.
.
.
.
Lalu sang katak bertanya pada sang pangeran, "Kenapa aku harus menjadi katak dan kau menjadi pangeran?"
.
Pangeran terdiam, dia menatap pantulan keduanya dari bias yang tercetak begitu apik dari pantulan air danau yang keruh. Dua bayangan yang tak sama itu saling menatap manik masing-masing dalam sunyi lalu terpecah oleh helaan nafas panjang. "Aku rasa karena jika tidak begitu kita tidak akan pernah bertemu."
.
Katak menoleh, melihat wajah sang pangeran yang tersenyum padanya dengan sangat tampan lalu menggumam pelan. "Kau tersenyum seperti orang bodoh."
.
Sang pangeran yang kesepian dan si katak penggerutu yang tak punya teman. Di danau itu mereka selalu bertemu, dengan takdir yang sungguh aneh dua makhluk itu bersahabat. Saling berbagi kata, cerita, tawa, bahkan air mata.
.
"Terimakasih," sang pangeran kembali berkata, katak terdiam sesaat sebelum mengerti untuk apa kata itu sesungguhnya. "Untuk waktu itu dan segalanya."
.
Karena tanpa katak, sang pangeran tidak akan pernah ada disini. Sang pangeran mungkin telah membeku didasar danau tanpa seorangpun berhasil menemukannya. Tanpa si katak penggerutu yang suka bicara, tanpanya mungkin sang pangeran tidak akan terselamatkan. Tanpanya, tidak akan pernah ada satu orangpun yang datang. Tanpa celotehnya yang selalu tampak seperti gerutuan yang kadang menyakitkan. Pangeran mungkin sudah lama mati.
.
Karena si katak amatlah berharga, siapapun dia. Bagi sang pangeran, katak adalah malaikat penolongnya.
.
.
.
[Chapter 11]
-F.A.K-
.
.
.
Jongin itu memiliki berbagai macam kiat-kiat untuk dibanggakan jika kalian memintanya berbagi pengalaman cara untuk merayu seorang gadis cantik. Dia tentunya memiliki segudang pengalaman yang telah berlisensi secara ilegal. Mulai dari masa kecilnya yang suram, masa sekolah dasarnya yang penuh dengan tangisan, masa SMP yang dipenuhi dengan makian, lantas berakhir dengan masa SMA yang entah bagaimana bisa penuh dengan kelaknatan. Padahal dia adalah pemuda yang penurut pada kedua orang tuanya yang baik hati tidak seperti kedua nuna nya yang suka sekali membuli. Jongin itu penurut kok, dia juga penyayang. Buktinya saja kekasihnya yang aduhai itu betah pacaran bersamanya meskipun mereka belum pernah meresmikan hubungan keduanya dengan nganu bersama. Oh, Jongin jadi ingat masalah anu itu dan Krystal. Sudah berapa abad dia tidak menghubunginya?
.
Sial, dia terlalu terbuai pada urusan handphone berisi video jav-nya yang hilang itu sampai melupakan Krystal. Ah, tunggu. Kenapa Jongin jadi melantur begini. Ingatlah masih ada dua manusia homo yang kini tengah menatapmu Jongin. Jongin berdeham, memaksa tangan Sehun untuk turun dari wajahnya lantas memandang pemuda itu penuh keprihatinan. Cinta itu memang pahit, cinta itu memang penuh dosa, dan cinta kedua manusia homo ini memang dosa yang penuh kepahitan. Dia gila yang mau mengajaknya ikut serta bersama mereka?! Yang benar saja!
.
"MATI SAJA KALIAN HOMO BIADAB! AKU MASIH NORMAL BANGSAT!"
.
Jongin berbalik dengan cepat, misuh-misuh sembari menendang pintu kelas sekenanya. Menatap kedua manusia homo yang tengah menatapnya lekat itu dengan balasan jari tengah lantas keluar dari kelas yang di huni dua homo menyedihkan berlabel Park Chanyeol dan Oh Sehun. Sialan memang, dunia ini terlalu indah men. Jongin bahkan masih ingat tiap adegan anunya yang tegak karena desah seksi pemain pro di video jav-nya. Halah, otaknya kenapa jadi tidak karuan begini. Ahh, Sialan.
.
.
.
.
.
Rumah kediaman Kim yang biasanya sepi itu kini ramai, Jongin sudah menduga mobil kedua orang tuanya kemarin itu pasti akan membawa huru-hara dalam kehidupannya yang belum tentram. Jongin melihat keadaan sekitar sebelum memutuskan untuk masuk atau pergi saja ke warnet terdekat namun ah, dia kelaparan setelah satu hari yang penuh dengan ingar-bingar kesialan ini. Sudahlah, paling-paling dia hanya akan jadi bahan bulian kedua nuna sintingnya itu kalau mereka dirumah. Dia jadi merasa sedih, kenapa mereka pulang cepat sekali. Jongin bahkan belum sempat berkencan dengan benar bersama pacarnya si cantik Krystal. Uh, Jongin jadi merindukannya. Eh, tapi sebentar… dia masih belum mempunyai nomor pacarnya. Tch, bodoh sekali.
.
"Jonginie sudah pulang?" suara ibunya yang cantik jelita bak bidadari surga mengalun penuh kasih sayang, ya. Jongin tahu ibunya itu memang cantik jelita. Buktinya dia juga tampan nan rupawan. Tapi tetap saja dua makhluk berkedok perempuan jadi-jadian yang tengah melihat televisi di ruang keluarga itu begitu Jongin ragukan kebenaran hubungan keluarga dengan dirinya. Kim Jina dan Kim Jinri. Dua perempuan gila itu akan kembali mengacau hidupnya!
.
"Hum, Jongin pulang… mama masak apa hari ini?" melepaskan sepatu dengan teratur lalu meletakkannya di rak secara rapi. Jongin selalu mengingat petuah ibunya jika semua hal itu harus diletakkan pada tempatya agar jodoh kita tidak berbalik arah. Hm, petuah yang aneh tapi tetap saja Jongin percaya. Jongin kan anak yang berbakti di dunia maupun di akhirat.
.
"Ayam asam manis, cepat ganti baju dan cuci tangan. Akan mama siapkan dimeja makan." Jongin tersenyum cerah, memeluk ibunya sayang sembari mengecup pipinya singkat sebelum berlari menuju kamar menghiraukan teriakan kedua nuna sinting yang memanggil-manggil namanya bak preman. "WOY KIM JONGIN!"
.
Jongin tak mnggubris, memilih berlari dengan kecepatan cahanya menuju markas teraman di seluruh penjuru kediaman Kim. Sedang kedua nunanya kini menatap kepergian Jongin dengan cekikikan. Mereka itu gila! Jongin bisa patenkan pernyataan itu secara legal jika saja tau caranya.
.
.
.
.
.
Belum sampai kamar Jongin sudah dikagetkan oleh nenek kesayangannya yang masih bisa disandingkan dengan ibu-ibu komplek yang suka sekali pergi ke salon sebelah. Nenek Kim ini usinya sudah tujuh puluh tahun, sudah puunya tiga cucu yang sehat dna siap untuk di lepas di dunia fana yang penuh kedzaliman. Nenek paling fenomenal sepanjang masa, yang selalu saja memanjakan Jongin bak putri istana. Ya, putri. Kalian tidak salah lihat apalagi baca.
.
"Ahhh… Jonginie kesayangan Oma sudah pulang nak?" Pelukan dan kecupan mesra selalu tak pernah absen disana. Nenek Kim mengecup semua sisi wajah Jongin hingga meninggalkan bekas kemerahan sebelum ganti mengusap-usap surai lembutnya. "Jonginie kesayangan Oma kenapa jadi kurus seperti penderita anorexia begini?" nah, satu lagi tentang nenek Kim. Nenek-nenek ini punya banyak sekali kosa kata menyakitkan yang sulit di sanggah.
.
"Apaan sih Oma, Jongin makan lima kali sehari kok. Apanya yang kurus?" Jongin mencebik, membuat sepasang cubitan gemas melayang pada pipi gembilnya. "Aihh.. lucu sekali Jonginie kesayangan Oma ini. Sini-sini Oma peluk lagi!"
.
"Ugh! Omaaa… Jongin bisa tambah kurus kalau Oma peluk terus!"
.
Dan begitulah reuni dadakan Oma dan cucu Kim yang terlalu unyu. Sementara Jongin sedang bemesraan dengan sang nenek, kedua bibit homo berinisial Park Chanyeol dan Oh Sehun itu kini tengah duduk bersama di bawah jembatan dengan sebotol cola di masing-masing tangan. Saling memandang air keruh yang menampilkan bias jingga yang tampak temaram. Dua anak manusia itu saling menghela nafas. Berdiam diri menata keruh pikiran yang tampak sulit untuk terburai. Dan nama Jongin ada disetiap tautan. Pemuda dekil penggila video jav itu benar-benar berbahaya.
.
"Ini terlalu menggelikan, bagaimana bisa bocah itu membolak-balikkan orientasi seseorang semacam ini." Chanyeol bermonolog, terkekeh menatap pemuda yang baru saja mencoba peruntungan seperti dirinya kemarin. Oh Sehun. Tch, dia juga sama menyedihkan sepertinya. "Kau masih waras bukan?"
.
Sehun mengendikkan bahu tak peduli, meneguk cola lantas kembali menatap sungai di hadapannya yang tampak begitu tenang. "Dia menarik." Pungkas Sehun begitu saja. Mendengar hal itu terlontar Chanyeol berdecak tak suka. Entah bagaimana sekarang dia risih mendengar orang lain memandang Jongin dengan cara yang sama sepertinya. Dia adalah sahabat Jongin sejak bayi. Tentu saja derajat kastanya lebih tinggi dari pada pemuda homo yang gagal menyatakan cintanya ini. Tapi, kenapa Chanyeol masih saja merasa terusik.
.
"Tch, sudahlah.. untuk apa juga aku disini denganmu." Chanyeol berdiri, menjejakkan kedua kakinya kokoh dan baru saja akan beranjak sebelum sebuah dering telepon membuat rasa ingin tahunya muncul.
.
"Hei, Yeri…" suara manis Sehun berkumandang, Sial. Chanyeol tahu pemuda ini pasti tidak serius dengan omongannya pada Jongin tadi. "Hm, aku ada di jalan. Aku juga merindukanmu.."
.
Nah, tapi Chanyeol masih menduga-duga. Apakah…
.
"Pacarmu?" Chanyeol hanya menebak, dia juga berpengalaman tentang hal semacam ini. Namun Sehun kembali tersenyum, mengendikkan bahu. "Entahlah." Oh Sehun, pemuda asing ini terlalu sulit di tebak. Namun toh Chanyeol juga tak ingin berurusan lebih lama dengannya. Terserah, Chanyeol pikir itu memang bukan urusannya, urusannya hanya memastikan jika Jongin sahabatnya tidak terluka. Baik itu karena dirinya atau bahkan Sehun sekalipun.
.
.
.
.
.
Ada beberapa hal yang selalu Chanyeol ingat tentang Jongin dan semua tingkah tidak masuk akalnya. Pemuda dungu merangkap idiot itu punya alergi parah terhadap kacang. Takut dengan ketinggian, mesum dan penggemar addict segala macam porn video dari berbagai genre dari hardcore, bondage, sampai BDSM. Tapi tidak berani melakukan seks bahkan hingga umurnya sekarang sudah mau mencapai tujuh belas. Hell, Chanyeol pikir Jongin itu memang terlalu dungu hingga jadi begitu polos. Orang mungkin berpikir pemuda itu bangsat, pembuat onar, biang rusuh dan lain sebagainya. Tapi, tetap saja Jongin hanyalah pemuda kepalang tanggung yang taat pada segala aturan ibunya tercinta. Sesering apapun dia melihat dan membayangkan apapun dengan ribuan video-video javnya, setegak apapun anunya berdiri, pemuda itu hanya akan mengurusnya sendiri tanpa tergiur godaan duniawi. Tch, Chanyeol jadi berpikir bagaimana bisa pemuda itu berpacaran dengan Krystal yang yah semua orang tahu dia adalah Diva di sekolah perempuan terpandang di Seoul.
.
"Oh. Woy Park! Kau baru pulang?" Jongin, pemuda yang sedari tadi menggelayuti otak dan pikirannya itu kini tengah selonjoran diatas ranjang Chanyeol dengan backsound desah serta derit ranjang. Serius bocah idiot itu kenapa suka sekali mencemari ranjang sucinya heh?!
.
"Idiot! Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau tidak pulang dan fap-fap dikamarmu sendiri Kim?!" Chanyeol berdecak kesal dan Jongin hanya nyengir tak peduli. Hh, sudahlah. Walaupun pemuda Kim itu tak bercerita Chanyeol juga sudah mengerti kenapa pemuda kepalang tanggung itu hijrah ke kamarnya. Tak lain tak bukan pasti ini perihal kedua nuna-nya yang kata Jongin positif gila. Dan ya, sebenarnya menurut Chanyeol pribadi mereka hanya teralu sayang pada adik bungsu kesayangan mereka yang polos tapi suka cari huru-hara ini.
.
Memilih mengabaikan keberadaan Jongin yang sudah melekat erat dalam sepenggal hidup Park Chanyeol yang dulu aman-aman saja tanpa perlu degup jantung berlebih saat berada dikawasan rawan bencana bila berada di sekitar Jongin. Chanyeol melempar tasnya tak peduli, melepas seragam di hadapan Jongin yang masih saja focus pada video jav-nya tanpa terganggu sedekitpun. Sial, Chanyeol sendiri yang merasa terusik karenanya padahal si idiot Kim itu hanya menggigit bibirnya sembari memandang layar ponsel yang terang benderang. "Jika kau tidak mematikan video laknatmu itu lebih baik segera angkat kaki dari daerah kekuasaanku, Kim. Serius. Kau mengangguku."
.
Jongin melempar tatapan tak terima atas tuduhan Chanyeol yang jelas sekali mengada-ada. Lah sedari tadi Jongin kan tidak bersuara, bergerak apalagi, dia hanya berkedip sesekali, menghela nafas beberapa kali dan menelan ludahnya sekali-kali kalau adegan mulai agak panas kok. menganggu bagaimana sih? Apa jangan-jangan homo juga mempengaruhi tingkat emosi serta sensitifitas manusia? Geez, kemana sahabatnya yang dulu sebelum dia melegalkan dirinya sebagai homo biadab yang super sensitive begini? Jongin merindukannya. "Mengganggu bagaimana heh?! Bergerak saja tidak?! Kau buta Park?!"
.
Chanyeol menghela nafas lelah, bagaimana Chanyeol menjelaskannya lagi pada pemuda bernama lengkap Kim Jongin yang dungunya merangkap idiot dan bodoh itu. Apa dia lupa kemarin Chanyeol sudah menyatakan secara lantang perasaannya yang teramat tabu untuk dia umbar pada pemuda Kim itu heh?! Orientasinya sekarang jadi beragam meskipun degup jantungnya hanya bisa tak karuan kalau Jongin ada di dekatnya macam begini. Ini terlalu baru bagi Chanyeol, dia memang sudah mulai menyesuaikan. Tapi, godaan yang datang dari Kim Jongin itu memang tak tanggung-tanggung adanya. Oh, jangan lupakan paha putih yang baru sekarang ini terlihat begitu menggiurkan bagi Chanyeol. Sial, itu hanya paha Park! Paha Jesicca sunbae jauh lebih menggoda! Jangan lupa jika pantat Jongin itu juga berisi penuh tak kalah seksi dari Jessica sunbae! Haish sialan, Chanyeol merasa adiknya tegang seketika. Kenapa juga dia harus membayangkannya.
.
"Sial, Kau dan pahamu itu mengganggu kewarasaku Jong!" nah, Chanyeol yang mengaku homo sudah mengumbar kenistaannya. Jadi masalahnya adalah paha, Pikir Jongin. Pahanya?
.
Jongin yang masih selonjoran kini menatap kedua pahanya, beralih menatap Chanyeol yang masih berdiri dengan tubuh shirtless dihadapan. Hm, kenapa adegan ini mengingatkan Jongin pada salah satu video jav kesukaannya bergenre rape. Tch, otaknya ini sepertinya perlu di rukiyah sekali-sekali. "Yasudah sih, hanya paha ini. Nanti aku pinjam celanamu supaya kewarasanmu tetap terjaga di tempatnya." Jongin masa bodo, daripada dia harus kembali kerumah dan di jadikan kelinci percobaan make up dadakan oleh kedua nuna sintingnya itu lebih baik dia merusuh Park Chanyeol. Setidaknya yang tersiksa disini bukan Jongin kan. Kkkk.
.
.
.
.
.
Subuh-subuh sekali Jongin sudah buru-buru keluar dari kadang Park Chanyeol. Setelah malam panjang penuh pedebatan sengit yang berakhir saling memiting keduanya berakhir tertidur karena kelelahan. Chanyeol yang mengaku homo itu berusaha mati-matian mengusir Jongin keluar kamar walaupun waktu sudah menunjuk angka satu dini hari. Sialan memang, Jongin bahkan baru bisa tidur pulas empat jam yang lalu tapi kini harus kembali kerumah untuk berangkat sekolah. Hm, apa dia bolos saja ya? Kapan terakhir dia keluyuran? Satu minggu lalu? Satu hari yang lalu? Entahlah, ingatan Jongin memang buruk sekali. Tidak heran kalau nilai rapotnya selalu dipenuhi pelangi.
.
Setelah siap, Jongin hanya mampir ke meja makan guna mengambil sesuap nasi dan seteguk susu putih. Dia punya jadwal yang padat hari ini. Pertama merusuh di kediaman Park yang masih sepi karena Yoonji nuna masih di luar kota. Nebeng pada Park Chanyeol, hanya untuk menitipkan absen dan melanjutkan petualangan ke seolah Krystal tercinta untuk kencan bersama. Kedengarannya bagus. jadi, tanpa menunggu hal lain menganggu rencana sakralnya Jongin segera memacu langkah menuju kediaman Park. Menjeblak pintu depan hingga terbuka lebar dan tersenyum menakkutkan pada Chanyeol. "Hei sahabatku tercinta, hari ini tuan Kim Jongin yang rupawan ini membutuhkan bantuanmu sebagai seorang sahabat yang baik hati dan berbudi luhur."
.
"Kau mau melakukan apa, heh?" Ada sedikit rasa curiga tersemat dalam setiap untaian kata yang terlontar dari mulut Park Chanyeol. Rasa curiga yang diperkuat oleh cengiran lebar Jongin yang kini merangkul bahunya. "Buatkan aku surat izin."
.
Mata Jongin berkedip genit, tawa anehnya itu pun tampak begitu menggemaskan entah bagaimana. Chanyeol bahkan hampir terperdaya tapi tidak. Chanyeol memang menyukainya tapi tak begini. "Tidak mau, aku bukan pesuruhmu."
.
Mereka harus sekolah hari ini, setidaknya Chanyeol masih waras untuk tidak menimbulkan huru-hara lain setelah insiden video porno kemarin. Ah, ngomong-ngomong soal insiden itu. Chanyeol jadi ngat surat panggilan untuk kedua orangtuanya yang masih berada dalam tas. pikir Chanyeol pasti Jongin lupa sama sekali dengan surat itu hingga bertingkah macam ini. "Kenapa kau jadi seperti ini setelah menjadi homo sih?" sekarang Jongin menyalahkan ke-homo-an Chanyeol yang terjadi juga karenanya. "Dulu kau tidak pernah seperti ini loh, Chanyeolku yang baik hati itu suka sekali membantu sahabatnya Kim Jongin."
.
Chanyeol memutar matanya malas, meskipun Chanyeol mengaku homo dia tidak amnesia. "Mungkin itu Chanyeol yang lain. Park Chanyeol yang ini lebih suka tidak membantu Kim Jongin. Terimakasih."
.
Jongin mendelik sebal, karena menjadi homo tingkat menyebalkan Park Chanyeol meningkat secara drastis. Chanyeol melenggang pergi, Jongin pun mau tak mau mengikuti. Memang dia mau ke sekolah jalan kaki? Tidak ya, Jongin masih lebih suka memanfaatkan kendaraan pribadi Chanyeol daripada merelakan kedua kakinya makin berotot. "Pasang sabuk pengamanmu dengan benar, Jongin." Peringatan Chanyeol terabaikan, Jongin masih kesal dengan penolakan Chanyeol. Dia juga kepikiran pada rencananya untuk menemui Krystal hari ini. Apa sebaiknya pulang sekolah saja ya, lagipula Jongin juga tidak ingin mengganggu pembelajaran kekasih tercintanya itu. meski kemampuan otak Jongin memang rata-rata begini Jongin tidak mau merusak kekasih tercintanya. Setidaknya cukup Jongin yang bodoh, cukup dia saja asalkan kekasihnya tidak.
.
Chanyeol tiba-tiba saja mendekat, Jongin kaget bukan main. Sial, wajah Chanyeol yang ada tepat dihadapan Jongin membuatnya shock setengah mati. "Kau harus berhenti melamun, Jongin." Ujarnya pelan. Sungguh, Jongin merasa degup jantungya berpacu tak terkira. Ia kaget, bahkan menelan ludah saja serasa berat untuknya. Chanyeol dan wajah seriusnya itu baru kali ini membuat Jongin salah tingkah. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa dia ketularan homo?
.
"TIDAAAKKKK!"
.
Teriakan Jongin membuat telinga Chanyeol berdenging sakit, Kim Jongin sialan! Dia mau mencoba membunuhnya heh?!
.
"KAU GILA HAH?!" Chanyeol membentaknya tak terima, mereka masih belum berangkat loh dan Jongin sudah memulai kerusuhannya. Jika terus dibiarkan seperti ini besok pasti akan ada satu artikel besar di koran dengan headline besar dan bold tebal berjudul; seorang pemuda berinisial KJI ditemukan termutilasi dipinggir jembatan layang.
.
"AKU TIDAK JADI BERANGKAT BERSAMAMU!" nah, drama apalagi ini?
.
"AP─HEY JONG! KIM JONGIN! MAU KEMANA KAU?! KAU MAU MEMBOLOS HAH?! BANGSAT! BERHENTI KAU!"
.
Jongin sudah berlari pergi, Chanyeol memaki namun siapa yang peduli. Jongin hanya tidak ingin ikut-ikutan menjadi homo wannabe hanya karena berdekatan dengan Park Chanyeol. Tch, tidak. Jongin itu normal. Dia masih lebih suka buah melon lokal daripada pisang impor. Jongin suka benda kenyal daripada keras, Jongin lebih suka perempuan yang lemah lembut dan penyayang daripada dada bidang yang keras seperti papan gilas cucian. Pokoknya Jongin itu normal! Titik. Tapi masalahnya, kenapa Park Chanyeol sialan itu malah mengejarnya mati-matian?!
.
"AKU BILANG AKU TIDAK MAU BERANGKAT BERSAMAMU PARK! JANGAN MENGEJARKU!"
.
"KAU MAU MEMBOLOS KIM! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU BERSENANG-SENANG DIATAS PENDERITAANKU! KAU HARUS BERANGKAT BERSAMAKU!"
.
"AKU TIDAK MEMBOLOS! KENAPA KAU TIDAK PERCAYA HAH?! SUDAH! BERHENTI MENGEJARKU! AKU TIDAK MAU KAU PAKSA!"
.
"BERHENTI KIM JONGIN!"
.
"TIDAKKK! KAU SAJA YANG BERHENTI!"
.
Dua anak manusia itu memang terlalu keras kepala, keduanya berlarian tak masuk akal hanya karena hal konyol yang bahkan tidak rasional. Jongin berlari dan Chanyeol dengan menggebu mengejar. Padahal kedua otak itu berbeda sudut pandang. Jika Jongin berlari karena perasaan aneh yang tiba-tiba menyentak kewarasan untuk dia selamatkan, Chanyeol mengejar sebab dia tak mau dijadikan kambing hitam sebab si biang keonaran tak masuk sekolah tanpa alasan. Namun, dua pemuda keras kepala itupun punya batas ketahanan. Dua napas itu saling meraup udara dengan serakah, kedua tangan masing-masing bertumpu pada lutut dipinggir jalan. Sial, keduanya berlarian hingga kira-kira satu dua kilo meter. Hal gila macam apalagi ini. Mereka sudah dipastikan terlambat jika masih nekat kejar-kejaran.
.
"Serius.. Jong, Kenapa kau keras kepala sekali hah?!" Chanyeol berjalan mengamit lengan Jongin erat. Jongin memberontak namun genggaman jemari Chanyeol terlau erat dan sulit dia lepas.
.
"Kenapa kau jadi menyalahkanku, aku kan bilang akan berangkat sendiri idiot!" Jongin membalas tak kalah kasar, cengkaraman tangan Chanyeol makin menyakitkan namun Jongin gengsi mengatakan. Dia laki-laki tulen yang tahan banting dan tidak cengeng. Bogem mentah saja dia atasi dengan gampang. Kenapa dia harus merengek hanya karena cengkeraman tangan Chanyeol.
.
"Kau sudah dipastikan akan membolos!"
.
"Kenapa kau berprasangka buruk seperti itu?"
.
"Karena kau mengatakannya!"
.
"Aku kan sudah bilang tidak, sudahlah lepaskan. Aku bisa berangkat sendiri!"
.
"Tidak, kau berangkat bersamaku. Kim Jongin!"
.
Drama murahan itu berlangsung lebih sengit, Jongin sudah dilanda frustasi berkepanjangan. Kenapa Chanyeol jadi keras kepala seperti itu sih?
.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat disamping keduanya, dari balik kaca jendela menyembul kepala pemuda paling tidak Chanyeol harapkan hadir merusuh dalam kisahnya bersama Jongin sang sahabat tercinta. Oh Sehun, pemuda itu kenapa selalu jadi orang ketiga dalam setiap momen krusialnya bersama Jongin?
.
"Oh, apa kalian butuh tumpangan?" penawaran yang cukup menggiurkan bagi Jongin, setidaknya dia bisa menghindar dari si homo keras kepala Park dengan ikut bersama Sehun. "Ya, tentu saja." Walaupun pemuda ini juga mengaku homo, setidaknya homo yang satu ini tidak lebih menyebalkan dari homo yang satu itu.
.
Jongin menyentak pegangan tangan Chanyeol, berjalan cepat menuju mobil Sehun dan duduk dengan tenang. "Kau tidak ikut?" hm, sepertinya Jongin harus merevisi pernyataannya tentang tidak menyebalkan. Homo yang satu ini terlalu baik hingga jatuhnya menyebalkan. Biarkan saja Park homo sialan itu terkikis angin jalanan dan menguap bersama debu yang berterbangan. Kenapa kau mengajaknya juga? Sialan.
.
Chanyeol masih menatap sengit Jongin, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan pada pemuda idiot yang malah dengan suka rela masuk dalam lingkaran ke-homo-an ini. Chanyeol tidak tahu apa yang sedang Jongin pikirkan, dia juga tidak tahu apa yang tengah pemuda itu rencanakan. Namun, Chanyeol mengerti jika Jongin sengaja menghindar. Pertanyaannya, kenapa? Kenapa Jongin harus menghindarinya?
.
"Tidak, aku bisa mengatasi masalahku sendiri." Chanyeol memutuskan berhenti mengejar, setidaknya Jongin akan ke sekolah bersama Sehun. Ya, setidaknya itu yang dia pikirkan. Maka, saat mobil Sehun berlalu meninggalkan Chanyeol yang kini mendesah menendang kerikil yang bertebaran di sepanjang jalan Chanyeol memutuskan untuk tinggal. Dia masih tidak bisa menerimanya, Jongin tidak nyaman. Chanyeol mengerti secara tak sadar Jongin menciptakan sebuah sekat atas mereka karena pengakuannya. Kim Jongin, pemuda itu bisa saja berpura-pura tak masalah. Dia bisa saja berkata tak peduli dengan orientasinya yang tiba-tiba banting setir menjadi penyuka sahabatnya sendiri. Namun, Chanyeol tahu ada yang perlahan hadir membentangkan jarak dan perlahan mungkin akan merusak persahabatan mereka.
.
Rasa sukanya kepada Jongin itu terjadi begitu saja. Rasa sukanya itu tumbuh dengan liar meskipun coba dia pangkas dengan berbagai macam kenyataan yang rasional. Rasa sukanya pada Jongin, entah bagaimana Tuhan menciptakannya. Chanyeol rasa dia hanya perlu percaya jika rasa itu bukanlah sebuah kesalahan. Tuhan tidak pernah salah bukan?
.
Chanyeol berjalan perlahan, persetan dengan sekolah. Lebih baik dia bolos saja bukan? Lantas kedua kakinya berjalan tak tentu arah, berhenti pada satu toko dan toko lain, bermain-main disepanjang jalan hingga siang menjelang. Berhenti dengan mata memicing hanya untuk melihat lebih jelas seseorang yang di akenal sebagai pacar Jongin. Krystal.
.
Ya, Chanyeol tidak salah lihat. Perempuan cantik itu Krystal. Kekasih Kim Jongin sahabat yang sialnya dia sukai dengan cara yang tak bisa di nalar. Rasa penasarannya tergelak, Chanyeol mendekat. Memastikan bahwa yang ada dihadapannya adalah Krystal dan benar saja. Perempuan itu memang Krystal Jung dengan bonus seorang laki-laki yang tengah mencium bibirnya panas. Oh, Chanyeol rasa seseorang perlu tahu hal ini. Maka, dengan gerakan terlatih Chanyeol memotret semua adegan itu tanpa cela sedikitpun. Ada sebongkah kemarahan yang tersemat di hati Chanyeol saat memotret adegan yang seharusnya tak lulus sensor lembaga perfilman nasional itu tapi hm, ini demi kebaikan persatuan dan kesatuan persahabatannya. Ini bukan lagi masalah Chanyeol dengan rasa cintanya terhadap Jongin. Meski kenyataannya pun memang menyenggol sedikit tapi ini murni karena rasa solidaritasnya sebagai seorang sahabat yang tidak ingin Jongin tersakiti. Jongin memang bodoh, dia memang biar onar, dia juga bebal. Namun, Jongin tetap saja pemuda polos yang harus dia lindungi kapanpun juga. Karena Park Chanyeol akan selalu melindungi Kim Jongin. Baik itu dulu, sekarang, ataupun selamanya.
.
.
.
.
.
[a/n : udah saya anggurin berapa abad ffn ini ya, sebenernya masih agak kagok lagi di ffn. Kek newbie nih, mau post inget-inget lagi caranya hm, tapi hm ada beberapa hal yang ngebuat saya mantep post ff lagi di ffn apapun responnya. Terimakasih sudah mampir, semoga masih ada yang inget… kkkk, yaudah yah.. sampai jumpa di ff lainnya! Terimakasih! Semoga suka! Salam Go Green! TianLian]
