Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?

SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'

DISCLAIMER : TITE KUBO.

WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)

RATE : M (for safe)

ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.

.

.

.

Entahlah.

Ichigo tak tahu, sebenarnya ini baik atau tidak. tapi melihat isterinya dibawa paksa begitu sebenarnya membuatnya serba salah juga. Hanya saja, jika dibiarkan terlalu lama, dia akan terus membuat Rukia menangis karena keegoisannya. Lebih baik seperti ini. Biarkan saja seperti ini. toh pada akhirnya, mereka akan tetap terpisah apapun yang terjadi nanti.

Begitu masuk ke apartemennya, Ichigo melihat meja makannya tampak rapi dan ditutupi oleh tudung saji.

Begitu Ichigo membukanya, ternyata ada sederet makanan yang tersaji di sana. Sepertinya Rukia bermaksud menyediakan makan malam setelah dia pulang. Tapi apa yang dia lakukan?

Ichigo ingin tak menyentuh makanan itu. Tapi mengingat wajah isterinya yang berseri-seri setiap kali memasakkan makanan untuknya, Ichigo jadi tidak tega.

Akhirnya, mau tak mau, Ichigo duduk dan mulai mencicipi semua makanan itu.

Yah. Rukia memang tak pernah berbohong. Dia selalu hebat dalam memasak. Ichigo menyukai masakan gadis itu.

"Ternyata kau memang pintar masak," gumam Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

Ternyata... ini sudah hari kedua apartemen Ichigo tanpa Rukia.

Semuanya terasa sepi. Tidak ada lagi suara gaduh di pagi hari. Sarapan di pagi hari. Dan celoteh gadis cantik itu di pagi hari. Kadang Ichigo sering merasakan halusinasi ketika mendengar suara berisik di pagi hari. Tapi akhirnya dia ingat kalau Rukia tak ada lagi di sini. Semuanya seolah tak pernah terjadi, dan dia kembali menjadi Ichigo sebelum mengenal Rukia. Hampa dan kosong.

Byakuya tak pernah menyinggung apapun di kantor. Bahkan tak memberi tahu Ichigo bagaimana kabar Rukia setelah dibawa paksa itu. Semuanya... seperti semula.

Tapi kadang, ketika membuka kloset pribadinya, masih ada pernak pernik Rukia di sana. Sebenarnya Ichigo ingin mengantarkannya ke rumah Kuchiki. Tapi sayang, dia tak pernah ada waktu. Dan setiap kali melihat barang milik Rukia, entah kenapa dia merasa rindu dan... kehilangan.

Apakah Ichigo masih begitu bodoh?

Kenapa dia merasa kehilangan?

.

.

*KIN*

.

.

"Nona Rukia... masih tidak mau makan," lapor pelayan pribadi Rukia, Nanao.

Byakuya masih diam tanpa ekspresi. Sejak sampai di rumah ini, Rukia terus meminta pulang ke apartemen Ichigo. Tapi Byakuya tak pernah menggubrisnya. Byakuya bahkan melarang seluruh orang di rumah ini membiarkan Kuchiki bungsu ini untuk keluar dari rumah walau selangkah.

Sejak dikatakan begitu, Rukia jadi mengurung diri dan tidak mau melakukan apapun. Dia hanya duduk diam di atas kasurnya dan menolak apapun yang diberikan pelayannya.

"Apa dia masih sama seperti kemarin?" tanya Byakuya.

"Ya, Tuan. Masih sama. Dia menolak makanannya. Saya khawatir... Nona Rukia bisa sakit," cemas Nanao.

"Sebentar lagi dia akan menyerah. Terus bujuk untuk makan saja," Byakuya segera berdiri untuk langsung ke kantor.

"Tapi Tuan, Anda juga harus makan. Anda juga... tidak makan selama dua hari ini," ujar Nanao.

"Kalau adikku saja tidak mau makan, kenapa aku harus makan?"

Nanao kini menatap serba salah pada Kuchiki bersaudara ini.

Sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.

Byakuya tahu adiknya keras kepala, karena itu dia jauh lebih keras kepala. Rukia masih belum tahu kakaknya sama seperti dirinya. Menolak makan. Karena Rukia menolak bicara pada siapapun. Dia hanya ingin pulang ke tempat Ichigo dan bertemu suaminya.

Dan yang membuatnya sedih, Ichigo tak menghubungi setelah dia dibawa paksa oleh kakaknya. Sebenarnya Rukia jadi bimbang saat ini. Sepertinya... Ichigo serius tidak ingin kembali lagi padanya. Sepertinya memang sejak awal, tidak ada setitik cinta untuk Rukia. Tidak ada.

Bayangan Yukia begitu kuat dalam benak Ichigo. Rukia tak sanggup menyingkirkan bayangan itu.

.

.

*KIN*

.

.

"Masuk."

Ichigo masuk ke ruangan Presdir ini. Dia sudah diberikan surat tugas untuk pindah ke divisi lain. Sekarang, pangkatnya sama seperti Renji. Ichigo tak terlalu peduli hal itu. Dia hanya ingin menjauh dari Senna. Itu saja. Lagipula, pekerjaan dengan jabatan terlalu tinggi cukup membuatnya pusing. Begitu banyak tekanan, ditambah lagi dengan masalah pribadinya, pasti membuat kepalanya pecah. Ide bagus untuk dipindahkan ke tempat lain.

"Aku sudah menyelesaikan tugas terakhirku sebagai GM. Apa besok aku sudah bisa dipindahkan ke divisi itu?"

"Ya. Kau bisa pindah besok. Mungkin, Senna yang akan menggantikanmu sebagai GM," jelas Byakuya sambil tetap fokus pada dokumen yang dibacanya.

Ichigo diam mendengarkan. Walaupun begitu, setidaknya dia bisa lepas. Walau akhirnya tetap tidak bisa lepas sepenuhnya.

"Kalau tidak ada yang mau kau katakan lagi, kau bisa tinggalkan ruanganku. Ada rapat 10 menit lagi," kata Byakuya dingin.

Dia memang tidak pernah mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Buktinya selama Rukia kembali ke Kuchiki, Byakuya tak sekalipun menyinggung masalah mereka di kantor. Sebenarnya Ichigo juga merasa bersalah pada Rukia. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

Ichigo menunduk hormat kemudian berbalik menuju pintu ruangan.

"Halo? Apa? Rukia pergi? Kenapa dia bisa kabur! Cari sampai dapat! Dia bisa pingsan kapan saja kalau pergi dengan kondisi begitu!" bentak Byakuya kesal.

Ichigo terdiam mendengar hal itu. Rukia kabur? Kondisi yang bagaimana yang bisa menyebabkannya pingsan?

"Byakuya... apa maksudmu... Rukia kabur? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Ichigo panik.

Byakuya berdiri dari kursinya dan segera mengambil jas. Kemudian menelpon bawahannya untuk menunda rapat. Setelah semua itu, Byakuya memandang sinis dan dingin pada Ichigo.

"Itu bukan urusanmu Kurosaki. Adikku, tidak ada hubungannya denganmu!"

Setelah mengatakan hal itu, Byakuya segera keluar.

Kabur? Kabur kemana maksudnya?

Apa... Rukia diam-diam kembali ke apartemennya lagi?

Dengan perasaan tidak menentu, Ichigo segera keluar dari kantornya dan melesat menuju apartemennya. Saking paniknya, Ichigo tak bisa berpikir jernih.

Tapi sayangnya, begitu sampai di apartemennya, tak ada sosok mungil itu. Apartemennya masih berantakan seperti biasa. Karena tidak ada seorang pun yang membersihkannya lagi.

Tempat mana yang mungkin dikunjungi oleh gadis itu?

.

.

*KIN*

.

.

"Ahh syukurlah kau sudah bangun. Kupikir kau kenapa Rukia..." desah Yumichika lega setelah gadis di pangkuannya ini bangun.

Sebenarnya Yumichika sedang sibuk-sibuknya siang ini. Tapi kemudian, ada pegawainya yang melihat Rukia pingsan di tangga. Karena terlalu panik, Yumichika menyuruh anak buahnya menggendong Rukia masuk ke ruangannya untuk istirahat. Wajah gadis itu begitu buruk. Mata sembab dan bengkak juga pucat. Rukia baru terbaring di sofanya selama 10 menit. Nyaris saja Yumichika memanggil ambulans.

"Kau bisa bangun?" kata Yumichika lembut

Rukia mengangguk pelan kemudian bangun dan mendudukkan tubuhnya sendiri di sofa itu. Tak lama kemudian, Rukia memeluk Yumichika dan menangis kencang.

"Hei... kau kenapa sayang?"

"Ichi... Ichigo... Ichigo..." gumamnya sambil sesegukkan.

"Hah? Kenapa? Apa pria itu melakukan sesuatu padamu lagi?"

Rukia mengendalikan tangisnya dan menunduk sambil menceritakan bagaimana dia bisa berakhir di rumah kakaknya. Kalau kakaknya sudah tahu tentang pernikahan mereka. Dan kakaknya yang sangat marah itu. Juga menceritakan di bagian Rukia tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya, dilarang bertemu Ichigo, Rukia yang belum makan apapun dari kemarin karena kesal pada kakaknya, dan bagaimana Rukia bisa kabur dari sini.

"Astaga... kau gila Rukia! Aku baru tahu soal pernikahanmu ini! Wajar saja kalau Byakuya marah padamu! Apa yang kalian lakukan itu salah. Pasti kakakmu panik kau kabur begitu. Kuantar kau pulang."

"Aku ingin... pulang ke apartemen Ichigo..."

"Tidak! Aku pun tidak akan membiarkanmu pulang ke sana. Kakakmu sudah memilihkan jalan yang bagus. Ya, lebih baik kalian berpisah. Untuk apa kau menangis sepanjang waktu demi pria yang tidak mencintaimu? Kau pikir itu baik? Lupakan Ichigo sekarang, ayo kita pulang ke rumah kakakmu!"

"Yumichika... tolong... bantu aku..."

"Dari awal aku sudah bilang padamu kan? Kalau pria itu terus menyakitimu, kau pergi saja! Ichigo bahkan tidak peduli kau yang seperti ini! Jadi kenapa kau mau peduli padanya?"

Yumichika mendesah pelan. Rukia berhenti menangis dan menundukkan kepalanya dalam. Wajahnya sudah amburadul tidak karuan begitu. Tapi masih mengharapkan pria brengsek begitu? Tega benar kepala labu itu!

"Satu kali lagi Rukia. Kalau dia tetap tidak menahanmu, kau pergi saja. Tidak ada gunanya. Percayalah padaku."

Rukia mengangkat wajahnya memandang penuh harap pada Yumichika. Apakah... dia benar-benar harus melepaskan suaminya?

Yah. Berkali-kali Ichigo tak pernah menahannya walau sedetik. Tak pernah menggenggamnya walau sedetik. Tak pernah benar-benar ingin Rukia. Baginya, Rukia hanyalah refleksi masa lalu kekasihnya yang tidak akan kembali. Mungkin selama ini, jika Ichigo ada berbuat baik pada Rukia, mungkin karena bayangan kekasihnya. Mungkin karena Yukia-lah, Ichigo mau baik pada Rukia. Dan Rukia jamin, seandainya Rukia tidak mengingatkan Ichigo pada bayangan Yukia, mungkin saja, Ichigo tak pernah setuju usul konyol ini. Mungkin pernikahan ini tidak pernah terjadi sama sekali.

Sejak awal, pernikahan ini sudah salah. Salah sejak awal. Rukia baru menyadari itu.

"Bos, ada yang mencari Anda," kata seorang pegawai Yumichika dari balik pintu ruangannya.

"Siapa?" pekik Yumichika. Dia terlalu malas untuk keluar sekarang. Apalagi setelah melihat sahabatnya begini menderita. Yumichika juga jadi tidak mood meladeni pelanggan yang ingin mencarinya kalau sudah melihat kondisi Rukia begini.

"Rukia... kalau Kakakmu yang datang, kau harus pulang, mengerti?" ujar Yumichika lembut pada Rukia yang masih menundukkan kepalanya. Gadis mungil ini tidak menjawab pertanyaan Yumichika.

"Seorang pria berambut orange bos! Namanya Kurosaki Ichigo! Dia ingin bertemu Anda sekarang," lanjut pegawainya itu tak lama kemudian.

Rukia langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar cerah mendapati suaminya yang muncul di kantor Yumichika. Bagaimana bisa Ichigo ada di sini? Ingin sekali Rukia menjerit senang, berlari memeluk suaminya dan mengatakan kalau dia rindu Ichigo.

"Tidak Rukia," sela Yumichika saat melihat binar cerah di mata cantik Rukia. Sungguh, mendengar kedatangan pria itu saja, bisa merubah seluruh dunia Rukia.

"Yumi―"

"Ini kesempatan terakhirmu. Kalau dia tetap tidak bisa menahanmu, berpisah sekarang. Titik! Masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik dari pria brengsek seperti Ichigo! Ichigo terlalu baik untuk mendapatkan hatimu. Kalau kau mau mendengarkanku, aku akan membiarkan kalian bertemu. Tapi kalau tidak, aku akan memaksamu pulang sekarang!"

Rukia bimbang sesaat.

Yah. Rukia juga ingin tahu apa perasaan Ichigo padanya. Benarkah dia benar-benar tidak ingin menahan Rukia lagi? Benarkah Ichigo tidak bisa mencintainya setitik pun? Benarkah semua usahanya selama ini sia-sia belaka?

Akhirnya, Rukia memilih jawaban yang seharusnya dia cari selama ini.

.

.

*KIN*

.

.

"Rukia?" tebak Yumichika setelah melihat Ichigo berdiri dengan gelisah di studio miliknya.

Ichigo langsung tertegun melihat sosok Yumichika yang tiba-tiba datang dan menebak tujuannya datang kemari. Entah kenapa mendengar Rukia kabur, Ichigo jadi panik dan gelisah. Dia hanya takut terjadi sesuatu dengan gadis itu. Apalagi Byakuya sempat menyinggung soal pingsan. Seberapa parah kondisi gadis itu sebenarnya.

"Kau tahu dimana dia? Dia―"

"Dia kabur dari rumah Kakaknya. Aku tahu. Dia ada di sini," potong Yumichika. Wajahnya datar sambil bersedekap dada. Yumichika masih memiliki perasaan sebagai pria. Jadi dia tahu sebrengsek apa pria di hadapannya ini.

"Oh, begitu. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Kalau dia bersamamu, pasti dia baik-baik saja. Tolong antarkan dia―"

"Rukia ingin bicara denganmu. Dia menunggu di ruangan pribadiku. Setelah kalian bicara, baru aku akan memutuskan akan mengantarnya kemana."

Ichigo tertegun mendengar kata kemana itu.

Yumichika segera menyuruh salah satu pegawainya membawa Ichigo ke ruangan pribadinya. Ichigo sedikit bimbang. Apa yang ingin dibicarakan Rukia dengannya? Kenapa baru sekarang Rukia ingin mengatakannya? Kenapa tidak...

Begitu pintu ruangan Yumichika dibuka oleh pegawainya itu, Ichigo masuk ke dalam dan mendapati gadis mungil itu berdiri di jendela kaca ruangan kecil ini sambil membelakanginya. Tubuhnya sekarang benar-benar tidak bisa diharapkan. Sangat jauh berbeda dari pertama kali Ichigo bertemu dengan gadis ini. Ichigo jadi membenci dirinya sendiri karena sudah mengubah gadis ini jadi pribadi yang lain karena dirinya.

"Kau datang?"

Rukia berbalik menatap Ichigo setelah mendengar bunyi pintu ditutup. Wajah gadis itu pucat dan sembab. Tapi dia masih memaksakan diri untuk tersenyum pada Ichigo. Gadis itu tidak berlari memeluknya seperti di rumah sakit waktu itu. Dia hanya menatap Ichigo dengan jarak satu meter.

"Kau mencariku?" lanjut Rukia lagi, menyadari pria orange ini tidak kunjung menjawab pertanyaannya yang tadi.

"Rukia... kau... kenapa kau pergi begini? Byakuya panik padamu dan―"

"Apa kau panik juga?" tanya Rukia pelan.

Ichigo masih diam tak menjawab. Jangankan jawaban, isyarat apapun sama sekali tidak ditujukan Ichigo. Anggukan atau gelengan, tidak ada hal itu.

"Kurasa tidak ya," Rukia menggigit bibir bawahnya dan menunduk sedih.

"Rukia, maksudku―"

"Kau mencintaiku tidak?" tanya Rukia pasrah. Dia hanya ingin jawaban yang jujur.

"Rukia aku―"

"Aku hanya minta kau jawab tidak atau iya. Aku tidak minta alasanmu," sergah Rukia. Dia tidak ingin mendengar kata maaf meluncur lagi dari mulut pria itu.

"Aku... belum bisa mencintaimu," lirih Ichigo.

"Apa aku boleh menganggap itu jawaban tidak?"

Ichigo tertegun dan membelalakan matanya selebar mungkin. Jawaban... tidak?

"Rukia―"

"Jadi, kau juga tidak ingin menahanku? Ahh... konyol. Sejak awal kau memang tidak ingin menahanku. Tidak punya alasan menahanku bukan? Jadi... Cuma aku selama ini yang berusaha, tapi kau tidak. Padahal aku sudah katakan sejak awal, kau juga harus berusaha. Aku tidak membebankanmu apapun bukan? Selain hanya berusaha mencintaiku? Apa sesulit itu Ichigo? Berusaha mencintaiku? Aku tidak memintamu melepas bayangan Yukia. Hanya memintamu mencintaiku juga. Bukan hanya mencintai Yukia seorang," jelas Rukia. Entah kenapa kali ini airmatanya tidak mau turun.

"Rukia, aku tidak bisa mencintai dua orang sekaligus dan aku―"

"Yukia sudah tidak ada Ichigo! Sampai kapan kau mau bertingkah bodoh begini? Sebagai orang yang hidup, kita boleh mencintai seseorang yang sudah meninggal semau kita. Tapi tidak untuk menutup hati kita untuk orang lain. Apa kau berencana untuk tetap sendirian hingga kau meninggal nanti?"

Ichigo tetap diam. Dia terlalu takut akan mengecewakan orang lain karena hatinya masih terpaut oleh Yukia seorang. Walaupun kenyataan itu tidak bisa dipungkiri. Yukia sudah meninggal.

Rukia menghela nafas panjang. Kesan putus asa.

"Mungkin sejak awal aku memang tidak pernah ada di hatimu. Apa sesulit itu melupakan masa lalumu?"

Ichigo memalingkan wajahnya. Dia tidak tahu. Ingin dia menjerit sekarang dengan keadaan yang terus menekannya begini. Dia ingin mengungkapkan isi hatinya. Tapi dia terlalu pengecut dan takut mengkhianati siapapun. Sedangkan dia tidak ingin mengkhianati siapapun. Dia hanya takut... kehilangan lagi.

"Terima kasih Ichigo. Sudah memberikanku kesempatan untuk tahu rasanya menikah. Terima kasih kau sudah bersabar padaku selama ini. Terima kasih kau bersedia menerimaku sebagai isterimu. Terima kasih," ucap Rukia kemudian.

"Apa... maksudmu?"

"Aku sudah bilang kan? Kalau... aku tidak berhasil meyakinkanmu, aku akan pergi dari hidupmu dan... berpisah darimu. Mungkin pengajuan cerai akan lama. Setelah pengajuan cerai diproses, aku baru akan kembali kemari untuk menyelesaikan prosedurnya. Selama itu... aku akan pergi dari Jepang untuk sementara waktu. Setelah sakit hatiku membaik, aku baru akan menemuimu lagi untuk mengurus perceraian kita."

"Ce... rai?"

Mungkin awalnya Ichigo hanya mengira berpisah saja. Tapi... cerai?

"Rukia. Aku antarkan kau pulang," sela Yumichika.

Ichigo berbalik melihat Yumichika sudah berdiri di depan pintu menunggu Rukia bergerak. Ichigo mendadak bingung, kenapa Yumichika sudah ada di ruangannya ini.

"Maaf Ichigo. Aku menguping kalian tadi. Karena aku sudah katakan pada Rukia, ini kesempatan terakhirnya. Jadi... kau harus menerima keputusan Rukia yang sekarang. Dan aku jamin, Rukia tidak akan mengubah keputusannya," jelas Yumichika.

Ichigo masih tidak mengerti apa yang dikatakan Yumichika. Tapi dia sudah melihat pria nyentrik itu sudah menarik tangan Rukia pergi dari ruangannya. Saat terakhir tadi, Rukia masih melirik ke arah Ichigo penuh harap. Hingga pintu itu benar-benar tertutup.

Kesempatan terakhir Rukia?

.

.

*KIN*

.

.

"Mana Ichigo?" tanya Senna ketus setelah tidak menemukan GM tampan itu di ruangannya dan malah menemukan kepala merah itu tengah menyusun sesuatu di atas meja GM.

Setelah pulih dari aksi nekatnya, Senna langsung bekerja lagi. Dia tidak memberitahu Byakuya soal dirinya yang melakukan aksi nekat itu. Dia hanya tidak ingin kakaknya jadi bertambah membenci Ichigo jika Byakuya tahu pria orange itulah yang menjadi alasan Senna bertindak nekat.

"Kau ini gigih sekali ya? Dia tidak ada. Entah pergi kemana," kata Renji cuek setelah melihat GM itu pergi buru-buru setelah keluar dari ruangan Presdir. Dan dia terjebak di sini karena Ichigo salah menyusun data yang mestinya dipresentasikan besok. Orang itu dua hari ini sudah jadi orang mabuk. Memangnya apa yang Rukia lakukan? Ichigo juga tak biasanya tidak bercerita padanya.

"Masa kau tidak tahu! Kau kan temannya! Kau pasti tahu dimana dia?"

Kuping Renji mendadak gatal. Suara gadis ini selain keras, judes dan ketus juga menyebalkan.

"Heh Nona Kuchiki! Aku bilang aku tidak tahu ya tidak tahu, kenapa aku harus membuntutinya sepanjang waktu hah? Lagipula... walaupun dia ada, aku pasti jamin Ichigo tidak ingin melihatmu," jelas Renji.

"Apa katamu?"

"Selain urusan pekerjaan, Ichigo tidak mau bertemu denganmu? Ahh ya. Ichigo besok sudah pindah ke divisi lain. Jadi jabatan GM untuk besok sudah kosong. Makanya dia sudah menyelesaikan semuanya sejak kemarin."

"Dia... apa? Kau pasti bercanda!"

"Memangnya apa untungnya kalau aku bercanda?"

"Memangnya Ichigo boleh pindah begitu saja? Aku harus bicara pada Nii-san agar―"

"Hei... kau pikir kenapa Ichigo pindah hah?"

Senna tertegun diam sambil mengerutkan keningnya memandang pria berambut merah ini.

"Kenapa? Kau jangan sok tahu ya?"

"Karena kau. Apalagi? Kau itu... jadi wanita punya harga diri kenapa? Ichigo bahkan sampai pindah divisi karena tidak mau bertemu kau. Memangnya bagus, seorang wanita mengejar-ngejar pria yang tidak mau dengannya? Itu terlihat menyedihkan."

"Apa? Kau ini! Kau berani sekali―"

"Akui saja. Ichigo memang tidak menyukaimu lagi. Kuberitahu ya, beban labu itu sudah sangat menumpuk, jangan ditumpuk lagi. Bukankah kau ini punya banyak kelebihan? Pria mana saja bisa jatuh dalam pelukanmu dengan mudah. Kenapa kau harus susah payah mendapatkan pria yang bahkan melirikmu saja tidak mau? Jangan jatuhkan harga dirimu untuk pria seperti Ichigo. Kau pasti akan menyesal."

Setelah mengatakan hal itu, Renji tersenyum jahil lalu membawa dokumen yang selesai dia susun dan pergi dari ruangan itu. Pasti wanita Kuchiki itu kesal sekali pada kata-katanya hari ini.

"DASAR BRENGSEK!" pekik Senna kesal.

Tapi kenapa, Senna menyetujui apa yang dikatakan oleh pria berambut merah itu?

Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering heboh.

"Halo? Nii-san? Nii-san pingsan di rumah?"

.

.

*KIN*

.

.

Rukia sudah rela apapun yang terjadi. Dia hanya ingin melepaskan beban Ichigo saja. Mungkin benar kata Yumichika. Pria itu... tidak pernah mengharapkannya. Rukia hanya beban untuknya. Sebaiknya... Rukia pergi saja. Toh, setelah mengatakan hal itu, Ichigo juga tak menahannya atau mengejarnya. Sudah cukup membuktikan kalau Rukia tidak pernah di hati pria itu.

"Nona Rukia? Anda sudah pulang? Astaga! Tuan Byakuya panik sekali saat tahu Anda pergi diam-diam!" ujar Kira cemas setelah menyambut Rukia di gerbang depan.

Yumichika sudah menurunkan Rukia di rumahnya dan memastikan gadis itu masuk ke dalam rumahnya setelah ditemani oleh seorang pelayan kikuknya yang berambut pirang itu.

Rukia berjalan lesu masuk ke dalam rumahnya. Dan sedikit kaget karena kakaknya berdiri di ruang tamu sambil memandangi ponselnya.

"Nii-sama?" panggil Rukia lemah dan menunduk dalam. Dia takut Byakuya akan marah padanya.

"Kau sudah pulang?" kata Byakuya dingin. Tapi terkesan peduli.

"Maafkan aku pergi tanpa memberitahumu. Aku hanya... hanya ingin... pergi sebentar saja. Maaf kalau Nii-sama―"

"Syukurlah kau tidak apa-apa. Masuklah ke kamarmu."

Rukia menganggukkan kepalanya pelan lalu masuk ke dalam kamarnya.

Tubuhnya berat sekali. Rasanya dia ingin segera terkapar di atas kasurnya. Apalagi dia sudah tidak makan selama dua hari. Pasti sekarang tubuhnya benar-benar lemah. Tapi, jangankan nafsu makan, semuanya terasa tidak enak untuk Rukia. Rukia tak pernah patah hati. Selama ini, dia tak pernah benar-benar mencintai seorang pria begini gila. Biasanya, dia hanya membiarkan pria-pria yang mengejarnya sampai membuat semua pria itu patah hati. Tidak di Jepang, apalagi di Paris dulu. Semuanya sama. Semua Rukia tolak tanpa alasan yang jelas. Tapi kini... Rukia baru tahu begini rasanya ditolak. Begini rasanya patah hati. Sampai rasanya ingin mati. Ternyata... perasaan konyol yang dulu setengah mati ditertawakan oleh Rukia, malah dialaminya sekarang.

Rukia kembali menerawang. Selama bersama Ichigo, rasanya Rukia kehilangan dirinya yang dulu. Mungkin karena Ichigo yang tak pernah memberinya kesempatan menjadi Rukia yang sebenarnya. Selama ini Ichigo hanya melihat bayangan kekasihnya saja. Itu pasti. Selalu menangis. Rukia berubah jadi pribadi yang cengeng. Bukan dirinya yang selalu ceria, optimis dan selalu gembira. Hanya karena seorang Kurosaki Ichigo. Betapa hebat pria itu mampu mengubah dirinya jadi menyedihkan seperti ini. Dan pria itu, tak pernah membalasnya sama sekali. Bahkan Ichigo tak tahu itu...

BRAAK!

Rukia terlonjak kaget ketika mendengar pintu kamarnya dibuka paksa.

Saudara angkatnya yang berambut ungu itu masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lebar. Wajahnya sangat marah dan emosi. Rukia diam di atas kasurnya, tak tahu harus berbuat apa. Kenapa saudara angkatnya jadi begitu marah dan―

PLAAK!

Rukia terdiam saat rasa panas menjalar ke sebagian wajahnya. Mungkin di pipi putihnya sudah tercap jari-jari panjang saudara angkatnya yang cantik itu.

Pelan-pelan, Rukia mengangkat wajahnya dan melirik ragu ke arah wanita berambut ungu yang berdiri di depannya dengan nafas tersengal karena emosi.

"Sen... na...?"

"Kau ini apa-apaan hah? Kalau kau berencana ingin menyiksa diri, siksa saja dirimu! Jangan membawa Nii-san ikut serta! Karena kau, Nii-san sampai pingsan karena tidak makan dua hari! Kau tahu tidak kalau di kantor itu pekerjaan Nii-san begitu banyak sampai dia lembur bermalam-malam? Dan karena kau pula, Nii-san jadi tidak makan saat kondisinya begitu!" pekik Senna kesal. Setelah memuntahkan semua amarahnya, Senna ingin menampar wajah gadis itu sekali lagi. Tapi langsung dihentikannya sendiri. Dia mengendalikan emosinya untuk tidak bertindak lebih jauh.

Senna tak mengerti apa yang terjadi di sini. Tapi setelah mendengar cerita dari pelayan lain soal Byakuya yang tidak makan karena Rukia tidak makan itu yang membuat Senna naik darah. Walaupun kelakuan Senna sangat buruk, tapi dia tidak pernah ingin membuat kakaknya begitu menderita. Dan yang dilakukan gadis manja ini sudah keterlaluan!

"Aku tidak tahu ada masalah apa sampai kau ada di sini, tapi kalau kau peduli pada Nii-san, cepat bujuk dia makan! Lakukan segala cara agar dia berhenti bertingkah konyol karenamu! Kau benar-benar adik yang tidak tahu diri!"

Rukia terdiam. Matanya basah. Dia tidak tahu kalau kakaknya tidak makan selama dia tidak makan itu.

Setelah Senna pergi dari kamarnya, Rukia langsung berlari turun ke bawah menemui kakaknya. Tampak seorang dokter keluarga Kuchiki baru keluar dari kamar Byakuya dan berdiskusi dengan kepala pelayan. Begitu melihat Rukia, mereka langsung menunduk sopan, tapi Rukia langsung masuk ke kamar Byakuya.

Di sana, Byakuya masih berbaring ditemani beberapa pelayan. Wajah Byakuya tampak pucat. Rukia jadi menangis karena melihat kakaknya begini.

"Rukia?"

Byakuya mencoba duduk di kasurnya dan Rukia langsung berhambur memeluk kakaknya dengan erat di sana. Byakuya bingung mendapati sikap adiknya yang aneh ini. setahunya Rukia tak tahu Byakuya ada di sini. Dia masih di kamar.

"Rukia? Ada apa?" tanya Byakuya sambil mengusap kepala adiknya itu.

"Ke-kenapa... Nii-sama tidak makan? Karena a-aku... Nii-sama jadi... sakit..." lirih Rukia sambil memeluk erat leher kakaknya itu.

"Senna yang memberitahumu?"

Rukia melepas pelukan kakaknya dan menatap sedih pada Byakuya.

"Nii-sama... ayo makan. Nanti Nii-sama tambah sakit..." pinta Rukia.

"Kau juga harus makan. Kau pasti lebih sakit daripada aku. Kalau kau makan, aku baru mau makan."

Rukia mengangguk cepat tanpa memikirkan kata-kata kakaknya lagi.

Tak lama dari situ, para pelayan sibuk membawa makanan untuk dua Kuchiki ini. Rukia sudah berhenti menangis. Dia tidak ingin menangis lagi. Mungkin dia menangis tadi karena Senna sempat memarahi dan menamparnya. Tapi kini, dia tidak ingin menangis lagi.

"Wajahmu kenapa Rukia?"

Byakuya menyentuh pipi merah adiknya yang hanya sebagian itu. Rukia menyingkirkan tangan Byakuya pelan dan menutupi bekas merah itu.

"Ahh... tadi ada nyamuk. Aku terlalu kuat menepuk pipiku sendiri. Tidak apa-apa Nii-sama. Ayo makan..."

Rukia lega kakaknya akhirnya mau makan bersamanya. Byakuya pasti sangat menyayangi dirinya. Satu persatu makanan yang dibawakan pelayan tadi sudah habis dimakan dua Kuchiki ini. sebagian besar Rukia yang habiskan. Tapi Byakuya senang akhirnya adik kesayangannya ini kembali seperti semula.

Mungkinkah yang menyebabkan Rukia berubah ada hubungannya dengan kepergiannya tadi? Dan kalau memang Rukia berhasil kabur tadi... kenapa Rukia kembali lagi?

Ada apa yang terjadi?

.

.

*KIN*

.

.

"Ke-ketahuan? Hei! Kenapa kau baru bilang hah? Dasar bodoh!" rutuk Renji setelah mendapati teman orange-nya ini datang ke apartemennya setelah bertemu dengan Rukia.

Juga menceritanya semua masalah yang terjadi selama ini. Sebenarnya Ichigo tak ingin cerita, tapi dia butuh seseorang yang mendengarkan keluhannya saat ini. Selain Renji, Ichigo tak tahu harus meminta tolong siapa. Dan karena itu Renji jadi menggerutu panjang lebar pada Ichigo karena kebodohannya.

"Pasti Byakuya marah besar padamu? Rukia kabur pasti ingin kau membawanya pulang. Tapi apa yang kau lakukan? Kau biarkan dia pergi? Kau ini kenapa sangat bodoh Kurosaki-sama?"

"Karena aku... tidak tahu harus bagaimana..."

"Harus bagaimana apa? Masa selama ini kau tidak punya sedikitpun perasaan padanya hah? Sedikit saja... masa tidak ada?" tanya Renji frustasi.

Ichigo terdiam sejenak. Dia menerawang.

Benar. Setelah Rukia tidak ada, entah kenapa apartemennya terasa kosong dan janggal. Karena kehilangan sesuatu yang biasanya ada tapi jadi tidak ada. Dan itulah yang membuat Ichigo merasa aneh setelah Rukia pergi.

"Aku... merasa kosong."

"Apalagi?" kejar Renji.

"Ada yang aneh. Begitu Rukia bilang cerai, rasanya... ada yang aneh. Entah kenapa aku... tidak mau. Aku yakin aku belum mencintainya, tapi entah kenapa aku... takut kehilangan dia..."

Renji menjentikkan jari seperti pemain sulap amatir.

"Itu artinya kau sudah memiliki perasaan padanya. Kau tidak mau kehilangannya, itu artinya kau sedang mencoba mencintainya! Hei... kadang perasaan cinta itu terlambat disadari, tapi tanpa sadar, kau sudah merasakannya. Tunggu apalagi? Bawa pulang isterimu sekarang dan perbaiki hubungan kalian!"

"Tapi... apa itu tidak aneh? Kalau aku lakukan itu... mungkin Rukia akan membenciku dan menganggapku sebagai pria yang tidak tahu―"

"Kau tahu tidak kenapa Rukia begitu? Karena dia masih menunggumu. Kalau dia benar-benar ingin pergi darimu, seharusnya selama dia pergi, sudah ada surat gugatan cerai darinya bukan? Dia juga bilang tidak akan langsung menceraikanmu. Apalagi kalau bukan karena dia ingin menunggumu?"

Ichigo terdiam.

"Ayo jemputlah isterimu. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama. Tindakanmu ini tidak mengkhianati siapapun Ichigo. Kurasa... Yukia pasti berharap yang sama. Kejarlah kebahagiaanmu sendiri. Kau pantas bahagia. Jangan terlalu memaksakan diri. Jangan menyesal untuk kedua kalinya."

"Kau yakin... ini tidak akan apa-apa?"

"Tidak. Percayalah. Kalau kau benar tahu sifat Yukia, pasti kau tahu... Yukia tidak akan marah padamu. Malah dia pasti akan mendukungmu. Ini saatnya kau keluar dari masalahmu. Jemput Rukia sekarang."

Ichigo tersenyum lemah.

Yah. Yukia pasti mengerti pilihannya. Yukia menginginkan dia bahagia. Yukia tahu pilihan Ichigo. Yukia... bukan gadis yang egois.

"Terima kasih. Kau memang sahabatku."

"Itulah gunanya teman bodoh!"

.

.

*KIN*

.

.

Setelah memastikan kondisi kakaknya kembali baik, Rukia kembali ke kamarnya. Duduk meringkuk di atas kasurnya. Sambil memeluk lututnya dan menyandarkan kepalanya di sela lututnya, Rukia masih berharap Ichigo datang menjemputnya. Walaupun... apa yang dikatakannya di butik Yumichika tadi... sedikit benar.

Dia belum rela berpisah dari Ichigo.

Sebenarnya, Rukia ingin mendengar keputusan Ichigo. Dengan mulut Ichigo sendiri, apakah Ichigo mau berpisah darinya. Belum sempat mendengar kata-kata itu, Yumichika sudah membawanya pulang. Dan Ichigo tidak kunjung menahannya juga.

Rukia terkesiap saat mendengar suara gaduh dari luar jendela kamarnya. Jendela itu menghadap langsung halaman depan rumahnya. Dan jendela ini juga media untuknya melarikan diri tadi.

Begitu mengintip dari kaca jendela kamarnya itu, mata ungu kelabunya membelalak lebar. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di luar sana.

Ichigo datang ke mansionnya dan tengah dihadang oleh tiga bodyguard kakaknya untuk masuk ke dalam. Rukia tak percaya suaminya datang sekarang. tapi... untuk apa?

Karena penasaran, Rukia langsung keluar dari kamarnya diikuti oleh teriakan dari pelayannya. Rukia tak peduli dan langsung berlari turun ke bawah. Sepertinya kakaknya belum tahu soal keributan ini. itu lebih baik.

Tak sabar, Rukia membuka lebar pintu mansionnya dan langsung menyusul ke tengah halaman rumahnya saat bodyguard itu masih menghalangi Ichigo masuk. Walau suasana gelap, Rukia masih bisa melihat suaminya dengan baik.

Rukia tahu, Ichigo menyadari kedatangannya, karena itu Ichigo berhenti berontak dan menunggu gadis kecil itu berlari menyusulnya.

"Kalian cepat pergi! Dia suamiku! Apa yang kalian lakukan padanya!" kata Rukia tajam dan sinis pada tiga bodyguard yang tubuhnya berkali lipat lebih besar dari Rukia.

Kontan saja, para bodyguard itu menunduk hormat pada Rukia dan melepaskan Ichigo.

"Maafkan kami Nona Rukia. Tapi... Ini perintah dari Tuan Byakuya untuk―"

"Kalian berani membantahku?" kata Rukia sadis lagi.

Tentu saja bodyguard itu berhenti membantah dan memberi ruang untuk Rukia menemui suaminya itu. Wajah Rukia sangat gembira menyambut Ichigo yang datang kemari. Walau Rukia tak yakin apa yang membawa Ichigo kemari. Sebenarnya, Rukia ingin sekali memeluk Ichigo. Tapi dia tidak berani.

"Ichigo... apa yang kau lakukan di sini?"

"Menjemputmu."

Mata Rukia terbelalak lebar. Tak yakin dengan telinganya.

"A-apa? Ka-kau... mau apa?"

"Maaf Rukia. Aku terlalu lama membiarkanmu menunggu. Aku terlalu lama menyadari perasaanku yang sebenarnya padamu. Setelah kau pergi, semuanya terasa kosong. Tidak ada kau... rasanya hampa. Selama ini aku terlalu takut untuk menyadarinya. Aku takut mengkhianati siapapun. Tapi... aku juga tidak sanggup. Ternyata... aku tidak sanggup Rukia..."

"Ichi... go?"

"Ya. Kau boleh membenciku. Kau boleh menghinaku sesukamu. Tapi... aku tidak mau kehilangan orang yang berarti untukku untuk kedua kalinya. Kau... sangat berarti Rukia. Meski aku tidak tahu, apa aku bisa mencintaimu seperti aku―"

Rukia terlalu gembira mendengar hal baik ini. karena itu, tanpa basa basi lagi, Rukia berjinjit memeluk erat leher suaminya dan menangis haru. Perlahan-lahan sesak yang beberapa hari ini ditahannya sudah menghilang. Perasaan lega menguar begitu jelas.

"Tidak apa-apa. Aku senang. Kau... kau bilang aku berarti untukmu saja aku senang. Tidak apa-apa Ichigo. Kita bisa lakukan perlahan. Tidak apa-apa..." bisik Rukia.

Selama ini Ichigo tak berani membalas pelukan isterinya. Tapi kali ini, Ichigo sanggup membalas pelukan isterinya. Memeluk pinggang dan punggungnya begitu erat.

Tapi tiba-tiba, pelukan itu terlepas.

"Ayo kita pulang. Bawa aku pulang... kita pulang..." ujar Rukia antusias.

Ichigo baru akan membalas kata-kata isterinya itu, tapi langsung terhenti saat tangan Rukia langsung ditarik paksa masuk ke dalam rumah. Rukia berteriak dan menjerit histeris. Dia berusaha melepaskan tangannya sendiri.

"Nii-sama!"

Kali ini Ichigo menarik lengan isterinya hingga Byakuya melepas pegangannya. Ichigo menatap Byakuya dingin dan menarik Rukia ke belakang punggungnya. Rukia menggenggam erat punggung kemeja Ichigo dan bersembunyi, menghindari pandangan Byakuya padanya.

"Rukia, masuk sekarang!"

"Aku akan membawa pulang isteriku sekarang, Byakuya," sela Ichigo.

"Rukia!"

Rukia tidak menyahuti kakaknya dan tetap menyembunyikan dirinya.

"Rukia... kita pulang," bisik Ichigo pada Rukia yang berdiri di belakang punggungnya. Rukia mengangguk cepat.

Begitu akan pergi, ketiga bodyguard itu masih menghadang mereka berdua.

"Rukia tidak boleh keluar sejengkal pun dari mansion ini!" kata Byakuya tegas.

"Nii-sama... biarkan aku pulang dengan Ichigo... kumohon biarkan aku pulang bersamanya," pinta Rukia.

"Rumahmu di sini Rukia. Bukan bersama pria itu. Kau akan menderita lagi bersama orang itu. Masuk sekarang."

"Tidak akan. Aku berani bersumpah demi apapun aku tidak akan membiarkan Rukia menangis lagi. Aku janji padamu. Kau boleh membunuhku kalau kau melihat Rukia menangis lagi. Tapi tolong, biarkan Rukia pulang bersamaku," Ichigo ikut memohon pada Byakuya.

Byakuya memberikan isyarat pada para bodyguardnya itu. Salah satu bodyguard menarik paksa Rukia kepada Byakuya dan dua lainnya menahan Ichigo di tempat. Rukia terus meronta paksa demikian juga dengan Ichigo.

"Kau pikir aku akan percaya pada janji palsumu itu? Pertama kali saat kau melamar Rukia juga begitu. Tapi apa yang terjadi? Aku tidak akan mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Membiarkanmu menyiksa Rukia!"

"Nii-sama salah! Lepaskan aku Nii-sama!"

Byakuya tak peduli dan tetap menarik paksa Rukia masuk ke mansion.

Sedangkan Ichigo sendiri sudah dipaksa oleh dua bodyguard berbadan besar itu untuk keluar paksa dari mansion Kuchiki.

Byakuya tak mendengarkan rengekan Rukia dan menguncinya kamar adik kesayangannya itu. Walau mesti membuatnya menderita sekarang, tapi Byakuya tak rela melihat adiknya kembali pada pria yang membuatnya begitu menderita.

Sejak tadi, Senna terus memperhatikan dari lantai atas kejadian langka ini. jadi... Ichigo sengaja menjemput kembali Rukia kemari? Apa artinya... Ichigo mulai membuka perasaan pada gadis itu?

Sepertinya... Senna harus menyerah kali ini. Karena ini pertama kalinya Senna melihat Ichigo berjuang untuk gadis lain selain Yukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Semalam aku serius Byakuya. Aku ingin kembali pada Rukia dan berjanji akan membahagiakannya. Sebagai gantinya aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini," kata Ichigo sambil menyodorkan amplop putih itu di meja Presdir pagi ini.

Begitu Byakuya datang, Ichigo langsung memaksa bertemu dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.

"Apa maksudmu melakukan ini?"

"Kalau kau tidak percaya aku serius kali ini. Tolong... restui kami."

Byakuya tahu bukan hal sulit untuk orang sehebat Kurosaki Ichigo mendapati pekerjaan di luar Kuchiki. Karena itulah selama ini Byakuya menahan orang ini di perusahaan. Ichigo punya potensi.

"Lakukan saja sesukamu, tapi Rukia tidak akan pernah aku biarkan kembali padamu."

Ichigo berlutut di depan meja Byakuya. Menundukkan kepalanya serendah mungkin. Dia tahu pilihan ini mungkin akan sulit. Sangat sulit malah. Tapi dia tidak ingin jadi orang bodoh untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin jadi pengecut selamanya.

"Apapun. Aku akan lakukan apapun asal aku bisa bersama Rukia... tolong..."

"Itu tidak akan mengubah pendirianku!"

Byakuya langsung keluar dari ruangannya. Ichigo semakin putus asa dengan keadaan ini. cara apa yang bisa membuat Kuchiki sulung itu merestuinya?

.

.

*KIN*

.

.

Rukia kaget begitu melihat beberapa pelayan sibuk memberesi pakaian-pakaiannya ke dalam koper besar. Rukia terus bertanya pada para pelayan itu mengapa pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Semalam dia terus menangis memohon pada kakaknya. Tapi kakaknya adalah orang keras kepala seperti dirinya. Mana dia peduli dengan teriakan Rukia.

Setelah semuanya tampak beres, pelayan itu membawa koper besar itu keluar dari kamarnya. Kini masuk Byakuya ke dalam kamarnya dan membongkar isi lemarinya.

"Dimana paspor dan visa-mu?" tanya Byakuya dingin.

"Apa? Untuk apa?" tanya Rukia gugup. Kenapa tanya-tanya paspor dan visa?

Byakuya tetap diam sambil membongkar seluruh lemari Rukia. Setelah mengambil dua berkas penting itu, Byakuya menarik Rukia keluar dari kamarnya. Membawa Rukia masuk ke dalam mobil.

"Nii-sama... kita mau kemana?"

"Eropa. Kita akan ke sana. Aku akan menetap selama satu bulan di sana. Kau di sana terserah padamu. Tapi aku tidak mengijinkanmu pulang sebelum tiga bulan. setelah itu baru kita urus perceraian kalian!"

"Nii-sama! Aku... aku tidak mau!" kata Rukia frustasi.

"Mungkin sekarang kau tidak mau. Tapi kau akan berterima kasih setelah aku lakukan ini. Lupakan Kurosaki sekarang!"

Rukia menangis semakin kencang di dalam mobil itu. Dia tidak mau pergi begitu saja.

Banyak orang yang memperhatikan Rukia di bandara ini. dia terus ditarik sana sini oleh Byakuya dengan wajah bengkak dan sembab. Dia terus menangis agar Byakuya berhenti menariknya dan memaksanya.

Apakah... dia benar-benar akan pergi tanpa Ichigo?

Bahkan setelah di dalam pesawatpun... Ichigo belum datang menjemputnya. Tapi... apa Ichigo tahu?

Berapa lama waktu yang dia harus tempuh untuk bertemu Ichigo kelak?

.

.

*KIN*

.

.

Holaaa Minna! hehehe akhirnya bisa juga diupdate yang ini...

let see... hmm fic ini dua atau tiga chap lagi bakal end. dan itu gak bakal nambah lagi. mungkin... cukuplah segitu. heheheh...

apa chap ini rada kecepatan? hmm ya sih... saya kayak ngejer setoran gitu ya? emang bener! saya sedang usaha buat namatin fic yang bentar lagi end dan konsen sama fic lain yang in progress. saya pengen nambah fic baru, tapi masih mikir-mikir, heheheh makanya saya masih dikit galau. akhirnya saya putusin buat nyelesaiin fic lama dan berkhayal buat fic baru. tapi saya gak janji setelah semua fic saya tamat apa saya masih mau eksis. hihihi...

maaf kalo chap kali ini kembali hancur dan gak dapet feelnya. karena kalau bertele malah takut gak bisa nyampein maksud lagi... hihiih

sedikit curhat lagi... saya, jujur, belum tahu ending fic ini, bakalan sad kayak Prickly Rose atau nggak... ada yang mau bantuin saya? hehehhe

ok deh balas review...

D Suji : makasih udah review senpai... hehehe makasih udah dibilang bagus... makasih semangatnya, makasih lagi udah mau nungguin fic hancur saya heheh

Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... ahahha gak kok. saya emang nyadar chap kemarin terlalu aneh. tapi emang mesti itu yang saya bikin karena alurnya gitu. jadi ngerasa bersalah ngecewain senpai... maaf ya...

meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... ahahaha gak kok. saya gak pernah berencana bikin fic panjang. takut gak selesai sih heheheh

corvusraven : makasih udah review senpai... nih udah update... hmm Prince Assassin itu lagi ngestuck parah. doain aja saya dapet feelnya supaya bisa langsung diupdate dalam waktu dekat. tapi saya gak janji... hiks...

Kim Na Na : makasih udah review senpai... ehhh kirim pesan ke fb saya? aduh saya emang jarang buka fb kalau gak penting. hmm coba kirim lagi ntar tapi kasih tahu yaa dari siapa, soalnya kalo gak kenal, gak saya respon hehehhe... manggil chingu? eheheh boleh juga...

ELLE HANA : makasih udah review senpai... iyaa Senna tuh anak angkat hehhehe, mm kalo Ruki kan karena Byakuya manjain dia banget... kalo Senna emang dari kakeknya yang manjain... hhehehe emang dimana letak tak sopan dua bocah ini ya? ntar saya kasih pelajaran tata krama lagi deh hihi

FafaCute : makasih udah review senpai... mungkin... saya juga gak bisa mastiin. nunggu Ichi sih heheheh... tapi doain aja...

Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... hehehe maaf ya kamu jadi nangis bombay gegara fic ini... saya ampe nangis darah loh ngebayangin jadi Ruki... semoga aja ada pilihan terbaik, antara pisah atau gimana... hihihi

Crystalline Arch : makasih udah review senpai... wah jadi goong ya? hmm kok saya baru nyadar sih? heheheh yah semoga aja semuanya berakhir sebagaimana mestinya *apaansih?*

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... ya ini udah saya update meski gak cepet yaa... hihiih... aih Ruki emang gitu. kan selama ini dia bahagia terus jadi sekali ini dia mesti berlinangan air mata...

d3rin : makasih udah review Rin... sama. saya juga pasti gak ada semangat idup lagi... hiks... dua atau tiga chap lagi lah gak bakal nambah kok hihiih... yah endingnya sesuai rikues sih hihihi mau tahu aja, soalnya saya juga belum tahu endingnya gimana...

achika yue : makasih udah review senpai... salam kenal juga... wah saya belum tahu endingnya gimana... jadi saya bakal buat sesuai rikues sih heheheh

Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... wah saya gak bisa bikin humor... kalaupun bikin takut jadi garing kriuk gitu... hiihi gak lama lagi tamat kok hehehe endingnya belum tahu...

Piyocco : makasih udah review Piyocco... maaf gak ngebut. susah amat sih dapat feelnya yang ini hihihih... ya ini udah update kok gimana?

Nyia : makasih udah review senpai... yayaya akhirnya saya konslet mulu sih... hiks... yah ini udah update...

Voidy : makasih udah review neechan... ahahaha Byakuya ternyata bisa serem ya? emang dia serem dari sananya sih hihiih... iya... sama satu lagi udah mau selesai kok hehehe... jadi emang agak berkurang beban hehehe

Bad Girl : makasih udah review senpai... saya suka liat Ruki nangis *plak* heheh iya kok nih udah update... saya belum tahu endingnya sih... aih beneran sibuk ya? soalnya senpai beneran hilang dari FFN loh... *plak*

Nana the GreenSparkle : makasih udah review senpai... maaf jadi ngancurin hatinya senpai... saya juga sedih loh... hiks...

Wakamiya Hikaru No Login : makasih udah review Hikaru... gak papa kok hehehe gak papa lagi hehehe iya ini mau end kok hihihihi

Aimi Hikari : makasih udah review senpai... maaf gak cepet, maaf lagi kayaknya part IchiRukinya dikit hiks...

Chadeschan : makasih udah review senpai... maaf gak soon tapi ini udah update hihihi...

Hyuuna Tsuchida : makasih udah review senpai... nonono gak senpai kok... Kin aja gak papa hehehe wah saya terharu ada yang baca fic saya dari fandom lain... ahahah iya saya lagi usaha ngetik, lagi nyari feelnya buat fic fandom itu. wah iya ya? soalnya itu fic rikues sih heheheh...

Tania : makasih udah review senpai... makasih udah suka... aduh maaf gak kilat lagi... hiks...

rukia chibi : makasih udah review senpai... ya saya bakal buat sesuai rikues... hihihi

Nonana : makasih udah review senpai... hihihih iya saya usahain deh heheh

Resi Laela Wulandari : makasih udah review senpai... makasih ya ini udah saya lanjutin kok heheheh

blingbling : makasih udah review senpai... wah saya terharu senpai suka fic saya... hiks.. ya ini udah saya lanjutin kok heheheh

Zaoldyeck13 : makasih udah review senpai... maaf gak bisa update cepet hiks... makasih semangatnya... aduh mata Ruki kan emang udah gede ya? *plak*

chy karin : makasih udah review senpai... ya ini udah lanjut hihihi...

ya mari kita doakan gimana ending chap ini... jadi review yaa... siapa tahu review senpa bisa mendatangkan imajinasi indah untuk akhir fic ini hehhe

atau ada yang suka jika sama aja kayak Prickly Rose? heheheh

makasih yang udha berpartisipasi sama semua fic saya... beneran makasih, mungkin tanpa dukungan semua senpai saya gak sanggup sampai sejauh ini... makasih banyak sekali...

pokoknya senpai-senpai paling spesial di hati saya... heheheh review ya... biar saya tahu fic ini layak lanjut atau nggak hehehe

Jaa Nee!