Chapter 11
"Tunggu,.. Sakura!" Langkah kaki mereka berhenti. Sasuke membalikan badannya, onyx miliknya menyipit, ia memicingkan matanya, mencoba untuk memperjelas penglihatannya. Namun, sepertinya apa yang dilihatnya barusan itu bukan apa-apa. Sasuke menghela napas. "Huh? Ada apa, Sasuke?" Sakura, gadis awal 19 tahunan ini mengikuti arah pandang Sasuke, "Bukan apa-apa—"
Drrtt drttt..
Getaran di saku celana jeans-nya membuat Sasuke menggerutu sesaat, kemudian Sasuke-pun mengangkat panggilan telepon tersebut;
"Hn? Ada apa?" arah pandang mata Sasuke bertubrukan dengan pandangan emerald Sakura,
"Ya, Sakura ada bersamaku…" mendengar namanya disebut-sebut, pandangan mata Sakura semakin menyiratkan rasa penasaran.
"Aa, aku mengerti.." sambungan telepon terputus, beberapa detik sebelumnya, sebelum Sasuke memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya, ia memandangi layar ponselnya sebentar. Wallpaper yang menunjukan foto dirinya dengan pujaan hatinya, putri dari keluarga konglomerat Hyuga, Hinata Hyuga.
Sakura yang memang sudah menyadari akan hal tersebut hanya bisa tersenyum miris, 'Oh ayolah Sakura no baka! Kau bilang akan melupakannya, kan?' batin Sakura.
"Ayo!" Tanpa meminta persetujuan dari sang empunya tangan, Sasuke dengan cuek dan tidak memperhatikan lawan jenisnya itu menarik tangan Sakura agar mengikutinya. Sedangkan Sakura, ia berusaha mati-matian untuk tidak pingsan di tempat. Ketika ia menyadari Sasuke membawanya ke tempat parkir dimana mobil milik Sasuke terparkir, Sakura mulai memelankan langkahnya,
"A-ano,.. Sasuke kau mau membawaku.. kemana?" tanyanya, agak sedikit gerogi, Sasuke dengan santai menjawab, "Ke Universitas Konoha, Kakashi meminta kita untuk berkumpul." Seketika itu juga tubuh Sakura menegang, 'Ke.. Universitas Konoha? Be-berkumpul? P-pasti mereka akan menanyakan sample virus-nya. Kami-sama, bagaimana ini…' Sakura membisu dalam lamunannya, pintu mobil Sasuke sudah terbuka sejak dua menit yang lalu. "Woy! Apa yang kau pikirkan? Cepat masuk!" Teriak Sasuke berhasil membuyarkan lamunan Sakura. Bukan apa-apa, Sasuke berteriak agar suaranya terdengar. Karena hujan di luar sana semakin tidak bersahabat, suara halilintar bergemuruh terdengar dimana-mana. Yah, karena itulah..
"Sasuke.. kau duluan saja,.. aku.. masih ada u-urusan!" perkataan Sakura yang disertai dengan gerak-gerik gelisah matanya, mau tidak mau membuat Sasuke merasa curiga, "Apa kau gila? Kakashi meminta kita untuk berkumpul! Aku sudah mengatakan padanya akan membawamu bersamaku. Apa kata mereka kalau aku hanya datang sendirian, hah?" Sakura menundukan kepala merah mudanya, rambutnya jatuh menutupi wajahnya. Tangan Sakura mengepal erat. "Ta-tapi .. aku .. tidak bisa—" Sakura berlari, meninggalkan Sasuke yang masih dalam keadaan bingung. Dengan sigap Sasuke keluar dari dalam mobilnya,
"Berhenti bertindak kekanak-kanakan, Sakura!" Sakura menghentakan dengan kasar tangan Sasuke yang menahan tangannya, kemudian Sakura mendorong tubuh Sasuke hingga berhasil terdorong beberapa langkah kebelakang, "Urusai! Kau tidak tahu apa-apa! Jangan menanggilku kekanak-kanakan, kau tidak tahu apa-apa!" Sakura mundur beberapa langkah, napasnya kian memburu.
"Ck. Tentu saja aku tidak tahu apa-apa, memangnya kau pernah menceritakan masalahmu padaku?" Bibir Sasuke membentuk sebuah seringaian ketika onyx miliknya melihat emerald di depan sana bergerak-gerak gelisah,
"A-apa pedulimu?" Sakura terus mundur kebelakang ketika Sasuke mulai berjalan mendekatinya tidak lupa smirk evil terpencar di wajahnya yang angkuh namun rupawan.
"Apa peduliku?" tanya Sasuke balik. Suaranya terdengar begitu dingin dan menusuk, Sakura tidak bisa mundur lagi karena tembok di belakang tubuhnya membatasi pergerakan mundurnya. Kedua tangan Sasuke berhasil mengunci tubuh Sakura, "Apa peduliku?" tanya Sasuke sekali lagi, Sakura menelan ludahnya. Sebenarnya, ada apa dengan Sasuke? Batin Sakura. "Kau berani bertanya apa peduliku, tetapi kau tidak pernah menceritakan apapun masalahmu itu padaku!" bentak Sasuke membuat nyali Sakura ciut, kedua tangan Sakura menahan dada bidang Sasuke agar tidak terlalu dekat dengannya, namun dengan satu tangan, Sasuke berhasil mengunci kedua tangan mungil Sakura. Sasuke mendekatkan wajahnya, membuat rona merah menghiasi wajah Sakura.
Napas mereka memburu, tetapi detik berikutnya bibir Sasuke telah berada di samping telinga Sakura, kemudian ia membisikan kata, 'Ceritakan semuanya padaku!' dan Sakura akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
.
.
.
Love In My Konoha University
.
.
Laju mobil yang mereka kendarai semakin tidak mentaati peraturan lalu lintas. Kecepatan di atas rata-rata yang Sasuke kemudikan disaat hujan lebat seperti sekarang ini benar-benar berbahaya bagi keselamatan sang pengendara maupun orang lain yang berada di jalan yang sama. Mata onyx Sasuke menyiratkan perasaan kecewa dan juga khawatir bercampur menjadi satu. Dari awal, ia memang tidak setuju jika sample yang amat sangat berharga itu disimpan pada Sakura. Ya meskipun ia tahu gadis yang masih sesegukan dengan badan gemetar di sampingnya ini tidaklah teledor.
Satu hal yang benar-benar membuatnya kesal adalah saat dimana ia menebak bahwa mungkin saja yang mengambil sample virus tersebut adalah kakaknya, Akasuna Sasori. Tapi, Sakura dengan sewot membantahnya dan mengatakan kalau tebakan Sasuke itu sudah di luar batas dan sangat tidak masuk akal. Akan tetapi, Sasuke tetap yakin kalau Sasori-lah yang mengambilnya. Kalau bukan dia, siapa lagi? Bagaimanapun caranya, Sasuke akan membuktikan bahwa tebakannya itu adalah benar.
.
.
.
Love In My Konoha University
.
.
Sesuai dengan dugaan, awal mereka memasuki ruangan, para anggota yang lain sedang sibuk, namun tidak seperti biasanya, biasanya mereka akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Tetapi kali ini berbeda, mereka terlihat sibuk dengan zat-zat kimia yang terkumpul di dalam tabung-tabung khusus yang memang telah disediakan di dalam laboratorium ruangan tersebut. Mereka juga menggunakan blazer putih khusus praktek, masker, serta kacamata besar. Hanya beberapa yang memakai kacamata besar khusus tersebut, yang lainnya hanya memakain masker dan juga blazer putih khusus praktek.
"Ah, lihat, si ketua akhirnya datang juga," Ada nada dengan intonasi tidak suka yang Neji keluarkan Saat matanya menangkap sosok Uchiha Sasuke bersama dengan Haruno Sakura yang hanya berdiri mematung memperhatikan setiap gerak-gerik para anggota club jurnal ilmiah . Hatake Kakashi, seseorang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dari seorang ketua itu membalikan badannya. Matanya melengkung membentuk seperti bulan sabit yang menandakan bahwa ia telah tersenyum dibalik maskernya.
"Yo! Sasuke, Sakura.. senang kalian bisa sampai dengan selamat." Sakura yang melihat mata Kakashi yang menyipit seperti itu semakin merasa bersalah, Shikamaru menghentikan kegiatannya, "Sudahlah Kakashi-sensei, jangan banyak basa-basi. Kita sudah tidak ada waktu lagi." Bahkan Shikamaru yang selalu terlihat malas serta mengantuk itu kini terlihat begitu berbeda. Ia serius.
"Saa,,. Sakura, kau membawa sample virus-nya 'kan?" Mata Sasuke memperhatikan gerakan Sakura, ia dengan jelas melihat bahwa bahu ringkih Sakura mulai bergetar menahan tangisnya, Sakura menundukan kepalanya, "G-gomen.."
Neji mengerutkan alisnya, "Apa maksud perkataan maafmu itu, Haruno?" tanya Neji sinis. Seketika itu juga semua orang yang mendengar menghentikan aktivitasnya, Naruto menatap Sakura khawatir, "Sakura-chan.." gumamnya.
"A-aku.. kehilangan sample-nya.. gomennasai.." Sakura semakin menundukan kepalanya.
"Hah?" respon semua orang terkejut. Neji menggebrak meja di depannya dengan emosi tinggi, "Kau gila!" bentaknya. "Ini bukan salahnya. Dalam hal ini, kitalah yang salah karena menitipkannya pada Sakura-chan, padahal jelas-jelas ia telah menolaknya, kan? Dan kau, Neji, bagaimana perasaanmu jika kau ada diposisi Sakura sekarang?" Mendengar perkataan Naruto yang tidak seperti biasanya, membuat semua orang bahkan Sasuke-pun tertegun. Sedangkan Hinata, ia kini sedang menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak pingsan karena benar-benar terpesona, "Naruto-kun.. kakkoi .." batin Hinata menjerit-jerit.
.
.
.
"Seperti dugaan." Sakura menegakan kepalanya, kemudian menatap Shikamaru dalam, "Apa maksudmu?" tanya Sasuke tenang. Kakashi dan Shikamaru saling melempar senyum, "Dari awal kami sudah menaruh curiga bahwa mungkin saja salahsatu dari anggota Akatsuki mengincar sample tersebut. Dan ternyata benar."
Mendengar penuturan dari Shikamaru, Sasuke mengerutkan dahinya, penjelasan yang baru saja dijelaskan dengan begitu santai oleh rekannya itu membuat Sasuke harus menahan emosinya, "Apa maksud penjelasanmu itu? Kalian telah memprediksikannya namun tetap menitipkan barang sepenting itu pada Sakura? Kau sudah tahu kalau salahsatu dari mereka mungkin saja bisa mencelakakan Sakura, tapi kenapa—" Mau ditahan seperti apapun pada akhirnya emosi seorang Uchiha Sasuke meledak juga. Sedangkan Sakura, ia mengepalkan tangannya erat ketika merasa rona merah kembali menjalar di wajah putihnya seolah-olah dengan begitu mampu menghilangkan rona di wajahnya, 'Tidak boleh! Sakura, kau tidak boleh kembali terpesona pada Sasuke!'
"—Tapi Sasuke dengan begini kita bisa melihat sejauh mana kelompok teroris itu akan bertindak. Untuk masalah sample, tenang saja. Aku dan Neji masih memilikinya—"
"—Jadi maksudmu kau menjadikan Sakura sebagai tumbal, eh? Berengsek—!" Sasuke menarik kerah kemeja hitam Shikamaru. Kalau saja tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini juga nyawa Shikamaru telah melayang melihat bagaimana tatapan membunuh Sasuke yang benar-benar menyeramkan. "—Kau tidak tahu bagaimana menderitanya Sakura saat sample tersebut hilang! Sakura bisa saja terserang pneumonia karena kehujanan atau mati karena hampir tertabrak olehku! Sialan!" Napas Sasuke memburu, ia mendorong Shikamaru hingga kini laki-laki jenius dengan IQ tinggi itu jatuh tersembab di lantai dan ditolong oleh Kakashi.
Suara sirene yang entah sejak kapan terpasang di dalam ruangan tersebut mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang gadis berambut pirang yang kini datang dengan memancarkan tatapan khawatir serta napas yang tidak teratur.
"Gawat! Mereka mulai menyerang. Benteng di depan yang kita jadikan sebagai pembatas dari area luar universitas mengalami kerusakan yang cukup parah, beberapa penjaga juga mulai kewalahan menghadapi—" Ino menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya, "—Kalian.. lebih baik lihat saja sendiri, ayo!"
.
.
.
"Apa-apaan ini? Ke-kenapa bisa terjadi?" gumam Lee. Di depan mereka kini terpampang layar besar yang menunjukan bagaimana keadaa di luar sana. Kamera CCTV yang terpasang sebagai salahsatu fasilitas yang ada di kampus Universitas Konoha kali ini benar-benar bermanfaat untuk mengawasi keadaan sekitar.
"Kita harus melaporkannya pada Tsunade-baachan." Ucap Naruto, tangannya kini sibuk dengan smartphone-nya, namun perkataan Temari membuatnya menghentikan aktivitasnya, "Aku sudah menghubunginya, namun sayang untuk kali ini kita tidak bisa mengambil tindakan karena Tsunade-sama mengatakan bahwa pemerintah belum memberikan intruksi apapun. Untuk kali ini, sebaiknya kita melakukan pertahanan." Naruto mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa diam saja seperti ini. Hinata yang memang tahu persis bagaimana perasaan Naruto sekarang hanya bisa mengenggam tangan Naruto yang terkepal erat itu dengan tangannya yang lembut, "Daijoubu.. Naruto-kun.." bisik Hinata lembut disertai dengan senyumannya yang tulus, Naruto kalau sudah melinat Hinata seperti itu hanya bisa menghela napas, "Hhh~"
.
.
"Kumpulkan semua mahasiswa yang ada di luar lingkungan ataupun di dalam kelas untuk berkumpul di aula. Jika kita terpisah seperti ini, keselamatan satu sama lain tidak akan terjamin." Sasuke menarik ujung bibirnya membentuk sebuah seringaian, "Kenapa? Apa aku salah?" Tanya Sasuke ketika semua orang menoleh ke arahnya dan tidak mampu merespon apapun perkataan Sasuke, masalahnya, benarkah yang berbicara barusan itu seorang Uchiha Sasuke? "Ti-tidak! Kau benar, teme. Baiklah aku dan Hinata akan melakukan pemberitahuan lewat saluran informasi fasilitas yang ada, ayo.. Hinata!" Naruto memakai blazer putihnya dan berjalan diikuti oleh Hinata di belakangnya. "Naruto-kun.." Hinata tersenyum dalam hatinya yang kini tengah berbunga-bunga.
Sasuke dapat mendengar dengan jelas suara Kiba yang berbisik ke arah Shino membisikan—"Mereka semakin dekat. Sepertinya Naruto mulai peka." Entah suara bisikan Kiba yang terlalu keras atau memang telinga Sasuke yang terlalu tajam, hingga akhirnya Sasuke hanya berdecih kesal.
.
.
"Ano.. sensei.. saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan, sedangkan yang lain sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Boleh saya bergabung disini untuk membantu membuat vaksin anti virus?" Shizune-sensei, salahsatu Dosen medis terbaik setelah Tsunade itu tanpa pikir panjang langsung mengizinkan Sakura untuk bergabung, "Tentu saja,Sakura. Semoga kemampuan medismu bisa membantu kami. Kamu tahu 'kan para ilmuan di eropa sana saja belum ada yang menemukan vaksin anti virus untuk REBOV(Reston Ebolavirus)." Sakura menganggukan kepala, tentu saja ia tahu itu dengan jelas. "Ya, saya tahu. Saya akan melakukannya se-maximal mungkin, Shizune-sensei."
.
.
.
TBC
Bandung, 27 Desember 2013, Pukul 0.25am
A/N : Ha-hallo minna-san, konbanwa :D Saya tidak tahu harus mengucapkan kata maaf seperti apa lagi -_- sepertinya saya keseringan meminta maaf dan tidak bisa menepati janji. Saya sudah menelantarkan fict ini selama 7 bulan :O busyeeeet dah … dan selama itu pula, aktivitas saya terlalu disibukan dengan fanfiction yang lain dan juga aktivitas di dunia real yang benar-benar membatasi waktu saya. Terutama untuk 4 bulan di awal tahun depan sepertinya saya akan jarang nongol di dumay, karena UN sudah menanti. Tetapi, saya tidak akan membuat fanfiction lain dan akan memfokuskan diri ke ff pertama saya ini yang dari dulu belum kelar haaaaa—!
Chapter depan saya akan berfantasy ria dengan perang yang disebabkan oleh Akatsuki, penyerangan tiba-tiba dan kartu as yang dimiliki oleh Akatsuki selain sample virus. Juga pergerakan dengan endleve yang dikendalikan dari jarak jauh oleh Akatsuki.
Terimakasih banyak untuk yang sudah membaca dan mereview ff ini :D sekali lagi, terimakasih.. Hontou ni Arigatou gozaimasu.
Mind to RnR?
See you next chap…
MerisChintya97
