TIGA "M"
By Itachannio
Vocaloid
Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world
Main Characters: Kaito Shion, Rin Kagamine, Miku Hatsune.
Other Characters: Find by yourself
Author's Words:
Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!
Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review, saya bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.
Terima kasih dan selamat membaca!
Enjoy
Chapter eleven: Kenyataan Aneh Menyerupai Ilusi
Summary:
"Berandalan" adalah satu kata yang pas untuk mendeskripsikan sosok muda yang tampan dan jenius itu; Kaito Shion. Dia adalah sesosok anak laki-laki yang sangat kekanak-kanakan, sering bermalas-malasan, dan suka berkelahi hanya untuk kesenangan dirinya. Namun, keluarganya yang kaya membuat anak itu menjadi "Rock Star" di sekolah sehingga tidak ada yang berani mengganggunya. Hingga suatu hari, sesuatu mengubah garis kehidupannya.
Hujan belum berhenti. Rintik-rintik derasnya masih mengguyur dua sosok manusia yang sedang berdiri di tengah jalan kecil taman kota. Siapa pun mendekati mereka, maka orang itu akan yakin kalau dia tidak hanya sedang mendengar suara guyuran hujan, tapi juga rintihan dan isak tangis kecil dari salah satu sosok tersebut.
Sosok pertama adalah Miku. Gadis itu masih setia mengusap lembut puncak kepala si sosok kedua yang sudah dibasahi air hujan. Tangannya tak lelah bergerak-gerak demi menenangkan sosok kedua tersebut; Kaito. Sosok inilah yang sedang terisak. Dia menyamarkan suara hujan yang terdengar di telinga siapa pun yang berdekatan dengannya.
Saat ini, Kaito masih belum bisa mengendalikan diri. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain tetap mengeluarkan tenaganya untuk menangis yang dia tahu kalau hal itu sama sekali sia-sia. Namun sungguh, menangis seperti ini bukanlah pilihan yang dia buat, melainkan sesuatu yang harus dilakukan. Kaito sendiri tak tahu apa yang mendasarinya untuk berpikir demikian, namun itulah kenyataan. Menyedihkan. Seorang pria menunjukkan kelemahannya pada wanita.
Menunjukkan kelemahan itu... bukankah hanya akan membuat wanita beranggapan bahwa dirinya benar-benar rapuh? Wanita mana pun akan menganggapnya sebagai seorang pecundang dan pengecut. Bahkan, menunjukkan kelemahan degan menumpahkan air mata di hadapan mereka itu merupakan salah satu bentuk penjatuhan harga diri. Namun terkadang memang ada banyak hal yang harus lebih kita cemaskan daripada harga diri.
Kaito tidak tahu pasti apa yang sedang dia rasakan. Dia benar-benar melupakan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Dia tidak tahu lagi kemana harus pergi dan pada siapa harus bersandar kalau bukan pada gadis di hadapannya. Tidak peduli apakah gadis itu akan menerima atau tidak, Kaito tetap harus melakukan ini.
Setidaknya, dia tidak bisa melepas Miku sekarang.
Rin masih saja berdiam di balkon lantai dua, duduk seorang diri sambil menatap langit malam yang tetap setia menurunkan hujan. Selama menatap langit, semua yang dipikirkannya adalah Kaito. Ada di mana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Dengan siapa dia sekarang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar dalam memori otaknya karena tak kunjung terjawab. Hal ini benar-benar membuat si gadis khawatir.
"Kaito..." gumam Rin, wajahnya masih menengadah menatap langit.
Gadis itu masih ingat saat Kaito menceritakan kejadian di masa lalu tentang ibunya. Bahwa sehari setelah beliau memohon pada nagareboshi untuk selalu berada di samping Kaito, beliau malah pergi meninggalkannya. Dengan cara yang buruk pula. Saat mengingat hal ini, bayang-bayang Miku langsung tergambar di benaknya. Rin khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka; Kaito dan Miku.
Yah, meskipun Miku menyukai Kaito dan sedang bersaing dengannya, bukan berarti gadis itu tidak boleh mengkhawatirkan mereka berdua 'kan? Apalagi sekarang si gadis mengetahui apa yang seharusnya tidak dia ketahui; sebuah rahasia yang mematikan. Apa mungkin suatu saat rahasia tersebut akan terbongkar? Lalu bila saatnya tiba, apa yang akan terjadi?
"Heh, sudah malam. Kenapa kau masih sok tahan dingin duduk-duduk sendirian di luar sini?" tiba-tiba Mikuo mengusiknya dari ambang pintu. Rin mendesah keras.
"Aku mengkhawatirkan mereka berdua," ucapnya. Mikuo langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Kaito dan Miku?" tanya anak itu, memastikan. Rin mengangguk.
"Apa yang kau khawatirkan dari mereka berdua? Hubungannya?" tanya Mikuo lagi.
Rin terdiam, namun raut wajahnya seolah mengiyakan pertanyaan Mikuo. Tiba-tiba saja salah satu sudut dibibir anak itu terangkat tinggi.
"Aneh. Sudah tahu Miku itu musuhmu, tapi kau masih mengkhawatirkannya?" komentar Mikuo, "Ah, tentu saja aku senang kalau ada yang mengkhawatirkan Miku, tapi aku tak mengerti. Kenapa orang itu harus kau?"
"Aku tidak pernah menganggapnya musuhku," ujar Rin, "Dia itu teman sekaligus sainganku. Tidak salah 'kan?"
"Hah, kenapa malah bertanya padaku?" sahut Mikuo sambil mengedikkan bahu. Rin mendecak sebal.
"Aku tidak bertanya!" elaknya kesal, "Hanya meminta pendapatmu saja. Susah sekali bicara denganmu!"
Mikuo tersenyum tipis, "Kalau dipikir-pikir, tidak banyak cewek yang berpikiran seperti itu tentang saingannya. Omedetou, kau tiga persen berhasil membuat kedudukanmu bertambah tinggi di sini."
Rin mengerutkan dahi sambil menatap Mikuo dengan heran saat yang ditatap menyimpan ujung telunjuknya ke bagian dada.
"Kenapa menatapku? Mau kucium lagi?" Mikuo memasang seringai usil di wajahnya. Rin langsung bergidig ngeri.
"Tak tahu malu!" umpatnya sambil melengos.
Rin benar-benar tak habis pikir dengan perubahan sikap Mikuo yang sangat tidak bisa ditebak kapan datangnya itu. Beberapa menit yang lalu, dia masih memasang tampang sok cool-nya saat sedang bicara serius tentang masalalu keluarga Hatsune dan Shion. Lalu sekarang? Ampun deh.
"Tapi sungguh, apa kau benar-benar percaya dengan apa yang sudah kuceritakan padamu?" tanya Mikuo dengan tampang bercanda yang dibuat-buat. Rin menghela napas.
"Siapa pun akan tahu kalau orang bodoh sepertimu berkata seserius tadi, artinya kau berkata benar," ujarnya, "Jadi tidak mungkin kalau cerita itu bohong."
Mikuo tersenyum tipis, "Bagus kau menganggapnya serius. Pasti sekarang kau berharap untuk mendapatkan banyak kesempatan dalam tugas ini."
Rin geleng-geleng kepala dengan bosan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku ragu kalau kau benar-benar berpikiran begitu. Lagipula..." ucapnya sambil melirik Mikuo, "Kenapa kau menceritakan hal itu padaku?"
Yang dilirik hanya mengedikkan bahu tak peduli, "Cepat atau lambat harus ada yang mengetahuinya."
"Kau tidak takut aku membocorkan rahasia ini pada Kaito?" tanya Rin dengan wajah polos. Mikuo langsung menatap Rin dengan sebelah alis terangkat.
"Kau punya niat membocorkannya?" Mikuo balik bertanya.
"Tentu saja tidak!" serobot Rin sambil melotot. Mikuo langsung tersenyum tipis.
"Yah, berarti kau tahu jawabanku 'kan?" sahutnya, lalu berlalu dari hadapan si gadis yang masih terbengong-bengong seorang diri memikirkan perkataan Mikuo.
'Kalau dia tidak takut aku membocorkannya, apa aku ini dipercaya?' batin Rin sambil mengerutkan dahi, 'Tidak mungkin.'
Miku keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah. Gadis itu berhenti melangkah saat melihat Kaito masih saja duduk di atas sofa dengan selembar handuk kecil menimbun kepalanya.
Semenjak tiba di apartemen, anak itu tidak banyak bicara. Bergerak pun seperlunya saja. Mungkin hanya saat memasuki kamar mandi, berganti pakaian, keluar kamar mandi, lalu duduk di atas sofa. Semua itu pun atas petunjuk Miku. Kalau si gadis tidak menyuruhnya melakukan hal-hal tadi, kemungkinan besar Kaito tidak akan melakukan apa-apa dan membiarkan dirinya tetap basah kuyup.
Miku pun mendesah, lalu berjalan mendekati Kaito. Setelah sampai di belakang punggung anak itu, Miku langsung menggosok pelan rambutnya dengan handuk yang dari tadi bertengger di atas kepala.
"Kalau kau mendiamkannya seperti ini, rambutmu tidak akan kering, Kaito," ucap Miku. Kaito tak merespon. Dia diam saja sampai Miku selesai dengan rambutnya.
Gadis itu lalu pergi ke dapur untuk mengambil sebuah handuk kecil dan beberapa es balok, kemudian kembali ke ruang televisi; duduk di samping Kaito yang nampak tak peduli dengan kehadirannya.
"Lihat sini, Kaito," Miku menangkap dagu Kaito, lalu memutarnya sedikit sehingga kini wajah mereka berhadapan.
Dia lalu menempelkan beberapa bongkah es balok yang sudah dia bungkus dengan handuk pada luka lebam di pipi kiri Kaito. Luka itu sudah terlihat membiru. Pasti akan sakit sekali kalau lama-lama dibiarkan.
"Ugh..." Kaito mengeluh sedikit saat Miku menggeser handuk dingin itu.
"Ah, maaf!" seru Miku, "Apa masih sakit? Aku akan lebih hati-hati!"
"Hei..." tiba-tiba Kaito menggenggam lengan si gadis, menatapnya lurus dan membuat gadis tersebut terperangkap dalam diam.
"Apa kau tidak peduli kalau aku selalu bersikap kasar padamu? Kenapa kau masih mau melakukan ini...?" gumam anak itu. Kedua irisnya bergetar, disertai kilatan tipis yang membuat mereka terlihat memiliki bias cahaya lampu.
Miku hanya terdiam. Manik zamrudnya juga ikut bergetar. Gadis itu tidak tahu sejak kapan dia merasa tak tahan bila melihat Kaito bersedih. Dia merasa seperti belum pernah mendapat kebahagiaan sama sekali. Dan... rasanya dia belum akan bahagia sebelum melihat Kaito bahagia.
"Jangan pergi..." tiba-tiba Kaito mendekat ke arah Miku, lalu menundukkan kepala dan menyimpannya di atas bahu gadis itu.
"Kaito..." Miku berusaha sekuat tenaga untuk tetap duduk tegap di sana.
Sungguh. Sebenarnya saat ini gadis itu sangat ingin memeluk anak lelaki di hadapannya; berkata bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia tidak akan pernah pergi meninggalkan Kaito, bahwa dia akan selalu berada di sisinya. Kalau bisa, kapan pun dan di mana pun. Namun lidahnya terasa kelu untuk berucap.
"Jangan katakan... kau membenciku," gumam Kaito sambil mencengkram kedua lengan Miku dengan kuat.
Miku bisa merasakan beban di pundaknya semakin lama semakin bertambah. Dia tahu kalau Kaito sedang menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang menurutnya bodoh–menangis–untuk kali kedua. Miku pun hanya bisa mengangguk pelan, lalu menunduk, menyimpan kepalanya di pundak Kaito, melakukan hal yang sama dengan apa yang anak itu lakukan. Tak ada hal lain yang terjadi sampai beberapa saat kemudian Miku merasa ada yang aneh dengan suhu tubuh Kaito.
"Kaito...?" Miku menyentuh bahunya. Mengguncang bahu itu pelan.
Setelah beberapa saat, Miku pun menyadari bahwa suhu tubuh Kaito meningkat setelah merasakan hembusan nafas yang terasa panas dari mulutnya.
"Kaito! Kau demam?!" pekik Miku.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu segera memapah Kaito ke dalam kamar.
Miku mendesah panjang sambil memandangi wajah Kaito. Dia sedang tertidur. Meskipun wajah anak itu belum sepenuhnya terlihat damai, tapi Miku senang karena dia sudah mulai lebih rileks.
Haaah... akhirnya Miku memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal lain. Sebenarnya gadis itu merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Saat sempat mengecek ponselnya yang tertinggal sebelum pergi menyusul Kaito, gadis itu mendapatkan sebuah panggilan tak terjawab dari Mikuo. Saat menelpon balik, Mikuo langsung menyuruhnya keluar untuk mencari Kaito di suatu tempat yang entah di mana. Sempat merasa bingung, Miku pun menyebutkan bahwa saat ini Kaito memang sudah berada di apartemen bersamanya. Begitu menanyakan apa yang terjadi, tiba-tiba saja sambungan diputus. Huh. Menyebalkan bukan?
Gadis itu ingin tahu ada apa, tapi kakaknya itu tidak memberitahu. Atau jangan-jangan... Mikuo-nii menginginkanku mengetahuinya langsung dari Kaito ya? Batin Miku sambil terus menatap orang yang dimaksud.
Sebenarnya alasan Mikuo menelpon sang adik adalah karena dia tahu kalau Kaito belum lama ini sedang tinggal bersama adiknya itu. Kalau Kaito pergi dari rumah, akan dapat dipastikan kalau anak biru tersebut pergi ke tempatnya Miku 'kan?
"Huff..." Miku mendesah sambil melipat kedua tangannya di atas tempat tidur. Tepat di samping Kaito, memandangi anak itu dalam diam. Sesaat kemudian, tangannya bergerak untuk membelai pipi tirus si pangeran tidur dengan lembut, menjelajahi lekukan cekung yang tercetak di sana.
Kaito benar-benar terlihat kesepian. Bagaimana cara membuatnya merasa punya banyak teman...? Bagaimana cara untuk menunjukkan kalau orang-orang tidak membencinya?
Miku langsung mengacak-acak rambut dengan frustasi. Bagaimanapun itu, dia harus tahu dan menunjukkannya pada Kaito. Harus! Jadi untuk sekarang, si gadis hanya perlu memikirkan ini meskipun masih banyak hal yang sangat ingin dia ketahui.
"Tunggulah, Kaito! Aku pasti menemukan caranya!" tekad Miku sambil menatap Kaito lekat-lekat. Bagus. Sekarang perasaannya sudah jauh lebih baik. Gadis itu juga yakin bisa membantu Kaito keluar dari masalahnya.
"Nah, kau istirahat saja yang cukup ya. Aku juga–"
Grep!
Tiba-tiba Miku merasakan pergelangan tangannya digenggam saat hendak pergi keluar kamar. Eh, ternyata Kaito belum tidur...?
"Tetaplah di sini..." ucapnya sambil membuka mata perlahan-lahan, lalu memandang Miku yang masih berdiri memunggunginya.
"A-ah... kau belum tidur, Kaito...?" tanya Miku sambil berbalik, lalu duduk di posisinya semula.
"Sebaiknya kau cepat tidur. Kondisimu sedang tidak baik 'kan?" gadis itu membetulkan letak selimut Kaito yang sedang menatapnya lurus.
"Apa ini tidak apa-apa?" tanyanya, membuat kedua alis Miku bertaut heran.
"Apanya maksudmu?" gadis itu balik bertanya. Kaito menurunkan pandangan, menatap ujung kakinya yang terbalut selimut.
"Aku... ada di sini..." gumam Kaito sambil sedikit memutar kepalanya untuk berpaling dari Miku, "Apa itu tidak masalah bagimu?"
Miku terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.
"Tentu saja tidak apa-apa. Memangnya apa yang harus kukhawatirkan?" ucap Miku tanpa menghapus senyum di wajahnya. Kaito kembali menatap sang gadis.
"Kau terlihat begitu peduli padaku," ujarnya yang langsung membuat wajah Miku terbakar.
"Be-benarkah...? Y-yah... se-sebenarnya aku hanya..." si gadis pun dengan sukses tergagap.
"Jadi hanya perasaanku saja ya..." gumam Kaito. Nada kecewa yang tersirat di sana bisa langsung Miku serap sehingga gadis itu segera membalas,
"A-aku memang peduli padamu!" serunya. Kaito menghela napas berat.
"Kalau begitu kenapa kau peduli padaku?" tanya anak itu, "Bukannya kau membenciku?"
"Siapa bilang?" gadis itu balik bertanya, "Aku tidak ingat pernah bilang kalau aku membencimu. Lagipula kau sendiri yang bilang agar aku jangan membencimu."
"Kau tidak membenciku karena aku menyuruhmu...?" tanya Kaito, serak.
"Bukan begitu!" sanggah Miku, "'Kan sudah kukatakan kalau aku tidak akan pernah membenci Kaito..."
"Kenapa?" tanya Kaito sambil menatap kedua mata gadis di hadapannya dalam-dalam, "Kalau diingat-ingat, kau belum sempat menjawab pertanyaanku yang ini."
Miku menatap tangan Kaito yang masih terus menggenggam pergelangan tangannya. Gadis itu pun tersenyum.
"Kau tahu, Kaito..." ucapnya lembut, "Di balik semua kegelapan yang ada di dunia ini, tidak semua orang membencimu. Ada mereka yang menginginkan keberadaanmu, ada mereka yang menjagamu, ada mereka yang menyayangimu..."
Gadis itu lalu menatap Kaito lekat-lekat, "Dan tentu saja ada juga... yang mencintaimu."
Kaito memaksakan diri untuk bangkit, mendekat ke arah Miku.
"Lalu..." ucapnya serak, "Kau termasuk yang mana...?"
Miku mematung. Dilihatnya kedua bola kristal biru Kaito yang kembali bergetar seolah sedang menantikan sesuatu yang sangat penting. Dan... Miku tidak bisa lari darinya. Hal itu membuat Miku harus menjawab sebuah pertanyaan yang tidak sanggup dia ungkapkan.
Seandainya saja detik ini dia mengutarakan jawaban itu, akankah semuanya tetap sama? Akankah Kaito masih tetap mau memandangnya? Akankah mereka terus hidup berdampingan seperti ini?
Ataukah...
Tidak. Miku tidak ingin mengacaukan semuanya. Dia tidak ingin ada kemungkinan negatif yang muncul. Semuanya harus tetap sama. Semuanya... harus tetap sama.
Miku menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Dia hanya harus memberikan jawaban yang cukup bagi Kaito. Ya... hanya itu. Maka, jawabannya adalah...
"Semuanya..." gumam gadis itu, "Ya. Semuanya."
Mata Kaito melebar setelah mendengar jawaban yang dikemukakan Miku.
Ada mereka yang menginginkan keberadaanmu, ada mereka yang menyayangimu, ada mereka yang menjagamu. Dan tentu saja ada juga... yang mencintaimu.
Gadis itu termasuk ke dalam semua itu; orang yang menginginkan keberadaannya, yang menyayanginya, yang menjaganya, dan yang... mencintainya. Sungguh mimpi yang indah. Benar-benar mimpi brengsek yang indah.
Tiba-tiba telapak tangan gadis itu menyentuh pipinya, seperti mengusap sesuatu di sana. Kaito memang tidak menyadari hal itu; bahwa ada setitik air yang jatuh, bahwa ada lelehan hangat yang muncul menuruninya. Tapi Miku berusaha menutupi dengan senyum. Sial. Sejak kapan dia berubah menjadi anak cengeng? Lagi-lagi menangis di hadapan seorang gadis. Makhluk macam apa dia...?
Kaito menggertakkan giginya sambil menunduk.
"Katakan ini... bukan mimpi..." gumamnya entah pada siapa.
"Kenapa, Kaito?" tanya Miku.
Tiba-tiba Kaito menarik Miku ke dalam pelukannya, merengkuh gadis itu dengan kuat seolah tak ingin kehilangan satu-satunya hal yang berharga. Yang dipeluk pun hanya bisa terpana, kaget dengan perlakuan Kaito yang tiba-tiba.
"Benarkah seperti itu?" bisik Kaito, membuat Miku sedikit merinding mendengarnya.
Gadis itu tidak menjawab dan hanya mengangguk. Kedua mata pun tertutup meresapi hangatnya pelukan dari Kaito yang sangat jarang dia dapatkan. Sekarang... entah mengapa dia merasa kalau Kaito sudah berubah.
"Kau tidak akan mengkhianatiku 'kan...?" bisiknya pelan. Miku mengangguk.
"Un..." gumamnya.
Kaito mendesah lega setelah mendengar jawaban Miku. Anak itu lalu melepaskan pelukannya dan menatap Miku sambil tersenyum. Senyum yang langsung membuat pihak ditatap membeku di tempat.
Masalahnya, baru pertama kali ini Kaito tersenyum selembut itu pada Miku. Pertama kali. Ekpresinya benar-benar berbeda. Anak itu terlihat sangat bahagia, membuat kedua mata Miku melebar dan membuat mulutnya sedikit ternganga secara tak sadar. Dia... sudah membuat Kaito tersenyum. Anak itu tersenyum!
MIKU HATSUNE MEMBUAT KAITO SHION TERSENYUM!
"Ka-Ka-Ka–mph!" saat Miku hendak memanggil namanya tanpa alasan, tiba-tiba Kaito menutup bibir gadis itu dengan tangannya. Lalu–
Cup!
Dia mencium bagian punggung tangannya yang tepat berada di depan bibir Miku. Spontan mata si gadis melebar, semburat merah pun segera menyebar ke seluruh bagian syaraf di wajahnya. A-A-A-APAAA...?!
Kalau tak terhalang tangan Kaito, mereka pasti sudah berciuman!
Seakan tidak peduli dengan hal aneh tadi, Kaito pun menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil mendesah panjang.
"Ini kali kedua aku pernah mencium seorang anak cewek. Kau patut mensyukurinya," ucap si rambut biru sambil menatap Miku yang masih saja terbengong-bengong dengan wajah merah.
Melihat wajah shock si gadis, Kaito nyengir lebar, lalu mengacak-acak kepala micky mouse-nya dengan gemas. Kali ini, hanya dengan menatap wajah gadis itu membuat Kaito merasa kehilangan beban berat yang pernah dia tanggung. Setidaknya untuk saat ini. Biarlah dia merasa bebannya hilang. Biarlah dia melupakan semua kepedihan. Biarlah dia merasakan kebahagiaan meskipun hanya sebentar. Karena bahagia itu artinya...
"Ka-Kaito aneh!" protes Miku dengan wajah kaku.
"Hah? Yang sekarang aneh siapa? Kau kaku begitu," sahut Kaito.
"A-a-apa?! Jelas saja aku kaku! Kau 'kan...!"
"Apa? Mau lagi? Nanti saja, aku mau tidur sekarang."
"Apaaaa?! Enak saja!" Miku langsung memukul bahu Kaito dengan kesal tanpa ingat kalau sekarang anak itu sedang lemah sehingga yang ada dia malah mengeluh kesakitan.
Miku langsung minta maaf dengan membungkuk dalam-dalam, tapi Kaito menarik lengan gadis itu sehingga dia terjatuh tepat di atasnya. Sang pelaku penarikan hanya tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih sedangkan si korban harus kembali terkaget-kaget di sana.
Kaito menatap Miku dengan lembut. Sekarang perasaannya benar-benar ringan. Gadis itu sudah membuatnya merasa 'berada' di dunia ini. Gadis itu sudah membuatnya merasa memiliki seseorang yang berharga. Hm... tentu saja ini yang disebut sebagai kebahagian. Ya...
...Karena bahagia itu artinya ada orang yang mengakuimu sekaligus membuatmu merasa diakui.
"Ka-Kaito! Apa sih yang kau lakukan?! Kau sedang sakit 'kan!" Miku protes saat merasakan kedua tangan Kaito malah sibuk melingkari pinggangnya sehingga gadis itu kesulitan untuk bergerak. Apalagi sekarang dia sedang menimpa badan Kaito. Gyaaah! Memalukan!
"Aku jadi ingat kalau kau itu sangat mirip dengan ibuku dalam beberapa hal," ucap Kaito tanpa menggubris komplain Miku.
"Eh?" gadis itu langsung terdiam begitu mendengar Kaito berbicara melibatkan ibunya. Benar-benar terasa ada yang beda.
"Kau ingat saat kau menyuruhku minta maaf di taman kota?" Kaito terkekeh, "Lalu, saat aku pulang ke rumah, kau memarahiku habis-habisan. Memukulku pula. Lalu kau menyuruhku mencuci tangan dan menasihatiku agar jangan pulang telat lagi..."
Miku terdiam. Kaito... bisa mengingat semua itu?
Miku pun mengangkat kepalanya agar bisa menatap Kaito, dan PEEESH! Wajahnya kembali dilanda kebakaran. Benar-benar. Kini Kaito memang sangat berbeda. Miku yakin manusia mana pun yang tak pernah tahu kelakukan Kaito selama ini, pasti akan menganggap anak itu sebagai orang yang sangat baik, ramah dan penyayang. Mereka tak akan pernah tahu kalau sebenarnya Kaito itu orang yang menyebalkan dan mengesalkan, bahkan kasar.
Meskipun menyadari kalau wajahnya sudah sangat merah, sekarang Miku masih bertahan menatap Kaito. Sungguh. Pemandangan di hadapan sana mungkin adalah pemandangan paling indah yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Pemandangan ini... Miku tak ingin kehilangannya. Spontan gadis itu membalas pelukan Kaito dengan erat.
"Aku berjanji aku tidak akan meninggalkan Kaito! Aku akan selalu berada di samping Kaito!" seru Miku sambil membenamkan wajahnya ke dada Kaito yang akhirnya mendapat giliran untuk melongo, "Aku berjanji!"
"Heh..." Kaito tersenyum setelah merasa terbiasa dengan pelukan itu. Dia mengusap kepala Miku dengan lembut, "Ya... biarkan aku percaya padamu."
Miku tersenyum senang. Gadis itu lalu sedikit mendorong dada Kaito untuk melepas pelukannya, "Nah, sekarang kau harus tidur biar cepat sembuh."
Saat Miku hendak pergi melepaskan diri, tanpa disangka-sangka Kaito malah mempererat pelukannya. Tentu saja gadis itu langsung kelabakan di tempat.
"Ka-Kaito! 'Kan sudah kubilang–"
"Kau harus menemaniku," Kaito nyengir lebar, "Tidurlah di sini."
"Ap–" Miku menahan suaranya, lalu menghidup napas panjang, membuat Kaito melotot kaget dan berpikir kalau gadis itu akan–
"KAITO HENTAAAAAAAAAAAAAI!"–berteriak.
"He-hei! Jangan berisik, bodoh! Kalau ada yang dengar bagaimana?!" anak itu buru-buru menutup mulut Miku dengan tangannya. Untunglah gadis itu segera sadar. Tapi–
BRAK! BRAK! BRAK!
"Ada apa Hatsune-san?!"
"Miku-chan!"
Deg!
Kaito dan Miku langsung menoleh ke arah pintu.
"Bodoh! Kubilang jangan berisik!" omel Kaito.
"Ini 'kan salahmu!"
"Sudah diam! Pergi saja keluar! Katakan kalau kau sedang... em... sedang..." Kaito terlihat bingung, sedangkan Miku malah menunggu saran darinya. Bodoh. Kenapa dia tidak mencoba berpikir sendiri sih?!
"Tch, boke! Kau juga berpikirlah sedikit!" dumel Kaito.
"Tapi aku tak punya ide sama sekali!" tukas Miku.
Gedoran di balik pintu pun bertambah keras.
"Miku-chaaaaan! Ada apa?! Miku-chan?!"
"Hatsune-san! Jawablah!"
"Sial! Katakan kau sedang menelpon orang! Sana pergi!" seru Kaito setelah mendapatkan ide yang sedikit masuk akal. Miku segera mengiyakan, lalu pergi keluar kamar.
Krieeeek...
"A-ano..."
"Miku-chan, kau baik-baik saja?! Ada apa?!" Luka langsung membulak-balik badan Miku sesaat setelah pintu dibuka.
"Hatsune-san! Ada apa? Apa ada orang yang macam-macam padamu?!" salah satu tetangga Miku di apartemen juga bertanya dengan khawatir.
"Tidak apa-apa, Meiko-san, aku baik-baik saja," ucap Miku sambil membungkuk pada orang yang dipanggilnya Meiko itu.
"Benar kau tidak apa-apa?" tanya Luka, terdengar ragu, "Kenapa kau menyebut kata 'hentai' malam-malam begini?"
"A-ah, itu sih..." Miku mengacungkan ponselnya dengan gaya malu-malu, "A-aku sedang... mm... menelpon..."
Luka dan Meiko langsung saling lirik.
"Ya ampun, Hatsune-san, kami kira ada apa.." desah Meiko. Luka pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ya sudah kalau begitu, aku kembali ke bawah ya," kata Meiko akhirnya, "Jaa!"
"Baik! Maaf ya, Meiko-san!" seru Miku sambil membungkuk.
Setelah Meiko pergi, diam-diam Luka tersenyum.
"Oya, kau tidak sedang menerima tamu laki-laki 'kan, Miku-chan?" tanyanya dengan sedikit selipan nada jahil.
"Cho–te-tentu saja tidak, Senpai! Ahahahaha, Senpai ini ada-ada saja, ahahahaha!" tawa Miku yang sama sekali tidak mirip tertawa. Tentu saja itu membuat Luka merasa ada yang janggal di sana.
"Benar tidak ada?" tanya Luka lagi sambil berusaha melongok ke dalam. Mmm... memang tidak ada sepatu laki-laki sih.
"Tidak ada kok," dusta Miku sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Mou, lain kali jangan terlalu berisik, Miku-chaaaan..." Luka mencubit kedua pipi Miku dengan gemas, "Untung sekarang masih belum waktunya tidur! Sudah, masuk sana."
"Tehee..." Miku menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sore jaa," Luka melambaikan tangannya sebelum pergi.
Setelah memastikan Luka kembali ke apartemennya, Miku pun buru-buru menutup pintu, lalu bersandar di sana sambil mengurut dada. Ya ampun! Hampir saja! Untung dia sudah memindahkan sepatu Kaito dari pintu masuk.
Miku segera kembali ke kamar untuk mengecek keadaan Kaito yang sebenarnya tidak memerlukan pengecekan.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Kaito saat Miku melongok dari balik pintu kamar.
"Ya," gadis itu lalu masuk dan duduk di pinggiran tempat tidur sambil tertawa kecil, "Hampir saja."
"Benar-benar..." Kaito terlihat menahan tawa. Miku jadi ikut-ikutan.
"Ahahahaha..."
"Hahahaha!"
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama-sana. Dasar. Seharusnya kedua orang itu bersikap lebih waspada dan hati-hati, tetapi nampaknya mereka tidak peduli dan malah menikmati momen unik ini. Benar-benar hari yang penuh warna.
Pagi hari yang cerah di kediaman keluarga Shion.
Cicit burung membangunkan Rin dari tidurnya. Saat membuka mata, gadis itu sudah bisa melihat sinar matahari yang masuk ke dalam kamar. Wah. Akhir-akhir ini, Rin jadi lebih sering bangun siang. Ya ampun. Kalau Kaito sudah benar-benar pulang ke rumah, dia tidak boleh bangun terlalu siang lagi. Hal ini harus cepat-cepat dibenahi.
Rin pun beranjak dari tempat tidur, membuka pintu, lalu menatap pintu kamar Kaito yang beberapa hari ini selalu kosong. Rasanya rindu sekali mengetuk pintu itu. Meskipun baru tiga hari, tapi rasanya seperti sudah tiga tahun Kaito menghilang.
Saat memikirkan makhluk biru itu, Rin teringat dengan percakapannya dengan Mikuo kemarin malam. Jujur saja Rin merasa sangat terbebani setelah mengetahui rahasia besar yang dia ceritakan. Gadis itu takut bila sewaktu-waktu dia tak bisa mengontrol perasaannya. Karena itu, untuk memastikan hal ini, Rin perlu bertemu dengan Miku. Ah, sebenarnya ada hal lain yang ingin ditanyakannya juga pada gadis itu.
Kapan ya bisa bertemu?
Semuanya berkumpul di meja makan saat waktu sarapan tiba; Bossu, Rin dan Mikuo duduk rapi di atas bantal kecil di depan kotatsu sambil merapatkan kedua telapak tangan.
"Itadakimasu!" seru mereka bersamaan.
Keadaan makan pagi sama sekali tidak berubah semenjak kepergian Kaito. Rin yang tidak lagi berisik saat makan, Bossu yang selalu mengajaknya ngobrol sambil sesekali meminta suatu persetujuan atas pertanyaannya yang terkadang bodoh pada Mikuo, dan Mikuo sendiri yang hanya bersikap santai dan cool tanpa banyak berkata-kata seperti biasa.
Setelah beberapa menit, akhirnya Bossu menyelesaikan makan pagi. Sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Gochisousama," ucapnya sambil mengelap bibir dengan tissue. Rin sedikit melongok untuk melihat mangkuk Bossu. Masih tersisa setengah mangkuk nasi. Sepertinya hari ini nafsu makan si pak tua menurun drastis. Dia tahu itu semua akibat kejadian semalam.
"Bossu-san, kau baik-baik saja?" tanya Rin, hati-hati. Bossu tertawa lepas seperti biasa.
"Aku tidak apa-apa, Rin-chan," balasnya. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menatap Rin dan Mikuo bergantian, lalu mengangguk-angguk sendiri, membuat dua pihak yang ditatap saling lirik dengan enggan.
"Apa kalian baik-baik saja bila kutinggal di rumah?" tanya orang tua itu sambil menopang dagu.
"Memangnya kenapa, Bossu-san?" tanya Mikuo setelah makanan di mulutnya habis. Rin mengangguk, ingin menanyakan hal yang sama dengan Mikuo.
"Sebenarnya aku punya pekerjaan di luar kota sehingga harus meninggalkan rumah selama seminggu. Kalian tidak keberatan kalau kutinggal?" tanya Bossu, "Yah tentu saja, orang-orang di rumah ini akan menjaga kalian saat aku tidak ada."
Rin dan Mikuo kembali saling lirik. Masing-masing memasang ekspresi yang berbeda walaupun terkesan sama-sama mengenaskan. Yang satu menunjukkan wajah super jijik yang sepertinya ditahan sedemikian rupa agar tak terlihat, dan hal itu sama sekali gagal total. Sedangkan yang lain melotot hebat dengan wajah tak percaya, meskipun tersembunyi sesuatu yang nakal di balik guratan wajahnya. Bossu terkekeh ketika menyadari ini.
"Tenang, Rin-chan. Semua akan baik-baik saja," orang tua itu mengerling pada Mikuo, "Benar 'kan, Mikuo-kun?"
Mikuo tersenyum tipis sambil mengangguk satu kali, lalu melirik Rin dengan satu alis terangkat tinggi dan memiringkan senyumnya. Rin dengan cermat dapat membaca arti di balik ekspresi membahayakan tersebut, dan hal itu membuatnya merinding di tempat.
"Baiklah, karena sepertinya tidak masalah, jadi tidak ada yang perlu kukhawatirkan," ucap Bossu, mantap.
Rin hendak buka mulut untuk suatu alasan, tapi Mikuo menutupinya dengan langsung berdeham keras dan mengatakan 'ha'i' pada Bossu. Gadis itu mendecih dalam hati. Siapa sangka hal seperti ini akan terjadi?
Mikuo yang melihat ekspresi Rin langsung mengarahkan dagunya pada Bossu saat mendapat kesempatan dilirik. Gadis itu pun menatap Bossu yang sedang tersenyum dengan wajah lega.
Ah... sepertinya dia mulai mengerti. Alasan Bossu untuk pergi meninggalkan rumah mungkin bukan karena masalah pekerjaan. Oleh sebab itu, dia merasa Mikuo menyuruhnya untuk tidak protes ataupun menunjukkan ekspresi menolak yang bisa merusak suasana hati Bossu. Ya, benar juga sih.
Rin pun menyunggingkan sebuah senyum sambil menatap Bossu.
"Tenang saja Bossu-san. Kami tidak apa-apa. Nee, Mikuo-kun?" tanya Rin sambil kemudian tersenyum tidak ikhlas pada Mikuo yang hanya mangut-mangut sambil menyeringai tipis. Bossu pun tertawa kecil.
"Baiklah. Sekarang cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi kalian harus berangkat 'kan?" pesannya. Rin dan Mikuo pun menurut dan segera menghabiskan sarapan mereka.
"Hari ini kau pulang telat ya?" tanya Kaito saat Miku menyodorkan makanan padanya. Yang ditanya mengangguk mengiyakan.
"Aku harus belajar lagi," ujar Miku, "Kau bisa ambil makan sendiri 'kan? Aku sudah menyiapkan mi instan di atas lemari es kalau kau mau makan."
Kaito geleng-geleng kepala sambil mendecakkan lidahnya berkali-kali, "Kau pikir mi instan itu makanan orang sakit?"
"Gomen!" Miku menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya yang tertunduk, "Nanti akan kubelikan sushi saat pulang ke rumah! Oke?"
Kaito tersenyum. Syukurlah Miku tidak melihatnya sehingga gadis itu tidak perlu repot-repot membakar diri sambil bertanya-tanya ada apa dengan Kaito.
"Kalau pulang nanti, belikan aku ice cream," pesan Kaito sambil mengambil sendok, lalu menatap sajian yang masih ditutup tudung di depannya.
"Ya ampun Kaito," Miku geleng-geleng kepala, "Kau pikir ice cream itu makanan orang sakit?"
"Sudah kubilang aku tidak mau bubur! Nenek pelupa itu tidak mau dengar apa memang tidak punya telinga sih," seolah tak mendengar perkataan Miku, Kaito menggerutu sambil menyimpan si sendok ke tempat semula dengan guratan bete yang tercetak jelas di raut wajahnya.
"Kaito! Kau ini bagaimana sih?! Justru yang namanya makanan orang sakit itu bubur tahu! Kau harus makan!" tukas Miku sambil memaksa Kaito memegang sendoknya kembali.
"Tidak mau!" elak Kaito sambil menarik tangannya ke belakang punggung. Bibir bawahnya sedikit maju ke depan, kedua kelereng safirnya mengarah ke ekor mata, menghindari kontak dengan Miku jauh-jauh.
Miku sedikit banyak ingin tertawa melihat Kaito bertingkah se-kekanak-kanakan ini, namun dia juga merasa kesal karena si bocah sulit sekali diajak kompromi untuk makan. Lalu dia harus bagaimana? Memasak makanan paling sederhana saja tidak bisa, mana mungkin bisa memberi Kaito sesuatu yang lebih bagus dari bubur? Yang ini saja beli dari luar.
Miku mendecak sambil garuk-garuk kepala dengan telunjuk.
"Ayolah Kaito, makan saja sedikit buburnya? Nanti sakitmu tidak sembuh-sembuh," bujuk Miku.
Karena tidak ada respon, gadis itu merenung sejenak lalu menarik-narik lengan baju Kaito.
"Nee, nee, kalau kau makan, nanti aku belikan ice cream!" kata Miku yang sukses membuat Kaito memutar kepala untuk menatapnya, menunjukkan wajah setengah ragu.
"Kalau kau membelikanku ice cream tanpa syarat, nanti aku akan membuatkanmu sup miso ekstra negi," ucap Kaito sambil tersenyum jahil dengan sebelah alis terangkat, "Kalau aku sudah sembuh."
"Ayolah, jangan bercanda Kaito! Aku serius!" ucap Miku, sedikit kesal. Kaito hanya mendesah.
"Pergi sana, kau akan telat kalau di sini terus," suruhnya sambil mengarahkan dagu ke jam dinding. Miku langsung cemberut.
"Aku tidak mau pergi sebelum kau makan buburnya!" tukas sang gadis sambil melipat kedua tangan di depan dada. Kaito menghela napas.
"Coba saja. Paling kau bolos sekolah," ujar Kaito sambil memindahkan baki dari pangkuannya ke meja, lalu menutup diri dengan selimut.
"Kaito!" jerit Miku, "Kau harus makan!"
"Cerewet ah!"
Miku mendecak, lalu mengambil mangkuk bubur Kaito, setengah mengaduknya dengan sendok, lalu memakan bubur itu satu suapan.
"Tuh! Enak kok! Apanya sih yang salah?" kata Miku.
Kaito langsung terbangun, lalu menatap Miku yang masih asyik mengunyah bubur. Sejurus kemudian, gadis itu menyodorkan sesendok bubur ke mulut Kaito yang hanya diam saja.
"Ayo, enak kok!" ucap Miku sambil mengangguk-angguk cepat dengan wajah yang menjanjikan. Kaito menatap bubur itu beberapa saat, lalu dengan enggan mulai membuka mulut, mendekati sesendok bubur itu dan... melahapnya.
"Bagaimana?! Bagaimana?! Enak 'kaaaan?!" Miku langsung menjerit begitu berhasil membuat Kaito makan satu sendok.
Anak biru itu hanya menunduk dan memeluk kedua lutut, menyembunyikan wajah piasnya yang entah sejak kapan sedikit terpoles rona merah. Miku tersenyum lebar, lalu kembali menyodorkan sesendok penuh bubur. Tapi kali ini Kaito hanya meliriknya tanpa ada niat memakan.
"Are? Sudah tidak mau makan lagi?" tanya Miku sambil sedikit menurunkan kepalanya untuk melihat wajah Kaito yang masih setengah menunduk. Gadis itu mendesah.
"Lihat, sendok ketiga juga masih enak kok!" kata Miku sambil menyuap diri dengan bubur hasil tolakan tadi. Setelah itu, si gadis kembali menyendok bubur, lalu mengacungkannya ke wajah Kaito.
"Mm..." Kaito menggumam pelan sambil menatap Miku, lalu menatap sesendok bubur di depan matanya. Sedangkan Miku terlihat berharap-harap cemas tanpa menyadari apa yang tengah terjadi pada Kaito.
"Ayo?" kata Miku sambil mengangkat sendoknya sedikit.
Kaito mendesah pelan, lalu mulai memakan bubur itu dengan gerakan lambat. Saat bubur yang secara tidak langsung bersama sendoknya tenggelam dalam mulut, kelereng biru Kaito menatap Miku.
"Hm...?" Miku mengangkat kedua alisnya sambil memiringkan kepala saat menyadari Kaito menatapnya dengan sedikit... aneh? Dan lagi...
"Ka-Kaito...?" Miku jadi sedikit gugup saat Kaito daritadi hanya menatap lurus tanpa ada niat melepaskan sendok dari mulutnya. Wajah sang gadis pun memanas perlahan-lahan.
Apa masalahnya? Tatapan itu... entah mengapa terasa sangat menggelitik. Miku pun tidak berdaya untuk bergerak meskipun hanya untuk menarik sendok keluar dari mulut Kaito. Tangannya sedikit bergetar saat merasakan hembusan nafas yang hangat dari hidung sang pangeran laut ini. Gawat. Kalau terus dilanjutkan...!
"Bodoh," gumam Kaito sambil menarik ujung sendok yang dipegang Miku dengan tangannya. Sepertinya bubur di atas badan sendok sudah habis daritadi, jadi yang dia lakukan mungkin hanya mengulum sendok itu sementara membiarkan Miku merasa kikuk.
Anak itu lalu menyimpan sendok ke atas meja, lalu mendekati Miku yang masih mematung di tempatnya duduk. Tersenyum tipis, tangannya terangkat menggapai dagu Miku, lalu sedikit mengangkatnya ke atas agar mereka bisa bertatapan.
"Hei..." gumam Kaito tepat di depan wajah Miku. Perlahan-lahan wajahnya terus mendekat, dan hal itu membuat Miku secara tak sadar menutup mata.
.
.
.
"...Kau tidak takut tertular demamku?"
Pertanyaan itu refleks membuat kedua mata Miku terbuka lebar. Saat itu, tepat di depan hidungnya, dia melihat Kaito sedang menahan tawa. Spontan wajahnya memerah.
"Ka-Kaito! Berhentilah main-main denganku!" dumel Miku. Kaito terkekeh.
"Sepertinya kakimu harus bergerak ekstra hari ini," katanya. Miku mengerutkan dahi tak mengerti. Kaito mengerling ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 07.38!
"AH! AKU TELAT!" Miku langsung bangkit, lalu melesat keluar kamar tanpa berkata-kata lagi.
Kaito hanya geleng-geleng kepala, lalu menatap pintu kamar yang setengah terbuka. Bias kemerahan tiba-tiba saja tercetak di kedua pipinya.
"Heh... ternyata bubur itu tidak buruk juga..." gumamnya masih sambil tersenyum, lalu menatap mangkuk bubur yang masih tersimpan di atas baki. Sedetik kemudian, rasa mual langsung mengerayangi lambungnya.
"Bubur sialan!" umpat Kaito sebelum melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Tch! Bubur yang diberikan Miku memang tidak buruk. Tapi bubur yang di dalam mangkuk... fuh... katakan saja nasi hancur itu kini sudah teraduk-aduk tak karuan, ditambah lagi bumbunya yang berwarna kuning dan oranye tersebar. Sebagian lagi menyatu dengan cairan aneh berwarna cokelat tua dan membuanya seolah-olah seperti... ah entahlah! Kaito tak sanggup menyebutkannya.
Serangkaian kegiatan padat, pahit nan keras yang dialami Miku hari ini berakhir pada pukul empat sore.
Setelah tadi pagi sempat disemprot petugas keamanan sekolah–plus Kiyoteru-sensei–karena terlambat, dia harus langsung bertemu dengan berbagai pertanyaan yang membanjir di dalam kelas soal mengapa si gadis tidak bersama-sama dengan Kaito. Setelah itu, ada Len yang terus mengganggunya dengan logaritma. Benar-benar merepotkan. Tapi soal logaritma... sepertinya Miku masih harus menunggu dan bersabar.
Saat ini proses kegiatan belajar-mengajar telah usai, berganti dengan proses kegiatan belajar nonformal ala Miku dan Len yang masih berlokasi di dalam ruang kelas.
"Ayolah Len, kau pikir aku bisa mengerjakan soal rumit penuh angka nol seperti ini?" desah Miku sambil garuk-garuk kepala dengan frustasi.
Len ikut mendesah. Dia kira dia sudah pernah mengajari Miku tentang sesuatu yang seperti ini? Atau gadis itu sengaja tidak mau mengerti? Bagaimana sih?
"Kau tidak mengingat apa pun tentang yang kemarin kujelaskan?" tanya Len dengan sabar. Miku merenung sejenak, kemudian menggeleng.
"Tidak ingat?" desak Len.
"Sedikit sih ingat..." cengir Miku sambil garuk-garuk kepala.
Len mendesah lagi untuk yang kesekian kali. Ini baru hari kedua mereka belajar bersama, dan rupanya bocah pirang itu sudah kelelahan duluan. Hm... sebenarnya ada satu hal lagi yang sangat mengganggu pikiran bocah pirang tersebut.
"Miku-chan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Len, "Tapi kau jangan marah ya."
Miku mengangkat sebelah alis, lalu memicingkan matanya menatap Len. Curiga.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Nilai-nilaiku di sekolah lama? Atau jangan-jangan nilai SD-ku?" gadis itu malah balik bertanya dengan sinis. Len menggeleng sambil mengibaskan tangan.
"Bukan," sahutnya, "Yah, sudahlah. Mungkin kau memang akan marah kalau aku bertanya."
"Eh, apa itu penting? Kalau begitu, tanyakan saja!" suruh Miku. Kesinisannya langsung berganti dengan rasa penasaran. Len menatap iris zamrud kebiruan si gadis untuk memastikan bahwa memang gadis itu mengijinkannya bertanya.
"Baiklah," Len menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal dengan telunjuk, "Kudengar kakakmu berada di kelas yang sama dengan Rin."
Miku mengangguk membenarkan, "Lalu?"
"Yaa... yang kubingungkan hanya satu," ujar Len, "Kenapa dia bisa berada satu kelas dengan Rin?"
Miku mengerutkan dahi sambil memiringkan kepalanya, kurang mengerti dengan pertanyaan Len.
"Maksudku umur mereka berbeda 'kan? Kalau boleh kutebak, Mikuo-san satu tahun lebih tua dari kita," Len memperjelas pertanyaannya. Miku langsung membulatkan mulut sambil memukulkan sebuah kepalan ke telapak tangan.
"Iya, memang begitu adanya," ujar Miku sambil mengedikkan bahu. Len mengangkat sebelah alis dengan bingung. Hei, jangan bilang kalau Mikuo Hatsune itu...
"Apa dia..."
"Un. Dia tidak naik kelas," Miku menuntaskan kalimat Len yang menggantung itu dengan nada ringan. Sedangkan Len sendiri hanya bisa melongo tak percaya. Ya ampun. Apa 'keterlambatan proses berpikir' itu memang dimiliki oleh semua Hatsune ya?
Bocah pirang itu segera menggeleng cepat. Dia akan habis dibantai kalau benar-benar mengucapkan apa yang dipikirannya saat ini. Ya sudahlah, karena memang sudah tahu kalau sebagian Hatsune mengalami sesuatu yang Len lebih suka menyebutnya dengan 'keterlambatan proses berpikir', sekarang dia harus memikirkan suatu cara untuk membuat 'proses berpikir' Miku terpancing.
"Hei, makanan apa yang kau suka?" tanya Len kemudian, membuat Miku mengerutkan dahinya heran. Mungkin karena tiba-tiba dirinya mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku hanya ingin tahu," tambah Len. Gadis itu pun mendengungkan suaranya sambil berpikir.
"Hm... negi," ucapnya sambil mengedikkan bahu, "Memangnya kenapa?"
"Oke, kalau kau berhasil mengerjakan soal serupa setelah aku mengajarimu yang ini, aku akan memberimu negi. Bagaimana?" tawar Len. Miku langsung melotot senang.
Saat mendengar Len mengatakan hal itu, dia jadi teringat Kaito. Len melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kaito; mengiming-imingi dengan makanan favorit. Ah tapi siapa peduli! Yang penting ada negi. Semua masalah pasti beres!
"Eh tapi..." tiba-tiba gadis itu teringat kalau Kaito sedang sakit. Niatnya untuk bertemu sang negi pun terpaksa harus digagalkan, "Sepertinya aku tidak bisa pergi ke mana-mana setelah ini..."
Len mendesah kecewa, "Padahal aku berniat memasak nasi goreng ekstra negi kalau kau datang ke rumah."
Mata Miku langsung memicing saat mendengar kata 'nasi goreng'. Apa itu? Makanan jenis baru? Ah, jelas sekali di kota Crypton tidak ada orang yang pernah menyebutkan nama makanan semisal nasi goreng.
"Kau tidak tahu? Nasi goreng," ucap Len, "Kami mengenalnya dari luar negeri. Makanan ini sudah terkenal lho di Yamaha."
Miku mengangguk-angguk sambil merenungkan perkataan Len. Ya ampun. Ini masakan model baru, ekstra negi pula. Kalau dia makan, bagaimana dengan Kaito di rumah? Apa yang akan Kaito makan? Ah benar juga. Apa dia sudah makan ya? Tadi sih bilang tidak mau makan mi.
Aduh... lagipula Miku sudah berjanji pada Kaito kalau dia tidak akan belajar selain di sekolah bersama Len. Eh, tapi 'kan kalau hanya makan di luar namanya bukan belajar lagi? Lalu, seandainya dia sampai melewatkan kesempatan emas seperti ini...
"Pokoknya," tukas Len, mencegah pikiran Miku pergi kemana-mana, "Selesaikan dulu pekerjaan kita hari ini. Setelah itu, kau bisa pikirkan untuk datang atau tidak."
Miku mendesah berat. Ya ampun. Pikirannya sekarang sudah terlalu penuh dengan negi dan Kaito. Lalu bagaimana dia bisa konsentrasi pada pelajaran?
Kaito melirik jam dinding dengan bosan. Pukul 4 sore. Seharusnya si bocah negi sudah pulang saat ini juga. Tapi pasti dia sedang belajar dengan makhluk kuning busuk itu. Che... hari ini benar-benar membosankan. Akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain memikirkan makanan. Yah, hari ini ada sesuatu yang cukup menganehkan. Biasanya saat sedang sakit, perut Kaito baik-baik saja tanpa perlu diberi nutrisi, tapi sekarang perutnya itu mulai merengek minta diberi makan.
Kaito benar-benar bingung. Di rumah hanya ada mi, tidak ada makanan. Dia harus mencari sendiri keluar. Sebentar saja tidak apa-apalah, toh demamnya sudah mulai turun meskipun saat berdiri, kepala langsung terasa berdenyut.
"Ah, menyebalkan!" dumel Kaito sambil memegangi kepala, lalu memaksakan diri untuk menyeret kakinya pergi keluar rumah.
Rin berjalan cepat melintasi gerbang sekolah. Tak lupa dengan Mikuo yang terus mengekor di belakangnya. Gadis itu mendecih pelan. Dia tidak habis pikir, kenapa makhluk hijau itu masih terus saja membuntuti kemana pun dia pergi. Dirinya pun tak luput dari perhatian seluruh siswa di dalam kelas karena makhluk itu terus saja menempel seperti penyakit kronis yang sulit dihilangkan.
"Hei Rin! Kalau kau terus-terusan bersikap cuek begitu, sampai kapan pun kau tidak akan pernah punya te–"
"Berisik!" potong Rin sambil mempercepat langkahnya.
Mikuo langsung berlari kecil dan kembali mensejajari langkah-langkah kecil si gadis. Wajah yang biasanya datar kini terhias sebuah senyum tipis, membuat semua orang yang melihat mereka di jalanan melirik iri ke arah Rin yang hanya bisa memasang tampang bete bercampur kesal.
"Apa aku pernah mengatakan ini padamu?" Mikuo berpikir sebentar, "Kalau kau mau punya teman..."
"Anggap saja mereka itu temanmu. Aku sudah pernah dengar! Jadi jangan ganggu aku!" tukas Rin, "Lalu kau tidak harus mengikutiku kemana pun aku pergi!"
"Tapi kau hampir saja punya teman," ucap Mikuo, mengabaikan perkataan Rin, "Kalau dipikir-pikir, hebat juga kau saat jam istirahat tadi."
Rin melengos kesal. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari sekolah dan sampai di jalan raya. Saat Mikuo masih asyik berceloteh mengenai sesuatu saat jam istirahat hari ini, Rin secara tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya di seberang jalan, sedang mengantre untuk membeli sesuatu di toko roti.
"Lho, Kaito...?" gumam Rin sambil menyipitkan mata, mencoba meyakinkan diri bahwa sosok itu memang Kaito. Setelah mengamati beberapa saat, si gadis yakin kalau itu memang si Kaito. Tapi... rambut birunya sedikit acak-acakan, bahunya juga jatuh ke bawah tanda anak itu sedang loyo atau semacamnya. Apa dia sakit?
"Namanya siapa tadi? Yummy? Cumi? Ah... namanya–"
"Hei! Kau pulang duluan saja! Aku ada perlu sebentar!" ucap Rin, memotong perkataan Mikuo yang masih asyik membahas 'kejadian jam istirahat' di sekolah tadi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Rin hanya menyelamatkan seorang gadis pemalu dari para pem-bully. Sama sekali tidak ada yang spesial.
Saat Rin melangkah pergi, Mikuo tidak sempat mencegahnya karena gadis itu dengan cepat melesat ke seberang jalan dan berlari menuju arah yang berlawanan dengan jalan pulang. Akhirnya anak itu hanya mengangkat bahu tidak peduli, lalu melanjutkan perjalanannya pulang.
Rin mengintip dari balik tembok di suatu gang sempit yang bisa menyembunyikan dirinya dari jalan raya. Phew... syukurlah si Mikuo itu sudah pergi, pikir Rin sambil mengelap peluh tak nyata di keningnya. Sekarang dia harus bertemu dengan Kaito!
Rin pun keluar dari tempat persembunyiannya setelah memastikan kalau Mikuo sudah benar-benar menghilang dari pandangan. Tapi saat berbalik–
BRUK!
"Ah! Go-gomenasai!" seru Rin setelah secara tak sengaja dia menabrak seseorang.
"Hah...?"
Rin segera mendongakkan wajahnya begitu mendengar suara bass yang sudah sangat familiar itu. Kaito!
"Hei! Kaito!" seru Rin kaget.
Gadis itu lalu mengamati penampilan Kaito dari atas sampai bawah. Dia pun segera menyadari kalau wajah Kaito telihat sangat pucat. Bahkan suaranya saja tadi terdengar lemah. Benar juga. Rasanya tidak mungkin seorang Kaito Shion hanya akan mengucapkan kata 'hah' saat seseorang menabraknya dengan tidak etis seperti tadi, keras pula.
Rin segera berjingkat di depan Kaito, lalu meraba dahinya yang terasa hangat. Kaito terhenyak sebelum kemudian menepis tangan Rin, lalu menyingkirkan gadis itu dari tengah jalan.
"Pulang sana, domba busuk!" suruhnya sambil melangkah meninggalkan Rin. Tentu saja gadis itu tidak tinggal diam. Firasat seorang wanita-nya mengatakan untuk tidak mengabaikan Kaito.
"Kau yang harus pulang, Kaito! Lihat keadaanmu! Kau jadi begini gara-gara kau tidak pulang!" Rin menarik lengan Kaito yang membuat anak itu berbalik dan langsung kehilangan keseimbangan.
"Eh? Eh, Kai–cho–" Rin panik saat merasa badan besar Kaito akan menimpanya, segera saja dia menahan dada anak itu. Ah! Benar-benar! Berat sekali! Ini berarti Kaito tidak menahan tubuhnya dan malah membebankan itu pada Rin.
"Kaito, kau... baik-baik saja?" tanya Rin yang langsung jadi gugup. Kaito buru-buru membetulkan posisinya berdiri.
"Kubilang kau pulang saja," ucapnya.
Rin mendesah. Setelah mendengar suara yang benar-benar loyo dan sama sekali bukan nada Kaito Shion, gadis itu tanpa ampun menarik lengan orang yang dimaksud, lalu menyeretnya untuk ikut berjalan bersama.
"Idiot, mau kau bawa kemana aku?" Kaito langsung menarik lengannya dari Rin, "Aku tidak mau kembali ke tempat itu!"
Rin mendecak sebal sambil memelototi Kaito yang hanya melengos kesal. Apa ada cara untuk membuatnya tidak menolak?
Rin berpikir sejenak. Sejurus kemudian, dia teringat bahwa tadi pagi Bossu bilang kalau beliau akan pergi keluar selama satu minggu. Benar juga. Gunakan saja itu!
"Dengar ya Kaito, Bossu-san akan pergi ke luar kota selama satu minggu! Jadi dia tidak akan ada di rumah!" ucap Rin yang tiba-tiba jadi bersemangat, "Sekarang kau ikut aku!"
Kaito mendecak sambil kembali menarik tangannya, "Kubilang aku tidak akan kembali ke tempat itu!"
"Kalau kau tidak ada, aku hanya akan berdua saja dengan Mikuo Hatsune! Kau tahu?!" Rin berseru dengan nada mengancam sambil berkacak pinggang. Kaito langsung melotot. Apa?! Berdua saja?!
"Tch..." anak itu berpaling. Merenung.
Kuso. Sebenarnya Kaito benar-benar tidak ingin kembali ke rumah itu lagi. Membayangkannya saja sudah membuat berbagai macam emosi bergejolak dalam dada. Tapi bagaimana mungkin dia akan membiarkan rumah itu hanya diisi oleh orang asing, sudah begitu penghuni intinya hanya si domba busuk dan seekor kuda sial. Benar-benar kacau.
"Ayo ikut!" Rin pun kembali menyeret Kaito yang akhirnya mau mengikuti gadis itu dengan wajah pucat yang menyeramkan karena dicampur dengan raut kesal. Sial. Kuharap si botak brengsek itu memang tidak ada di rumah, umpat batinnya.
"Kau darimana saja–" Mikuo yang sedang berjalan menuruni tangga karena mendengar ucapan tadaima Rin langsung memutus perkataanya begitu melihat si gadis memapah Kaito yang sepertinya sedang kesulitan berjalan. Tte iuka, wajahnya pucat sekali.
"Kaito-kun!" seru Mikuo sambil berjalan mendekati Kaito, lalu menatap Rin, "Ada apa dengannya?"
"Minggir!" ketus Kaito sambil mendorong Mikuo yang hendak membantu memapahnya, lalu menoleh cepat pada Rin, "Heh! Cepat bawa aku ke atas!"
"Baiklah!" sahut Rin.
Mikuo sempat mengangkat alis begitu melihat Kaito memandangnya dengan pandangan membunuh yang tidak biasa. Yah, sepertinya dia sangat marah. Entah karena apa. Tapi siapa peduli, dia yakin kalau nanti dirinya dan monster laut itu akan terbiasa dan mungkin bisa akrab.
"Hm... tunggu," Mikuo mencubit dagunya sambil mengerutkan dahi.
Sepertinya dia kelupaan sesuatu. Saat ini Kaito pasti mau diajak untuk pulang karena Rin memberitahunya kalau Bossu sedang tidak ada di rumah. Ditambah lagi, anak itu pasti berpikir kalau dia hanya akan berdua saja dengan Rin. Cih, spekulasi yang cukup lucu untuk seseorang seperti Kaito Shion. Lagipula mana mungkin dirinya mau berduaan bersama bocah Kagamine itu?
Sekarang, saat melihat kedekatan hubungan Kaito dan si bocah Kagamine membuatnya memikirkan Miku. Ya ampun, kalau kedua orang itu semakin dekat, bisa gawat bagi Miku. Heh... begini-begini Mikuo tahu apa yang mungkin dirasakan adiknya itu terhadap Kaito. Apalagi dia pernah menceritakan 'sesuatu yang menarik' tentang Kaito dan hal itulah yang kemudian melandasi pemikiran Mikuo bahwa sang adik yang sudah beranjak dewasa tersebut menyukai seorang makhluk aneh bernama Kaito Shion.
"Aku harus melakukan sesuatu..." gumam Mikuo sambil mengangguk-angguk sendiri.
Miku menatap sekelilingnya dengan kagum. Wow. Ini pertama kalinya dia pergi ke apartemen seorang pria–yah meskipun masih harus dibilang bocah lelaki daripada pria. Gadis itu mengira apartemen yang dihuni anak laki-laki akan dipenuhi dengan debu dan kotoran, bekas makanan yang ditumpuk dan tak dicuci, baju yang berserakan di lantai, dinding kotor yang penuh dengan coretan, plus dapur dan kamar mandi yang sudah bagaikan kapal pecah. Namun yang ini lain.
Ruang tamunya begitu rapi dan sedap dipandang mata. Cat dinding-nya yang berwarna oranye masih sangat bersih dan cerah. Susunan bantal di atas sofa tertata dengan baik. Karpet merah yang terhampar di bawah sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang nampak begitu bersih sampai-sampai Miku tak rela jika ada yang menginjaknya.
Aduh... benar-benar jauh beda dengan apartemen miliknya kalau Kaito tidak hadir di sana dan memberinya sejibun omelan untuk selalu merapikan rumah. Memikirkan hal ini, Miku jadi malu sendiri.
Ngomong-ngomong, gadis negi ini sudah menyelesaikan tugasnya saat di sekolah, jadi dia bisa berada di apartemen Len. Sebenarnya gadis itu sempat mengalami pergulatan batin, tapi karena tidak tahan dengan kelezatan negi yang disebutkan Len, akhirnya Miku lebih memilih untuk berkunjung barang sebentar ke tempat bocah pirang tersebut.
Sebagai catatan, sebenarnya gadis micky mouse ini masih belum berhasil mengerjakan soal logaritma yang diberikan Len, hanya saja anak itu tetap berbaik hati dengan memberi Miku kesempatan untuk dapat memakan negi, makanan favoritnya. Yah, bisa dibilang ini adalah keberuntungan seorang Miku Hatsune.
"Omatase..." tiba-tiba Len keluar dari dapur dan berjalan ke ruang tamu sambil membawa sebuah baki berisi dua cangkir dan satu buah teko yang dari mulutnya mengepul asap tipis pertanda air di dalam teko tersebut masih hangat.
"Ini teh spesial keluarga Kagamine. Kami selalu membuat teh saat acara keluarga. Cobalah," ujar Len sambil menuangkan teh berwarna hijau ke salah satu cangkir, lalu menyimpan cangkir tersebut di depan Miku.
"Waaa... harumnya enak!" seru Miku sambil menepukkan kedua telapak tangannya, "Tak kusangka kau bisa membuat teh yang seperti ini!"
Len tertawa, "Aku sudah biasa. Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu membuatnya."
"Benarkah?" mata Miku langsung berbinar-binar. Len mengangguk mantap.
"Coba diminum dulu," suruhnya sambil mengarahkan dagu pada cangkir di depan Miku. Yang disuruh pun langsung menyesap teh hijau itu, lalu mendesah panjang seolah benar-benar menikmati sensasi teh yang terasa nikmat.
"Enak sekali," komentarnya, "Ah ya, bagaimana cara membuatnya?"
Len pun menjelaskan cara membuat teh. Mulai dari bagaimana menumbuk tehnya sampai halus dengan perlahan dan hati-hati, hingga cara menyeduhnya sampai dapat diminum dan menghasilkan bau yang enak. Miku nampak sangat antusias mendengarkan sambil tak henti-hentinya berdecak kagum dengan keahlian Len yang satu ini.
Hee... siapa sangka Len Kagamine itu tipe lelaki yang suka membuat teh?
Miku tidak benar-benar berpikir bahwa Len adalah seseorang yang menyenangkan dan rapi. Namun dari suasana apartemennya saja sudah bisa dipastikan kalau si shota itu tidak suka dengan kekacauan. Dari caranya membawa baki sampai menyuguhkan teh pada tamu, terlihat sekali kalau dia memperhatikan tatakrama dan sopan santun. Dari keahliannya membuat teh, pasti anak itu adalah seseorang yang pandai menyenangkan hati orang lain. Yah... meskipun memang ada satu-dua sikap yang bertolak belakang dari yang disebutkan tadi sih.
Miku tersenyum sambil menatap pantulan dirinya di balik kepulan asap, di atas air teh yang berwarna hijau. Aaah... pokoknya sekarang mari kita lupakan satu-dua sikap tersebut dan mulai melirik yang baik-baiknya. Ternyata menyenangkan juga.
Di sisi lain, Len tersenyum tipis begitu melihat Miku menyesap habis tehnya sampai menghasilkan suara aneh yang–sebenarnya–sangat tidak pantas untuk dikeluarkan seorang perempuan. Gadis yang satu ini benar-benar lucu.
Setelah menyimpan cangkir di atas meja, tanpa sungkan dia kembali menuangkan teh dan menghirup aromanya, kemudian memuji Len untuk yang kesekian kali. Hal itu berlangsung hampir selama setengah jam. Dan selama itu, keduanya sama sekali tidak mengingat tujuan awal mereka datang ke sana.
Kaito terlihat tenang dan nyaman berbaring di atas tempat tidur yang sudah lama tidak dia pakai belakangan ini. Merasa tak ada kegiatan, Rin yang sejak tadi menemani Kaito di dalam kamar membetulkan letak selimut anak itu dan menariknya sampai menutupi leher.
Rin pun tersenyum tipis sambil menatap Kaito, lalu melirik bungkus plastik roti yang masih digenggam makhluk biru tersebut.
"Kau tidak mau makan itu, Kaito?" tanya Rin sambil menunjuk plastiknya. Kaito langsung membuka mata, lalu mengangkat kantung plastik berisi roti yang tadi dia beli.
"Bagaimana kau tahu aku belum tidur?" dia bertanya. Rin terkekeh.
"Justru aku yang ingin bertanya, bagaimana bisa kau melakukan itu selama hampir satu jam?" balas si gadis. Kaito hanya menarik bola matanya ke atas, tak mau menjawab. Rin terkikik kecil.
"Lagipula, apa kau bercanda?" ujarnya sambil tersenyum, "Mana mungkin aku bosan menatap wajahmu."
Merasa terkena serangan mendadak di bagian jantung, Kaito langsung salah tingkah.
"Ja-jangan bicara yang tidak-tidak!" semprotnya. Rin kembali terkekeh.
"Sini rotinya!" gadis itu tiba-tiba merebut plastik di tangan Kaito.
"Mau apa ka–"
"Aaa~"
Kaito masih menganga saat kata-katanya terputus. Sambil tersenyum gadis pirang itu mengacungkan satu sobekan roti ke wajahnya. Si gadis terkikik kecil melihat Kaito hanya bisa bengong. Saat melihat mulutnya yang masih terbuka, Rin langsung memasukkan sobekan roti itu ke dalam sana. Untung saja si korban tidak tersedak.
"Apa yang kau lakukan, Idiot?!" Kaito langsung berpaling dengan mulut yang terisi roti.
"Kenapa?" tanya Rin sambil berdiri, "Kau tidak mau kusuapi? Haha. Ya sudah aku mau mengambilkanmu nasi dan minuman. Habiskan rotinya ya."
"Tunggu!" cegah Kaito, tepat saat Rin hendak melangkah menjauhi tempat tidurnya.
Setelah mencegah si gadis untuk pergi, Kaito hanya memandanginya lurus dan membuat pihak terpandang serta-merta berpikiran kalau anak itu tidak ingin dia pergi. Ah... wajah si gadis langsung merona. Dari mana pikiran seperti itu bisa keluar? Ya ampun, otakku sedang bermasalah! Batin Rin cemas.
"S..." Kaito mendesis.
Terlihat sekali kalau dia sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak berpaling dari Rin. Cengkramannya semakin kuat dan mulai membuat Rin kesakitan, tapi gadis itu tidak bilang apa-apa. Lebih baik menunggu.
"Su..."
"Hm...?" Rin mendekati Kaito pelan-pelan, "Apa?"
"S-su..."
"Su...?" ulang Rin sambil mengangkat kedua alisnya tinggi tinggi. Kaito sedikit menggigir bibir bawahnya dengan gusar.
"Kau kenapa, Kaito? Mau susu?" tanya Rin sekenanya.
"Su-suapi aku!"
"Eh?"
Rin melotot hebat saat mendengar perintah asing Kaito. Wow... sungguh aneh mendengar perintah yang kurang masuk akal itu dari mulutnya.
"Apa?" sang gadis mencoba memastikan pendengarannya. Semoga saja dia salah dengar.
"Suapi aku..." ucap Kaito pelan sambil memalingkan wajahnya, "Ta-tadi... tadi aku belum siap karena kau melakukannya tiba-tiba sekali."
Kali ini Rin benar-benar melotot di depan Kaito, menunjukkan ekspresi kejut yang sangat luar biasa. Kaito sendiri masih berpaling dan belum mau menatap Rin. Ah... sekarang gadis itu melihat daun telinga Kaito memerah. Ya ampun, mimpi manis apa ini...? jerit Rin dalam hati.
"Ka-Kaito! Kau... coba cubit aku! Cubit! Ayo!" Rin langsung mengguncang-guncang bahu Kaito, "Cepatlah!"
"H-hah?!" Kaito hanya kaget melihat gadis di hadapannya tiba-tiba bertingkah aneh.
"Ayolah Kaito!" Rin menunjuk-nunjuk pipinya dengan tak sabar, "Cubit di sini!"
Walaupun masih kebingungan dan tidak mengerti, Kaito menurut saja. Dia mencubit pipi gadis itu dengan gerakan singkat yang menyebabkan sebuah 'aw' keluar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian, si gadis menatap Kaito dengan mata berkilat.
"Hei, hei, ada apa ini?" Kaito bingung harus bagaimana. Memangnya salah ya dia minta untuk disuapi? Ck... memalukan sekali. Anak itu langsung mengusap wajahnya yang memerah. Ah, lain kali aku tidak akan–
"Kaitooo!" tanpa disangka-sangka Rin memeluknya dengan erat sampai Kaito merasa berat dan akhirnya kehilangan keseimbangan sehingga mereka sama-sama terjatuh ke tempat tidur.
"Sakit! Oi! Badanku sakit semua tahu! Apa yang kau lakukan?!"
Kaito langsung berontak saat Rin tidak juga mau melepaskan pelukannya. Hei ayolah, mereka sedang berada di atas tempat tidur–yah, meskipun sebelumnya dia juga pernah me-ehm... me-memeluk Miku dalam posisi begitu. Tapi tentu saja suasananya kali ini berbeda!
Ditambah lagi sekarang Kaito merasa bahwa ini adalah deja vu. Rasanya dia dan gadis di hadapannya itu pernah melakukan hal seperti ini. Aaa... maksudnya bukan melakukan, tapi tak sengaja melakukan; posisi di mana Rin yang sedang menimpa badan Kaito. Bukankah hal ini pernah terjadi beberapa waktu yang lalu...?
"Kaito! Kaito! Kaito! Kaito!" tiba-tiba Rin tanpa mengenal rasa malu malah memanggil-manggil namanya sekarang–saat mereka masih berada dalam posisi itu.
"Oi, berhenti memelukku! Dan lagi jangan panggil namaku! Kau ini apa-apaan sih, Ri–" Kaito berhenti marah-marah begitu menyadari kalau dia hampir saja memanggil nama si anak domba dengan sebutan 'Rin'–yang merupakan nama kecilnya.
Sepertinya si gadis menyadari hal itu sehingga dia langsung bangun dan melepaskan Kaito. Dia lalu menatap kedua mata lelaki di hadapannya itu dengan wajah kaget yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Apa?! Tadi... apa Kaito baru saja...
"Aaah..." Kaito menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil mendesah panjang. Sepertinya dia merasa malu.
Rin pun perlahan-lahan menarik sebuah senyum lebar setelah sempat kaget beberapa detik. Gadis itu benar-benar tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Tidak saat dia diberi hadiah sekardus besar jeruk saat ulangtahun yang keenam belas. Tidak saat dia berhasil menjadi juara Judo wanita tahun lalu. Tidak saat ibunya membelikan gitar antik yang sangat dia sukai...
"Hei, Kaito..." Rin menyentuh kedua tangan Kaito, lalu menyingkirkan mereka dari wajahnya. Sekarang kedua manik hazel gadis itu menatap intens kelereng safir Kaito.
Kaito masih terpaku saat wajah Rin terasa semakin mendekat. Rasanya... terus mendekat. Di saat-saat seperti ini, waktu terasa sangat lambat, jarak pun terasa begitu jauh. Meskipun Kaito merasa wajah Rin ada tepat di depan sana, tapi butuh waktu lama untuk bisa merasakan hembusan napas si gadis yang menyapu lembut wajahnya.
Kaito mulai tidak bisa berpikir jernih. Dia tak dapat ikut menutup mata saat kedua manik hazel Rin mulai bersembunyi di balik kelopaknya. Kedua safir Kaito masih ada di sana ketika ujung hidung Rin menyentuh pipinya.
Saat merasa jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa mili, tiba-tiba anak itu mendorong Rin, mencegahnya untuk mendekat.
"Ka..."
Tep!
Rin terpana begitu merasakan telunjuk Kaito menyentuh bibirnya, menyuruh gadis itu untuk tetap diam. Ah... tidak. Mata yang teduh itu menatapnya dengan lembut. Tatapan yang belum pernah ditunjukkan ataupun ditujukan sama sekali padanya. Tatapan yang begitu hangat dan... menyenangkan.
Rin masih terdiam saat Kaito menarik ujung selimut yang tersisa sampai menutupi bibir. Kedua bola mata Rin pun mengecil saat menyadari kalau Kaito sedikit menggunakan tenaganya untuk mengangkat kepala, lalu bergerak perlahan mendekati wajahnya. Sangat perlahan hingga–
"Hei, daritadi kalian lama sekali! Apa yang–"
–Mikuo membuka pintu dan menghancurkan segalanya.
Pemuda berambut hijau itu langsung berhenti melangkah begitu kemungkinan untuk bergerak masih ada saat melihat Rin dan Kaito sedang menoleh padanya dengan kedua mata terbuka lebar. Ah, tapi yang mengejutkan bukan di bagian itu, melainkan...
"KELUAR, BOKEEEEEEEE!" tiba-tiba saja Kaito melempar kantung plastik yang masih berisi roti di dekatnya ke arah Mikuo.
"Aa–iie! Maaf! Maaf!" Mikuo langsung keluar dan menutup pintu kamar.
Kaito menghela napas sambil menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Entah darimana dia berhasil mendapatkan kekuatan untuk berteriak seperti tadi, padahal badannya sedang lemas. Kuso. Kali ini dia tidak bisa menatap gadis domba itu. Apa yang sedang dilakukannya? Menatap? Berpaling? Kenapa dia tidak bersuara? Cih, cepat lakukan sesuatu!
"Curang..." tiba-tiba Rin menggumam, membuat Kaito meliriknya dari ekor mata. Hal itu seketika membuat yang melirik langsung memutar kepala untuk menatap wajah si gadis.
"Hei, hei, hei, kau ini!" Kaito langsung menarik kedua pergelangan tangan Rin saat gadis itu menutupi wajahnya dengan tangan–sambil sesenggukan. Apa sih? Kenapa dia?
"Kenapa kau menangis?" tanya Kaito, bingung. Rin menatap Kaito sambil sedikit terisak.
"Kau tahu tidak sih kalau saat-saat seperti tadi itu sangat penting buatku?" si gadis balik bertanya yang langsung membuat wajah Kaito masak saat itu juga.
"A-apa yang kau katakan?!" Kaito mendegus sambil berpaling, lalu mengerutkan dahi beberapa detik kemudian. Dia kembali menatap si gadis, "Apa tadi kau bilang?"
"Apa?" Rin mengangkat kedua alisnya. Kaito melengos.
"Tadi kau bilang apa? Penting? Kau pikir kejadian tadi itu penting?" tanya Kaito dengan nada mendesak dan tak percaya. Yang ditanya mengangguk-angguk mengiyakan.
"Ke-kenapa?" tanya Kaito sambil menggaruk-garuk pipinya dengan telunjuk. Tiba-tiba wajah Rin merona. Gadis itu memainkan jari-jarinya tanda dia sedang gugup.
"Em... yah, kau tahu 'kan Kaito... aku..." Rin menatap Kaito malu-malu.
"Mm..." Kaito mengangguk seolah tahu apa yang akan dikatakan Rin selanjutnya.
Gadis itu pun menatap Kaito dengan tatapan kaget yang entah sudah berapa kali. Cho–ini benar-benar super! Kaito hanya menerima perkataannya dan tidak membantah. Apalagi marah-marah seperti dulu. Entah mengapa Rin bisa merasakan kalau anak itu sudah banyak berubah. Sejak... kemarin? Ah tidak. bahkan jauh sebelum itu. Tapi sikapnya sekarang sangat berbeda.
"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu," tiba-tiba Kaito berubah serius sambil menatap Rin. Yang ditatap pun mengangguk mempersilahkan.
"Kau tahu, aku... aku ini kasar. Aku bersikap semauku dan sering membuat orang marah dan jengkel..." ucap Kaito.
"Aku setuju," timpal Rin sambil tersenyum lebar. Kaito mendengus sambil tersenyum, membuat si gadis terpaku di tempat.
"Baguslah kalau kau setuju, Ojou-chan," ujar Kaito sambil mengacak rambut Rin, "Lalu pertanyaanku adalah, apa kau jadi membenciku?"
Rin masih terdiam. Ojou-chan. Sudah lama dia tidak mendengar Kaito memanggilnya dengan nama itu. Rasanya rindu sekali. Ingatan Rin langsung melayang pada saat pertemuan pertama mereka.
"Hei, jawab dong, domb–eh, tunggu..." Kaito mengerutkan dahinya sambil melirik ke samping, bibirnya mengerucut tanda sedang berpikir. Sementara Rin masih saja membisu.
"Mm... sebaiknya kupanggil apa ya?" gumam Kaito yang masih sibuk memikirkan sebutan baru untuk Rin.
"...Rin..." tiba-tiba gadis itu menggumam sambil memasang wajah penuh harap, "Panggil aku Rin."
"Hah?" Kaito langsung menaikkan sebelah alisnya dan melempar senyum mengejek, "Masih terlalu cepat seribu tahun bagiku untuk mau memanggil nama menyedihkan itu. Sekarang jangan dipikirkan lagi! Jawab saja pertanyaanku. Jadi bagaimana? Apa kau membenciku?"
Rin hanya memasang senyuman lebar sehingga dua buah guratan panjang tercetak di kedua sisi bibirnya.
"Kau bercanda?" ucap si gadis, "Kau memang menyebalkan, mengesalkan dan kasar. Tapi..."
Kaito mencibir kesal mendengar perkataan Rin yang apa adanya itu. Tapi tak urung hatinya bertanya-tanya ada apa dibalik kata 'tapi' yang menggantung di sana.
"Tapi...?" ulang Kaito sambil sedikit menaikkan alis. Rin tersenyum lebar.
"Tapi aku tak punya alasan untuk membencimu," tuntasnya, "Justru kurasa karena kau mempunyai sikap seperti itu, makanya aku... menyukai, bukan membenci Kaito."
Kaito terdiam. Rin ikut terdiam. Kini suara detak jarum jam terdengar menemani kesunyian yang tercipta di sekitar mereka. Masih saling menatap, Kaito kemudian hendak buka mulut untuk bicara, tapi Rin dengan cepat menyimpan jari telunjuknya di bibir anak itu.
"Kau tahu Kaito, dari semua orang yang kau anggap mereka membencimu..." ucap Rin, "...ada orang yang tidak memiliki perasaan seperti itu."
Kaito terpana sesaat, lalu mengangguk pelan dan menunduk. Dia bersumpah bahwa dirinya pernah mendengar perkataan yang serupa dengan itu.
"Lalu, seandainya... seandainya saja ada di dunia ini ada mereka yang menginginkan keberadaanku, menyayangiku, menjagaku, dan mencintaiku..." anak itu mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap kedua manik hazel Rin lekat-lekat, "Kau termasuk yang mana?"
Rin berpikir sejenak, lalu tersenyum sedetik kemudian.
"Kau pikir aku yang menyukaimu ini tidak termasuk ke dalam semua kategori 'mereka' yang kau sebutkan tadi?" ucap gadis itu dengan intonasi pertanyaan. Tak lupa seulas senyum menghiasi wajahnya. Mata Kaito pun melebar. Lagi-lagi...
Lagi-lagi ada orang yang menginginkan keberadaannya, menyayanginya, menjaganya, dan mencintainya. Hanya saja, semua yang tak disangka Kaito adalah... mengapa orang-orang itu harus kedua gadis yang selalu membuatnya kebingungan? Rin dan Miku?
Miku.
Rin.
"Semuanya... Ya. Semuanya."
"Kau pikir aku yang menyukaimu ini tidak termasuk ke dalam semua kategori 'mereka' yang kau sebutkan tadi?"
Benar-benar dua buah jawaban indah yang serupa. Dan itu membuat Kaito merasa sangat bahagia. Akhirnya dia memiliki orang-orang yang berharga di sisinya. Kaito yakin kedua orang itu tidak akan mengkhianatinya. Tidak satu orang pun. Dan tentu saja... Kaito juga tidak ingin mengkhianati salah satu dari mereka. Karena itulah dia harus menjaga keduanya. Dia harus melindungi mereka baik-baik. Tidak ada yang boleh menyakiti mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Rin! Kaito! Makan malam akan segera siap!" Mikuo berteriak dari luar.
"Aikawarazu, dia berisik dan mengganggu sekali," dumel Rin sambil cemberut.
Melihat wajah bete gadis itu, Kaito tertawa kecil. Nah, mulai lagi. Rin kembali terkena shock akibat tawa kecil barusan. Gadis itu kemudian meraba-raba wajah Kaito dengan dahi berkerut. Yang diraba-raba hanya tersenyum sambil membiarkan jari-jari kecil Rin menjelajahi wajahnya.
"Ini bukan mimpi kan? Ini bukan ilusi 'kan? Ini nyata 'kan?!" tanya Rin. Kaito langsung menyingkirkan tangan si gadis.
"Kenapa harus pakai nada panik begitu sih?" tanya Kaito dengan wajah setengah kesal.
"Datte..." Rin menatap Kaito dengan sebelah alis terangkat tinggi, "Ini aneh. Kau benar-benar Kaito 'kan?"
Kaito mendecak, lalu mengibaskan tangannya.
"Sudah sana pergi! Lalu temani aku makan malam di sini!" suruhnya.
Rin pun mulai bisa menguasai dirinya lagi begitu mendengar nada bicara Kaito yang biasa. Ah... sikap menyebalkannya masih ada. Ini memang Kaito. Meskipun aneh dan benar-benar seperti mimpi, Rin meyakinkan diri bahwa anak itu adalah Kaito Shion, dan dia sudah berubah.
Tok! Tok! Tok!
"Apa kalian masih lama?" tanya Mikuo.
"Berisik!" teriak Rin, lalu beralih menatap Kaito, "Kau tunggu di sini ya. Tidurlah sambil menungguku membawakan makanan kemari."
Kaito hanya mengangguk, lalu memperhatikan Rin yang sedang berjalan menjauh ke arah pintu. Dia melihat gadis itu sempat mendumel sekilas pada Mikuo, lalu menutup pintu dan menghilang dari pandangan. Selang beberapa detik kemudian, rasa kantuk mulai menyerangnya. Suasana sepi itu pun menuntun Kaito untuk memejamkan mata.
"Lalu bagaimana dengan rencana awal kita?" tanya Len sambil menyesap teh bagiannya.
Daritadi mereka sibuk membicarakan teh dan macam-macamnya yang membuat kedua orang itu lalai mengingat tujuan utama, yaitu membuat nasi goreng. Untunglah Miku sudah kehabisan topik tentang teh sehingga Len akhirnya bisa buka mulut soal rencana membuat nasi goreng itu.
"Ah! Iya, bukannya aku kemari untuk makan nasi goreng buatanmu ya?" cengir Miku. Len tertawa kecil.
"Jadi kau tidak mau membantuku memasaknya? Hanya ingin makan saja?" tanya si shota dengan nada menggoda. Miku terkekeh, lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan semangat.
"Mau mulai sekarang?" ajak gadis negi itu. Len mengangguk-angguk.
"Tunggu sebentar ya," katanya sambil berdiri, "Oh, sambil menunggu lebih baik kau siapkan bahan-bahannya di dalam kulkas. Ambil tomat, juga negi-mu itu. Oke?"
Miku mengangguk-angguk antusias, lalu langsung berjalan ringan menuju dapur.
"Mm... Len," panggil Miku, membuat Len yang hampir melangkah itu menoleh ke arahnya.
"Apakah aku boleh memakai celemekmu? Aku selalu ingin pakai celemek," tanya Miku dengan wajah penuh harap, membuat Len tak tahan untuk tidak tertawa geli.
"Kenapa harus minta ijin segala? Pakai saja. Aku punya tiga celemek kok di dapur," ujarnya.
Miku pun menarik kepalan tangannya ke depan dada sambil berseru 'yes'. Len geleng-geleng kepala melihat si gadis sesenang itu karena diijinkan memakai celemek. Hm... tapi kalau dipikir-pikir, gadis itu tidak merasa canggung berada di apartemennya yang ber-notabene seorang lelaki. Bahkan, di wajahnya tidak tersirat rasa sungkan secuil pun.
Apa mungkin karena gadis itu memang sudah terbiasa tinggal di rumah Yakuza yang banyak lelakinya ya? Yah, walau bagaimana pun keluarga Yakuza itu didominasi oleh kaum adam sehingga mungkin hal seperti ini sudah merupakan sesuatu yang lumrah terjadi.
Len pun hanya mengedikkan bahu, lalu berjalan ke kamarnya untuk sedikit melakukan persiapan memasak. Tunggu. Persiapan? Hehe, begini-begini kalau mau memasak, Len harus selalu melakukan 'persiapan di dalam kamar'. Apalagi sekarang dia sedang bersama Miku. Bisa jadi kesempatan 'kan?
Miku sedang bersiap dengan pisau dapur saat melihat Len berjalan ke arahnya dengan... tampilan yang berbeda? Ya. Bocah shota itu benar-benar terlihat beda. Miku sempat bengong selama beberapa detik mengamati perubahan Len.
Rambut pirang yang biasa diikat di atas kini tergerai, jatuh menutupi sebagian wajahnya; hampir menyisakan satu mata, namun mata yang lain masih terlihat meskipun setengah tertutup rambut. Tengkuknya juga tertutup oleh helaian emas itu. Ah... entahlah, meskipun terkesan jabrik, tapi menurut Miku rambut Len ternyata indah juga kalau digerai. Selain itu, dia tampil dengan memakai kacamata. Sungguh. Anak itu terlihat cool dengan sedikit guratan ramah di wajahnya.
Apa ini memang hanya perasaan Miku saja atau memang setiap orang yang tidak berkacamata akan kelihatan cool begitu mereka memakainya?
Tanpa sadar, Miku melepaskan pisau di tangannya sehingga menyebabkan stainles panjang itu menyentak jantung saat berbenturan dengan lantai dapur.
"Miku-chan? Kau tidak apa-apa?!" Len yang sedang sibuk memakai celemek sambil menyiapkan penggorengan langsung menghampiri Miku begitu mendengar suara pisau jatuh.
"A-ah... iya aku baik-baik saja. Tenang, tenang, ahahaha..." ujar Miku dengan nada bergurau. Matanya kembali beralih pada tomat-tomat dan negi di atas meja. Wajahnya terlihat sedikit merona, dan Len tersenyum tipis begitu menyadarinya.
"Oh ya Len, kenapa kau memakai kacamata?" tanya Miku, berusaha mengalihkan topik pembicaraaan.
"Ini?" Len menunjuk kacamata yang sedang dipakainya sambil nyengir, "Kupakai supaya tidak ada minyak yang mengganggu mataku. Bagaimana? Cukup kreatif 'kan?"
Miku bengong sesaat sebelum tertawa keras. Benar juga. Ternyata ada trik seperti itu ya? Miku terkekeh dalam hati.
"Oke, sementara menunggu minyaknya memanas, kita akan memotong bahan-bahan ini terlebih dahulu. Hm, cabainya mana?" tanya Len begitu tidak menemukan bahan yang lain di atas meja, "Lalu bawang merah dan putih? Mentimun?"
Miku menggumamkan eh, lalu nyengir sambil mengusap-usap tengkuknya, "Kau tadi hanya menyuruhku membawa tomat dan negi. Selebihnya aku tidak tahu. Hehe..."
Len geleng-geleng kepala, lalu menyentil dahi Miku saat berjalan melewatinya ke arah lemari es untuk mengambil bahan-bahan yang masih tertinggal.
"Kurasa semua itu adalah bahan dasar yang selalu tersedia dalam berbagai makanan. Seharusnya kau tahu itu, Miku-chan," ujarnya. Miku hanya terkekeh, lalu menghampiri Len, melongok ke dalam lemari es.
"Oooh, ternyata banyak juga ya bahan-bahannya.." gumam Miku sambil menyimpan telunjuknya di bibir bawah, "Baiklah. Lalu apa selanjutnya? Biar kuberitahu sedikit. Aku tidak pandai mengiris, tidak suka menggoreng, tidak bisa mengontrol besar-kecilnya api yang kalau kau menyuruhku membalikkan telur, pasti telur itu akan menempel pada katel. Kau percaya?"
Len tertawa lepas mendengar ucapan Miku yang terkesan dilebih-lebihkan itu. Dia berjalan ke arah meja dan menyimpan bahan-bahan sementara Miku menutup lemari esnya, lalu mendekati Len.
"Apa yang bisa kau lakukan kalau begitu?" guraunya saat mulai mengiris cabai merah satu per satu. Miku hanya mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke bibir sambil merenung dan duduk di atas meja dekat Len.
"Kurasa aku hanya pandai dalam hal mencicipi. Bagaimana menurutmu?" cengir Miku yang kembali membuat lawan bicaranya tertawa.
Lalu seakan ingat sesuatu, Miku segera berlari ke ruang tamu, mengambil buku dan alat tulisnya, lalu kembali ke dapur. Tangannya langsung siap untuk mencatat.
"Apa kau berniat menulis semua yang kulakukan?" tanya Len seselesainya mengiris bahan-bahan. Miku mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan.
"Kenapa tidak pakai kamera saja? 'Kan lebih mudah," tanya Len, membuat Miku seketika menepuk jidatnya sendiri.
Tanpa berkata-kata lagi, gadis itu mengambil handphone, lalu mulai merekam dari ruang tamu sambil mengucapkan beberapa kalimat pembuka, sementara Len menunggu di dapur sambil mengangkat piring berisi bahan yang sudah diiris tadi, lalu mulai menjelaskan bagian mana yang akan digoreng lebih dulu.
Mereka terus melakukan proses tanya-jawab sampai beberapa menit hingga akhirnya nasi goreng jadi. Miku masih merekam saat Len memindahkan nasi berwarna cokelat cerah itu ke atas dua piring berwarna hijau berbentuk persegi pendek, lalu membentuknya sedemikian rupa sehingga terlihat membundar.
Setelah nasi mulai terlihat enak untuk dimakan, Len memberikan sentuhan kecil dengan menyimpan tiga buah mentimun pinggir nasi gorengnya. Sebuah tomat berukuran sedang yang bagian atasnya sudah diiris–sehingga terlihat cantik seperti bunga–juga diletakkan di puncak nasi. Terakhir, sang koki menyimpan suah telur rebus yang sudah dibagi dua sehingga memperlihatkan kuningnya yang terlihat menggiurkan di samping tumpukan mentimun.
"Dan jaaan~! Nasi goreng pun siap dimakaaan~!" teriak Miku sambil membalikkan ponsel dan memperlihatkan dirinya, Len beserta nasi goreng yang sudah jadi ke kamera.
"Hahaha! Aku senang sekali! Ayo makan! Ayo makan!" seru Miku setelah menekan tombol stop pada kamera di ponselnya. Len tertawa melihat sikap Miku yang tidak sabaran itu. Ini mungkin karena dia melihat banyak negi di dalam nasi goreng.
"Baiklah, ayo makan!" seru Len. Miku langsung menjerit senang.
Rin mendumel pelan saat menyadari Mikuo berbohong soal makan malam yang hampir siap itu. Memang sih, ada kata hampir, tapi entah mengapa yang terjadi malah tersajinya berbagai macam makanan mentah yang masih perlu digoreng. Sudah begitu, tidak ada yang memasaknya lagi. Entah ini ulah Mikuo atau bukan, yang jelas Rin benar-benar marah.
Sebenarnya ini sudah masuk waktu makan malam, dan tentu saja makanan sudah harus tersaji di atas meja. Tapi lihat apa yang didapatnya?
Mikuo terkekeh di ambang pintu saat melihat Rin terus-terusan memasang wajah cemberut sambil menyibukkan diri dengan penggorengan. Anak berambut hijau itu merasa puas telah membuat si bocah Kagamine merasa kesal karena acaranya dengan Kaito terganggu. Tapi bukankah untuk itu Mikuo ada di sana? Untuk mengganggu mereka?
Haha. Ungkapan yang cukup kasar kalau boleh dibilang. Tapi memang itulah niat Mikuo. Dia hendak membantu seseorang dengan mengganggu orang yang lain. Aneh bukan? Yah, begitulah kenyataan. Kalau dia tidak mengganggu, maka habislah sudah keluarga Hatsune beserta adiknya yang tersayang. Syukurlah para maid yang bekerja di sana bisa diajak kompromi sehingga sekarang dia punya kesempatan untuk melancarkan 'serangan'-nya yang lain.
"Perlu bantuan?" tawar Mikuo sambil menampilkan ekspresi ingin membantu yang justru terlihat sangat menyebalkan bagi Rin.
"Ya," sahut Rin cepat, "Aku butuh kau untuk pergi keluar sehingga aku tak perlu merasa ingin menggoreng wajahmu di atas minyak!"
Mikuo terkekeh singkat, "Tak kusangka kau bisa berkata sekejam itu."
Rin tak menggubris. Dia hanya mendelik sambil mengambil beberapa makanan yang masih belum termasak. Mikuo ikut mengambilkan beberapa piring bahan mentah itu untuk digoreng dan berdiri di samping Rin. Ceritanya dia sedang menemani sang gadis memasak.
"Kau," Rin melirik Mikuo tajam, "Kalau kau punya banyak waktu luang, sebaiknya nyalakan kompor sebelah dan mulailah menggoreng!"
Mikuo menguap lebar setelah dia menatap kompor yang dimaksud. Menguap tandanya dia malas mengerjakan perintah Rin. Menyadari hal itu, si gadis memasang wajah cemberut yang lebih mengerikan. Mikuo hanya tersenyum tipis sambil menarik kursi, lalu duduk di sana dan mulai memainkan sesuatu di ponsel untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Rin sebenarnya tahu kalau makhluk hijau itu hanya ingin mengerjainya saja. Tapi seharusnya dia bisa melihat keadaan, bukan malah bersikap cuek dan hanya bermain game tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Benar-benar mengesalkan!
"Kau tahu 'kan kalau Kaito sedang sakit?!" akhirnya Rin tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi Mikuo Hatsune, "Seharusnya kau tidak melakukan ini! Kaito jadi telat makan gara-gara kau!"
Mikuo mendecak saat permainannya payah. Dia sama sekali tidak bermaksud mendengar ocehan Rin yang langsung membuat sang gadis meledak dengan wajah merah menahan marah. Sontak Rin menyimpan spatula dengan kasar di atar penggorengan, lalu merebut ponsel Mikuo dengan galak.
"Hei! Hei! Aku belum se–" si pemilik ponsel hendak melotot kalau tidak melihat wajah monster Rin yang sudah seperti shinigami kehausan roh. Heh. Lelaki itu pun menyeringai lebar.
"Kembalikan ponselku," ucapnya ringan.
"Aku tahu kau yang menyuruh para maid itu menghilang! Kau pikir aku bodoh?! Aku juga tidak mungkin mencari mereka semua karena tak ada banyak waktu!" teriak Rin, berang. Seringaian Mikuo makin lebar begitu merasa amarah si bocah Kagamine meledak-ledak.
"Kembalikan ponselku," ulang Mikuo, masih dengan nada ringan yang sama. Rin semakin kesal. Karena sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, dia menendang kursi yang ada di sampingnya ke arah Mikuo.
"Hee...? Mau adu kekuatan di sini?" seringainya setelah menahan kursi yang ditendang Rin, "Kalau kau memulai pertengkaran, Kaito-kun akan semakin kelaparan di atas. Jadi sebaiknya kau bergerak cepat."
Rin mendecih, "Aku tidak percaya pernah merasa kasihan padamu! Menyedihkan!"
"Ck, ck, ck..." Mikuo geleng-geleng kepala, "Sebaiknya kau tidak membuatku marah di sini."
"Kubilang cepat bantu aku!" bentak Rin. Yang dibentak hanya melengos tak peduli. Orang itu malah berbalik, berniat melangkahkan kakinya keluar dapur.
Rin segera melangkah untuk mengejar Mikuo, namun entah sejak kapan lantai di dekat kompor menjadi licin karena minyak sehingga Rin menjerit kaget saat menginjak bagian itu. Tubuhnya pun timpang ke arah penggorengan yang apinya masih menyala.
"KYAH!" Rin tak sanggup melihat ketika wajahnya tertuju pada minyak goreng panas itu.
"Hei! Hei!"
Mikuo yang belum berada begitu jauh pun secepat kilat melompat dan menarik lengan Rin dengan berniat menjauhkannya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saking cepatnya dia melompat, anak itu tidak punya kesempatan untuk mengendalikan tubuhnya sehingga dia harus bertukar tempat dengan Rin, membuat sikut kanan menyenggol katel dan menyebabkan sebagian pergelangan tangannya tersiram minyak panas.
"ARGH!" erang Mikuo begitu merasakan tangannya terbakar.
Rin berseru kaget begitu melihat tumpahan minyak itu mengenai pergelangan tangan Mikuo.
"Hei! Hei! Seseorang! Tolong kemari! Cepatlah!" gadis itu langsung berteriak sambil buru-buru menghampiri Mikuo. Ya ampun! Di saat seperti ini dia tidak tahu apa yang harus dilakukan! Rasanya ingin menangis. Apalagi saat melihat Mikuo terus-terusan mengerang menahan rasa sakit.
"Hei bertahanlah! Seseorang! Cepat kemari!" teriak Rin, tapi tak seorang pun datang menghampiri mereka. Rin pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dapur. Matanya berhenti di sebuah wastafel. Segera saja dia membawa Mikuo ke sana, menyalakan keran, lalu membiarkan tangan anak itu tersiram air.
"Ugh...!" Mikuo terlihat menahan sakit saat air dingin menyentuh bagian yang terkena minyak. Rin terus berusaha menahan lengan Mikuo agar anak itu tidak menarik tangannya.
"Bertahanlah sebentar!" ucap si gadis, panik dan cemas.
Tak lama, para maid yang kira-kira berjumlah enam orang pun berdatangan. Sebagian merasa kaget saat melihat minyak yang masih menetes dari penggorengan, sementara yang lain mulai mengerubungi Mikuo dan Rin.
"Tolong obati dia!" pinta Rin.
"Cepat siapkan kotak obat!" seru salah satu maid, sementara yang lain menuntun Mikuo ke ruang tengah untuk diobati.
Rin hanya bisa memandanginya dari belakang dengan perasaan bersalah. Seharusnya gadis itu tidak cepat marah. Apalagi mengajak bertengkar di dapur seperti tadi. Benar-benar berbahaya. Rin bodoh... rutuk batinnya. Dia bisa benar-benar tewas limabelas detik yang lalu kalau makhluk hijau itu tidak menyelamatkannya.
Rin mulai terisak. Dia takut. Sangat takut. Entah karena dirinya yang nyaris terkena siraman minyak ataukah karena pengorbanan Mikuo yang menyebabkan dirinya sendiri terluka. Gadis itu pun buru-buru meninggalkan dapur untuk melihat keadaan Mikuo.
Mikuo menatap pergelangan tangannya yang sudah diperban meskipun masih terasa panas dan perih. Sungguh, rasa ini benar-benar menyiksa. Sakitnya kulit yang terkelupas dibarengi rasa ngilu yang menyelusup ke permukaan kulit membuat anak itu tidak bisa berhenti begerak-gerak dan mengaduh. Yah, meskipun sudah sempat diberi obat, tapi pengaruhnya tidak terlalu cepat bereaksi.
Mikuo berhenti bersuara saat pintu kamarnya terbuka. Sesaat kemudian, muncullah seorang gadis cebol yang tidak lain dan tidak bukan adalah si bocah Kagamine. Sesaat dia nampak ragu untuk melangkah–mungkin karena keadaan di dalam gelap dan lampu tak dinyalakan–, namun akhirnya gadis itu masuk juga dengan kepala menunduk dan kedua tangan bertaut kuat di depan lutut.
"Ck... mau apa kau kemari?" tanya Mikuo yang langsung tak nyaman karena sekarang dia harus menahan diri dari rasa sakitnya.
Rin menunduk semakin dalam. Dia tak berkata-kata selama beberapa lama sampai Mikuo hampir tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengusirnya jauh-jauh. Ya ampun, benar-benar pengganggu. Setidaknya biarkan dia sendirian dulu sekarang!
"Cepat keluar. Aku mau istirahat," suruh Mikuo, dibuat agar terdengar sekalem mungkin. Namun tak cukup berhasil karena dia mengatakan itu dengan menahan rasa perih yang melegit di tangan.
"...af..." gumam Rin, membuat Mikuo menatap sang gadis heran.
"Ma..maaf..." ulangnya, lalu menatap Mikuo dengan kedua mata yang merah berkilat, "Maafkan aku!"
Selama satu detik, Mikuo hanya terdiam memandangi kilatan di mata Rin. Detik berikutnya dia mengibaskan tangan tak peduli.
"Bodoh, untuk apa minta maaf..." gumam Mikuo, "Ini bukan salahmu, jadi keluar sana. Kau menggangguku."
Rin masih tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri. Mikuo pun mendecak sebal.
Sebenarnya makhluk hijau itu tidak ingin kalau si gadis mengira bahwa kecelakaan ini adalah salahnya. Sejak awal, Mikuolah yang memutuskan untuk menyelamatkan Rin. Hal ini sama sekali tidak bersangkut-paut dengan bocah Kagamine tersebut. Dan lagi, Mikuo juga tidak merasa heroik karena telah menyelamatkan seseorang yang mengesalkan seperti Rin. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
"Ck, cepat pergi sana. Aku mau tidur!" dengus Mikuo. Cih. Karena tak tahu harus bagaimana menyampaikan perihal tadi, anak itu malah berakhir dengan membentak.
Rin pun menunduk, lalu berbalik dan melangkah pelan keluar kamar. Saat tak sengaja melihat wajah si gadis yang tersorot cahaya lampu dari luar, kedua iris zamrud kebiruan Mikuo sempat membundar. Dia menyadari adanya guratan bercahaya di pipi gadis itu. Masa' sih? Apa dia menangis? Mikuo bertanya-tanya dalam hati.
"Itte!" anak itu kembali pada realita kehidupan saat tanpa sadar tangannya yang diperban sedikit bergerak untuk menggapai Rin. Entah apa maksudnya. Ya sudahlah. Yang penting gadis itu sudah keluar, jadi dia bisa bebas melakukan apa pun tanpa perlu menahan diri lagi sekarang.
"Maaf merepotkanmu, Len!" seru Miku cepat saat dia dan Len sedang berboncengan di atas sepeda. Saat ini mereka berdua tengah mengarah ke apartemen Miku seselesainya 'acara makan nasi goreng' yang sebenarnya sudah resmi menjadi 'acara makan malam' di apartemen Len.
Ditengah-tengah acara makan tadi, tiba-tiba Miku teringat dengan Kaito. Gadis itu langsung khawatir dengan bertanya-tanya apakah Kaito sudah makan saat dirinya sedang makan enak begitu. Apalagi saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ya ampun. Tak disangka-sangka acara minum teh dan memasak nasi goreng itu bisa memakan waktu sampai berjam-jam.
Saat itu, Len juga sepertinya melupakan waktu sehingga kemudian menawarkan diri untuk mengantar Miku pulang dengan sepedanya. Tentu saja dia tidak bisa membiarkan seorang gadis pulang seorang diri malam-malam begini.
Setelah beberapa menit berboncengan, akhirnya mereka berdua memasuki halaman apartemen Miku. gadis itu pun buru-buru berpamitan pada Len dan mengucapkan terimakasih setelah berjanji akan membuatkannya nasi goreng nanti.
"Hati-hati ya!" pesan terakhir Miku sebelum berlari cepat menaiki tangga apartemen.
Kalau boleh jujur, Len sedikit heran dengan tingkah Miku. Sebenarnya tadi mereka masih punya waktu untuk sekadar menghabiskan nasi yang tinggal beberapa suap lagi. Dan dia hanya tinggal mengantar Miku setelah acara makan berakhir 'kan? Tapi sepertinya gadis itu sangat panik dan terburu-buru untuk pulang. Terlihat jelas kalau dia sedang mencemaskan sesuatu. Apa itu ya? Kelihatannya benar-benar penting. Len jadi bertanya-tanya sendiri.
Yah... bertanya-tanya pun tak akan menghasilkan jawaban. Kalau Len benar-benar penasaran, dia hanya tinggal menanyai gadis itu di sekolah nanti.
Rin menarik napas panjang begitu keluar dari kamar Mikuo. Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Setelah barusan bertemu dengan Mikuo–yang terlihat kesal–jelas sekali kalau anak itu benar-benar marah padanya. Gadis itu mengepalkan tangan kuat-kuat, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin untuk menenangkan diri. Dia tetap harus bertanggung jawab. Yosh.
Setelah bertekad untuk mengurus Mikuo sampai tangan anak itu benar-benar sembuh dan pulih, Rin melirik kamar Kaito. Sesaat kemudian gadis itu berseru pelan. Dia baru ingat kalau Kaito belum sempat makan malam. Dan ketika mengingat dua kata itu, Rin juga tahu kalau Mikuo belum makan.
Gadis itu buru-buru turun ke bawah untuk menyiapkan makanan yang mungkin sudah jadi. Berhubung dia belum bisa menghadapi Mikuo, dia pun menyuruh salah satu maid untuk mengantar makanan ke kamarnya. Sedang Rin sendiri mengantar makanan ke kamar Kaito.
Miku langsung memanggil-manggil nama Kaito setelah melepas sepatunya dengan asal, lalu melesat ke dalam kamar. Tapi dia tidak menemukan siapa pun di sana. Sebenarnya gadis itu sempat mengirimi Kaito email saat berada di jalan bersama Len, tapi dia tak kunjung mendapat balasan.
Merasa tak menemukan Kaito dalam kamarnya, Miku pun mencari-cari anak itu di seluruh penjuru apartemen, tapi hasilnya nihil. Rasa panik, khawatir, dan cemas mulai bercampur menjadi satu. Segera saja gadis itu mengeluarkan ponsel dan menelpon Kaito. Nada sambung pun terdengar lama.
"Kaito, angkat telponnya...!" geram Miku.
Merasa tak ada respon, gadis itu menarik ponsel dari telinga, lalu membiarkan jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di atas layar. Beberapa saat selanjutnya ponsel itu kembali menempel dengan telinga.
"Kaito... ayolah, angkat telponnya..." gumam Miku sambil berjalan mondar-mandir dengan resah.
Karena tak kunjung tersambung dengan suara Kaito, rasanya Miku hampir putus asa dan nekat mencari keluar kalau sedetik kemudian tidak terdengar bunyi 'klik' tanda telpon diangkat. Miku seketika melotot waswas. Jantungnya berdebar kencang. Berbagai pertanyaan pun siap terlontar dari mulutnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Rin melihat Kaito sedang tertidur dengan posisi yang agak berbeda dari sebelumnya. Sebelah tangan dan kaki anak itu keluar dari selimut, memberi kesan kalau besok dia akan sembuh dan baik-baik saja. Gerak-gerik orang sakit dan orang sehat itu berbeda, bukan? Bahkan saat tidur.
Rin pun mendesah sambil menyimpan baki berisi makanan yang dibawanya di atas meja belajar. Dia bingung antara membangunkan dan menyuruh Kaito makan obat dulu–karena kenyataannya dia baru meninggalkan kamar ini selama sekitar 20 menit yang lalu–ataukah membiarkan anak itu tetap tidur dengan resiko besok pagi kemungkinannya sakit masih ada.
Saat sedang merenung, gadis itu mendengar suara getaran khas yang dibuat ponsel. Awalnya Rin tidak terlalu ambil pusing karena gertarannya singkat, tapi lama-lama semakin sering. Tempo getaran pun pun tidak cukup singkat untuk tidak mengira bahwa itu merupakan sebuah panggilan telpon. Tapi tetap saja, 'alien' dari mana sih yang berani menelpon Kaito di jam-jam tidur begini...? Hati Rin langsung bertanya-tanya.
Saat masih mendengar suara getaran ponsel, gadis itu mencari sumbernya dan menemukan si ponsel terselip di bagian pinggang Kaito. Sesaat Rin mengangkat alis begitu melihat ID pemanggil; Nenek Gendut Pelupa. Siapa itu? Yang jelas pasti seorang perempuan. Tapi bukan Miku ataupun Luka–karena memang hanya mereka yang Rin tahu berhubungan dengan Kaito–ditambah lagi monster laut ini selalu memanggil seseorang dengan nama hewan.
Rin ragu sejenak saat hendak mengangkat telpon itu. Bayangan sesosok wanita cantik menari-nari di kepalanya. Ya ampun! Rin menggeleng cepat. Tidak mungkin. Tidak mungkin.
Gadis itu menghela napas pendek, lalu hampir mengangkat telpon saat tiba-tiba sambungan terputus bersamaan dengan erangan halus yang dibuat Kaito. Rin langsung terhenyak beberapa detik. Tapi untunglah saat dia menoleh, Kaito masih tertidur. Anak itu hanya membalikkan posisi tubuh saja. Rin pun menjatuhkan pantatnya di dekat Kaito sambil mengurut dada.
Drrrt... drrrt...
Gadis itu kembali gelagapan begitu ponsel di tangannya bergetar lagi. Ya ampun... tenang, Rin. Ten–
"KYA–!" Rin menahan diri untuk tidak berteriak saat tiba-tiba Kaito menarik pinggangnya, membuat gadis itu ikut berbaring di atas tempat tidur. Dia didekap erat oleh kedua lengan Kaito. Ya ampun!
Rin tidak tahu apakah Kaito sadar atau tidak, tapi posisi ini...!
Gadis itu buru-buru mendongak dan sedikit memutar kepala untuk melihat wajah sang pelaku pemelukan. Ah, ternyata mulutnya sedikit terbuka yang menandakan kalau orang itu memang masih tertidur dan hanya salah mengira kalau dirinya adalah sebuah guling.
Ah, menyedihkan. Rin tidak bisa menekan rasa kecewanya yang entah sejak kapan muncul begitu menyadari fakta bahwa dirinya saat ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah media pengganti guling–tapi tentu saja dia tidak berharap lebih.
Drrrt... drrrt...
Ponsel Kaito kembali bergetar. Kali ini Rin langsung mengangkat telpon dan sontak dikagetkan dengan suara cerewet orang di seberang.
"Kaito! Kau di mana? Apa kau sedang di luar?! Kenapa tidak bilang mau pergi?! Kau pakai jaket? Tadi sudah minum obat? Sudah makan? Kenapa mi-nya masih utuh?!"
Rin melotot. Suara anak perempuan. Tunggu. Lagipula apa-apaan semua pertanyaan tadi? Mereka terdengar seperti Kaito itu merupakan tanggung jawab penuh perempuan tersebut.
Karena terlalu kaget, Rin melepaskan diri dari Kaito dengan cepat, lalu berdiri tegap menghadap pintu. Kaito sendiri masih tetap asyik tertidur.
"Kaito! Halo? Kaito! Kau di mana?! Jangan membuatku cemas!"
Rin samar-samar bisa mendengar deru nafas orang di seberang. Sepertinya gadis itu benar-benar khawatir dengan Kaito. Tapi, bagaimana bisa seorang anak perempuan yang bicara?
"Kaito!"
Rin mencoba menenangkan diri dan mulai mencoba untuk mengenali suara ini. Suara yang... yang sepertinya mirip dengan–
"Halo...? Kaito? Hei, Kaito! Apa yang terjadi?! Katakan padaku! Ayo, bicaralah! KAITO!"
Rin terkesiap saat menyadari nada lawan bicaranya yang langsung berubah oktaf. Perlahan-lahan, tangan gadis itu gemetar. Dadanya terasa sesak. Air mata entah sejak kapan menggenang di pelupuk, siap untuk meluncur dalam hitungan detik. Hatinya sakit dan perih begitu yakin telah mengenali suara itu.
"...Mi..." bibir Rin bergetar, "...Miku-chan...?"
Chapter eleven's finished.
By Itachannio
Jeng! Jeng! Jeng! Apa yang akan terjadi selanjutnya?! *berisik sendiri*
Baiklah Readers! Akhirnya kita ketemu juga yah setelah satu bulan berpisah! (Adakah yang merindukanku? #tendanged) :D
Oh ya, seharusnya Author nge-update cerita ini di pagi hari, tapi karena suatu kesalahan teknis, jadinya sore deh. Hehehe :D
Gomen nih, update-nya lama terus, hahahaha! Sudah mulai belajar soalnya. Tapi yah, mudah-mudahan Author tetap bersemangat untuk menulis! Doakan ya kawan-kawan! XD
Soshite, kembali mengingatkan!
Fanfic ini akan di update setiap hari minggu, tapi tidak tahu hari minggu di minggu ke berapa. Mudah-mudahan update-nya cepat! XD
Arigatoo untuk semua dokter yang telah bersedia memberikan resep obat terkait penyakit "Typoleosis" saya! :D
Mudah2an kebaikannya dibalas lebih! Aaamiiin! XD
Next Chapter
Jangan Tinggalkan Aku
Reviews reply:
Rini Desu
Yeeeeeeeeey! Author turut bahagia bersama Rini! XD
Kurotori Rei
Okairi Rei~
Hahaha betul syekali kematian ibunya Kaito ada sangkut-pautnya dengan Hatsune! XD
Jyahahahahahaha! Kaito jarang nangis yah. Menurut Author, dia jadi imut kalau lagi nangis. #apahubungannyacoba XD
Siap lanjutkan~ :D
Agnuslysia
Hahahahahahaha! Cerita ini memang mengundang banyak pro dan kontra saudaraku! XD
Mudah-mudahan dirimu gak kecewa apa pun endingnya~ XD
Shintaro Arisa-chan
Wah ketahuan suka nonton sinetron nih Arisa-chan! Bagus, bagus! *ditendang* XD
Yoshaaaaa! Mudah-mudahan yang selanjutnya gak terlalu lama~ XD
Kagamine 02 Story
Masaaaa~? Benarkaa~h? *ketawa-ketiwi gaje*
Btw iya ya bagusan RinxLen, tapi mereka mah di sini bersaudara. Wohohoho, jadi pengen bikin fict RinxLen dah! XD
Kaiko-chan
Hehehe aaamiiin... iya mudah-mudahan tidak ya Kaiko-chan! *ikut berdoa* XD
Siap bos! I'll keep going! XD
Hana Kirameku
Sedihkah...? Waduh Author tersentuh nih XD
Yang ini apdet lemot hahahahaha! Gomen, gomen! Yang berikutnya mudah-mudahan enggak! XD
Satsuki21as
Haduh haduh jadi malu deh! Hahahaha! Suka drama korea ya? Sama dong! #siapayangnanya XD
Hahahahaha! Apa pun yang terjadi mudah-mudahan mereka nggak saling membenci yah. Yuk sama-sama berdoa #reaksihiperbolapunterjadi XD
Btw endingnya memang salah satu dari pair-pair itu kawan! XD
Dan yah, mudah-mudahan endingnya benar-benar tidak akan mengecewakan~ :D
Hikayami Ryuusei
Huaaaaa...! Author juga merasa kasihan dengan Rin. Hiks. Sabar. Sabar. XD
Iya bener, kehidupan sekolah Rin sekarang ikut kena biar dia gak bulukan di rumah doang, kasihan. Hahahaha! XD Mana Kaitonya lagi gak ada di rumah lagi :D
Siap booo~s! Arigatoo yaaa~ jyahahahahahaha! Author senang syekali dapet ilmu 'kan! XD
Muni
Chapter sembilan? Masa? Benarkah? Aih senangnya~ lalalalala XD
Btw soal masalalu keluarga belum akan diungkap di sini. Cepat atau lambat... persoalan itu akan datang! Tunggu saja! Tunggu yaaa~ XD
Yumiharizuki
Terimakasih! Terimakasih! *nyalamin Yumiharizuki* XD
Eeeeeh? Rupanya dirimu suka pair KaitoxMiku?! Jyahahahaha! :D
Okeee~ mangga dibacaaa~ XD
RukmawatiHM39
Hohooooo~ terimakasih Rukma-chaaaan! Pas buat dijadiin anime?! Benarkah?! Benarkah?! Ureshii! XD
Yeah, sesuatu memang akan terjadi. Karena itu, teruslah merasa penasaran! XD
Gyaaaaaaah...! Benarkah dirimu akan terus mengikuti cerita ini? Rukma-chan, aku tersipu~ *ngumpet dibalik tembok* XD
Btw gapapa Rukma-chan! Nyantae bae, nyantae bae! XD Author ini sudah cukup bahagia dirimu mau terus mantengin cerita ini! Jyahahahahahaha! XD
Yeeey! GANBATTE~!
