I do not own the story!
copyright © 2012 All I Care About by fantasy_seoul (AFF)
translated by Zhen Jian (Oct 31, 2016)
Enjoy~
(*Luhan*)
Ya.
Satu kata.
Satu kata sederhana.
Ya.
Kata yang didefinisikan sebagai jawaban setuju.
Kata yang hanya memiliki 3 huruf.
Namun pengaruh "Ya" pendek itu lebih besar dari yang sudah Luhan antisipasi.
Dia berdiri di sana, wajahnya tanpa ekspresi. Sikapnya kaku. Matanya kosong –kosong oleh pemahaman.
Tapi bukan karena dia terkejut.
Tidak, nyatanya, dia sudah lama menebaknya sejak mencurigai perasaan presiden untuk Sehun. Caranya melihatnya. Nada yang ia gunakan untuk berbicara dengannya. Dari tingkahnya saat di sekitarnya. Tidak butuh ilmu pengetahuan hebat untuk mengetahui bahwa ia sungguh menyukai Sehun.
Walaupun begitu, dia tidak menyangka ia akan sangat terbuka soal itu seperti sekarang.
Dan karena itulah dia terpaku di tempatnya, kaku.
Pikirannya masih mencoba untuk memproses fakta bahwa gadis di depannya baru saja mengakui mempunyai rasa suka pada kekasihnya.
Apa ini benar-benar terjadi?
"Luhan?" dia memanggilnya, menyadarkannya kembali ke kenyataan.
Dia melihat ke arahnya, dan ketika ia membalas tatapannya dengan mata meminta ma'af, Luhan menyimpulkan bahwa ini benar-benar terjadi. Ini bukanlah sesuatu yang dia bayangkan.
Presiden memiliki rasa untuk Sehun.
Sehunnya.
"Luhan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, anehnya suaranya perhatian.
Dan Luhan tidak mengerti kenapa.
Apa sejujurnya ia tidak berpikir dirinya akan bereaksi seperti ini? Apa kemungkinan ia memainkan kartu tidak tahu apa-apa?
"Apa aku seharusnya baik-baik saja?" dia menjawabnya dengan suara mantap, atau semantap yang bisa dia kerahkan. Matanya bertemu dengannya, dan ia menatapnya dengan tatapan khawatir, tapi jika dia melihatnya lebih dekat, Luhan bisa menemukan kesedihan yang berada di belakangnya. Dia bertanya-tanya kenapa.
Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. A-aku mengerti. Itu pertanyaan bodoh. Aku...Aku minta ma'af."
Luhan hanya menatapnya, tidak yakin untuk apa ia meminta ma'af –pertanyaannya atau pengakuannya?
"Aku akan bereaksi seperti itu juga jika aku menjadi kau. Luhan, aku...aku minta ma'af. Sungguh." Ia menunduk menatap kakinya, dan Luhan merasakan ia sedang mencoba menyembunyikan air matanya.
Normalnya, dia akan merasa tidak enak jika melihat seseorang menangis, tapi hari ini berbeda.
Simpati bukan salah satu dari perasaan yang sedang membombardirnya.
Walaupun sekarang, dia tak menginginkan apa pun selain berlari ke tempat Sehun berada dan menenggelamkan wajahnya di dada Sehun, agar kekasihnya menenangkannya, Luhan tahu bahwa dia tidak sanggup untuk melepaskan hal ini sampai dia mengetahui semua kebenarannya. Dia menginginkan jawaban.
"Sejak kapan kau merasa seperti itu kepada Sehun?" dia mengatakannya.
Ia perlahan mengangkat wajahnya, dan seperti yang dia perkirakan, ada air mata di matanya. Dia tersedu. "Aku sudah menyukainya...sejak sekolah tingkat atas."
Luhan berkedip. Sekolah tingkat atas?...Mereka saling mengenal sejak sekolah tingkat atas?
"Jadi kau sudah menyukainya lebih lama dariku..." dia bergumam, kata-kata itu menyengatnya.
Ia berkedip cepat padanya. "I-itu bukan yang sedang kucoba untuk katakan. A-aku hanya... Luhan, aku –"
"Pernahkah kau memberitahunya tentang perasaanmu?"
Dan itu ketika air matanya mulai turun, tapi ia dengan cepat menghapusnya seraya memberikan Luhan sebuah anggukan kecil.
"Kapan?"
Ia melihat kearahnya, dan Luhan merasa seperti ia diam-diam memohon kepadanya untuk berhenti menanyakan pertanyaan seperti itu, seakan pertanyaan-pertanyaan itu melukainya. Luhan menatapnya kembali, memberitahunya bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga menyakitinya.
Ia mengambil napas dalam. "Aku mengaku padanya selama tahun terakhir sekolah tingkat atasku. Dia... Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menyukaiku kembali. Dia hanya menganggapku sebagai...seorang teman."
Mendengar rasa sakit di suaranya ketika ia mengatakan "teman", Luhan menemukan dirinya sendiri tertampar oleh dua perasaan yang berlawanan.
Di satu sisi, dia tiba-tiba merasa kasihan kepadanya karena jika seseorang yang dia sukai untuk waktu yang lama mengatakan hal itu, dia pasti akan sangat tersakiti. Bahkan dia bisa patah hati.
Tapi di sisi lain, dia merasa senang (lega di luar batas) karena orang yang ia sukai adalah kekasihnya sekarang. Jika Sehun menerima pernyataannya, lalu siapa yang tahu menjadi apa mereka sekarang. Apakah Luhan bahkan menjadi bagian darinya?...
"Aku mencoba untuk melupakan semuanya ketika aku masuk kuliah, dan selama satu tahun penuh, aku hampir lupa tentang perasaanku pada Sehun. Tapi itu berubah saat dia berakhir masuk ke Universitas Suk-Myeong juga..." Suaranya mulai bergetar di akhir, dan Luhan merasa dadanya mengerat.
"Se-semua p-perasaanku datang kembali dan itu menyiksa untuk merasakan semua emosi itu lagi. Aku tahu tak akan ada yang terjadi, tapi jauh di dalam, aku berharap mungkin dia akan merubah tentang perasaan yang dia punya untukku. Mungkin dia akan menerima perasaanku dan membalasnya. Tapi kemudian –" Ia menatap Luhan, matanya berlinang. "— kau datang."
Luhan akan merasa bersalah karena menjadi alasan di balik air matanya, tapi pikirannya mengatakan bahwa Sehun dan dia bukanlah pasangan dari awal, jadi itu bukan salahnya.
Ia mungkin sudah mengenal Sehun lebih lama dari pada dirinya, dan ia mempunyai perasaan untuknya juga sebelum Luhan menjadi teman sekamar Sehun, tapi pada akhirnya, Sehun memilih dirinya.
Luhan tahu dia tidak seharusnya merasa bersalah untuk menjadi seseorang yang Sehun cintai.
"Aku tahu itu benar-benar berakhir ketika kau datang –tapi lagi, kami bukan apa-apa dari awal."
"Kau pasti membenciku." kata Luhan.
Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan. Lagi pula, kau sangat disayangi dan sempurna. Aku akan terkejut jika ada orang yang membencimu." Ia memberikannya senyuman kecil.
"Aku tidak sempurna."
"Nah, di mata Sehun, kau hampir mendekati sempurna."
Luhan tersenyum akan hal ini karena walau dia tidak setuju, itu benar –Sehun menganggapnya mendekati sempurna. Selama sesi makan tengah malamnya, Sehun yang mengantuk, yang terpaksa untuk datang ke lantai bawah mencarinya, sering bergumam tentang betapa Luhan akan menjadi sempurna jika bukan karena kecintaannya untuk semua yang manis.
"Dan kau mempunyai senyuman yang cantik. Aku bisa melihat mengapa Sehun menyukainya."
"Hm?"
"Aku sering mendapatinya menatapmu, dan kapan pun kau tersenyum, wajahnya menjadi lebih cerah. Dari caranya memperlakukanmu sangat berbeda dengan bagaimana dia memperlakukan orang lain. Dia melihatmu dengan mata memuja, aku menemukan diriku sendiri merasa sangat iri. Kau melepaskan sisi Sehun yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sisi yang penyanyang. Dia menjadi lebih banyak tersenyum. Dan aku tahu ini salah dan percuma untukku merasa seperti ini, tapi... terkadang aku berharap aku adalah alasan dibalik senyumannya," ia mengakui itu dengan senyuman terpaksa. Sangat jelas, sulit baginya untuk memberitahunya.
Dia berjalan mendekat padanya dan meletakan tangan di pundaknya. Dia tersenyum menyakinkannya. "Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang akan tersenyum karenamu."
Ia menggigit bibir bawahnya dan menoleh ke arah lain. "Kau sangat baik. Aku merasa seperti orang jahat. Kau mungkin membenciku."
Luhan melepaskan bahunya dan bergerak untuk berdiri di jarak pandangnya. "Tidak. Sebenarnya aku berterima kasih kau memberitahuku yang sesungguhnya."
Ia berkedip padanya. "Bahkan jika kenyataannya soal bagaimana aku menyukai –"
"Ya. Bahkan jika soal kau yang menyukai kekasihku." Luhan meletakan tangannya di pinggangnya, memberikannya tatapan tegas palsu.
Ia tertawa kecil dan Luhan terkekeh.
"Aku minta ma'af," katanya lagi. "Aku ingin kau tahu bahwa tak pernah sekali pun aku ingin mencuri dia darimu. Sungguh."
Luhan melengkungkan alisnya. "Benarkah? Lalu bagaimana bisa kau menempatkan kami dalam tim berbeda?"
Ia merona. "Timnya ditentukan berdasarkan nama siapa yang aku ambil dari topi. Itu tidak disengaja! Kau bisa tanya Hongki. Dia ada di sana."
"Bagaimana tentang fakta kau memperlakukan dia lebih baik dari pada anggota lainnya?"
Ia merona lebih dalam akan ini. "A-aku minta ma'af. Aku hanya terbiasa memperlakukannya seperti itu. Sudah kebiasaan. Aku tidak tahu kau akan menyadari hal seperti ini."
"Aku menyadari semua ketika ini mengenai Sehun." Dia menatapnya tajam, tapi bukan untuk mengekspresikan hal negatif. Lebih seperti memberitahunya bahwa dia selalu melihat.
Ia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. "Aku tidak akan melakukannya lagi. Sumpah."
Luhan melipat lengannya dan menyeringai. "Kurasa aku harus berterima kasih padamu karena tidak mengejarnya?"
Ia tertawa. "Kita berdua tahu dia akan selalu memilihmu."
Luhan tersenyum. "Ya. Kita tahu."
Ia mengambil napas. "Aku sangat senang akhirnya bisa mengeluarkan semua ini dari dadaku."
"Bagus, tapi bisa aku tanya sesuatu?"
"Yeah. Tentu."
"Apakah kau akan bisa...berhenti menyukainya?"
Ia ragu untuk sedetik sebelum mengangguk. "Jujur saja, kupikir perasaanku untuk Sehun perlahan-lahan sudah menghilang, khususnya saat kau datang ke dalam hidupnya. Ini mungkin sulit, tapi aku belajar untuk melepasnya."
"Jika kau perlu bantuan, beritahu aku. Aku akan dengan pasti membimbingmu ke arah yang benar." Arah yang mana tidak ada Sehun didalamnya.
"Terima kasih sudah mendengarkanku. Aku tahu orang lain tidak akan mendengarkannya."
"Bukan masalah. Tapi aku harus memperingatkanmu –aku mungkin bisa baik sekarang, tapi aku tidak merasa akan mema'afkanmu jika aku mendapati dirimu menyentuhnya lagi. Itu akan menjadi perang."
Mereka berdua tertawa. Merasa sama-sama lebih baik sekarang karena semuanya sudah terbuka, tetapi selesai. Luhan merasa sebuah beban sudah terangkat dari pundaknya. Sisa dari perjalanan itu telihat lebih baik.
"Kita harus kembali," sarannya.
"Yeah. Kita sudah pergi cukup lama." Luhan dan presiden berbalik untuk berjalan kembali ke yang lain. "Mereka mungkin cemas."
"Nah, satu orang pastinya."
"Siapa?–"
"DI SANA KAU!" Suara kesukaan Luhan berteriak seraya mereka berbelok di ujung, memasuki halaman belakang penginapan.
Sehun berlari dan menatap tajam Luhan. "Dari mana kau?! Aku khawatir Hongki mendorongmu ke selokan lainnya dan kau terlalu gemuk karena semua daging barbeque itu untuk memanjat!"
Si presiden terkekeh, mengejutkan Sehun, yang rupanya tidak menyadarinya.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua," kata presiden. Sebelum dia pergi meninggalkan mereka, dia menoleh dan tersenyum pada Luhan.
Luhan tersenyum lebar. Itu terasa lebih baik karena tidak perlu mencemaskan soal –
"Kenapa kau tersenyum lebar?"
Luhan melihat ke arah Sehun, yang menatapnya, kebingungan.
Hal berikutnya yang dia tahu, tangannya menangkup wajah terkejut Sehun dan bibirnya menempel pada bibir Sehun.
Luhan mencium Sehun, dan semuanya baik lagi. Ya.
Dia merasa seluruh tubuhnya menjadi gembira akan perasaannya, rasa yang dia kenali, dari bibir Sehun.
Sudah lama dari ciuman terakhir mereka. Luhan ingin menunjukan pada Sehun betapa dia merindukannya dan bibir manisnya, jadi dia mulai menciumi anak laki-laki yang lebih tinggi lagi dan lagi.
Sehun rupanya merindukan dirinya juga karena saat dia sudah tidak terkejut akan Luhan yang tiba-tiba menyerangnya, dia melingkarkan lengannya di sekitarnya dan menariknya lebih dekat. Bibirnya dengan senang membalas ciuman Luhan.
Saat Luhan menarik menjauh dengan tangannya masih menangkup wajah Sehun, anak yang lebih tinggi mengerutkan dahi. Luhan merasa jantungnya berdetak lebih cepat akan pemandangan dari Sehun yang menginginkan lebih darinya.
"Sehun-ah."
"Yeah?"
Dia menepuk wajah Sehun. "Jangan pernah memanggilku gendut lagi."
Sehun mendengus. "Yeah, nah jangan membuatku khawatir tentangmu lagi."
Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa."
Pegangan Sehun di pinggangnya mengerat. "Kenapa?"
"Karena aku sulit ditebak. Kau harus selalu berada di kakimu. Terus-menerus memikirkanku dan apa yang sedang aku lakukan, atau masalah apa yang kemungkinan sedang kuhadapi." Luhan mengedip padanya. "Aku hidup di tepi jurang."
Sehun memutar bola matanya. "Oh tidak. Aku memiliki Bambi liar yang mengaku hidup di tepi jurang, tapi kenyataannya, dia bahkan tidak pernah melihat sebuah tepian."
"Oh aku pernah melihat tepian."
"Aku tidak berpikir tepi dari kue kesukaanmu masuk hitungan."
"Yahhh."
Sehun tertawa. "Imut."
Luhan mendengus. "Kau harus berhenti menggunakan kata imut untuk mendeskripsikanku."
"Kawaii."
"Sehunnn." Luhan membuka lengan Sehun darinya.
"Lindo."
"Lindo?"
"Yeah. Itu bahasa Spanyol untuk imut," jelas Sehun.
Luhan membuat wajah tidak senang. "Tidak lucu." Dia baru akan memajukan bibirnya, tapi menyadari bahwa itu hanya akan memberikan Sehun sebuah alasan untuk meledeknya.
"Kau mau memajukan bibirmukan?" tanya Sehun, sebuah seringaian muncul di wajahnya.
Luhan melipat lengannya di depan dada. "Tidak, aku tidak melakukannya."
"Tentuuuuu."
"Aku tidak melakukannya!"
Sehun tertawa. "Oke oke. Kau tidak melakukannya. Ma'af. Mungkin kau sulit ditebak." Dia tersenyum pada Luhan sebelum menggandeng tangannya dan memimpinnya ke arah rumah.
Luhan melihat ke bawah pada jari-jari mereka yang bertautan dan tersenyum. "Apa aku benar-benar membawa sisi manismu keluar?"
Sehun menatapnya aneh. "Siapa yang memberitahumu?"
"Jawab saja."
"Tidak. Kau mengeluarkan sisi 'aku melakukan hal-hal gombal karena aku mencintai kekasihku dengan jumlah yang gila'."
Luhan tertawa. "Itu juga dikenal sebagai sisi manismu." Dia meremas tangan Sehun. "Aku suka sisi manismu."
Sehun berhenti berjalan dan menatapnya. "Mignon."
"Mignon?"
"Bahasa Perancis untuk imut."
Sehun tertawa saat Luhan berpura-pura untuk melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.
"Bagaimana bisa kau tahu bahasa Perancis?"
"Chanyeol hyung mengambil les Perancis karena dia ingin membuktikan pada Baekhyun hyung bahwa dia bisa menjadi romantis seperti orang lain. Sayang untukku, akulah orang yang menjadi bahan praktik bahasa Perancisnya."
"Kenapa bahasa Perancis?"
"Karena itu adalah bahasa dari cinta –setidaknya itu yang dia katakan padaku."
Luhan tertawa. "Jadi apa Baekhyun merasa bahasa Perancisnya romantis?"
Sehun tersenyum lebar. "Tidak. Baekhyun hyung tidak bisa mengerti kata yang dia katakan. Mungkin itu juga tidak benar. Dia mendapatkan C di kelas."
"Nah, usahanya yang terhitung..."
"Kuharap kau tidak berpikir soal aku belajar bahasa Perancis karena aku tidak mau melakukannya."
"Kenapa tidak? Itu bahasa dari cinta. Dan kau mencintaiku dalam jumlah gila'kan?" goda Luhan.
Sehun mengerang. "Tuez moi maintenant." (Bunuh aku sekarang)
"Aww. Itu terdengar romantis," aku Luhan seraya menatap penuh harap pada Sehun. "Apa yang kau katakan?"
"Uhm. Ayo masuk ke dalam."
fantasy_seoul: MA'AF TEMAN-TEMAN! Aku tahu ini sudah LAMA sejak terakhir kali aku update, tapi aku sibuk dengan sekolah. Ini minggu ujian, jadi aku tidak bisa menulis apa pun. Semester musim gugur berakhir hari Senin, jadi aku akan memiliki banyak waktu untuk menulis!
Aku harap kalian menyukai bagian ini! Lagi, aku minta ma'af sudah membuat kalian menunggu lama. Lol. Aku merasa buruk jadi aku memberikan Hunhan fluff di akhir! :) Mereka sangat imut! Ya, aku tahu bayangan di awal membuatnya terlihat seperti Luhan akan sakit hati dan lainnya, tapi dia lebih kuat dari itu! Lol. Dia menghadapi situasinya dengan baik, setidaknya kupikir begitu.. Juga, presiden satu tahun lebih tua dari Sehun, jadi Sehun adalah anak kelas satu dan presiden adalah anak kelas dua saat mereka pertama kali bertemu. Dia menyukainya selama 4 tahun... Tapi sudah waktunya untuk melepaskannya! Sehun sudah dimiliki orang lain! Hehehe. Hongki juga akan secepatnya bergerak :)
Terima kasih sudah membaca! Subscribe dan komen :D Aku akan update lagi secepatnya.
Z.J: Lagi susah buat tidur, jadi yah dari pada nganggur... Next chap tunggu saja~ See ya~
