From The Darkness Side
Original Story by Santhy Agatha
Disclaimer :
Saya hanya me-remake novel ini dengan cast favorit saya;yoonmin (BTS). Sebagian kecil dari cerita ini saya rubah demi terciptanya feel yang tepat.
Caution!
Novel/tulisan ini merupakan rated dewasa (M), jadi diharapkan bagi yang belum mencukupi batas umur minimal dilarang membaca.
Genderswitch for Jimin and Jin. Jadi mohon maaf apabila cast tidak sesuai dengan keinginan kalian.
BTS YOONMIN (Yoongi x Jimin )
Min Yoongi
Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai.
"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain."
-Min Suga-
.
.
.
.
.
.
.
BAB 11
"Kau tidak boleh melakukannya. Kau sudah menyelamatkanku dari percobaan pemerkosaan yang dilakukan Taehyung, dan sekarang kau mau merendahkan dirimu dengan melakukan hal yang sama?"
Suga berdecak, "Aku membunuh Taehyung bukan untuk menyelamatkanmu dari pemerkosaan. Aku membunuh Taehyung karena dia berani-beraninya menyentuh kau yang sudah menjadi milikku." Matanya menyipit dingin, "Siapa pun yang berani menyentuhmu akan kubunuh."
Tubuh Jimin gemetar. Lelaki ini Iblis. Iblis yang tidak punya jiwa. Jimin salah mengira lelaki ini punya sedikit kebaikan dalam jiwanya ketika lelaki itu menyelamatkannya dan dengan lembut mengobati luka-lukanya. Ternyata lelaki itu melakukannya bukan untuk Jimin, tetapi untuk kepuasan egonya sendiri yang menakutkan.
"Aku akan bunuh diri kalau kau memperkosaku."
"Memperkosamu?" Suga mengerutkan keningnya, "Waktu itu kau sama sekali tidak menolakku." Suaranya rendah merayu, "Kau ingat malam itu? Ketika kau bercinta denganku semalaman, berkali-kali, penuh gairah? Kau sepertinya menikmatinya, kau mengerang puas ketika mencapai orgasmemu dengan aku tenggelam dalam-dalam di tubuhmu."
"Hentikan!" Jimin berteriak, "Waktu itu aku mengira kau adalah Yoongi!"
"Yoongi atau aku bukankah sama saja?" Suga mengangkat bahunya, "Jangan lupa Jimin, kami ini satu tubuh. Kau bercinta dengan Yoongi berarti kau bercinta denganku. Begitu pun sebaliknya…" lelaki itu melangkah makin dekat, "Tidakkah kau merindukan tubuh ini? Tubuh yang pernah memelukmu?"
"Tidak! Mundur Suga! Jangan dekati aku." Mata Jimin melirik ke segala arah, "Aku tidak mau."
"Kenapa kau mau bercinta dengan Yoongi tetapi tidak mau bercinta denganku?" Suga mengabaikan ancaman Jimin, dengan kasar direnggutnya tangan Jimin dan disentuhkan ke dadanya, "Lihat ini, rasakan ini, kami ini orang yang sama bukan?"
Jimin berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Suga, tetapi lelaki itu menahannya dengan kejam, membuat Jimin meringis kesakitan, matanya terasa panas dan dia menatap Suga dengan menantang, "Kau iblis kejam yang tidak punya hati. Aku
sangat membencimu. Dan kau tidak bisa disamakan dengan Yoongi. Yoongi jauh lebih baik dari dirimu."
Kata-kata Jimin rupanya menyulut kemarahan Suga sampai batas kesabarannya. Lelaki itu mencengkeram kedua tangan Jimin dan mendekatkan wajahnya dengan marah, "Kau bilang Yoongi lebih baik dariku? Mari kita lihat!"
Suga mendorong Jimin ke atas ranjang, secepat kilat Jimin melenting hendak bangun, tetapi Suga sudah menindihnya dengan tubuhnya yang kuat. Kedua tangannya mencengkeram tangan Jimin dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Wajah mereka berdekatan. Jimin bisa melihat betapa tajamnya mata lelaki itu, betapa banyaknya amarah yang terkumpul di sana. Suga mendekatkan bibirnya, mencoba mengecup bibir Jimin, tetapi Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya menjauh sehingga bibir Suga hanya menyentuh pipi dan rahangnya. Dengan gemas Suga menurunkan tangannya, menggenggam kedua tangan Jimin hanya dengan satu tangan. Tangannya yang satunya mencengkeram rahang Jimin agar tidak bergerak, bibirnya lalu memagut bibir Jimin, membuat Jimin mengerang dan menolak sekuat tenaga.
Suga mengangkat bibirnya dan mengamati, "Sepertinya luka di sini sudah sembuh." Lelaki itu mengacu kepada luka bekas tamparan Taehyung kepadanya malam itu. Luka itu memang sudah tidak bengkak dan hampir tidak terasa lagi. Suga lalu menekankan tubuhnya dan memperdalam ciumannya sehingga berhasil membuka bibir Jimin dan melumatnya makin dalam. Disesapnya bibir bawah Jimin dengan penuh gairah, seolah ingin mencicipi keseluruhan rasanya.
Jimin merasakan bibir itu. Bibir yang sama dengan bibir Yoongi yang pernah melumat bibirnya dengan lembut. Tetapi kali ini berbeda, ciuman Suga sangat kasar dan tidak tanggung-tanggung, lelaki ini melumat bibir Jimin seolah ingin menggilasnya. Seluruh kemarahannya tertumpah di ciuman itu, Jimin masih meronta, tetapi kemudian dia menyadari, bahwa semakin dia meronta, semakin Suga marah dan kasar kepadanya.
Dia lalu mencoba diam, tidak meronta dan tidak melawan. Jantungnya berdebar kencang. Antara ketakutan, penolakan dan gairah yang muncul tanpa bisa dia kendalikan. Bagaimana pun juga, tubuh yang sedang menindihnya itu adalah tubuh yang sama dengan lelaki yang dicintainya.
Suga menyadari perubahan sikap Jimin. Dia menghentikan ciumannya dan menatap Jimin. Napas mereka masih terengah akibat ciuman yang panas itu, dan bibir mereka masih begitu dekat. Suga tersenyum miring, "Memutuskan untuk menyerah, eh?"
Jimin menatap Suga dengan berani, "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Aku tahu aku tidak akan menang melawanmu. Tetapi satu hal yang pasti. Kalaupun kau berhasil
bercinta denganku. Aku membayangkanmu sebagai Yoongi. Karena Yoongilah yang aku cintai, bukan kau."
Suga menggeram marah, "Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi." Lelaki itu membuka pakaian Jimin dengan kasar, menariknya dari tubuhnya hingga Jimin telanjang dada di bawahnya, "Aku pernah menyentuh tubuhmu dan menikmatinya, kau pun menikmatinya. Malam ini akan kubuat kau menyadari bahwa aku berbeda dengan Yoongi, aku lebih bisa memuaskanmu dibanding dia."
Lelaki itu mengangkat rok Jimin dan dia sendiri melepaskan celananya. Kejantanannya sudah menegang dan keras, Suga begitu bergairah, dia membungkuk dan melumat bibir Jimin lagi, tangannya menyentuh payudara Jimin, meremasnya dan memainkan putingnya dengan ahli. Lelaki ini tidak mengenal kelembutan dalam bercinta, lelaki ini benar-benar bercinta dengan nafsunya.
Sementara itu Jimin berusaha keras menjaga tubuhnya tetap diam, meskipun gairah itu mengalir deras di tubuhnya. Ini tubuh Yoongi, dan jemari lelaki itu sedang memainkan putingnya dengan ahli. Ketika Suga menurunkan kepalanya untuk melumat puting payudaranya, sebuah erangan terlepas dari bibir Jimin.
Suga mengangkat kepalanya dan menatap Jimin dengan pandangan mengejek, "Suka sayang?" dengan sengaja dia melumat puting payudara Jimin, menggodanya dengan lidahnya dan menghisapnya dengan kuat, membuat Jimin menggigit bibir, berusaha menahan erangannya.
Kejantanan Suga menyentuh perutnya, terasa keras dan siap, lelaki itu menurunkan jarinya dan menurunkan celana dalam Jimin, membuangnya di kaki ranjang. Jemarinya menyentuhnya di sana, dan dia tersenyum puas, "Kau bisa menolakku dengan kata-katamu, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong, kau basah di sana, siap untuk melumasiku."
Jimin menatap Suga dengan marah, "Aku membayangkan Yoongi."
"Kau tidak membayangkan Yoongi, kalau kau membayangkan Yoongi kau pasti akan membuka pahamu dengan sukarela untukku, bukannya menatapku dengan pandangan kebencian." Dengan kasar Suga membalikkan badan Jimin, membuat Jimin tertelungkup dan menoleh ketakutan.
"Kau... Apa kau..."
"Diam!" Suga menarik pinggul Jimin ke atas dan menyusupkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Jimin. Jimin mengerang karena terkejut ketika merasakan kejantanan Suga tenggelam dalam-dalam.
"Apakah kau mengakui kalau kau merindukanku, sayang?" Suga bertumpu pada lengannya setengah membungkuk dan mengecup punggung telanjang Jimin, "Karena sepertinya aku merindukanmu." Lelaki itu lalu menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang cepat dan keras, membuat tubuh Jimin yang tengkurap terdorong di atas ranjang. Jimin mengerang dan menggertakkan giginya menahankan gerakan kasar Suga yang entah kenapa tetap membawa getaran panas di dalam dirinya, berpusat di kewanitaannya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Suga menegakkan punggungnya dan memegang pinggul Jimin menggerakkannya supaya berpadu dengan gerakannya. Lelaki itu menggertakkan gigi menahan orgasmenya yang hampir datang, menunggu. Dan ketika Jimin mengerang karena orgasme yang dipaksakan datang kepadanya, barulah Suga memacu dirinya sendiri untuk mencapai orgasme yang sudah ditunggunya, dia menggeram, menekankan dirinya dalam-dalam dan meledakkan dirinya di dalam tubuh Jimin.
Setelah itu, Suga membaringkan tubuhnya, setengah menindih tubuh Jimin yang masih telungkup. Napas mereka berdua terengah-engah. Jimin masih telungkup, kepalanya masih miring ke satu sisi, enggan menatap Suga yang memeluknya dari belakang. Air matanya menetes dan jatuh membasahi sprei. Dia telah direndahkan dengan begitu dalam oleh Suga, dan dia mencapai orgasme! Astaga, wanita seperti apakah dirinya ini? Apakah dia wanita murahan? Bisa mencapai orgasme dari iblis kejam seperti Suga? Ataukah dia terlena karena Yoongi dan Suga memiliki tubuh yang sama?
Tapi Suga tadi mengatakan bahwa Jimin tidak membayangkannya sebagai Yoongi, dan itu adalah kebenaran. Jimin sadar sekali bahwa yang bercinta dengannya tadi adalah Suga. Dan dia tetap mencapai orgasmenya!
"Jimin...?" suara itu memanggilnya dengan lembut, membuat Jimin menggertakkan giginya marah. Permainan apa lagi yang dimainkan Suga? Apakah lelaki itu sedang mencoba mempermalukannya dengan berpura-pura lembut seperti Yoongi?
"Jimin?" lengan kuat itu memeluknya lembut tepat di bawah payudaranya, bibirnya mengecup pundak Jimin penuh kerinduan, "Jimin ini aku. Yoongi."
Jimin tersentak, lalu tertegun meragu. Suara itu, kelembutan sentuhan dan kecupan itu, sangat mirip dengan Yoongi. Tetapi bukankah Suga bilang Yoongi sudah hilang dan tidak bisa dia rasakan lagi? Apakah ini benar-benar Yoongi atau Suga yang berpura-pura? Jimin sendiri saksinya, dia pernah melihat sendiri Suga yang sedang berpura-pura sebagai Yoongi, dan Suga luar biasa ahli.
"Jimin, lihatlah aku."
Sambil menelan ludahnya, Jimin membalikkan badannya pelan-pelan. Menghadap ke arah lelaki itu. Mereka berbaring telanjang berhadapan, saling menatap, mata Jimin mencari di kedalaman diri Yoongi, mencoba menemukan sesuatu, petunjuk atau apapun yang bisa memberitahunya siapakah yang ada di depannya ini. Tetapi dia tidak bisa menemukan jawabannya. Salah satu kekuatan Suga dibandingkan Yoongi adalah kemampuannya untuk tetap sadar meskipun tubuh ini sedang dikuasai oleh Yoongi, seperti yang dia bilang, Suga menikmati duduk diam di sudut dan mengamati. Hal itu berarti sangat mudah bagi Suga untuk berpura-pura sebagai Yoongi, karena apa yang diketahui Yoongi diketahui juga oleh Suga. Sebaliknya bagi Yoongi, ketika Suga menguasai tubuhnya, dia tertidur dan hanya memiliki ingatan samar dan sepotong-potong tentang apa yang dilakukan Suga.
Yoongi menelusurkan jarinya dan menyentuh bibir Jimin, lalu ke pipinya. Matanya menelusuri bekas memar di tubuh Jimin, di lengan Jimin, bekas memar di tubuhnya akibat perlakukan kasar Taehyung memang masih ada, menjadi ungu kehitaman, meskipun rasanya sudah tidak sakit lagi, tetapi memarnya masih tampak mengerikan. Alis Yoongi mengerut dan dia menatap Jimin dengan sedih, "Apakah dia, Suga menyakitimu?"
Ini mungkin benar-benar Yoongi. Lelaki ini tampaknya tidak tahu apa yang dialami Jimin malam-malam sebelumnya. Jimin menatap Yoongi, bibirnya bergetar, meragu,
"Yoongi...?" panggilnya.
Lelaki itu tersenyum, lalu meraih jemari Jimin dan mengecupnya, "Ini aku sayang."
"Yoongi." air mata kelegaan langsung mengalir. Oh Astaga, ini Yoongi, Yoonginya masih hidup, lelaki ini masih ada. Dia tidak mati seperti yang dikatakan oleh Suga. Berarti masih ada harapan untuk mereka. Jimin memeluk Yoongi erat-erat merasa begitu bahagia hingga ingin tertawa dan menangis bersamaan. Sementara Yoongi balas memeluknya, menenggelamkan wajahnya di keharuman aroma tubuh Jimin yang nikmat.
Lama kemudian mereka bertatapan kembali, mata Yoongi yang menatapnya dengan serius, lelaki ini tampak seperti lelaki dingin yang berwibawa yang pertama kali ditemui oleh Jimin, "Katakan padaku, apakah Suga berbuat kasar kepadamu? Memar-memar ini..."
"Tidak, bukan Suga pelakunya," Jimin menggelengkan kepalanya, dia lalu menceritakan kepada Yoongi tentang rencana Hoseok, tentang Taehyung, bagaimana Suga kemudian menemukannya tepat di saat Taehyung hendak memperkosanya, dan kemudian bagaimana Suga membuatnya bercinta dengannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku... Aku..." bibir Jimin bergetar dan matanya memanas. Dia merasa malu, sungguh malu kepada Yoongi.
Tetapi lelaki itu tersenyum, dan menyentuhkan telunjuknya ke bibir Jimin, menahannya untuk berbicara. "Stttt... Bukan salahmu Jimin, bagaimana pun juga tubuh kami sama...
Mungkin tubuhmu mengenali tubuh ini dan meresponnya," Yoongi berbisik lembut dan mengeratkan pelukannya kepada Jimin, "Maafkan aku membuatmu harus mengalami ini semua di hidupmu."
Jimin balas memeluk Yoongi, menenggelamkan kepalanya di dada telanjang Yoongi yang bidang dan menangis, "Aku mencintaimu Yoongi."
Lelaki itu menghela napas panjang. "Aku juga Jimin, aku juga. Aku sudah tertidur lama. Tetapi kemudian aku merasakan kehadiranmu, keberadaanmulah yang membuatku bangun kembali... Aku ingin mencintaimu dan ingin memelukmu, membuatmu berada di sisiku selamanya..." Yoongi tampak sedih, "Tapi selalu ada Suga... Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai."
Mencintai Suga? Jimin mengernyit. Yoongi benar. Suga sangat sulit untuk dicintai.
Yoongi tersenyum melihat Jimin mengernyitkan matanya, "Kau sudah tahu semua dari Hoseok ya? Pembunuhan-pembunuhan itu... Aku menyesal Jimin, aku tidak berdaya mencegah Suga melakukan itu semua. Ketika aku sadar, kecelakaan yang menewaskan keluarga angkatku sudah terjadi, kecelakaan yang menewaskan Namjoon, ayahmu. Suga sudah bertindak terlalu jauh, dan itu sama saja aku melakukannya dengan tanganku sendiri."
Jimin menggenggam kedua tangan Yoongi erat-erat, "Tidak Yoongi, kau tidak bersalah. Kau tidak sadar ketika semua kejahatan itu terjadi."
Yoongi menghela napas, "Kadang-kadang aku merasa Suga membunuh hanya untuk menggangguku. Entah kenapa dia membenciku setengah mati. Tangan ini, entah berapa nyawa yang direnggut oleh tangan ini."
Jimin mengecup kedua tangan Yoongi yang berada dalam genggamannya, "Suga yang melakukannya Yoongi, bukan kau."
"Dan aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin satu-satunya jalan adalah aku harus mati. Itu akan menghentikan Suga juga."
"Tidak! Yoongi, jangan pikirkan itu, masih ada cara lain. Mungkin kau bisa berdamai dengan Suga." Tiba-tiba pikiran itu melintas di benak Jimin, kalau Yoongi dan Suga tidak bisa saling menghancurkan, bukankah jalan satu-satunya adalah berdamai? Dan Jimin tahu saat ini Suga ada di dalam, mendengarkan dan mengamati mereka dari sudut yang paling gelap. "Kalian bisa hidup berjalinan tanpa saling menyakiti."
"Bagaimana mungkin sayang. Tubuh ini hanya ada satu. Kami dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Kata 'damai' adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin kami lakukan."
Jimin menghela napas panjang, mungkin memang tampak sulit. Tetapi tidak bisa menutup kemungkinan bahwa itu bisa dilakukan bukan? Masalah satu-satunya adalah Suga sangat kejam, dengan insting membunuhnya yang luar biasa. Ketika dia meledak maka akibatnya sangat menakutkan. Seandainya saja Yoongi bisa menidurkan Suga.
Jimin mengerutkan keningnya, teringat akan kata-kata Suga kepada Yoongi. "Dia menanggung seluruh pukulan untukmu."
"Apa?"
"Suga, dia bilang dia menanggung seluruh pukulan untukmu."
"Maksudmu... Di masa kecilku?" kenangan itu muncul lagi di benak Yoongi, kenangan samar tetapi menyakitkan yang berusaha dimusnahkannya. Kenangan tentang ayahnya yang sangat pemarah dan terlalu disiplin. Yoongi kecil harus bisa memenuhi semua keinginannya, bisa berkuda, bisa berenang, melakukan semua hal yang disebutnya sebagai 'kegiatan laki-laki' tanpa mempedulikan bahwa Yoongi hanyalah seorang anak kecil.
"Suga bilang ayahmu sering memukulimu dengan tongkat, dan ibumu tidak membelamu..."
"Aku tidak punya ingatan tentang hal itu," Yoongi mengernyitkan kening, "Yang aku ingat adalah seringkali aku bangun di tempat tidur dengan punggung sakit dan bilur. Aku sering berpikir bahwa aku hilang ingatan..."
"Itu karena Suga mengambil alih tubuhmu. Ketika ayahmu memukulimu, dia muncul dan menjadi tamengmu. Membuatmu terlindung dalam ketidaksadaran yang hangat, dan kemudian menanggung pukulan-pukulan itu," Jimin menghela napas panjang, "Suga bilang dia tumbuh makin kuat seiring bertambahnya kemarahan dan kebencian terpendammu..." Jimin menatap Yoongi dengan serius, "Mungkin kau harus memaafkan ayahmu, dan dengan begitu Suga menghilang."
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan ayahku lagi." Memikirkan tentang ayahnya hanya menimbulkan kenangan buruk untuknya. Karena itulah Yoongi menghindarinya. Tetapi mungkin juga, itulah yang membuat kemarahan dan kebenciannya di masa kecil atas sikap jahat ayahnya terpendam dan tumbuh semakin dalam, menjadi bahan bakar untuk Suga agar semakin kuat. "Tetapi kau ada benarnya juga." Yoongi menghela napas panjang. Dia kemudian bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya, "Istirahatlah Jimin... Aku akan mencari Hoseok..."
"Hoseok..." Jimin menelan ludahnya."Dia membantuku melarikan diri, dan kemudian Suga mengetahuinya. Aku selalu bertanya-tanya, karena sepertinya tidak ada Hoseok di rumah ini. Tapi tentu saja aku tidak pasti karena aku dikurung di kamar ini... "Wajah Jimin tampak ragu, "Apakah menurutmu... Suga telah membunuh Hoseok?"
Yoongi tertegun. Hoseok adalah satu-satunya orang yang menghubungkannya dengan ikatan masa lalunya. Lelaki itu sudah menjadi pelayan di rumah ayah kandung Yoongi, bahkan sejak sebelum Yoongi dilahirkan. Kalau Suga membunuh Hoseok...
Yoongi mengusap rambut Jimin lembut, "Aku akan mencari tahu. Jangan cemas ya." Dikecupnya dahi Jimin dan melangkah pergi, ketika di pintu dia memutar tubuhnya, "Kau tidak akan dikurung di kamar ini Jimin."
Yoongi menemui Hoseok segera setelah mengetahui bahwa pelayan setianya itu berada di rumah sakit. Dia melangkah menuju kamar tempat Hoseok ditempatkan. Melihat beberapa penjaga berjaga di sana dan mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Kalian semua sudah tidak diperlukan lagi di sini. Pergilah."
Para pengawal itu semula tampak ragu dan saling berpandangan. Bukankah Tuan Yoongi sendiri yang menginstruksikan bahwa mereka tidak boleh pergi dari sini apa pun yang terjadi? Kenapa Tuan Yoongi berubah pikiran secepat itu?
Yoongi memasang ekspresinya yang paling dingin. "Pergilah. Jangan sampai aku mengulang perintahku untuk ketiga kalinya."
Para pengawal itu pun pergi dengan patuh. Yoongi membuka pintu kamar Hoseok dan mendapati Kai ada di dalam sana. Duduk dalam keheningan dan mengawasi Hoseok yang sedang terbaring tidur di atas ranjang rumah sakit.
Kai berdiri ketika melihatnya.
"Pergilah Kai." Yoongi memerintahkannya dengan dingin. Tahu pasti bahwa pegawainya yang satu ini lebih setia kepada Suga dibandingkan dirinya. Ketika Kai tidak bergeming, Yoongi menatapnya tajam, "Aku memang Yoongi bukan Suga, tetapi aku tetap atasanmu. Pergilah, Kai."
Kai hanya menganggukkan kepalanya, dalam hening dan langkah yang hampir tak terdengar suaranya, lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar Hoseok.
Setelah kamar itu sepi, Yoongi melangkah mendekati ranjang tempat Hoseok terbaring tidur, mengamati dengan sedih kedia lengan Hoseok yang di gips. Suga telah mematahkan kedua tangan Hoseok tanpa ampun. Lelaki itu benar-benar iblis. Yoongi menggertakkan bibirnya marah. Tetapi setidaknya Suga tidak membunuh Hoseok, dan tidak menyakiti keluarganya. Yoongi sudah mengecek tadi, keluarga Hoseok baik-baik saja, Suga sama sekali tidak pernah menyentuh mereka.
Hoseok rupanya menyadari bahwa dia sedang diawasi, lelaki itu membuka matanya, dan langsung waspada melihat siapa yang sedang berdiri di tepi ranjangnya.
"Aku Yoongi," Yoongi bergumam tenang, menyadari bahwa Hoseok masih mengira bahwa dia adalah Suga, "Aku kembali Hoseok."
Bibir Hoseok menganga kaget. Tetapi dia masih menatap Yoongi dengan curiga. Bisa saja lelaki yang ada di depannya ini adalah Suga yang tengah berpura-pura, bukankah biasanya begitu?
Yoongi menyadari tatapan curiga Hoseok dan tersenyum, "Kau boleh curiga Hoseok, tetapi aku benar-benar Yoongi, lagi pula apa untungnya Suga bersandiwara sebagai aku? Tidak ada untungnya buat dia."
Benar juga... Hoseok membatin. "Tuan Yoongi sudah kembali? Apakah Tuan Suga masih ada di dalam sana?"
Yoongi menganggukkan kepalanya, "Dia masih terasa kuat di dalam sini." Ditatapnya Hoseok dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Hoseok, membuatmu mengalami kesakitan mengerikan seperti ini."
"Tidak apa-apa tuan, lagi pula sepertinya ini setimpal buat saya, rencana saya untuk menyelamatkan nona Jimin malah mencelakakannya, saya salah memilih orang, tidak terbayangkan kalau Tuan Suga tidak datang dan menyelamatkan nona Jimin ketika itu."
"Tetapi Suga tetap tidak berhak mematahkan tanganmu seperti ini," Yoongi menghela napas panjang, "Keluargamu aman."
"Saya tahu, Tuan Suga mengatakannya kepada saya. Sebelumnya dia bilang bahwa dia sudah membakar anak, menantu dan cucu saya hidup-hidup... Saya… Saya pikir waktu itu sudah tidak ada gunanya lagi saya hidup." Hoseok meneteskan air mata, "Pada akhirnya Tuan Suga mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menyentuh keluarga saya, apa yang dia katakan waktu itu hanya untuk mempermainkan saya."
"Suga memang kejam, dia sangat suka mempermainkan emosi orang lain," Yoongi mengerutkan keningnya, "Jimin bilang Suga terbentuk dari emosi dan kebencianku di masa lalu karena kekejaman ayah kepadaku."
Hoseok mengenang masa lalu. Ayah Yoongi, Tuan Min, memang sangat kejam. Dia tidak segan-segan memukul siapa pun yang tidak bisa melakukan apa yang dia mau, tidak terkecuali anaknya yang masih kecil.
"Jimin bilang Suga yang menanggung pukulan-pukulan ayah terhadapku... Benarkah itu Hoseok? Yang ada diingatanku hanyalah ingatan samar, bahkan aku sering terbangun dengan luka di punggungku, sudah diobati olehmu."
Hoseok menganggukkan kepalanya, "Pertama kali saya merasakan ada sesuatu yang berbeda adalah ketika saya menatap mata anda, ketika itu ayah anda sedang memukuli anda dengan tongkat. Anak kecil lain pasti akan menangis dan berteriak-teriak dipukuli seperti itu. Tetapi anda hanya diam dan menantang tatapan ayah anda, hal itu membuat ayah anda semakin marah dan semakin keras memukuli anda... Saya menatap mata anda dan ada sinar di sana. Sinar yang tidak saya kenali... Anda tahu, saya sudah bersama anda dari kecil," Hoseok menghela napas panjang, "Kemudian ketika ayah anda selesai, saya membawa anda ke kamar dan mengobati anda. Anda masih tetap diam... Sehingga saya takut anda terlalu shock untuk bicara, saya memanggil nama anda. Tetapi kemudian anda menjawab dengan dingin, anda bilang anda tidak mau dipanggil dengan nama Yoongi, anda mau dipanggil dengan nama Suga," Hoseok menatap Yoongi, saya pikir waktu itu anda sedang mengigau... Tetapi kemudian banyak kejadian aneh, hewan-hewan mulai mati, dua anjing pitt bull milik ayah anda, yang sangat disayanginya ditemukan mati dengan bagian dalam tubuh terburai, beberapa kali kami menemukan bangkai kelinci di kebun kondisinya dimutilasi tak kalah mengenaskan... Sampai akhirnya saya sendiri yang menemukan anda sedang mencongkel mata kelinci itu dari tubuhnya. Saya begitu terkejut dan berusaha memanggil anda untuk menghentikan perbuatan anda, tetapi anda menolehkan kepala dan tersenyum yang bagi saya cukup menakutkan, padahal waktu itu anda hanyalah seorang anak kecil... Anda bilang 'Hai Hoseok, kita bertemu lagi' dan saya langsung menyadari bahwa anda sudah berubah menjadi Tuan Suga, bahwa sosok bernama Suga itu benar-benar ada di dalam diri anda."
Yoongi menatap Hoseok dalam-dalam, sedikit terkejut. Hoseok tidak pernah menceritakan semua ini kepadanya sebelumnya. Ternyata Suga menjadi begitu jahat karena seluruh dendam, ketakutan, kemarahan dirinya waktu kecil ditenggelamkannya dalam-dalam, ditolaknya, dan itu kemudian memisahkan diri dan membentuk kepribadian sendiri bernama Suga.
"Jimin bilang kalau aku bisa membuang kemarahanku kepada ayahku, maka Suga akan menjadi lemah. Masalahnya aku bahkan tidak ingat perlakukan buruk ayahku. Aku memang
membencinya, tetapi aku tidak menyipan dendam dan kemarahan kepadanya."
Hoseok menganggukkan kepalanya, "Yang paling menerima perlakukan buruk ayah anda, adalah Tuan Suga. Kalau ada yang harus menghilangkan dendam dan kemarahannya, itu adalah Tuan Suga."
"Dan dia tidak akan mau menghilangkan kemarahannya. Kemarahan, kebencian, dan dendam sudah menjadi kekuatannya... Aku memang tidak akan bisa melenyapkannya dari dalam diriku." Yoongi mengacak rambutnya frustrasi, "Apakah menurutmu aku gila Hoseok? Apakah aku harus masuk ke rumah sakit jiwa?"
"Tuan Suga mungkin sakit jiwa, tetapi anda tidak."
"Tetapi kami adalah satu," Yoongi menghembuskan napasnya, "Dia gila maka aku gila. Dia membunuh maka tanganku juga berdarah..." mata Yoongi memancarkan tekad, "Kalau aku lenyap, maka Suga juga akan lenyap. Mungkin itu satu-satunya cara."
"Apa maksud anda?" Hoseok menatap Yoongi cemas, "Anda tidak akan melukai diri anda sendiri kan? Tolong katakan anda tidak akan melakukannya."
"Aku muak hidup dengan membawa darah orang-orang tak bersalah yang menjadi korban Suga di tanganku..." Yoongi menatap tangannya sendiri, "Mungkin lebih baik bagi semua orang kalau kami berdua lenyap. Saat ini aku sedang kuat... Jadi aku bisa mengambil keputusan itu tanpa Suga bisa berbuat apa-apa. Kalau nanti Suga sudah mengambil alih tubuh ini, semuanya akan terlambat."
"Anda tidak boleh melakukannya. Bagaimana dengan nona Jimin?"
"Jimin akan baik-baik saja tanpaku. Hidupnya lebih berbahaya kalau aku ada di sampingnya, Suga bisa muncul kapan saja dan siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Suga kepada Jimin nanti." Yoongi menatap Hoseok dengan pandangan lurus, "Apa pun yang terjadi kepadaku nanti, aku ingin kau menjadi pelayan Jimin yang setia dan menjaganya."
"Tuan Yoongi..."
"Semoga kau lekas sembuh Hoseok, aku akan menghubungi dokter, kau akan mendapatkan fasilitas yang terbaik sehingga kesembuhanmu sempurna." Yoongi beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak mempedulikan Hoseok yang memanggil-manggilnya, mencoba membuatnya mencegah pikirannya.
Yoongi terus melangka menujuk koridor dengan tekad yang bulat. Dia harus melenyapkan dirinya sendiri. Itulah satu-satunya cara dia bisa melenyapkan Suga.
Bayangan Jimin berkelebat di benaknya. Membuat dadanya sakit. Seandainya saja keadaan normal, Yoongi mungkin bisa bersatu dengan Jimin, menjadi pasangan bahagia. Sayangnya keadaan mereka berbeda.
"Kau terlalu pengecut untuk bunuh diri." Suga mengguman mengejek niat Yoongi. Tentu saja dia tahu apa yang ada di benak Yoongi, mereka satu bukan?
"Diam." Yoongi mencoba menghentikan bisikan Suga yang mengganggu. Dia harus membulatkan tekad.
"Memangnya kau mau bunuh diri memakai apa? Menusuk dirimu dengan pisau? Menembak kepalamu? Atau memilih cara pengecut dengan meminum obat?" Suga tidak mau menyerah. Dia terus saja berbicara. "Kau akan rugi kalau bunuh diri dan mematikan kita berdua, Yoongi."
"Hah. Aku tidak rugi apa-apa. Kau ketakutan bukan Suga?" Yoongi terkekeh. "Kau takut aku bunuh diri dan membunuhmu juga, dan kau saat ini tidak punya kekuatan apa-apa untuk mencegahku."
"Bagaimana dengan Jimin?" Suga mengeluarkan senjatanya. "Dia mencintaimu."
"Dia akan lebih baik tanpaku." Yoongi menggumam tegas. "Kalau dia ada di dekatku dia juga ada di dekatmu, aku tidak akan membahayakan Jimin dengan kehadiranmu."
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Yoongi mengernyitkan dahinya.
"Masuk."
Pintu terbuka sedikit, dan Jimin menengokkan kepalanya sedikit, "Yoongi? Apakah kau sibuk? Bolehkah aku masuk?"
"Masuklah Jimin," Yoongi tersenyum, "Ada apa? Kupikir kau masih tidur di kamarmu, aku tidak mau mengganggumu," Yoongi mengernyit melihat ekspresi Jimin, gadis itu tampak pucat pasi, "Kenapa sayang? Ada apa?"
Jimin menatap Yoongi bingung, "Aku bingung akan mengatakannya kepadamu atau tidak.
Tetapi aku juga tidak bisa menyimpannya sendiri."
"Kenapa Jimin?" Yoongi mulai cemas.
"Aku..." Jimin menghela napas panjang, "Maafkan aku Yoongi... Sepertinya... Sepertinya aku hamil."
-to be continued
double updates (lagi) readers-nim yeeaayy! oh iya, disini ada yg #teamyoonmin / #teamminyoon atau pair bangtan yg lain? Spam di komen yaaa, terbanyak vote aku bakal bikin ff tentang pair mereka kkk. kuylah vote vote vote xd. oh iya jangan lupa vote bangtan di bbma ya~ annyeong~~
