Sequel

Chapter 10

You and Aegya are mine!

All Cast © Tuhan dan Eomma Appanya

You and Aegya are mine! © FujoAoi

Rate : M-Preg

.

.

.

.

XXXX

.

.

.

.

Luhan terbangun dari tidur lelapnya di dalam hangatnya dekapan suaminya. Luhan menggosokkan matanya. Ia bangkit dengan perlahan dari kasurnya. Ia membuka jendela kamarnya. Melihat dedaunan kering berguguran di halaman belakang cukup membuatnya tak perlu menonton ramalan cuaca. Sudah musim apa? Bagaimana keadaan awan?

Luhan mencuci wajah manisnya dan menyikat giginya di wastafel kamar mandi. Ia menatap wajahnya yang semakin gemuk. Ia tersenyum, tangannya kemudian beralih kepada perutnya yang mulai membesar. Luhan semakin teingat akan bayang-bayang akan keluarga yang harmonis.

"Lu-Luhan-ah… Uh…" lenguh Sehun. Luhan yang mendengar suaminya langsung melesat ke kamarnya. Luhan melihat Sehun yang bermata sipit seperti kehilangan matanya. Entah matanya tertinggal di bawah kasur, atau di curi oleh peri gigi.

Luhan kemudian mendekati Sehun. Ia memberikan morning kiss romantis yang sudah menjadi sarapan pokoknya setiap hari. Sehun kemudian tersenyum pada Luhan. "Rambutmu sudah semakin panjang, Luhan-ah…" racau Sehun.

"As your wish, Your Highness." Kata Luhan.

Sehun tertawa sejenak. Ia kemudian mengelus rambut halus Luhan. Ia menyukai Luhannya apa adanya. Tapi, ia semakin menyukai Luhan ketika Luhannya memperpanjang rambutnya.

"Aku akan menyiapkan sarapan, Tuan Oh." Kata Luhan. Luhan segera meninggalkan Sehun di kamar sendirian. Luhan berjalan menuju dapur. Ia memasak air dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Sebelum memasak, Luhan mencuci sayuran yang ia butuhkan.

Setelah ia meniriskan air kotor sayuran, Luhan berjalan menuju kamar Putra semata wayangnya. Ia membuka pintu kayu bercat putih itu perlahan. Suara derit pintu tidak membangunkan pangeran mungilnya yang masih bergelut di alam mimpi. Luhan segera naik ke ranjang anaknya.

Luhan mengelus rambut halus yang sama sepertinya—gen Luhan. "Se Han-ah… Ireona! Palli…" ajak Luhan. Se Han kemudian menoleh ke arah Luhan. Ia memeluk perut eommanya erat. Luhan memegang tangan Se Han dengan lembut. "Kkaja. Palli, ireona, nae wang seja." Ajak Luhan lagi.

Se Han mengeratkan pelukannya pada perut Luhan. "Se Han-ah… Ziyu… Dia merasa sedikit sesak di dalam sana." Kata Luhan. Se Han seketika melepaskan pelukannya terhadap Luhan. Ia segera bangkit dari tidurnya. "Jinjja?" tanya Se Han polos.

"Ne. Dia sudah lega sekarang." Kata Luhan. "Mianhae… Ziyu, nae dongsaeng!" ujar Se Han penuh rasa bersalah. Luhan kemudian mengecup dahi Se Han. "Kkaja! Cuci muka, sikat gigi. Eomma akan masak dulu." kata Luhan.

Sehun kemudian mengintip ke dalam kamar Se Han. "Hai jagoan!" sapa Sehun pada Se Han. "Pagi, appa!" sapa Se Han. Sehun merentangkan tangannya pada Se Han. Se Han kemudian bangkit dari duduknya dan segera melonpat ke arah Sehun.

Luhan yang ngeri melihat Se Han lompat seperti itu kemudian memegang dadanya. "YA! Kalian membuatku kaget! Aku takut kau akan membuat Se Han jatuh, Sehun-ah…" ujar Luhan dengan emosi.

Sehun kaget dengan sikap Luhan yang tiba-tiba menjadi emosional. "Lu-Luhan… Ka—" Luhan menyela perkataan Sehun. "AKU MARAH!" kata Luhan sambil berlalu meninggalkan Sehun dan Se Han.

"Eomma kenapa?" tanya Se Han heran.

Sehun mengendikkan bahunya. Ia menggendong Se Han menuju ruang tengah yang berdekatan dengan dapur. Sehun melihat Luhan sedang memasak kemudian mengambil apron cadangan yang masih tergantung. "Luhan-ah… Mianhae…" kata Sehun.

BRAKKK!

Luhan menggebrak meja di dapur. Luhan kemudian menundukkan wajahnya, ia segera melepaskan apron dan berjalan menuju halaman belakang. Luhan mengambil sapu dan menyapu halaman belakang yang mulai dipenuhi tumpukan daun yang telah berguguran.

Sehun menyusul Luhan ke belakang. Ia memeluk Luhan dengan erat. Ia takut Luhan akan marah padanya. Lalu, Luhan akan meninggalkannya lagi dengan Se Han. CUKUP! Ia sudah trauma dengan keadaan itu. Sehun kemudian meletakkan kepalanya di bahu Luhan.

"Mianhae… Luhan-ah…" Luhan terdiam.

"Aku tau, aku salah. Bisa saja Se Han terjatuh dan luka parah karenanya," jelas Sehun. "Dan, kau takut kehilangan Se Han lagi."

Luhan kemudian mulai angkat suara. "Jadi, kau sudah tau alasanku diam kan?"

Sehun menganggukkan kepalanya. "Ne. Arra. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Luhan-ah…"

Luhan mulai teringat akan dirinya yang berusaha untuk mempertahankan Se Han yang hampir gugur di periode awal ia mengandung Se Han. "Aku tidak ingin dia terluka, Se Hun-ah… Aku takut kehilangannya. Aku trauma dan tidak tahan melihat anakku pergi meninggalkan kita. Dan bahkan tanpa pernah menatap wajahku sebelum pergi. Itu terlalu menyakitkan bagiku."

Sehun kemudian mengeratkan pelukannya pada Luhan. "Ne… Kita tidak akan kehilangan Ziyu kali ini." Ujar Sehun.

. . .

Drama yang berlangsung di halaman belakang itu berakhir bahagia. Romeo mampu membuat hati Julietnya menjadi lebih tegar dan kuat. Sekarang, Romeo membantu Juliet memasak untuk buah cinta mereka.

Romeo membantu memasak omelette. Juliet membuat sup sayur yang bergizi untuk keluarganya. Juliet kemudian membuat susu untuknya sendiri. Juliet memindahkan semua hidangan yang telah selesai dimasak. Juliet membawa makanan-makanan itu dengan hati-hati.

"Se Han-ah… Kkaja! Achim mokja!" ajak Luhan. "Ye, Eomma!"

Se Han kemudian berlari menuju meja makan, dimana Juliet sedang menghidangkan makanan. "Eomma… Sebaiknya eomma dan appa makan dulu." kata Se Han. "Wae?" tanya Luhan heran.

"Se Han hanya ingin eomma dan appa yang makan lebih dulu. Eomma dan appa selalu makan setelah Se Han makan. Se Han merasa tidak enak, karena memakan terlebih dahulu makanan hangat, sedangkan eomma dan appa makan ketika makanan sudah mulai dingin." Papar Se Han.

Luhan kemudian tersenyum haru. Ia kemudian berlutut di depan Se Han-nya. "Se Han-ah… Eomma dan appa tidak masalah jika harus memakan makanan dingin. Karena, itu bukti cinta dan sayangnya kami kepada Se Han, walaupun jika nanti Ziyu akan lahir dan membutuhkan perhatian lebih dari appa dan eomma. Arra?" tanya Luhan.

Se Han kemudian mengangguk. Se Han kemudian mencium dahi Luhan. Luhan tersenyum senang. "Ja! Manhi mokgo, Se Han-ah…" kata Luhan.

"JAL MOKGESSEUMNIDAAAAA!"

. . .

Luhan terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin bercucuran di dahi mulusnya. Ia segera meninggalkan tempat tidurnya. Ia beranjak mengambil tas yang ia butuhkan. Ia mengatur nafasnya perlahan. Ia harus tenang, batinnya.

"Sehun-ah… Palli… Hh… I-Ireona…" Luhan menggoyangkan badan Sehun perlahan. Sehun membuka matanya perlahan, ia terkejut melihat wajah Luhan yang sudah dipenuhi keringat dingin.

"Yeo-Yeobo! G-Gwaenchana?" tanya Sehun. Sehun mendudukkan Luhan di kasur.

Luhan tersenyum pada Sehunnya. "Ne, naneun gwaenchana."

Sehun mengusap dahi Luhan dengan tangannya. Ia mencium dahi Luhan. "Sabarlah, Luhan…"

Sehun segera menghidupkan seluruh lampu rumah dan menghidupkan mobilnya. Tak lama, Se Han bangun karena aktivitas bumonimnya. Se Han melihat keadaan Luhan. Se Han kemudian mengelap keringat dingin Luhan.

"Se Han-ah… Eomma minta maaf, sudah mengganggu tidurmu…"

Se Han tersenyum, "Tak apa, eomma. Apa Ziyu akan segera bertemu kita semua?"

Luhan mengangguk mantap. Se Han kemudian mengelus perut Luhan. "Ziyu-ah… Kita akan segera bertemu, nae dongsaeng!"

Sehun kembali ke kamarnya dan segera mencoba menggendong Luhan. "Maaf Sehun-ah… Aku pasti berat."

Sehun terkekeh. "Tidak, kau tidak berat, yeobo. Hanya saja, aku menggendong dua bayi besar sekaligus. Makanya lebih berat."

Sehun menggendong Luhan dan mendudukkannya di jok belakang mobil. Sehun mengambil barang-barang Luhan dan membawa barang Se Han. Se Han sudah mengenakan jaket kesayangannya. Ia segera naik ke kursi depan bersama Sehun.

. . .

Sehun mengarahkan mobilnya menuju UGD. Ia menyuruh Luhan menunggu di kursi tunggu beberapa saat. Tak lama, Sehun kembali membawa kursi roda bersama beberapa perawat. Se Han kemudian berjalan mengikuti Luhan dari belakang.

Sehun kemudian menunggui Luhan yang sedang diperiksa oleh dokter. Ia memeluk Se Han yang tertidur karena masih lelah. Tak lama, dokter kandungan Luhan keluar dari ruangan dan mencari-cari Sehun. "Tuan Oh!" Sehun kemudian berdiri dan berjalan ke arah dokter tersebut.

"Nyonya Oh sudah mencapai bukaan 9. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Jadi, aku minta anda dapat mendampinginya dan menyemangatinya." Sehun mengangguk mengerti. "Tentu, aku akan menemaninya."

Sehun menggendong Se Han dan masuk bersama ke ruangan Luhan. Luhan tampak lemah, ia pucat, mungkin ia takut. "Hai, yeobo." Sehun mengelus rambut Luhan dan mengusap keringat Luhan. Luhan tersenyum melihat Sehun. "Se Han baru tidur? Pasti ia lelah sekali." Kata Luhan.

Sehun kemudian menidurkan Se Han di sofa yang ada di ruangan. Sehun merasa ruangan Luhan ini kurang besar untuk Luhan-nya. "Apa kau kurang nyaman berada di ruangan ini, Luhan-ah?" tanya Sehun. Luhan menggeleng. "Aku sudah sangat nyaman disini, Sehun-ah…"

Sehun duduk di kursi yang ada di samping kasur Luhan. Ia memegang erat tangan Luhan dan menciuminya tanda ia sangat mencintai dan mencemaskan Luhannya. Luhan tersenyum melihat Sehun. "Jangan cemas, Sehun-ah… Aku bisa melewati ini. Aku sudah pernah mengalaminya bukan?" tanya Luhan.

Sehun mengangguk. "Apa kau sudah memberitahu yang lain, jika aku akan melahirkan?" tanya Luhan lagi. Sehun akhirnya sadar, seharusnya ia memberi tahukan yang lain tentang kabar Luhan yang akan melahirkan. "Aku akan mengirimi pesan ke mereka." Sehun kemudian menuliskan pesannya dan mengirimkannya.

Sudah satu jam mereka berada di rumah sakit. Sehun kembali tertidur dengan posisi duduk. Luhan yang hampir tertidur kemudian merasakan perutnya sangat sakit. Sesuatu memaksa untuk keluar dari rahimnya. "Ahhh… Ahhh… Euh… Aawww…" Luhan mengambil nafasnya berulang kali.

Sehun yang mendengar Luhan mengaduh langsung terbangun dari tidurnya. Sehun bangkit dan melihat Luhan sudah bermandikan keringat. "Lu-Luhan…"

Sehun menekan tombol untuk memanggil suster. Tak lama, dokter dan suster masuk ke dalam ruangan. Se Han yang merasa ruangan itu mulai gaduh kemudian terbangun. Ia melihat eomma-nya sedang meringis kesakitan.

"Eo-EOMMA!" Se Han menjadi histeris melihat Luhan semakin kesakitan. Sehun menghalangi Se Han untuk mengganggu dokter karena ia akan menangis. Se Han melihat eommanya tersenyum. "Eo-Eomma… Huweeee…" Se Han menangis di pelukan Sehun.

"Tuan Oh, Nyonya sebentar lagi akan melahirkan. Sebaiknya anda ikut mendampingi Nyonya." Kata dokter Sehun mengangguk mengerti. Luhan kemudian dibawa pergi ke ruangan bersalin. Sehun menenangkan Se Han yang masih menangis sesenggukan. "Se Han-ah… Appa pergi dulu ya, mendampingi eomma. Se Han jangan menangis lagi. kalau Se Han menangis, Sehun Appa disini, siapa yang akan menemani eomma di ruang bersalin?"

Se Han kemudian berhenti menangis. Ia melihat wajah Sehun yang menatapnya sayang. "Ne, appa. Se Han akan mendoakan eomma disini."

Sehun mengecup dahi Se Han, ia kemudian meninggalkan Se Han dan segera berlari menuju ruang bersalin. Ia memakai pakaian erwarna hijau dan berlari untuk berdiri disamping Luhan. "Luhan-ah.. Kau harus kuat…"

Luhan mengangguk lemah. Wajahnya semakin pucat. Dokter kemudian masuk dan membuka kaki Luhan. "Nyonya, anda harus mendorong bayi anda sekuat mungkin. Jangan sampai tertidur." dokter itu memperingatkan Luhan. Luhan mengerti dan bersiap-siap.

"Dorong, Nyonya!"

"Eungh… EUNGH… Argh… Se-Sehun-ah…" lenguh Luhan. Luhan memegang tangan Sehun terlalu erat. Sehingga Sehun dapat merasakan sakit di tangannya. "Ah… Se-Sehun-ah… Awhh… Argh… Ah… Eungh…"

Luhan hampir kehilangan kesadarannya. Namun, Sehun membangunkannya dan menguatkannya lagi dan lagi. Luhan bersyukur ketika Sehun mampu mendampinginya hingga akhir hayatnya nanti.

OEEEEEEKKKK OEKKKK…

Bayi laki-laki…

Anak mereka…

Oh Ziyu, sudah lahir ke dunia. Luhan menangis bahagia. Ia melihat anaknya yang masih berlumuran darah itu menangis. "Selamat Nyonya Oh, anak anda laki-laki. Ia manis sekali seperti anda."

Dokter itu menyerahkan Ziyu ke seorang suster untuk dibersihkan. Luhan kemudian pingsan karena kelelahan. Sehun mengelus dahi Luhan dan menciumnya lama-lama. "Terima kasih, Luhan-ah.. Terima kasih."

. . .

Hari sudah pagi, dan Luhan belum juga bangun. Ziyu menggeliat di dalam boks bayinya. Se Han antusias sekali melihat adik kecilnya di dalam boks menggeliat-geliat."Appa, apa dulu Se Han seperti itu juga?" tanya Se Han penasaran. Sehun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Tapi, Se Han lebih banyak diam dari pada Ziyu." Kata Sehun. Se Han ber-oh ria.

Luhan menggeliat pelan. Ia membuka matanya. Ia melihat suami tampannya sedang tersenyum ke arahnya. "Se-Sehun ah…" panggilnya. Sehun mengelus wajah Luhan yang berkeringat dingin. "Selamat, Luhan-ah… Kau menjadi ibu lagi untuk anak kita Ziyu…" Sehun mencium bibir Luhan lama-lama. Hanya ciuman kasih sayang.

"YA! APPA! EOMMA! Se Han tidak dicium?" tanya Se Han. Hah… Kita tau, jika Se Han sudah biasa melihat appa dan eommanya melakukan lovey dovey, ia terlalu dewasa kan? Sehun kemudian menggendong Se Han untuk mencium Luhan.

O-Oekkk…

"Sepertinya Ziyu sudah lapar, Luhan-ah… Ayo, dia belum disusui…" kata Sehun. Sehun menggendong Ziyu dengan hati-hati. Se Han dengan segera mencium pipi eommanya, kemudian ia turun dari kasur eommanya.

Sehun menaikkan kasur Luhan agar Luhan bisa duduk untuk menyusui Ziyu mereka. Luhan membuka kancing baju teratasnya dan menerima Ziyu dari Sehun. Luhan kemudian mencium pipi Ziyu yang tembem. Luhan memeluk anaknya dengan sayang.

"Ziyu… Selamat datang di keluarga Oh…"

Ziyu menggeliat pelan. Ia menyentuh pipi Luhan dan kembali menggeliat. Luhan mendekatkan Ziyu dengan puting susunya. Ziyu membuka mulutnya dan menghisap susunya. Luhan meringis pelan. Sehun mengelus pipi Ziyu. "Sangat sakit kah, Luhan-ah?" Luhan menggeleng.

Setelah selesai, Ziyu melepaskan puting susu Luhan dan kembali terlelap. Luhan mengancingkan bajunya dan menggendong Ziyu dengan sayang.

. . .

Jam 4 sore, kamar Luhan dipadati oleh orang-orang yang menjenguknya. KyuMin, KaiSoo, dan ChanBaek sudah datang dan berebutan ingin menggendong Ziyu dan bermain dengan Se Han. Sehun dan Luhan tersenyum melihat orang-orang disekitarnya sangat menyayangi buah hati mereka.

'Sayang, apa yang kau rasakan sekarang?'

'Tentu saja, sangat senang Sehun-ah…'

'Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.'

'Aku juga, Sehun-ah…'

'Saranghae, baby Deer…'

'Nado saranghae, my Ice Prince…'

.

.

.

END

.

.

.

That is the real end for 'You and Aegya are MINE!' guys.

Okay, I wanna say thank you for all readers that read this fanfict from last year. You are the best guys! I can't say anything except, "THANK YOU AND SORRY FOR MAKE YOU WAITING SO LONG UNTIL THIS FAR"

Okay, maybe my english is bad. But, I wanna say my last author note for You and Aegya are MINE! Maybe you'll see my author note in another fanfict.

Oke, saatnya pakai bahasa Indonesia.

Kalian, semua pembaca yang paling setia, yang udah baca ff ini dari awal maupun nggak. Yang udah ngasih saran dan menyemangati saya disaat-saat tertentu. Membaca review baik yang menyemangati ataupun yang agak nusuk merupakan saat-saat paling membahagiakan dan yang membuat saya deg-degan. Itulah yang menjadi alasan saya tetap menulis hingga akhir.

Oke, untuk selanjutnya, antara Diamond Tears ataupun Winter Pains!

Stay tune my readers!

Love sign, for all my readers

FujoAoi