Not a FairyTale

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chap 11: A feeling that will never reach

.

.

.

Note(s): Based of Acute by Miku, Luka, Kaito / Requestfic from Yami-chan kagami! XD enjoy ;D / AU / Pairing: PsychexDelicxHibiya / Psyche as Miku, Delic as Kaito, Hibiya as Luka

.

.

.

Seperti perasaan kita yang berayun di ruangan yang dingin ini..

"..Delic nii-san?"

"Maaf, Psyche. Maafkan aku."

"Kenapa—kenapa kau—"

"Aku... mencintai Hibiya."

.

.

.

Di saat perasaan ini terbakar bagaikan kembang api di tengah malam,

Dan kita menyentuh bekas luka itu dengan lembut..

"Jahat.." lelaki bernama Psyche itu menangis, melihat ke arah sebuah foto tak berbingkai dimana dirinya, Delic, dan Hibiya tersenyum bersama disana. "Aku tak menyangka Hibiya nii-san bisa melakukan semua ini.. kukira, kau adalah sahabatku dan kakakku yang terbaik.."

Psyche mengambil sebuah spidol hitam dari laci mejanya. Ia mencoret wajah Hibiya yang tersenyum di foto itu. Satu goresan, dua goresan, tiga goresan—ia menorehkan banyak goresan yang searah berkali-kali, meninggalkan bekas tinta yang tebal dan tak akan bisa terhapuskan.

"Aku hanya ingin kau melihatku, Delic nii-san.."

Namun hal itu, tak dapat dikatakan dengan lantang

Di akhir dari cinta yang berputar ini,

Apa yang kau lihat?

Psyche terus menangis sambil menatap foto itu. Tetesan air matanya jatuh, menetes di atas tinta hitam yang masih basah.

Kalau saja, tinta hitam ini bisa terhapuskan oleh matanya.

Kalau saja, air matanya bisa membersihkan semua, dan mengembalikan situasi menjadi seperti semula.

Namun itu semua mustahil, bukan?

Seperti kegelapan yang semakin mendalam, perasaan ini semakin tak tentu.

Yang diinginkan hanyalah sebuah jawaban.

'Siapa yang kau pilih? Siapa yang lebih kau cintai?'

Bayangan seseorang datang dan menghilang,

Dan akupun merebahkan tubuhku, mendekap erat dirimu.

Berpura-pura ketakutan agar kau tak melepaskanku.

"..Psyche?" Hibiya langsung kehilangan kata-kata saat menerima telepon dari teman dekat sekaligus adiknya—yang bernama Psyche itu. Dan Hibiya semakin kebingungan saat mendengar Psyche hanya menangis.

"Kau senang, bukan, Hibiya nii-san? Kau menyukai Delic, dan selamat, ia memilihmu.." ucap Psyche di tengah isak tangisnya

"A-apa maksudmu?" Hibiya berusaha terdengar tenang dalam suaranya. "Aku tidak menyukai Delic, Psyche. Ia 'kan—"

"TAK USAH BERBOHONG!" Psyche berteriak kencang. "AKU TAHU—aku tahu kau selalu menyukainya.. dan aku tahu.. kau memang berniat merebutnya, bukan?"

Hibiya terdiam. "..Aku.."

Sebuah kebenaran yang selalu ingin aku cari.

"Aku... tidak pernah berniat untuk merebutnya darimu."

Aku selalu, dan selalu mempercayakan segalanya kepadamu.

Tapi sekarang, aku harus menghadapi rasa sakit ini sendirian.

Kita seharusnya terikat dan saling mencintai satu sama lain,

Tapi itu semua hanyalah kata-kata.

"Hibiya?" sebuah suara mengejutkan Hibiya yang masih menerima telepon dari Psyche. Ia menoleh, dan melihat Delic sudah berdiri di belakangnya.

"De-Delic? Sejak kapan kau masuk ke ruanganku—"

Delic menarik lengan Hibiya dan mendekapnya ke dalam sebuah pelukan. Ponsel milik Hibiya terjatuh, mengabaikan Psyche yang masih menangis di seberang sana, dan mengabaikan kenyataan bahwa Psyche masih bisa mendengarkan semua yang terjadi.

"Aku.. memilihmu." Delic berbisik pelan di telinga Hibiya, nada seductive yang ia bisikkan hanya membuat Hibiya melupakan semua rasa 'peduli' yang ia punya terhadap Psyche.

"De-delic..?"

Suara lonceng yang mengacak-acak persahabatan kita,

Seperti menutupi satu kebohongan, dengan kebohongan yang lainnya.

Dan kau masih tetap tersenyum.

Hatiku masih tetap terpaut pada senyum itu.

Apa yang seharusnya aku lakukan?

Psyche mendengar semuanya. Suara Delic yang datang dan memanggil nama Hibiya dengan lembut, suara Delic yang menarik tangan Hibiya—

Ia mendengar semuanya, dari dalam ponselnya.

Psyche membanting ponsel milikknya yang berwarna magenta itu. Ia tak peduli apakah ponsel itu akan rusak nantinya, ia tak peduli.

Ia berjalan keluar dari ruangan asalnya—kamar Delic—menuju dapur. Ia mengambil segelas air untuk ia minum. Setidaknya, mungkin air bisa menenangkan dirinya.

Lalu pikirannya kembali teringat kepada Delic yang tiba-tiba pergi begitu saja. Delic sekarang pasti berada di rumahnya, menemui Hibiya yang sedari tadi memang berada di rumah. Pikirannya langsung terisi dengan rasa sakit itu lagi.

Rasa sedih.

Rasa marah.

Rasa muak.

Rasa benci.

Dendam.

Psyche membanting gelas air yang ia minum ke lantai, membuat gelas itu menjadi pecahan-pecahan kecil yang tajam. Air matanya kembali turun. Pandangannya kacau, pikirannya kacau, hidupnya terasa begitu kacau.

'Apa yang harus aku lakukan sekarang?', pikir Psyche

Psyche pun memutuskan untuk mencuci tangannya yang sedikit terluka karena membanting gelas berisi air tadi. Dan saat ia berbalik- matanya menangkap sosok benda yang membuatnya berpikir akan satu hal; Jika Hibiya mengganggu hubungannya dengan Delic, maka ia harus lenyap. Jika Delic tak bisa ia miliki; maka Delic harus lenyap.

Ya, benda itu adalah—sebuah pisau. Pisau yang masih tajam, terletak dengan rapi di atas meja. Tangan Psyche meraih pisau itu, dan ia melihat mata pisau yang masih tajam itu memantulkan parasnya.

"Apa kita tidak bisa... mengembalikan semuanya seperti dulu kala?" gumam Psyche. "Tapi, ini semua adalah KESALAHAN yang KAU buat, bukan? ..Orang yang merusak janji kita, juga adalah DIRIMU.."

"Tidak, aku TIDAK AKAN membiarkan hal seperti ini terjadi."

.

.

.

"Delic—hentikan.." Hibiya begitu lemah. Ia tidak tahu, mana yang benar, dan mana yang salah.

Apa salah jika ia menyukai Delic?

Apa salah jika Delic menyukai Hibiya?

Apa—perbuatan Hibiya yang menyakiti Psyche ini benar?

"Kenapa, Hibiya? Tak usah jadi Tsundere, aku tahu kau menyukainya.." Delic berbisik pelan di telinga Hibiya, membuat sang lelaki berambut hitam itu terdiam dan terhanyut.

"D-dame! Kalau begini—Psyche.. bagaimana dengan Psyche?"

Delic terhenti. Wajahnya yang sudah dekat dengan leher Hibiya kini terdiam di tempat. Hibiya sedikit bernafas lega, setidaknya ia diberi waktu untuk berpikir jernih sesaat.

"..Aku tak tahu. Tapi, aku tak bisa memaksakan diriku juga, bukan? Daripada aku berpura-pura mencintai Psyche.. itu akan lebih menyakitinya."
'Kurasa, seperti itu pun tidak apa-apa.. karena Psyche ingin memilikimu bagaimanapun caranya..' Ucap Hibiya dalam hati. "Tapi, tetap saja— kyah!"

Delic mengigit leher Hibiya, membuat Hibiya terdiam dan menghentikan kata-katanya.

"Saat ini, hanya pikirkanlah kita berdua. Aku menyukaimu, dan kau menyukaiku juga. Yang seharusnya bersama adalah kita."

Bagaikan perasaan yang melayang di dalam ruangan dingin,

Yang kau inginkan sekarang, hanyalah sebuah jawaban, bukan?

"Tapi, yang mendapatkan Delic nii-san terlebih dahulu adalah aku.."

Delic dan Hibiya terkejut dan langsung menjauh dari posisi mereka, mereka terkejut melihat Psyche yang sudah berdiri di dekat pintu kamar Hibiya. Wajahnya hanya menatap Delic, mengabaikan Hibiya yang melihat adiknya dengan rasa takut. Namun, tatapan mata Psyche.. begitu kosong. Ia melingkarkan mulutnya perlahan, membentuk sebuah senyuman tipis yang terasa ganjal.

"Delic nii-san.. ayo kembali, ayo peluk aku.. mungkin kalau sekarang, semuanya bisa kembali seperti semula.." ucap Psyche, wajahnya masih tersenyum—senyuman yang hampa.

"Psyche.." Delic mengepalkan kedua tangannya. "..Maaf, aku tidak bisa."

"Kenapa..?" Psyche berjalan mendekati Delic. "Ayo, Delic nii-san, kita pulang.. aku akan membuatkanmu kue yang enak, aku akan bernyanyi untukmu.. seperti waktu dulu.. kita akan bersama, seperti dulu—"

"-Aku tidak bisa!" Delic menaikkan suaranya, membuat Psyche kehilangan senyumannya. Mata Hibiya membelalak, melihat Delic membentak Psyche untuk pertama kalinya.

Psyche meneteskan air mata. "Kenapa..? Apa.. apa yang membuatmu lebih mencintai Hibiya nii-san daripada aku?"

Delic terdiam.

Hibiya ikut terdiam.

Suara yang mengisi ruangan ini hanyalah—isak tangis Psyche.

"Nee, Delic nii-san.." Psyche mengangkat wajahnya. "Jika aku tidak dapat memilikimu... lalu apa yang kumiliki sekarang?"

"Psyche.."

"Kau meninggalkanku, bersama dengan Hibiya nii-san. Sekarang, apa yang aku punya? Aku sendirian.."

Psyche tidak berkata apapun lagi. Ia kembali menangis. Lalu Psyche mengingatnya—pisau tajam yang ia bawa di dalam tas kecilnya.

Suara sang iblis telah merasuki diriku,

Dan tak akan pernah pergi.

"Jika aku tak bisa memiliki Delic nii-san.." Psyche menatap Delic lurus. "Maka, Hibiya pun tak boleh memilikimu.."

"! JANGAN, PSYCHE—"

STAB

Sekarang, lepaskanlah topeng itu.

Tunjukkan diriku, seperti apa warna sesungguhnya dari wajahmu.

Psyche pun akhirnya mengikuti kemauan egoisnya. Ia mengeluarkan pisau itu, dan dengan cepat menusuk Delic yang berada di depannya. Delic hanya bisa terkejut, ia tetap berdiri di tempat tanpa sempat menghindar.

Psyche tersenyum.

Senyuman tipis—namun, terlihat begitu puas. Ia seperti anak kecil yang berhasil mengalahkan temannya dalam sebuah permainan. Psyche menjatuhkan pisau berlumur darah itu, dan berjalan mendekati tubuh Delic.

Hibiya menatap tubuh Delic yang tergeletak di lantai, bersimbah darah, dengan mata yang membesar. Ia tak percaya. Namun, ia harus percaya.

Hibiya tak pernah menyangka Psyche akan melakukan hal ini. Mungkin masuk akal jika Psyche membunuh dirinya, namun kenapa—kenapa ia harus membunuh Delic?

Tidak.

Delic adalah orang yang paling Hibiya cintai di dunia ini.

Tak ada yang boleh merebutnya.

Tak ada yang boleh membawanya pergi.

Tak boleh ada yang menyakitinya.

Hibiya mengambil pisau berlumur darah itu dari lantai. Pisau yang tanpa sadar Psyche jatuhkan.

Psyche masih tersenyum, menatap kosong sosok Delic yang kini tak sadarkan diri.

Tanpa menyadari bahwa—

Suara itu datang kembali.

Suara yang egois dan memakan kesadaranku.

BRAK

Suara tubuh Psyche yang tersungkur jatuh—karena tusukan sebuah pisau terdengar.

Dan tentu saja,

Hibiya yang menusukkan pisau itu, tepat di leher Psyche.

Kini, dua tubuh bersimbah darah tergeletak di lantai—membuat ruangan ini beraroma buruk yang membuat hati tak tenang.

Hibiya menangis.

Entah untuk apa ia menangis. Yang pasti, ia berharap—dengan menangis, semua darah ini akan menghilang, dan semuanya kembali seperti semua.

Namun, itu mustahil, bukan?

"Aku akan mengambil semuanya pergi darimu.

Dia,

Ingatanmu,

Dan segala yang kau punya.."

.

.

.

Aku terus menyakitimu, karena aku ingin melindungimu.

Aku terus membuatmu terluka, karena aku menyayangimu.

Aku membunuhmu,

Karena aku mencintaimu.

Perasaan yang tak akan pernah tersampaikan.

ACUTE