Chapter 10 : I'M WALKING AWAY FROM YOUR LIFE

Title : That's Should Be Mine

Author : Davidrd

Pairing : Meanie

Genre : Angst, drama, romance

Note : Akhirnya ada hari libur, yey bisa update chapter ini. Ini update-an chapter 10 chingudeul. Makasih dah baca, dan silakan tinggalin komen kalau mau, kalau kagak mau author paksa lho (todong-todong pake piso dapur). Maaf kalo ada tipo, soalnya autor males ngedit…

Happy reading aja dah!

.

.

Mingyu POV

Aku duduk di lantai rumah sakit bersandar pada dinding yang dingin dan keras. Aku tidak memerhatikan suasana sekelilingku karena pandanganku hanya terfokus pada pintu ruang emergency yang masih tertutup rapat. Kubawa tanganku ke wajah untuk menutupi ekspresi frustasiku. Aku menunduk dan kubiarkan mataku memandang keramik lantai rumah sakit yang memantulkan bayangan wajahku. Kulihat dalam bayangan itu wajah iblis yang siap menebarkan benih kejahatan dan menyebarkan kesengsaraan.

Samar-samar aku mendengar tangis Jihoon hyung yang sudah berhenti serta obrolan beberapa orang di dekatku, mungkin Seokmin, Jun, atau siapapun. Kuperhatikan kedua tanganku, tangan yang telah menyiksa pemuda tidak bersalah yang sekarang terbaring di balik pintu itu. Tangan yang telah menyakitinya, telah memaksanya melakukan perbuatan yang tidak ia sukai, telah menorehkan luka di jiwa dan raganya. Tangan ini, seharusnya lenyap dari muka bumi ini. Ah, ani, seharusnya seluruh tubuh ini hilang dan masuk ke neraka. Oh God, bahkan neraka masih terlalu bagus untukku.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Wonwoo, pemuda itu. Dia tersenyum sangat manis walaupun dia sedikit gugup karena itu adalah pertama kalinya ia menyapa senior di perusahaan. Senyumnya, ya senyum itu selalu terbayang di ingatanku tiap kali aku bertemu dengan Wonwoo. Dia pemuda polos yang selalu tersenyum walaupun selalu kubalas dengan ekspresi tidak senang. Dia selalu berusaha menyapaku walaupun tidak pernah sekalipun kubalas sapaannya.

Wonwoo, Jeon Wonwoo, kenapa aku harus bertemu dengan orang sepertimu di dunia ini? Tanpamu saja hidupku sudah tak berharga, kenapa kau juga membuatku semakin tidak berharga? Kenapa kau membuatku menjadi orang jahat? Kenapa ada orang sebaik dirimu yang harus tersakiti oleh orang sepertiku? Kenapa dan kenapa kau telah membuatku jatuh cinta padamu? Kenapa kau membiarkan aku mencintaimu Wonwoo-ya?

Krekkk

Suara pintu ruang emergency terbuka langsung saja mengalihkan perhatianku. Aku yang terduduk segera berdiri dan menatap seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan. Soonyoung dan Seokmin berjalan pelan menuju sang dokter dan bertanya tentang sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas dari tempatku berdiri. Yang kutahu hanya sahabatku dan pemuda berambut blonde itu mengangguk beberapa kali dan menatap ke arahku sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?

Setelah beberapa saat, sang dokter pergi meninggalkan kami semua menuju ruangannya. Soonyoung akhirnya berkata,"Wonwoo sudah sadar sekarang, ia ingin bertemu dengan Mingyu," ucapnya membuat semua orang yang ada di tempat itu menatap tajam ke arahku. Aku sendiri pun kaget karena Wonwoo ingin menemuiku.

"Mingyu-ya, Wonwoo ingin bicara berdua denganmu," sekali lagi Soonyoung berkata.

"Yah, tidak seharusnya Wonwoo bertemu lagi dengan bajingan ini," Jihoon berteriak seraya mengarahkan telunjuknya dengan marah padaku.

"Babe, sabar sedikit. Wonwoo yang meminta hal itu. Dia sudah dewasa, biarkan dia melakukan apapun yang ia suka selama kita masih bisa mengawasinya," dengan tenang Soonyoung berusaha menenangkan kekasihnya yang sedikit-sedikit meledak.

"Kau ingat apa yang sudah dilakukannya pada Wonwoo? Dia sudah terlalu banyak menyakitinya. Dia seharusnya masuk penjara karena perbuatannya. Kita sudah salah memberinya kesempatan untuk berubah," Jihoon berusaha memberontak dari pelukan Soonyoung.

Jun dan Minghao yang sama sekali tidak tahu tentang apapun yang terjadi sedikit terlonjak mendengar pernyataan Jihoon mengenai aku yang seharusnya ada di penjara. Mereka bingung tindakan apa yang sebenarnya telah kulakukan sehingga Jihoon bisa sebegitu marah dan bencinya padaku.

"Jihoon, biarkan dulu Mingyu bertemu dengan Wonwoo. Lagipula, kalau terjadi apa-apa kita semua ada di sini. Kita bisa bertindak cepat kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," Jisoo yang berdiri tidak jauh dari Seokmin mencoba memberikan solusi.

"Hyung, kau akan membiarkan begitu saja bajingan tengik pemerkosa ini untuk kembali bertemu dengan Wonwoo?" mata Jihoon membelalak saking marahnya.

"Pemerkosa?" Junhui tanpa sadar keceplosan mengatakan apa yang barusan didengarnya. Oke, sekarang aku sudah tidak perlu menjelaskan pada Junhui dan Minghao. Mereka sudah tahu siapa aku. Mereka sudah tahu seberapa bajingan aku ini.

"Tenanglah hyung, kalau kau memang tidak ingin aku menemui Wonwoo aku akan mengikuti kemauanmu. Aku yakin itu ide yang terbaik," kupaksakan seulas senyum getir untuk menenangkan hatiku yang rasanya hancur berkeping-keping.

"Bagus kalau kau sadar bajingan!"

"Sebaiknya aku pergi sekarang," aku menunduk pada mereka dan berjalan menjauh dari tempat itu. Langkahku terhenti saat kurasakan Seokmin mencegah kepergianku.

"Gyu, dia ingin bertemu denganmu. I know, semua yang telah kau lakukan padanya telah membuatnya seperti ini, tapi dia hanya ingin bertemu denganmu. Dia terus-terusan mengigaukan namamu ketika dokter sedang memeriksanya."

Dengan halus kulepaskan tangan Seokmin yang memegang lenganku,"Seok, sorry aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku hanya akan membuatnya trauma seumur hidup."

"Tapi Gyu-."

"Seok, dia sudah ingat semuanya. Jadi, tak ada gunanya aku menemuinya. Akan lebih baik jika aku pergi dari hadapannya dan tidak pernah muncul lagi untuk selamanya," dengan tenang aku memberanikan berbicara sambil menatap mata sahabatku yang penuh dengan kekhawatiran.

"Gyu listen to me! Pasti ada sesuatu yang ingin Wonwoo katakan sehingga ia mencarimu, temui saja dulu di-."

"I'm going now," kutinggalkan semuanya yang hanya bisa diam tak bergerak.

Tanpa memandang ke belakang lagi aku berjalan meninggalkan rumah sakit. Kulajukan mobilku ke apartemenku yang sudah beberapa hari ini kutinggalkan. Sesaat setelah memasuki apartemen tubuhku roboh dengan sendirinya. Aku menangis di balik pintu. Dadaku terasa begitu sesak dan penuh sehingga rasanya hampir meledak. Kucengkeram pakaian yang kukenakan tepat di dada seolah berusaha mengurangi rasa sakit yang kurasakan.

.

.

Malam ini adalah malam yang penting karena aku akan melepaskan semua keinginan dan cita-citaku selama ini. Kutatap cermin di kamarku dengan percaya diri setelah yakin bahwa penampilanku sudah cukup sopan. Kusambar jaket dan kunci mobil yang tergeletak di atas tempat tidur, tak lupa sepucuk surat yang sudah kupersiapkan sejak aku bangkit dari depan pintu apartemen.

Sebelum meninggalkan apartemen yang sudah lama kutempati ini, kuletakkan sepucuk surat lain yang kutulis dengan asal-asalan karena tidak banyaknya waktu yang kumiliki di meja kopi, tempat favoritku dan Seokmin untuk mengobrol. Aku harap dia akan menemukannya di sana, jika tidak pun tak apa. Kulihat sekali lagi semua benda bersejarah dalam hidupku itu dan aku mendesah pelan mengingat bahwa aku akan meninggalkan segalanya.

Lampu-lampu di sepanjang jalan yang kulewati bersinar terang menampakkan keindahan kota Seoul. Sambil menyetir, kuhirup udara kota Seoul untuk terakhir kalinya. Pemandangan yang mungkin tak akan pernah kutemui lagi seumur hidup, orang-orang yang mungkin tak akan atau lebih tepatnya tak ingin kujumpai lagi seumur hidup, serta semua kejadian yang ingin kutinggalkan untuk selama-lamanya. Aku tak tahu apa aku bisa terus bertahan hidup jika aku terus ada di sini, dekat dengan orang yang kucintai, namun juga orang yang telah kusakiti.

Dari jauh sudah terlihat restoran tempat aku dan Seongsu hyung janji untuk bertemu. Bos ku itu tidak tahu kenapa aku tiba-tiba meneleponnya malam-malam dan memintanya untuk bertemu. Walaupun ia tidak tahu, tapi ia akan senang ketika dia sudah mengetahui alasannya. Dia akan senang karena di perusahaannya sudah tidak akan ada lagi troublemaker yang bisa menghancurkan masa depan perusahaan.

"Mingyu-ya!" Seongsu hyung melambaikan tangannya menandakan posisinya berada.

Sambil tersenyum kecil aku berjalan mendekati bosku yang sudah kuanggap seperti kakak dan ayahku sendiri, walaupun ia tidak pernah menyukai tindak-tandukku dan selalu mengomeliku setiap saat kami bertemu.

"Hyung, maaf sudah membuatmu menunggu," aku mengambil tempat duduk di hadapannya dan segera saja kukeluarkan surat yang sudah bersarang dengan manis di saku jaketku.

"Apa ini?" dengan bingung Seongsu hyung menatap pada amplop yang barusan kuletakkan dan memandangku seolah tak percaya.

"Aku mengundurkan diri hyung," dengan tenang aku menyodorkan surat itu ke arahnya.

"What? You must be kidding me?" masih tidak percaya Seongsu hyung menarik tubuhnya yang tadinya menempel di sandaran kursi menjadi tegak Sembilan puluh derajat.

"Hyung, I should go. Aku sudah membuat banyak kekacauan dan keributan, juga sudah membuat pamor perusahaan rusak. Aku sudah tidak pantas ada di perusahaan lebih lama lagi. Menjadi model bukan jalanku hyung, dan aku tidak akan pernah menemukan jalan untuk kembali menjadi model hyung."

"Hey, hey pelan-pelan. Apa kau serius mau keluar?"

"Ne hyung. Terima kasih karena selama ini telah memberikan aku kesempatan untuk menjadi salah satu model di perusahaanmu. Kau sudah memberikan aku keajaiban untuk menjajal impianku, walaupun itu tidak selamanya."

"Gyu, apa kau masih marah mengenai pemilihan model utama itu?"

"Ani hyung. Aku tahu aku tidak pantas untuk menjadi model utama itu, jadi tidak ada yang bisa kulakukan hyung. Tapi yang pasti aku akan mendukung dan mendoakan semoga acara kali ini sukses."

"Gyu, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kau datang padaku dengan muka serius dan perkataan yang menakutkan seperti itu? Apa kau baik-baik saja?" Seongsu hyung berusaha menempelkan punggung tangannya ke dahiku untuk mengecek apakah aku sakit atau tidak, namun kutepis dengan pelan.

"Hyung, aku tidak sakit. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik. Belum pernah aku merasa sebaik ini dalam hidupku," sekali lagi aku berusaha meyakinkan bos ku, yang sebentar lagi akan menjadi mantan bosku.

"Ehem, baiklah. Aku tahu, pasti ini urusan dengan keluargamu?" Seongsu hyung menjentikkan jarinya seolah menemukan ide mengenai apa yang terjadi padaku.

"Tidak ada hubungannya dengan itu hyung."

"Lalu apa?" bosku yang masih sering bersikap kekanak-kanakan itu mengacak-acak rambutnya frustasi dengan sikapku.

"Bukan sesuatu yang harus kau ketahui hyung," tatapanku berhenti pada jam yang tertempel di dinding restoran. Sudah saatnya,"Hyung, aku harus pergi sekarang. Terima kasih kau sudah menyempatkan waktu menemuiku malam ini. Juga terima kasih karena telah memberikan kebahagiaan padaku. Kamsahamnida," aku membungkuk sekali lagi dan pergi meninggalkan bosku yang tidak percaya dengan kepergianku.

"YAH KIM MINGYU! JELASKAN DULU KENAPA KAU PERGI!1 YAH! KENAPA KAU TINGGALKAN AKU SENDIRI?"

"Oya hyung, tolong tidak memberitahukan orang di perusahaan kalau aku mengundurkan diri. Aku mohon hyung," ucapku dari pintu restoran.

"YAH! KEMBALI KESINI KAU!"

"Hyung, saranghae!"

End of Mingyu POV

.

.

Wonwoo POV

Aku menanti dengan cemas kedatangan Mingyu ke dalam ruangan, tetapi tidak ada tanda-tanda seniorku akan datang. Beberapa saat yang lalu aku mendengar suara ribut-ribut, tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Aku hanya bisa mendesah dan kembali menatap pada pintu ruangan yang tidak kunjung terbuka.

Sepuluh menit berlalu dan pintu kamar terbuka, hanya saja orang yang masuk bukanlah orang yang ingin kutemui sekarang. Ya, mungkin aku ingin menemui orang itu, tapi sekarang prioritasku adalah bertemu dengan Kim Mingyu. Aku ingin menanyakan padanya kenapa ia berbohong padaku. Aku ingin marah padanya karena ia telah membuat jantungku terus berdebar memikirkannya. Aku ingin menanyakan padanya apakah yang ia katakan di bianglala semuanya benar dan bukan karena dia berbohong padaku yang sedang lupa ingatan. Aku menginginkan semua jawaban itu.

"Woo, kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja?" Jihoon yang jelas-jelas sangat khawatir mendekati tempatku terbaring.

"Jihoon-ah, mana Mingyu?"

Jihoon terperanjat mendengar aku benar-benar ingin bertemu dengan Mingyu.

"Woo, Mingyu-."

"Mingyu sedang keluar sebentar. Kenapa kau mencarinya Wonwoo-ya?" Soonyoung yang menyerobot perkataan Jihoon segera mendekati kekasihnya.

"Soonyoung-ah, kalau Mingyu sudah kembali, tolong katakan padanya untuk segera menemuiku. Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya," aku memohon dengan sangat agar kedua sahabatku bisa menyampaikan pesanku.

"Tentu Wonwoo. Oya, ada banyak orang yang ingin bertemu denganmu. Bolehkah mereka masuk?" Soonyoung dengan tenang berkata.

"Tentu," ucapku sambil mengangguk.

Junhui, Seokmin, Jisoo, dan Minghao masuk ke dalam kamar dan mereka segera menanyakan keadaanku. Aku hanya bisa mengatakan kalau aku baik-baik saja dan tidak terluka di manapun. Dokter juga mengatakan bahwa fisikku sehat dan aku hanya perlu beristirahat sejenak.

.

.

Aku terus menunggu dan menunggu kedatangan Mingyu beberapa hari kemudian, tetapi tidak ada kabar sama sekali. Hari ini aku keluar dari rumah sakit dijemput oleh Seokmin dan Jisoo hyung karena Soonyoung dan Jihoon sedang sibuk mempersiapkan lagu untuk debut sebuah grup baru.

"Seokmin-ah, Jisoo hyung, kenapa Mingyu tidak ikut?" aku menatap kedua sahabat Mingyu meminta jawaban yang pasti dari mereka.

"Hyung, Mingyu ada urusan mendadak di luar kota. Mungkin untuk beberapa hari ini dia tidak bisa menemuimu," Seokmin yang membawa tas berisi pakaianku menjawab pertanyaanku singkat.

"Woo, bagaimana kalau kita makan siang sekarang?" Jisoo mengalihkan topik pembicaraan.

"Eh? Baiklah." Jisoo melonjak bahagia kemudian mengeratkan gandengan lengannya di lenganku,"Kaja," ucapnya seperti anak kecil yang baru saja mendengar bahwa ia akan diberi permen.

Sudah satu minggu lebih aku keluar dari rumah sakit dan aku sudah kembali ke perusahaan karena acara fashion show tinggal menghitung hari. Terkadang aku lupa pada Mingyu karena jadwal latihan yang padat dan kesibukanku untuk mengurus berbagai macam hal. Namun, di saat aku sedang tidak melakukan apa-apa aku teringat pada Mingyu. Apa benar ia hanya pergi beberapa hari ke luar kota? Kalau benar, seharusnya dia sudah kembali karena dia juga turut andil dalam acara fashion show kali ini.

Beberapa kali aku bertemu dengan Junhui, tapi dia terlihat sendirian, dan kalaupun berdua dia pasti bersama Minghao. Aku sempat menanyakan kepada beberapa orang yang bekerja di perusahaan, termasuk beberapa fotografer dan make up artist, tetapi mereka tidak tahu kemana Mingyu pergi. Selain itu, tiap kali aku berusaha menanyakan tentang seniorku itu, semua orang akan mengganti topik pembicaraan. Apa yang sebenarnya terjadi.

Aku berbaring malas-malasan di tempat tidurku sambil mendengarkan musik. Di luar rintik-rintik hujan membasahi bumi membuat kebanyakan orang memilih untuk berteduh di dalam rumah, begitu juga denganku. Hari ini adalah H-2 fashion show dan perusahaan memberikan tenggang waktu untuk beristirahat. Jadi, di sinilah aku berada menghabiskan waktu istirahatku.

Kuambil handphone yang tergeletak di atas meja dan kutekan nomer yang sudah ratusan kali kutekan. Suara di seberang sana kembali menyatakan kalau nomer yang kutuju tidak aktif. Karena frustasi aku menelungkupkan kedua telapak tanganku ke telinga dan kupejamkan mata.

"Wonwoo, Jeon Wonwoo?" suara itu.

Aku membuka mata dan kulihat Mingyu ada di pintu masuk kamarku. Dia mengenakan kemeja putih yang tiga kancing teratasnya terbuka menunjukkan dada bidangnya yang seksi. Aku terpana karena Mingyu hanya berdiri di sana dan dia menunjukkan senyuman yang jarang sekali kulihat.

"Gyu, kenapa kau berdiri di sana?" karena penasaran kuberanikan untuk bertanya.

"Wae? Kau mau aku ada dimana?" dia menyilangkan lengannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelahnya. Dia benar-benar terlihat gagah dan keren seperti itu.

"Gyu, kenapa teleponmu tidak aktif?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak kemana-mana Woo, aku selalu ada di sini," dia menarik kedua lengannya dan memasukkannya ke saku celana sambil berjalan perlahan ke arahku.

"Wae?" dia bertanya padaku yang terpaku di atas tempat tidur.

"Gyu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucapku saat pemuda yang kurindukan itu sudah ada di tepian tempat tidur dan memandangiku dengan tatapan lembutnya.

"Katakan saja," sekarang dia duduk di tepian tempat tidur berhadapan denganku.

"Gyu, kenapa kau melakukan semuanya? Aku tahu tentang fashion show itu, tapi kenapa kau harus menurutiku ketika aku hilang ingatan dan menyangka kau adalah pacarku? Kenapa kau harus mau berpura-pura menjadi pacarku Gyu? Kenapa kau lakukan itu semua?"

"Woo," dia meraih tanganku yang tadinya berada di pangkuanku dan mendekatkannya ke arah dadanya,"Aku benar-benar menyukaimu Jeon Wonwoo," ucapnya seraya mengecup lembut punggung tanganku membuat wajahku memerah.

"Gyu, tapi-," dia meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirku membuatku terdiam.

"Maaf karena aku telah menyakitimu, tapi aku benar-benar mencintaimu," mataku terbelalak mendengar pengakuannya.

Saking terpananya dengan pengakuan dari seniorku ini, aku tidak sadar kalau tangan nya sudah memegang daguku dan kami berduapun berciuman. Reflek aku langsung menutup mata dan membiarkan ia menciumku. Aku tahu, perasaanku sudah mengalah dan aku tahu kenapa selama ini aku masih saja mau ada di sisinya walaupun ia telah menyakitiku. Aku teringat seks terakhir yang kami lakukan. Mingyu yang ada di hadapanku sekarang sama dengan waktu itu.

Dia menciumku mesra dan untuk mendekatkan tubuh kami aku mengalungkan lenganku di lehernya sedangkan Mingyu melingkarkan lengannya di pinggangku. Bibir kami saling bertaut membuatku melayang, namun tiba-tiba sesuatu yang basah membasahi pipiku. Kubuka mata perlahan dan kudapati Mingyu menangis di sela-sela menciumku. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi.

"Gyu," aku berhenti dan menatapnya penuh arti.

"Wonwoo hyung, mianhae. Aku tidak pantas untukmu. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Aku harus pergi jauh darimu," Mingyu membuat aku semakin bingung.

"Gyu, it's okay. Aku sudah memaafkan semuanya," aku mencoba menenangkan dan menghapus airmata yang mengalir di pipi Mingyu.

Beberapa saat kemudian hal yang aneh terjadi, Mingyu yang ada di hadapanku tiba-tiba saja terasa menjauh dariku. Semakin jauh dan jauh membuatku harus mengulurkan tangan untuk menggapainya. Semakin lama aku tidak bisa menggapainya dan hal itu membuatku semakin frustasi dan berteriak,"GYU! MINGYU, KIM MINGYU DON'T LEAVE ME! PLEASE I BEG YOU!"

Aku terbangun di ruangan yang kukenali sebagai tempat tidurku. Apakah aku bermimpi barusan? Tapi bagaimana bisa? Aku merasa jika bibir Mingyu terasa begitu nyata di bibirku. Kulihat sekeliling dan sepertinya memang tidak ada tanda-tanda orang masuk ke kamarku. Kuraba tubuhku dan kurasakan sekujur tubuhku basah oleh keringat, padahal udara cukup dingin ditambah di luar sedang hujan lebat, jadi bagaimana bisa tubuhku berkeringat sebanyak ini.

.

.

Hari ini hari besarku. Hari dimana fashion show terbesar tahun ini akan membuktikan pada dunia jika aku merupakan seorang model berbakat. Beberapa orang yang kukenal duduk di kursi baris kedua dari panggung. Perasaan gugup dan canggung mulai menghinggapiku, namun segera kutepis dengan beberapa pikiran positif bahwa acara ini akan berjalan dengan lancar. Kuluhat sekelilingku beberapa model sedang mempersiapkan pakaian mereka dan kulihat model wanita yang akan menjadi pasanganku di acara ini.

Junhui yang juga turut serta dalam acara ini berjalan hilir mudik untuk memastikan bahwa ia tidak melupakan bagiannya di panggung nanti. Minghao yang kebetulan datang untuk memberinya semangat hanya bisa tersenyum dan duduk dengan tenang sambil memperhatikan kekasihnya itu bersiap-siap. Aku sangat iri pada Junhui, karena aku berharap Mingyu ada di sini dan menyaksikan aksiku. Tapi, aku rasa Mingyu tidak akan senang karena perannya sudah direbut olehku. Dia pasti masih sangat membenciku karena hal itu.

"Semuanya bersiap di tempat kalian. Kita akan mulai setelah hitungan ke sepuluh," Jonghyun hyung memberikan aba-aba agar kami mulai menempati posisi kami.

Acara fashion show ini adalah puncak acara setelah sebelumnya kami melakukan pemotretan untuk beberapa majalah ternama dan wawancara dengan beberapa media. Aku berdiri di samping model pasanganku ini dan mulai kupasang ekspresi serius.

Satu persatu model keluar menuju panggung dan berjalan dengan anggun di catwalk. Ketika giliranku tiba, aku bisa melihat dari ekor mataku bahwa kedua orangtuaku datang, Jihoon dan Soonyoung serta Seokmin dan Jisoo hyung juga datang. Mereka semua duduk dalam satu barisan dan tersenyum bangga padaku, kecuali Seokmin. Ketika tiba di ujung catwalk dan setelah berpose beberapa saat aku kembali ke belakang panggung untuk berganti pakaian. Aku masih saja memikirkan apa yang menyebabkan Seokmin memasang ekspresi seriusnya barusan.

Setelah berganti pakaian sebanyak lima kali, akhirnya aku dan pasanganku mengakhiri pertunjukan dengan penampilan kami bersama. Aku hampir saja lupa akan apa yang harus kulakukan di atas panggung karena sibuk memikirkan Seokmin. Pertunjukan ditutup dengan adegan berpegangan tangan dan saling menempelkan dahi dengan pasanganku itu selama beberapa menit. Aku ingin adegan ini segera berakhir karena aku takut Mingyu akan menontonnya. Aku tidak ingin membuatnya cemburu. Hm, apakah ia akan cemburu kalau aku melakukan ini. Wonwoo-ya sadar kau bukan siapa-siapanya. Dia hanya mengikuti permainanmu ketika kau lupa ingatan, dan sekarang kau sudah sembuh, jadi dia sudah tak ada urusan denganmu.

Riuhnya tepuk tangan dan berhentinya musik menandakan selesai pertunjukan. Aku bisa bernapas lega sekarang. Saatnya membungkuk dan memberikan ucapan terima kasih pada penonton kemudian kembali ke belakang panggung. Di belakang panggung aku langsung disambut hangat oleh Seongsu hyung yang langsung memelukku dan mengucapkan selamat karena pertunjukan kali ini sukses besar. Beberapa model lainnya dan juga para staff termasuk Jonghyun hyung dan Baekho hyung menyalamiku.

Begitu juga halnya dengan Junhui yang memelukku dan berbisik di telingaku,"Mingyu pasti bangga padamu."

Selesai acara aku berganti pakaian dan keluar untuk menemui keluarga dan teman-temanku. Sebelum aku sempat menyapa mereka, Seokmin menarik dan membawaku ke salah satu ruangan yang tidak terkunci.

"Seokmin-ah, waegurae?"

Dia melepaskan genggamannya di lenganku dan segera merogoh sesuatu di saku jaketnya. Dikeluarkannya sebuah amplop yang langsung disodorkannya ke arahku.

"Bacalah Hyung!"

Kuambil amplop itu dengan ragu, kemudian kubuka isinya. Kubuka lipatan kertas yang sepertinya dilipat dengan buru-buru.

Dear Seokmin my bestfriend ever,

Thanks karena selama ini kau telah menjadi sahabat terbaikku, baik dalam keadaan senang maupun susah. Aku sudah membuatmu terlalu pusing karena mengurusi perilakuku yang berandalan ini. Kau tahu, kau akan selamanya menjadi sahabatku yang paling berharga, kapanpun dan dimanapun.

Aku hanya berharap agar suatu saat kita bisa bertemu lagi walaupun aku tidak tahu kapan itu bisa terjadi. Aku harus pergi, pergi dari semua orang. Aku telah melakukan banyak dosa dan tidak mungkin Tuhan akan mengampuniku karena itu. Tenang, tenang, kau tidak berpikiran aku akan bunuh diri kan Seok? Sampai surat ini ada di tanganmu, aku rasa aku masih hidup dan bernapas di suatu tempat.

Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini Seok, orangtua (aku rasa mereka akan membunuhku kalau mereka tahu anaknya gay, jadi lebih baik aku kabur), kekasih (kurasa tidak ada orang yang mau menjadi kekasihku, hahaha I'm a fucker so no one will come and stay by my side forever) ataupun yang lain. Yang kumiliki hanya kau Seok. Orang yang bisa kupercaya dan akan selalu begitu. Oya, aku minta tolong satu hal padamu. Tolong jaga Wonwoo dengan baik. Anggap dia hyungmu dan sayangilah dia. Aku tahu kau sangat marah saat mengetahui apa yang kuperbuat padanya, apalagi saat kemarin ia masuk rumah sakit. Tolong juga mintakan maafku padanya, karena mungkin aku tidak bisa memintanya langsung.

Seok, tolong jagalah dia. Jangan biarkan siapapun menyakitinya lagi, bahkan termasuk aku sekalipun. Dia terlalu berharga untuk disakiti. Dia seharusnya mendapatkan yang terbaik.

Aku harus pergi sekarang, salam untuk Jisoo hyung. Aku akan selalu mendoakan agar kalian berdua bahagia.

Bye, your bestfriend

Kim Mingyu….^^

Aku menatap tidak percaya pada kertas di tanganku. Mingyu, dia pergi.

"Wonwoo hyung, si bodoh itu, dia mencintaimu," Seokmin meletakkan tangannya di pundakku membuatku hanya bisa menangis bodoh.

RnR chingudeul…