Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi
Story by shirayuki-su
Rate T (maybe)
Warning : Au, OOC, tipo dll
"Pendragon"
Chapter 10
Mata shapire itu mulai terbuka pelan. Sesekali berkedip untuk dapat menyesuaikan diri dari cahaya yang ada. Sebuah erangan pelan dikeluarkan pemuda pembunuh naga tersebut, dengan mengerakkan tangan kanan kearah samping untuk mengapai sebuah jam kecil berbentuk kotak memanjang diatas meja. Sebelah mata Naruto memandang tepat pada jam yang ia pegang, pandangan yang masih kabur itu membuat nya harus mengerjab beberapa kali lebih lama.
Tepat saat penglihatannya mulai jernih, ia menatap jam digital dengan angka 10 dan 34 disana. Helaan nafas pelan dikeluarkan Naruto sembari memposisikan dirinya untuk duduk. Sekarang dapat terlihat dengan jelas tubuh bagian atas pemuda itu tidak mengenakan pakaian apapun, memperlihatkan luka-luka lama yang membalut tubuh kekar nya.
Naruto mulai beranjak dari kasur tersebut. Ia meletakkan jam yang masih ditanggannya ketempat semula. Kedua tangan itu mulai ia rengangkan pelan, saat merasa tubuh nya tidak kaku lagi Naruto memposisikan dirinya push up dengan sebelah tangan secara bergantian. Meski sudah melakukan hampir sepuluh menit tapi keringat masih belum terlihat keluar dari kulit nya.
Dengan nafas yang teratur ia mulai mengangkat kedua kakinya keatas dan mulai melakukan handstand push up. Merasa cukup Naruto melompat dengan satu tangan yang ia gunakan tadi dan memposisikan kedua kaki menyentuh lantai, suara benturan pelan terdengar mengema saat kaki tanpa alas itu menghentak lantai.
"Kurasa cukup untuk pemanasan, sekarang tinggal mandi cari makan dan melakukan kegiatan yang sudah tersusun" gumam Naruto yang berjalan kearah kamar mandi.
Selang beberapa menit Naruto sudah duduk disofa ruang tamu dengan pakaian bagian atas kaos biru langit dan celana kain dengan warna gelap. Ia mulai mengambil sepotong roti tawar yang sudah ia lumuri dengan selai dan memakannya pelan. Sebuah buku catatan kecil ditangan kiri terus ia baca.
"Jadi masih sama semua nya masih berkutat pada kedua naga tersebut" Naruto kembali mengigit roti ditangannya dengan cepat sampai habis membuatnya kembali mengunyah untuk beberapa detik "Kalau seperti ini terus hal terakhir yang bisa kulakukan pergi kecelah dimensi mencari Ophis dan Great red dan bertanya langsung, tapi itu tidak mudah untuk dilakukan terlebih lagi seluas apa celah dimensi dan untuk masuk kesana juga tidak semudah membalikkan tangan, apalagi jika kedua naga itu tidak mau mendengarkan dan langsung main serang"
Naruto berhenti sembari tangan kanan pemuda itu bergerak untuk mengambil kopi panas diatas meja dan mulai meminum pelan, rasa pahit dari minuman panas tersebut membuat nyaman.
"Kalau masalah Ophis mungkin masih bisa diajak bicara, karena menurut informasi naga itu lebih suka mengambil bentuk manusia tapi yang jadi masalah adalah Great red. Naga merah besar itu lebih seperti beruang yang dalam masa hibernasi, kalau kau menganggu nya maka kemarahan yang akan didapatkan"
" Ah dari pada memusingkan itu sekarang. Aku masih harus mencari informasi mengenai beberapa malaikat jatuh yang berkeliaran kemarin malam, Azazel juga tidak memberikan informasi perihal masalah yang ada" dengan helaan nafas pelan Naruto berdiri "Kurasa jalan-jalan sebentar disekitar sini bisa menjernihkan pikiran"
Tangan kanan pembunuh naga itu mengambil jaket yang tergantung didinding, dan memakai nya dengan cepat. Suara klik terdengar pelan, saat Naruto mengunci pintu apartementnya, dengan langkah cepat ia mengarah pada lift yang tidak jauh dari nya.
Udara luar menerpa pelan kulit Naruto, pemuda itu sedikit mendongak untuk melihat matahari yang bersinar dengan cerah. Meski sudah memasuki musim semi dari dua minggu yang lalu tapi hawa dingin masih sedikit terasa diudara, membuat orang-orang yang sedari tadi dilewati Naruto saat berjalan mengenakan pakaian yang sedikit tertutup walau ada beberapa yang tidak. Pandangan shapire itu perlahan tertuju pada tempat penjualan minuman atau lebih tepatnya seorang remaja berambut coklat disana, dengan sedikit memfokuskan pandangannya Naruto dapat memastikan pemuda itu adalah Hyodou Issei. Pemuda yang pernah membantunya memberitahu dimana lokasi Academy Kuoh, yang mungkin sekarang statusnya sudah berubah.
Ingin melanjutkan langkah, tapi pandangan itu menangkap sesuatu yang ganjil. Mata pria berambut kuning itu harus kembali memandang seorang yang berada disamping Hyodou Issei, pakaian yang sudah mencerminkan dari mana ia berasal membuat Naruto berpikir pelan. 'Seorang biarawati, ini aneh. Apa ini ada hubungannya dengan aktivitas dari malaikat jatuh yang berkeliaran disekitar sini, melihat pertemuanku dengan malaikat jatuh yang makin sering tiap tengah malam dapat disimpulkan ada hal yang akan terjadi' otak Naruto mulai mengaitkan setiap informasi yang didapatkanya, walaupun ini tidak ada hubungan dengan dirinya. Tetapi ia juga akan bertindak jika ada masalah yang dapat membangkitkan perang antar mahkluk supernatural, Naruto tidak ingin lagi melihat, mendengar dan merasakan jeritan tangis keputusasaan dari manusia yang mendapatkan dampak terbesar dari perang tersebut.
Pandangan mata shapire berkelebat mencari dimana keberadaan remaja pemegang Ddraig tersebut, tanpa sadar langkah kaki Naruto sudah berlari. 'Sial. Karena melamun aku kehilangan jejak mereka, aku harus memastikan tentang biarawati itu. Aura yang dipancarkannya juga menandakan ia pemilik Sacred Gear'
"Aura ini malaikat jatuh" gumam Naruto sembari mempercepat langkah kaki-nya.
Naruto berhenti tepat dihadapan sebuah kolam besar dengan tiang yang terbuat dari beton melingkari keatas, dapat ia lihat juga pantulan tiang-tiang tersebut dari air jernih dalam kolam. Dari seberang kolam terlihat Hyodou Issei dan biarawati yang duduk dibangku yang berjejer melingkar dengan jarak dua sampai tiga meter setiap bangku.
Mata Naruto menyipit saat merasakan aura dari Sacred Gear yang terpancar dari biarawati tersebut. Ia mulai mendekati Hyodou Issei dengan berjalan pelan mengitari kolam. 'Aneh, sejauh mata memandang hampir tidak ada orang lain yang berada disekitar daerah ini. Dan juga aura malaikat jatuh yang kurasakan tadi seperti menghilang' merasa ada yang tidak beres, Naruto memutuskan untuk mengecek area ini. Mata yang semula beriris bulat perlahan menjadi garis dengan warna hitam didalamnya, mata yang seperti reprtil dalam legenda itu memandang jauh. Berusaha mencari sesuatu yang tidak biasa 'Pantas dari tadi tidak ada orang disini, ternyata ada kekkai dan terlihat kalau Hyodou Issei dan biarawati itu tanpa sadar digiring ketempat ini'
"Hyodou-san" pemilik Ddraig itu memandang sekitar saat menyadari nama keluarganya dipanggil. Pandangan Issei dengan cepat menangkap seorang pria yang mengenakan jaket biru dengan warna putih dilengannya. Ingatan iblis renkarnasi itu mulai berputar seraya melihat wajah pria berambut kuning cerah itu yang ia yakini pernah ia lihat. Lamunan Issei berhenti saat menyadari pria tersebut sudah ada dihadapanya.
"Anda Hyodou Issei kan?" Issei menganggukkan kepalanya pelan, masih dengan tatapan bingung. "Apa kau melupakanku? Aku Naruto yang pernah anda bantu waktu musim dingin tahun lalu, saat mencari dimana lokasi Academy Kuoh"
"Ah" kata itu tanpa sadar terucap saat Issei menyadari telah melupakan orang yang pernah ia tolong dulu. "Naruto-san, apa yang ada lakukan disini? Dan bagaimana lamaran pekerjaan anda di Academy Kuoh waktu itu?"
Naruto tersenyum melihat pemuda yang ia tahu dulu masih ada, meski telah dirubah menjadi iblis tapi terlihat dimata Naruto tidak ada perubahan berarti dalam diri remaja bernama Hyodou Issei. "Aku hanya berjalan-jalan untuk menjernihkan pikiran yang sedang jenuh" mata pria itu melirik pelan kebelakang punggung Issei untuk mendapati biarawati itu disana, "Dan masalah lamaran pekerjaan itu aku diterima, ya walau gaji yang kudapat langsung habis jika kugunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hariku tapi aku cukup senang mendapatkan pekerjaan"
Issei membalas senyuman tersebut sembari bertanya "Menjernihkan pikiran?"
"Ya karena banyak masalah yang terus berdatangan membuatku sedikit stress, jadi kuputuskan untuk melihat sekitar" kata Naruto masih dengan ekspresi yang sama "Apa aku menganggu?"
Raut wajah bingung dengan cepat dibuat Issei, saat Naruto bertanya demikian. Otak kecil-nya berpikir cepat, apa maksud dari pertanyaan tersebut. Menyadari tidak ada yang aneh ia menjawab langsung "Naruto-san tidak mengganggu sama sekali, aku malah merasa senang bisa bertemu lagi"
Naruto tertawa pelan saat pandangannya bertemu dengan mata hijau milik biarawati itu, dapat terlihat jelas kalau gadis itu merasa sedikit terganggu dengan keberadaannya.
"Apa ada yang lucu Naruto-san"
"Tidak tidak, hanya saja seperti nya pacarmu menganggap aku pengganggu acara kencan kalian. Bukan begitu pacar Hyodou-san?" tanya Naruto
Asia membuka mulutnya untuk berkata tapi tidak ada kalimat yang keluar, ia lebih memilih untuk bersembunyi dipunggung Issei. Sekali dua kali Asia melirik kepada pria bernama Naruto tersebut.
"Gadis manis aku tidak mengigit, tenang saja aku tidak akan melukaimu" ucap Naruto dengan senyuman cerah yang ia keluarkan.
"Naruto-san, itu tidak sopan untuk mengoda Asia seperti itu" ujar Issei dengan nada protectif
"Maaf.. maaf aku tidak bermaksud seperti itu" tangan pria berambut kuning itu terulur kedepan "Namaku Naruto siapa namamu gadis manis?"
"A-asia Ar-gento"
Nada pelan itu dengan cepat ditanggkap Naruto, meski terdengar terbata-bata tapi itu sudah cukup bagi telinganya. Naruto menarik kembali tangan kanan yang masih terulur, menyadari gadis biarawati itu masih terlalu takut untuk mengenal orang asing sepertinya.
Mata Issei menyadari sesuatu saat melihat telapak tangan Naruto. Sebuah luka melintang sepanjang lima sentimeter ada disana bersama darah yang mulai mengering. "Naruto-san" panggil Issei berusaha menarik perhatian lawan bicara nya, dengan menelan ludah ia berkata "Apa yang terjadi dengan telapak tangan anda?"
Naruto mengangkat tangan tersebut dan memperlihatkan lebih jelas luka disana. "Ah. Ini karena aku tidak hati-hati dengan pisau dapur, jadi tanganku tergores seperti ini" bohong Naruto, ia tidak bisa bilang bahwa luka tersebut dia buat sendiri sebelum kemari. Atau bisa dikatakan sebagai umpan untuk memberitahukan kemampuan Sacred Gear biarawati yang ia lihat beberapa menit lalu, kalau asumsi nya benar maka type Sacred Gear gadis itu adalah penyembuh.
Sebelum tangan Naruto ia tarik kembali, sebuah tangan lembut menyentuh nya. Tangan milik Asia Argento meneliti lebih pada luka ditangan pembunuh naga tersebut. Tidak sampai dua detik, terlihat pendar hijau menyelimuti tangan Naruto. Pendar hijau yang berasal dari biarawati itu mulai memperlihatkan kemampuanya.
'Jadi ini kemampuan Sacred Gear-nya, mirip dengan kemampuan Iris tapi juga berbeda' batin Naruto menyaksikan luka ditangannya menutup dengan begitu cepat. Dua menit berlalu dan luka ditangan kanan itu sudah tidak berbekas lagi.
"Jadi bisa jelaskan apa yang barusan terjadi dengan luka ditanganku" tanya Naruto dengan santai
"N-naruto-san tidak terkejut atau bagaimana dengan kemampuan dari Asia"
"Gimana bilang nya yah. Kurasa aku sudah biasa dan tahu mengenai dunia supernatural yang ada, lebih jauh lagi mungkin aku tidak tahu. Tapi mengenai iblis yang melakukan kontrak dengan manusia atau makhluk lain aku mengetahui nya, walaupun hanya sedikit" jelas nya "Mungkin ini pertama kali aku mengetahui kemampuan seperti milik Argento-san, jadi bisa beri aku penjelasan"
Asia memandang tepat pada mata shapire yang bertolak belakang dengan warna mata-nya itu dengan gugup. "Ano Naruto-san kekuatan ini berasal dari Sacred Gear bernama Twilight Healing yang dapat menyembuhkan luka yang dengan cepat" mata Asia terpejam saat mengakhiri penjelasannya, ia memang menyadari orang asing dihadapannya ini tidak ada niatan buruk.
Naruto melangkah pelan sembari mengulurkan tangan kanannya menyentuh puncak kepala biarawati itu. "Terima kasih, Argento-san"
"S-sa-ma-sama" Asia mengucapkan kata itu dengan begitu pelan bagaikan sebuah bisikan, tapi bagi Naruto itu sudah cukup.
Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu bersama dibangku taman tersebut. Obrolan-obrolan yang tidak terlalu penting tapi dapat membuat suasana terasa hangat tercipta dengan cepat. Sesekali Issei mengutarakan sesuatu hal mesum yang hanya ditanggapi lalu oleh Naruto, membuat pemilik naga surgawi itu sedikit depresi. Memancing gelak tawa dari Naruto dan Asia yang membuat Issei makin depresi. Naruto sedikit tahu masa lalu Asia, saat gadis berusia 16 tahun itu bercerita.
Suasana nyaman itu berlansung hampir setengah jam lebih dan berakhir saat Naruto mulai berdiri. "Maaf ya. Issei-san dan Asia-chan aku ada urusan lagi setelah ini jadi. Aku pamit dulu dan terima kasih untuk pengobatannya" kata nya dengan sopan.
Langkah Naruto makin lama makin cepat. Merasa sudah hilang dalam jarak pandang Issei dan Asia, ia mulai berlari cepat. Memutar tujuan kearah belakang taman tersebut untuk mengawasi, benar seperti apa yang diprediksi Naruto. Tidak lama setelah ia pergi, mata nya menangkap malakat jatuh yang terbang cepat kearah kolam.
Pandangan mata Naruto menerawang dari balik pohon, sekitar lima belas meter dibelakang posisi Issei dan Asia. 'Ternyata benar malaikat jatuh' shapire itu tidak lepas dari sosok yang baru muncul ditengah-tengah taman, dengan pakaian hitam dengan banyak bagian terbuka juga sepasang sayap hitam. Penampilan yang membuat sebagian besar kaum adam jatuh dalam nafsu. Naruto ingin melompat maju saat menyadari malaikat itu membuat tombak cahaya dan berhasil menembuskan senjata tersebut ditubuh Issei.
Ia mendecik pelan, menyadari posisi nya saat ini tidak menguntungkan untuk keluar. Dengan helaan pelan pembunuh naga itu menenangkan diri, menatap lagi kejadian yang ia observasi dihadapanya. Senyum kecut ia buat menyaksikan gadis bernama Asia itu dibawa pergi, Naruto menutup mata mendengar teriakan memilukan Issei akan kelemahan dirinya. "Azazel, kurasa banyak yang harus kau jelaskan padaku" gumam Naruto, mengambil ponsel disaku celananya dan mulai menekan.
Sepasang sayap dengan cepat tercipta dipunggung Naruto, sayap dengan warna biru langit itu mengepak kuat membawa pemiliknya melesat keatas. Dengan sebuah ponsel ia letakkan ditelinga menunggu panggilan masuk, Naruto menambah kecepatan terbangnya. Tujuannya tidak lain adalah tempat biasa Gubernur malaikat jatuh itu menghabiskan waktu. Tidak begitu lama nada panggilan tersambung terdengar.
"Azazel Jelaskan padaku" nada suara yang begitu berat dan menekan itu membuat makhluk yang berada disebrang panggilan merinding.
Pendragon
Ditekan aura kekuatan yang begitu besar membuah Azazel mau tidak mau menjelaskan masalah internal yang harusnya rahasia pada Naruto. Mata gubernur Da-tenshi itu curi kesempatan untuk melirik pembunuh naga dihadapanya, ia sekarang dalam posisi seiza karena perintah dari Naruto. Azazel ingin sekali membantah, tapi melihat sayap naga yang mengembang dan sebuah pedang perak besar disana membuat niat nya ciut. Mereka berdua saat ini berada diatap sebuah gedung pencakar langit, dimana sebelumnya Naruto harus membawa atau lebih tepatnya menyeret Azazel dari tempat favoritnya memancing.
"Jadi seperti itu masalahnya" kata Naruto pelan, ia memutar pedang Raveltnya menancapkan kebawah membuat retakan diatap gedung tersebut. "Ini terlihat seperti ada pemberontak yang mencoba meruntuhkan kekuasaanmu Azazel. Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Kau harusnya tahu sendiri bagaimana kondisiku saat ini, jika aku mengambil tindakan tanpa melihat jauh kedepan bisa-bisa perseteruan antara Da-tenshi dan Akuma akan memanas dan juga melihat dari yang kau katakan pemegang Ddraig tidak akan tinggal diam"
Naruto menghela nafas pelan melepaskan aura yang tadi ia keluarkan. Sayap dan pedang tersebut juga ikut menghilang. "Tapi Azazel, apa tidak masalah jika dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan?" kata Naruto sembari mengulurkan tangan kedepan Azazel
Azazel mengapai tangan dihadapanya, menariknya dan membuat dirinya berdiri tegap sekarang. Pandangan mata Da-tenshi itu lurus kearah depan. "Aku sudah merencenakan beberapa skenario yang bisa dilakukan. Pertama membiarkan pemegang Ddraig untuk menyelamatkan biarawati itu dan membiarkan para iblis dari keluarga Gremory yang mengatasi anak buahku yang membangkang, meski dengan kemungkinan berhasilnya tidak lebih dari 55 persen tapi aku yakin Gremory bisa melakukannya. Ditambah dengan pemegang naga surgawi disana" Azazel mengambil jeda untuk melihat reaksi Naruto, yang hanya ditanggapi dengan gestur melanjutkan penjelasan.
"Yang kedua hampir sama dengan skenario pertama tapi dengan memasukan pihak luar untuk membantu dari dalam bayangan dan juga memastikan tidak adanya pihak yang mengalami kerugian besar dan yang terakhir aku mengutus bawahanku yang lain untuk mengatasi pembangkangan, tapi melihat resiko yang bisa didapatkan yaitu ketidakpercayaan kepada pemimpin membuat opsi ini aku tinggalkan. Jadi menurutmu apa yang harus dilakukan wahai pembunuh naga"
"Aku tidak bisa mendiamkan masalah ini begitu saja, apalagi aku mengenal pemegang Ddraig dan biarawati tersebut. Meski beresiko aku akan memback up pergerakan mereka, ini tidak seperti aku memihak Da-tenshi ingat itu Azazel. Aku hanya tidak suka kalau masalah ini akan berdampak pada perang dingin yang sudah begitu lama dan hampir mendekati perdamaian pecah begitu saja" kata Naruto dengan serius. Ia sebenarnya merasa sedikit marah mengingat gadis yang masih berusia remaja itu harus terseret masuk dalam konflik yang berkepanjangan ini. Apalagi entah bagaimana Asia Argento mengingatkan nya pada seseorang dimasa lalu, itu mungkin yang membuat Naruto harus bersusah pasah menyeret Azazel untuk mendapatkan informasi. Naruto memang tidak menyukai hal-hal yang merepotkan tapi kalau ada orang atau makhluk supernatural yang ia anggap baik, ia akan dengan senang hati menolong meski harus melakukan hal merepotkan.
"Iya iya aku tahu. Kau memang tidak ingin memihak fraksi manapun dan tidak inginnya kau mengenai kata perang" kata Azazel dengan tenang, ia dapat memahami apa yang dimaksudkan manusia berjulug Pendragon ini "Jadi kau sendiri yang akan membantu mereka dari dalam bayangan, dan kurasa aku ingin sedikit meminta permohonan padamu"
"Asal tidak merepotkan" kata Naruto acuh
"Kalau bisa jangan bunuh mereka, aku mengatakan ini bukan berarti aku memaafkan pembangkangan mereka hanya saja usahakan untuk tidak melakukan hal yang berlebih" kata Azazel dengan nada lemah
"Aku tahu maksudmu, jadi jangan terlalu dipikirkan seperti itu. Kau adalah pemimpin dari mereka Azazel harusnya terlihat lebih, ya lebih seperti pemimpin tidak seperti pria tua yang hobi memancing" Naruto berjalan sembari menepuk pelan bahu Azazel "Kusarankan untuk pensiun dari jabatanmu jika seperti ini terus. Itu saja aku pergi"
"Itu saran yang bagus untuk diikuti" ucap Azazel memandang pergi Naruto "Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, memancing lagi? Kurasa aku harus ke Gregori untuk melihat perkembangan masalah ini"
Pendragon
Rambat kuning itu bergerak mengikuti udara yang berhembus pelan, udara yang juga membawa hawa dingin dari malam tanpa bintang. Pemuda pemilik surai kuning cerah itu menatap tepat pada Gereja tua dihadapanya "Meski bagunan itu tua tapi masih terlihat kokoh juga dari sini" gumam nya sembari bersandar pada pohon "Aku harus bertanya kenapa kau ada disini?" tanya Naruto
"Hehehe aku ketahuan ternyata" suara feminim terdengar dari balik semak tidak jauh dari Naruto.
Naruto menghela nafas pelan, melihat Kyuubi berjalan pelan kearahnya dengan senyuman tidak bersalah. "Bisa jelaskan kenapa kau ada disini?"
"Itu karena Naruto yang tidak memberi kabar tentang masalah disini, dan juga aku sedikit marah padamu karena merahasiakan ini"
"Oke oke aku yang salah tapi bukan berarti kau harus ikut menyelesaikan masalah ini kan, ini juga tidak ada hubungannya denganmu Kyuu" kata Naruto
"Aku ada hubunganya dengan ini" ujar Kyuubi, saat ia menyadari raut wajah bingung pada lawan bicaranya ia dengan cepat menambahkan "Maksudku ada iblis renkarnasi dari seorang youkai nekomata yang sedikit menarik perhatianku"
"Heh jarang sekali kau tertarik pada makhluk lain seperti ini, apa ada yang speci-" ucapan Naruto berhenti saat menyadari kedatangan malaikat jatuh tepat sepuluh meter dihadapanya.
"Ahhhh membosankan dan apa yang kudapanti disini, dua orang manusia yang sedang pacaran. Cih membuat mood ku makin tidak enak saja" malaikat jatuh dengan tubuh gadis kecil itu berucap cepat, bersamaan dengan dirinya yang menampakkan diri dari bayang-bayang pohon.
Kyuubi yang mendengar ucapan gadis Da-tenshi itu mulai tertawa dengan renyah, tidak memperdulikan tatapan bingung dari malaikat jatuh itu dan Naruto.
"Kenapa kau tertawa manusia" Da-tenshi itu berucap dengan nada mengancam tapi menurut Kyuubi nada itu tidak cocok dengan wajah gadis tersebut membuatnya makin tertawa.
"Tidak tidak hanya saja kalimat yang kau ucapkan seperti kau cemburu denganku. Apa gadis kecil sepertimu tidak memiliki kekasih" Tangan Kyuubi dengan cepat mengaet lengan kiri Naruto dan menatap malaikat jatuh itu dengan seringai.
"Wanita jalang seperti mu mencoba pamer dihadapan seorang Da-tenshi sepertiku. Sadarilah tempatmu manusia" Da-tenshi dengan baju gotik mulai habis kesabaran, ditandai merentangnya sepasang sayap hitam disana.
Naruto menghela nafas pelan, berusaha untuk tidak terpengaruh perdebatan dua makhluk bergender wanita tersebut. Mata shapire itu akhirnya menatap lurus kedepan "Gadis kecil apa yang kau lakukan malam-malam begini, kau kabur dari rumah ya? Dan apa-apaan cosplay yang kau kenakan, kalau ingin melakukan penyakit chuunibyou mu itu jangan tengah malam begini. Jadi dimana orang tuamu?" ucap Naruto dengan nada menasehati, membuat malaikat jatuh dihadapanya melebarkan mata.
"K-k-kau.."
Kyuubi memandang Da-tenshi itu dengan geli "Itu tidak baik melakukan itu pada anak kecil yang masih dibawah umur. Apa kita harus telfon polisi sekarang Naruto?" Kyuubi menimpali dengan intonasi seorang ibu yang merasa khawatir
"Baik kita telfon polisi sekarang" Naruto mengambil ponsel dan segera menekan secara acak, suara panggilan yang tidak tersambung terdengar pelan "Maaf ya, kurasa polisi lagi sibu-" ucapan Naruto tidak selesai karena sebuah tombak cahaya yang melesat cepat kearah nya. Ia hanya memiringkan tubuhnya membiarkan tombak cahaya itu lewat.
"B-brengsek kalian manusia rendahan, berani-berani nya menghinaku. Aku ini bukan anak kecil, aku adalah malaikat jatuh yang telah membangkang dari surga dan namaku adalah Mittelt" ucap geram Mittelt menaikan intensitas kekuatan sucinya
"Oh jadi itu setting yang kau mainkan, kau berpura-pura menjadi malaikat jatuh begitu. Aku tahu perasaanmu itu tapi jangan bermain ditengah malam begini. Mau aku antar pulang Mittelt-chan"
"K-kalian akan mati disini" deklarasi Mittelt sembari melesat maju dengan sebuh tombak cahaya ditanganya. Tepat tiga meter ia tanpa sadar menghentikan langkahnya, merasakan hawa dingin tak terjelaskan yang menguar diarea tersebut. Mata itu sedikit melebar menyaksikan tanah yang ia pijaki membeku dan terus menjalar.
Raut wajah yang tadi menandakan kemarahan dengan cepat berganti menjadi bingung, saat merasakan tubuh bagian bawahnya sudah terlilit oleh rantai yang ia yakini terbuat dari es. Mittelt tidak menyangka pergerakannya dapat dihentikan dengan begitu mudah hanya dari dua rantai yang ada dikakinya.
Lima tombak cahaya melesat dari balik gelapnya malam. Membuat Naruto dan Kyuubi harus menghindari serangan tersebut. Konsentrasi dari pembunuh naga yang sedikit buyar itu, menyebabkan rantai yang melilit Mittelt kehilangan pondasi utama. Yang berdampak pada lepasnya malaikat jatuh tersebut.
"Kurasa kita bertemu lagi kuning" suara bergender pria itu menampakkan dirinya bersama seorang wanita berambut biru panjang.
"Kau mengenalnya Naruto" tanya Kyuubi
Naruto mendesah panjang melihat lagi Da-tenshi yang hampir membuat nya telah dihari pertama kerja ada disana. Ia melirik Kyuubi untuk menjawab "Gagak itu hampir membuatku terlambat kerja"
"Oh pekerjaan yang aku carikan itu ya" Naruto mengangguk
Tangan pembunuh naga itu berkelebat dengan cepat, saat menyadari Dohnaseek melepaskan dua tombak cahaya. Dinding es dengan bentuk seperti kelompak bunga tercipta, melindungi Naruto dan Kyuubi dari tombak tersebut.
Tangan Naruto menujuk pada Da-tenshi bergender pria itu "Itu tidak sopan menganggu orang yang sedang bicara"
"Manusia rendahan seperti kalian tidak pantas mendapatkan perlakuan sopan dari kami malaikat jatuh. Kalian seharusnya bersikap patuh selayaknya anjing piaraan" Kalawarner berkata dengan senyum merendahkan
"Untuk seorang wanita mulutmu pedas juga ya" Naruto menegakkan tubuhnya, perlahan aura dingin menguar pelan membuat daun-daun membeku dengan cepat. "Kurasa sudah cukup main-main nya"
Kyuubi mengarahkan tangan kananya kedepan, percikan api keluar dari ketiadaan yang membentuk sebuah pedang. Detik berikutnya Kyuubi telah mengengam sebuah pedang katana panjang yang masih terselimuti api. Ia mengayunkan kearah bawah menciptakan sebuah jejak tebasan ditanah, dan membawa senjata itu berada disampingnya.
"Hei hei. Apa kau ingin membakar area ini dengan Enraiha-mu itu" kata Naruto memperhatikan pedang katana yang terselimuti api ditangan Kyuubi "Kuperingatkan jangan mengunakan api-mu itu, bisa-bisa terjadi kebakaran"
"Ya kalau terjadi ya biarlah terjadi"
"Hah terserah kau saja. Dan juga satu lagi jangan bunuh mereka, buat pingsan saja" Kyuubi mengangguk bersamaan dengan gadis youkai itu melesat maju dengan pedang yang sudah ia balik, dimana bagian tajam benda itu ada diatas. "Kukatakan lagi jangan berlebihan" sembari Naruto berkata demikian, ia menghindari serangan dari dua malaikat jatuh yang masih melayang diudara.
"Jadi kalian lawanku, tidak buruk juga" gumam Naruto.
Rantai-rantai yang terbuat dari es melesat kearah Dohnaseek dan Kalawarner berusaha memerangkap dua malaikat jatuh itu. Dengan hanya perintah batin, rantai yang berasal dari bawah kaki pembunuh Naga itu bergerak dengan cepat-nya. Meliuk-liuk diudara mengikuti arah terbang dari salah satu makhluk tiga fraksi besar.
Dua malaikat jatuh itu melesat secara bersamaan keatas, sembari menghindari terjangan dari serangan lawan. Dohnaseek mengumpat, merasakan ujung runcing dari rantai tersebut mengenai bagian kakinya. Membuat ia merintih pelan, memandang manusia dibawahnya dengan marah. Ia dengan cepat merentangkan kedua tangannya kesamping menciptakan dua tombak cahaya disetiap tangan. "Rasakan ini manusia rendahan"
Naruto menatap malas serangan Da-tenshi tersebut, ia mulai berpikir apa ras dari malaikat buangan ini hanya punya serangan yang selalu sama. Memang, Naruto tahu kemampuan utama dari mereka adalah unsur cahaya tapi apa harus selalu seperti ini, Apa tidak ada kemajuan setelah Great War berakhir. Jalan pikiran Naruto berhenti saat menyadari tombak itu sudah hampir mencapainya tapi sebelum serangan itu mengenai-nya, rantai-rantai dibawah kaki pembunuh naga itu sudah dengan sigap melilit tombak cahaya dan menghancurkan sekali jalan.
Disisi lain Kyuubi dengan cepat menebaskan katana-nya kearah Mittelt, yang dihidari malaikat jatuh itu dengan melompat kebelakang. Sebuah senyuman terlukis diwajah cantik yokai rubah itu "Ayo Mittelt-chan main dengan Onee-san"
"Sadarilah tempatmu manusia rendahan" Mittelt mulai melesat dengan cepat dengan sebuah pedang cahaya digengamannya
Trank
Trank
Benturan-benturan terjadi antara kedua-nya, menciptakan sebuah parade kembang api dalam gelap malam. Dari yang terlihat sudah jelas jarak kekuatan antar kedua-nya, jarak yang bagaikan jurang yang dalam itu tidak mungkin dapat digapai. Namun dengan kesombongan diawal membuat Mittelt tidak ingin mengakui wanita yang menjadi lawan-nya ini lebih kuat dari dirinya.
Nafas Mittelt mulai memburu cepat, menandankan stamina yang ia punya telah terkuras dengan sangat cepat. Kedua lengan dan juga tubuhnya mengalami nyeri, karena sabetan pedang lawan. Ia mungkin beruntung karena lawan nya saat ini hanya mengunakan sisi tumbul dari senjata-nya, jika saja sebaliknya entah sudah jadi apa ia sekarang.
"Ada apa? Kau sudah kelelahan hanya dari permainan ini" Kyuubi berucap pelan dengan mengulum senyuman
"Kau... hanya.. makhluk rendahan tidak.. mungkin mengalahkan.. aku" meski dengan nafas yang terpotong-potong Mittelt masih menyombongkan dirinya.
"Kurasa permainannya sudah harus diakhiri Mittelt"
Mittelt merasakan sebuah perasaan buruk saat melihat mata ruby lawanya mulai bersinar, ia dengan sisa tenaga mulai merentangkan sayap hitam dipunggung-nya mencoba untuk kabur. Mata Da-tenshi itu berkelebat mencari lawan yang tiba-tiba menghilang, pikiran gadis berbaju gotik itu berhenti dengan seketika, Merasakan rasa sakit yang sangat dari bagian perut. sebuah bisikan terdengar jelas ditelingga Mittelt "Aku tidak akan membiarkanmu kabur" bersamaan dengan kejutan udara dipunggung malaikat jatuh tersebut. Seketika Mittelt kehilangan kesadarannya menerima serangan dari Kyuubi.
Wanita youkai itu sendiri memperbaiki postur tubuhnya untuk berdiri, ia menyerang Mittelt dengan teknik pedang dari aliran sakura ittouryuu yang menjadi aliran yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh keluarga-nya. Serangan yang barusan ia lakukan adalah teknik tusukan dengan kecepatan tinggi yang sejati-nya dapat membunuh lawan dengan seketika, tapi Kyuubi dengan sengaja mengunakan gagang pedangnya sebagai ujung tusukan. Samidare adalah nama teknik tersebut yang memiliki arti hujan awal musim panas, teknik awal dari aliran pedang sakura ittouryuu. Kyuubi menghela nafas pelan mengayunkan katana kesamping, pandangan wanita itu sedikit menerawang jauh mengingat lagi saat ia masih berlatih dengan tou-sama nya dulu.
Lamunan singkat Kyuubi berakhir saat menyadari sebuah ledakan ditempat dimana Naruto berada. Memandang sebuah asap hitam yang membumbung tinggi diudara. "Dasar apa yang dilakukan, Naruto baka itu. Ia sendiri yang bilang untuk tidak berlebihan" ucap Kyuubi sambil mengelengkan kepalanya.
Saat ini Naruto berada didalam sebuah balok es padat, ia mengerutu berulang kali menyadari serang-serangan Da-tenshi itu mengakibatkan ledakan yang pasti menarik perhatian dari iblis Gremory. "Tidak ada main-main lagi" dengan ucapan itu balok es yang menyelimutinya mulai retak dan hancur.
Naruto sendiri dengan cepat mengfokuskan pandangan pada dua malaikat jatuh yang masih melayang diudara. Pembunuh naga itu dapat memastikan, energi sihir mereka berdua sudah cukup terkuras. Apalagi dengan sebuah serangan gabungan yang dapat membuat tombak cahaya dengan lebar semeter, yang pasti nya menyerap energi lebih banyak. Mereka bukan seperti Azazel yang memiliki kekuatan untuk menciptakan serangan sejenis dengan jumlah ratusan bahkan ribuan, mereka hanya kelas malaikat jatuh bawahan yang memiliki kekuatan sedikit.
Pembunuh naga itu menendang tanah dengan kuat, membuat nya melesat begitu cepat kearah Kalawarner. Tangan kanan yang terbuka lebar memancarkan aura dingin, dengan kecepatan yang terlampau cepat ia sudah berada tepat dibelakang Da-tenshi wanita tersebut.
Sebuah sentuhan kasar Kalawarner rasakan tepat dikepalanya, sentuhan dari manusia yang sedari tadi mereka lawan. Ia dengan cepat ingin bereaksi, tapi rasa dingin dari tangan kasar itu menjalar masuk keotaknya membuat sistem kerja tubuh menjadi begitu terhambat. Sekarang ia hanya bisa pasrah, tubuhnya sudah benar-benar tidak bisa bergerak, kesadaranya pun mulai menghilang dengan perlahan. Sampai akhirnya pandangan mata Kalawarner mengelap.
Tubuh kalawarner jatuh bebas kepermukaan tanah dengan suara Bruk singkat. Dohnaseek yang melihat itu ingin melesat turun untuk melihat salah satu teman-nya, tapi niat itu harus ia urungkan, saat merasakan sebuah pukulan kuat ia rasakan tepat diperutnya. Pukulan itu membuat nya meluncur turun dengan begitu cepat.
Benturan yang harusnya terjadi antara tubuh Dohnaseek dan tanah tidak terhenti, karena Naruto sudah berada dibawah dengan kedua tangan yang sudah merentang. Aura dingin ditangan itu menguar kuat, selang beberapa detik tubuh Dohnaseek bertemu tangan Naruto. Dan dengan begitu cepat es membekukan malaikat jatuh tersebut.
"Naruto apa kau sudah selesai" suara yang sangat Naruto kenali terdengar dari sampingnya, ia memutar kepalanya untuk dapat melihat Kyuubi yang tengah mengendong Da-tenshi bernama Mittelt.
"Ya. Tolong letakan gadis itu disini"
Selang semenit ketiga tubuh tak sadarkan diri itu sudah terkumpul menjadi satu. Naruto menghentakan tangan kanannya kebawah menciptakan sebuah lingkaran sihir, dimana ketiga Da-tenshi itu berada didalamnya.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka, Naruto?" tanya Kyuubi
"Akan aku teleport kan mereka ke Gregory, tenang saja aku sudah menandai tempat teleport nya dan juga ini permintaan dari Azazel" Kyuubi mengangguk, Naruto memang sudah menceritakan tentang Gubernur malaikat jatuh itu.
"Jadi setelah ini bagaimana?" Kyuubi berkata saat proses teleport sudah selesai dilakukan oleh Naruto.
"Kita akan membantu pemegang Ddraig dan menyelamatkan biarawati itu, aku juga ingin tahu seperti apa nekomata yang membuatmu tertarik"
"Kau akan melihat nya sebentar lagi" dengan ucapan itu Kyuubi mengikuti Naruto yang sudah melesat cepat kearah Gereja. Selang semenit sebuah lingkaran sihir berwarna merah tercipta, lingkaran yang membawa dua gadis berpakaian Akademy Kuoh.
Pendragon
Raut wajah Naruto mengeras dengan cepat menyaksikan Asia yang terbaring lemas dibangku kayu gereja. Kedua tangan terkepal dan mata yang sudah berganti menandakan pembunuh naga itu marah, ia bisa saja masuk dalam pertarungan Issei dan membunuh Da-tenshi yang melakukan semua hal ini. Tapi ia sadar itu tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Ia mengumpat pelan, sembari melesat masuk melewati kaca jendela yang sudah pecah diikuti oleh Kyuubi.
Tanpa disadari Issei dan Reynalle, tubuh Asia sudah dibawa oleh Naruto dan diletakkan dalam bayangan-bayangan. "Kyuu apa kau bisa memastikan gadis ini bertahan sampai aku mengambil Sacred Gear-nya" kata Naruto dengan nada khawatir
"Aku tidak janji tapi akan aku usahakan" kedua tangan Kyuubi mulai menyentuh dada gadis berambut kuning panjang itu, menyalurkan senjutsu untuk membuat energi kehidupan dari gadis itu bisa bertahan "Melihat kondisinya separah ini paling lama tiga menit ia bertahan"
"Itu sudah lebih dari cukup" ia mengusap lembut wajah pucat Asia "Aku pastikan kau akan selamat" kata Naruto melesat pergi kedalam pertarungan.
Disisi lain Issei dengan kedua kaki sudah terluka memaksa dirinya untuk tetap berdiri, dan menatap Reynalle dengan benci. "Aku akan membunuhmu" Teriak Issei, sinar terang berwarna hijau mulai bersinar dari Gauntlet ditangan kiri tersebut.
[Explosion!]
Suara mekanik yang menandakan pengandaan kekuatan telah sampai maksimal terdengar nyaring. Aura naga dari Issei menguar dengan kuat, membuat Da-tenshi tersebut melebarkan mata merasakan kekuatan yang melebihi dirinya.
"Matilah kau, Da-tenshi!" dengan ucapan itu Issei mengahantamkan tinju penuh kekuatannya kewajah malaikat jatuh tersebut, membuat nya melesat cepat bagaikan peluru dan menhantam dinding geraja hingga runtuh.
Naruto yang melihat hal tersebut sedikit menampilkan senyum melihat tekad kuat dari pemegang Ddraig. 'Kau hebat Issei-san' ia tidak ingin melewatkan kesempatan dengan cepat melesat kearah Da-tenshi yang telah terbaring lemah.
Mata Naruto memandang tubuh tidak berdaya dari malaikat yang telah jatuh itu dengan datar, "Maaf saja. Bukan berarti aku tidak yang salah jika melakukan ini, kau sendiri yang telah membuat masalah. Aku tidak berhak memberimu hukuman, karena itu biar Azazel yang akan melakukannya" kata Naruto sembari membuat lingkaran sihir tepat diatas dada Da-tenshi itu.
Tangan kanan Naruto melesat masuk kedalam lingkaran yang ia buat dan menembus tubuh malaikat jatuh dibawahnya. Detik berlalu, tangan Naruto ia angkat bersamaan dengan sebuah sinar hijau yang terlihat menembus dari sela-sela kepalan tangan tersebut. Naruto menatap tangannya menyadari telah mendapatkan apa yang ia butuhkan, pembunuh naga itu dengan cepat pergi dari tempat tersebut, tidak ingin membuang waktu yang berharga.
Kedua tangan Kyuubi kembali berkedut dengan kuat merasakan energi kehidupan gadis itu akan hilang jika ia tidak menambah aliran senjutsu-nya. "Naruto cepatlah, gadis ini tidak akan bertahan lebih lama lagi" kata Kyuubi dengan masih mempertahankan kekuatan senjutsunya
Sekelebat bayangan terlihat oleh mata ruby Kyuubi, bayangan yang menampilkan sosok berambut kuning cerah disana. "Kau terlambat" ucap gadis youkai itu dengan kuat, sebelah tangan nya mengulur kearah Naruto "Berikan!"
Mengerti apa yang dimaksud oleh Kyuubi, Naruto memberikan dua cincin manifestasi dari Sacred Gear Twilight Heal. Mata shapire pembunuh naga itu tidak lepas dari proses pemasukan kembali Sacred Gear kedalam tubuh Asia. Saat kedua cincin itu sudah mulai memasuki dada biarawati itu, pendar hijau mulai menyelimuti seluruh tubuh gadis tersebut.
Kyuubi menghela nafas panjang, proses pemasukan sudah berhasil dan kondisi gadis itu sudah stabil. Ia mengelap keringat didahi nya dengan punggung tangan, sembari menyandarkan punggungnya didinding. Rasa lelah Kyuubi rasakan saat ini, karena ia terlalu banyak menyalurkan energi senjutsu.
"Kerja bagus" Kyuubi tersenyum mendengar Naruto berkata demikian, apalagi tangan pria itu mengelus dengan lembut puncak kepalanya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya" tanya Kyuubi
Naruto yang mendengar pertanyaan itu mengulum senyum, membuat youkai rubah itu bingung.
Suara gaduk terdengar dalam gereja, saat iblis keluarga Gremory menyadari gadis bernama Asia Argento tidak ada ditempatnya. Para iblis itu dengan segala cara mulai meneliti setiap bangunan gedung gereja tua itu, untuk setidaknya mendapatkan petunjuk dimana tubuh gadis tersebut.
Hyodou Issei memanggil keras nama Asia dengan linangan air mata yang keluar. Ia tidak percaya ini terjadi, saat mendapat berita dari Buchou-nya bahwa Asia dapat dihidupkan kembali ia begitu senang tapi hal sebaliknya yang Issei dapat. Tubuh yang ia letakkan dibangku gereja telah hilang tanpa jejak, itu membuat nya mengalama tekanan.
Pandangan Issei menatap dengan raut wajah yang marah, melihat lagi Da-tenshi penipu yang tadi dibawa oleh Koneko. Rasa marah kembali tersulut mengingat lagi apa yang dilakukan Reynalle pada Asia. Pemegang naga surgawi sudah akan menghajar Reynalle, saat suara langkah kaki terdengar mengalun, mengema dalam gereja.
Pemilik langkah kaki yang begitu pelan itu akhirnya menampakkan diri dari balik kegelapan bayangan. Mata semua iblis disana melebar terkejut dengan cepat, melihat seorang wanita dengan rambut kuning kemerah-merahan dan mata ruby disana. Wanita yang juga pernah menolong mereka saat menghadapi iblis liar. Bukan wanita itu yang membuat mereka terkejut, tapi apa yang dibawa kedua tangan nya. Sebuah tubuh gadis dengan rambut kuning panjang, dan juga kulit putih.
"ASIA!" teriak Issei yang pertama kali sadar akan terkejutnya, ia dengan cepat melangkah kearah Asia meski dengan tertatih-tatih. Sebelum Issei mengapai Asia, wanita itu membuat gestur berhenti dengan tangan yang masih mengendong biarawati tersebut.
"Berhenti disitu bocah naga" kata Kyuubi memperhatikan lagi semua iblis disana, ia membuat senyum saat mata nya bertemu dengan nekomata berambut putih yang Kyuubi tahu bernama Toujou Koneko. "Gadis ini sudah selamat dan konsisinya sudah stabil" wanita youkai itu mulai menjelaskan. "Tapi sebelum itu aku ada permintaan. kalian dari keluarga iblis Gremory benar?"
"Iya kami keluarga Gremory, saya sebagai raja perkenalkan Rias Gremory" Rias bekata dengan sopan dengan tatapan lurus ke wanita tersebut.
"Aku ingin kalian membuat gadis ini menjadi salah satu keluarga kalian, dengan syarat kalian akan menjaga keselamatan nya" ungkap Kyuubi
Rias terkejut untuk sesaat tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri dan berkata "Baik syarat tersebut akan kami terima"
Kyuubi yang mendengar itu berjalan kesalah satu bangku, meletakkan gadis yang dalam gendongannya dengan lembut. Senyuman kembali terukir saat menyaksikan, gadis itu tersenyum dalam tidurnya.
"Terima kasih banyak" ucap Issei yang mulai mengerti dengan keadaan.
"Kalau kalian ingin berterima kasih, bukan padaku tapi padanya" kata Kyuubi dengan tangan menunjuk belakang.
Mata para iblis muda dari keluarga Gremory itu kembali dibuat melebar, saat menyadari ada orang lain lagi dalam ruangan tersebut. Mereka dengan serempak menyipitkan mata berusaha melihat lebih jelas seorang yang bersandar didinding, tapi bagaimana pun usaha mereka melakukannya yang didapatkan hanya sebuah siluet orang.
"Satu lagi biarkan kami yang mengurus malaikat jatuh disana" kata Kyuubi
"T-tapi dia yang bertanggung jawab dengan semua ini apalagi dengan Asia, aku tidak bisa membiarkannya pergi. Aku ingin membunuhnya" Issei berkata dengan mengebu, memperlihatkan lagi Sacred Gear ditangannya.
"Issei, biarkan dia yang membawanya. Aku tahu seberapa benci dirimu padanya tapi ini merupakan jalan terbaik" kata Rias
"Tapi Buchou"
"Issei-san apa yang dikatakan Buchou ada benarnya" Kiba ikut menimpali pembicaraan
"Kiba kau juga"
"Bocah naga harusnya kau mengikuti apa yang diucapkan ketuamu, karena ini menyangkut bentrokan antar fraksi dan jika masalah ini sampai dibawa oleh pemimpin dari Da-tenshi yang akan mendapatkan dampak terbesar adalah Iblis" Jelas Kyuubi
Melihat persetujuan dari para iblis dihadapanya, Kyuubi mengangkat tangannya memberi isarat kepada Naruto untuk memulai. Lingkaran sihir dengan cepat tercipta tepat dimana Da-tenshi itu berada, tidak sampai semenit lingkaran sihir itu sudah membawa tubuh malaikat jatuh itu pergi dari sana. Merasa sudah selesai Kyuubi, berbalik dan mulai melangkah pergi.
"Tunggu" Rias berkata dengan lantang, membuat wanita yang tengah berjalan itu berhenti.
"Apa?" sahut Kyuubi tanpa berbalik
"Kau siapa dan apa tujuanmu disini, daerah Kuoh adalah kekuasaan Gremory pihak luar harusnya meminta izin terlebih dahulu" kata Rias dengan sikap seorang penguasa.
"Maaf saja bocah, tapi kau masih terlalu dini untuk tahu lebih banyak mengenai dunia ini berputar dan juga sejak kapan daerah ini menjadi kekuasaan iblis" ucap Kyuubi sambil berjalan, ia sedikit mendongak kebelakang dan berucap "Panggil saja aku Kyuu dan sampai jumpa"
"T-Tung-" ucapan Rias berhenti saat menyadari orang yang ia panggil telah menghilang bersamaan dengan rekan yang ada disana. Otak Rias mulai berpikir mengenai siapa sosok yang pernah menolongnya itu. Pikiran nya ia hentikan dulu untuk sekarang, karena ada yang lebih penting untuk dilakukan.
"Baiklah Ritual akan segera dimulai" ucap Rias
TBC
Aku tidak akan banyak bicara yang penting aku akan berusaha untuk terus mengupdate fict ini itu saja. Terima kasih.
"Sebagai yang terkuat aku akan menunggumu walau harus memakan waktu bertahun-tahun, jadilah orang yang berpendirian teguh dan punya keberanian untuk menghadapi hal apapun" by Juraquile Mihawk
