"talking"

'thinking'

"Chaos/ heavy armor talking"

'Chaos/ heavy armor thinking'

Setting Change

Disclaimer :

I don't own Final Fantasy. Only 6 main series and some spin-off copy that I downloaded from internet. FF7 dan 9 mainnya di rumah tetangga, jadi itu juga bukan punyaku.

Author Note :

Kembali ke cerita utama. Yang mau repot-repot membaca fic ini pasti sudah menunggu kelanjutannya, maaf sudah menyusahkan. Kayaknya ini jadi chapter paling panjang yang kutulis saat ini.

Random Quote :

Aria : "Aku bisa mengerti mengapa Crystal memilih kalian berempat. Aku bisa merasakannya… cahaya dalam hati yang kuat, namun lembut."

Luneth : "Kau satu-satunya orang yang pernah berkata begitu…"

(The Cave of Tide, Final Fantasy 3)

88888

Dissidia :Welcome in The Never Ending War

Chapter 10 : Deception of The Coucil

Eden, Cocoon

Bartz mencabut Brave Blade dari tubuh Letkol Nabaat yang masih hidup tapi tidak bisa bergerak. Mata penuh kebencian menatap tajam ke pemuda berambut coklat itu, yang hanya mengangkat satu alis. Dengan kibasan tangannya, pedang merah itu menghilang bersama dengan kilatan cahaya. Para pasukan PSICOM itu mengarahkan tembakan ke arah Bartz. Bartz hanya memutar matanya dengan jengkel, sebelum sebuah perisai setengah bola yang menahan dan membalikkan semua tembakan yang mengarah kepadanya. Beberapa tentara yang tidak beruntung terkena peluru yang memental dari perisai, membuat semua tentara PSICOM menahan tembakannya. Bartz menoleh ke arah Raines.

"Sepertinya akan banyak gangguan kalau terus di sini. Hei, Raines! Lihat dan perhatikan…"

Dia menjentikkan jarinya. Seluruh tempat itu mulai terlihat terdistorsi dan berbaur. Sebuah lubang dimensi di udara muncul dan menelan mereka berdua. Raines membuka matanya. Dia berdiri di sebuah ruang putih tertutup dengan banyak koridor. Beberapa sofa terletak di sana sini. Bartz sudah duduk di salah satunya.

"Ini di mana?"

"Salah satu syarat pertarungan Dissidia. Jika prajurit dewa yang bertarung dalam satu pertempuran kurang dari enam orang, maka pertarungan yang dilaksanakan adalah pertarungan satu lawan satu. Mereka yang bertarung akan masuk ke sebuah dimensi yang mengirim mereka ke tempat terjadinya puncak konflik dari dunia itu. Selama kita di sini, waktu akan berhenti di luar sana…"

"Dan tempat ini… akan menjadi medan pertempuran terakhir di dunia ini? Aku belum pernah melihat tempat seperti ini di Cocoon."

"Mungkin tempat ini memang belum pernah dilihat publik. Kau sendiri tahu, kan? Sanctum, tidak, Fal'Cie terlalu banyak menyembunyikan hal-hal yang tidak ingin diketahui masyarakat. Sudah sewajarnya mereka yang berada di puncak pemerintahan untuk tidak membocorkan aib mereka."

"Dan alasan kenapa kau membawa kita ke sini?" mendengar itu, Bartz menyeringai lebar.

"Aku sebenarnya tidak mau bertarung denganmu. Ada hal yang ingin kutanyakan tanpa interupsi. Yang pertama, kenapa perempuan itu begitu ngotot kalau dia itu seorang prajurit dewa?"

88888

Order's Sanctuary, Throne

Noctis jatuh di atas dua lututnya. Nafas memburu, dia mengalihkan pandangan pada sosok yang berdiri tinggi di hadapannya. Cosmos mengubah wujudnya lagi menjadi sosok berbaju zirah emas dan perak. Tombak mengancung, matanya yang bersinar dari balik helm dengan hiasan sayap mengatakan dengan jelas apa yang ingin disampaikannya.

"Kenapa kau bertarung?"

"Untuk mencegah takdirku, aku harus membunuhmu…"

"Lalu… mengapa aku melihat keraguan di matamu?"

"Diam!"

Pangeran muda itu mengibaskan tangannya. Pedang-pedangnya bermunculan di udara, siap digunakan. Beberapa kelebat meluncur cepat dari sisi kiri Noctis. Dia baru menyadari keberadaan orang lain saat senjata-senjatanya lepas dari genggamannya, tertancap di sebuah pilar marmer putih oleh kartu bersisi baja tajam. Noctis mengalihkan pandangan, mata merah membara beradu dengan mata biru keabu-abuan.

"Cosmos!"

Remaja berambut putih muncul entah dari mana dan berlari ke antara Noctis dan Cosmos, menghalangi pangeran muda itu untuk maju menyerang sang dewi. Noctis menggeram dan memanggil kembali senjata-senjatanya, membuat mereka melingkari tubuhnya seperti tameng. Ace mengerutkan alisnya.

"Cosmos… apa yang terjadi?"

"… dia orang yang sedang kebingungan…"

"Apa?"

"Jangan bunuh dia…"

Dengan kata-kata itu, Cosmos lenyap dengan kilatan cahaya. Ace menggerutu di dalam hati karena dia selalu tidak mendapat penjelasan yang jelas. Dia mengalihkan perhatiannya pada Noctis, mengamati baik-baik orang yang sedang berhadapan dengannya. Masih dalam posisi bertahan, Noctis membalas tatapannya dengan mata merah yang semakin menyala di Sanctuary yang redup.

'Pangeran Noctis Lucis Caelum… orang yang seharusnya menjadi salah satu prajurit Cosmos. Tapi kenapa… kalau memang dia sudah bergabung dengan Chaos dan mendapat perintah untuk membunuh Cosmos, aku tidak bisa mencium bau belerangnya?'

Noctis menerjang. Ace melemparkan beberapa dart ke arahnya, yang langsung memantul karena perisai senjata dan sihir milik lawannya. Noctis mencabut sebuah tombak dari susunan perisainya dan melakukan tikaman cepat ke arah perut. Remaja itu menghindari serangan dengan mencondongkan tubuhnya ke kiri dan menangkap senjata itu dengan kedua tangannya. Menjadikan tombak itu sebagai pengungkit, Ace melempar lawannya ke sisi lain Order's Sanctuary. Dia yang agak terkejut dengan kekuatannya sendiri, segera mengirimkan beberapa bola api ke arah Noctis. Pangeran itu menyadari serangan, memanggil kembali senjata-senjatanya dan membiarkan serangan itu mengenainya. Asap menutupi pandangan Ace. Dia memicingkan matanya dan menggeram, lawannya berdiri tegak dan sama sekali tidak terluka.

'Sepertinya dia harus menggunakan semua senjatanya untuk membuat perisai sihir yang tidak bisa tertembus… Tapi aku harus memastikannya lagi.' Batin Ace saat dia melihat lawannya kembali menerjang. Noctis meringis di dalam hati.

'Lawanku seorang anak kecil? Cosmos menggunakan anak-anak sebagai prajuritnya? Tapi dia bukan lawan yang enteng. Aku harus waspada…'

Noctis melakukan sabetan-sabetan lebar ke perut dan kaki, yang selalu bisa dihindari lawannya. Ace membalas dengan serangan sihir api dan petir cepat yang membuatnya kewalahan. Noctis meraih salah satu pedangnya dan melemparnya ke arah Ace. Ace menghindarinya dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang dan segera bersiap dengan serangan berikutnya. Matanya terbelalak saat lawannya sudah tidak ada di depannya. Alarm bahaya di kepalanya menjerit. Dia menghindari sebuah tebasan dari belakang yang sudah pasti bisa membelah tubuhnya menjadi dua, namun masih tetap bisa menggores bahunya. Tarot melompat ke udara dan menggunakan dash, teknik yang diajarkan Cloud dan Terra, untuk menjauh dari lawannya.

Dia menyandarkan tubuhnya di salah satu pilar batu dan memeriksa bahunya yang terluka. Lumayan dalam dan darahnya tidak akan berhenti kecuali dia menggunakan sihir penyembuh. Tapi tidak ada waktu untuk itu. Dia memikirkan strategi untuk mengalahkan lawannya.

'Baiklah… apa yang akan kulakukan jika lawanku adalah seorang telekinetis, memakai perisai sihir dengan senjatanya dan bisa teleportasi ke mana pun senjatanya berada? …kurasa aku tahu…'

88888

Noctis berjalan mengintari Order's Sanctuary. Tidak ada tanda-tanda anak itu atau pun Cosmos. Dia tidak menyangka anak itu bisa melesat di udara. Tidak seperti bagaimana orang yang menggunakan sihir untuk mengambang sementara di udara, lawannya itu tidak punya tanda bisa melakukan hal itu. Dia hanya terlihat… melesat begitu saja ke belakang setelah dia melompat. Dia memeriksa balik batu yang kesekian saat dia merasakan bulu kuduknya berdiri.

Proyektil sihir menyerangnya dari segala arah. Dia membiarkan semua serangan itu menghantam perisainya. Dia menyeringai. Apa hanya seperti ini saja yang membuatku merinding? Dia berdiri di tengah ledakan sihir dengan tenang, namun segera memutuskan lamunannya saat dia merasakan sesuatu mencengkram kakinya. Dia melihat ke bawah. Beberapa tangan yang terbuat dari air yang menggenangi Order's Sanctuary meraih kaki dan mulai merambat naik ke tubuhnya. Di ekor matanya dia melihat sebuah sihir petir berubah wujudnya menjadi menyerupai manusia.

'Dia! Pemanggilan roh elemen!'

Dia melihat roh petir itu menukik tajam ke lantai. Matanya terbelalak. Listrik segera menyebar ke seluruh lantai berair tempat itu, termasuk ke roh air yang sedang mengunci Noctis di tempat. Dia berteriak saat tubuhnya kejang dengan kejutan listrik yang menyebar. Saat siksaan itu selesai, dia terjatuh ke atas lututnya. Nafas memburu, dia hanya bisa mendengar suara senjata-senjatanya yang jatuh tak berguna ke lantai. Dia kemudian mendengar suara sesuatu menggelinding di lantai. Matanya redup, namun dia bisa melihat tiga buah benda kecil menggelinding ke arahnya. Dia berusaha berdiri dan melihat dengan lebih baik apa itu. Tiga buah dadu. Saat dia melihat angka yang keluar dari dekat, barulah dia sadar apa itu.

6-6-6

"Si-"

Ace memandangi ledakan besar dari tempat duduknya di salah satu pita cahaya kehijauan yang menghiasi langit Sanctuary. Di hadapannya ada enam buah kartu tarot yang terbalik, mengambang dengan cahaya pudar berwarna keemasan di sekitarnya. Dia membuka mata.

"Sekarang kita lihat seperti apa nasibmu…"

Dia menarik sebuah kartu yang berada keempat dari kanan. Gambar kepala kambing dengan tanda bintang di dahinya. Ace merengut, sebelum dia melempar kartu itu ke arah kepulan asap dan debu yang masih membubung tinggi. Kartu itu meluncur cepat sebelum dia diselimuti energi hitam dan berubah menjadi sebuah bayangan yang melompat ke dalam awan debu.

Noctis menggunakan falchion utamanya sebagai penyangga. Dia berhasil menaikkan perisainya disaat terakhir. Sebagian besar ledakan dari Fixed Dice terendam olehnya, namun jarak yang terlalu dekat tetap membuatnya terkena serangan. Dia mencabut pedangnya dari lantai dan menyabetkannya ke udara.

"Di mana kau! Ayo keluar!"

"Kurasa aku tidak akan melakukan itu. Pertarungan jarak dekat tidak pernah jadi bakatku."

"Grrr…"

"Siapa sebenarnya kau ini? Kenapa kau ingin membunuh Cosmos?"

"Itu bukan urusanmu…"

"Itu sudah jadi urusanku saat kau mengacungkan senjatamu pada dewiku. Sekarang bicara! Kenapa kau ingin membunuh Cosmos?"

"Kenapa kau membela dewi kematian sampai seperti ini?" Kata-katanya itu membuat Ace kebingungan.

"Apa?"

"Cosmos adalah perwujudan dari kematian. Dia memakan jiwa dan pengorbanan manusia untuk tetap ada… Kenapa kau tetap membelanya saat tahu kau akan mati untuk melindunginya seperti sekarang, hah?"

"Aku tahu aku akan mengorbankan nyawa untuk melindunginya. Aku tahu sebenarnya Cosmos tidak perduli aku, atau yang lainnya, tewas karena hal itu. Tapi itu memang sudah menjadi kewajibannya. Kalau dia musnah, tidak ada keseimbangan antara harmoni dan kehancuran. Aku membela dia hanya karena pihaknya itu yang paling dekat dengan tujuanku. Aku tidak tahu soal dia sebagai dewi kematian atau memakan jiwa para prajuritnya, tapi aku tahu kau itu sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini."

"Cukup!"

Noctis menerjang dari balik sisa-sisa awan debu, membuat mereka tersibak seketika. Tangan hitam meraih kakinya dari lantai berair. Noctis berbalik untuk menebas roh yang sedang mencengkramnya saat dia bertatap mata dengan sepasang bola rubi milik bayangannya sendiri. Iblis bertandung itu membuka mulutnya, awan racun berwarna ungu kehitaman menyebar di daerah itu. Noctis berlari menjauh sesaat setelah iblis itu melepaskan pegangannya sambil berusaha tidak menghirup udaranya. Dia melihat targetnya, meluncur di pita cahaya tempat dia mengamati keadaan. Dia menikam anak berambut putih itu, mengenai lengan kanannya. Ace mendesis, dengan tangannya yang lain dia membalik kartu yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Sebuah Golem tanah liat keluar dari dalam kartu dan meredam tikaman tombak dan pedang sang pangeran.

Dari balik lengannya Ace mengeluarkan satu renteng koin 1 Gil dan menembakkannya menggunakan jari dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Noctis menggunakan perisai dan pedangnya untuk menghalau retetan tembakan bagai senapan mesin itu dan berhasil menembus volley serangan lawannya. Satu saat lengah adalah yang dibutuhkannya. Sesaat setelah Ace kehilangan pijakan, dia berputar ke punggung Ace dan menikam tubuh anak itu dari belakang hingga tembus ke dada. Darah meledak dalam mulutnya, menyesakkan dan mencekik. Noctis mencabut pedangnya, membiarkan Ace jatuh telungkup di atas lantai berair Order's Sanctuary.

Noctis memandang tubuh itu untuk beberapa saat sebelum dia berbalik untuk kembali mencari Cosmos. Dia tidak memperhatikan Ace yang berdiri pelan-pelan di belakangnya sampai dia mendengar suara murid Suzaku itu.

"Kau pikir kau mau ke mana…?"

Noctis berdiri dengan mata terbelalak. Ace berdiri dengan kaki gemetar, butir cahaya yang berterbangan di sekitar mereka terhisap ke tubuhnya. Cahaya itu mulai menjahit dan menyembuhkan lukanya dengan kecepatan luar biasa. Hanya perlu beberapa detik untuk seluruh lukanya untuk lenyap.

"Siapa kau ini sebenarnya?"

"Seorang prajurit dewa…"

Dengan raungan perang, dia terselimut cahaya yang meledak. Noctis menghalau cahaya itu dengan tangannya dan memandangi lawannya saat intensitas terangnya berkurang. Seorang ksatria berbaju zirah merah darah dan hitam berdiri di tempat anak itu. Sebuah tombak dengan ujung seperti kapak pemenggal kepala tergenggam erat. Noctis menaikkan perisainya, sumsumnya merinding saat suara makhluk itu terdengar dari balik helmnya.

"Dengan ini selesai sudah…"

Suaranya berat dan dingin, seperti Garland dan Exdeath, namun masih terdengar sisa-sisa anak laki-laki yang suaranya baru pecah karena pubertas. Dia melempar tombaknya, Noctis mengeluarkan semua Mananya untuk memperkuat perisainya. Namun itu tidak cukup. Tombak itu memecahkan perisai senjatanya, membelah bahu kanannya, dan masih terus meluncur, menghancurkan sebuah dinding batu Sanctuary. Saat pangeran itu jatuh, Ace melepaskan wujudnya dan ikut jatuh berlutut di depan lawannya.

'Sepertinya aku masih belum terbiasa dengan EX Mode…'

Dia memandang tubuh Noctis yang terbaring telungkup, senjatanya bertebaran di sekitarnya. Banyak diantara mereka yang hancur karena lemparan Gungnir. Mengumpulkan tenaga untuk melantunkan mantra Bind sederhana, dia bersandar di sebuah dinding batu sebelum memanggul Noctis di punggungnya.

'Harus cari bantuan dulu, nih….'

88888

Narthex Throne, Cocoon

"Begitu, ya… terima kasih untuk informasinya."

Bartz berkata sambil berdiri dari sofa putih besar itu. Cid memandang pemuda yang sedang merenggangkan punggungnya. Dia kemudian memandangi punggung tangannya.

"Um… Klauser?"

"Yap?"

"Aku sebenarnya tidak mengerti. Jika Cosmos dan Chaos sudah membuat perjanjian gencatan senjata, kenapa masing-masing pihak masih berusaha saling menghancurkan?"

Bartz memandanginya dengan tatapan aneh. Dia lalu mendesah dan menggaruk belakang kepalanya.

"Meski ada perjanjian seperti itu pun… tetap tidak menghilangkan kenyataan kalau kita, dari pihak Cosmos dan Chaos, adalah musuh bebuyutan. Tidak mungkin, dengan cara apa pun, kami bisa damai… Yah… paling tidak beberapa di antara kami…"

"Termasuk kau?"

Kesunyian yang tidak mengenakkan menyelimuti mereka. Raines memandang pemuda prajurit Cosmos itu lagi, tidak enak setelah menanyakan hal yang agak pribadi. Badan yang lumayan kurus, dia terlihat biasa jika dibandingkan prajurit-prajurit lain yang prajurit Chaos tunjukkan sebelumnya. Sulit dipercaya bahwa sebenarnya orang ini adalah salah satu yang terkuat diantara para prajurit Cosmos. Namun, Raines bisa melihat di matanya. Penderitaan bertahun-tahun dan kelelahan karena pertarungan terpancar jelas. Tiba-tiba Bartz berdiri dan merenggangkan punggungnya. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada Brigadir Jenderal Cavalry itu, tangannya mengibas udara dan Revolver milik Squall muncul dalam kilatan sinar. Raines berdiri, agak terkejut saat pemuda itu mengacungkan gunblade itu ke hidungnya.

"Kau bilang kau hanya ingin bertanya…"

"Tapi aku tidak mau sampai repot-repot memanggil daerah pertempuran Dissidia cuma untuk bertanya. Bagaimana kalau sedikit sparring? Kita tidak akan melanggar peraturan apa pun, kok…"

"Begitu, ya…"

88888

White Knights HQ, Gran Pulse

Zidane mengangkat kepalanya, matanya memandang Cocoon yang menggantung rendah di atas Gran Pulse. Garnet dan Eiko menyadari dia yang tiba-tiba bengong. Eiko menyeringai. Dia menyelinap ke belakang Zidane yang masih tatapannya kosong, dan meremas ekornya. Jeritan high pitch terdengar ke seluruh HQ, membuat semua menoleh ke arah asal datangnya, dan membangunkan Luneth dari tidur siangnya.

"Heh, Eiko! Apa-apaan, sih?"

"Kau yang apa-apaan! Diajak ngomong malah ngeblank! Emangnya ngeliatin apa, sih? Cocoon masih belom pindah."

Setelah Eiko menyelesaikan kalimatnya, Lucius masuk ke ruangan itu dengan diikuti Vincent dan Adrian. Zidane segera menciut di hadapan Warrior of Light, yang sedang menatapnya dengan mata biru sedingin es.

"Ada apa ini?"

"Ti-Tidak… a-aku hanya merasakan ada yang sedang terjadi di Cocoon."

"… mungkin sebaiknya kau ke aula utama dan jelaskan kepada kita semua, kenapa kau mengganggu ketenangan yang jarang sekali bisa kita peroleh."

"Tuan Lucius!"

Mereka semua menoleh ke arah suara pintu di banting dari ruang portal menuju Order's Sanctuary. Tarot membawa pria berpakaian serba hitam di punggungnya. Sekujur tubuhnya penuh luka dan terikat rantai sihir. Mereka terdiam untuk beberapa saat.

"Um… apa kalian mau bantu dia atau tidak?"

Belum sempat Lucius menjawab, sekumpulan kunang-kunang berwarna biru kehijauan berdatangan dari arah Cocoon dan berhenti di hadapan Vincent. Kunang-kunang itu berkumpul dan dalam kilatan cahaya itu berubah menjadi orang-orang yang bertugas ke Cocoon. Sazh agak berguncang saat mereka termatrialisis, membuat Bartz tertawa kecil melihatnya.

"Belum terbiasa dengan teleportasi ala Prajurit Cosmos, huh?"

"Bartz!" pemuda itu yang dimaksud menoleh dan melambai.

"Oi, Zidane!"

"Bartz! Aula utama!"

Mereka melihat Lucius berjalan ke pusat HQ. Bartz hanya mengangkat alis dan memandang Zidane dengan tatapan bingung.

"Dia itu kenapa, sih?"

Zidane hanya mengangkat bahu.

88888

White Knights HQ, Main Hall

"Jadi intinya, Jihl Nabaat sebenarnya ditipu."

Gumaman terdengar dari seluruh aula bagai dengungan seribu lebah. Bartz menghentakkan kakinya dengan tidak sabar menunggu agar semuanya diam. Baru setelah Lucius mengangkat tangannya, dia mendapat ketenangan yang dia mau.

"Jadi kau bilang, Nabaat hanya mereka gunakan untuk mencari informasi tentang pusat kekuatan Cocoon. Apa yang mereka inginkan dari itu?"

"Aku juga tidak begitu yakin. Tapi Raines mengatakan bahwa pihak Chaos punya cara untuk menghentikan lingkaran pertempuran Dissidia. Dan cara itu adalah dengan memusnahkan Shinryu."

Kembali suara gumaman terdengar. Rydia berdiri dari tempatnya di antara Edge dan Rosa, kemudian mengayunkan cambuknya. Suara yang menggema itu membuat semua mata beralih padanya, tapi wanita berpakaian serba hijau itu tidak menghiraukannya.

"Memusnahkan Shinryu? Bukannya dia itu yang menjaga keseimbangan dunia. Membunuh Shinryu, sama saja membunuh dunia ini."

"Sepertinya Chaos membuat teori, bahwa sebenarnya Shinryu itu hanya penjaga, bukan pembuat. Jadi jika dia musnah, The Great Will hanya akan membuat penjaga yang baru. Namun tidak ada yang pernah tahu dengan bagaimana dunia ini pertama kali tercipta, jadi kemungkinan benar atau tidaknya adalah sebuah taruhan"

"Bagaimana dengan laki-laki yang menyerang Cosmos di Order's Sanctuary? Apa dia juga termasuk dalam rencana itu?" Adrian bertanya khusus kepada Ace. Yang ditanya mengangkat kepalanya dari kubah energi penyembuhan Aerith.

"Dia terus berkata bahwa Cosmos adalah Dewi Kematian. Aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya, tapi mungkin itu cara Chaos mengajak pria itu untuk bergabung dengan pasukannya, dan akan meninggalkannya setelah semua selesai. Aku tidak bisa mencium bau belerang Edge of Madness darinya."

"Itu benar. Aku mendengar Ultimecia menyebut Cosmos begitu saat Squall dan aku dikepung oleh Kuja, Garland, dan dia sendiri saat di perang yang ke-12." Firion mengiyakan dari posisinya di belakang.

"Jadi, intinya Chaos berniat menyelesaikan perang ini dengan 'kekuatan' dari inti Cocoon dan sekaligus menghabisi Cosmos untuk mendapat kemenangan mutlak. Dengan terbunuhnya Shinryu, tidak akan ada yang membangkitkannya lagi. Paling tidak sampai ada yang menggantikan posisinya sebagai penjaga keseimbangan, itu pun kalau benar…"

"Tapi disitulah masalahnya." Kembali perhatian seluruh ruangan itu tertuju pada Bartz. Wajahnya kembali suram.

"Memusnahkan Shinryu, itu tidak akan mudah. Bahkan dengan kekuatan seluruh prajurit dewa dan sekutu-sekutunya, Shinryu sudah menghisap pengetahuan dan kekuatan dunia setiap kali Dissidia diulang. Melawannya sama saja dengan mencoba berhadapan dengan kekuatan seluruh dunia dari zaman yang paling purba hingga yang paling modern. Alias tidak mungkin."

"Dan…"

"Hanya ada satu makhluk yang bisa menandingi Shinryu dalam masalah kekuatan. Makhluk yang terus melompati dimensi, makhluk yang selalu bisa memperbanyak dan memperkuat dirinya sendiri sebanyak dunia ini tercipta. Makhluk yang kita sebut…"

"…Omega…"

Mereka semua terdiam. Lightning menyenggol orang yang berada di sebelah kirinya, Desch dari dunia ketiga.

"Apa itu Omega?"

"Monster mesin. Orang-orang dari dunia kelima menyebutnya 'Iblis tak berjiwa dan berhati'. Tantangan tertinggi bagi para White Knights di dunia mereka masing-masing. Musuh bebuyutan Shinryu yang menghuni Void dan sudah muncul di dunia I, IV, V, VI, VII, VIII, X, XI, dan XII. Di ciptakan khusus dengan tujuan untuk memusnahkan Shinryu."

"Kau bercanda…"

"Permisi, kupo…"

Seekor Moogle berbulu lavender muda dengan strip-strip ungu di tubuhnya mengambang lambat menuju Lucius. Warrior of Light membiarkan Moogle itu mendarat di lengannya. Moogle itu menyeimbangkan dirinya untuk beberapa saat dan menyamankan dirinya di atas bahu Lucius.

"Artemicion…"

"Surat dari High Seraph, kupo."

Artemicion mengeluarkan segulung perkamen dari tas kulit punggungnya dan menyerahkannya pada Lucius. Dia melirik ke arah White Knights yang lain, sebelum membuka perkamen itu dan membacanya. Setiap matanya bergerak mengikuti setiap katanya, semakin dalam alisnya berkerut. Setelah selesai, dia memandang Mognet itu.

"Apa kau benar-benar menerima surat ini dari High Seraph Council?"

"Benar, kupo. Jangan remehkan Mognet, kupo. Kenapa memangnya, kupo?"

"Karena aku menolak untuk mempercayainya!" raung Lucius sambil melempar perkamen itu ke tanah dan bersiap untuk membakarnya habis dengan Red Fang. Cecil dan Cloud berusaha menghentikannya, sementara Luneth mengambil perkamen itu dan membacanya keras-keras.

Kepada para Prajurit Cosmos yang terhormat.

Dikarenakan proses pembentukan dimensi yang hampir selesai, akan terjadi pemisahan antara tiga dimensi dari dunia ketiga belas. Masalah dari kedua dunia yang lain adalah, penceritaan mereka belum selesai. Jika mereka tidak kembali dalam waktu yang telah ditentukan, kesempatan mereka untuk kembali ke dunia masing-masing akan sangat tipis atau bahkan tidak ada sama sekali.

Saat satu orang dari dunia lain tidak kembali ke tanah pribuminya dalam waktu panjang, dikhawatirkan akan terjadi ketidakseimbangan antara dunia yang terlibat. Kalian dan pihak Chaos diminta untuk menyerahkan orang-orang yang bukan berasal dari Pulse dan Cocoon untuk menghindari hal tersebut. Kalian diberi lima hari untuk melaksanakan penyerahan tersebut.

Terima kasih atas kerja samanya.

Tertanda,

High Seraph Council

"Tunggu dulu, tunggu dulu. Jadi maksudnya mereka mengharuskan kita untuk mengembalikan Ace dan yang lainnya… setelah orang-orang dewan itu menganjurkan untuk merekrut mereka? Bukannya itu agak plin-plan?"

"Jadi ini maksudnya dunia ketiga belas yang lain akan dibatalkan. Bukan benar-benar dihilangkan, tapi dilarang untuk mengikuti Dissidia."

"Aku jadi semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka itu…"

Suara gemuruh protes dari orang-orang yang agak terbuka dengan pikiran mereka segera memenuhi aula itu. Rydia kembali berdiri dan mengayunkan cambuknya lagi untuk membungkam yang lain.

"Semuanya tenang!"

Setelah yakin semua sudah tidak berbicara lagi, kini giliran Tifa yang berdiri.

"Kita tidak punya pilihan. Kalau memang itu yang sudah ditetapkan, kita tidak bisa protes." Mendengar itu, Zell segera menyanggah.

"Jadi kita akan biarkan mereka menjadikan kita bulan-bulanan?"

"Jadi apa yang kau sarankan? Menyerang High Seraph bukan ide bagus di saat seperti ini. Kita tidak punya pilihan lain." Faris segera mengiyakan.

"Aku setuju dengan Tifa. Paling tidak kita bisa menyalurkan kemarahan kita saat perang sungguhannya. Masalahnya adalah dengan orang yang satunya lagi, Stella. Aku punya firasat pihak Chaos tidak akan menyerahkan begitu saja."

"Mungkin ya." Ashe akhirnya angkat bicara, "Chaos menginginkan ketidakteraturan dunia. Jika dia tidak menyerahkan Stella, keseimbangan akan terganggu. Itu sama sekali tidak akan mengganggunya karena memang untuk itu dia ada. Namun ada kemungkinan dia akan mematuhi perintah, dan mengembalikan nona Stella bersama dengan saat terakhir gerbangnya tertutup jika gadis itu mengetahui dia tidak akan bisa kembali ke dunianya jika terus berada di sini."

"Jadi, hanya terserah kita…"

88888

Selesai. Memang benar Omega muncul di Final Fantasy yang sudah disebutkan. Tapi kebanyakan dia itu muncul di remake. Seperti contohnya, FF4 Omega muncul di sekuelnya, The Years After. FF1 punya Omega di Dawn of Soul remake, dan FF11 Omega baru muncul di Chain of Promathia expansion. Tapi karena ini adalah masalah kemunculan Omega secara keseluruhan, jadi saya menggunakan semua kemunculan-kemunculan Omega. Secara resmi, Omega dan Shinryu itu muncul di FF5, jadi orang-orang dari Final Fantasy V yang paling banyak tahu tentang mereka.

88888

Glossary

Omega

Senjata kuno ciptaan musuh Lufenia. Lenyap setelah Garland mengirimnya ke Void, dan sejak saat itu dia berkelana dari satu dimensi ke dimensi lain. Menjadikan dunia kelima sebagai tempat berkembang biak, dia memperbanyak diri sendiri dan memperkuat diri dengan menantang petarung terkuat di dunia itu, lalu memperbaiki kekurangannya setiap kali kopiannya kalah. Tujuan sebenarnya dia diciptakan adalah untuk memusnahkan The Great Wyrm. Dengan hilangnya penciptanya, Omega kini berkelana tanpa tujuan selain untuk menghancurkan Shinryu, terus memperkuat dirinya sendiri tanpa henti di dasar Void untuk tujuan itu.

Shinryu

Naga dewa di Dissidia. Dia selalu terbangun setiap kali salah satu pihak, baik Cosmos maupun Chaos, terbunuh dan membangkitkan dewa yang kalah lalu memulai lingkaran perang kembali. Dikatakan sebagai 'dia yang mencium tumit Omega', namun sebenarnya dia adalah yang lebih kuat saat melawan Omega versi pertama, sesuatu yang dia banggakan hingga saat ini. Awalnya adalah penjaga Ragnarok di Void, The Great Will menjadikannya penjaga keseimbangan Dissidia melihat kekuatannya yang bahkan bisa membuat petualang paling keras menangis seperti bayi.

88888

Seperti yang sudah dijelaskan, Omega dan Shinryu muncul secara resmi di FF5. game ini terkenal di antara FF fans sebagai game yang penuh dengan Superboss yang tidak kenal ampun. Di suatu tempat di Bonus Dungeon FF5 GBA remake, ada suatu daerah yang isinya cuma kopian Omega. Dengan kekuatan yang sama persis dengan Omega yang dilawan pertama kali di Interdimensional Rift, dengan jumlah yang kira-kira ada sekitar 10-15 buah, dengan ujung tempat itu ada versi Omega yang bahkan lebih kuat lagi, Omega Mk. II. Dengan adanya hal itu, saya membuat teori bahwa sebenarnya Omega yang muncul di setiap dunia itu cuma kopian dan semakin dilawan, Omega makin kuat. Hal itu didukung dengan kemunculan Omega Mk. XII di FF12.

Di tempat yang sama, Shinryu's Roost yang menjadi tempat bersemayamnya berbagai jenis naga yang lebih mementingkan strategi untuk dikalahkan, versi Shinryu yang lebih kuat bertugas sebagai monster-in-a-box. Kebanyakan kemunculan Shinryu memang untuk menjaga Ragnarok, dan ini akan jadi plot point di fanfic ini. Kalau sudah tahu apa kegunaan Ragnarok di FF13 mungkin sudah punya bayangan.

Dan… untuk catatan, sampai saat ini saya belum bisa menakluk Omega Mk. II dan Neo-Shinryu. Bahkan dengan party berlevel 55-60 dengan 10 job mastered di FF5.

88888

Kemampuan-kemampuan yang ditunjukkan Tarot di pertarungan melawan Noctis adalah senjata-senjata dan skill dari Gambler dan Evoker (Summoner tingkat rendah). Kemampuannya antara lain:

1. Spirit Summoning : menggunakan kartu untuk memanggil roh elemen untuk bertarung. Kebanyakan sihir yang digunakannya adalah berasal dari situ. Spirit yang dipanggil kali itu adalah Undine (air), Salamander (api), Djinn (angin dan petir), Golem (bumi), dan Shadow (kegelapan).

2. Dart / Card throwing : skill dasar dari Gambler.

3. Fixed Dice : senjata terkuat Gambler. Kekuatan serangan ledakan yang dihasilkan dadu itu adalah jumlah angka yang keluar dari satu lemparan. Jadi, 6-6-6 adalah kombinasi paling kuat dari Fixed Dice. Itu, dan ditambah 666 adalah angka tanda setan.

4. Gil Toss : menembakkan seretetan koin. Semakin banyak semakin bagus, namun mengharuskan penggunaannya memiliki modal yang cukup besar. Sebenarnya skill dari Samurai class, tapi bisa menjadi skill Gambler class dengan kelengkapan tertentu.

5. Summon, Odin : EX Mode dari Tarot. menggabungkan dirinya sendiri dengan Odin yang dia panggil dari dalam kartu dan mengganti skill-nya dari Gambler menjadi Warrior.