[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

DARKNESS'S LOVE

어둠의 사랑

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

제 09 화

"Birthday Memory"

.

.

Baekhyun masih termenung di sana menatap bosnya yang hanya memandanginya dengan datar. Mata Baekhyun melirik gelisah ke arah luar, dari pintu kaca yang mengarah keluar, bisa dilihat bahwa badai hujan sedang hebat-hebatnya, hembusan angin membawa dedaunan bergulung-gulung dan pepohonan bergoyang-goyang menakutkan, belum lagi suara guntur yang terus menerus bersusul-susulan dengan kilat yang menyilaukan.

Ya. Mungkin benar kata Chanyeol, diluar sana kemungkinan besar tidak ada taxi karena hujan deras ini. Yang bisa dilakukan Baekhyun hanyalah duduk di dalam ruangan itu dan menunggu, yang berarti menerima ajakan makan malam Chanyeol.

Sebelum Baekhyun sempat memutuskan, seorang pelayan datang mendekati mereka dan menyerahkan menu,

"Apakah anda sudah ingin memesan?" gumamnya sambil menunduk sopan.

Chanyeol menerima menu itu dan memesan makan malam lengkap dari hidangan pembuka sampai penutup kepada Baekhyun, setelah itu dia menatap Baekhyun sambil mengangkat alisnya,

"Apakah kau keberatan dengan menu yang kupesan?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya pasrah, dia lapar. Ya. Tanpa sadar perutnya terasa perih, "Tidak."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, dan pelayan itupun pergi.

Lama mereka berdua hanya duduk dan saling berpandangan.

"Maafkan aku." Chanyeol duduk dengan tenang, bersandar di kursinya.

"Untuk apa?"

Chanyeol tersenyum, "Karena menghakimi calon suamimu. Yah bagaimanapun juga aku tidak mengenalnya dan tentu saja tidak berhak menilainya." mata lelaki itu menatap Baekhyun dengan ramah, "Kita lupakan saja itu dulu ya, dan menikmati makan malam ini."

Mau tak mau Baekhyun menganggukkan kepalanya, dan kemudian Chanyeol berdiri dari duduknya,

"Tunggu sebentar, ada yang perlu kubicarakan dengan pelayan." Tanpa permisi lagi Chanyeol berdiri meninggalkan Baekhyun.

Pandangan mata Baekhyun mengikuti arah perginya Chanyeol, lelaki itu mendatangi kepala pelayan dan kemudian menggumamkan sesuatu. Penampilannya yang elegan mungkin telah mendapatkan perhatian si kepala pelayan karena dia mendengarkan perkataan Chanyeol dengan serius sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Setelah itu Chanyeol kembali lagi ke meja Baekhyun dengan wajah misteriusnya, lelaki itu menyadari Baekhyun bersikap canggung, karena itu dia tidak banyak berbicara. Ketika makanan pembuka mereka datang, Chanyeol dan Baekhyun menyantapnya dalam keheningan. Ketika menu makanan utama datang, Chanyeol sedikit mengajak Baekhyun bercakap-cakap mengenai pekerjaan juga membahas rasa masakan, suasanya sudah agak cair di antara mereka hingga kemudian mereka selesai menyantap makanan utama.

"Siap untuk makanan penutup?" Chanyeol tersenyum misterius, lalu dia melirik ke arah kepala pelayan dan memberikan kode.

Koki utama keluar dari dapur, membawakan sebuh roti tart mungil berwarna putih dengan lilin-lilin warna-warni di atasnya. Seorang pemain musik mengikuti mereka, membawa biola dipundaknya dan memainkan nada "Happy Birthday To You" dengan indahnya.

Baekhyun ternganga, tidak menyangka. Beberapa pengunjung menatap Baekhyun dengan senyuman, mungkin berpikir bahwa Baekhyun begitu beruntung karena pasangan makan malamnya begitu perhatian di hari ulang tahunnya.

Baekhyun menatap ke arah Chanyeol, terperangah, sementara Chanyeol tersenyum. Kepala koki meletakkan kue ulang tahun itu di meja mereka, lalu membungkuk sambil mengucapkan selamat ulang tahun untuk Baekhyun, dan kemudian berpamitan. Sang pemain biola masih memainkan nada musik ulang tahun untuk Baekhyun sampai selesai, setelah itu dia juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Baekhyun, Baekhyun menganggukkan kepalanya, masih terperangah dan bingung akan kejutan yang tidak disangkanya itu.

Setelah mereka hanya berdua, Baekhyun menatap Chanyeol yang tersenyum manis,

"Happy Birthday Baekhyun, ayo ucapkan permohonanmu dan tiup Iilinmu."

Baekhyun melakukannya, dia seolah terbawa sihir, terkejut dan masih bingung, ditiupnya lilin itu sampai padam, matanya terpejam, mengucapkan permohonan indah untuk dirinya dan Sehun, berharap mereka mempunyai masa depan yang bahagia. Ya.. tidak ada lagi yang perlu dimohonkannya bukan? Tuhan sudah begitu baik kepadanya, menyembuhkan Sehun dari penyakitnya, dan yang Baekhyun inginkan hanyalah dia mendapatkan kesempatan untuk bersama Sehun di masa depan mereka yang panjang.

Setelah itu dia membuka matanya, dan langsung bertatapan dengan mata cokelat yang penuh perhatian itu. Dan entah kenapa tiba-tiba saja Baekhyun merasa terharu. Tadinya dia berpikir akan menghabiskan malamnya dengan menangis, karena apa yang telah direncanakannya dengan begitu bahagia dari pagi berakhir dengan kekecewaan. Tetapi kemudian bosnya ini muncul dan dengan penuh perhatian membuatkan perayaan ulang tahun kecil untuknya. Hanyalah sebuah roti berhias lilin dan musik ulang tahun, tetapi itu sangat mengena di hati Baekhyun.

"Terimakasih." Baekhyun berbisik Iirih, sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan rasa haru.

Chanyeol masih tersenyum, dan menganggukkan kepala, "Sama-sama Baekhyun. Wish you all the best ."

.

.

Sehun menatap jam dinding yang berdetak pelan mengisi kesunyian ruangan. Dia merasa sangat tidak enak dan sedih. Memikirkan Baekhyun.

Baekhyun tampak begitu bahagia sampai menangis ketika mereka merencanakan makan malam bersama di hari ulang tahunnya, dan sekarang Sehun menggagalkannya begitu saja. Baekhyun pasti amat sangat kecewa...

Perasaan bersalah menusuk diri Sehun. Tetapi apa yang harus dia perbuat? Luhan yang pucat dan sakit, sama menderitanya seperti dirinya yang dulu sepertinya amat sangat membutuhkan dukungannya, dan Sehun sudah berjanji untuk menemani Luhan.

Suara hujan dan gemuruh petir memenuhi penjuru ruangan, membuat Sehun menghela napas panjang, berharap Baekhyun sudah sampai di rumah dengan selamat. Dia ingin menelepon Baekhyun tetapi baterai ponselnya habis, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain duduk diam di sini, menunggu dalam keheningan.

Matanya menatap ke arah jemari pucat Luhan yang masih menggenggam tangannya dengan begitu erat seolah takut ditinggalkan. Sehun menghela napas, menahankan dilemanya.

.

.

"Terimakasih." Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol yang duduk di sebelahnya. Chanyeol mengantarkannya pulang setelah makan malam dan sekarang supir Chanyeol menghentikan mobilnya di depan bangunan yang didalamnya ada flat Baekhyun.

Chanyeol menganggukkan kepalanya, menyorongkan kotak berisi sisa roti tart ulang tahun Baekhyun dengan lembut, "Jangan lupa membawanya." Lelaki itu tersenyum, "Sampai jumpa besok di kantor, Baekhyun."

"lya. Sampai jumpa besok." Baekhyun menganggukkan kepalanya juga, tersenyum tulus, benar-benar penuh terimakasih, lalu supir Chanyeol turun dan membawakannya payung, ketika Baekhyun keluar dari mobil, lelaki itu mengantarkan Baekhyun sampai ke teras, lalu membungkuk hormat dan melangkah pergi menembus hujan.

Baekhyun masih termenung di sana, menatap ke arah mobil Chanyeol yang melaju pergi.

.

.

.

Perayaan ulang tahun, roti berwarna putih dengan lilin warna warni di atasnya.

Mata Chanyeol mengeras ketika hentakan kenangan itu menusuk kedalam jantungnya, kenangan akan ibu yang sangat disayanginya...

[Seoul 15 tahun yang lalu...]

"Kenapa mama memberikan kekuatan ini kepadaku?" Chanyeol yang masih berusia lima belas tahun menatap mamanya dengan bingung, beban kekuatan itu begitu berat, membuatnya gemetar. Dunia tidak sama lagi baginya, dunia yang sekarang begitu berisik penuh dengan suara-suara yang membuatnya pusing, dan kadang dia berteriak-teriak sendiri, menangis ketika semuanya tidak bisa tertahankan oleh tubuh mungilnya yang polos.

Sang mama yang masih nampak amat muda, karena kekuatan itu membuat umurnya berhenti di usia tigapuluh tahun, tetapi nampak begitu pucat dan kurus menatapnya penuh sayang, jemarinya menyentuh pipi Chanyeol dan mengusap rambut anak lelakinya itu dengan sayang,

"Maafkan mama karena melimpahkan kekuatan ini sayang... hanya saja mama sudah tidak kuat lagi menanggung beban kekuatan ini, mama begitu menderita, hidup sekian lama hanya untuk melihat orang-orang yang mama sayangi meninggal... begitupun ayahmu yang meninggal setelah kau dilahirkan."

Ayah Chanyeol meninggal ketika mama Chanyeol belum mendapatkan kekuatan kegelapan itu, pada saat yang sama, nenek Chanyeol yang ternyata adalah pemegang kekuatan kegelapan selama beratus-ratus tahun mewariskan kekuatan itu kepada sang mama, membuatnya menanggung beban menjaga keseimbangan dunia di pundaknya... sama seperti yang dilakukan mamanya kepada Chanyeol.

Mama Chanyeol, Ji Hyun, menatap Chanyeol dengan pedih, yah dia mungkin bersalah, Chanyeol masih terlalu kecil untuk menanggung semua kekuatan ini, kadang dia menangis ketika mendengar Chanyeol menjerit-jerit kelelahan karena kekuatan ini masih begitu sulit untuk ditampung oleh badannya yang masih kecil dan lemah.

Tetapi kemudian dia teringat akan almarhum suaminya, ayah kandung Chanyeol yang meninggal jauh sejak lama. Dia merasa lelah dan tak mampu, kekuatan itu memang membuat umurnya berhenti di usia tigapuluh tahun, tidak bisa menua dan tidak bisa mati, tetapi hatinya sendiri perlahan-lahan sudah mati rasa. Ji Hyun hanya ingin beristirahat dan meninggal seperti manusia biasa, yah ternyata dia tidak sekuat neneknya yang bisa menanggung kekuatan ini begitu lamanya.

Karena itulah di malam puncak keputusasaannya, Ji Hyun menyerahkan kekuatan itu kepada Chanyeol, lupa akan segala konsekuensi yang harus ditanggung oleh anak lelakinya itu ketika harus memegang kekuatan yang begitu besar.

Dan sekarang tubuhnya melemah, tanpa kekuatan kegelapan yang menopangnya, penyakit yang dulu tak bisa menyerangnya mulai berdatangan, fisik luarnya tampak muda, tetapi bagian dalam tubuhnya menua beratus-ratus kali lebih cepat dan dia langsung tak berdaya karena kanker yang menyerangnya,

Kanker yang sama yang sekarang ada di tubuh puteri tunggalnya, Luhan. Semasa dia masih memegang kekuatan, Ji Hyun menyerap kesakitan Luhan dengan kekuatannya, sesuatu yang tak boleh dilakukannya. Sebagai pemegang kekuatan, ada buku aturan semesta yang membatasi sang pemegang kekuatan agar tidak bertindak semena-mena.

Dan salah satu aturan di situ adalah mengenai menyembuhkan penyakit. Sang pemegang kekuatan hanya boleh menyembuhkan penyakit yang tidak berujung kepada kematian. Untuk penyakit yang berujung pada takdir kematian, Sang Pemegang kekuatan dilarang menyembuhkannya, karena hal itu melawan apa yang disuratkan oleh takdir Tuhan, karena meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa, sang pemegang kekuatan bukanlah Tuhan yang berhak mengatur hidup dan mati seseorang. Masalah hidup dan mati sudah diatur oleh kekuatan yang jauh di atas mereka, dan mereka tidak boleh mengubahnya.

Sang pemegang kekuatan diperbolehkan meringankan dan menghambat beberapa penyakit ganas dengan mencampurkan darahnya ke aliran darah si penderita penyakit, tetapi dilarang untuk menghilangkan rasa sakit yang diderita oleh si penderita penyakit. Konsekuensinya sangat berat ketika dilanggar, sama seperti yang dirasakan oleh Ji Hyun sekarang,

Jika sang pemegang kekuatan nekad menghilangkan rasa sakit penderita yang disumbangkan oleh darahnya, maka penyakit ganas yang diidap oleh si penderita penyakit akan mengendap di dalam tubuh sang pemegang kekuatan, berhibernasi, menunggu untuk menggeliat bangkit ketika kekuatan kegelapan sudah tidak ada lagi di tubuh sang pemegang kekuatan.

Ji Hyun sudah jelas tahu konsekuensinya, jika dia nekad menyembuhkan Luhan, maka dia akan melanggar aturan semesta yang berujung pada kutukan mengerikan berupa kutukan hidup abadi dalam kesakitan, serta kematian seluruh keturunan dan orang-orang yang dicintainya. Hal itu tidak mungkin dilakukannya, karena dia sangat mencintai anak-anaknya.

Jadi yang bisa dilakukannya adalah menyumbangkan darahnya kepada Luhan, puterinya yang menderita... dan melanggar aturan semesta dengan menghilangkan rasa sakit Luhan, dia adalah seorang ibu, mana ada ibu yang tega melihat anak perempuan kecilnya mengerang-erang karena rasa sakit yang diderita. Sekarang Ji Hyun menanggung konsekuensinya karena setelah kekuatan kegelapan tidak menopangnya lagi, sel-sel kanker yang diserapnya dari tubuh Luhan menyerang dan menggerogoti tubuhnya...

Seharusnya jalan termudah adalah memberikan kekuatan kegelapan itu kepada Luhan, karena itu akan langsung menyembuhkan penyakitnya. Sayangnya, Luhan masih terlalu kecil sehingga tidak bisa diwarisi kekuatannya.. selain itu, Ji Hyun sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia memang egois dan sekarang keegoisannya yang tanpa pikir panjang itu, membuat anak lelakinya menanggung beban yang begitu berat di pundaknya, membuatnya menyesal setengah mati.

"Jongdae." Ji Hyun memanggil pelayan setianya yang sekarang sudah menjadi pelayan Chanyeol. Jongdae bukan manusia, dia adalah mahluk berwujud manusia abadi, yang dikutuk untuk mengabdi kepada sang pemegang kekuatan, tugasnya adalah melayani sang pemegang kekuatan dan menjaga buku kuno yang berisi aturan semesta. Jongdae sendiri memiliki saudara bernama Jinwoo, sama-sama manusia abadi sepertinya tetapi mengabdi kepada kekuatan terang. Ji Hyun tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu sampai-sampai Jongdae dan Jinwoo ditakdirkan berseberangan seperti itu. Yang dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Jongdae untuk menjaga dan mengajari Chanyeol.

Jongdae langsung muncul dari bayang-bayang kegelapan. Ji Hyun memang bukan tuannya lagi, karena dia telah memindahkan kekuatannya kepada Chanyeol, anaknya yang masih kecil yang sekarang mau tidak mau menjadi tuan tempat Jongdae mengabdi.

"Kumohon jagalah Chanyeol, ajari dia menggunakan kekuatannya..." Bahkan kata-kata sederhana seperti itupun sudah bisa membuat napas Ji Hyun melemah, kondisinya sudah benar-benar memburuk.

Tubuh Chanyeol menegang, dia menatap mamanya dengan cemas, berlinangan air mata, "Mama mau kemana?" digenggamnya jemari rapuh Ji Hyun, "Jangan tinggalkan Chanyeol, mama... Chanyeol tidak akan bisa tanpa mama.."

Ji Hyun mencoba tersenyum meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit, ditatapnya Chanyeol dengan lembut,

"Kau pasti bisa, sayang. Kau adalah anak yang kuat... kau pasti bisa bertahan..."

.

.

Hari ini adalah hari ulang tahun Ji Hyun, dan Chanyeol sudah menyiapkan kue ulang tahun berwarna putih, warna kesukaan mamanya, dengan lilin berwarna-warni di atasnya, sebuah usaha yang menyedihkan untuk menceriakan suasana.

Chanyeol menatap kue tart yang diletakkan di meja dapur itu, dan matanya melirik ke arah Jongdae dengan muram.

"Dia... dia akan segera meninggalkan dunia ini bukan?" Chanyeol berusaha tenang ketika membicarakan mamanya, tetapi tetap saja suaranya bergetar.

Jongdae menghela napas panjang, menyadari bahwa tuan barunya hanyalah seorang anak kecil, anak kecil yang dipaksa menanggung beban kekuatan yang besar, dan dipaksa menghadapi kematian mamanya yang begitu cepat prosesnya.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, tuan Chanyeol...Anda memang memiliki kekuatan penyembuh, tetapi butuh waktu lama untuk menguasainya, dan karena anda masih kecil, waktu yang dibutuhkan bahkan lebih lama lagi... anda masih belum bisa menyumbangkan darah anda untuk menghambat penyakit mama anda makin ganas..."

Chanyeol menundukkan kepalanya sedih. "Tapi kita harus melakukan sesuatu, aku tidak bisa membiarkan mama meninggal begitu saja."

"Yang harus anda lakukan adalah melaksanakan amanat mama anda, belajar menguasai kekuatan kegelapan dengan sempurna lalu melaksanakan tugas anda untuk menjaga keseimbangan dunia ini..." sahut Jongdae hati-hati.

"Tidak!" Chanyeol menyela keras kepala, matanya bersinar penuh tekad ketika menatap Jongdae, "Katamu ada pemegang kekuatan terang yang menjadi sisi terbalik kekuatan kegelapan... apakah diajuga bisa menguasai kekuatan penyembuh?"

"Ya, namanya Sooman dan saudara saya, Jinwoo mengabdi kepadanya." nada suara Jongdae berubah suram, "Tetapi kalau anda punya pikiran untuk meminta pertolongan kepadanya, maka akan percuma... penyakit mama anda sudah mengarah kepada kematian, dan saya yakin, bagi Sooman yang sangat memegang teguh aturan semesta, menyelamatkan mama anda merupakan sebuah pelanggaran bagi aturan semesta."

"Tetapi dia tidak perlu menyelamatkan mamaku..." Chanyeol bersikeras, "Dia bisa saja memberikan darahnya kepada mamaku untuk mempertahankan hidupnya, dan sambil menunggu aku menguasai ilmu penyembuhan, setelah aku menguasai ilmu penyembuhan... akulah yang akan memberikan darahku untuk mama..." Mata Chanyeol begitu penuh harap, "Lagipula dia pemegang kekuatan terang bukan? bukankah kekuatan terang adalah kekuatan kebaikan yang berarti dia adalah seorang penolong?"

Jongdae menghela napas panjang, sepertinya tuan barunya ini amat sangat keras kepala, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengantarkan Chanyeol menemui Sooman, meskipun sebenarnya, dia sudah tahu hasilnya. Sooman sudah pasti akan menolak Chanyeol mentah-mentah.

.

.

"Aku tidak bisa membantumu." Sooman menatap anak kecil di depannya tanpa ekspresi. "Aku memang menghormati mamamu, tetapi kematiannya sudah dekat, semua upaya sudah terlambat, mencoba menolongnya hanya akan mendorong ke arah pelanggaran aturan semesta."

"Aku mohon kepadamu." Mata Chanyeol berurai air mata, "Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan dia begitu menderita, aku mohon dengan sangat berikan darahmu untuk mamaku, itu akan meringankan penyakitnya... setidaknya dia bisa menlkmati hari ulangtahunnya." Chanyeol berusaha tegar ketika memohon, meskipun matanya terasa panas ingin menangis membayangkan keadaan mamanya di rumah. Sooman adalah satu-satunya harapannya, dan penolakan lelaki itu menghancurkan hati kanak-kanakknya.

Sooman menatap ke arah Chanyeol, menyadari bahwa anak kecil di depannya ini adalah penerus kekuatan kegelapan, tetapi kemudian dia tetap menggelengkan kepalanya. Takdir Ji Hyun sudah kelihatan, dia akan meninggal hari ini, sudah tidak ada cara apapun untuk menyelamatkannya... seandainya saja Chanyeol datang beberapa waktu yang lalu, mungkin saja Sooman masih bisa menyumbangkan darahnya untuk Ji Hyun, sayangnya semua sudah terlambat sekarang.

"Pulanglah." Sooman memalingkan muka, "Tidak ada yang bisa kau lakukan, ajal Ji Hyun sudah dekat dan lebih baik kau menghabiskan waktu mendampinginya di saat-saat terakhirnya daripada di sini dan memohon tanpa hasil."

"Aku mohon padamu!" Chanyeol setengah menjerit, air matanya sudah mengalir dengan begitu deras di tengah keputus asaan yang menderanya, "Selamatkanlah mamaku, aku mohon!" Lalu tanpa di duga, Chanyeol berlutut dan bersujud di depan Sooman.

Sooman terkejut sampai berjingkat mundur, begitupun Jongdae, dia langsung mendekat dan menyentuh bahu kurus tuan mudanya yang keras kepala, berusaha mencegah tuannya merendahkan diri sedemikian rupa.

"Bangun Tuan... anda tidak boleh berbuat seperti ini." Jongdae berusaha membujuk tuannya bangkit, tetapi dengan keras kepala, Chanyeol tetap bersujud dan memohon.

Sooman sendiri malah membalikkan badannya.

"Maafkan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Pulanglah!" kali ini suaranya sangat tegas, lalu Sooman melangkah pergi dan membanting pintu di belakangnya. Tidak menyadari bahwa pada detik itu, dia telah mengubah anak kecil berhati polos menjadi musuh kuat yang menakutkan.

Chanyeol terbangun dari posisi sujudnya, masih berlutut, matanya menatap nanar ke arah pintu yang tertutup di depan mukanya... rasa kecewa dan putus asa membuatnya remuk redam.

Ternyata kekuatan terang bukan berarti kekuatan kebaikan. Kekuatan terang ternyata tak punya hati dan belas kasihan sama sekali!

.

.

Chanyeol meletakkan kue putih dengan lilin warna-warni itu dengan hati-hati di atas meja di samping ranjang Ji Hyun,

"Selamat ulang tahun mama." suaranya serak, menahankan perasaannya.

Ji Hyun membuka matanya pelan-pelan, tersenyum haru melihat kue yang disiapkan putera tunggalnya itu dengan susah payah.

"Terimakasih sayang." gumamnya dengan napas tersengal, "Maukah kau meniupkan lilin itu untuk mama?"

Dengan patuh, Chanyeol meniup lilin itu sampai padam, air matanya mengalir lagi ketika menatap mamanya yang begitu rapuh dan lemah, "Mama ingin mengucapkan Permohonan?"

Ji Hyun tersenyum, lalu mengerang sedikit ketika merasakan kesakitan menderanya. Ya, dia tahu bahwa waktunya sudah dekat.

"Mama mohon... ketika kau sudah menguasai kekuatan penyembuhanmu nanti, kau memang dilarang menyembuhkan penyakit adikmu karena itu melawan takdir Tuhan, tetapi mama mohon, berikanlah darahmu untuk adikmu Luhan... darahmu akan memperlambat sel-sel kankernya menyebar... setidaknya dia bisa hidup lebih lama, karena mama ingin adikmu hidup sampai remaja, menikmati indahnya dunia ini.." air mata Ji Hyun mengalir, "Meskipun Luhan harus hidup dalam kesakitan, tetapi dia tetap berhak hidup..." dengan gemetar Ji Hyun meletakkan jemarinya di atas jemari Chanyeol, "Jangan kau mencoba menghilangkan rasa sakitnya, seperti yang mama lakukan kepada Luhan selama ini, itu akan membuat kita menyerap penyakitnya, dan ketika kekuatan kegelapan tidak menopang kita, penyakit itu akan langsung membunuh kita... mama tidak mau nasibmu berakhir seperti mama..."

Chanyeol mengangguk, mencondongkan tubuhnya dan mengecup dahi Ji Hyun dengan lembut, dia bisa merasakannya, merasakan kulit Ji Hyun yang semakin lama semakin dingin, menandakan bahwa kekuatannya semakin lama semakin surut.

"Aku berjanji akan melakukannya, kau bisa tenang, mama..."

Ji Hyun memejamkan matanya, setetes air mata bergulir di sana. "Kuasailah kekuatanmu dengan sempurna, jadilah pemegang kekuatan yang terbaik seperti nenekmu... menjaga keseimbangan dunia ini..." suara Ji Hyun hilang tertelan napasnya yang tersendat, "Aku mencintaimu, Chanyeol... anakku, maafkan aku karena memberikan beban ini kepadamu..."

Lalu suara Ji Hyun melemah, napasnya tersendat-sendat dan Chanyeol bisa merasakannya, merasakan bagaimana kehidupan meninggalkan tubuh sang mama pelan-pelan, hingga akhirnya tidak ada sama sekali.

Ditatapnya tubuh mamanya yang sudah tidak bernyawa itu dengan penuh air mata, suaranya bergetar ketika memanggil pelayan setianya.

"Jongdae."

Jongdae langsung muncul dari bayang-bayang kegelapan, "Saya turut berduka, tuan."

Chanyeol menganggukkan kepalanya sedikit, ada api di matanya, "Aku akan belajar menguasai kekuatan kegelapan itu dengan sempurna...dan setelah itu, aku akan membunuh Sooman."

Pada detik itu Chanyeol sudah membulatkan tekad untuk menghancurkan kekuatan terang. Kekuatan terang adalah musuhnya. Chanyeol tidak akan pernah memaafkan Sooman dan semua kekuatannya. Dia akan menghancurkannya.

[Flashback End]

.

.

.

"Kita sudah sampai Tuan." suara supirnya yang ragu-ragu itu membuat Chanyeol tersentak dari lamunannya tentang masa lalu. Chanyeol mengerjap dan menatap ke luar jendela mobilnya, mereka ternyata sudah sampai di lobby mansion tempat tinggalnya. Mereka sepertinya sudah berhenti lama di sini, dan karena Chanyeol tampaknya terlalu larut dalam lamunannya, supirnya pada akhirnya memutuskan untuk menegurnya.

"Terimakasih." Chanyeol menganggukkan kepalanya sedikit kepada supirnya, lalu membuka pintu mobil dan melangkah menuju lobby mansionnya. Hujan masih turun deras, seperti tirai kelabu yang basah dan dingin di luar sana.

Kue tart dan semua perayaan ulang tahun tadi telah membawa Chanyeol kepada kenangan lama yang sekian lama ingin dilupakan, kenangan akan hari kematian mamanya...

Ya... Kekuatan terang akan selalu menjadi musuh besarnya, Chanyeol tidak akan berhenti sebelum bisa memusnahkan kekuatan terang yang munafik itu. Sooman memang sudah dibunuhnya, tetapi itu belum membuatnya puas, Chanyeol tidak akan berhenti sampai semuanya habis.

Dan sekarang ada Sehun yang pasti sedang menyiapkan diri di bawah arahan Jinwoo...

Chanyeol tersenyum sinis, hatinya memang jahat, tetapi dia adalah seorang petarung yang adil, akan ditunggunya sampai Sehun menguasai kekuatannya, baru setelah itu akan ditantangnya lelaki itu. Selain demi keadilan, Chanyeol akan kehilangan kenikmatan bertarung kalau harus menghadapi musuh yang terlalu lemah.

Yah... perang antara dirinya dan Sehun akan segera tiba, hanya saja, dia masih belum tahu bagaimana nantinya peran Baekhyun di antara mereka. Mungkin memang akan ada pengorbanan nyawa, mungkin juga tidak.

Apapun itu, Chanyeol benar-benar tidak sabar menunggu Sehun siap untuk melawannya...

.

.

.

[TBC]

.

.

.

Author's Note :

Mulai Chapter berikutnya, judulnya bakal aku ubah jadi Darkness's Love ya..

Jangan lupa review!