Title : My Little Sweetheart
Pairing : KyuMin [Kyuhyun x Sungmin]
Others : Donghae; Heechul; Hyukjae
Rating : T
Genre : Romance; Fluff;
Disclaimer : KyuMin belongs to each other… ^^
Warning : YAOI, typos, Older!Sungmin, Kid!Kyuhyun
Summary :Salahkah Sungmin jika dia mencintai Kyuhyun yang berjarak delapan tahun dibawahnya? Lalu apakah Kyuhyun bisa akrab dengan Donghae, sahabat Sungmin? [Hanya sekedar kisah cinta Sungmin dan Kyuhyun, sang kekasih kecilnya. –semacam sequel dari 'Is it wrong or not?']
By : Zen~
A.n : This is the longest chapter with 7200 word and Roommateu is REAL! ^_~
.
.
.
Kyuhyun melempar bantal sofa itu kearah Heechul sekuat tenaga. Dia tidak suka jika kakaknya ini bertindak semaunya sendiri seperti itu. Hanya karena Kyuhyun dibawah umur, jadi Heechul berhak menentukan semua hal untuknya, begitu? Kalau begitu ternyata semua orang dewasa itu sama saja! Egois dan semau mereka sendiri. Seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu.
Selama beberapa minggu terakhir, Kyuhyun merasa tenang-tenang saja karena Heechul bilang bahwa mereka tidak akan berangkat secepat itu. Heechul bilang mereka akan pergi pertengahan tahun depan sehari setelah upacara kelulusan Sungmin, jadi Kyuhyun bisa mengajak Sungmin ikut bersamanya.
Menghabiskan waktu berdua dengan Sungmin-nya.
Tapi apa-apaan sekarang? Kenapa tiba-tiba mereka akan berangkat akhir tahun ini? Tepat dimalam pergantian tahun saat Sungmin berumur Sembilan belas tahun. Jika saja Kyuhyun punya kemampuan telekinetis super seperti para jagoan x-man itu, dia pasti akan membekukan kakaknya itu kemudian dihancurkannya wajah menyebalkan itu berkeping-keping. Tanpa tersisa! Sedikitpun!
Dilemparkannya lagi bantal sofa yang masih tergeletak bebas dibawah kakinya itu kearah Heechul yang kini masih berusaha bersembunyi dibalik lemari kayu yang berdiri kokoh tepat disamping tangga putar menuju lantai dua untuk menghindari amunisi yang dimiliki Kyuhyun.
Tapi Kyuhyun tidak peduli, dia benar-benar kesal saat ini. Bahkan karena terlalu kesal, dia sudah tidak ingat lagi bahwa kakaknya ini adalah pembunuh berdarah dingin. Kakaknya itu harusnya bersyukur karena dia hanya melempar bantal sofa yang lembut ini kearahnya, bukan puluhan pisau yang ada dilemari bawah dapur mereka. Mungkin jika bantal-bantal ini tidak membuatnya merubah pikiran kakaknya, Kyuhyun akan memikirkan soal pisau-pisau itu lagi.
Jika Kyuhyun pikir lagi, jadi ini alasannya mengapa beberapa hari ini Heechul sungguh sangat sulit ditemui? Apakah untuk mengurus passport dan tiket pesawat juga visa mereka? Tapi Heechul sudah berjanji untuk mengajak Minnie bersama mereka!
"YA! ANAK KURANG AJAR! BERHENTI MENYERANGKU SEKARANG JUGA!" Teriak Heechul ketika lemparan ketiga Kyuhyun tepat mengenai wajah yang dibanggakannya. Meskipun terkejut dan sedikit takut Heechul membalasnya karena lemparannya tepat sasaran, Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan seringai yang tiba-tiba saja terbentuk diwajahnya. Ternyata ini menyenangkan juga, pikir Kyuhyun.
"AKU TIDAK MAU IKUT KE LONDON!" Teriak Kyuhyun sama kerasnya sambil menatap Heechul dengan tatapan yang paling mengerikan yang pernah dilihat Heechul. Tertegun, Heechul hanya bisa memandang adiknya dengan setengah shock. Entah mengapa tiba-tiba saja diotaknya muncul pemikiran random untuk segera merubah warna rambut adiknya itu menjadi ungu. Eiwwwhhh…that would be so gay! But it's okay, this brat is gay anyway.
"HYUNG~~" Rengek Kyuhyun saat dia mendapati Heechul seolah ingin membunuhnya sekarang juga. Tapi Kyuhyun tidak akan menuruti perkataan iblis itu. Tidak saat Kyunnie belum lama menikmati kebersamaannya dengan Minnie tanpa ikan badut berada disekitar mereka.
Aish! Kenapa kakaknya ini senang sekali membuatnya menderita sih? Padahal Kyuhyun berfikir mereka sudah dalam kondisi sangat 'akrab' setelah peristiwa kepingan DVD itu, tapi ternyata tidak!
"TAPI KAU HARUS IKUT! PAMAN DAN BIBI INGIN BERTEMU DENGANMU!" Teriak Heechul lagi sambil berusaha menghindari semua barang yang dilemparkan Kyuhyun. Beruntung diruang tamu itu hanya ada beberapa bantal sofa halus dan taplak meja.
Kyuhyun sekali lagi melempar bantal kursi berwarna merah terang itu kearah Heechul sekuat tenaga seolah dia adalah seorang pelempar bola dalam pertandingan baseball, namun meleset dan malah mengenai vas bunga yang terletak dimeja telepon tak jauh dari tempat Heechul berada.
Bunyi keramik yang beradu dengan lantai marmer dibawahnya itu menimbulkan suara yang tidak pelan dalam bangunan yang hanya dihuni oleh dua orang ini.
Lalu diam sesaat.
Keheningan yang terjadi justru membuat Kyuhyun makin membeku ditempatnya dan Heechul berusaha untuk tidak mengeluarkan amarahnya. Itu adalah vas bunga kesayangan ibunya dulu. Heechul dan Kyuhyun tahu benar akan hal itu karena ibunya sering membicarakan benda berharganya itu. Ibunya selalu memperlakukan vas itu seolah benda itu adalah benda paling mahal didunia. Ibunya selalu membersihkan benda itu dari debu-debu halus yang selalu ingin mendekatinya. Ibunya…
"Okay, sebaiknya kita selesaikan ini secara baik-baik!" Pasrah Heecul sambil mengangkat kedua tanganya keudara seperti memberikan tanda bahwa dia menyerah dan bersedia untuk bernegosiasi dengan adiknya. Setidaknya itu bisa membuat kenangan akan ibunya yang tiba-tiba muncul itu dapat terhapus sebentar.
Adiknya ini memang sedikit antisocial dan menyebalkan dan game freak dan sarcastic bastard –terima kasih pada cara didik Heechul yang 'special'- namun Heechul tahu dibalik itu semua, Kyuhyun adalah pribadi yang sangat sensitive dan penyayang.
"Gomene, Kyunnie tidak bermaksud memecahkan vas itu." Lirih Kyuhyun sambil berjalan menuju ketempat Heechul berada. Dan setelah dia menemukan kakaknya, Kyuhyun langsung memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang kakaknya. Tidak ingin kakaknya itu tahu bahwa dia sedang berusaha menahan air matanya. Heechul yang tahu maksud Kyuhyun balik memeluknya lalu mengusap punggung adiknya ketika dia merasakan bajunya sedikit basah.
Kyuhyun menangis.
Setelah beberapa tahun belakangan ini Heechul tidak pernah melihat air mata menggenang dipelupuk mata adiknya, akhirnya dia diberi kesempatan untuk kembali menyaksikan adiknya yang cengeng, adiknya yang manja dan adiknya yang seolah sangat bergantung padanya. Betapa Heechul merindukan saat-saat dimana Kyuhyun bersikap manis seperti ini. Ya, bersikap seperti layaknya seorang anak kecil.
"Maafkan Kyunnie, Hyung! Kyunnie tidak sengaja! Hiks.." Gumam Kyuhyun lagi sambil terus meneteskan air matanya. Sesekali Heechul mendengar Kyuhyun seperti tercekat nafasnya sendiri.
Heechul tahu bahwa Kyuhyun merasa sangat bersalah saat ini dan Heechul seharusnya berusaha untuk menenangkannya. Namun Heechul bukanlah Heechul jika dia tidak dapat menemukan jalan keluar dalam setiap masalah yang sedang dialaminya!
Jadi, Heechul melihat situasi ini sebagai satu-satunya kesempatan untuk membujuk adiknya agar ikut dengannya ke London. Paman dan bibi Shin sudah sangat ingin bertemu dengan mereka, tapi terutama mereka ingin bertemu dengan Kyuhyun.
Satu-satunya orang yang beruntung telah selamat dari tabrakan beruntun lima mobil di sebuah jalan bebas hambatan.
"Kyunnie," Panggil Heechul pelan sambil terus mengusap-usap punggung Kyuhyun keatas dan kebawah. "Karena Kyunnie merasa bersalah telah memecahkan vas kesayangan omma, bagaimana jika Kyunnie ikut hyung ketempat paman dan bibi di London?" Tanya Heechul. Lagi-lagi dengan nada menenangkan. Klub drama yang diikutinya sepertinya harus mendapat penghargaan karena telah berhasil membuatnya seorang aktor professional seperti sekarang.
"Setidaknya merekalah yang memberikan vas itu pada omma, jadi Kyunnie bisa minta maaf pada mereka, bagaimana?" Tambah Heechul lagi. Kali ini dia memegang kedua pipi Kyuhyun dan memandang adiknya itu tepat dimanik matanya.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Heechul bisa merasakan kepala Kyuhyun mengangguk lemah. Menyerah. Kyuhyun tidak ingin dihantui rasa bersalah selama hidupnya, jadi meminta maaf adalah jalan terbaik yang harus dilakukannya saat ini.
"Tapi Kyunnie punya permintaan." Lirih Kyuhyun pelan. Dan Heechul harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak loncat dan mengepalkan tangannya sambil meninju udara yang seolah berpihak padanya.
"Apa itu?"
"Jangan beritahu Minnie soal hal ini ya, Hyung! Kyunnie tidak ingin Minnie sedih." Pinta Kyuhyun polos. Dan Heechul hanya tersenyum dengan senyum andalannya.
"Tidak mau Minnie sedih atau karena Kyunnie tidak ingin Minnie tahu bahwa Kyunnie adalah anak yang cengeng?" Goda Heechul. Sedetik kemudian, Heechul harus merelakan dua helai rambutnya terlepas dari kepalanya setelah monster kecil dihadapannya kalap.
.
-My Little Sweetheart-
.
"Kyunnie mau ice cream~~" rengek Kyuhyun begitu dia dan Sungmin melewati toko ice cream favorite Kyuhyun ketika mereka sedang menikmati kencan kesekian mereka. Sungmin masih tetap pada pendiriannya dan tidak akan menyerah meskipun kini Kyuhyun sibuk menarik-narik ujung lengan sweaternya sambil menunjukan wajah seperti anak kucing yang baru saja kehilangan ibunya.
Tidak, kali ini tatapan itu tidak akan berhasil untuk membuat Sungmin mengubah pendiriannya.
Jadi, Sungmin berusaha untuk berjalan sambil menarik lengan Kyuhyun menjauh dari kedai itu. Tapi Kyuhyun bukanlah Kyuhyun jika anak itu tidak mempersulit keadaan. Sungmin hanya harus berusaha lebih keras untuk menarik Kyuhyun karena anak itu seperti menempatkan seluruh beban tubuhnya pada kakinya dan berusaha menahan Sungmin untuk tidak membawanya menjauh dari kedai ice cream dihadapannya.
Udara sudah mulai memasuki musim dingin dan Kyuhyun meminta dibelikan ice cream? Hah! Sungmin tidak ingin Heechul memakinya karena membuat adik kesayangannya sakit. Dan Sungmin juga tidak ingin dilarang untuk menemui Kyuhyun, jadi Sungmin lebih memilih untuk mengerahkan seluruh tenaganya saat ini.
"Minnieee~~" Kyuhyun mencoba lagi sambil berusaha untuk menahan tangan Sungmin yang masih berusaha menariknya kencang. "Kyunnie ingin ice cream!" Kali ini Kyuhyun berteriak dan sukses membuat orang-orang disekeliling mereka menoleh dan memandang Sungmin dengan tatapan yang seolah berkata dasar-orang-dewasa-yang-tidak-pengertian-anak-itu-kan-hanya-meminta-ice-cream-bukan-sebuah-mobil-mewah. Membuat Sungmin hanya bisa menepuk dahinya frustasi. This kid! Maki Sungmin dalam hati.
.
"Happy now?" Tanya Sungmin saat akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk mengabulkan permintaan Kyuhyun. Pria pencinta warna pink itu kini hanya bisa memandang Kyuhyun dengan tatapan kesal. Namun tetap saja dia tidak dapat menyembunyikan senyumnya ketika dia melihat Kyuhyun mengangguk mantap sambil terus menghabiskan ice cream cokelat kesukaannya.
Diletakkannya tangan kanannya dibawah dagu untuk menopangnya sementara mata hitamnya tidak berhenti menatap Kyuhyun yang masih asik menyendok ice cream itu kemulutnya dan memejamkan matanya ketika Kyuhyun merasakan gumpalan ice cream itu meleleh didalam mulutnya. "Kyunnie sangat suka ice cream rupanya." Gumam Sungmin, namun sedikit terlalu keras hingga Kyuhyun bisa mendengarnya.
Kyuhyun menatap Sungmin tersenyum sebelum akhirnya menggeleng mantap. Sungmin sedikit terkejut karena tebakannya salah. Siapapun yang melihat cara Kyuhyun memakan ice cream saat ini pasti akan berfikiran sama dengannya.
Lagipula anak kecil mana yang tidak menyukai makanan penuh gizi itu? Sungmin sendiri sangat menyukainya, hanya saja cuaca yang sedikit dingin menghalanginya untuk menghabiskan seluruh ice cream yang tadi dipesannya.
Kyuhyun kini terlihat buru-buru menghabiskan tiga suapan terakhir ice cream cokelat bertabur kacang dan syrup strawberry yang dipesannya tadi kemudian membersihkan wajahnya dari sisa-sisa ice cream yang meninggalkan jejak disudut bibirnya. Lalu dengan wajah yang terlampau ceria dan berbinar, Kyuhyun memandang Sungmin yang kini duduk manis tepat dihadapannya sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
"Kenapa Kyunnie tersenyum seperti itu?" Tanya Sungmin penuh selidik. Dahinya sedikit berkerut hingga kedua alisnya hampir saja menyatu. Kyuhyun yang seperti ini adalah Kyuhyun yang menginginkan sesuatu dan sepertinya Sungmin bisa menebak apa yang dia inginkan.
"Kyunnie tidak suka ice cream, Minnie!" Seru Kyuhyun sedikit terlalu ceria. Sedang Sungmin masih memandangnnya dalam posisi yang sama, menunggu Kyuhyun untuk menyelesaikan kalimatnya. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Minnie wa daisuki desu!" Aku sangat menyukai Minnie! Lanjut Kyuhyun. Tatapannya kini berubah lembut ketika dia memandang Sungmin yang sedang sibuk mengatur detak jantungnya yang mendadak menjadi tidak teratur. Sungmin bisa merasakan rasa panas tiba-tiba yang berpusat pada daerah sekitar wajahnya terutama pada pipinya.
"Arigatou…" Terima kasih. Gumam Sungmin pelan. Lagipula hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya saat Kyuhyun masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Bedanya hanya kini anak kecil itu menopang dagunya menggunakan kedua tangannya dan sedikit mengayunkan kakinya yang tidak menyentuh lantai.
Kyuhyun makin tersenyum lebar ketika Sungmin mengipas-ngipas wajahnya menggunakan kedua tangannya. Kawaii! Seru Kyuhyun dalam hati. Sungmin yang seperti itu membuatnya lupa akan tujuan awalnya mengajak Sungmin kencan hari ini. Mungkin sebaiknya memang Sungmin tidak perlu tahu.
Ya, Sungmin tidak perlu tahu tentang kepergiannya ke London yang hanya tinggal sebulan lagi. Sungmin juga tidak perlu tahu bahwa dialah yang membuat Lee Chunhwa kembali karena dia tidak bisa terus melihat Sungmin-nya diam-diam memandangi photo keluarganya ketika malam sebelum dia tertidur.
Yang perlu Sungmin-nya tahu adalah kenyataan bahwa untuknya, Kyuhyun akan selalu ada. Kimi no tame ni, nani mo dekiru.Dan untukmu, apapun bisa kulakukan, gumam Kyuhyun dalam hati.
"Ok, Euumm…karena tadi Kyunnie baru saja mengucapkan hal yang membuat Minnie senang, bolehkah Kyunnie meminta satu porsi ice cream lagi?" Tanya Kyuhyun kembali menunjukan wajah polosnya.
Dan sungguh Sungmin menyesal sudah merasa tersipu dengan rayuan Kyuhyun tadi. Such a sweet talker!
-My Little Sweetheart-
Sungmin berlari kencang menelusuri setiap pintu terminal keberangkatan International di Gimpo Airport. Berusaha untuk mencari sosok yang sudah tiga hari ini tidak dilihatnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga Sungmin tidak ingin mendengarkan pembicaraan Donghae sampai selesai untuk langsung berlari kencang menuju tempat ini.
Sungmin bahkan tidak menghiraukan udara dingin bulan desember menyapu wajahnya yang kini terlihat semakin pucat. Meskipun dia sudah menggunakan sarung tangan, tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa dingin yang terus membalut telapak tangannya. Karena keringat dingin itu terus saja keluar.
Tapi Sungmin tidak peduli dan terus berlari. Tidak disaat mungkin saja dia tidak dapat bertemu lagi dengan orang yang sangat disayanginya saat ini. Kyuhyun tidak mungkin meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.
Sungmin berharap semua ini hanyalah sebuah lelucon buatan Donghae.
Dan jika memang ini adalah sebuah lelucon, maka ini benar-benar sudah mulai terasa tidak lucu lagi.
Donghae bilang Kyuhyun akan tinggal dengan paman dan bibinya di London sampai dia lulus dari Universitas nanti. Saat Sungmin tidak mempercayai Donghae dan bilang bahwa Donghae berbohong, sahabatnya menambahkan bahwa itu adalah permintaan terakhir ibu Kyuhyun sebelum dia meninggal. Donghae bahkan menunjukan pesan singkat yang dikirim Heechul untuk memberitahu bahwa mereka sudah sampai bandara dan sedang menunggu waktunya boarding.
Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak memberitahukan hal ini padanya? Hal penting seperti ini? Anak itu benar-benar keterlaluan! Dia bilang dia menyayangi Sungmin, dia bilang dia tidak ingin jauh dari Sungmin walau sebentar! Tapi apa yang anak itu lakukan sekarang? Meninggalkan Sungmin begitu saja? Arrrgghhh! Empat hari lagi itu adalah hari ulang tahunnya!
Kemudian pikiran Sungmin kembali kalut ketika dia mengingat kencan terakhir mereka di kedai ice cream hampir sebulan yang lalu itu. Apakah saat itu Kyuhyun berusaha untuk memberitahunya? Tidak! Sungmin tidak ingin itu menjadi kencan terakhirnya dengan Kyuhyun. Dia bahkan belum mengatakan rencananya untuk menghabiskan malam tahun baru bersama Kyuhyun.
Sungmin sudah merelakan malam natalnya tanpa Kyuhyun karena Heechul bilang mereka harus mengunjungi kerabat mereka di Ilsan. Tapi kalau ternyata Heechul malah membawa pergi Kyuhyun darinya, mau tidak mau Heechul harus berurusan langsung dengannya.
Setidaknya jika mereka memang benar-benar harus pergi, Kyuhyun harus memberikan dulu penjelasan mengapa dia pergi secara tiba-tiba seperti itu. Kalaupun Kyuhyun tidak bisa nanti, terpaksa Sungmin akan memaksa Heechul untuk memberinya penjelasan. Sedikit tendangan memutar dari Sungmin mungkin akan membuat Heechul menjelaskannya.
Sungmin sedang berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya ketika matanya menemukan sosok yang dikenalnya sedang berjalan dibalik kaca tipis, menanti saat untuk boarding. Buru-buru dia berlari dan menghampiri sosok itu sambil menahan rasa sakit di perutnya karena berlari terlalu kencang tadi.
"Kyunnie!" Seru Sungmin dan sukses membuat seorang anak kecil yang menggunakan jaket tebal berwarna cokelat tua dan tas ransel berwarna hitam menoleh kearahnya. Disebelah anak itu, Sungmin bisa melihat Heechul ikut menoleh dan sedikit terkejut begitu mendapati Sungmin tengah berlari menuju mereka. Sial! Ikan badut itu pasti berulah lagi, gumam Heechul kesal.
"Minnie?! Sedang apa Minnie disini?!" Seru Kyuhyun kaget. Dilihatnya Heechul dengan sedikit rasa takut ketika kakaknya itu mengeluarkan suara 'Tch' yang cukup keras.
"Benarkah Kyunnie akan pergi ke London dan meninggalkan Minnie sendirian disini?!" Tanya Sungmin sedikit terengah dan berteriak karena pertanyaan itu dilontarkannya sambil dia mengatur nafasnya. Kyuhyun hanya diam kemudian berjalan menjauh dan bersembunyi dibalik punggung Heechul. Takut-takut jika dia melihat Sungmin sekarang dia akan mengurungkan niatnya untuk bertemu paman dan bibinya.
"Ya! Kyunnie!" Seru Sungmin lagi. Kaca yang memisahkan mereka tidak terlalu tebal hingga Heechul dan Kyuhyun yang tepat sedang bersandar disisinya bisa mendengar apa yang diteriakkan Sungmin. Dengan ekspresi sedikit kesal, Heechul memandang Sungmin yang masih berusaha mencuri perhatian Kyuhyun. "Sungmin-ah! Itu benar. Kami sudah akan berangkat, jadi jangan bersikap seperti ini. Memalukan!"
"YA! CHO KYUHYUN! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU!" Teriak Sungmin lagi tanpa menghiraukan kata-kata Heechul dan kini sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Heechul hanya bisa mengusap wajahnya frustasi. Bagus, sekarang dia seperti sedang berada ditengah drama televisi yang sering ditontonnya itu. Di televisi memang adegan ini terlihat bagus dan sangat romantis, tapi jika dialami secara langsung hal ini benar-benar memalukan.
Heechul berjanji saat dia pulang nanti, dia akan memaksa ikan badut itu berenang dalam minyak panas!
"Minnie, Kyunnie akan kembali! Tunggu Kyunnie ya…" Jawab Kyuhyun dari balik kaca itu akhirnya. Ditempelkannya tangan kecil itu pada kaca tipis yang memisahkannya dengan Sungminnya sambil memandang langsung mata Sungmin. Agar Sungmin bisa melihat bahwa dia juga tidak ingin meninggalkan Korea dan meninggalkan dirinya. Dan bahwa janji Kyuhyun untuk kembali adalah sungguh-sungguh.
Kemudian mata Kyuhyun beralih memandang tanggannya ketika dari balik kaca tipis itu Sungmin juga menempelkan tangannya tepat didepan telapak tangan Kyuhyun. Sehingga kini tangan keduanya seperti saling bersentuhan.
Sungmin ingin sekali menarik Kyuhyun dan memeluknya, tapi petugas bandara ini tidak mungkin mengizinkannya masuk tanpa tiket dan passport. Walaupun Sungmin berharap bisa seperti tokoh-tokoh dalam drama televisi yang bisa langsung masuk dan menarik kekasihnya dalam sebuah pelukan, tapi Sungmin tahu realita itu tidak selalu sejalan dengan harapannya.
Jadi sepertinya kali ini Sungmin akan mempercayai kata-kata Kyuhyun bahwa dia akan kembali. Meskipun Donghae bilang Kyuhyun baru akan kembali setelah dia menyelesaikan perguruan tinggi disana, tapi Sungmin memutuskan untuk menunggu.
Karena Sungmin sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak merubah perasaannya terhadap Kyuhyun sampai kapanpun.
"Itsumo kimi o matte iru…" Aku akan selalu menunggumu.Ucap Sungmin perlahan, berusaha agar Kyuhyun mengerti maksud kata-kata yang diucapkannya. Saat Kyuhyun mengangguk, Sungmin mendekatkan wajahnya pada kaca tipis itu dan memberikan isyarat agar Kyuhyun melakukan hal yang sama.
Sedetik kemudian Heechul benar-benar menyesal berada didekat mereka saat bibir Kyuhyun dan Sungmin saling bertemu dengan kaca tipis itu berada diantaranya. Buru-buru ditariknya Kyuhyun kebelakang karena mereka saat ini sudah benar-benar menjadi pusat perhatian. Sedangkan matanya masih memandang dengan tatapan membunuh kearah Sungmin yang kini hanya tersenyum canggung padanya.
Mulai saat ini Heechul bersumpah dia tidak akan pernah menonton drama televisi picisan itu lagi. Tidak akan pernah!
Lalu Heechul dan Kyuhyun berjalan masuk menuju ruang tunggu keberangkatan, meninggalkan Sungmin yang masih terpaku disana. Sungmin tidak sadar bahwa air bening itu keluar dengan sendirinya dari mata hitam indah miliknya.
Berharap bahwa perasaan Kyuhyun tidak akan berubah dan Kyuhyun benar-benar akan kembali padanya.
-My Little Sweetheart-
Seminggu sebelumnya…
Donghae menendang batu yang menghalangi jalannya dengan kekuatan maksimal. Berusaha untuk mengeluarkan kekesalannya yang sudah lama terpendam didalam dadanya. Sementara kedua tangannya kini tersembunyi rapi pada kantung jaketnya untuk menghindari udara malam kota Seoul yang sudah makin terasa dingin.
Sekarang Donghae sedang dalam perjalanan menuju rumah seseorang. Rumah yang sebisa mungkin ingin dihindarinya saat ini. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan Donghae sudah terlanjur membuat perjanjian dengan orang itu. Sepanjang yang pernah Donghae ingat, tidak ada yang bisa menghindari orang itu ketika sudah membuat sebuah perjanjian dengannya.
Dan entah apa yang membuat Donghae menyetujui perjanjian itu. Sepertinya separuh otak Donghae memang dikendalikan oleh alien hingga dia dengan bodohnya melakukan semua hal ini dari awal. Donghae sendiri bingung dengan apa keuntungan yang dia peroleh jika berhasil melakukan ini semua.
Lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya Donghae menghela nafas panjang dan tanpa terasa kini dia sudah berada didepan sebuah rumah bercat abu-abu gelap dengan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi. Warna merah pada kusen-kusen jendela bangunan itu membuat bangunan ini sedikit lebih menonjol dibanding bangunan lain disekitarnya.
Dipandangnya bangunan berwana putih gading disebelah rumah itu yang kini terlihat sedikit lebih terang dari biasanya. Mungkin karena cahaya bulan yang sedang bersinar terang hingga memantulkan cahayanya kearah rumah itu? Entahlah, Donghae tidak mau pusing-pusing memutar otaknya yang sudah terlalu lelah saat ini.
Jadi, Donghae segera menekan tombol intercom yang terletak di tembok sebelah kanan pagar hitam itu tanpa berpikir lagi. Setelah satu menit menunggu akhirnya dia melihat sosok tinggi seorang pria tengah membuka pintu kayu yang diberi pelitur berwarna hitam itu untuk menyambut kedatangannya. Donghae membuang nafas beratnya lagi ketika dia mendapati pria itu kini tengah tersenyum dengan hanya satu sudut bibirnya saja yang terangkat.
Persis sekali dengan adiknya, maki Donghae kesal.
"Kau membawa apa yang aku minta bukan?" Tanya pria itu saat dia sudah berada didepan gerbang tinggi itu, benda yang menjadi pemisah antara Donghae dan pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. Sedikit banyak dia merasa tersinggung. Jadi, jika dia tidak membawa apa yang pria ini minta dia tidak akan membukakan pintu untuk Donghae, begitu?
"Tentu saja! Aku tidak pernah melanggar janjiku, Heechul hyung!" Seru Donghae. Dan tanpa dia sadari pintu pagar itu sudah terbuka dan tanpa pikir panjang Donghae langsung masuk. Takut-takut pria yang mengenakan pakaian serba hitam didepannya itu berubah pikiran.
.
.
Heechul memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Kedua matanya membulat sempurna sementara bibirnya kini membuka dan menutup seperti ikan yang kehilangan air atau terluka ingsangnya. Well, dia tidak mengira bahwa Donghae benar-benar membawa apa yang dimintanya. Jelas untuk ukuran Donghae yang terlahir pada keluarga super kaya raya di Seoul, uang yang Heechul minta bukanlah jumlah yang berarti untuknya. Tapi tetap saja, enam ratus ribu won adalah uang yang banyak.
"Ini uang asli! Jangan memandangku seolah aku ini pelaku pengedar uang palsu!" Protes Donghae ketika dia melihat Heechul memandangnya dengan tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Heechul hanya tertawa mendengar pernyataan Donghae barusan. Apakah dia terlihat seperti itu? Setidaknya Donghae tidak memikirkan sesuatu yang lebih aneh lagi.
"Kau tahu Donghae, aku benar-benar senang bertaruh denganmu!" Seru Heechul sambil menepuk bahu Donghae pelan kemudian mengambil tumpukan uang kertas yang berserakan dimeja kecil yang memisahkan antara dirinya dan Donghae perlahan.
Heechul memang orang yang setia kawan, tapi jika sudah menyangkut soal uang, itu lain lagi ceritanya.
Lagipula ini semua salah Donghae yang dengan mudahnya menyetujui omong kosong yang dikatakan Heechul beberapa bulan lalu. Jika saja Donghae mendengarkan perkataan Hyukjae, pria baru yang dikencani Donghae beberapa minggu terakhir, mungkin dia tidak akan kehilangan enam ratus ribu won.
"Mana setan kecil itu?" Tanya Donghae basa basi. Meskipun sebenarnya Donghae sudah tahu dimana anak itu berada, tapi bertanya tidak ada salahnya, bukan? Sekedar untuk memastikan bahwa tebakannya itu benar.
Yang ditanya hanya memandangnya dengan tatapan malas, seolah dia tahu bahwa Donghae hanya memilih pertanyaan secara random.
"Bersama Minnie dan calon ayah mertuanya mungkin?" Jawab Sungmin dengan nada menggantung diakhir kalimat membuat Donghae secara tidak sadar memutar matanya melihat tingkah laku Heechul.
"Anak itu tidak akan suka kau menyebut Sungmin dengan sebutan itu." Balas Donghae yang kini melipat kedua tangannya sambil menyenderkan tubuhnya kepunggung sofa hitam dibelakangnya. Matanya masih mengikuti pergerakan Heechul yang tadi menghilang sebentar kedapur untuk mengambilkan minuman untuknya.
"Cih, kemana Donghae yang setengah mati ingin memisahkan sahabatnya dengan adikku?" Sindir Heechul sambil menyesap cappuccino panas miliknya yang masih sedikit mengeluarkan asap putih dari permukaan gelasnya. Dan Donghae memandangnya dengan tatapan kesal sambil berusaha meraih teh hangat yang tadi dimintanya. "Dan siapa yang memintaku untuk melakukannya?"
"Kau tahu Donghae, orang yang kalah taruhan memang sering seperti itu. Selalu tersinggung dengan ucapan si pemenang!" Jelas Heechul yang kini menunjukan senyum khas-nya lagi. Membuat Donghae benar-benar ingin menghapus senyum itu dari wajahnya menggunakan sepatu baru miliknya.
Lalu setelah teh hangat itu masuk dalam system tubuh Donghae dan memberi kehangatan diudara akhir musim gugur ini, Donghae sedikit menyesal telah hampir saja menghancurkan persahabatannya dengan Sungmin.
"Tapi Hyung, kenapa kau sangat percaya diri bahwa kau akan memenangkan taruhan ini?" Tanya Donghae penasaran. Lagi-lagi Heechul tersenyum, tapi kali ini senyuman itu terasa hangat dan berbeda. Seperti ada banyak perasaan yang terlukis didalamnya. Rasa sayang? Kepercayaan? Entahlah, Donghae sendiri bingung.
Heechul meletakkan cangkir cappuccino-nya diatas meja itu kemudian menyilangkan kaki kanannya pada kaki kirinya dan memandang kuku-kuku jarinya seperti mereka adalah hal paling menarik di dunia ini. Namun, karena Donghae sudah mengenal Heechul cukup lama, Donghae tahu bahwa Heechul saat ini sedang dalam posisi seriusnya.
"Karena Kyunnie itu special Donghae-ah!" Mulai Heechul.
"Kau sendiri tahu kan bagaimana dia memperlakukan PSP-nya? Ya, Kyuhyun adalah type orang yang sangat setia dan cenderung possessive pada hal, benda ataupun seseorang yang disayanginya. Bahkan jika Minnie tidak menerimanya dulu atau jika Minnie meninggalkannya pun, aku bertaruh Kyuhyun akan terus mengejarnya sampai kemanapun."
"Saat tersulit bagiku adalah saat aku harus meyakinkan Kyuhyun bahwa orang tua kami sudah tidak bisa ditemukan dimanapun. Saat itu Kyuhyun menangis dan terus mencari mereka. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan padanya hal yang sebenarnya. Kemudian aku membawanya ke tempat dimana orang tua kami dikuburkan."
"Dan sejak saat itu, Kyunnie menjadi pendiam dan jarang sekali tersenyum. Tapi Kyunnie mulai tersenyum lagi ketika suatu hari dia menceritakan padaku bahwa dia melihat seorang malaikat sedang menangis. Dan saat aku mengetahui bahwa malaikat yang disebut olehnya itu adalah Sungmin, aku tahu bahwa Kyuhyun tidak akan melepaskannya walau apapun yang terjadi."
Donghae hanya bisa diam sambil meraba-raba maksud yang sedang disampaikan Heechul. Sejak awal otak Donghae memang tidak dirancang untuk menerima informasi berat seperti itu, jadi dia terpaksa hanya mengangguk saja ketika Heechul terus menjelaskan perihal Kyuhyun. Dan setelah selesai, Donghae berniat untuk mengalihkan pembicaraan ini karena pembicaraan soal Kyuhyun benar-benar tidak membuatnya tertarik.
Hey, Donghae baru saja kehilangan enam ratus ribu won karena anak itu, jadi wajar saja jika dia merasa sedikit kesal, bukan?
"By the way Hyung, apakah kau yang menghubungi paman Lee?" Tanya Donghae masih penasaran dengan siapa orang yang membuat ayah Sungmin kembali dari Jepang. Sepanjang yang dia tahu, ayah Sungmin itu tidak pernah sekalipun menanyakan keadaan Sungmin. Dan tiba-tiba saja dia kembali ke Korea ditambah dengan perubahannya, jelas ada sesuatu yang aneh terjadi disini.
Heechul justru memandangnya dengan tatapan heran bercampur sedikit bingung. "Aku kira kau yang menelponnya karena kau terlalu putus asa untuk memenangkan taruhan kita?"
Dan tinggalah keduanya kini terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Donghae yang masih penasaran dengan siapa yang menelpon ayah Sungmin dan Heechul sibuk memikirkan apa yang akan dibelinya dengan uang yang baru saja didapatkannya. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mengacaukan rencana Donghae adalah Kyuhyun sendiri.
.
.
.
.
.
-My Little Sweetheart-
.
.
.
.
Epilogue - Ten Years Later
.
.
Kyuhyun harus berlari mengejar waktu sambil membetulkan dasinya yang masih belum terpasang dengan sempurna. Jas yang semula rapi itu kini terlihat sedikit tidak licin lagi karena kegiatan yang dilakukan Kyuhyun sebelum meninggalkan rumah tadi. Dengan rambut yang belum sempat disisir dan nafas yang tersenggal, akhirnya Kyuhyun berhasil masuk kedalam sebuah Audi putih yang sedari tadi sibuk menantinya.
Dan bunyi nyaring yang keluar dari mobil itupun kini sudah berhenti. Digantikan dengan suara deru mobil yang bersiap untuk membelah jalanan kota Seoul yang sudah mulai padat siang ini. Sementara Kyuhyun sibuk memasang dasi hitamnya, pria yang ada disebelahnya sibuk memandang jalan sambil sesekali melirik kearahnya dengan tatapan mata tajam.
Jika saja tatapan mata seseorang bisa membunuh, mungkin saja ini adalah kematian Kyuhyun yang keseribu kalinya dalam bulan ini. Diam-diam dia menarik nafas dalam saat sebuah Koran mendarat tepat diwajahnya.
"Aku yang seharusnya menunjukkan wajah seperti itu!" Protes pria disampingnya yang kini nampak sangat puas setelah berhasil memukulnya. Untung saja saat ini Kyuhyun sedang sibuk memasang dasinya, jadi dia tidak punya waktu untuk membalas pria itu.
Pria disampingnya hanya terus berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya meskipun sesekali dia nampak mencuri pandang kearah Kyuhyun. Ini aneh! Kenapa Kyuhyun tidak membalasnya? Apakah Kyuhyun salah makan sarapan tadi?
"Sudah, lebih baik kau liat jalanan itu baik-baik!" Komentar Kyuhyun lelah. Tenaganya sudah hampir habis karena harus mendapatkan pelatihan pagi dari seorang pria paruh baya yang pagi tadi sangat ingin membunuhnya.
Dan karena sudah lama mengenal Kyuhyun, Sungmin, orang yang berada dibelakang kemudi itu tahu benar untuk tidak mengeluarkan suara lagi dan berkonsentrasi dengan apa yang sedang dilakukannya.
.
.
.
Bangunan berarsitektur megah itu kini sudah ramai dipenuhi banyak orang yang menggunakan pakaian yang sama formalnya dengan Kyuhyun. Nuansa hitam putih mendominasi arsitektur didalamnya. Entah mengapa tiba-tiba saja Kyuhyun merasa nafasnya tercekat karena terlalu gugup.
Tidak pernah dalam hidupnya dia merasa sangat gugup seperti ini. Apalagi ketika dia melihat sebuah jalan lurus yang hanya bisa dilalui oleh dua orang saja diantara deretan bangku yang dipasang menghadap kearah sebuah mimbar berpelitur putih tepat beberapa meter dari tempat Kyuhyun berada.
Dasi yang dipasang Kyuhyun tadi kini sudah terpasang sempurna dan rambut brunette Kyuhyun kini sudah disisir rapi hingga menunjukan dahinya yang indah. Walaupun pendingin udara dalam ruangan ini dipasang dilevel terendah, tapi Kyuhyun masih bisa merasakan butiran-butiran air keluar dengan sendirinya dari telapak tangannya hingga menimbulkan rasa dingin yang kurang manusiawi.
Kyuhyun terkejut ketika bunyi yang berasal dari piano besar disudut ruangan besar itu menggema dan menghasilkan gabungan nada-nada yang sangat dikenalnya. Kyuhyun harus menahan dirinya untuk tidak bergumam ketika ruangan itu sudah mulai sunyi saat orang-orang yang berada satu ruangan dengannya terdiam. Dan sibuk memandangnya dengan senyum terkembang sempurna dibibir mereka.
Dan Kyuhyun merasa jantungnya bisa berhenti saat itu juga ketika dia merasakan seorang pria yang berpakaian serupa dengannya, hanya saja pria itu menggunakan setelan jas yang terlihat lebih mahal dari yang dikenakan Kyuhyun, sudah berdiri disebelahnya.
Kyuhyun menoleh kearahnya dan tidak bisa tidak tersenyum ketika melihat wajah laki-laki disebelahnya yang terlihat sangat sumringah dan bahagia. Membuat wajahnya yang sudah tampan, makin terlihat jelas. Laki-laki itu balas tersenyum sebentar, kemudian mendekatkan tubuhnya sedikit kearah Kyuhyun sambil berbisik,"Kenapa kau lama sekali?"
"Kakek tua itu terus saja mempersulitku tadi!" Balas Kyuhyun juga sambil berbisik. Nadanya terdengar kesal, tapi senyum itu tidak pernah hilang dari bibirnya. Tidak ada yang bisa merusak hari bahagia ini, gumamnya.
"Memangnya kau berbuat apa lagi sih?" Tanya pria itu penasaran. Namun tidak dihiraukan oleh Kyuhyun yang kini malah menyiku lengan pria itu pelan. "Sudahlah, tidak usah banyak tanya! Upacaranya akan segera dimulai, Min!" Seru Kyuhyun pelan. Kentara sekali bahwa dia sangat antusias dengan seluruh proses yang akan terjadi hari ini.
Dan pria disebelahnya tidak bisa berkata-kata lagi. Semakin cepat upacara ini dimulai, semakin cepat pula acara ini selesai.
.
.
.
Bahagia itu sederhana. Setidaknya itulah yang ada dalam benak Kyuhyun ketika dia melihat suasana disekelilingnya. Ramai dan penuh kebahagiaan. Karena menurut Kyuhyun membuat dan melihat orang lain bahagia adalah kebahagian tersendiri baginya.
Apalagi orang yang sedang sangat berbahagia hari ini adalah sahabatnya, Shim Changmin. Pria tinggi itu akhirnya berhasil mengucapkan janji setia dengan Seohyun, kekasihnya selama enam tahun belakangan ini. Kyuhyun tidak bisa tidak merasa bangga pada sahabatnya karena bisa mempertahankan hubungan mereka dan memutuskan untuk menikah muda diumur dua puluh tahun.
Sepertinya Changmin benar-benar takut jika Seohyun akan berubah pikiran soal dirinya satu tahun kedepan, jadi Changmin mengikatnya dengan janji setia seumur hidup. Lagipula Changmin benar-benar kesal dengan Jung Yonghwa, vocalis band kampus mereka yang tidak pernah menyerah mendekati kekasihnya itu. Nice shot, dude! Nice shot! Puji Kyuhyun, tentu saja hanya dalam hati.
Dipandangnya sahabatnya itu yang kini sedang asik berdansa dengan mempelai wanita yang satu jam lalu sudah resmi menjadi istrinya. Huh…orang itu sungguh membuatku iri! Mungkin sebaiknya aku cepat-cepat menikahi Sungmin juga biar aku tidak iri padanya, gumam Kyuhyun.
"Ya, Cho Kyuhyun! Sudah kubilang jangan minum terlalu banyak!" Seru seseorang. Kyuhyun sangat mengenal suara itu dan yakin bahwa dia tidak akan pernah salah. Kyuhyun tersenyum lembut ketika mendapati seorang pria yang menggunakan setelan jas persis dengan miliknya memandangnya dengan tatapan seolah ingin mencincangnya sambil bertolak pinggang.
Kyuhyun benar-benar penasaran dengan rahasia yang dimiliki oleh pria ini. Karena meskipun sepuluh tahun sudah berlalu, Sungmin –pria itu- tidak mengalami perubahan sama sekali pada tubuh dan wajahnya. Kecuali kenyataan bahwa pria berumur dua puluh delapan tahun itu kini terlihat sedikit lebih gemuk.
Tentu saja Kyuhyun tidak akan mengucapkan itu keras-keras. Hey, Kyuhyun masih sayang dengan nyawanya!
"Kenapa? Ini kan hari bahagia Changmin, jadi sesekali tidak apa kan?" Kilah Kyuhyun masih dari bangku taman berwarna cokelat tempat dimana dia sedang duduk dan menikmati pemandangan disekitarnya.
"Kau itu masih kecil, Cho Kyuhyun!" Seru Sungmin lagi. Mendengar kata terlarang itu keluar dari mulut Sungmin, Kyuhyun langsung memandangnya tajam dan berdiri dari tempat duduknya. Dan meng-copy gaya Sungmin yang sibuk bertolak pinggang.
"Sekarang siapa yang masih kecil, huh?!" Tanya Kyuhyun lagi begitu dia sudah berada dihadapan Sungmin. Seolah menekankan pada perbedaan tinggi badan mereka saat ini, Kyuhyun berusaha membuat kekasihnya itu untuk melihat perbedaan tinggi badan mereka yang hampir sepuluh centimeter. Sungmin menurutinya dan kini dia harus mengangkat wajahnya agar bisa memandang Kyuhyun dengan jelas.
Meskipun poni hitam itu menutupi sebelah matanya, Sungmin bisa melihat bahwa Kyuhyun tersenyum dengan senyum satu sisi itu lagi. Memang apa hebatnya mempunyai tinggi badan seperti itu? ejek Sungmin kesal.
"Hanya karena kau lebih tinggi bukan berarti kau itu sudah besar, bodoh!" Seru Sungmin sambil makin mendekatkan wajahnya seolah menantang Kyuhyun. Dan Karena Kyuhyun tidak suka kekalahan dalam hal apapun, dia menerima tantangan Sungmin dan memajukan tubuhnya juga hingga kini nyaris tidak ada jarak diantara mereka.
"Well, Kyunnie memang belum, tapi Minnie memang sudah besar!" Balas Kyuhyun. Dan Kyuhyun tidak pernah menyesal mendapat sebuah tendangan memutar dari kekasihnya itu sebagai hadiah akan pujiannya tadi. Karena biar bagaimanapun, itu adalah wujud lain dari rasa cinta Sungmin padanya.
Ah…Kyuhyun tidak bisa membayangkan hidup tanpa Sungmin disisinya.
.
.
.
"Kau tahu Kyunnie, aku heran kenapa aku menginzinkanmu untuk mengencani anakku!" Gumam Chunhwa tiba-tiba ketika dia, Kyuhyun dan Sungmin baru saja selesai makan malam dimalam pertama musim panas. Sekarang, Sungmin sedang sibuk mencuci piring yang mereka gunakan untuk makan malam tadi, sedangkan Chunhwa dan Kyuhyun kini sibuk dengan rutinitas mereka yang tidak boleh dilewatkan.
Bermain game online.
"Karena Kyunnie tampan dan menggemaskan?" Jawab Kyuhyun percaya diri dan seperti setengah hati menanggapi pertanyaan Chunhwa yang tiba-tiba tadi. Sedang Chunhwa hanya setengah tertawa setengah mengejek setelah mendengar jawaban Kyuhyun barusan.
"Maksudku, lihatlah dirimu sendiri! Kau itu kasar, kurang ajar, seenaknya sendiri, dan kekanakkan." Sebut Chunhwa lagi sambil sibuk menurunkan jarinya ketika menyebutkan kelebihan calon menantu-nya ini.
"Ah, not to mention that you're a pervert! Geezz, would you please stop staring at my son's butt every now and then! You horny bastard!" Tambah Chunhwa lagi. Namun kali ini dia sibuk memainkan karakter game-nya lagi, takut-takut dia akan kalah dengan anak disampingnya.
"I can't help it! Your son has a perfect butt! It's so squisy an…AUCH! Kenapa kau memukulku?!"
"Okay stop! too much information could hurt my eardrum!" Potong Chunhwa setelah menghentikan game-nya sebentar untuk memukul kepala Kyuhyun.
Karena Chunhwa berfikir bahwa anak ini terlalu jenius hingga kadang otaknya mengalami konsleting , jadi Chunhwa berharap dengan memukulnya sedikit, jaringan syaraf yang bermasalah itu bisa kembali seperti semula. "Lingkungan di London pasti yang membuatmu menjadi seperti ini!" Protes Chunhwa lagi.
"Appa! Kyunnie itu hanya tiga hari disana, tidak mungkin aku mengerti lingkungan disana?!" Protes Kyuhyun sambil mengusap bagian belakang kepalanya tepat ditempat yang baru saja di pukul Chunhwa. Kakek tua ini memang senang sekali memukul Kyuhyun tanpa sebab yang jelas.
"Lagipula itu sudah hampir sepuluh tahun yang lalu!" Tambah Kyuhyun yang kini sudah kembali berkonsentrasi pada game-nya lagi. Lagipula Kyuhyun tidak ingin diingatkan lagi dengan peristiwa itu. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama, tapi Kyuhyun ingat betul saat semua orang dibandara memandangnya saat Sungmin saling mengucapkan salam perpisahan.
Kyuhyun tidak tahu bahwa Sungmin mengira dia akan pergi meninggalkan Sungmin hingga Kyuhyun dewasa. Padahal kenyataannya, Kyuhyun hanya akan berada di London selama tiga hari saja. Dan betapa kagetnya Kyuhyun ketika Sungmin berfikir bahwa dia bekerja sama dengan Donghae untuk membohonginya. Hey, Kyuhyun tersinggung. Cho Kyuhyun tidak berbohong!
Apalagi jika dia dituduh melakukan konspirasi dengan manusia ikan itu, Kyuhyun tidak terima! Objection!
Jadi setelah menyelesaikan permasalahan itu dengan Donghae –yang melibatkan beberapa lemparan balon air dan dua buah tendangan pada tulang kering Donghae, Kyuhyun merasa bersyukur bahwa ternyata bukan dia yang menyebabkan Sungmin-nya menangis dibandara dulu.
Dan Kyuhyun ingat betul setelahnya, Donghae juga mendapatkan sesuatu dari Sungmin-nya dan Heechul. Tidak, Kyuhyun tidak akan menceritakan pada dunia betapa menyedihkannya Donghae saat itu.
Salah sendiri mencari masalah dengan keluarga Cho!
Tiba-tiba alis Kyuhyun berkerut ketika dia menemukan hal aneh pada karakter game-nya dilayar pipih dihadapannya itu. "Aish! Kau bermain curang lagi kakek tua!"
"Itu bukan curang, anak kurang ajar! Itu disebut strategi!" Balas Chunhwa sambil tersenyum sinis.
Dan Kyuhyun hanya bisa membuat peringatan pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Heechul bergaul dengan Chunhwa lagi.
.
.
.
"Min, bisakah kita makan ice cream hari ini?" Tanya Kyuhyun dari balik punggung Sungmin yang kini sedang sibuk menyiapkan makan siang. Hari ini Kyuhyun libur sejenak dari pekerjaannya sebagai seorang arsitek yang lumayan terkenal meskipun baru enam bulan bergelut dibidangnya. Kelulusannya dari universitas yang terbilang cepat, membuatnya menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Kyuhyun memang seorang genius sejak kecil, tapi alasan utamanya mempercepat kuliahnya adalah karena Chunhwa mengancamnya jika dia tidak lulus sebelum umur dua puluh dua tahun, dia tidak boleh menikahi anaknya.
Mau tidak mau Kyuhyun harus menurutinya. Dan kerja keras Kyuhyun itu berbuah hasil saat Heechul dan Chunhwa mengizinkan mereka untuk tinggal bersama. Walau Chunhwa tetap saja menjadi pengganggu diantara mereka.
"Tidak bisa, Kyunnie." Jawab Sungmin pelan. Konsentrasinya masih terfokus pada masakan dihadapannya takut bahwa bulgogi yang sedang dimasaknya akan hangus. Meskipun Sungmin mengakui bahwa dia saat ini mengalami kesulitan fokus ketika Kyuhyun memeluknya dari belakang dan menaik turunkan hidung panjangnya itu di leher Sungmin.
"Kenapa? Bukankah Minnie libur hari ini?" Tanya Kyuhyun curiga. Sedikit terkejut ketika Sungmin menolaknya. Sungmin tidak pernah menolaknya. Tidak saat Kyuhyun melakukan hal yang disukai Sungmin seperti yang dia lakukan sekarang.
Sungmin mematikan kompornya dan memutar tubuhnya hingga kini dia berhadapan langsung dengan Kyuhyun yang memandangnya dengan tatapan polos andalannya. Sungmin tahu benar bahwa Kyuhyun sendang berusaha merayunya. Tapi kali ini dia tidak akan kalah karena ada yang lebih penting dari sekedar ice cream dan Kyuhyun.
"Kau tidak lupa bahwa hari ini kita harus menjemput Sandeul dirumah Donghae, kan?" Tanya Sungmin sambil mendorong Kyuhyun sedikit menjauh darinya kemudian meletakkan kedua tangannya dipinggang ramping miliknya. Kedua matanya memincing kearah Kyuhyun yang kini hanya membentuk bibirnya menjadi huruf o besar. Sepertinya Kyuhyun melupakan Sanduel lagi, kesal Sungmin.
"Ah, right! Sandeul! Bagaimana bisa aku melupakan anak itu?!" Seru Kyuhyun ringan begitu selesai menepuk dahinya. Sungmin hanya bisa memutar matanya ketika melihat acting Kyuhyun yang buruk. Sepanjang yang Sungmin ingat, Kyuhyun tidak begitu menyukai adik angkatnya itu.
Ya, satu tahun yang lalu, ayahnya memutuskan untuk mengadopsi seorang anak saat secara tidak sengaja melewati sebuah panti asuhan ketika dia melakukan perjalanan dinas di Jepang. Chunhwa bilang, Sandeul sangat mirip Sungmin ketika dia masih kecil dan yang Sungmin ketahui, ketika Chunhwa pulang dari Jepang, anak menggemaskan itu sudah ikut bersamanya.
Meskipun Kyuhyun sebenarnya tahu maksud dari Chunhwa yang sebenarnya, dia hanya tidak ingin Sungmin menghabiskan seluruh waktunya dikamar dengan Kyuhyun. Melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Chunhwa.
Sungmin sangat mennyayangi Sandeul. Baginya, Sanduel sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Walaupun sebenarnya Sungmin sadar bahwa dia lebih memperlakukan anak berumur lima tahun itu sebagai anaknya. Sungmin sadar akan hubungannya dengan Kyuhyun tidak akan memberikannya seorang buah hati, jadi Sungmin bersyukur ayahnya membawa malaikat kecil itu padanya.
Namun sepertinya, Kyuhyun tidak sependapat dengannya. Meskipun Kyuhyun sendiri senang akan kehadiran Sandeul, tapi Sungmin tidak bisa tidak merasakan déjà vu ketika melihat interaksi diantara keduanya.
Seperti melihat Donghae dan Kyuhyun beberapa tahun lalu.
"Kyunniee~ bagaimana mungkin kau melupakan Sandeullie?" Kesal Sungmin sambil menepuk pelan dada pria yang lebih tinggi darinya itu. Sedikit banyak Sungmin merasa sedikit kesal juga karena Kyuhyun seperti tidak peduli dengan anak, eummm, adiknya.
Kyuhyun langsung memeluk Sungmin dan meletakkan kepalanya pada ruang diantara pundak dan leher Sungmin, lagi-lagi sambil menghirup aroma Sungmin yang masih saja tercium seperti strawberry meskipun dia baru saja memasak.
"Minnie~" lirih Kyuhyun masih dalam posisinya tadi. Getaran halus yang keluar dari suara rendahnya membuat bulu-bulu halus di tubuh Sungmin berdiri. Kyuhyun benar-benar tahu kelemahannya. "Eum?" Respon Sungmin.
"Bisakah kita menitipkannya pada Donghae sehari lagi? Kyunnie benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Minnie. Sudah lama kita tidak berduaan seperti ini." Coba Kyuhyun lagi. Kali ini tangan Kyuhyun sudah berjalan untuk membuka ikatan apron yang digunakan oleh Sungmin.
Meskipun Kyuhyun sangat menyukai Sungmin yang sedang menggunakan apron –karena Sungmin sangat sexy dengan kain itu membalut tubuhnya- tapi lapisan kain tipis itu tidak akan diperlukan ketika Sungmin sudah selesai memasak bukan?
Dan entah bagaimana caranya, sepuluh detik kemudian apron itu sudah terlepas sempurna dari tubuh Sungmin sementara Kyuhyun masih sibuk menaik turunkan hidungnya di leher kekasihnya. Tangan besar miliknya kini sibuk naik turun dipunggung Sungmin yang entah mengapa kini terasa menegang. Sungmin tahu apa yang sedang coba dilakukan oleh Kyuhyun.
"Sanduellie sudah bermain seharian disana, Kyunnie. Aku tidak mau Donghae dan Hyukjae membunuhku karena membuat mereka repot." Protes Sungmin. Namun setelah usaha keras yang dilakukan Kyuhyun, kini Sungmin meletakkan kedua tangannya dipinggang Kyuhyun dan memiringkan lehernya sedikit kekiri untuk mempermudah Kyuhyun melakukan kegiatannya.
"Kalau begitu satu jam lagi?" Coba Kyuhyun lagi. Sungmin mengeluarkan suara yang sedikit tidak manly ketika tangan besar Kyuhyun itu meremas bagian belakangnya. Kyuhyun indeed have a thing with his butt, because he loves to squish it!
"Kyunniee~~" Protes Sungmin yang kini memaksa Kyuhyun untuk menatapnya dan begitu berhasil tanpa pikir panjang Sungmin langsung menempelkan bibirnya dengan bibir tebal milik Kyuhyun.
Kedua tangan Sungmin kini sudah berada dibelakang leher Kyuhyun untuk membuat ciuman mereka semakin dalam. Ketika Kyuhyun mengusap bibir mungil Sungmin menggunakan lidahnya untuk meminta izin menjelajah mulutnya, Sungmin dengan senang hati membukanya. Dan Sungmin tidak dapat menahan erangan yang keluar dari dalam tenggorokannya begitu lidah mereka bertemu dan saling mendominasi.
Sungmin mengalah ketika Kyuhyun mengangkat tubuhnya dan mendudukkan Sungmin dimeja makan. Makan siang yang dibuat Sungmin sepertinya terlupakan ketika Kyuhyun sudah mulai menjelajahkan tangannya dibalik kemeja yang sedang digunakan Sungmin.
Kyuhyun mengerang ketika dia merasakan tangan Sungmin juga melakukan hal yang sama dengannya. Sementara Kyuhyun makin memperdalam ciumannya, Sungmin asik bermain dengan ikan pinggang Kyuhyun. "Kyunniee~~" Desah Sungmin saat mereka akhirnya menghentikan sebentar ciuman mereka karena paru-paru mereka kehabisan persediaan oksigen.
"Impatient much, I see!" gumam Kyuhyun sambil menunjukan seringai dibibirnya. Sementara kedua tangannya sibuk membuka setiap kancing kemeja yang digunakan Sungmin. Sungmin memandangnya dengan mata yang separuh terpejam, kesal karena Kyuhyun senang sekali menggodanya.
"Just shut up and kiss me!" Protes Sungmin kemudian menarik kerah kemeja milik Kyuhyun dan melingkarkan kaki kirinya pada pinggang Kyuhyun.
Kemudian, dilantai dua bangunan itu Chunhwa harus meletakkan earphonenya dan memasang music dengan volume tertinggi dikamarnya. Because, man! Those two are amazingly loud when they're doing some 'stuffs'.
.
.
.
"Berhenti memukulku, Minnie! Sakit!" Protes Kyuhyun sambil mencoba untuk menghindari berbagai macam serangan dari Sungmin. Untungnya, Kyuhyun sudah terbiasa dengan hal ini karena Chunhwa biasa memberikan pelatihan padanya setiap pagi dengan berbagai gerakan taekwondo yang harus dihindari oleh Kyuhyun. Jadi saat ini pukulan-pukulan yang dilayangkan Sungmin tidak terlalu berpengaruh.
Ditambah lagi stamina Sungmin sedang tidak dalam kondisi prima karena kegiatan yang belum lama mereka lakukan.
"Kita sudah terlambat menjemput Sanduel, Kyunnie!" Protes Sungmin yang kini sudah menyerah untuk memukul Kyuhyun dan lebih memilih untuk mencari pakaian bersih untuk dikenakan. Sungmin panic karena jika dia tidak datang tepat waktu, Donghae pasti akan membunuhnya.
"Kau tahu Minnie, Kyunnie agak cemburu saat ini. Karena sepertinya Minnie lebih menyayangi Sandeullie ketimbang Kyunnie." Gumam Kyuhyun sambil meletakkan tangannya tepat diatas dada kirinya dan memandang Sungmin dengan ekspresi yang seolah kesakitan. Hal itu sukses membuat Sungmin menghentikan kegiatannya dan memandang Kyuhyun sebelum akhirnya menghampiri kekasihnya itu.
"Jangan seperti ini Kyunnie, kau tahu benar bahwa Sandeul itu sudah seperti adikku sendiri." Kata Sungmin lembut sambil mengelus pipi Kyuhyun. Tanpa sadar Kyuhyun meletakkan tangannnya diatas tangan Sungmin dan menekannya dipipinya. Dipandangnya Sungmin dengan mata penuh rasa sayang dan Sungmin berusaha keras untuk tidak meleleh.
"So, Sanduellie is your little sweetheart now?" Tanya Kyuhyun halus sambil sedikit mengerucutkan bibirnya. Matanya masih menatap Sungmin seolah pria yang berada dihadapannya ini adalah orang paling berharga didunia.
"You'll forever be My Little Sweetheart, Kyunnie!" Jawab Sungmin sambil membalas pandangan Kyuhyun dengan senyumnya yang paling manis.
Dikecupnya bibir Kyuhyun yang masih mengerucut itu sebelum akhirnya menepuk dada Kyuhyun yang sudah terbalut kemeja hitam itu pelan. "Sekarang ayo kita jemput Sanduellie, kemudian baru kita makan ice cream!"
Dan setelah semua hal yang telah dilaluinya bersama Sungmin selama lebih dari sepuluh tahun ini, Kyuhyun tidak yakin dia bisa hidup tanpa Sungmin. Mungkin perbedaan mereka terlalu banyak, mungkin juga mereka harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan dari dunia untuk beberapa tahun kedepan.
Tapi Kyuhyun bahagia saat ini. Karena menurut Kyuhyun, hidupnya saat ini sudah lebih dari sempurna. Dia memiliki Chunhwa yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Dia memiliki Heechul yang meskipun agak menakutkan, tetaplah seorang kakak yang sangat bertanggung jawab dan menyayanginya. Dia memiliki sahabat yang begitu mengerti dirinya, Donghae, Hyukjae, Changmin dan Seohyun.
Namun yang membuat hidup Kyuhyun lengkap adalah kenyataan bahwa dia memiliki sebuah keluarga kecil yang sederhana. Dan Kyuhyun tidak bisa berhenti bersyukur karena Tuhan berbaik hati mempertemukannya dengan Sungmin dan Sanduel kecil. Sebab merekalah yang membuatnya bertahan hingga saat ini.
Because they are his little sweetheart.
.
.
.
-FIN-
.
.
.
A.n :
1. Finally! Setelah hampir dua bulan Zen gelindingan di FFn, MLS resmi selesai kawan-kawan! #tumpengan
2. I'm sorry for the lame ending, there! HAHAHAHAHA… semoga gak mengecewakan ya endingnya. /berdoa
3. Semua pertanyaan sudah terjawab khan di chapter terakhir ini? PLUSSSSS… an epilogue! Hehehehehe…
4. Smutt-nya nanggung? #Zen Sengaja LOL
5. I'll miss writing this fic, seriously! And Kyunnie and Minnie /sroooootttt
.
.
.
Thanks to list….
**Dhee dan Rachael : Terima kasih buat semua dukungannya, keberisikannya, kegalauannya, kegilaannya selama proses penulisan My Little Sweetheart. Zen janji bakal sampein salam kalian ke Kakak Sungmin setelah Zen selesai nonton MAMA ya… LOL #Mimpi
**My mom : Terima kasih buat teh manis anget dan indomie rebus-nya setiap malam saat Zen begadang cuma buat nungguin gratisan internetan… LOL
**MLS Readers : Terima kasih buat 38 Favorite stories dan 44 Followers, lebih dari 13.000 visitors Juga untuk total 247 Reviews sampai Chapter 10. Maaf Zen gak bisa jawabin satu-satu /fail. Tapi Zen selalu senang karena kalian sudah mendampingin Zen sampai akhirnya MLS ini bisa selesai *asiiik #joget dangdut
**Park Min Rin; KuyuPuyuh137; Zahra Amelia; Pumkincho; nene; Chikyumin; Nezta; Tika; Gee Gee; AIDASUNGJIN; Baby Joy 137; 137137137; hyuknie; Kyurrin Minnie; Kanaya; fishy; nisa; leeminad; sha; athena137; dincubie; kyuminalways89; Fariny; Kim eun neul; Cho nara; kerorokeyen; sigmame; sarangHAEMINNIE; kyuqie; ; RyeongGyu1004; kyumin forever; LovelyMin; dha Kyumin; ammyikmbmik; Cho Kyuri Mappanyukki; .921; Mingriew-chan; desi2121; hana ryeong9; avni avni; Brigitta Bukan Brigittiw; sitara1083; Jung eun ji; Day Yonna Imnida; fygaeming; Jirania; ; .5; maria8; kyuqiemin; evilminnie14; KS; Hyukminchan; Didotming; hie; PumpkinSparkyumin; Audrey musena; Annie Pumpkin; Choi sila; Kyuyoon cho; Shipper; 790; sun young; mermutcs; FeraGaeMing; CiputSML.1370; Iam ELF and Joyer; Cho Minna; HoneyWatermelon; hyunielee; Youngfish; Tan Rindi; myevilsmile; KyoKyorae; Hyeri; sider imnida (Ini didot lagi ya? T_T); CharolineElf; desparkyu; saranghaehyukkie.
Terima Kasih untuk semua reviews yang kalian tinggalin buat Zen ya. /Peluk kalian semua Maaf gak bisa balesin satu-satu #nunduk. Semua komentar yang kalian tinggalin bikin Zen semangat buat nulis. Semoga ending dari MLS ini tidak mengecewakan ya. ^_^
And Feel free to PM me or Dhee if you guys want to talk with us, we don't bite people. But we do bite Sungmin or maybe Kyuhyun a bit, LOL
See you on the next project, Pyong! ^_~ Zen~
