Disclaimer : Bleach © Kubo Tite.
Author : The Abnormal Kid.
Rate : T.
Genre : Romance, Hurt/Comfort.
Chapter : 11/12.

Warning : Typo (s), OOC, Netorare (maybe?), alur cepat, gaje, abal-abal, hancur dan lainnya.

Rainy Days.

Tangan kekar itu masih menahan mobil hitam di depannya.
Otot-otot yang terlihat tidak cocok dengan penampilannya yang seperti gadis biasa.
Permukaan mobil itu terlihat sedikit remuk karena kekuatan perempuan satu ini.
Melihat kejadian ini, semua orang yang melihatnya hanya bisa terdiam.
Tak ada yang menyangka perempuan itu bisa menahan laju mobil ini.

"Menny? Kenapa kau ada disini? Bukannya seharusnya kau berjaga di rumah?" Dengan cepat Masaki memanfaatkan kesempatan itu untuk keluar dari mobil dan berjalan mendekati Meninas.

"Rencananya sih begitu, tapi dia jadi gelisah setelah mengetahui kau sedang kencan bersama pria bodoh itu lalu akhirnya dia pergi untuk mencarimu dan aku sebenarnya sedang menyusulnya untuk membawanya kembali. Kemudian setelah aku berhasil menyusulnya ternyata dia sedang menyaksikan kalian sambil bersembunyi di balik toko itu dan selanjutnya kau tahu apa yang terjadi," ucap seorang lelaki berlidah dua sambil menunjuk sebuah toko yang tak jauh dari mereka.

"Nianzol! Tak bisakah kau bicara dengan sopan pada tuan putri?" protes Meninas.

"Memang kenapa? Dia juga tidak keberatan tuh," jawab Nianzol tanpa mempedulikan Meninas yang tak menyukai perilakunya.

"Sudah-sudah, tak usah bertengkar lagi. Menny, terimakasih ya," setelah berterimakasih pada Meninas, Masaki beranjak menuju Isshin yang tampak berlari padanya.

"Kau tidak apa-apa Masaki? Kupikir aku akan kehilanganmu, tapi syukurlah kau tidak apa-apa," Isshin memeluk erat Masaki yang hampir direbut jika tidak dihentikan oleh Meninas sementara si pelaku keluar dari mobilnya dan langsung disambut oleh kuatnya cengkraman tangan Meninas di lehernya.

"Kuharap kau mempunyai alasan supaya aku tidak membunuhmu, karena tanganku ini sudah gatal untuk meremukkan lehermu," Meninas mencekik leher Ryuuken dengan sangat kuat dan mengangkatnya keatas.

"Le-lepaskan aku, dasar wanita murahan."

"Cih, dasar bocah tak tahu diri," mendengar perkataan Ryuuken, Meninas melempar Ryuuken beberapa meter ke samping kanan Isshin dan Masaki yang sedang berpelukan.

Ryuuken yang terlempar menabrak sebuah dinding bangunan dan membuat sebuah retakan besar akibatnya.
Beberapa bagian bangunan itu jatuh dan hampir saja mengenai Ryuuken.

"Masaki, milikku," setelah terkena serangan itu sepertinya Ryuuken masih bisa bangkit kembali dari lokasinya jatuh kemudian perlahan berjalan menuju Isshin dan Masaki.

"Sudah cukup, Ryuuken. Kau takkan bisa mendapatkan Masaki, lebih baik kau pikirkan bagaimana perasaan Kanae yang melihatmu seperti ini!" Isshin menunjuk kearah dimana Kanae melihat Ryuuken sambil berurai air mata.

"Perasaannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku?! Bagaimana perasaanku melihat Masaki direbut dariku?!"

"Sejak kapan Masaki jadi milikmu? Walaupun kau menyatakan perasaanmu lebih dulu tapi bukan berarti dia sudah menjadi milikmu!" Lelaki dari keluarga Shiba itu melepaskan pelukannya dari Masaki lalu perlahan mendekati Ryuuken yang masih lemas karena serangan Meninas.

"Jika bukan karena perjodohan konyolmu itu, Masaki sekarang sudah ada di sisiku! Karena saat itu, Masaki menerima pernyataan cintaku!"

"Apa itu benar, Masaki?" Isshin menengok kearah Masaki dan menunggu jawaban darinya.

"Itu benar, maafkan aku karena tidak memberitahumu, Isshin. Saat itu aku memang belum mencintaimu dan Ryuuken lah yang dulu kusukai, tapi sesudah perjodohan itu semuanya berubah. Sebenarnya aku sudah ingin menceritakannya sejak dulu, tapi aku tidak tega mengatakannya padamu."

"Kau dengar kan?! Masaki adalah milikku! Sekarang kembalikan dia kepadaku!" Perlahan Ryuuken berjalan mendekati Masaki, dengan tertatih, dia mengulurkan tangannya pada tangan Masaki tapi usahanya digagalkan oleh Isshin yang menghalanginya.

"Kau selalu bicara tentang perasaanmu sendiri tapi tak pernah mau melihat perasaan orang lain, orang seperti itu tak pernah pantas untuk Masaki, kau tak berhak bahkan hanya untuk menyentuhnya," Isshin memegang dengan sangat kuat tangan Ryuuken yang hendak menyentuh Masaki sesaat sebelum kulit keduanya membuat kontak.

"Kau bisa berbicara begitu karena tak merasakan penderitaanku!" Ryuuken sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan kanannya, tapi cengkraman Isshin sangat kuat sehingga semakin ia coba melepasnya semakin kuat cengkramannya.

"Kau ingin tahu penderitaanku? Aku lahir dengan sebuah kemampuan yang tak dimiliki anak lainnya dan karena itu aku harus menyembunyikan segala prediksi yang kulihat karena orang sepertiku hanya dianggap orang gila oleh masyarakat. Aku harus dengan sengaja menurunkan semua nilai mata pelajaranku agar Kaien bisa tumbuh tanpa harus mengalami tekanan dariku, aku mengubah semua sikapku supaya Kaien lebih terlihat terpuji daripada diriku dan aku rela menerima cap sebagai berandalan dan anak bodoh demi Kaien yang kusayangi. Kedua orang tuaku bahkan sempat ingin memasukanku ke rumah sakit jiwa karena prediksi yang kuceritakan pada mereka, Kuukaku adalah orang pertama di keluargaku yang mau menerimaku dan karena pengaruhnya akhirnya semua anggota keluarga cabang pun mau menerimaku sebagai pewaris utama keluarga Shiba. Dan Masaki juga tak pernah meragukanku sedikitpun dan terus mempercayaiku. Bagaimana? Kau pikir aku tak punya penderitaan? Lupakan soal kaulah orang yang paling menderita di dunia, karena masih banyak orang di luar sana yang penderitaannya jauh melebihi penderitaanmu."

"Omong kosong! Tahu apa kau tentang diriku?! Lepaskan tanganku atau ucapkan selamat tinggal pada nyawamu!" Ryuuken mengeluarkan sesuatu dari tangan kirinya yang tidak dicengkram, sebuah pisau kecil bergagang hitam dengan mantap digenggam oleh tangan kirinya.

"Kau sudah melangkah terlalu jauh Ryuuken, kau akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu sehingga kau akan sangat menyesal karenanya. Aku juga tidak bisa mencegah perbuatanmu selanjutnya bila kau melakukannya, tolong buang pisau itu sebelum rasa penyesalan memasukkanmu dalam kegelapan!" Isshin mencoba menghentikan Ryuuken yang tengah bersiap menusuk tubuhnya.

"DIAM!" Dengan cepat tangan kirinya melaju dan mengantarkan sebuah pisau menuju pada badan Isshin, terdengar sayup-sayup suara Kanae yang mencoba menghentikan Ryuuken, lalu tiba-tiba seseorang dengan cepat menghalangi laju pisau itu dan dengan sukses menancap di dada kiri orang itu.

"Ka..kak.." Darah mengalir deras dari dada kiri Miyako yang ternyata adalah orang yang menghalangi perbuatan kakaknya.

"Miyako!" Kanae dengan cepat berlari menuju Miyako yang bersimbah darah, sementara Ryuuken masih terdiam seolah tak percaya apa yang telah dilakukannya.

"Mi..yako? Kenapa?" tanya Ryuuken yang masih terpaku pada pemandangan yang dilihatnya.

"Ka..kak bukanlah seorang pembunuh, meskipun banyak derita yang kakak alami, tapi kakak takkan mungkin mengambil nyawa seseorang kan?" ucap Miyako tanpa peduli darah yang terus mengalir dari mulutnya.

"Miyako, bertahanlah! Aku akan memanggil ambulance!" Dengan cepat Ryuuken mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon ambulance, tapi dicegah oleh tangan lemah Miyako.

"Kak, kau ingat saat kita bermain bersama Shiba bersaudara saat kecil? Menyenangkan bukan? Aku rindu saat itu, kenapa rasa senang itu tidak bisa kita rasakan sekarang?" ujar Miyako tanpa peduli rasa sakit yang dirasakannya.

"Iya, jika kau tetap hidup kita akan merasakan rasa senang itu. Karena itu, bertahanlah Miyako!" Ryuuken memegang kedua tangan Miyako yang sangat lemah, mencoba menjaga kesadarannya.

"Benarkah? Terima kasih kakak, aku sangat senang," mata Miyako perlahan menutup, masa hidupnya di dunia sudah terpotong berkat pisau kakaknya, Miyako meninggalkan dunia ini dengan senyum tercipta di wajahnya.

"MIYAKO!"

.

.

Kematian Miyako membuat Ryuuken sangat terpukul, apalagi kematiannya disebabkan oleh dirinya sendiri.
Saat ini jasad Miyako telah dibawa ke rumahnya setelah sebelumnya dibawa ke rumah sakit dahulu.
Tentunya jika Ryuuken pulang ke rumah, pasti dia akan diserbu berbagai pertanyaan seputar kematian Miyako.
Sebelumnya Kanae memberitahu Ryuuken kalau dia akan memberi pernyataan bahwa Miyako tewas akibat serangan perampok demi melindungi Ryuuken.
Meskipun begitu, Ryuuken tetap tak mau pulang ke rumah.

Sementara Isshin dan Masaki sudah pulang ke rumahnya masing-masing, walau sebenarnya Isshin ingin sekali menemani Ryuuken yang depresi tapi Ryuuken menolaknya mentah-mentah sehingga ia terpaksa pulang ke rumah.

Saat ini Ryuuken tengah berada diatas jembatan yang dibawahnya terletak sungai yang terlihat cukup dalam.
Air di sungai itu memantulkan gambaran bulan sabit yang sedang bersinar.
Dalam Headphone Ryuuken, sebuah lagu sedang diputar.

Nobody knows who I really am.
I never felt this empty before.
And if I ever need someone to come along.
Who's gonna comfort me and keep me strong.

We are all rowing the boat of fate.
The waves keep on comin' and we can't escape.
But if we ever get lost on our way.
The waves would guide you through another day.

Seiring lagu berputar, Ryuuken terus menatap ke dasar sungai.

To be continued.

Author's Note :

Lirik lagu : Rie Fu : Life is Like a Boat.