ABYSMAL

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC

Typo

Chapter 11.

Hari keempat.

Kalau dilihat lagi, hari ini adalah hari keempat mereka memutuskan untuk menjadi kekasih atas kemauan sendiri. Kuroko meringis, membayangkan bagaimana kencan mereka berakhir dengan romantis. Bukan berakhir dalam ranjang, tapi bagaimana tangan kokoh itu mengurungnya dalam dekapan. Membuaianya hingga terlarut dalam kedamaian. Sumpah, Kuroko tak tahan untuk menahan pipinya menjadi tidak panas dan merah.

"Sayang,"

Suara baritone mengejutkannya, membuat fokusnya hilang sementara. Ah, Kuroko malu, benar-benar malu.. dan mau. Rasanya kepalanya memang mesti dijedukan benda yang tingkat kerasnya setara dengan batu, agar otaknya kembali waras seperti dulu.

"Sei-kun mengagetkanku."

"Tetsuya sedang apa?"

"Menata bekal kita."

"Sasuga calon istriku," Ujar Akashi sambil mengecup gemas pipi Kuroko.

Kalau Tetsuya terkena penyakit kurang darah, Akashi adalah orang pertama yang menjadi salah. Salah karena menjadi pihak yang terus saja menyebabkan wajahnya menjadi merah!

Hiruk pikuk suasana riuh, menyambut Kuroko dan Akashi saat tiba di Seirin. Ada yang memandang penuh perhatian dan ada beberapa yang memincing penuh kecurigaan.

"Sei-kun, jangan begini." Kuroko sedikit risih saat Akashi merangkul pinggang rampingnya.

"Kau menggemaskan sekali sampai aku tidak tahan."

"Gombal."

"Mau dibuktikan? Hm?" Ujar Akashi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroko yang sudah memerah sempurna.

"…" Kuroko tak menjawab, namun tangannya menjauhkan wajah Akashi yang berada didepannya tak lebih dari 5 inci.

Mata Aquamarine itu mencoba fokus. Mencoba menjaring kata-kata yang tengah diungkap guru yang sedang mengajar. Dirinya benar-benar ingin belajar, namun tangan yang sedang bertengger dipunggungnya memang kurang ajar. Sungguh, di pelajaran kali ini, Kuroko tak mampu berkonsentrasi. Ya, salahkan saja tangan Akashi yang menggrepenya sana-sini.

"Sei-kun, tanganmu!"

"Apa, Sayang? Aku tidak dengar."

Ugh! Badan Kuroko merinding semua. Tangan Akashi makin merajalela kemana-mana.

Hari kelima.

Kuroko mendudukan dirinya pada atap sekolah. Surai birunya tertiup angin, memainkan mahkotanya tanpa sadar. Sendiri memang menenangkan, mengingat Akashi sedang ada keperluan dengan dewan kesiswaan. Sasuga memang pesona sang tunangan, berstatus murid pindahan, tapi punya kewenangan.

"Apa kau yakin menyukainya?"

Perempuan bersurai blonde itu mengangguk mantap, "Aku menyukai Akashi-san."

Kuroko tercekat. Awalnya dia ingin mengacuhkan gadis-gadis yang terlihat ingin bergosip di samping dinding tempatnya bersandar. Namun, mau tak mau, perhatiannya terkumpul saat nama sang kekasih diucapkan oleh salah satu mulut yang ikut.

"Tapi bukannya Akashi-san punya tunangan?"

"Maksudmu, dengan Kuroko-san?"

"Iya, tapi ku dengar, Kuroko-san tidak menerima pertunangan itu dan berniat membatalkannya. Jadi aku.."

"Ah, tenang saja Sakura-chan, kami akan mendukungmu mengungkapkan perasaanmu pada Akashi-san!"

"Kami juga akan mendoakanmu agar kau diterima!"

"Ung! Arigatou, minna."

Deg, deg, deg. Jantungnya sakit. Ada orang lain yang menginginkan Akashi. Kekasihnya, orang yang baru saja masuk ke hatinya.

"Lalu kapan kau akan mengungkapkannya, Sakura-chan?"

"Kamis besok. Mumpung Jumatnya libur. Kalau diterima-"

"Pasti akan kencan pertama?"

Siswi yang bernama Sakura itu menunduk, dan meski dari jauh, Kuroko tahu, wajah ayu itu memerah.

Bagaimana ini? Akan ada orang yang menyatakan cintanya pada Akashi. Rasanya Kuroko ingin mengekang, tapi dia bisa apa? Wanita itu jelas lebih baik darinya.

Hari keenam.

Rabu ini terasa berjalan cepat. Baru saja dirasanya datang ke sekolah, sudah terdengar bel tanda istirahat.

"Ayo," Akashi mengulurkan tangannya pada Kuroko yang masih berkutat pada soal matematikanya.

"Belum selesai, Sei-kun."

"Ayo, Sayang. Kita selesaikan nanti dikamar." Ucap Akashi singkat dan membuat para siswa yang mendengar, tersipu samar.

Kuroko tak menjawab, sibuk menenangkan wajahnya yang merona dahsyat.

"Sei-kun membuat mereka salah paham." Ujar Kuroko sambil berjalan keluar kelas.

"Bukannya kita memang belajar di kamar? Lalu kenapa wajah Tetsuya memerah? Memangnya mengerti?"

Bagaimana tidak mengerti kalau setiap saat dicekoki omongan mesum dari Akashi?!

"Tetsuya tunggu disini, aku ke kamar mandi sebentar." Akashi mendekatkan bibirnya ke telinga Kuroko, "Atau kalau kau ingin ikut, aku bisa melakukannya dengan cepat, tepat dan.." Bibir itu menjilat cuping Kuroko pelan, "Nikmat." Ujar Akashi menyudahi kalimat seduktifnya.

Mesum. Mesum. Mesum! Belum menikah saja sudah seperti ini, bagaimana nanti kalau pernikahan benar terjadi? Mungkin Kuroko harus menyiapkan pantat cadangan nanti. Eh? Memangnya mereka akan menikah? Ugh, Kuroko benar-benar harus membenturkan kepalanya agar waras sekarang.

"Sekalian saja ke neraka."

"Kalau bersama Tetsuya, mau ke neraka pun, aku tak keberatan. Tapi Tetsuya adalah malaikat, pasti di surga."

"Gombal."

Akashi terkekeh pelan, "Tunggu disini, Sayang."

Kuroko terdiam, merasakan darah merambat cepat menuju wajah. Matanya memandang punggung tegap sang kekasih yang menuju arah kamar mandi. Kuroko masih saja menatap, hingga matanya tak sengaja melihat, 2 murid wanita yang juga tengah memandang kekasihnya.

Wanita yang jelas dia kenali telah membicarakan hubungannya dengan Akashi.

Hari ketujuh. Hari penentuan.

Kuroko memandang Akashi yang masih terlelap di sampingnya. Sungguh, dirinya bahkan belum memejamkan mata. Pikirannya masih terbayang, kalau hari ini, kekasihnya akan mendapat pernyataan cinta.

Bagaimana kalau Akashi menerimanya? Toh, hubungan ini hanya percobaan. Bagaimana kalau Akashi berpaling? Menyesal memilihnya dan beralih ke wanita yang dia tahu bernama Sakura.

"Tetsuya?"

Lamunannya tersadar saat suara baritone itu menyapa indera pendengarannya.

"Sei-kun?"

"Kau melamun. Ada apa?"

"Tidak apa-apa."

Akashi mengedikkan bahunya, tangannya menarik tengkuk Kuroko, menyatukan bibir mereka.

"Jatah morning kiss-ku," Ujar Akashi setelah ciuman mereka berakhir.

"Mesum."

"Mau lagi?"

"Mandi dan gosok gigi sana."

"Aku mau mandi bareng Tetsuya."

"Iia da!" Teriak Kuroko sambil melemparkan bantalnya, dan bergegas menuju kamar mandi. Menguncinya cepat, agar Akashi tak menyusulnya dan membuat semuanya terlambat.

Bel istirahat berbunyi. Kuroko dan Akashi segera bergegas menuju tempat yang biasa mereka sambangi. Namun, langkah mereka terhenti, saat seorang perempuan yang Kuroko lihat kemarin menghalangi jalan mereka menuju atap sekolah.

"A-Akashi-san?"

Akashi hanya menatap datar gadis didepannya. Tak berniat menjawab hingga tangan Kuroko menyenggol lengannya.

"Apa yang kau inginkan?"

"Bi-Bisakah.. A-Aku ingin berbicara dengan Akashi-san."

"Aku akan menunggu di atap, Sei-kun." Ujar Kuroko yang merasa kehadirannya mengganggu.

"Kau disini saja."

"Sebenarnya.. maaf, aku perlu bicara berdua dengan Akashi-san."

Akashi memandang Kuroko meminta persetujuan, yang dibalas anggukan oleh kekasihnya.

"Baiklah."

"Aku ingin kita ke taman belakang."

Akashi mengangguk.

"Maaf, Kuroko-san, aku meminjam Akashi-san."

Kuroko tersenyum, namun dalam hatinya, rasa takut kembali muncul. Apalagi saat matanya memandang dua punggung yang tengah berjalan bersama. Mereka berdua terlihat serasi, dan entah kenapa membuatnya merasakan iri.

Awalnya, Kuroko memantapkan hati, untuk menunggu di atap, tak menunggu disini. Namun, hatinya memberontak tak mau pergi. Hingga berakhir, mencoba menepis rasa malu dan memilih mengikuti.

Sesampainya di taman belakang, Kuroko melihat gadis itu dan Akashi tengah berhadapan. Langkahnya mendekat pelan, mencoba mendengarkan apa yang tengah dibicarakan.

"Aku tak punya waktu lama. Apa yang ingin kau bicarakan?"

Samar-samar, Kuroko mendengar Akashi membuka pembicaraan.

"Sebelumnya, maaf mengganggu, Akashi-san." Gadis itu semakin menunduk, tak sanggup menahan rona merah yang sudah menjajah wajah.

"Kalau kau tak segera menyampaikan maksudmu, aku akan pergi."

Memberanikan diri, sang gadis itu mulai mengangkat wajahnya, memandang Akashi, "A-Akashi-san.. Aku su-sudah lama menyukaimu." Ujarnya seraya kembali menundukkan wajah ayunya.

Seakan tak terpengaruh tampilan cantik gadis didepannya, Akashi masih betah menampakkan wajah datar, "Lalu?"

"Maukah Akashi-san menjadi kekasihku?"

Deg. Kuroko tahu ada yang terluka disini, dihati.

"Apa kau tidak pernah mendengar bahwa aku punya tunangan?"

Gadis itu mengangguk, "Tapi ku dengar Kuroko-san tidak menerima pertunangan kalian. Jadi ku pikir-"

"Kalau Tetsuya tidak mau denganku, apa kau pikir aku mau denganmu?"

Kejam. Lihat saja, Kuroko akan men-ignite pass Akashi setelah ini agar menghormati bagaimana perasaan orang yang menyatakan rasa cintanya.

Nak, apa kau tak sadar jika sering menolak Akashi mentah-mentah dan kadang cenderung kasar?

"Kita tidak akan tahu kalau belum mencoba, Akashi-san."

Akashi menyeringai, "Aku tidak bisa." Lalu beranjak meninggalkan, dan berhenti saat lengannya ditarik sebuah tangan.

"Akashi-san, aku mohon. Aku menyukai Akashi-san sejak lama, jadi-"

"Aku juga menyukai seseorang bahkan sebelum kami saling mengenal."

Gadis itu sedikit tersentak, "Setidaknya, bolehkah aku mencoba?"

"Maksudmu?" Akashi berbalik, menghadap gadis itu kembali.

Tangan lentik itu bergerak cepat, meraih tengkuk Akashi agar dapat menunduk. Kakinya berjinjit, hendak menyambut bibir sang pangeran yang setiap malam mengganggu mimpinya.

Jarak semakin tereliminasi, menghempas udara dan menyatukan nafas keduanya. Namun..

"Maaf mengganggu, Sakura-san." Tangan putih itu berada didepan mulut Akashi, yang kini tengah dimabuk harum vanilla dari orang yang dia cintai.

"Kuroko-san?"

"Aku berterima kasih kau menyukai kekasihku. Tapi maaf, Sei-kun milikku." Kaki itu berjinjit, dan entah setan apa yang tengah merasuki, Kuroko melumat bibir Akashi. Tak bertahan lama, karena setelah tersadar akan perbuatannya, Kuroko memilih pergi. Bodo amat, dia ingin melarikan diri.

Akashi tersentak, dan sedetik kemudian dia tersenyum, "Sakura-san, meski Tetsuya tak menerimaku seperti yang kau dengar, tapi bukan berarti aku memilih lainya. Karena bagiku, hanya dia yang jadi satu-satunya." Akashi berbalik, mengejar sang kekasih yang telah melambungkan hati, menuju langit tertinggi.

Saat ini, adalah detik-detik terakhir tentang perjanjian mereka sepakat menjadi sepasang kekasih. Setelah peristiwa penuh drama tadi, Kuroko langsung bergelung di kasur sepulang sekolah. Menyembunyikan wajahnya yang telah sempurna memerah.

"Tetsuya," Akashi memanggil kekasihnya yang bergelung bagai kepompong. Bulat, menggemaskan dan enak dibopong.

"…"

"Hei, kau kenapa?"

"…" Akashi mendengar Kuroko bersuara, namun hanya gumanan yang tak jelas bentuknya.

"Sayang?"

"..Lu,"

"Hah? Hei, kau berkata apa, Tetsuya?"

"Aku malu."

Akashi tak mampu menyembunyikan senyum ilegalnya. Dirinya tak mampu bahagia lebih dari ini. Siapa sangka, malaikat birunya berani menglaimnya tadi.

Tangan kokoh itu mencoba membuka selimut yang menutupi kekasihnya, "Hei, tunjukan wajahmu, Sayang."

"Tidak mau."

"Heh," Akashi menyeringai, gemas juga melihat tingkah belahan jiwanya, "Kalau begitu jangan protes."

Dan tarik-tarikan selimut terjadi, tak bisa dihindari. Adu tenaga yang jelas dimenangkan oleh Akashi. Saking menangnya, hingga Kuroko malah ikut menindihnya.

Tuhan, Kuroko ingin tenggelam sekarang!

Muka pemuda biru itu masih saja memerah sempurna saat Akashi melihatnya. Otak Kuroko masih merutuki, setan apa yang merasukinya hingga menglaim Akashi didepan muka.

"Mukamu memerah, Tetsuya."

"Lepaskan!"

"Tidak mau, aku mau menikmati muka calon 'istri'ku."

"Sei-kun!"

"Hm?" Tanya Akashi sambil tangan kirinya memeluk pinggang Kuroko dan tangan kanannya menangkup pipi sang tunangan.

"Lepa-"

Bibir kenyal itu sudah dilumat. Basah, merah dan nikmat. Candu yang menawarkan sesuatu yang hangat.

"Aku mencintaimu, Tetsuya."

"..Mo."

"Hm? Aku tidak dengar." Ucap Akashi sambil mendekatkan diri kembali pada wajah Kuroko yang makin merona.

"Jangan pura-pura tidak dengar."

"Aku memang tidak dengar," Akashi menyeringai lagi, yang sialnya membuat Kuroko makin jatuh hati.

"Aku juga mencintaimu, Sei-kun. Puas?!"

Persetan, Tetsuya sudah tidak peduli rasa malunya lagi. Kalau ada iblis yang bisa menaklukan hati, salah satunya pasti makhluk di depannya ini, yang bernama Akashi.

Akashi tersenyum tipis, tangannya bergerak, mengurung Kuroko dalam dekapannya lagi, seakan ingin menyalurkan dan memberi tahu, betapa jantungnya berdetak untuk pemuda didepannya yang masih saja malu-malu memandangnya.

"Sei-kun?"

"Hm?"

"Ja-Jangan suka dengan orang lain," Kuroko menunduk, sambil menggenggam erat kemeja depan Akashi, "Jangan mau ditarik-tarik seperti tadi."

Kuroko tidak tahu dan mengerti, dirinya bisa punya rasa seposesif ini kalau menyangkut urusan hati. Sungguh, dia tidak mau Akashi diperlakukan seperti tadi. Jantungnya sakit, ngilu menjadi sampai hati.

"Tetsuya," Akashi menangkup dua pipi menggemaskan itu untuk menatapnya dan membuat dua pasang mata yang berbeda warna saling memandang dan menyelam didalamnya, "Hei, lihat mataku. Aku tak akan memberimu janji, tapi satu yang pasti, kau memilikiku, sampai tak terbatas waktu. Bersama, hingga waktu hanya punya jejak memori tentang kita."

"Sei-kun,"

"Dan tentu saja, kau milikku, selamanya. Sekarang, bahkan di kehidupan yang akan datang. Jangan sampai ada yang menyentuhmu bahkan kalau itu hanya seujung kuku, memandang, dan berbicara padamu. Kau milikku, Tetsuya. Hanya milikku." Akashi menekankan kalimat terakhirnya.

Glek. Kuroko menelan susah ludahnya. Bagaimana mungkin dirinya lupa, Akashi adalah makhluk dengan tingkat keposesifan paling tinggi yang pernah dikenalnya.

"Sei-kun seperti melamarku." Ujar Kuroko, sebenarnya dia hanya ingin menurunkan atmosfir Akashi yang kelewat berat.

"Aku memang dari dulu sudah melamarmu. Kau saja yang tak mau-mau."

"Itu karena Sei-kun yang hampir melakukan sekuhara padaku."

"Tetsuya sendiri yang buka-bukaan."

"Aku tidak pernah, dasar mesum!"

"Mesum pun, kau suka."

Skak mat. Berharap saja obrolan ini tak menyebabkan keperaw-jakaan Kuroko tamat.

Hening melanda beberapa saat pada kedua pemuda yang masih saling mendekap, ralat, Akashi yang mendekap Kuroko dari belakang, hingga Kuroko memecah obrolan.

"Sei-kun?"

"Apa?"

"Kalau saja, hari ini aku- aku belum menerimamu, apa kau akan melepaskanku?"

"Huh? Kata siapa?"

"Kemarin Sei-kun bilang kalau kita tak bisa bersama dalam waktu seminggu, aku bisa melakukan sesukaku, kan?"

"Memang. Lalu?"

"Kalau begitu, berarti batal, kan?"

"Aku tidak mengatakan seperti itu. Kau memang bisa melakukan sesukamu, tapi aku akan terus mengejarmu sampai kau mau."

Kuroko reflex berbalik saat Akashi menyelesaikan kalimatnya. Matanya memandang intens wajah Akashi yang menyeringai menyebalkan, dan sialnya membuatnya semakin tampan.

Lalu apa gunanya perjanjian kalau akhirnya tetap kejar-kejaran?!

Tuhan, Kuroko sekarang benar-benar ingin belajar makan orang.

TBC.

Author's Note :

Ya pokoknya terimakasih semua atas respon pada cerita pertama saya :D

Jangan bosen yak? Bentar lagi tamat kok :)

Ditunggu lagi kedatangannya, dan terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.