5INS (baca: Five sins) fanfic by Widzilla
.
Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
Fang 5 sins version, fanfiction idea story by Widzilla
WARNING! Fang x female!Boboiboy alert, OOC alert, AU alert, sins!Fang x elemental!Boboiboy
You've been warned. Don't like, don't read.
Agony
.
.
.
Malam itu, Taufan tengah berkutat dengan buku daftar belanja di meja dapur. Ada beberapa majalah dan lembaran diskon berserakan di atas meja menemani Taufan berhitung. Ia berharap bisa membeli barang-barang dan bahan makanan dengan harga murah agar bisa lebih menghemat uang belanja. Dengan telaten gadis itu mengumpulkan lembaran harga barang diskon.
Berkali-kali ia menghitung berharap tak melakukan kesalahan. Karena semua hasil hitungannya membuat hati sang gadis teriris.
"Tak mungkin kita hanya memiliki sisa uang segini, kan?" Gumam Taufan berusaha tak mempercayai hasil hitungannya.
"Oh, astaga… Apa yang harus kukatakan pada yang lain? Keuangan kita menipis…"
Suara pintu terbuka mengejutkan gadis yang telah dalam balutan piyama tidurnya. Langsung ditutupnya buku keuangan di atas meja. Begitu takut dan khawatir ia memberitahukan kabar buruk mengenai keuangan yang dialami kepada keluarganya.
Pintu belakang yang terbuka memperlihatkan sosok Greed dengan majalah di tangannya. Taufan menghela napas. "Belum tidur?"
"Oh, hei… Kau sendiri belum tidur?" Tanya Greed sambil mengambil air dingin dari dalam lemari pendingin. Mata Greed tertuju pada lembaran diskon di hadapan Taufan. Ia mengangkat beberapa sambil tersenyum sinis.
"Apa ini? Kau mau belanja diskonan?"
Taufan tersentak kesal dan merebut semua lembaran yang ada di tangan Greed. "Memang kenapa?"
"Oh, ayolah. Aku bisa belanjakan apapun untuk kalian. Apa sih susahnya membeli barang-barang berkualitas bagus?"
Nada penuh ejekan dari Greed membuat kesal Taufan setengah mati. Angin sepoi yang biasanya bertiup ceria kini mulai kencang penuh amarah.
"Wow, sombong sekali kau! Dengar! Kami tak butuh uangmu yang kau banggakan itu! Kau tinggal di sini dengan gratis saja sudah membuatku susah!"
"Oh, hei… oke, aku tak bermaksud tinggal dengan gratis di sini… Berapa yang harus kubayar untuk semuanya? Kau tinggal sebut jumlah, aku akan bayar berapapun."
Senyuman merendahkan di bibir Greed benar-benar ingin sekali disobek-sobek Taufan. Ia benci. Benci mendengar kesombongan dan benci melihat Fang yang kini berdiri di hadapannya. Dirinya mulai heran bagaimana bisa 'dulu' ia begitu mencintainya ketika dalam wujud seorang Boboiboy.
"Dengar, ya! Aku masih memiliki harga diri untuk tidak mengemis dari siapapun termasuk kau! Kami mengumpulkan uang dengan susah payah bekerja memeras keringat karena kami tahu harga satu sen begitu mahal untuk dicari! Tidak sepertimu yang hanya tahu menghamburkan uangmu!"
"Hei, hei… aku tak bilang kau mengemis. Aku benar-benar akan membayar jika memang kau butuh uang. Memangnya berapa sih yang kau butuhkan? Kau tak perlu mengemis dariku, kok." Seringai merendahkan kembali terlukis di wajah Greed.
Kesedihan dan kemarahan dalam diri Taufan telah bercampur aduk tak tentu. Akhirnya emosi meluap tanpa bisa ia kendalikan.
"AKU TAK BUTUH UANGMU!"
Bentakan Taufan berakhir dengan kepergian gadis itu dari dapur menuju kamar di lantai dua. Greed hanya mengangkat alis setelah ditinggalkan sendiri di dapur.
Sementara di hati kecil Taufan gadis itu mulai menangis.
"Taufan… aku mendengar teriakanmu di bawah tadi… Ada apa?" Tanya Gempa khawatir begitu saudarinya melewati pintu kamar.
Tiba-tiba gadis yang biasanya ceria itu menunjukkan wajah sedih. Ia tak sanggup lagi menahan jeritan dalam batinnya.
Air mata menetes dari manik biru Taufan membasahi pipi.
Para Boboiboy lain berdecak semakin khawatir dan mengelilingi gadis yang kini terisak dalam pelukan Gempa. Halilintar dan Api saling memandang bingung, Air turut khawatir sambil mengelus punggung Taufan.
Mereka bertanya-tanya namun Taufan sama sekali tak memberi jawaban membuat para saudarinya tak berani bertanya kembali lebih jauh.
Hanya isak tangis dan senggukan yang keluar.
Ia tak berani menceritakan bagaimana kondisi keuangan yang sedang mereka hadapi. Sementara kebenciannya pada Greed tak terbendung dan menolak dirinya untuk menerima uang tawaran pemuda tersebut.
Angin yang berhembus marah telah lelah dan bertiup lemah.
Kini angin sepoi berhembus penuh kesedihan.
Tak lagi menari ceria.
Beberapa hari telah berlalu tanpa menunjukkan perubahan-perubahan pada kelima Fang dan Boboiboy. Para pemuda dan gadis tersebut tetap belum bisa kembali bersatu ke wujud semula, dan Adu Du belum berhasil memperbaiki senjatanya.
Cuaca cerah nan sejuk sama sekali tidak membuat Adu Du berhenti menikmati suasana. Ia tetap berkutat pada senjata yang harus ia perbaiki di dalam laboratorium. Tentu saja hal itu membuat para sahabatnya khawatir.
Yaya, Ying, serta Gopal rajin mengunjungi setiap usai sekolah dan menawarkan bantuan sebisa mereka. Para Boboiboy turut menjenguk alien hijau tersebut sambil membawa coklat spesial untuk memberi tambahan energi. Sayang para Fang justru lebih baik diusir jauh-jauh dari laboratorium Markas Kotak. Karena mereka sama sekali tak pernah bisa membantu dan hanya membuat keributan, terutama Pride dan Lust yang selalu berselisih paham hingga terjadi pertengkaran yang berlanjut pertarungan seru, Greed terlalu cuek pada apapun selain uang dan benda-benda mahal sehingga ia lebih sering datang untuk memamerkan belanjaannya, Gluttony selalu mengeluh lapar, dan Sloth hanya menumpang tidur. Atau bahkan Greed dan Gluttony terlalu menikmati diri mereka bertaruh siapa yang menang ketika Pride dan Lust berkelahi.
"Dasar nggak berguna semua." Ying mulai kesal melihat tingkah para Fang terutama Lust yang teramat sangat gombal, nafsuan, dan tak pernah absen mengganggu Halilintar. Yaya dan Gopal mulai tak bisa menahan sabar menghadapi para Fang.
Namun di antara para Fang yang lain, hanya Sloth yang keberadaannya sama sekali tak mengganggu Adu Du karena ia hanya menumpang tidur. Tanpa bosan, Air selalu menjemput pemuda pemalas tersebut dan membujuknya agar melanjutkan tidur di rumah saja.
"Sloth, jangan tidur di sini, ya… Nanti Adu Du kalau mau istirahat nggak bisa berbaring di sini… Ikut Air, yuk…"
Bujukan Air lebih terdengar seperti seorang ibu membujuk anaknya. Begitu lembut dan terdengar sangat penyayang. Air tak pernah sungkan mengelus rambut, pipi, bahu, dan punggung pemuda tersebut sambil membangunkannya. Sloth tak pernah membantah atau menolak ajakan tersebut, membuat Adu Du mulai berpikir bahwa Fang dengan sifat pemalas tersebut memang sengaja tidur di Markas Kotak agar Air datang menjemput dan membujuknya. Jelas terlihat Sloth amat sangat menikmati dan menyukai belaian lembut tangan Air.
Bahkan gadis bertopi biru muda itu tak pernah sungkan atau menolak jika Sloth menyandarkan tubuhnya dan memeluk sambil berjalan ke manapun. Air hanya tersenyum kecil membiarkan pemuda tersebut bermanja-manja padanya.
"Kaya' beruang aja sih. Tidurnya nyandar gitu…," sindir Ying memperhatikan Sloth yang menyandarkan kepalanya di atas kepala Air.
"Oh, lu nantangin?
"Heh, siapa juga yang mulai duluan?"
Yaya dan Gopal berusaha melerai Pride dan Lust yang terus berselisih paham hanya karena hal kecil.
"Kalian berdua! Sudahlah!"
"Kalo mau berantem di luar aja sana!" Adu Du akhirnya habis kesabaran dan memaksa semua orang keluar. Namun Air tetap tinggal, mengeluarkan bola-bola air yang terasa dingin dari tangannya dan meletakkan benda yang menggumpal tersebut di atas kepala kotak Adu Du.
"Aduh, sejuk sekali… Terima kasih, Air…"
"Sama-sama. Jangan paksakan dirimu, Adu Du. Kami tak apa-apa kok harus menunggu."
"Tak bisa begitu… Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi jika kalian terpisah terlalu lama. Ini sudah nyaris dua minggu lebih…"
Sloth yang terus bersama Air saling memandang. Mereka memang khawatir akan kondisi diri mereka sendiri. Namun saat ini Adu Du yang nampak lebih membutuhkan perhatian lebih.
Gempa yang sedang mencuci gelas di kedai menjadi tempat curahan hati Air dan Sloth mengenai Adu Du. Api dan Gluttony yang sedang duduk di situ turut mendengar.
"Kasihan Adu Du… aku tak sampai hati kalau dia harus terus-terusan mengurung diri karena harus fokus pada senjata itu." Gempa menghela napas sambil mengelap gelas yang baru ia cuci.
Melihat Api dan Air jadi menunduk sedih, gadis bertopi terbalik tersebut menyadari ia justru menambah kekhawatiran saudari-saudarinya. "Ah, ngomong-ngomong… Bukannya Air harus menyetrika baju? Apa tak apa-apa kalau kau tinggal? Nanti tugasmu menumpuk, loh…," Gempa mengingatkan kewajiban rutinitas Air di rumah agar mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sudah selesai. Tinggal menunggu kering cucian yang baru dijemur. Sloth selalu membantuku bekerja." Ujar Air dengan nada bangga. Gadis itu menoleh pada Sloth yang membaringkan kepalanya di atas meja, "Terima kasih banyak, Sloth. Aku benar-benar terbantu."
Pemuda pemalas tersebut tersenyum sembari mengangguk.
"Ah! Glu juga selalu rajin membantuku memasak! Dia hebat, loh! Bisa mengupas, mengiris, dan memotong dengan cepat! Terima kasih banyak, Glu!" Api tak mau kalah memuji kekasihnya. Glu tersipu begitu Api memeluk erat dirinya.
"Ah, itu karena Api yang mengajariku. Terima kasih, Api!"
Gempa takjub mendengar pujian-pujian Air dan Api mengenai Sloth dan Gluttony. Ia tak mengira dua sifat Fang yang terpecah itu bisa berubah berkat keberadaan dua Boboiboy di samping mereka. "Oh, ya? Wah, hebat! Terima kasih banyak telah membantu Api dan Air!"
Siapa yang sangka kalau Sloth yang pemalas dan doyan tidur kini mau bekerja membantu Air meringankan beban pekerjaan mencuci dan menyetrika serta melipat cucian. Juga Gluttony yang biasanya tak bisa menahan lapar kini membantu Api memasak di dapur tanpa mengeluh lapar dan mencuri-curi makanan. Bahkan pemuda rakus itu turut membantu ketika Api membantu Ibu Kantin memasak.
Gempa tersenyum melihat dua pasangan yang duduk di bangku kedai. Sungguh ia berharap Pride juga berubah. Setidaknya sedikit lebih ramah.
Sejak pertama kali mereka bertemu muka sama sekali tak ada perubahan dari sifat Pride.
Sungguh saat Pride menolong Gempa menemukan mentega belanjaannya yang jatuh beberapa hari lalu, gadis itu berharap begitu banyak bahwa mereka bisa lebih akrab. Namun kini Gempa merasa itu hanyalah harapan kosong belaka. Pride kembali bersikap seperti sedia kala.
Tak ada senyuman dan ramah tamah ketika Gempa menyapa. Gadis itu selalu mendapat perlakuan dingin dan kurang mengenakkan. Hanya kata-kata sinis yang keluar dari bibir sang pemuda yang wajahnya terangkat.
"Ternyata memang aku tak boleh berharap terlalu tinggi…"
Dalam hati Gempa tentu ada rasa sayang dan peduli pada Pride dikarenakan perasaan Boboiboy pada Fang tertinggal dalam diri para persona sang gadis. Sayang sekali sejak berpecah Fang justru mengalami hilang ingatan kecil… yang ternyata membuat para personanya tak banyak mengingat perasaan diri mereka sebagai Fang pada Boboiboy.
"Ah, sebentar lagi waktunya makan siang. Glu, kau mau membantuku di dapur?"
"Tentu!" Dengan riang sambil bergandengan tangan, Gluttony dan Api berpamitan menuju rumah untuk menyiapkan hidangan makan siang nanti.
Air dan Sloth juga berpamitan untuk membersihkan kamar mandi serta menyetrika cucian yang baru mereka jemur tadi.
Sedangkan Halilintar baru saja kembali dari rumah setelah ia menyapu dan mengepel seisi rumah. Sebelum Lust mengganggu lebih lanjut, gadis itu menuju kedai untuk membantu Gempa melayani pelanggan. Namun Halilintar yang berpapasan dengan Api dan Gluttony ketika hendak ke kedai, terkejut bukan main dengan wajah merona ketika Api dengan riang menyapa sembari memeluk dada Halilintar tersayangnya.
"A-Apiiiii! Aduuuh, kamu kenapa, siiih…!"
"Api sayang Haliiiii!"
"Ta-tapi jangan begini terus doooong!"
Gempa yang melihatnya dari kejauhan tertawa sembari menggeleng kepala. Halilintar sama sekali tak marah atau enggan mendapat perlakuan manja dari Api. Tapi gadis polos cerita itu selalu melakukannya di manapun dan kapanpun ia mau tak peduli. Tentu saja Hali sering malu mendapatkan perlakuan 'spesial' demikian jika di depan umum. Namun yang ia bisa lakukan hanya membalas pelukan Api dan mengelus kepala bertopi yang begitu menikmati dirinya memeluk dada Halilintar yang empuk.
Gluttony yang melihat hanya bisa terbengong dengan wajah merona. Tentu saja, pemandangan manis tersebut bagai pemandangan surgawi bagi para pemuda.
Lust yang dari kejauhan baru saja mau menyapa Halilintar ikut terhenti bengong dari kejauhan dan tanpa sadar setetes darah mengalir dari hidungnya.
"Wow… A-aku juga mau… peluk Hali…"
"Nanti kamu bakal disetrum, loh…," Sloth bersama Air di sisinya tiba-tiba sudah berdiri di samping Lust, mengomentari hasrat Lust.
Di kamar para Fang, Pride tengah duduk sambil membaca buku di atas tempat tidurnya. Tapi tak lama kemudian ia sudah menutup buku dan melemparnya ke ujung tempat tidur dengan malas.
"Bosan… Sudah semua buku yang kubawa dari rumah lama selesai kubaca. Tak adakah yang bisa kulakukan?" Gumaman yang ia tujukan untuk dirinya sendiri pada akhirnya membawa Pride keluar dari kamar dan mendapati kedai Tok Aba mulai ramai dikunjungi pelanggan. Orang tua pemilik kedai tersebut dengan lincahnya membuat coklat spesial dibantu Gempa serta Halilintar. Gadis berbusana hitam-kuning emas dengan topi terbalik yang selalu bertugas menjaga kedai sama sekali tak nampak letih. Sementara Halilintar mulai nampak lelah dikarenakan ia harus kabur-kabur dari kejaran Lust yang amat sangat memujanya.
Benar saja. Lust berlari penuh gombalan yang ia serukan untuk Halilintar, membuat gadis itu kesal bukan main dan meminta ijin Gempa untuk pergi mengerjakan pekerjaan lain di rumah karena malu menjadi bahan tontonan para pelanggan yang tertawa melihat Lust tak kunjung menyerah mengejar cintanya.
Gempa tertawa kecil dan memaklumi Halilintar. Ia membiarkan gadis tersebut kabur dari kejaran Lust.
Pride yang melihat hal tersebut dari kejauhan hanya bisa menggeleng. Begitu Halilintar sampai di gerbang pagar rumah, gadis tersebut langsung memandang kesal pada Pride yang masih terdiam berdiri dengan kedua tangan di sakunya.
"Tolong hentikan saudaramu yang bodoh itu!"
"Sebuah keajaiban kalau dia akan mendengarkanku."
Jawaban datar Pride membuat Halilintar menggerutu memasuki rumah dan menguncinya dari dalam. Api dan Gluttony yang sedang berada di dapur saling berpandangan mendengar gerutuan Halilintar yang langsung mengambil alat bersih-bersih di lemari dan melampiaskan kekesalannya dengan membersihkan rumah.
"Ia pasti kesal karena ulah Lust lagi." Api menghela napas sambil mengaduk bahan masakan dalam panci. Gluttony yang membantu mengupas bawang dan kentang ikut terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala.
Gerutuan Halilintar terdengar hingga ke teras belakang, di mana Air sedang mengangkat jemuran dibantu Probe menyetrika pakaian-pakaian yang telah kering, dan Sloth yang melipat pakaian yang telah disetrika sambil bersandar tembok.
"Hali sepertinya benar-benar tak menyukai Lust…"
Sloth menguap setelah menata pakaian dalam keranjang, "Tak heran… Lust memang selalu mengganggunya tak peduli kapan dan di mana."
"Aaah, memang anak muda jaman sekarang…," komentar Probe membuat Sloth dan Air tersenyum geli.
Pride menghampiri Gempa dan duduk di bangku yang menempel pada kedai. Gadis bertopi terbalik itu menyadari kedatangan salah satu Fang, "Oh, hai, Pride… Mau coklat panas?"
Pride hanya menggeleng angkuh disambut senyuman maklum dari Gempa.
Tok Aba membuka-buka laci kedai membuat salah satu pecahan cucunya heran, "Atok? Cari apa?"
"Gempa, apa di laci bawah masih ada gula?"
Gempa langsung memeriksa semua laci, namun tak menemukan sedikitpun gula, "Sepertinya sudah habis… Aku beli dulu, Tok."
"Ah, tak usah. Biar Atok saja, sekalian mau isi bensin untuk motor. Pride, tolong bantu Gempa jaga kedai, yah?"
Pride langsung terperanjat, "A-aku!? Jaga kedai!? Yang benar saj-!"
Belum selesai protes dari Pride, Tok Aba sudah melesat menuju rumah meninggalkan kedai. Gempa tertawa kecil membuat Pride sebal bukan main membuang mukanya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Pride, maukah kau membantuku…?"
Fang mendengus angkuh tak menjawab. Gempa menghela napas berusaha sabar, namun gadis itu mulai tak menyukai sikap Pride terhadap Tok Aba yang meminta pertolongannya.
"Apakah harga dirimu terlalu tinggi untuk melayani para pelanggan?"
Sindiran halus dari Gempa semakin membuat Pride panas hati. Dengan kesal ia meninggalkan kedai melangkahkan kaki penuh rasa terhina.
Gempa menggeleng kecil sambil kembali melakukan pekerjaannya di kedai. Sungguh Fang yang demikian memiliki harga diri tinggi mengingatkan pada saat pertama kali Boboiboy bertemu dengannya ketika masih berusia sebelas tahun. Meski sebenarnya sampai sekarang pun pemuda itu masih memiliki sikap yang demikian, namun ia masih bisa mengendalikannya jika bersama dengan sahabat-sahabatnya, terutama kekasihnya.
Pride yang merasa harga dirinya terinjak karena sindiran Gempa akhirnya mengunci diri di kamar membanting tubuhnya di atas kasur, "Dasar! Dia pikir aku ini pelayan, hah!?"
Di daerah pertokoan yang ramai, Greed tengah menikmati pemandangan benda-benda mewah nan mahal yang terpajang indah di etalase kaca toko. Sungguh rasanya ia ingin membeli semua yang dilihatnya. Otak sang pemuda berkacamata mulai bekerja, berpikir untuk membeli dari urutan toko yang mana.
"Aduh! Bingung! Semuanya keren-keren sekali! Hmm, baiklah! Aku mulai dari… eh?"
Seorang gadis berjaket biru tua dan bertopi miring mengalihkan perhatian Greed. Ia tahu jelas gadis yang membawa belanjaan dengan hoverboard itu adalah Taufan. Dan benar saja, gadis berambut pendek tersebut sedang belanja bahan makanan di supermarket seberang.
Greed terdiam. Ia akhirnya memutuskan untuk menyapa Taufan terlebih dahulu sebelum berbelanja. Meski gadis itu selalu melarang bahkan memarahi Greed berbelanja sesuka hati, namun Taufan memiliki mata yang jeli ketika berbelanja. Ia tahu mana yang berkualitas bagus dan mana yang tidak. Greed mengaguminya dari sisi tersebut, meski sisi Taufan yang lain cenderung membuat Greed kesal. Gadis itu selalu melarang apa yang Greed sukai, yaitu belanja barang-barang yang diinginkannya.
"Hmm, mungkin dia bisa membantuku memilih baju…"
Agak ragu sambil malas-malasan, pemuda tersebut akhirnya mendekati gadis yang sebenarnya diketahui Greed mungkin akan menolak ajakannya menemani belanja dan cenderung akan melarangnya dengan keras. Taufan yang kini sedang duduk di bangku dekat supermarket membelakangi jalan tak menyadari kunjungan Greed mendekatinya dari belakang.
"Hei, Tau-"
"Bagaimana ini…?"
Sapaan Greed terhenti begitu mendengar nada sedih dari suara gadis yang hendak ia panggil. Taufan yang memunggungi pemuda di belakangnya sama sekali tak menyadari keberadaan Greed yang sedang mengendap penasaran pada apa yang membuat gadis itu mengeluh.
Nampak beberapa lembar ringgit dan beberapa receh dua puluh sen di telapak tangan Taufan serta catatan belanja yang telah ia centang beberapa dari daftar, namun ada beberapa yang belum tercentang. Nampaknya ada beberapa barang yang belum dibelinya.
"Tak cukup lagi… Kalau begini lusa tak akan ada bahan makanan sama sekali…," rintihan kecil Taufan terdengar hingga telinga Greed. Pemuda yang masih berdiri terdiam di balik punggung gadis bertopi itu tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sama sekali tak ada lagi uang tabungan untuk membeli bahan masakan? Yang benar saja!"
Taufan berdiri setelah memasukkan uangnya kembali ke dalam dompet. Ditemani hoverboard yang melayang di samping dengan barang belanjaan yang dibawa di atasnya, Taufan berjalan gontai.
Greed merasa kikuk, tak berani memanggil gadis yang sedang dilanda kebingungan tersebut. Ia mulai menyadari kenapa gadis itu begitu perhatian pada hal-hal yang berhubungan dengan keuangan.
"Kenapa ia tak meminta uang dariku saja?" Gumam Greed pada dirinya sendiri. Namun ia teringat argumennya dengan Taufan beberapa hari lalu di dapur.
Pemuda tersebut tak enak hati untuk mengejar. Ia merasa tak punya muka untuk berbincang dengan gadis yang selalu menegurnya agar tak boros.
Benda-benda mahal di etalase toko tak lagi menarik perhatian Greed. Kini ia sibuk dengan segala pikiran di otaknya.
"Kalau dipikir-pikir… aku dan keempat Fang yang lain memang menumpang hidup di rumah Tok Aba… Para Boboiboy-lah yang mengurus kami semua…," Greed duduk di bangku tempat Taufan menghitung uangnya tadi. Sang pemuda termenung penuh kebimbangan.
Ia baru menyadari selama ini dirinya dan keempat pecahan yang lain menumpang tinggal tanpa memikirkan biaya listrik, air, makan, bahkan pakaian mereka dicuci oleh Air. Makanan mereka dimasak oleh Api. Membantu mencari sepeser uang pun mereka tidak memikirkannya.
Greed-lah yang selama ini memegang kartu yang biasa digunakan Fang untuk belanja karena memang dirinya adalah sifat dari Fang yang memiliki nafsu terbesar pada materi.
Terdiam agak lama, akhirnya Greed memutuskan untuk mengejar Taufan. Kakinya melangkah cepat, matanya berusaha menangkap sosok yang dicari. Ternyata gadis itu sedang mencari-cari bahan makanan yang lebih murah untuk menggantikan apa yang ada di daftar belanjanya.
"Taufan!"
Yang dipanggil menoleh, agak terkejut mendapati Greed tengah berlari menuju dirinya. Tentu saja sekarang Greed mengerti kenapa sikap Taufan padanya begitu ketus, bahkan tatapan dari mata yang berwarna biru tersebut kini sedang menatapnya dengan sinis.
"Ada apa? Kalau kau mau belanja pakaian pergi saja sendiri. Aku sibuk." Taufan kembali melihat-lihat sayuran yang ada di depannya.
"Ah, bu-bukan… Aku ingin…, ng… aku ingin membantumu belanja, boleh' kan?"
"Tak perlu. Hoverboard-ku masih muat beberapa tas belanja."
"Bukan begitu…! Ma-maksudku… biar aku yang membayar semua belanjaanmu ini, oke? Bukankah selama ini aku dan saudara-saudaraku tak membantu apa-apa… Mulai sekarang aku yang akan membayar semua keperluan kita…"
Greed tak menyangka ia justru mendapat tatapan penuh amarah. Selama ini belum pernah ia melihat Taufan memandang orang lain seperti demikian. Greed tahu jelas gadis tersebut memiliki sifat angin-anginan dan humoris jika bersama para saudarinya. Tapi kini ia bagai tak mengenal gadis yang biasa memasang senyum di wajahnya itu.
"Oh, kau mau menunjukkan kekayaanmu? Dengar, ya. Kami bisa mengurus diri kami sendiri! Aku tak butuh bantuanmu dan uangmu itu! Permisi!"
Greed kelabakan begitu Taufan membalik badan dengan kasar dan meninggalkannya.
"Bu-bukan itu maksudku! He-hei!" Greed mengejar kembali dan menarik lengan Taufan yang pada akhirnya ditepis kasar oleh yang bersangkutan.
"Apa sih maumu!? Kalau kau mau membelanjakan uangmu itu lakukan saja sendiri! Tak perlu menghina kami seperti ini!"
"Ti-tidak, aku- aku hanya ingin membantu! Sungguh!"
"Ooh? Membantu? Wow, tak kusangka akan mendengar kata-kata itu dari pangeran yang memiliki kekayaan yang bisa ia hamburkan seenaknya… Kau tak perlu membantu kami! Kalau kau ingin membantu, bantulah dengan tenagamu sendiri! Bukan dengan sesuatu yang kau dapatkan dengan mudah!"
Sebuah tamparan keras untuk Greed yang membuatnya tak bisa lagi menjawab kata-kata Taufan. Ia baru menyadari bahwa betapa mudahnya segala macam barang ia beli menggunakan kartu kredit tanpa memikirkan kalau para Boboiboy harus bekerja keras hingga keringat bercucuran mencari uang bahkan hanya satu sen mereka begitu menghematnya demi mengisi tenaga untuk mencari uang lagi.
Greed tak pernah memikirkan bahwa tak semua orang dengan mudahnya bisa mengeluarkan uang untuk bersenang-senang.
Kini ia menyadari Taufan begitu memperhatikan dirinya. Meminta agar tak terlalu boros menggunakan kartu kredit karena bagi gadis itu membelanjakan sesuatu dengan kredit berarti berhutang. Greed sama sekali tak berpikir sejauh demikian. Yang ada kini hanya penyesalan dalam hati. Ia menyesal tak mengindahkan nasehat dari gadis tersebut. Dirinya yang tak bisa mengendalikan nafsu untuk belanja dan melupakan hal-hal lain juga orang-orang di sekelilingnya.
Kartu kredit yang Fang dapatkan dari orang tuanya selalu ia belanjakan tanpa pandang harga barang yang dibelinya. Sementara Boboiboy begitu memperhatikan apa yang harus dibelanjakan dan mana yang tidak serta harga yang harus ia bayar.
Greed menghela napas begitu panjang. Ia mengerti kenapa Taufan merasa tersinggung dan marah padanya tadi, "Ini mungkin bukan saat yang tepat untuk menawarkan bantuan… Terlebih hatinya masih gundah dan sedih… Besok akan kucoba lagi."
Tanpa melanjutkan rencana awalnya untuk belanja tadi, Greed berjalan kembali ke rumah Tok Aba. Ia merasa ada yang harus dibicarakan dengan para saudaranya.
TBC…
Greed x Taufan mulai drama xD
Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri membaca ff saya, bahkan me-review dan memberi semangat ^^
Semoga kali ini saya bisa benar-benar update. Berhubung pekerjaan sedang agak longgar seminggu ini.
Mumpung baru kemarin, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Pahlawan, semuanya! ^^7
Selalu ada jiwa pahlawan dalam diri semua orang. Kita sebagai generasi muda harus dan berwajib meneruskan perjuangan para pejuang yang telah rela berkorban meneteskan darah mereka di atas tanah bumi pertiwi. Berjuang mempertahankan tanah air dari penjajah. Jangan sampai melupakan sejarah! Karena dengan sejarah kita belajar bagaimana meraih masa depan. Semoga jiwa para pahlawan yang telah tiada senantiasa menemukan kedamaian di sisi Tuhan YME. Aaamiiin!
Kita yang generasi muda ini dapat meneruskan perjuangan melalui impian dan cita-cita kita. Tak perlu angka dan nilai yang tinggi jika kita tak sanggup meraihnya. Ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan. Serius dalam menjalankan hobi dan mengharumkan nama bangsa itu lebih dari cukup. Menjaga nama baik bangsa dan menghormati orang yang lebih tua ^^ Seburuk-buruknya negeri kita, inilah tempat kita lahir dan berpijak.
Majulah wahai generasi muda yang penuh semangat! ^^7
Salam kenal bagi para pembaca baru, dan salam hangat bagi para pembaca setia ^^
