Melewati Hujan di Bawah Bayang-Bayang
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.
Warning: angsty
Spoiler: Chapter manga Naruto dari 315-331.
Sakura mengusap kedua matanya. Tetapi pemandangan di depannya tidak berubah. Ia melihat Sasuke melakukan latihan taijutsu di depannya. Daun-daun berterbangan. Ia melihat wajah para Hokage yang terukir di depan gunung. Ia mencium bau kue-kue dango di dekatnya. Inilah Konoha…
"Sasuke-kun!" Sakura melihat dirinya yang masih kecil, berlari ke arah Sasuke yang sepertinya tidak menghiraukan kedatangannya.
"Sasuke-kun… ini aku buat bekal, nasi kepal. Ini pertamanya kali aku buat jadi nggak sebagus yang di toko…" Sakura kecil tersipu malu.
Sasuke menghentikan latihannya, lalu berbalik ke arahnya dengan jengkel.
"Apa kamu nggak bisa lihat aku sibuk latihan?" ujarnya marah.
Sakura terkejut lalu mendekap kotak makanannya.
"Maaf Sasuke-kun… tapi aku kira kamu akan lapar setelah latihan…"
"Hmpf, aku tidak butuh perhatianmu. Jangan menggangguku," Sasuke kembali berlatih.
Sakura belum ingin menyerah. Ia susah payah berusaha sekuat tenaga tanpa bantuan ibunya untuk membuat nasi kepal.
"Tunggu..! Tolong dicicipi..!" Sakura menggenggam ujung bajunya Sasuke.
"Apaan sih?" Sasuke berbalik dan mencoba mendorong Sakura menjauh darinya, tetapi tangannya mengenai kotak makanan yang dibawa Sakura. Kotaknya jatuh dan isinya tumpah. Sakura membisu. Saat melihat masakannya hancur di atas tanah ia mulai menangis.
Sasuke terdiam, tetapi kemudian ia menghela napas dengan frustasi. Sesaat ia ragu, tetapi kemudian ia mengambil satu nasi kepal, menghilangnkan helai-helai rumput yang lengket dengan nasinya, lalu memakannya. Sakura langsung berhenti menangis. Sasuke menelan. Sakura menunggu jawabannya dengan jantung berdebar-debar.
"Nggak buruk," ujar Sasuke.
"T-tapi…" Sakura tidak tahu harus bilang apa saking bahagianya.
„Dengar ya, aku tidak suka berhutang budi. Makanya aku nggak mau terima masakanmu. Lagipula aku punya rencana sendiri akan makan apa yang akan berpengaruh pada latihanku. Dan aku nggak mau kalau para cewek yang lainnya mengikuti contohmu. Jadi nggak usah memasak buatku lagi. Kali ini aku buat pengecualian. Sekarang jangan menggangguku," Sasuke mendengus, mengambil banyak kunai dan kembali sibuk melakukan latihan.
Sakura membersihkan nasi-nasi kepal yang berserakan. Ia tidak ingin Sasuke menginjaknya, lalu terpeleset. Sesaat sebelum pergi, Sakura berseru, "makasih Sasuke-kun! Sasuke-kun memang baik seperti yang aku duga!"
Sasuke mengalihkan pandangannya dengan jengkel sambil berkata ‚hn' tetapi perasaan Sakura mengatakan bahwa ia tidak sejengkel yang terlihat…
Sakura berlari tersenyum bahagia sambil mendekap kotak nasinya erat-erat. Melewati dirinya yang lebih tua sepuluh tahun.
Aku adalah sebuah pengecualian…
"Ini… kenapa aku melihat masa laluku…" Sakura bertanya-tanya. „Ini nggak nyata…"
Tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Ada yang menonton kami di bawah bayangang pepohonan… siapa…?
Dengan pelan ia berbalik – lalu terbangun. Sakura memerlukan beberapa detik untuk sadar akan dimana ia sebenarnya berada. Ia ingat ia ada di tempat persembunyian Akatsuki… jauh dari Konoha… jauh dari Sasuke…
Sakura mengusap kedua matanya yang mulai perih dan berkaca-kaca. Mimpinya barusan terlalu banyak membuatnya merasakan berbagai macam emosi. Inilah akibatnya kalau ia terlalu banyak berpikir tentang Sasuke.
Sakura bangkit, pergi mencuci muka, bertemu Deidara yang dengan jengkel membawakannya sarapan pagi. Sakura menunggu sampai ia menutup pintu.
Sakura menghabiskan makanannya dengan pelan. Sudah beberapa hari ia disini? Benarkah sudah empat hari sejak ia ditangkap Akatsuki? Bagaimana kabarnya yang lain ya…? Dan kenapa akhir-akhir ini banyak bermimpi tentang masa lalunya?
Sakura menghela napas, meletakkan sumpitnya ke atas mangkuk. Hari-hari terakhir ini ia menghabiskan waktu tidur dan mengumpulkan chakra untuk sembuh. Lengannya sudah merasa lebih baik. Jika ia terus beristirahat ia akan sembuh dalam waktu dekat ini. Tapi apa yang harus ia lakukan untuk melewati waktu yang menjemukan ini? Ia tidak tahu harus melakukan apa…
Seandainya pintunya tidak terkunci ia bisa keluar berjalan-jalan sedikit. Tentu saja ia tidak bisa melarikan diri, dengan banyaknya perangkap dan jurus-jurus aneh milik Zetsu. Ah seandainya saja…
'Berhenti mengeluh seperti seorang idiot dan keluarlah kalau kamu mau. Kamarnya nggak terkunci', ujar dirinya yang lagi satu.
Eh…?
Sakura bergegas ke pintunya. Ia membukanya. Benar saja! Pintunya nggak terkunci. Oh buat apa dikunci? Kalau ia punya chakra ia bisa membanting pintunya menjadi seribu serpihan, tapi ia tetap tidak mungkin melarikan diri. Ya ya… Kenapa nggak terpikir sebelumnya ya? Sakura sweatdrop.
Eh tunggu dulu. Jadi kalau tertidur siapa saja bisa masuk?
Sakura berjanji akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Walaupun ini markas rahasia Akatsuki tapi tetap saja mereka semua cowok. Hiiiiii… Sakura merinding.
Sakura dengan hati-hati keluar dari kamarnya. Kakinya dengan pelan menyentuh lantai kayu rumah-rumah khas gaya Jepang. Ah udara segar, cuaca cerah, kecipan burung. Suasana damai di gua singa.
Sakura tersenyum. Ia menyelusuri koridor-koridornya dengan riang. Ia bertemu Kisame yang minum sake dengan tenang.
"Jangan memasuki kamar-kamar milik kami dan kamu tidak akan mendapat masalah", ujar Kisame dengan senyum ngeri.
Sakura mengangguk, mengerti maksudnya. Sebaiknya ia tidak terlalu mengikuti perasaan ingin-tahunya.
Sakura menemukan sebuah kebun. Ia memekik riang. Ada beberapa pohon salah satunya adalah pohon sakura, bunga-bunga liar bemekaran dan ada juga sebuah kolam dengan penuh ikan. Sakura bertelanjang kaki berlari ke atas rumput, melompat ke atas pohon sakura, duduk di atas dahannya yang kuat. Suasana seperti ini mengingatkannya akan Konoha. Disini ia bisa merasa tenang. Berlari dari kenyataan kalau ia sebenarnya menjadi sekapan kelompok kriminal paling berbahaya di dunia shinobi. Tapi sekarang ia adalah Sakura yang masih hidup dan tidak sedang menjalankan misi. Hanya Sakura yang menikmati saat-saatnya yang damai dan kesepian. Sakura tersenyum lebar membiarkan kelopak-kelopak sakura mengelus pipinya. Wanginya membuat Sakura merasa nyaman sekali. Ia menutup kedua matanya, dan saking merasa damainya ia tertidur langsung.
Itachi baru saja selesai latihan. Ia mengambil sebuah handuk yang ia siapkan, lalu mengeringkan kening dan dadanya yang bercucuran keringat. Ia memungut bajunya, kemudian menyelusuri koridor-koridor, ke arah kamarnya, melewati satu-satunya kebun yang markas ini punya. Langkah-langkahnya yang tenang berhenti saat ia mendapati Sakura tertidur dengan senyum lebar di atas pohon yang sama dengan namanya.
Untuk beberapa saat ia tidak bergerak, tidak ada emosi yang terpancar dari wajahnya. Angin memainkan rambutnya yang hitam dan halus, sama halnya ia memainkan rambut pink milik kunoichi itu. Itachi memandang Sakura untuk waktu yang lama, sampai ia melangkah pergi, jauh dari kebun indah bermandikan cahaya, melangkah ke kamarnya yang dingin dan gelap.
Matahari terbenam dan suhunya semakin turun seiring hilangnya sumber cahaya utama dunia ini. Kegelapan datang dan markas rahasia itu sekarang menggunakan lampu-lampu sebagai sumber cahayanya. Seseorang dengan rambut panjang dan ekspresi jengkel menyelusuri koridor-koridor dengan terburu-buru.
Bagus sekali, kenapa harus aku yang membangunkannya?, gerutu Deidara. Ia sampai ke kebun itu, menemukan kunoichi menyebalkan itu tertidur nyaman di atas pohon.
Hah, akan kuberi pelajaran!
Deidara mengambil segumpalan tanah liat yang membentuk burung kecil, ia melemparkannya, burung itu terbang ke arah Sakura, berhenti di depan wajahnya. Deidara melakukan segelnya, dan sebua ledakan kecil terdengar, diikuti jeritan kaget milik Sakura. Gadis itu terjatuh dari atas pohon, tetapi di detik-detik terakhir ia mampu jatuh di atas kedua kakinya, seperti yang ia belajar dari latihannya sebagai murid Tsunade. Ia mendapati Deidara tertawa senang melihatnya kacau.
"Apa masalahmu?" teriak Sakura, tidak peduli ia seorang anggota Akatsuki. „Menyerang orang yang sedang tidur adalah tindakan pengecut!"
Deidara berhenti tertawa, amarah terpancar dari wajahnya.
"Masalahku adalah bahwa aku menjadi penjemputmu untuk makan malam, hanya karena kamu tidur enak-enakkan disini!" Deidara menggerutu dan Sakura memutuskan ia sebaiknya tidak terlalu membuat Deidara sebal.
Dengan hati-hati ia mengikuti Deidara ke ruang makan. Semua anggota Akatsuki sudah mulai makan dan yakiniku-nya sudah habis, membuat Deidara tambah sebal kepada Sakura. Ia sekarang mengerti kenapa Deidara sangat jengkel kepadanya.
Sakura mengambil nasi dan sayur, mengucapkan syukur kepada Kami bahwa ia setidaknya masih dapat makan.
"Hey kunoichi, bawakan aku nasi," tiba-tiba Hidan memerintah Sakura.
Sakura memandang Hidan, lalu mangkuk nasi di tengah-tengah meja. Ya benar, nasinya habis, jadi harus ia ambilkan di dapur. Ia mengambil mangkuk yang Hidan angkat ke arahnya, pergi ke dapur dan mengisi mangkuknya dengan nasi baru. Entah kenapa Hidan hari ini dalam mood yang sangat bagus. Begitu juga dengan Kakuzu karena mereka mulai mengatakan beberapa lelucon.
Sakura berjalan keluar dari dapur, dari samping ia tiba-tiba menyadari garis-garis jahitan hitam di lehernya Hidan. Anggota Akatsuki itu dengan puas menceritakan bagaimana ia membunuh seseorang yang amat sangat menyebalkan baginya. Bagaiman memuaskan rasanya melihat wajah shock dan rasa kehilangan murid orang yang ia bunuh.
"Lalu dia menangis berlari ke arah gurunya. Benar-benar kelihatan payah sekali dia. Aku begitu menikmati rasa putus asanya, mengetahui gurunya nggak mungkin akan bertahan. Hah siapa yang suruh dia memotong kepalaku! Sampai sekarang rasanya masih sakit!" keluh Hidan.
Sakura menaruh mangkuk nasinya di samping Hidan dan beranjak pergi saat Hidan mengucapkan sebuah nama yang amat familiar baginya.
"Rasanya menyebalkan sekali, ia terus berteriak ‚Asuma-sensei!' ‚Asuma-sensei!' terus" Hidan tersenyum ngeri. „Tapi yah bagian bagusnya adalah aku merobek habis isi tubuhnya. Haha!"
Sakura berbalik, memandang Hidan dengan raut wajah tidak percaya.
"Asuma-sensei… mati..?"
Hidan memandangnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Oh kamu kenal orang menyebalkan itu? Maaf ya kalau dia sudah mati, tanganku terselip, haha!"
Deidara dan Kisame ikut tertawa. Sakura masih berdiri mematung, ia memikirkan Kurenai-sensei yang sekarang harus melewati masa-masa yang amat menyiksakan, kehilangan orang yang paling ia cintai. Ia pernah mendapati kedua sensei itu berjalan-jalan di kota, Kuerenai mendekap lengan Asuma dengan lembut dan senyum penuh kebahagian. Sekarang semuanya itu hancur. Dua orang yang saling mencintai telah dipisahkan… Kurenai-sensei akan merasa kehilangan seumur hidupnya… Shikamaru… Chouji… Ino juga….
Sakura mengepalkan tangannya saat Hidan masih belum berhenti tertawa. Ia mengangkat tinjunya dan melancarkannya ke wajah Hidan, membuat kepala Hidan sedikit terlepas dari tubuhnya. Tawanya langsung berhenti diikuti teriakannya.
"Kau! Lihat saja! Jangan meremehkan teman-temanku! Tim sepuluh akan membalasmu suatu hari! Aku berharap Shikamaru membalasmu seratus kali lipat!"
Darah Hidan berkecipratan ke atas meja, ke atas makanan. Para anggota Akatsuki langsung bangkit dari kursinya kecuali Itachi. Ia melompat ke arah Sakura dan membantingnya ke lantai, membuat Sakura langsung pingsan.
"Kunoichi brengsek! Akan kubunuh kau!"
"Sialan, makan malamku sekarang hancur untuk kedua kalinya oleh dia!"
"Kakuzu! Bantu aku! Kepalaku mau lepas lagi!"
"Berhenti berteriak seperti itu."
"Itachi! Kemana kau bawa dia! Aku belum memberinya pelajaran! Itachi!"
"Deidara-senpai, nasimu penuh darah Hidan! Haha!"
"Diam kamu Tobi!"
„Itachi! Kembali kau!"
xxxx
Sakura bermimpi lagi. Ia bermimpi menangkap Sasuke yang terjatuh setelah serangan Lee sebelum ujian Chuunin.
"Sasuke kamu nggak apa-apa!"
Sakura mengguman nama Sasuke. Dari kejauhan ia mendengar suara hujan mengguyur di luar. Seperti orang yang lagi menangis tersedu-sedu.
Jauh, sangat jauh dari markas rahasia Akatsuki, sebuah tim Anbu Konoha yang sangat kuat bergegas menembus hutan. Mencari dan mencari, mengikuti jejak.
xxxx
Esok harinya Sakura terbangun dengan kepala berdenyut. Butuh beberapa menit sampai ia menyadari apa yang terjadi malam kemarin. Kata-kata Hidan, tinjunya, serangan Itachi. Karena itu kepalanya masih terasa sakit sekali. Sakura menggosok keningnya. Saat kembali mengingat saat ia meninju Hidan, ia mulai ketakutan.
Hidan pasti akan membalas dendam, tak peduli aku tawanan penting atau nggak…
Bagaimana ini? Ia tidak bisa melarikan diri. Ia tidak bisa melawan Hidan sendirian. Bagaimana ia bisa keluar dari situasi ini?
Ia mendengar langkah kaki dan suara yang mendekat, membuatnya semakin merapat ke dinding. Bersiap-siap, siapapun yang melewati pintu itu, ia akan melawannya, walaupun ia akan mati.
Tetapi tidak ada yang masuk, malah pintu itu tiba-tiba diselimuti chakra aneh berwarna kehijau-hijauan. Sakura mendekat, mengamati dan menganalisisnya. Ini sebuah jurus yang pasti akan membuatnya nggak bisa lolos dari sini. Tapi kenapa? Apakah semua anggota Akatsuki harus pergi? Untuk apa?
Sakura meletakkan telinganya ke dinding. Ia bisa mendengar beberapa kata dari percakapan dua orang di luar. Ia mendengar kata-kata seperti ‚pemimpin', ‚penyegelan' dan ‚nibi'.
Sakura merasakan kehadiran orang-orang itu tiba-tiba menghilang. Sekarang ia sendirian. Ia menghela napas dengan syukur.
xxxx
Tim Anbu mendeteksi percikan darah di atas tanah berkat indra tajam salah satu anggota mereka. Mereka menganalisisnya.
"Itu adalah darah dengan DNA dari sampel yang kita ambil dari pakaian Asuma. Milik Akatsuki yang membunuhnya. Kita sudah sangat dekat," ujar salah seorang dari mereka.
"Arah sini," tunjuk seorang Anbu yang lain.
Tim itu kembali bergegas. Mereka belum cukup dekat.
xxxx
Sakura melewati hari itu dengan penuh ketakutan dan rasa lapar. Sejak kemarin belum ada yang membawakannya makanan. Ia terpaksa minum banyak air kran, tetapi hal itu tidak banyak membantu. Ia yakin Akatsuki akan pelan-pelan membunuhnya. Ia merasa amat tersiksa. Saking tersiksanya ia berharap seseorang secepatnya datang menjemputnya untuk makan malam, walaupun ia masih merasa takut sekali.
Saat pintunya tiba-tiba terbuka, dan Deidara masuk, Sakura mengangkat kepalanya yang ia letakkan lemas di atas kedua lututnya.
"Makan malam," gerutu Deidara.
Sakura langsung mengikutinya. Bau yang keluar dari ruang makan begitu mereka mendekat, membuat Sakura tambah lapar. Ia nggak peduli apa yang ia dapat, yang jelas makan!
Hal pertama yang Sakura sadari saat memasuki ruang makan, adalah kenyataan bahwa Itachi dan Kisame tidak terlihat dimanapun.
Dimanakah ia…?
Tetapi ada Hidan dan Kakuzu. Sakura mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu duduk di atas kursi. Menu makan malam ini, nasi, sayur dan ikan. Puji kepada Kami-sama.
Zetsu masuk, menanyakan dimana Itachi. Kakuzu menjawab, mengatakan Itachi dan Kisame menemui sang pemimpin, mengambil gulungan peta lokasi para bijuu yang masih tersisa.
Sambil makan Sakura tidak meminimalkan kewaspadaannya. Dari sudut matanya ia mengamati setiap gerakan Hidan. Anehnya Hidan bersikap seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Sakura sadar Akatsuki bersikap seperti kembali ke rutinitas mereka masing-masing.
'Sakura… berhati-hatilah…' ucap dirinya yang lain.
Sakura mengangkat wajahnya. Ia punya firasat buruk. Entah kenapa sejak ia tahu Itachi tidak ada disini ia merasa… rapuh.
Sebuah halilintar terlihat di luar, cahayanya masuk melalui jendela ruang makan. Sakura mengalihkan kepalanya ke arah Hidan dengan pelan-pelan. Hidan memandang ke arahnya dengan senyum tipis. Ia meletakkan sumpitnya.
"Hey semuanya, bagaimana kalau sambil menunggu Itachi kembali, kita sedikit bermain-main?" ajak Hidan.
Kakuzu menggerutu bahwa ini bukan waktunya main-main, tetapi Hidan tidak menghiraukannya.
"Bagaimana kalau kita bermain petak umpet sambil berlatih kejar-kejaran?"
Para anggota Akatsuki terlihat tidak begitu antusias seperti Hidan. Jelaslah, mereka bukan anak-anak lagi, tetapi Hidan tidak menyerah.
"Bagaimana… kalau kita beri kunoichi ini kesempatan untuk kabur. Dan siapa yang berhasil menangkapnya duluan, dialah yang menang."
Sekarang yang lainnya terlihat tertarik.
"Pasti bakalan asyik…" bisik Hidan.
Para anggotanya memandang Sakura yang berwajah pucat.
"Bagaimana..? Ada yang mau ikut?" Hidan tersenyum kejam, diikuti yang lainnya.
Sakura gemetaran, menggelengkan kepalanya. "A-aku…"
"Ayolah Sakura… kami berjanji kalau kamu berhasil lolos, kami akan membiarkanmu. Bukankah ini kesempatan bagus? Kamu bisa pergi dari sini…" senyum Hidan tambah lebar.
Kalau aku berhasil…
Sakura masih duduk mematung, tidak tahu harus melakukan apa, tetapi Hidan sudah memikirkan sebuah cara. Ia memukul Sakura, membuatnya terlempar ke arah pintu dapur yang menuju keluar. Sakura memekik, menggosok pipinya yang bengkak. Ia melihat Hidan tersenyum puas ke arahnya.
Ia ingin balas dendam…
'Sakura lari! Kalau kamu nggak lari mereka akan serius untuk membunuhmu! Lari Sakura!' teriak dirinya yang lain.
Sakura bangkit, berbalik, membuka pintu, lalu berlari secepat yang ia bisa. Ia melompati pohon-pohon. Tidak berhenti sedetik, tidak menghiraukan guntur dan halilintar di atasnya. Malam tambah gelap dengan adanya awan-awan badai. Tetapi Sakura adalah seorang kunoichi, murid Hokage kelima. Ia sudah berlatih berlari di dalam kegelapan. Jantungnya berdetak cepat, semakin ia berlari. Apakah Akatsuki sedang mengejarku…?
Sakura ingin melihat ke belakang, tetapi dirinya yang lainnya terus menyuruhnya untuk lari. Kenapa ia begitu panik..?
'Awas! Di belakangmu!'
Sakura jatuh ke atas sebuah dahan, berjongkok, lalu melompat tinggi sambil berbalik, melewati puncak pohon-pohon. Serangan kunai melewati tempat ia berdiri tadi. Ia melihat Deidara melompat jatuh dari burung raksasanya. Mereka berpapasan di udara. Halilintar terus bermunculan. Dalam slow motion Sakura melihat burung tanah liat kecil terbang ke arahnya. Ia teringat apa yang terjadi saat ia tertidur di atas pohon dua hari yang kemarin. Ia melihat Deidara mengangkat kedua tangannya untuk melakukan segel, tetapi Sakura lebih cepat. Sambil jatuh kembali ke bawah ia mengangkat kakinya, menendang burung itu ke arah Deidara. Anggota Akatsuki kaget saat ledakan terjadi tepat di depan wajahnya.
Itu balasan atas kemarin!
Sakura jatuh kembali ke dalam hutan. Ia tidak melihat ke atas untuk mengetahui apa yang terjadi pada Deidara, tetapi ia kembali berlari di atas pepohonan. Melompat semakin tinggi, berlari semakin cepat.
Kalian mau bermain-main? Baiklah. Kalau itu yang kalian mau. Aku mungkin akan mati pada akhirnya, tapi akan kubuat kalian semua terluka untuk waktu yang lama.
Sakura tahu ia harus berhati-hati. Bukan hanya ia kalah melawan jumlah mereka, ia juga tidak punya senjata. Sambil berlari ia mencoba mengingat siapa yang ikut makan malam tadi.
Itachi dan Kisame sedang pergi. Sang pemimpin dan partnernya juga ia tahu dengan pasti, ada di tempat yang jauh dari sini. Sasori mati, begitu juga Orochimaru. Hanya tinggal Hidan, Kakuzu, Zetsu dan Deidara. Tunggu bukankah ada seorang lagi? Tapi tadi ia makan malam hanya dengan empat anggota saja. Siapa namanya? Sakura tidak bisa ingat.
Tiba-tiba dari samping dan dari pohon yang sedang ia loncati, keluarlah Zetsu. Sakura menjerit saat Zetsu dengan mengerikan mencoba menangkapnya dengan tatapan lapar. Sakura melancarkan sebuah tendangan ke perut Zetsu, tetapi ia menangkap kakinya. Sakura menjatuhkan dirinya dari pohon, membawa Zetsu jatuh bersamanya. Dahan-dahan membuat Zetsu melepaskannya, Sakura menangkap sebuah dahan, berayun ke depan, lalu kembali melompat.
Pohon-pohon semakin bertambah sedikit, Sakura terpaksa berlari di bawah. Ia terus berlari sekuat tenaga, menghantam dahan-dahan yang ada di depannya. Ia mengambil satu satu dahan, mengalirkan chakranya yang melimuti dahan itu seperti sebuah pedang. Ia tahu ‚pedang' itu tidak akan bertahan lama karena kayu tidak bisa menahan chakra seorang shinobi begitu dengan baik. Logam jauh lebih lama bertahan. Tetapi ini lebih baik daripada tidak ada senjata sama sekali.
Tiba-tiba Sakura berhenti. Di depannya ada sebuah padang rumput yang sangat luas. Sial. Padang rumput sangatlah berbahaya. Bukan karena dengan begitu para anggota Akatsuki bisa menemukannya dengan gampang, akan tetapi ia tahu dari pelajaran sains bahwa amat sangat dilarang untuk berada di tempat terbuka saat ada badai. Tetapi Sakura bisa merasakan kehadiran seseorang mendekat di belakangnya. Ia harus bertindak cepat!
Ia tidak punya pilihan lain. Ia menganalisis jarak dan luasnya padang rumput itu. Kemudian ia memotong tiga dahan panjang dengan tangganya. Ia mengalirkan chakra yang sangat banyak pada ketiga-tiganya. Saat semua pedang dahanya lebih tinggi daripada tubuhnya, ia melemparkan ketiga-tiganya ke padang rumput itu, membentuk sebuah garis dengan tiga titik. Titik pertama berada tidak jauh di depannya, titik kedua berada di tengah-tengah padang rumputnya dan titik ketiga berada di depan hutan selanjutnya. Sakura menggenggam erat pedang pertamanya, dan dengan cepat ia berlari keluar dari hutan.
Sakura menjerit saat sebuah petir menyambar pedang pertama yang ia lempar ke padang rumput. Ia terjatuh, cahaya itu hampir membutakan matanya, dan suara guntur hampir memecahkan gendang telinganya. Ia sangat bersyukur hujan belum jatuh atau ia sudah pasti kesetrum. Ia bangkit, kedua lutunya berdarah, tetapi ia tidak berhenti. Ia melewati pedang kedua, lalu tiba-tiba Kakuzu ada di depannya.
Sakura tidak bisa melihat apakah ia tersenyum atau tidak, kain itu menutup lebih dari setengah wajahnya. Demi Kami-sama ia sangat membenci kedua mata Kakuzu yang mengerikan itu.
Kakuzu dengan sangat cepat melancarkan kedua tangannya ke arah Sakura yang tidak mengharapkan serangan yang begitu cepat dari jarak jauh. Tiba-tiba petir menyambar pedang kedua dan untuk sesaat Kakuzu menutup kedua matanya. Kedua tangannya terhenti tepat di depan wajah Sakura. Suara guntur yang memekakkan telinga terdengar di atas mereka, Sakura terpaksa menutup kedua telinganya sampai suara itu menghilang. Kakuzu kembali sadar dari shock kecilnya, tetapi Sakura lebih cepat.
Dengan sigap ia menarik salah satu tangan Kakuzu, menariknya ke arahnya dengan sekuat tenaga. Mengayunkannya ke atas, ke tengah-tengah padang rumput, lalu secepatnya ia melepaskan Kakuzu. Sakura menjatuhkan dirinya ke tanah, menutup kedua telinganya. Dengan mata dan telinga tertutup ia masih bisa melihat cahaya petir dan mendengar suara guntur. Setelah semuanya menghilang ia melihat ke belakang. Kakuzu terbaring di atas tanah, asap mengepul dari tubuhnya.
Apakah ia mati..?
Sakura tidak yakin akan hal itu. Ia punya firasat bahwa semua anggota Akatsuki tidak mungkin bisa dikalahkan semudah itu. Dan apa itu yang pernah ia dengar dari Jiraiya-sensei? Bahwa saat kamu berpikir kamu sudah membunuh seorang anggota Akatsuki, justru di saat seperti itu mereka akan bangkit dan memperlihatkan kekuatanmu yang sesungguhnya? Oleh karena itu kita tidak boleh lengah sedikit pun…
Sakura sekuat tenaga berlari cepat masuk ke dalam hutan selanjutnya. Setelah sepuluh menit ia mulai kehilangan tenaganya. Sampai kapan ia harus terus berlari?
xxxx
Kapten tim Anbu memberi tanda kepada timnya untuk berhenti berlari. Mereka tidak bergerak saat sang kapten berbisik bahwa ia mendengar sesuatu. Suara yang sangat familiar. Ia mengintip dari balik pohon.
"Itu..!"
xxxx
Sakura tidak bisa lagi. Ia harus beristirahat. Sambil bernapas cepat ia menyandarkan dirinya ke pohon di sampingnya. Jantungnya berdetak cepat, seperti irama langkah kakinya yang berlari barusan.
'Jangan berhenti! Kita harus terus berlari!'
Aku harus istirahat, paru-paruku serasa terbakar…
'Jangan! Jangan! Masih ada satu anggota Akatsuki yang berkeliaran di sekitar sini!'
Sakura mencoba mengingat siapa yang belum ia papasan dari tadi, tetapi saat mengucapkan namanya semuanya sudah terlambat.
"Hidan…" bisik Sakura sambil memandang benda tajam yang menembus bahunya. Darahnya berjatuhan ke bawah, menodai daun-daun kering di sekitar kakinya.
Benda tajam itu ditarik dari belakang. Sakura menahan jeritan rasa sakitnya. Ia mencoba mengumpulkan chakra untuk menyembuhkan lukanya, tetapi ia dihantam dari belakang, terbanting ke pohon di depannya. Sakura terbatuk-batuk, ia bisa mengecap rasa darah di dalam mulutnya.
Sakura tambah lemas, dan jatuh ke atas kedua lutunya. Ia mencoba menahan dirinya dengan tangannya di atas tanah tetapi ia bisa merasakan tenaganya mulai menghilang. Sebuah bayangan jatuh di depannya. Hidan sekarang berada tepat di depannya.
"Kau benar-benar menyebalkan, beraninya kamu membuatku jengkel. Bukankah aku pernah bilang akan membunuhmu suatu saat? Dewa Jashin akan sangat menghargai korbanku kali ini. Bagaimanapun juga kamu adalah murid sang Hokage kelima. Sayang bahwa dengan begitu kami nggak bisa mendapatkan sang Kyuubi, tapi aku lebih suka mendapatkannya dengan tanganku sendiri. Ia akan menjadi korban paling besar yang akan kupersembahkan kepada dewa Jashin. Akan tetapi sebelumnya…" Hidan mencengkram rambut pink Sakura dengan erat dan memaksakannya untuk bangkit. Sakura mendesis, cengkraman maupun luka di bahunya membuatnya kesakitan seperti saat ditusuk oleh Sasori dulu.
"Sebelum membunuhmu, kamu harus menyerah kepada dewa Jashin. Ayolah. Akui dosa-dosamu dan persembahkanlah seluruh jiwamu kepadanya. Aku akan membunuhmu dengan cepat kalau kau lakukan itu," ujar Hidan dengan senyum penuh kemenangan.
Sakura terdiam sesaat. Ia mencoba meronta-ronta sedikit, tetapi Hidan langsung menamparnya dengan tangannya yang lain.
"Ayo cepat! Menyerahlah!"
Sakura kali ini tidak menjerit, maupun medesis. Ia menutup kedua matanya.
Ia ingin aku menjual jiwaku kepada dewa Jashin… Memberikan satu-satunya hal yang tidak bisa ia hancurkan, sebagai gantinya ia ingin hidup abadi… Oh begitu, jadi ia adalah korban pertama yang ia persembahkan kepada dewa Jashin, demi keinginannya untuk terus hidup abadi…
Sakura memandang kedua mata Hidan yang tidak memancarkan rasa kemanusiaan sama sekali.
Semuanya hanya demi ambisi, demi uang, demi kekuatan… Tapi walaupun aku punya jiwa aku masih punya banyak hal lain yang tidak bisa ia hancurkan.
"Aku…" Sakura berbisik. Hujan mulai jatuh dari langit.
Hidan semakin tersenyum ngeri, "ya?"
"Aku adalah Sakura Haruno, aku adalah murid khusus didikan sang Hokage. Aku adalah anggota tim tujuh, sahabat Naruto Uzumaki yang akan membungkam kalian semua. Aku punya banyak teman dan seseorang yang amat sangat aku cintai. Aku tidak akan menyerah kepada seseorang sepertimu maupun kepada sang setan sekaligus!" hujan sekarang mengguyur.
Hidan dengan geram dan penuh kemarahan kembali menusuk bahu Sakura, tepat dimana ia melukainya tadi. Sakura menjerit sekuat tenaga. Rasanya ia mau pingsan saking sakitnya. Hidan semakin menusuknya.
"Kau akan menyesal," bisiknya kejam.
Sakura sambil mencengkram benda tajam itu, meludahi wajah Hidan. "Pergilah ke neraka kau!"
Hidan menarik benda tajam itu, membuat darah Sakura bercipratan. Pandangan Sakura tambah kabur dan ia terjatuh ke tanah. Tenaganya semakin menghilang dan ia sudah tidak bisa bergerak karena shock dan rasa sakit.
Beginilah aku akan berakhir. Begitu menyedihkan. Jauh dari Konoha, jauh dari teman dan keluarga. Di sebuah hutan tak dikenal, dan oleh tangan anggota Akatsuki yang paling brengsek sedunia. Dan aku gagal untuk membawa Sasuke pulang.
Sakura menghela napas saat melihat Hidan semakin mendekat ke arahnya.
Yah setidaknya aku benar-benar berusaha sekuat tenaga. Aku sudah bukan lagi gadis yang cuma menunggu dan menjadi beban timku. Aku bisa bangga sedikit kepada diriku. Apa inilah rasanya mati sebagai seorang shinobi?
Dari kejauhan ia bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang berlari mendekat.
Para anggota Akatsuki yang lainnya sudah menemukanku. Berarti sekarang aku benar-benar akan mati.
Hidan berdiri tepat di depannya. Tidak ada rasa kasihan yang terlihat dari raut wajahnya. Sakura menghela napas lagi.
Inilah saatnya…
xxxx
Para Anbu berlari sekuat tenaga. Semoga mereka belum terlambat. Mereka semakin mendekati tempat dimana mereka mendengar suara-suara itu tadi. Sang kapten berlari lebih cepat.
Ia tiba-tiba berhenti. Di depannya terlihat markas rahasia Akatsuki.
xxxx
Hidan tersenyum, saat memandang kunoichi yang terbaring di bawahnya. Sakura menutup kedua matanya.
Selamat tinggal… semuanya.
'Jangan ngomong begitu. Semuanya belum berakhir.'
Sakura hanya bisa tersenyum mendengar perkataan dirinya yang lain.
Tidak semuanya sudah berakhir. Aku akan mati dan dengan begitu aku telah gagal membawa Sasuke pulang.
'Baiklah kalau gitu. Tapi sebelum mati beritahukanlah aku impianmu yang paling apa yang kamu coba abaikan selama ini.'
Bukankah kamu sudah tahu? Kamu kan diriku yang lagi satu.
'Ya tapi impianmu yang kamu katakan kepada yang lainnya bukanlah keinginanmu yang paling besar.'
Apa maksudmu?
'Kamu tahu maksudku.'
Keinginanku yang paling besar adalah terus bersama Sasuke selamanya. Hidup bahagia dengannya.
'Bukan.'
Sakura membuka kedua matanya, melihat Hidan mengangkat tangannya, bersiap untuk menikam kepalanya.
Air mata Sakura berjatuhan saat mengakui apa yang telah ia terus mencoba bohongi kepada dirinya selama ini.
Aku ingin mencintai dan dicintai dengan tulus…
Tangan Hidan dengan cepat bergerak ke arahnya. Sakura menutup kedua matanya dengan erat, saat hujan masih mengguyur di atasnya, menunggu rasa sakit itu datang untuk yang ketiga kalinya.
Tapi rasa sakit itu tidak datang untuk yang ketiga kalinya.
Suara hujan tidak menghilang, tidak ada cahaya yang membawanya ke tempat yang lebih baik. Sakura dengan pelan membuka kedua matanya.
Aroma wangi yang sangat familiar tercium di depannya.
Hutan di saat hujan… tapi lebih pekat…
Jubah Akatsuki, rambut panjang yang hitam. Pria itu berdiri di depannya, di antara dirinya dan Hidan. Sakura tidak bisa percaya. Begitu juga Hidan.
"Itachi!"
Hidan terlihat sangat amat sangat jengkel. „Itachi berani-beraninya kamu memukulku! Beraninya kamu melindungi gadis itu! Buat apa? Biarkan aku membunuhnya dan akan kutangkap kyuubi itu dengan tanganku sendiri!"
Itachi tidak menjawab, tetapi pandangan yang ia lemparkan ke arah Hidan membuatnya bungkam seketika. Hanya saja dari belakang Sakura tidak bisa melihatnya.
"Kembalilah ke markas Hidan. Perintah ketua. Sepertinya ada tim Anbu yang menemukan markas kita. Berkat ketelodoranmu."
Hidan mengepalkan kedua tanganya. Ia menggangguk, beranjak pergi, tetapi tiba-tiba ia melompat, menyerang Itachi.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Tiba-tiba ada banyak burung gagak berterbangan dari tubuh Itachi. Sakura mengangkat kedua lengannya, mencoba melindungi dirinya. Ia mendengar jeritan Hidan yang sepertinya melewati sebuah siksaan berat. Ia merasakan dua lengan kuat mengangkatnya dengan lembut. Dibawa pergi jauh dari Hidan yang masih berteriak. Sakura menurunkan tangganya. Itachi sedang melompat dengan lembut di atas pohon-pohon, membuatnya tidak merasakana sakit oleh hentakannya ke atas dahan-dahan.
Hujan terus mengguyur dan Sakura masih mengalami pendarahan, tetapi untuk saat ini ia hanya memperhatikan Itachi.
Ia menyelamatku… lagi.
Pandangan Itachi fokus ke depan, tetapi Sakura tahu bahwa ia tahu kalau Sakura memperhatikannya dengan saksama. Memperhatikan Itachi yang tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa, bagaimana tetesan hujan mengalir turun dari rambutnya yang hitam pekat. Sakura juga sadar bahwa ia tidak lagi menggunakan sharingan.
"Kamu mau membawaku kemana Itachi Uchiha..?" tanya Sakura lemah.
Itachi tidak menjawab. Sakura menghela napas. Tiba-tiba Itachi mengatakan sesuatu yang tidak ia duga sama sekali.
"Panggil aku Itachi."
Sakura memandangnya dengan tidak percaya.
"Baiklah, Itachi," entah kenapa saat mengucapkan namanya Sakura merasa sesak di dadanya. Kenapa ia selalu merasa begitu sesak di dekat Itachi?
"Makasih sudah menolongku tadi…"
Itachi masih belum memandang ke arahnya.
"Jangan bicara, kamu sedang mengalami pendarahan," suara gelap milik Itachi semakin suka didengar oleh Sakura.
"Makasih Itachi," Sakura tersenyum. Dan entah apa karena berada di ambang kematian atau karena ingin menghentikan rasa sesaknya ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Ia mengecup pipinya Itachi.
Sambil masih melompat dengan tenang dan tanpa suara, Itachi akhirnya berpaling ke arahnya. Ia masih terlihat tanpa emosi, tetapi saat ia berpaling, wajahnya menjadi sangatlah dekat dengan Sakura.
Sakura tidak tahu apa artinya semuanya ini. Ia tidak tahu lagi apakah orang di depannya adalah monster atau tidak. Tidak tahu lagi apa bagaimana ia bisa pulang. Yang ia tahu hanyalah bahwa situasi ini adalah saat yang tepat untuk mati.
Sakura tersenyum. Ia merasakan tenaganya tiba-tiba mulai menghilang dengan drastis.
Gak apa-apa…
Napas Sakura menjadi semakin lemah. Itachi memperlihatkan kedua mata sharingannya. Detik kemudian Sakura kehilangan kesadarannya. Dan detiknya lagi ia mendapati dirinya bermain riang dengan Sasuke dan Naruto di atas padang bunga yang luas.
Puuhhh, entah kenapa chapter ini rasanya panjang sekali. Butuh dua hari untuk menyelesaikannya. Entah kenapa saya masih agak nggak puas dengan hasilnya. Buat kalian yang ingin lebih banyak percakapan antara Sakura dan Itachi terjadi inilah dia. Tapi masih terbatas, karena mereka belum begitu dekat. Maaf memakan waktu lama, sibuk sekali disini. Tapi akan saya tetap berusaha untuk update lebih cepat.
Oh ya makasih banyak atas review kalian semua. Seandainya ada waktu untuk menjawab semuanya. Review kalian sangat membantu deh!
Ok saya pergi tidur sekarang, selamat malam semuanya. ^^
