datang ke rumahnya dan meminta pertanggungjawabannya atas bayi yang di kandung gadis itu.

Dan dia juga masih ingat, bagaimana dia mengusir Karin seperti seorang sampah tak berguna.

.

.

.

"Aku hamil, Sasuke-kun."

Sasuke memandang datar gadis berambut merah yang sedang menangis di hadapannya. Gadis itu bahkan memegangi perutnya yang masih rata.

"Gugurkan."

Karin mengangkat kepalanya. Bahkan kacamatanya ikut basah terkena air matanya yang tak henti-hentinya mengalir keluar.

"A-apa?! Aku tidak mungkin melakukan itu, Sasuke-kun!"

"Kalau begitu kamu mau apa?" Sasuke menantang balik gadis itu. "Kamu pikir aku mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandungmu? Bisa saja dia bukan bayiku. Jika kamu mau melakukannya denganku, pasti kamu juga mau melakukannya dengan pria lain. Hn, wanita murahan sepertimu tidak pantas untukku."

Karin segera melayangkan tamparannya ke pipi Sasuke. Sedangkan pemuda berambut emo itu menatapnya dengan tatapan dingin.

"Hn. Kamu bisa pergi dari sini sebelum keluargaku kembali." Sasuke menyerahkan beberapa uang untuk Karin. "Wanita murahan sepertimu memang sama saja, selalu melakukan apapun untuk pria yang dipujanya. Aku yakin, kamu pasti memuja banyak lelaki di luar sana. Aku yakin jika bayi itu juga bukan bayiku."

Habis sudah kesabaran Karin. Dilemparnya uang yang diberikan Sasuke dan dia mendorong dada pemuda itu hingga terhuyung ke belakang. Dan Karin langsung meninggalkan kediaman Uchiha dengan air mata yang mengalir keluar seperti air terjun. Harga dirinya sebagai wanita hancur, dia begitu membenci Uchiha Sasuke yang selalu dipujanya itu.

Sasuke merasa diatas angin. Karena hari berikutnya, Karin dikabarkan bunuh diri dan semua aibnya terkubur bersama jasad gadis itu.

.

.

.

"Sudahkah kamu mengingatnya, Sasuke-kun?" tanya Sakura. "Aku membencimu. Sangat membencimu. Awalnya, aku tidak mencintaimu, aku bahkan ingin menghancurkanmu saat melihat wajahmu itu. Aku rela memutuskan hubunganku dengan Gaara-kun hanya untuk membalaskan dendamku, tetapi dua tahun bersamamu membuatku semakin mengenalmu. Aku yang tadinya membencimu, sedikit demi sedikit mulai mencintaimu. Balas dendamku kini menjadi karma untukku, karena aku akhirnya jatuh cinta padamu."

Sasuke terdiam. Dia masih shock dengan semua pengakuan yang diutarakan Sakura kepadanya. Jadi, gadis itu tetap disisinya karena selain gadis itu jatuh cinta padanya adalah karena Haruno Karin. Seharusnya dari awal dia menyadari persamaan marga antara Sakura dan Karin. Dia terlalu terobsesi pada gadis berambut pink itu, hingga dia tidak menyadari semuanya secara cepat.

"Aku mau menyerahkan keperawananku karena aku mencintaimu. Meski pada akhirnya kamu akan membuangku seperti gadis-gadismu yang lain, setidaknya aku sudah membalaskan dendam kakakku. Setidaknya ada yang aku miliki darimu. Ada bayi yang sedang aku kandung yang akan menjadi penyemangatku. Aku tahu kamu pasti akan membenciku, tetapi aku tidak bisa membencimu karena aku sudah terjebak dalam cinta yang kamu tanamkan."

Sasuke tidak bisa berkutik dengan semua pengakuan Sakura. Dia ingin membalikan badannya dan memeluk Sakura. Namun ada sesuatu yang menahannya. Ini semua karena kesalahannya, dia tidak bisa menyalahkan Sakura sepenuhnya karena ini. Biar bagaimanapun, dia adalah orang yang telah merenggut Karin dari sisi Sakura. Jika dia menjadi Sakura dan dia kehilangan Itachi, dia pasti juga akan melakukan hal yang sama.

"Aku akan pergi, Sasuke-kun." Sakura menahan nafas panjang. "Aku mencintaimu, Selemat tinggal."

Itachi yang saat itu memasuki gallery milik Sasuke, terkejut ketika melihat Sakura yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, melihat air mata yang membasahi wajah Sakura.

"Sasuke, apa yang Sakura lakukan disini?"

Itachi terheran-heran melihat Sasuke yang diam. Tanpa diberitahu pun, dia tahu apa yang telah terjadi antara Sasuke dan kedatangan Sakura ke Gallery milik adiknya itu.

"Jadi, Sakura sudah mengatakannya?" Itachi mendudukan dirinya di salah satu kursi. "Apa saja yang dia katakan?"

"Tentang kehamilannya dan juga kakaknya."

Itachi menarik nafas panjang. Jadi, Sakura belum mengatakan tentang orang tuanya? Sudah dia duga jika Sakura adalah gadis yang baik. Dia harus menceritakan bagaimana orang tuanya telah membunuh orang tua Sakura.

"Sebenarnya, tidak hanya karena Haruno Karin Sakura membalaskan dendamnya." Itachi menarik nafas panjang. "Ini juga karena orang tua kita."

Sasuke menolehkan kepalanya, menatap kakaknya dengan pandangan tidak mengerti.

"Apa maksudmu?"

Itachi menarik nafas panjang. Dia berfikir harus memulainya dari mana.

"Kamu tahu bukan, jika mengelola perusahaan kita harus bertindak kejam dan licik? Itu yang dilakukan orang tua kita, Sasuke-kun. Mereka mengambil secara paksa Haruno Corp dan menyebabkan orang tua Sakura bunuh diri karena depresi. Saat itu, aku dan Sasori berada di bangku SMA saat aku mengetahui apa yang menjadi penyebab kematian orang tua Sasori. Lalu, aku mulai memberikan pekerjaan pelayan cafe kepada Sasori. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pensiun dini sebagai CEO.

Aku tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang yang aku sayangi. Sahabatku terkena dampaknya, maka dari itu setelah menikah aku ingin hidup sederhana. Aku membantu Sakura dengan memberikan berkas Uchiha Corp yang aku kelola kepada Sasori. Sudah cukup dia kehilangan kedua orang tuanya, dia juga harus kehilangan Karin sebagai kakaknya. Kamu bisa membayangkan bagaimana perasaan Sakura, Sasuke?"

Sasuke meremas pensilnya dengan erat. Dadanya seketika terasa sesak. Selama ini, dia selalu merasa diatas angin karena dia adalah sosok yang sempurna. Dikaruniai wajah yang tampan, harta yang berlimpah dan wanita yang mengelilinginya membuatnya buta.

"Nii-chan, kemana Sakura sekarang?"

oOo Revenge oOo

"Sakura, kamu yakin akan melanjutkan sekolahmu di New York?" tanya Sasori memandang adiknya lekat-lekat.

Suara pesawat terdengar begitu akrab di telinga Sasori. Di hadapannya, Sakura tersenyum sembari merapatkan jaketnya. Koper berwarna pink yang berisi barang-barang milik adiknya itu.

"Iya nii-chan." Sakura tersenyum sembari mengelus perutnya yang masih rata.

Gaara sendiri memandang Sakura dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dia bisa memandang mata emerald Sakura yang biasanya bersinar kini redup dan sembab.

"Kamu tidak perlu pergi kesana, Sakura," ucap Gaara. "Kamu cukup berada disisiku saja."

Sakura tersenyum sumbang sembari menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa, Gaara-kun. Aku sudah mencintai seseorang." Sakura mencoba tersenyum.

Pesawat boeing xxx menuju New York akan segera lepas landas. Dimohon untuk beberapa penumpang segera bersiap masuk ke dalam pesawat.

"Itu pesawatku, nii-chan, Gaara-kun." Sakura bangkit dari duduknya dan memeluk Sasori dengan erat. "Aku pasti akan merindukan nii-chan."

"Jaga dirimu baik-baik dan jaga keponakanku," pesan Sasori. "Aku akan mengirimkan uang untuk kehidupanmu di New York."

"Terimakasih, nii-chan." Sakura melepaskan pelukannya dan ganti memeluk Gaara. "Maafkan aku, Gaara-kun."

"Aku mengerti, Sakura." Gaara membalas pelukan Sakura. "Aku bisa apa jika kamu tidak bisa berada disisiku."

"Gaara-kun, kamu pemuda yang baik." Sakura melepaskan pelukannya dan memandang Gaara. "Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Sebaiknya aku berangkat."

Sakura tersenyum dan membawa kopernya menjauh. Sejenak, dia membalikan badannya dan memandang Gaara juga kakaknya yang tersenyum kearahnya. Tatapannya kembali meredup.

Sasuke-kun.. andaikan kamu tahu jika aku begitu mencintaimu. Aku memang melakukan kesalahan karena telah dibutakan oleh dendam. Tetapi, aku telah masuk terlalu jauh ke dalam cinta yang telah kamu berikan. Sekarang, aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Sayonara, Sasuke-kun. Aku mencintaimu.

Ketika Sakura membalikan badannya, tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan memeluk perutnya dengan erat. Sakura menghentikan langkahnya ketika sebuah pelukan dia rasakan.

"Gaara-kun, sudah aku katakan jika aku akan pergi ke New York. Jangan halangi aku untuk pergi."

"Hn."

Sakura membeku ketika mendengar aksen yang begitu akrab di telinganya. Tidak mungkin. Tidak mungkin jika yang sekarang memeluknya adalah ayah dari bayi yang sedang di kandungnya.

"Sasuke-kun?"

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di perpotongan bahu Sakura.

"Hn, sepertinya aku tidak terlambat datang," bisik Sasuke. "Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kamu pergi dari sisiku."

Sakura membalikan badannya, menatap mata hitam sekelam malam yang kini menghipnotisnya.

"Sasuke-kun?"

"Maafkan aku, Sakura." Sasuke segera memeluk Sakura dengan erat. "Aku mohon, tetaplah disisiku, Sakura. Aku memang tidak bisa mengembalikan kakakmu, tetapi biarkan aku menjagamu hingga sisa umurku."

Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Sasuke dengan erat dan menumpahkan segala perasaan yang menyesakan dadanya.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

Sasori tersenyum dan menepuk bahu Gaara yang masih memandang drama percintaan antara Sasuke dan juga Sakura. Iris jadenya memandang Sasori sebelum menarik nafas panjang.

"Ayo kita pulang, Sasori-nii."

.

.

.

"Sekarang kamu tinggal disini, Sasuke-kun?" Sakura memandang rumah sederhana yang ada di hadapannya.

"Hn. Ayo kita masuk." Sasuke menarik tangan Sakura untuk masuk ke dalam rumah yang sekarang ditinggali olehnya dan keluarganya.

"Apa tidak apa-apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura ragu-ragu disertai pandangan bingung dari Sasuke. "Maksudku, apakah tidak apa-apa jika kita menemui keluargamu, Sasuke-kun?"

"Hn."

Mikoto yang sedang menyiapkan makan malam terkejut ketika melihat Sasuke muncul dengan seorang gadis berambut merah muda. Dia sama sekali tidak pernah menduga jika putra bungsunya akan datang bersama seorang wanita.

"Sasuke-kun, siapa dia?" tanya Mikoto antusias.

"Dia kekasihku, bu." Sasuke merangkul pinggang Sakura dengan erat.

Sakura tersenyum canggung.

"Selamat malam bibi." Sakura membungkukan badannya. "Perkenalkan, saya-"

"Haruno Sakura."

Sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara berat menginterupsinya. Disana, Fugaku berdiri dengan pandangan mengintimidasi.

"Bukankah dia Haruno Sakura? Gadis yang mengambil segala yang kita miliki?" tanya Fugaku menatap Sasuke dengan dingin. "Kenapa dia bisa ada disini, Sasuke?"

"Dia calon istriku, ayah." Sasuke semakin memeluk Sakura dengan posesif.

"Tapi dia telah mengambil semua yang kita miliki!"

"Jika itu hanya harta, seharusnya ayah malu." Sasuke ganti menatap tajam Fugaku. "Aku sudah mengetahui semuanya, tentang bagaimana ayah mengambil paksa Haruno corp dan membuat kedua orang Sakura depresi hingga memutuskn untuk bunuh diri."

Mikoto terpekik kaget.

"Benarkah itu, Fugaku-kun?! Kenapa kamu tidak memberitahunya padaku?!" tanya Mikoto penuh dengan keterkejutan.

Fugaku tidak bisa menjawab. Dia jatuh terduduk dengan wajah yang tertunduk.

"Kizashi. Haruno Kizashi adalah sahabat baikku semasa sekolah menengah atas. Aku terpaksa melakukan itu karena jika tidak Uchiha corp tidak akan bisa berkembang. Aku sebenarnya ingin memberikan Kizashi sepuluh persen saham Uchiha corp sebagai ganti perusahaannya yang telah aku ambil, namun aku terlambat melakukannya. Sahabatku telah tiada, dia adalah teman seperjuanganku dan aku membunuhnya.

Itu adalah dosa yang menghantuiku sampai sekarang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Aku tidak ingin dihantui oleh dosa itu."

Fugaku mengangkat kepalanya ketika sebuah tangan terulur di hadapannya. Dan yang dilihatnya adalah, wajah Sakura yang tersenyum lembut kearahnya.

"Aku sudah memaafkan kalian, paman." Sakura tersenyum dan membantu Fugaku berdiri. "Semua hanyalah masa lalu, paman."

Fugaku tidak bisa mengatakan apapun selain memeluk Sakura dengan erat. Gadis di hadapannya benar-benar berhati mulia.

Sasuke sendiri tidak bisa menahan senyumnya. Setidaknya, dia akan segera menikah dengan Sakura dan membangun keluarga kecilnya.

Mikoto segera memeluk Sakura dengan lembut.

"Selamat datang di keluarga ini, Sakura-chan."

.

.

.

.

.

.

-Omake-

"Ahh... Sasuke-kunhh.."

Sasuke tidak mau melepaskan Sakura barang sedetikpun. Mereka telah resmi menjadi suami istri sejak satu jam yang lalu dan mereka kini akan melakukan ritual suami istri. Akhirnya, keluarganya merestui hubungannya dan Sakura, gadis bermata emerald itu juga mengembalikan semua Uchiha corp kepada keluarga Uchiha. Namun, Fugaku menolak menerima perusahaan yang dikelola oleh Sasori. Bahkan, mertuanya itu ingin bekerja sama dengan kakaknya.

Sakura juga melakukan konferensi pers untuk meminta maaf. Pada akhirnya, kisah cintanya dan juga Sasuke menghebohkan masyarakat Jepang. Dan pernikahannya hari ini, mendapatkan sambutan dan respon yang positif, juga menyebabkan patah hatinya beberapa gadis yang mengidolakan suaminya.

"Ssshh.. Sasuke-kunnhh.."

Sasuke meraba perut rata Sakura dari balik gaun pengantin yang dikenakan istrinya itu. Merasakan bayi mereka yang kini sedang tumbuh di dalam rahim sang istri. Sedangkan mulutnya, menciumi leher jenjang istrinya tanpa henti.

"Hmm.. kau sungguh wangi, Sakura," bisik Sasuke sebelum membuka pintu kamar mereka.

Masih dengan posisi berada di belakang Sakura, tangannya beralih untuk meremas kedua payudara Sakura dengan lembut. Menangkup kedua payudara itu dan meremasnya dengan gemas.

"Mereka semakin bertambah besar saja, Sakura." Sasuke berbisik seduktif.

Mendengar bisikan Sasuke, membuat gairahnya kembali memuncak.

"Ouugghh.. Sasuke-kunnhh.."

Satu tangannya beralih untuk membuka resleting gaun Sakura hingga menampakan punggung indah milik istrinya. Mulutnya beralih untuk mencium punggung Sakura, menghisap serta menggigitnya hingga menimbulkan bercak kemerahan.

Sakura dengan tidak sabar membuka gaun pengantinya dan payudaranya langsung diremas begitu saja oleh Sasuke.

"Mereka bertambah besar dan membuatku ingin memakannya." Sasuke memasukan salah satu payudara Sakura ke dalam mulutnya dan menghisap, menggigit serta menyedotnya dengan kencang. Menyebabkan payudara itu menjadi kemerah-merahan dan putingnya yang semakin menegak.

"Sasuke-kunhh.. Sasuke-kunhhh.." Sakura meremas rambut Sasuke sebelum semakin membusungkan payudaranya dan meminta suaminya untuk menghisapnya dengan kencang.

Satu tangan Sasuke beralih menuju celana dalam milik Sakura dan mengelus vagina itu dengan lembut. Sakura semakin mendongakan kepalanya ketika kenikmatan yang diterimanya semakin bertambah.

"Sasuke-kunhh.. langsung saja.. lakukan pelan-pelan.." bisik Sakura ketika meraskan sebuah tangan masuk ke dalam vaginanya.

Sasuke tersenyum tipis dan merebahkan Sakura di ranjang mereka. Masih dengan melumat payudara Sakura, Sasuke mulai melepas pakaiannya dan yang terakhir adalah celananya dan menampakan kejantanannya yang telah ereksi penuh.

"Aku akan langsung ke intinya dan melakukannya pelan-pelan, aku tidak ingin menyakiti anak kita." Sasuke mencium bibir Sakura dan menghisapnya sembari menggesek-gesekan penisnya ke lubang kenikmatan milik istrinya itu.

"Ougghhh..." Sakura memejamkan matanya ketika merasakan penis Sasuke mulai menembus vaginanya.

Sasuke ikut memejamkan matanya ketika merasakan dinding vagina Sakura yang semakin rapat menjepit penisnya. Perlahan, Sasuke mulai memajukan penisnya maju mundur dan membuat penisnya menusuk-nusuk vagina sempit milik Sakura. Kedua tangannya meremas sprei dan mempersempit jarak diantara mereka.

"Sasuke-kunhh.. Sasuke-kunnhhh..." Sakura membusungkan dadanya ketika merasakan tusukan demi tusukan diberikan oleh Sasuke.

Sasuke sendiri mendongakan kepalanya ketika semakin lama dinding vagina Sakura semakin rapat menjempitnya.

"Pelanh.. pelaannhh.. bayi kitaahh.. oughhh..." Sakura tidak bisa berbicara normal karena terguncang-guncang akibat tusukan Sasuke yang begitu dahsyat.

"Aku.. aku tidak bisa.." Sasuke semakin mempercepat sodokannya.

Sakura bisa merasakan orgasmenya semakin dekat dan dia juga bisa merasakan penis Sasuke yang semakin membesar di dalam vaginanya. Sasuke sendiri semakin mempercepat sodokannya ketika kepala penisnya terasa gatal.

"Ohhh.. Sasuke-kunnhhh!"

"Nikmatnyaaa!"

Sasuke membenamkan penisnya semakin dalam ketika spermanya menyembur keluar. Sakura sendiri memejamkan matanya ketika merasakan orgasmenya datang disertai dengan semburan sperma di dalam rahimnya.

Sasuke mengeluarkan penisnya yang kembali normal dan merebahkan dirinya di sebelah Sakura. Dirinya mengambil selimutnya dan menutupi tubuh telanjang mereka berdua.

"Tidurlah, Sakura." Sasuke memejamkan matanya sembari memeluk Sakura.

"Tidak ada ronde selanjutnya, Sasuke-kun?" goda Sakura.

"Hn. Jangan mulai lagi, Sakura." Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak ingin menyakiti bayi kita, sebaiknya segera tidur dan aku akan menagih ronde selanjutnya besok pagi."

Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan tak berapa terdengar dengkuran halus Sasuke. Emeraldnya melirik wajah damai Sasuke yang tertidur sebelum menerawang jauh.

Nee-chan, bagaimana kabarmu di surga sana? Bisakah kamu melihatku disini? Maafkan aku karena aku tidak bisa membalaskan dendammu. Aku.. jatuh cinta pada pria brengsek yang telah membunuhmu. Aku tidak bisa membalaskan dendamku karena ku tahu, dendam akan menyebabkan kebencian yang terlahir terus menerus. Aku berharap, nee-chan bisa datang dalam mimpiku dan kita bisa berbincang bersama.

Sakura mulai merasakan matanya berat, dia hanya berharap kakaknya mau datang ke dalam mimpinya. Sebelum dia memejamkan matanya, dia bisa melihat Karin yang tersenyum kearahnya.

Berbahagialah, Sakura...

-Owari-

Balasan Review :

Azizzanr : sengaja biar bikin Sasuke cemburu, gitu maksudnya.. XD

Ciheelight : Hahaha.. gapapa kok.. senpai mau baca dan meninggalkan review aku udah seneng kok :) duhhh... makasihh juga buat semangatnya ya senpai.. :)

Chichak deth : Hahahaha.. ini udah di update kok.. iya, Bunda Mikoto emang cocok dapet peran yang sabar XD

Mantika Mochi : Hahahhaa.. sabar senpai.. sabar.. XD

furukawaMikan : Emang sengaja di bikin cepet kok..

Banan Cupcake : Iya.. sebenernya itu salah.. tapi males ngebenerinnya XD

Respitasari : Hahaha.. ini sudah di update..

Cherryma : iya.. emang ada kok senpai.. :3

Pinktomato : ini udah kilat kan? :3

Uchiharu83 : Hehehhe.. iya.. :D

Hyemi761 : semua pertanyaannya sudah di jawab di chap ini.. :)

Misa safitri : sudaahh...

Guest (1) : sebenarnya emang rada aneh sih.. :3 tapi di chap ini udah di jelasin semuanya kok.. :)

: mungkin.. :3

Tya Hatake : sudaaahhh...

Lightflower 22 : :3

Lia Uchiha : Gapapa kok.. :)

Mysaki : Iya.. sibuk sama tetek bengek urusan sekolah :3

Hanazono Yuri : Maaf senpai.. ini yang paling cepet TT

Lady bloodie : hohoho.. TBC emang musuh bebuyutan pembaca XD

Sasasarada-chan : emang sengaja dicepetin :3 celebek tuh apa? XD

Baekhyunsaranghaeni : epep? Ini sudah disatukan.. :3 di tali malah XD

Noname18 : Hmmm... bisa jdi XD

Dianarndraha : sudaahh..

Yoriko Yokochidan : alhamdulillah Sasori single.. bentar lagi bakal sama Author #plaak

Istri sahnya akashi : sini sini.. cium author XD

Shintaayumee : Ini udah yang paling kilat.. gomenne :)

Hiugatsu kanazawa : sudaaahhh...

Terimakasih banyak untuk para readers yang setia membaca atau mereview fict ini.. maaf juga kalau nggak bisa update cepet atau ada yang belum namanya ketulis diatas.. sebenernya mau bikin bonus chap.. tapi nggak janji juga ya.. lihat nanti deh, gimana sikonnya :3

Terus teruss.. nggak janji juga bakal bisa bikin fict baru.. senen udah ujian soalnya, dan hari pertama Matematika TT keramat banget itu TT

Kenapa malah curhat gak penting gini #plakk..

Ya pokoknya di tunggu aja deh, kalo nggak bonus chap ya fict baru... hehe..

Sampai ketemu di cerita yang lainnyyyaaaaa!

-Aomine Sakura-