Author : Yuta Uke

Chapter : 11 – He's Back

Genre : Romance, Angst, Hurt, Comfort

Disclaimer : All character belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : KakaSaku, SasuSaku, NaruSaku

Warning : Unbetaed fic, Semi-Canon. Tulisan miring tebal adalah ingatan tokoh. Mulai chapter 10, alur waktu di dalam cerita ini akan sedikit berputar dengan cepat.

douzo...


Sampai kapan kau akan hidup dalam kebohonganmu?

Apakah sampai ia kembali?

Sampai kapan aku akan hidup menemani kebohonganmu?

Apakah sampai ia kembali?


Hari telah berganti. Benda raksasa langit berbentuk tak sempurna kemarin malam telah kembali tergantikan oleh kawannya pagi ini. Seakan-akan mereka telah memiliki suatu perjanjian diatas kertas.

Langit pagi hari yang masih belum terwarnai oleh sinar keemasan mentari begitu kelam. Belum ada nyanyian selamat pagi dari burung-burung, belum ada suara-suara hiruk pikuk penduduk, semuanya masih sepi, sunyi, senyap.

Dibalik suasana kosong itu, terlihat sesosok pria dewasa tengah berjalan menuju tempat kesukaannya yang selalu didatanginya untuk sekedar menyapa, menceritakan kesehariannya, ataupun berdiam diri tenggelam di dalam lembaran masa lalu.

"Pagi, Obito."

Suara khas milik pria bersurai perak itu menjadi satu-satunya pemecah kesunyian di tempat sepi beralaskan rerumputan hijau. Pria Hatake itu terdiam, memandang lekat batu dingin dihadapannya.

Ia kemudian membungkuk sedikit untuk meletakan beberapa bunga di dekat makam rekan satu timnya dulu. Jemari panjangnya sesekali bergerak untuk menyingkirkan tumpukan salju diatas batu dingin berukirkan nama para pahlawan yang telah gugur.

Selang beberapa detik kemudian, ia bangkit dan kembali tenggelam dalam pemikirannya sembari mengalihkan pandangan, menatap ukiran nama 'Uchiha Obito' disana.

Pria itu masih bungkam, seluruh perhatiannya terpusat pada satu nama yang 1 tahun silam ini sukses membuat hatinya semakin terbelenggu dalam jeratan kepedihan.

"Obito, kau tahu? Ternyata perempuan itu—"

Akhirnya, salah satu ninja kebanggaan Konoha itu membuka mulutnya kembali dan terasa sekali bahwa ia memberi jeda yang cukup lama dalam kalimatnya.

"—begitu rapuh."

Angin pagi berhembus kencang menerpa surai-surai peraknya, memaksa tiap helainya turut melambai-lambai. Pria itu tersenyum tipis. Tipis sekali dibalik masker kesayangannya.

"Mantan muridku kembali hancur, aku tidak mengerti mengapa perempuan setegar ia dapat menjadi seperti ini."

Kakashi kembali melanjutkan percakapannya satu arah miliknya. Sejujurnya saat ini ia sendiri tak mengerti mengapa mulutnya mendadak menceritakan tentang murid merah mudanya yang beberapa bulan silam ini selalu menjadi bayang-bayang kepahitan yang dirasakannya saat ini.

"Perempuan itu membuat tamengnya sendiri. Sebuah tameng kokoh untuk melindungi diri dari kehadiran sosok yang dicintainya, sosok sekelam malam yang terus meremukkan hatinya hingga kini. Dan benar saja, Sakura benar-benar hancur. Hancur sampai kami semua harus ikut terseret dalam dunia fana ciptaannya."

Pria itu menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap kelam langit yang perlahan-lahan mulai terwarnai oleh kilauan cahaya emas surya pagi. Burung-burungpun mulai bernyanyi, mengalunkan sebuah lagu penyemangat pagi hari yang saat ini tak dapat meringankan beban miliknya.

"Jujur saja, aku merasa mungkin ini memang yang terbaik baginya. Namun—akupun merasa semua ini salah. Perkataan Naruto kemarin mungkin benar. Membiarkan Sakura hidup dalam kebohongan ini adalah sesuatu yang salah."

Bibirnya terbuka, kepulan asap putih yang sangat tipis terlihat disana. Kelopak matanya tertutup, melindungi bola kaca kelabu yang semakin meredup. Indra pendengarannya seolah-olah kembali mendengar percakapan milik Naruto dan Sakura beberapa bulan lalu.

"Sakura-chan, jangan bercanda! Sasuke! Orang yang kau cintai itu Sasuke!"

"Siapa Sasuke? Aku hanya—mencintai Kakashi-sensei."

"Sakura-chan, kumohon, ini bukan lelucon yang lucu!"

"aku tidak sedang melucu!"

"Buka matamu! Bukan Kakashi-sensei yang kau cintai!"

"Tunggu, Naruto! Su-suaramu terlalu besar!"

"Sakura-chan, orang yang kau cintai itu selalu menyakitimu! Orang itu bukan Kakashi-sensei!"

"Apa-apaan kau?! Mengapa kau menjelekkan Kakashi-sensei? Kakashi-sensei selalu menjagaku! Selalu ada disisiku! Selalu menemaniku! Ia tak pernah menyakitiku sama sekali!"

"Dengar, Sakura-chan, kau pasti tahu bahwa disudut hatimu ada suatu luka, luka yang tak akan pernah mengering! Sadari itu!"

".benar. Memang benar luka itu ada. Aku mencintai Kakashi-sensei begitu lama, cintaku ini begitu dalam. Dan ketika kusadari cintaku ini bertepuk sebelah tangan, luka ini terbentuk begitu saja. Perbedaan, jarak tak kasat mata, pandangan orang, begitu banyak halangan yang membuat cintaku ini sulit untuk bersambut!"

"Sudah cukup! Aku pergi!"

"Naruto, tunggu—"

Kakashi menundukkan kepalanya. Hatinya tertohok. Ia ingat betul bagaimana dirinya begitu shock saat mendengar fakta palsu yang dilontarkan Sakura saat itu. Semua dengan mulus terucap begitu saja oleh sang murid merah muda.

Jelas sudah alur dunia palsu milik Sakura!

Dunia dimana sosok Sasuke sebagai salah satu anggota tim 7 tergantikan dengan Sai,

Dunia dimana sosok Sasuke sebagai seseorang yang dicintainya tergantikan oleh—Kakashi.

"Sensei, kau sudah mendengar semuanya."

"Sakura…"

"Aku—aku mencintaimu, Kakashi-sensei."

Kelopak mata milik Kakashi semakin terpejam kuat. Pernyataan cinta palsu milik Sakura saat itu kembali terngiang dalam benaknya. Pipi putih yang bersemu merah, sorot mata gugup penuh cinta, air muka yang menunjukkan keresahan. Bahkan saat itu kristal bening indah milik sang perempuan hampir menetes.

Semuanya tertuju pada dirinya.

Tidak!

Semua tertuju pada seseorang yang keberadaannya entah dimana. Dan, segala yang ditujukan untuk seseorang itu harus diterimanya karena saat ini, ia adalah pengganti sosok itu.

Mungkin, saat ini ia berjalan dalam dunia palsu milik sang pencipta—Sakura. Namun bagi pria itu, segalanya nyata. Nyata terjadi dalam lembaran kisah hidupnya. Dunia palsu milik Sakura adalah dunia nyatanya, yang harus ia jalankan.

Dan…terjadilah sesuatu yang menjadi awal kesalahpahaman Sakura. Hatake Kakashi, mantan guru tim 7 itu, memeluk muridnya secara spontan. Kakashi sendiri masih tak mengerti mengapa saat itu tubuhnya bergerak sendiri tanpa mengindahkan perintah otaknya.

"Apa?! Kau dan Kakashi-sensei berpacaran?!"

"Sssst! Diamlah Ino genduuut! Suaramu terlalu kencang! Tidak kau tidak Narutolho? Ino? Mengapa wajahmu seperti mendapat berita kemalangan?"

"E? A-ah…tidak. Se-selamat ya, Sakura."

"Terima kasih. Kau tahu, aku ingin kau menjadi orang pertama yang tahu berita ini. Akhirnya penantianku terbalas, Ino. Sudah berapa tahun, ya? Haha. Aku masih ingat dulu sering bercerita padamu—eh? Ino?! Kenapa mendadak memelukku begini? Tung—I-Ino, kau menangis?"

"Sakura, dengar. Apapun yang terjadi, aku akan mendukungmu. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Aku akan selalu ada untukmu."

Kakashi membuka matanya. Terpaku pada rerumputan hijau dipijakannya seraya mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Aliran dunia baru ini begitu cepat. Kini, dunia ideal Sakura menjadi lebih indah ketika Kakashi menjadi kekasihnya.

Perlakuan diluar perkiraan Kakashi itulah yang menjadi awal lembaran kisah palsu nan nyatanya bersama Sakura. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan memeluk muridnya sendiri, yang mana pelukan itu diartikannya sebagai jawaban, dan…disinilah ia, terjebak dalam peran penting sebagai tumpuan hati sang ninja merah muda.

Semua telah terjadi, jounin yang pernah hampir menjabat sebagai Hokage itu hanya dapat menelan buah pahit hasil kebodohannya dan pasrah mengikuti alur dunia indah milik sang perempuan musim semi.

Sejak kebohongan yang bertitik awal dari kebodohan itu dimulai, kekasihnya memang selalu tersenyum, selalu tertawa bahagia, selalu menatapnya—yang sudah jelas bukan untuknya—dengan penuh cinta. Lebih kurangnya, pria itu sadar benar bahwa hati kekasihnya bukan untuknya.

Hati perempuan itu hanya untuk Sasuke.

Segala yang terjadi pada peremuan itu karena Sasuke.

"Haaah—"

Kakashi menghela nafas panjang. Sekali lagi dirinya kembali terjebak dalam labirin masa lalu yang selalu mempermainkan hatinya.

Namun, diawal kisah barunya, sebenarnya, ia telah berjanji pada dirinya sendiri.

Jika memang semua ini adalah yang terbaik untuk Sakura, maka ia akan tetap mengikuti kebohongan sang kekasih hingga psikologis perempuan itu kembali berada dalam keadaan stabil. Karena memang Ino, serta Tsunadepun turut memerintahkannya untuk tetap memerankan peran penting ini sebaik-baiknya.

Tapi, sampai kapankah?

"Kakashi-sensei."

Hatake tunggal itu terperanjat kaget mendengar seseorang dengan suara yang begitu familiar menyapa telinganya. Tampaknya ia benar-benar larut dalam pemikirannya sehingga tak menyadari cakra seseorang yang kini berdiri dibelakangnya.

"Ada apa, Sai?"

"Rokudaime-sama memanggil."

Kakashi menahan tawanya ketika Sai mengatakan 'Rokudaime-sama' untuk menyebut mantan murid oranyenya.

Sedangkan dalam hati, pria itu sedikit berpikir betapa tidak biasanya Naruto memanggilnya sepagi ini.

"Sai, Naruto sepertinya akan marah jika kau memanggilnya seperti itu." Tambahnya sembari berbalik—berjalan meninggalkan tempat kesayangannya—setelah mengucapkan 'sampai jumpa lagi' pada Obito.

"Siapa suruh ia menjadi Hokage?" Sai tersenyum simpul.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Rokudaime-sama, aku sudah memanggil Kakashi-sensei sesuai perintah—apa yang kau lakukan?"

Sai dan Kakashi yang telah berada di dalam kantor Hokage memasang wajah sulit diartikan dengan kata-kata saat mereka melihat Hokage oranye itu tengah tenggelam bersama tumpukan kertas-kertas yang sangat berantakan disana.

Mantan pendidik Hokage ke-6 itu menghela nafas panjang melihat tingkah pemuda dihadapannya itu sama sekali tidak berubah sejak dulu. Ceroboh.

"Ah! Kerja bagus, Sai. Eh tunggu! Jangan panggil aku seperti itu!"

Naruto muncul dari bawah tumpukan dokumen yang berserakan berantakan sembari membereskan kertas-kertas putih itu. Ia kemudian mengerucutkan bibirnya tanda kesal atas panggilan Sai tadi.

"Ada apa, Naruto?"

Kakashi dengan cepat memotong sebelum Sai sempat mengatakan sesuatu, membuat pemuda pucat itu harus rela kembali mengatupkan kedua bibirnya.

Kemudian, mata kelabu milik pria perak itu menangkap air muka dan sorot mata Naruto yang mendadak berubah menjadi sangat serius. Aura disekitar ruangan itu memberat. Lebih kurangnya, Kakashi sedikit dapat menebak apa yang akan dikatakan mantan muridnya.

"Aku mendapat kabar jika Sasuke berada di dekat sini."

Tepat!

Mata sayu milik pria perak itu membesar seketika. Sekalipun dirinya dapat menebak sedikit, tentu saja ia akan bereaksi saat mendengar berita yang entah masuk dalam kategori kabar baik—atau buruk itu.

"Benarkah itu, Naruto?" Tanya Kakashi berusaha setenang mungkin.

"Ya." Ekspresi Naruto mengeras. Sorot matanya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. "Sepertinya kemarin ia sempat kembali ke desa."

Pria perak itu membisu. Baginya, semua terlalu mendadak!

Kehancuran Sakura,

Kabar kembalinya Sasuke,

Semuanya sangat mendadak!

Kakashi merasa kepalanya sedikit pening. Ia menunduk karena tak tahu harus menanggapi apa lagi. Ketenangan yang tadi berusaha ia ciptakan runtuh seketika. Dalam hatinya saat ini, hanya terbesit satu nama saja. Nama seorang perempuan yang harus dilindungi.

Tidak bisakah segalanya datang disaat yang tepat?

"Lalu, kau meminta kami untuk mencari Sasuke-kun?" Tanya Sai langsung kepada intinya.

"Benar, Sai. Carilah Sasuke dan bawa ia kehadapanku. Lalu, jangan sampai Sakura—"

"Naruto."

DHEG!

"Sa-Sakura-chan?!"

Ketiga shinobi handal yang tengah berkumpul itu merasakan jantung mereka seperti copot saat mendengar suara milik perempuan yang akan menjadi topik selanjutnya. Perempuan manis itu kini telah berada diambang pintu dengan raut wajah kesalnya.

"Kau ini! Berkali-kali ku ketuk pintu tapi tak ada jawaban—ah, pagi Kakashi-sensei, Sai." Tambah Sakura.

"Y-yo." Balas Kakashi senatural mungkin—meskipun saat ini ia masih shock.

"Pagi." Sai tersenyum dengan begitu natural. Mungkin, ia sudah terbiasa dengan kejadian yang menyebabkan serangan jantung?

"Sa-Sakura-chan, ada apa?"

"Apanya yang ada apa?! Sampel obat kemarin kan belum semuanya kuantar! Ini sisanya." Jelas Sakura sembari berdecak kesal dan menaruh obat-obatan dalam kantung putih diatas meja Naruto.

"Eh? Ah. Baik."

Naruto merutuki dirinya sendiri yang saat ini menjadi salah tingkah. Jelas saja, ia benar-benar terkejut dengan kehadiran Sakura. Seharusnya, ia dapat merasakan cakra milik sahabat merah mudanya itu. Tapi tampaknya, pembicaraan berat mengenai Sasuke tadi menyita seluruh perhatiannya.

Ditatapnya meja kayu dihadapannya. Pemuda itu mengigit bibirnya, cemas kalau-kalau sahabatnya mendengar percakapan tadi. Dalam hati, ia hanya berharap Sakura tak mendengar apa-apa.

Di lain pihak, Sakura memerhatikan dengan lekat gerak gerik salah tingkah milik atasannya. Ia mengerutkan dahi. Perempuan cerdas itu mencium adanya ketidakberesan saat dirinya ikut bergabung tadi.

Semenit kemudian, perhatiannya teralih sepenuhnya pada kedua sosok perak dan pucat di dekatnya.

"Tumben sekali kalian berkumpul. Kau memberi Sai dan Kakashi-sensei misi baru?"

"Aah! Y-ya, begitulah. Ahaha." Jawab Naruto sembari mengalihkan pandangannya. Tentu saja! Ia tidak berani menatap Sakura saat ini.

"Hee—jadi, aku yang juga bagian dari tim Kakashi tidak diikutsertakan? Aku ditinggalkan? Begitu maksudmu?"

Naruto membatu. Tatapan menyelidik milik Sakura saat ini benar-benar membuatnya tak berkutik. Berkali-kali pemuda itu menelan ludahnya gugup. Peluh mulai menghiasi wajahnya.

Pemuda itu berpikir, berpikir keras untuk mengelabui perempuan cerdas yang masih menatapnya dengan intens. Sayangnya, otak yang tak pernah dibanggakannya sama sekali tak mendapatkan cara untuk mengelak, maka ia segera melirik Kakashi dan Sai secara bergantian—berusaha meminta bantuan kepada keduanya.

"E…i-itu…a—"

BRAK!

"Naruto!"

Keempat orang disana tersentak dan segera menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba saja dibuka paksa. Disana, berdirilah Shikamaru dengan nafas tersengal.

Naruto menghela nafas lega. Tentu saja ia merasa lega—dan tentunya terkejut pula—karena Shikamaru datang disaat yang sangat—atau mungkin tidak—tepat.

"Ada apa, Shikamaru?" Tanya Naruto setenang mungkin.

Pemuda Nara itu segera berjalan masuk seraya mengatur nafasnya yang terputus-putus. Dua langkah kemudian, ia terhenti. Raut wajahnya yang sudah menyeramkan semakin mengeras saat menangkap sosok merah muda yang tak lain adalah Sakura.

Pemuda itu berdecak kesal karena menyadari timingnya sangat tidak tepat. Tanpa berusaha memberi pencerahan pada empat rekannya disana, Shikamaru mengalihkan pandangannya kepada Naruto. Ditatapnya Naruto dengan begitu tajam, berharap Hokage itu mengerti maksudnya.

Dan beruntunglah Shikamaru karena kerja otak Naruto mendadak menjadi cepat. Seolah mengerti maksud tatapan menusuk milik tangan kanannya, sang atasan segera melirik Kakashi dan memberikan isyarat kepada pria mantan ANBU itu.

Kakashi yang sejak tadi bungkam sedikit menunjukkan reaksi saat dirinya merasakan sebuah cakra asing namun anehnya ia tampak seperti mengenalnya didekat ruangan khusus Hokage itu. Kemudian, mata kelabunya menangkap sinyal milik Naruto. Ia segera mengangguk kecil dan tanpa aba-aba mendorong punggung perempuannya untuk menjauh dari ruangan itu.

"Lho? Tung— Kakashi-sensei? Aku masih ada keperluan dengan Naruto."

Sakura terkejut—serta bingung—saat prianya mendorong dirinya mendekati pintu. Jelas sekali kini Kakashi tengah memaksanya untuk pergi.

"Ya. Ya. Nanti saja."

Tanpa mengindahkan protes Sakura, pria itu terus mendorong punggung rapuh sang ninja medis.

Diambang pintu, pria itu menoleh sedikit kebelakang. Ia bertatap-tatapan dengan ketiga pemuda hebat Konoha itu dan setelahnya, dirinya—bersama Sakura—menghilang dari pandangan ketiganya.

"Haah—"

Naruto dan Shikamaru menghela nafas lega. Pria dengan IQ 200 itu sungguh bersyukur timing tidak tepat miliknya dapat terselamatkan berkat Kakashi.

"Jadi, ada apa, Shikamaru?"

Ketegangan yang sempat memudar itu kembali pada semula. Raut wajah melembut milik Shikamaru tadi menjadi lebih serius dari setelah ia membuka pintu dengan keras.

Naruto mengepalkan tangannya. Saat ini ia tak mengerti mengapa ritme dentuman jantungnya sangat tak beraturan. Perasaan tak mengenakkan menyelimuti dirinya sehingga saat ini keringat dingin mengalir membasahi kedua telapak tangan miliknya yang saling bersentuhan.

"Masuklah…"

Shikamaru membuka mulutnya dengan kata-kata yang tak menjadi jawaban atas pertanyaan Naruto tadi.

Tanpa hitungan menit, nafas Naruto tercekat. Tubuhnya bergetar saat kedua manik berwarna biru cerahnya menangkap sosok pria yang tak asing lagi bagi dirinya—dan kedua rekan didekatnya—mulai memasuki ruangannya.

"Kau sudah jadi hokage rupanya."

Sosok itu terhenti tepat di depan meja kerja sang pemuda oranye tersebut. Tamu tak diundang itu kemudian membuka tudung dari jubah hitam yang dikenakannya.

"Sasuke…"

Darah pemuda Uzumaki itu berdesir cepat, kepalan ditangannya semakin menguat. Berkali-kali ia berusaha untuk meyakinkan dirinya jika sosok dihadapannya itu tak nyata.

Jelas saja, kedatangan pemuda sekelam malam yang telah dianggapnya sebagai keluarga itu benar-benar diluar perkiraannya.

Naruto memandang Sasuke dengan sorot mata yang sulit untuk dibaca. Pemuda itu menatap lekat sahabat kelamnya seolah-olah ia melihat ruh tak kasat mata. Dirinya begitu shock saat ini.

Rambut hitam legam itu sedikit lebih panjang,

Sorot mata penuh dendam itu semakin tegas,

Wajah tampannya tak berubah.

Sasuke…

Ia kembali!

"Untuk apa kau kembali? Tanya Shikamaru, memecahkan ketegangan yang telah ada sejak tadi.

Naruto terhenyak. Pertanyaan Shikamaru tadi seperti membangunkannya kembali setelah terombang-ambing dalam lamunan panjangnya. Hokage itu terdiam, menunggu penjelasan yang akan keluar dari mulut sang missing nin.

"Untuk dipenjara."

"Eh?"

Ketiganya segera mengerutkan dahi mereka. Keterkejutan mereka ternyata belum berakhir. Kini, mereka harus kembali berpikir keras atas jawaban tak jelas Sasuke tadi.

"Maksudmu?" Tanya Sai.

"Simpel saja. Aku adalah ninja pelarian Konoha, maka, kalian mengerti maksudnya, 'kan?"

"Tapi kau adalah pahlawan dunia shinobi!"

"Hmpf! Kau tidak berubah, Naruto." Sasuke tersenyum simpul. "Fakta bahwa aku adalah seorang ninja pelarian tidak akan pernah berubah. Aku membunuh Danzo, aku pengkhianat desa. Bukankah itu lebih dari cukup?"

Naruto menunduk. Kejadian tiba-tiba yang sangat diluar perkiraan ini membuat kepalanya pening. Rona merah pada bibirnya perlahan menghilang. Pemuda itu memucat.

Anggota terakhir klan Uchiha itu saat ini, menit ini, detik ini berada dihadapannya, meminta untuk di penjara!

"Itu sajakah alasanmu?" Tanya Sai lagi.

Putra tunggal Hokage ke-4 itu mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, matanya kembali menatap Sasuke yang tidak menjawab pertanyaan Sai tadi dengan lekat. Keduanya bertatap-tatapan dalam diam.

Sasuke serius.

Setelahnya, pemuda bersurai kuning itu menghela nafas panjang. Ia telah mendapatkan keputusan. Keputusan yang ia pilih setelah mendapat jawaban atas keseriusan pemuda Uchiha dihadapannya.

"Baiklah."

"Eh?"

Sai serta Shikamaru dengan cepat mengalihkan pandangannya kepada Naruto. Tentu keduanya cukup terkejut dengan keputusan yang diambil sang pemimpin Konoha. Bagaimanapun, Sasuke adalah sosok yang berarti bagi Naruto serta Sakura. Memenjarakan Sasuke tentu bukanlah hal yang mudah!

Melihat sekilas raut wajah Naruto, keduanya kembali bungkam. Mereka tahu, mereka paham!

Mudah atau tidak, Naruto yang telah menjadi Hokage harus bisa mengambil keputusan dengan bijak. Dan keputusan yang dipilihnya adalah hal yang tepat.

"2 tahun. Kau akan dipenjarakan di penjara khusus selama 2 tahun. Kau akan di awasi ketat oleh para ANBU pilihanku."

"Hmpf. Aku kembali hanya untuk menyerahkan diri. Bukan untuk memberontak." Tambah Sasuke singkat.

Kedua bola kaca biru dan hitam itu bertemu pandang. Saling bertatapan untuk yang kesekian kalinya selama beberapa detik sebelum akhirnya Naruto memejamkan matanya dan memerintah kedua pemuda di dekatnya.

"Shikamaru, bawa ia ke penjara khusus! Setelah itu mintalah Bacchan untuk memasang kekkai. Sai! Kumpulkan daftar anggota ANBU yang ku tulis disini! Perintahkan mereka untuk mengawasi Sasuke 24 jam tanpa terkecuali!"

"Baik!"

Shikamaru segera membawa Sasuke pergi dan Sai berbalik hendak menyusul langkah Shikamaru setelah mendapatkan daftar nama-nama rekan ANBUnya yang dipilih Naruto.

Pemuda oranye itu menatap punggung Sasuke yang masih sama seperti dulu dengan nanar.

Dingin dan kokoh.

Tak banyak yang berubah dari rekan yang pernah mengkhianatinya, rekan yang berkali-kali meninggalkan dirinya, rekan yang menjadi poros hidup sahabat merah mudanya.

Dekat namun terasa jauh.

Selangkah menuju pintu, Sasuke tiba-tiba saja terhenti. Pemilik Sharingan itu terdiam selama beberapa detik sembari memandangi lantai tempatnya berpijak.

"Selamat, Naruto."

DHEG

Hati Naruto mencelos. Kepalan tangan pemuda itu mengendur bersamaan dengan terngiang-ngiangnya kata 'selamat' milik Sasuke tadi.

Pemuda Uchiha itu kembali melangkahkan kakinya setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat Shikamaru serta Sai yang membatu.

Tangan kanan Hokage tersentak. Dengan cepat ia berlari kecil menyusul Sasuke yang telah meninggalkannya beberapa langkah. Sedangkan Sai, pemuda yang mahir melukis itu melirik Naruto singkat sebelum akhirnya ia ikut menyusul langkah Shikamaru yang sudah meninggalkannya.

Bahagia.

Perih.

Seluruh perasaan Naruto tercampur aduk menjadi satu. Perasaan itu dirasakannya secara bersamaan sehingga saat ini emosinya tak menentu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa dihari keduanya menjabat sebagai Hokage, Sasuke akan kembali ke desa dan menyerahkan diri.

Tanpa disadarinya, kedua sudut bibirnya tertarik. Ia tersenyum tipis. Pandangan matanya mengabur karena kristal hangat miliknya mulai menggenang disana dan sebentar lagi akan terjatuh.

"Kau telat, bodoh."

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Sakura, wajahmu pucat sekali."

Kakashi segera menghentikan langkah mereka setelah dirasa cukup jauh dari tempat Naruto berada. Dilihatnya wajah Sakura yang semakin lama semakin memucat.

"A-aku baik-baik saja, Sensei."

Bohong!

Itulah yang dilakukan Sakura saat ini. Perempuan itu berbohong tentang kondisinya. Jelas ia menyadari bahwa fisiknya saat ini sedang tak dalam kondisi bagus. Cakra miliknya tak mengalir dengan teratur, kepalanya pening, dan dingin mulai menyelimuti tubuh ringkihnya.

Haruno itu sadar jika kondisinya telah aneh setelah Kakashi mendorongnya paksa keluar dari ruangan Hokage. Tepatnya, saat itu ia melihat sosok mencurigakan namun familiar baginya. Sosok itu memakai jubah panjang dan wajahnya tak terlihat karena tudung jubah itu menyembunyikannya.

Saat dirinya—dan Kakashi tentunya—memandangi sosok itu, sang sosok misterius itu melirik sehingga bola kaca hijau teduhnya bertemu pandang secara singkat oleh bola kaca berwarna hitam lainnya disana.

Sakura mengepalkan tangannya. Sorot mata sekelam malam dan penuh luka itu tampak tak asing lagi bagi dirinya. Ia sungguh yakin mengenali sosok itu.

Sosok itu…

"Sakura?"

Perempuan itu terkejut dan kembali terseret dari alam lamunannya saat Kakashi menepuk bahunya pelan. Dengan nafas terengah, ia melihat Kakashi yang menatapnya dengan wajah khawatir.

"Ka-kalau begitu, sampai disini saja. Aku harus kembali ke rumah sakit. Shizune-senpai menunggu—"

"Sakura!"

BRUK!

Lengan kokoh milik pria perak itu dengan sigap menangkap sang murid yang tiba-tiba saja terjatuh. Kakashi mengerutkan dahi. Wajah Sakura semakin memucat, keringat dingin mulai terlihat menghiasi sosok merah muda itu, tubuhnya bergetar kecil. Tentunya, kondisi Sakura saat ini jauh dari kata normal.

"Ma-maaf, sensei."

"Sudah diam dan jangan bergerak dulu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

Tanpa persetujuan sang ninja merah muda, Kakashi segera menggendong perempuan itu dipunggungnya.

"Sensei?!"

Sakura sungguh malu saat mendapati gurunya tiba-tiba saja menggendongnya. Ingin sekali ia melontarkan banyak protes agar Kakashi segera menurunkannya, namun, keadaan tubuhnya yang semakin aneh ini tak mengijinkannya. Maka, perempuan itu menghela nafasnya dan hanya dapat pasrah.

Dilain pihak, pria perak yang telah melanjutkan langkahnya tengah terhanyut dalam pemikirannya sendiri. Ia mencoba mencerna kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan kondisi Sakura tidak dalam kondisi primanya.

Kemudian bola kelabu miliknya membesar.

Ia ingat!

Mungkinkah cakra dan sosok asing yang dilihatnya dengan Sakura tadi…

"Maaf, Sensei. Aku selalu merepotkanmu."

"Sudah. Kau bersandar saja. Wajahmu menyeramkan melebihi Sai—aduh!" Jawab Kakashi—yang kembali dari alam lamunannya—berusaha mencairkan suasana hati sang perempuan yang ia tahu sedang diselimuti perasaan bersalah.

Mendengar jawaban asal Kakashi tadi, Sakura segera memukul bahu gurunya itu karena kesal disamakan oleh Sai. Merasa pening di kepalanya kian lama kian menyakitkan, perempuan itu membenamkan wajahnya pada punggung hangat Kakashi. Menghirup aroma khas pria yang dapat sedikit menenangkannya sebelum akhirnya kesadarannya menghilang sepenuhnya.

Apakah sosok itu…Sasuke?

Siapa sosok itu?

To be Continued


A/N : YEAY! Chapter 11! AKHIRNYA SASUKE MUNCUL JUGAA! IHIIIY~! XDD

Nah, readers. Maaf ya kalau kemunculan Sasuke ini cuma sebentar :(
Habisnya memang belum saatnya Sasuke berperan sih :plaak:

Lalu, akhirnya pertemuan SasuSakunya jadi jelek begini, ya? :'D
Err…ini baru permulaan kok. Nanti juga akan ada pertemuan lagi. :Sakura kan lupa sama Sasuke: :'))

Btw, disini sayah sedikit sedih lho pas buat adegan Sasuke ngasih selamat—yang telat—ke Naruto. Rasanya gimanaaaaa gitu :"D :author curcol:

OH IYA! Sayah lagi dalam proses pembuatan sequel Always Beside You, lho~ :DD
Semoga happy end ya sequelnya :plaak:
Buat yang belum baca, ayo mampir-mampir baca ya~ sekalian ninggalin 'jejak' (baca: review) juga lebih baik :P

Ya sudah, segitu dulu basa basinya. Terima kasih buat yang sudah follow, favorite, sama review fic ini. Saya masih menunggu review kalian ya! Biar makin semangat! :DD Sampai jumpa di chap 12!

Mari balas review-review yang sudah masuk :3

Miss Hyuuga Hatake-san, Chapter 10

J : Yosh! Aku akan update lebih cepat lhoo~ :DD
Haha iya. Dia ngelupain Sasuke karena dirinya sendiri. :')

Gimana, terjawab kah di chap ini siapa yang merhatiin Sakura? :P

Ou! Ditunggu juga review selanjutnya~ dan…ficmu juga ku tunggu hehe

Hanazono Yuri-san, Chapter 10

J : Un! Btw, Sasuke muncul lho, Hanazono-san~~ tapi besok-besok ilang lagi. :Kan dipenjara ceritanya: Haha

Kurniawannamikaze1, Chapter 10

J : Syip! Ini udah kilat belum? :3

Dopping-san, Chapter 1

J : Waah~ kamu baik sekali. :pelukcium: . Makasih reviewnya~ Aku akan makin semangat update deh. :P
Semoga kamu bersedia buat review lagi. Haha. Di review boleh komentar soal cerita, soal author(?), soal kekurangan kok. Apa saja. :))

Kimura Megumi-san, Chapter 10

J : Eh? Iyakah? Waah~ Syukurlah nyesek(?)
Okai! Ku usahakan kilat deh :D

VeeQueenAir-san, Chapter 10

J : Nah, gimana tebakannya? Bener ga? :P

Siap! Ini udah cepet kan? :3

Noer Nino-san, Chapter 10

J : Wow jugaa :DD

Iya siap! Reviewmu buat aku semangat lanjut nih. Haha.

Yo! Salam kenal juga! :))