Words count: 2857 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline; mention of phobia

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 10

-10th Fear-

Ketika orang-orang mulai berlarian menjauhi arah darimana suara ledakan itu berasal dan berebutan memasuki elevator –atau, dengan terpaksa menuruni tangga darurat– Shinichi malah berlari ke arah sebaliknya. Insting detektifnya tidak bisa membiarkannya mengabaikan kasus yang kemungkinan tengah terjadi.

"Oi Shin! Kau mau kemana?!" seru Kaito seraya mengekor di belakangnya. Kakinya refleks membawanya berlari mengejar pemuda itu begitu melihatnya melesat pergi, meskipun sebenarnya ia enggan dekat-dekat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan 'ledakan' maupun 'api'.

"Shinichi!" panggilnya sekali lagi. Kali ini Shinichi menoleh ke arahnya, meski ia tetap tidak berhenti.

"Kau keluarlah dulu, Kaito! Aku akan menyusul nanti!" jawabnya.

"Haa? Lalu membiarkanmu melakukan tindakan-tindakan gegabah lagi? Yang benar saja," Kaito mendengus kesal. Kini ia hanya selangkah di belakang Shinichi. Ia bisa melihat asap hitam menyelimuti area di depan mereka, bau kain terbakar tercium jelas dari sana sementara sprinkles yang telah menyala diiringi alarm kebakaran tampak tak banyak membantu dalam memadamkan api yang telah menyebar. Beberapa orang tampak masih berlarian di tengah kobaran api yang semakin membesar. Para petugas keamanan mengarahkan orang-orang agar tetap tenang dan menjauh dari sana. Dan Kaito merasa mual.

Ia mendadak berhenti, terpaku melihat pemandangan di depannya. Ia bahkan tak sadar bahwa Shinichi telah jauh meninggalkannya, membantu mengarahkan orang-orang ke pintu keluar yang aman dari api. Pandangannya mengabur, telinganya menulikan teriakan panik orang-orang yang berlari melewatinya. Ia seakan terlempar kembali ke dalam mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap malam. Mimpi buruk dimana ia hanya bisa menyaksikan api melahap seluruh keluarganya.

Tanpa sadar ia telah jatuh terduduk disana. Rintihan dan erangan yang entah ditujukan pada siapa meluncur begitu saja dari bibirnya. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kuku jemarinya menancap pada telapak tangannya, jelas akan meninggalkan bekas sabit-sabit kemerahan nanti. Napasnya memburu, tapi ia merasa tak ada cukup oksigen dalam paru-parunya. Ia ingin lari, lari dari bayangan mimpi buruknya ini, tapi kakinya kelu. Otaknya menolak untuk berpikir jernih, yang ada hanyalah takut, takut, takut—

"Kaito! Hei, Kaito, kau mendengarku?!" Shinichi, yang menyadari keadaan Kaito beberapa saat kemudian, berusaha menyadarkan pemuda itu, tapi panggilannya sama sekali tidak digubris. Ia mendecak kesal. Perhatiannya terbagi antara menolong Kaito dengan mengamati pria mencurigakan yang diduganya sebagai pelaku peledakan ini.

Ia baru saja membuka mulut, berniat kembali memanggil Kaito, ketika sekali lagi terdengar suara ledakan. Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini Shinichi mendengar suara ledakan itu dengan jelas, begitu juga suara gemuruh reruntuhan bangunan yang membarenginya. Debu dan asap membuatnya terbatuk, dan ketika Shinichi akhirnya menurunkan lengan yang digunakannya untuk melindungi matanya dari serbuan puing-puing yang terlempar kesana kemari, ia mendapati tiang-tiang penopang dan lantai di atasnya telah menjadi tumpukan reruntuhan, menutup jalan yang tadi dilewatinya untuk mencapai tempat itu. Dan ketika otaknya memproses bahwa ledakan itu terjadi tak jauh dari tempat Kaito berada, ia merasa detak jantungnya seakan berhenti sesaat.

Di antara teriakan orang-orang yang semakin menjadi, Shinichi mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu, mencari-cari sosok Kaito seraya berharap kalau pemuda itu selamat.

"Kaito?" panggilnya lirih, ia merasa tenggorokannya seakan tercekat. Lalu ia merasa bodoh, karena tentu saja Kaito tidak akan bisa mendengarnya jika suaranya sepelan itu kan? Jadi ia pun memanggilnya sekali lagi.

"Kaito, kau dimana?!"

Ia menajamkan telinganya. Matanya tak henti bergerak kesana kemari, mengikuti setiap pergerakan yang tertangkap dalam area pandangnya. Lalu akhirnya ia mendengarnya. Suara lain selain teriakan panik orang-orang dan suara api yang melahap apapun yang dilewatinya. Ia mendengar suara serpihan puing-puing yang beradu dengan lantai, bersamaan dengan suara seseorang yang tengah terbatuk-batuk.

Tanpa membuang waktu Shinichi pun langsung bergegas kesana, karena Kaito ataupun bukan, ada korban yang harus ditolong. Tapi tentu saja dugaan –atau itu insting?– nya benar, orang yang tengah berjongkok di antara bongkahan reruntuhan itu adalah Kaito. Ia segera membantunya berdiri dan memapahnya menjauh dari reruntuhan yang bisa kapan saja longsor dan menimpa siapapun yang berada di sekitarnya itu.

Shinichi mencuri pandang ke arahnya. Selain debu dan beberapa serpihan beton yang menyelimutinya, tak tampak adanya luka serius pada sang mantan pencuri itu. Yang perlu dikhawatirkan justru adalah keadaan mental Kaito. Ia masih tampak terguncang— bukan, mungkin lebih tepatnya ketakutan? Kedua alisnya bertaut, rahangnya mengencang, pandangannya terpaku pada api yang semakin membesar di sekitar mereka. Beberapa kali ia seperti berusaha kabur dari papahan Shinichi, kabur dari sana, dan ketika ia sadar ia tak bisa melakukannya, cengkeramannya di baju Shinichi menguat.

Shinichi tidak tahu secara detail mengenai masa lalu Kaito –keduanya sebisa mungkin menghindari topik tentang masa lalu masing-masing dalam setiap obrolan mereka– tapi Shinichi telah cukup lama mempunyai dugaan tentang keadaan Kaito. Pyrophobia. Kemungkinan besar trauma masa lalunya mengakibatkannya fobia pada api. Hal itu terlihat dari bagaimana Kaito mengernyit tiap kali Shinichi menyalakan kompor –pernah sekali Kaito mencoba memberanikan diri menyalakan kompor untuk menghangatkan kare sisa semalam dan malah berakhir dengan tumpahnya sepanci kare dan patahnya satu kursi, sejak itu Kaito lebih memilih untuk menggunakan microwave– atau ketika seseorang menyalakan pemantik di depannya, begitu juga ketika mendengar sirine mobil pemadam kebakaran.

Terkadang Shinichi tergoda untuk memancing Kaito untuk membicarakan traumanya, tapi pesulap-garis miring-barista itu akan dengan lihai mengalihkan topik pembicaraan tanpa sekalipun menjawabnya. Dan Shinichi sudah lelah pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak peduli.

"Setelah pulang nanti kau harus memberitahuku tentang fobiamu," ujarnya, pelan tapi mantap, "Tidak ada tapi. Kalau perlu aku akan langsung menyeretmu ke psikiater begitu kita keluar dari sini."

Kaito dengan bersusah payah mengalihkan pandangannya ke arah Shinichi, masih dengan mata yang membelalak lebar. Selama beberapa saat ia hanya memandangi sang detektif dalam diam sementara kaki mereka terus melangkah, sebelum akhirnya ia mengangguk dengan sangat pelan. Bibirnya tampak bergerak, mengucap kata tanpa suara. Shinichi hanya mendengus.

"Sementara ini jangan pikirkan soal api. Tak apa, kita akan keluar dari sini dengan selamat."

Kaito kembali mengangguk.

"Ok. Sekarang kau pikirkan saja hal yang lain. Bicaralah padaku, mengerti? Apapun boleh."

Diam. Samar terdengar suara tawa dan jerit ketakutan dari suatu tempat di depan mereka, tapi Shinichi masih memfokuskan perhatiannya pada Kaito. Ia masih bungkam, dan Shinichi khawatir usahanya untuk mengalihkan pikiran Kaito dari traumanya gagal ketika—

"...sayang sekali kau jadi tidak bisa membeli kemeja merah jambu itu," ujarnya dengan suara parau. Nadanya tak seceria, sehidup biasanya, tapi ia mulai terdengar seperti Kaito lagi.

Shinichi kembali mendengus, entah karena akhirnya Kaito bicara atau karena ia masih mengungkit masalah kemeja itu, lalu menjawab, "Maaf saja tapi aku tidak suka mencari perhatian sepertimu."

"Menjaga penampilan itu penting, Shin."

"Caraku menjaga penampilan adalah dengan tidak memakai pakaian yang terlalu mencolok dan terlihat tidak berwibawa."

Kali ini Kaito yang mendengus, "Maaf saja kalau aku selalu terlihat berwibawa dengan apapun yang kukenakan."

"Hentikan, rasanya aku mual membayangkanmu mengatakannya sambil mengenakan baju maid."

Shinichi mengernyitkan dahinya, berusaha mengusir gambaran itu dari otaknya.

"Shinichi mesum."

"Apa— bukan begitu! Dulu kau hampir selalu memilih dandanan itu untuk menyamar kan?! Kaulah yang mesum!"

"Oh? Benarkah? Aku tersanjung Shinichi masih mengingat masa lalu kita."

"Aku punya baju merah jambu, tau, tapi tentu saja TIDAK yang semencolok itu!"

"…sungguh? Lain kali kau harus memakainya, Shin. Aku mau melihatnya."

"Kau terobsesi dengan warna merah jambu atau apa hah?"

"Hmm, mungkin aku akan terobsesi dengan Shinichi Kudo memakai baju merah jambu jika kau tidak membuktikan ucapanmu."

Shinichi menggerutu, dan Kaito terkekeh pelan mendengarnya. Ah, akhirnya dia kembali tersenyum, batin Shinichi.

Keduanya berjalan secepat mungkin ke arah elevator seraya berusaha menghindari api, dan dengan tetap mengobrol seakan mereka sedang tidak dikelilingi api. Sesekali Shinichi akan mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari-cari jika ada orang lain yang butuh pertolongan, tapi sejauh ini ia tak menemukan seorang pun.

Aneh. Tidak ada orang-orang yang berlari kebingungan. Dan meskipun belum sepuluh menit berlalu, tapi tak terdengar lagi jeritan-jeritan ketakutan. Tempat ini terlalu sepi. Apa semua orang telah berhasil dievakuasi? Kalau memang iya, mereka juga harus segera keluar. Asap ini mulai membuatnya sesak. Sprinkle yang masih menyala juga tak banyak membantu, kecuali untuk membuat mereka basah. Ketika Shinichi tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan itulah ia merasakan langkah Kaito terhenti.

Sontak Shinichi langsung menyentakkan kepalanya ke arah Kaito, khawatir jika ia kembali mengalami serangan panik atau malah pingsan. Tapi yang dilihatnya adalah tangan Kaito yang terangkat, menunjuk ke arah di depan mereka.

Di arah yang ditunjuk Kaito tampak gerombolan orang-orang yang tengah meringkuk menghadap elevator, dimana seorang pria bermasker berdiri dengan memegang pistol dan sesuatu yang tampaknya adalah pemicu bom.

Shinichi dengan cepat menarik Kaito ke balik tembok toko yang baru saja mereka lewati, alisnya bertaut tanda ia sedang berpikir keras.

"Dia pelaku pemboman ini?" tanya Kaito. Ia menarik lengannya dari pundak Shinichi dan menyandarkan punggungnya yang -untungnya- belum terbakar.

"Kemungkinan besar begitu," Shinichi mendecak kesal, "Harusnya aku tetap mengawasinya tadi."

"...maaf, gara-gara aku—"

"Berhenti menyalahkan dirimu," potong sang detektif, "Aku melakukan semua yang kulakukan atas keputusanku sendiri, dan aku tidak akan menyesalinya sekarang. Menyesalpun tak akan mengubah apapun."

Dua iris biru bertemu pandang, yang satu berusaha menyampaikan apa yang tak tersampaikan oleh kata-kata semata. Kaito membalas tatapan itu, kabut penyesalan dan keputusasaan tampak mulai memudar dari matanya. Ia mendorong tubuhnya dari dinding yang menopangnya, berusaha berdiri tegak meskipun kakinya masih goyah, dan mengangguk.

"Jadi, kau punya rencana? Kalau kau mau agar aku tidak larut dalam penyesalan, kau harus membiarkanku membantu."

Shinichi, yang tampaknya tidak menduga tawaran bantuan itu, melemparkan sebuah senyum kecil ke arahnya sebelum kembali mengawasi keadaan.

"Ok," akhirnya Shinichi kembali membuka suara setelah beberapa saat hanya berdiri dalam diam, "aku akan menjadikanmu sebagai umpan."

.oOo.

Kedua kalinya mereka berjalan melewati tembok itu, Kaito dalam keadaan tidak sadarkan diri di punggung Shinichi— atau begitulah mereka ingin orang-orang melihatnya. Sang detektif berjalan sempoyongan –70% mendramatisir karena meskipun dengan menggendong seorang pria yang hampir sama beratnya dengan dirinya, ia tidak selemah itu– dengan menggendong Kaito, dan ketika melihat pelaku, akan pura-pura terkejut, begitulah rencananya. Dan benar saja, pelaku yang tidak mengira masih ada orang lain disana tampak panik. Ia langsung menodongkan pistolnya ke arah Shinichi.

"H-hei! Cepat kesini dan letakkan tanganmu di atas kepala!"

Sejujurnya Shinichi ingin memutar matanya –apa orang itu rabun hingga tidak bisa melihat kalau ia tengah menggendong seseorang?– tapi karena tau hal itu akan berakibat buruk, ia melanjutkan akting ketakutannya.

"T-tidak bisa—"

"KAU MAU KUTEMBAK HAH?!"

Shinichi berjengit mendengar teriakannya. "A-aku sedang menggendong temanku yang pingsan, aku tidak bisa mengangkat tanganku. Lihat," ia memiringkan tubuhnya untuk menunjukkan bahwa ia memang tengah menggendong seseorang.

Pria itu mendecak kesal, wajahnya semakin memerah— entah karena marah atau malu.

"Kita harus segera keluar dari sini sebelum bangunan ini terbakar sepenuhnya," ujar Shinichi lagi.

"Diam! Tidak ada yang menyuruhmu bicara, dan aku tidak peduli dengan nasib kalian jika kalian tidak mau menuruti perintahku!" bentaknya, "Sekarang cepat kau kesini sebelum aku menembakmu!"

Pria itu menggerakkan moncong pistolnya sebagai gestur agar Shinichi berjalan ke arahnya, dan Shinichi menuruti perintah itu. Ia memilih untuk menundukkan kepalanya, tahu bahwa menatap mata pelaku hanya akan membuatnya semakin marah, dan memilih menyapukan pandangannya ke arah orang-orang yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Dan Shinichi baru sadar bahwa ada seseorang yang tergeletak tepat di depan elevator. Untungnya ia tampak masih bernapas, walaupun tubuhnya babak belur. Dugaan sementaranya adalah ia dihajar karena berusaha kabur, sebagai contoh agar yang lain tidak mencoba kabur, atau memang pelaku memiliki dendam pribadi padanya.

"Cepat turunkan temanmu itu lalu bergabunglah bersama yang lain! Jangan coba-coba melakukan hal bodoh, mengerti?"

"Ya," Shinichi perlahan menekuk lututnya hingga ia dalam posisi berjongkok. Dan setelah memastikan kaki Kaito telah mendapat pijakan, ia melepaskan tangannya yang menyokong Kaito, lalu melayangkan sebuah tendangan ke tulang kering sang pelaku. Kesakitan, lelaki itu menjatuhkan pistolnya. Kaito yang telah berdiri di belakang Shinichi dengan sigap menendang senjata itu menjauh, sementara tanpa membuang waktu Shinichi kembali menyapukan kakinya dan menjegal sang pelaku hingga jatuh tersungkur. Detik berikutnya ia telah berada di atas sang pelaku dan mengunci gerakannya.

"Hei hei, harusnya kau bilang-bilang kalau kau ganti rencana. Bukankah rencana awalnya adalah kita berjalan mendekat lalu aku menembaknya dengan jam tangan bius ini?" protes Kaito seraya menunjuk-nunjuk jam tangan Shinichi yang kini melingkar di lengannya.

"Maaf, aku baru sadar bahwa masker pria ini menutupi lehernya, jadi kurasa rencana itu tidak akan berhasil," jawab Shinichi enteng.

"Kau ini," Kaito mendengus.

Pria itu meronta, berusaha melepaskan diri dari Shinichi. Tangannya menggapai-gapai ke arah pemicu yang dijatuhkannya seraya mengancam akan meledakkan tempat itu bersama semua orang yang ada disana, tapi Kaito telah mengambil benda itu. Sisanya berlangsung seperti tipikal kasus-kasus serupa, sang pelaku –yang telah kehilangan senjatanya– mau tidak mau akhirnya menyerah, apalagi setelah tau bahwa Shinichi adalah detektif polisi.

Pasukan pemadam kebakaran datang tak lama kemudian, mereka segera mengevakuasi para pengunjung yang masih ada di dalam. Di luar, polisi sudah menunggu, dan entah mengapa tampaknya mereka tidak terkejut melihat ada wajah Shinichi diantaranya.

"Kau masih saja diikuti kasus kemanapun kau pergi ya, Kudo-kun," sapa atasannya ketika Shinichi menggiring sang pelaku ke arahnya. Shinichi menanggapinya dengan senyum kecut, "Kurasa begitu."

Korban yang babak belur itu segera dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans. Orang-orang yang terluka ringan pun telah diberikan pertolongan pertama. Dua orang petugas polisi segera memborgol tangan sang pelaku, memasukkannya ke mobil polisi, dan langsung membawanya kembali ke markas. Inspektur Megure menyusul mereka setelah Shinichi memberikan penjelasan singkat tentang apa yang diketahuinya kepada atasannya itu. Sementara beberapa petugas lain masih tetap disana, mengamankan tempat itu sekaligus menanyai beberapa saksi yang sempat menjadi sandera sang pelaku.

"Kau tidak ikut ke kantor bersama mereka?" tanya Kaito begitu melihat Shinichi berjalan ke arahnya.

"Kuantar kau pulang dulu."

"Jadi kau memang berencana kembali ke kantor, huh. Padahal ini hari liburmu," komentar Kaito.

"Mau bagaimana lagi," Shinichi mengangkat bahunya tak acuh, "Ayo pulang. Kau bisa jalan? Atau perlu kugendong?"

Kaito menghadiahinya sebuah tinjuan di pundak dan melangkah mendahuluinya ke arah tempat parkir. Shinichi hanya nyengir seraya mengikutinya. Tapi sejujurnya ia bersyukur mereka memilih untuk membawa mobil tadi. Ia tidak yakin Kaito akan betah naik bus ataupun kereta dengan keadaan kacau begitu, meskipun ia sudah tampak lebih baik.

Perjalanan pulang mereka diisi oleh keheningan. Bahkan di awal perjalanan, mata Kaito tak lepas dari asap hitam yang mengepul dari lantai yang terbakar. Shinichi membiarkannya, memberinya ruang untuk menata kembali pikirannya dan menenangkan diri. Mungkin pembicaraannya bisa ditunda hingga esok.

"Tidak usah menungguku untuk makan malam, kurasa aku akan pulang telat," ujarnya saat mereka telah sampai di depan rumah.

"Aa."

"Istirahatlah, Kaito…"

Kaito mengangguk singkat dan menyelinap keluar dari mobil. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri disana, dengan pintu mobil masih terbuka. Ia terlihat ragu. Shinichi mengangkat alisnya, bingung. Ada apa lagi?

"…sankyu, Shin," ujar Kaito pada akhirnya. Ia tersenyum kecil sebelum menutup pintu itu dan berlalu untuk masuk ke dalam rumah.

Shinichi tidak mengerti ia berterima kasih untuk apa, tapi setidaknya ia senang karena Kaito tidak memaksakan senyumnya. Ia pun kembali memacu mobilnya ke Markas Besar Kepolisian Beika. Ia masih penasaran dengan motif pelaku pemboman itu. Jadi untuk sementara, ia menyimpan masalah Kaito ke dalam salah satu loker otaknya, dan memusatkan sel-sel kelabunya ke kasus kali ini.

.oOo.

Seperti dugaan, Shinichi pulang larut malam untuk menyelesaikan laporan kasus hari itu juga, dan ia baru bertemu Kaito lagi keesokan harinya. Ketika ia turun untuk mendapatkan asupan kopi hitamnya, Kaito telah berada di dapur, menyiapkan waffle –sungguh, kadang Shinichi tidak tahan dengan segala makanan manis yang disukai Kaito, tapi toh ia memilih untuk tetap memakannya daripada mati kelaparan– sebagai sarapan mereka pagi itu.

"Kaito, kopi…," gumamnya seraya menjatuhkan diri ke salah satu kursi di depan meja makan. Sejak Kaito resmi memulai usahanya menjadi seorang barista, Shinichi selalu memanfaatkan kehadiran pemuda itu untuk membuatkan kopi untuknya.

Ia mendengar Kaito menggumamkan sesuatu, tapi kantuk mengaburkan fokusnya hingga ia tidak mendengar apa yang dikatakannya. Ketika Kaito meletakkan sebuah cangkir di depannya, ia hanya memandanginya dengan alis bertaut. Warnanya tidak hitam, dan ia jelas tidak mendengar suara mesin kopi yang dinyalakan ataupun mencium wangi kopi favoritnya.

"Apa ini?"

"Milk tea."

Kerutan di dahi Shinichi semakin kentara.

"Terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuh. Sekali-kali minumlah teh, Shin," jawab Kaito santai, meskipun Shinichi yakin ia mendengar seringainya meskipun ia tidak melihat wajahnya.

"Aku tidak percaya ada barista yang melarang orang minum kopi," ujar Shinichi sengit. Ia melipat kedua lengannya di depan dada, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan menatap tajam cangkir itu dari kejauhan—atau setidaknya sejauh yang kursinya ijinkan.

"Hei, aku bicara sebagai temanmu, Shinichi. Lagipula bukan berarti karena aku bekerja di kedai kopi lalu aku meminum kopi tiap hari kan?"

Kaito menarik kursi di hadapan Shinichi dengan kakinya, lalu meletakkan dua piring waffle dan secangkir teh yang sama di atas meja. "Cobalah dulu."

Shinichi memasang muka masam, lalu dengan terpaksa mengambil cangkir itu. Kaito menatapnya intens, menambah tekanan yang diberikan cairan coklat di cangkirnya dua kali lipat. Perlahan ia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya dan menyesap milk tea itu.

"Bagaimana? Enak kan?" tanya Kaito dengan nada yang kelewat ceria.

"Aku lebih suka kopi hitam," jawab Shinichi singkat seraya kembali meletakkan cangkir itu di atas meja. Ia menarik wafflenya dan mulai menyantap sarapannya.

"Tapi tidak buruk kan?" Shinichi tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu bahwa ia tengah nyengir lebar.

"Jadi, kau mau menceritakan masalah fobiamu itu sekarang?"

Kini ganti giliran Kaito yang memasang muka masam. Cengirannya langsung hilang dalam sengaja. "Bisa tidak kalau bagian ini dilewati saja?"

"Tidak bisa. Sudah kubilang aku akan memaksamu bicara kan?"

Kaito menggerutu. Shinichi masih terus menatapnya lekat-lekat. Sang pesulap itu akhirnya menghela napas, ia tahu sekeras kepala apa Shinichi dan rasanya percuma jika harus melawannya.

"Baiklah, baiklah! Aku akan berusaha menjelaskannya…"

.

to be continued

.

Sekali lagi terima kasih atas semua yang sudah menyempatkan baca/review/fave/alert fic ini n(_ _)n Maaf kalau ada yang kurang akurat mengenai break down a.k.a kumatnya fobia Kaito, juga part actionnya yang kurang "wah" orz. Dan kalau memang ada yang salah mohon beri tau saya~ Review is appreciated! ^^)/