"Mungkin, terkurung bertahun-tahun di rumah itu ada gunanya juga. Dia terlindung dari segala kekejaman yang ada di sekitarnya. Terlindung, tapi terbohongi."
Carpe Noctem
Fantasy AU
Tom Riddle x Harry Potter + other undecided pairings
I don't own Harry Potter.
.
.
Chapter 10: Other Side of The Coin
Sungai kecil di hadapan Harry mengalir dengan gemericik tenang. Udara terasa cukup dingin di sekitarnya, sebab sinar matahari belum begitu menusuk di pagi hari. Harry menghirup, menikmati bebauan embun yang membuat damai pikirannya. Di kejauhan, tepat pada seberang Harry, gerombolan anak-anak sedang berjongkok di tepian sungai, menangkap ikan, siput, atau apapun yang bisa mereka bawa pulang. Satu anak tercebur ke bagian pinggir sungai yang dangkal—yang lain menertawakan sebelum menolongnya.
Harry mengamati mereka dengan setengah melamun sambil bertopang dada.
Niatnya pergi keluar adalah untuk melepas beban, menjernihkan pikiran, tetapi kekhawatirannya tetap menemukan jalannya kembali ke dalam jiwa Harry dengan segala cara. Bahkan di tengah-tengah suasana sedamai ini, Harry diingatkan kembali oleh misi mereka. Lord Voldemort, yang sekarang sudah mendapat tubuh dan perlahan mulai mengumpulkan kekuatannya kembali. Hermione, Ron, dan Ginny yang jadi terlibat ke dalam pertarungannya. Pencarian Horcrux yang tidak memberikan rasa optimis pada Harry. Dan, masalah yang ada sekarang—bagaimana mereka harus mengambil Horcrux Voldemort di gua tanpa harus melawan Durmstrang dan Judex dari Eastern Domus, Igor Karkaroff.
Harry tahu, mulai sekarang, misi mereka akan menjadi bertambah serius. Mereka akan bertaruh nyawa, dan betapa inginnya dia mengganti kata 'mereka' dengan 'dirinya'. Hemione, Ron, dan Ginny tidak seharusnya terjun menghadapi apapun bahaya mematikan yang akan dihadapinya. Mereka bukan Anak-yang-Bertahan-Hidup. Mereka tidak dijatuhi harapan untuk mengarahkan Voldemort. Kalau bisa, cukup Harry saja yang menderita. Cukup dirinya...
Kemungkinan mereka menang memang sangat kecil. Lagipula, apa yang bisa dilakukan empat remaja bau kencur untuk melawan Lord Voldemort, Death Eater, dan seisi Domus yang mendukungnya?
Kesampingkan Lord Voldemort dan seisi Domus. Harry telah melihat kemampuan salah satu dari prajurit terkuat di Domus, Durmstrang, dan dia tidak merasa begitu yakin.
Sekelebat memori muncul, menunjukkan latihan Viktor Krum dan prajuritnya yang Harry intai kemarin. Dia mengingat bagaimana Viktor dapat dengan tangguh meladeni semua prajuritnya tanpa satu tetes keringat, dan… prajurit yang memegang dua pedang. Harry terkesima dengannya, dengan teknik dan kecepatannya.
Dibandingkan dengan mereka semua, Harry merasa… lemah.
Memang mengesalkan, tetapi demikian kenyataannya. Harry mendadak ingin mengambil pedangnya dan berlatih habis-habisan siang malam—apapun agar kekuatannya meningkat, agar dia bisa merasa lebih aman dalam menghadapi musuh yang sangat kuat.
Sayangnya, tidak ada waktu untuk itu. Voldemort tidak akan memberinya waktu terlalu lama untuk bernapas, Harry tahu itu. Bahkan saat-saat senggang ini dapat dinikmatinya hanya karena Voldemort masih bermain-main dengan mereka.
Harry menggigit bibir bawahnya. Bagaimana dia bisa menjadi lebih kuat?
"Pagi-pagi begini sudah galau?"
Suara seorang perempuan muncul dari belakangnya. Harry tak perlu menoleh untuk mengenali pemilik suara, tetapi dia tetap melakukannya. Ketika dia menangkap wewarna merah menyala dari surai panjang sang gadis, Harry membiarkan bibirnya tertarik ke atas.
"Hei, Ginny," sapanya. "Aku tidak galau, tahu."
"Benarkah?" Alis Ginny yang naik menunjukkan ketidakpercayaannya. Gadis itu mengundang dirinya sendiri untuk duduk di sebelah Harry, tak terlalu dekat tetapi tak juga berjauhan. Sejenak, dia terdiam, menyapukan sepasang matanya kepada pemandangan sejuk kota di pagi hari. "Melihat suasana seperti ini, aku jadi sulit percaya kalau kita sedang mengemban misi bunuh diri."
Harry mengangguk. Dia sangat mafhum apa yang dirasakan Ginny. "Rasanya terlalu damai, kan?"
"Kita jadi tidak bisa menikmati ketenangan tanpa merasa paranoid, ya?" Ginny memeluk kedua lututnya. "Aku takut, kalau aku terlalu menikmati sesuatu, Pangeran Kegelapan akan datang tiba-tiba dengan kejutan gelapnya."
"Kelihatannya dia memang tipe yang suka memberi kejutan," Harry membalas dengan nada bercanda yang datar. "Dia dan semua pengikutnya…"
Ginny mengeluarkan dengusan geli, lalu hening. Anak-anak di seberang telah pergi membawa sekantong kecil ikan-ikan tangkapan mereka, melompat-lompat di pinggiran sungai sambil bergurau. Harry memandangi mereka dengan sedikit iri. Andai saja dia bisa sebebas mereka, menikmati dunia tanpa rasa peduli sedikit pun…
"Jadi?" tanya Ginny yang memiringkan kepalanya. Helai-helai merahnya bergoyang, berjatuhan lembut dari bahunya. Harry baru tahu kalau rambut perempuan bisa terlihat seindah itu. "Apa yang membuatmu galau pagi-pagi sekali?"
Harry menahan helaan napas. Memang sia-sia mencoba menyembunyikan sesuatu dari mata jeli Ginny. "Cuma memikirkan sesuatu."
Ginny menggumam. "Tentang yang kemarin?"
Harry melotot, lalu menggelengkan kepalanya dengan tawa kecil. "Bagaimana kau tahu?" katanya. "Kau benar. Mereka kuat sekali, huh…"
"Dan, yang kemarin baru latihan. Mereka belum menunjukkan kekuatan penuh mereka," tambah Ginny.
Harry merasa semakin merana. Karena tak ingin Ginny menyaksikan mimik menyedihkannya, dia membenamkan wajah ke atas kedua tangannya yang terlipat di atas lutut. "Aku merasa lemah," Harry berbisik tajam, tak repot-repot menyembunyikan frustrasi di dalam nadanya. "Semua orang berharap besar kepadaku, dan aku… dibandingkan musuh-musuh yang harus kuhadapi, aku tidak ada apa-apanya." Harry tertawa pelan. "Tentu saja aku lemah. Aku baru tahu kalau aku adalah Magus beberapa minggu yang lalu, dan musuh kita—mereka sangat terlatih. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tidak bisa menghentikan Voldemort?"
"Aku tahu apa yang kau cemaskan." Bisikan Ginny terdengar. "Saat kita berangkat kemarin, aku berpikir kalau aku bisa melakukan segalanya. Apa yang kita lihat kemarin seperti tamparan keras. Seperti ada yang berteriak di depan mukaku, 'Hei, anak kecil, dunia tidak semanis itu!' Aku jadi membayangkan, kalau Durmstrang, yang hanya ada di salah satu wilayah Domus saja sekuat ini, lantas bagaimana dengan Pangeran Kegelapan sendiri?"
Seruak rasa bersalah menyergap benak Harry. Dia seharusnya tidak membiarkan Ginny, Ron, atau Hermione ikut. Apa yang akan dihadapinya terlalu berbahaya. Meskipun mereka memilih bersembunyi, lambat laun mereka harus bertarung juga. Yang Harry cemaskan adalah Voldemort… dan rencana yang dia siapkan untuk membuat dirinya sendiri terhibur, menyaksikan Harry dan teman-temannya berjuang mati-matian.
Harry tidak peduli jika Voldemort melukainya, tetapi dia tidak ingin teman-temannya menjadi incaran Pangeran Kegelapan.
"Ginny," Harry memulai dengan pelan, "Masih ada waktu. Kau tahu, kalau kau ingin pu—"
"Jangan memulai pembicaraan soal itu denganku, Harry," Ginny menyela tegas. Harry mengangkat kembali kepalanya, dan dia menyaksikan bagaimana kedua mata cokelat Ginny membara. "Aku tidak akan pulang. Ini adalah jalan yang kupilih. Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku—semua yang terjadi kepadaku adalah akibat dari pilihanku sendiri. Kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan… Kumohon, jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi…" Bibir Harry bergetar. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tapi, Molly menunggumu. Tapi, kau bisa memilih kehidupan yang lebih cerah. Tapi, kau bisa tinggal di rumah dan mencari orang yang dicintaimu di desa.
Tapitapitapi.
"Aku takut. Membayangkan musuh gila macam apa yang menanti kita, tentu saja aku takut. Ditambah lagi, kita bukan seorang Magus berpengalaman. Kita bukan siapa-siapa saat ini." Ginny menunduk, mendekap tubuhnya sendiri. "Makanya, yang perlu kita lakukan adalah bertahan dan bertahan. Mungkin, saat ini kita masih lemah, tepat seperti yang kau katakan. Tapi kalau kita bertahan dari satu pertarungan, lalu bertahan lagi, dan lagi dan lagi, aku yakin kita akan bertambah kuat." Ginny menghirup napas, lalu memunculkan sebuah senyuman lebar. "Dan kau, Harry, tidak perlu melalui semuanya sendirian. Ada aku—dan Ron, juga Hermione. Kita tidak mengikutimu hanya untuk bunuh diri, tahu. Kita juga ingin berjuang. Bersamamu."
Kedua mata Harry terasa panas. Dia mengerjap satu, dua kali. Menelan ludah, menelan apapun yang terasa menyumbat kerongkongannya. Napas yang Harry embuskan sedikit bergetar, dan tawa yang dipaksakannya terdengar berair, seperti orang yang sedang menangis. "Kau benar, Ginny… Yeah. Kau benar." Meskipun, Harry tidak yakin kalau dia tidak akan menyalahkan dirinya sendiri bila sesuatu terjadi kepada teman-temannya. "Kita bisa melalui semua ini. Kita pasti bisa… Kita akan menaklukkan Voldemort dan menghentikan peperangan. Dan, kita akan pulang sebagai pemenang."
"Sebagai orang yang bertahan hidup." Ginny mengangguk, lalu beranjak dari duduknya dan meregangkan tubuh. "Oke, cukup dengan obrolan sentimentalnya. Harry, bagaimana kalau kau mencobanya?"
"Mencoba apa?" tanya Harry bingung.
"Kau tahu apa maksudku." Ginny mengerling penuh arti. "Yang kemarin menangkap perhatianmu. Prajurit dengan dua pedang. Kau ingin mencoba gaya bertarungnya, kan?"
Harry berkedip cukup lama. "Aku tanya ini lagi—bagaimana kau bisa tahu isi pikiranku?"
Tawa Ginny meledak dengan lepas. "Jangan meremehkan insting perempuan."
"Kalaupun aku mencoba, aku tidak tahu tekniknya. Semacam, kuda-kuda, atau sikap yang benar… Prajurit itu pasti sudah diajari banyak hal dalam masa pelatihannya. Aku hanya bisa membuat-buat gerakan sembarang." Satu lagi faktor yang mengikis kepercayaan diri Harry—dia hanya bisa mengayunkan pedang sesuai insting. Ayun sana, ayun sini, tanpa tahu bagaimana ilmu berpedang yang sesungguhnya. "Kemungkinan menangku tetap tipis jika aku bertarung dengan gaya barbar begitu…"
"Oh, dasar. Kau ini bukan tentara, Harry, tentu saja wajar kalau gaya bertarungmu lebih bebas." Ginny memutar mata. "Mungkin kau merasa canggung dalam memegang senjata untuk saat ini, dan itu wajar—kau belum pernah bertarung sebelumnya. Tapi, bertarung itu tidak sekaku yang kau pikirkan. Yang perlu kau lakukan, menurutku, adalah menciptakan gayamu sendiri. Belajar dari pengalaman dengan menghadapi lawan yang tangguh. Beradaptasi. Lalu, berimprovisasi. Perbaiki gerakan yang sia-sia dalam gayamu."
"…Kau tahu banyak tentang hal ini, ya," gumam Harry, terkejut bukan main mendapati bahwa pengetahuan Ginny dalam hal-hal seperti ini justru melebihi dirinya.
"Fred dan George mengajariku beberapa hal sejak kecil," jelas Ginny dengan senyuman nostalgik. "Mereka tahu kalau aku bukan tipe 'tuan putri' yang senang bermain boneka dan minum teh dengan anggun. Masa kecilku penuh dengan bermain Quidditch, berkuda, berpanah, dan berpedang."
"Itu hebat sekali," bisik Harry takjub. Kemudian, dengan nada penuh kekalahan, dia menunduk. "Kalau begitu, kau bahkan lebih kuat dariku…"
"Kau belum tahu itu," Ginny membalas enteng, lalu melemparkan sesuatu dari balik pinggangnya. Sebuah pedang kecil. Panjangnya kira-kira setengah dari pedang Harry. "Kau bisa gunakan itu untuk berlatih."
Harry mengamati pedang bersarung cokelat tua itu dengan pandangan kebingungan. "Huh? Tapi, aku sudah bawa pedang sendiri."
Sebelah alis Ginny naik. "Kau tidak bisa mencoba dual sword dengan satu pedang, kan?"
"Dual sword?" Kebingungan Harry berubah menjadi keterkejutan. "Kau ingin aku mencobanya sekarang? Tapi—aku tidak tahu apa-apa!"
"Justru karena itu, kau harus berlatih." Ginny menyeringai. "Ayolah. Aku akan mengamatimu, dan memberi masukan di sana sini kalau bisa."
"Tapi…" Harry memandangi pedang di tangannya dengan ragu. "Sekarang?"
"Sekarang." Nada Ginny tidak meninggalkan ruang untuk berargumen. Harry menahan erangannya dan beranjak dengan terpaksa. Harry benar-benar tidak tahu apa-apa tentang berpedang, apalagi memegang dua pedang, dan Harry merasa malu untuk menunjukkan keamatirannya pada Ginny.
Tapi, yah… Tidak ada salahnya mencoba.
Dengan itu, Harry membuka sarung dari kedua pedang yang dipegangnya, dan Ginny memberinya acungan jempol dari tempatnya duduk di atas rumput.
XOXO
Hermione melipat dahi, memandangi secarik kertas penuh coret moret di hadapannya dengan kontemplatif. Kertas itu berisi hasil diskusinya dengan Harry dan yang lain semalam, memuat ringkasan dan poin-poin dari informasi yang mereka peroleh di kota. Mereka sepakat bahwa gua tempat Horcrux loket Voldemort seharusnya berada—The Cave of East—adalah tempat yang terkenal berbahaya, dan mereka tidak seharusnya bermain-main dengan mengetes apakah rumor-rumor yang berseliweran benar adanya. Mengetahui bahwa itu adalah tempat Voldemort menyimpan Horcrux-nya membuat Hermione yakin bahwa gua itu bukan destinasi biasa.
Entah apa yang akan menanti mereka di sana… Hermione harap, mereka bisa menghadapinya.
Satu masalah yang harus dipikirkannya sekarang adalah bagaimana cara mereka pergi ke gua itu, yang dirumorkan berada di tengah lautan. Sihir teleport dicoret dari daftar—jika Hermione menjadi Voldemort, dia akan menjadikan tempat-tempat… sakralnya dilindungi dengan penghalang anti sihir teleport. Barangkali, solusi paling mudah adalah dengan menggunakan kapal, tetapi semua cerita tentang orang-orang yang berlayar ke Cave of East dan tidak kembali membuat Hermione skeptis. Bisa jadi, terdapat sesuatu di sana—sihir atau makhluk tertentu—yang menghancurkan kapal-kapal itu.
Lantas, apa yang bisa mereka gunakan?
Hermione menggigit bibir bawahnya, menghela napas ketika pikirannya menemui jalan buntu. Dia butuh lebih banyak informasi. Pasti ada sesuatu yang bisa mengantarkan mereka ke sana. Sesuatu…
"Pagi, Hermione."
Hermione mendongak dari kertasnya dengan cepat dan melihat Neville yang tengah mengambil tempat duduk di seberangnya. Kedai di lantai satu penginapan masih tampak lengang di pagi hari. Dia tak menyangka Neville akan bangun sepagi ini. Pemuda yang bersangkutan memungut sendoknya dan bersiap menyantap sarapan yang dipesannya.
"Neville." Hermione mengangguk sopan. "Bagaimana tidurmu?" Sebab, dia tahu, tidur dengan tenang di tempat penuh musuh merupakan hal yang sulit dilakukan. Hermione masih sering disergap insomnia secara berkala, terlebih ketika sesuatu yang menarik atau mengkhawatirkan sedang menghinggapi benaknya.
Seperti kali ini.
"Cukup nyenyak, trims," jawab Neville. Hermione mencatat dengan lega bahwa lingkaran hitam di bawah mata Neville mulai sedikit memudar. "Kau sendiri bagaimana?"
Lirikan Neville pada kertasnya membuat Hermione sadar apa yang sebenarnya sedang dia tanyakan. Kemarin malam, Hermione dikejutkan oleh Neville yang menghampiri mereka di tengah-tengah diskusi seru mengenai Cave of East, dan dengan gugup meminta izin untuk duduk bersama mereka. ("A-Aku tidak akan mengganggu, janji!" katanya. "Aku hanya merasa kalau aku tidak seharusnya bersikap tidak peduli… Aku ingin tahu apa yang kalian lakukan, biar aku bisa membantu di kesempatan mendatang.")
"Masih belum menemukan jawabannya." Hermione menggeleng. "Kita tidak bisa teleport dan menggunakan kapal. Berenang juga tidak mungkin—dengan medan yang tidak kita ketahui, itu terang-terangan bunuh diri. Makanya, aku berpikir untuk pergi ke kota lagi hari ini, mengumpulkan lebih banyak informasi."
Neville memandangi sarapannya cukup lama. "B-Bolehkah aku membantu?" Dia bertanya takut-takut. "Maksudku… kita cuma berkeliling di kota dan mengumpulkan informasi, kan? A-Aku rasa, aku bisa melakukan itu."
Kedua mata Hermione berkilat ketika dia teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, Harry pernah bilang padaku… Kau ingin bergabung dengan kami?"
"Y-Yeah." Neville mengangguk dengan muka memerah. "Melihat kalian berjuang begitu keras, aku juga ingin melakukan sesuatu. T-Tapi! Aku mengakui kalau aku lemah dan tidak bisa bertarung, jadi… aku berpikir untuk setidaknya membantu kalian di luar itu, dengan hal-hal yang bisa kulakukan. Yah, mungkin aku hanya akan menjadi beban, sih… Harry juga kelihatan tidak setuju."
"Harry tidak setuju karena dia tidak ingin kau terlibat," Hermione mengoreksi dengan lembut. "Melawan Kau-Tahu-Siapa adalah misi yang sangat berbahaya dengan nyawa sebagai taruhan. Kau tahu itu, kan?" Akan anggukan lemah Neville, Hermione melanjutkan, "Makanya, kau benar-benar harus siap menghadapi apapun. Pertarungan. Penderitaan. Kematian. Apapun."
Neville berjengit seakan dia baru saja menelan buah yang sangat masam. "K-Kematian?"
Hermione meraih cangkir tehnya yang mendingin dan meneguknya. "Well. Kau masih punya waktu untuk memikirkannya. Sementara itu, kami akan terus berusaha mencarikanmu jalan kembali ke Arcus. Kami sudah berjanji untuk membantumu, kan? Jadi, jangan khawatir—kita tidak akan benar-benar berpisah selama beberapa hari ke depan."
Pintu kedai terbuka, dan Harry muncul dengan badan bercucuran keringat seperti seseorang yang baru saja dikejar-kejar Death Eater. Ginny melenggang dengan santai dari belakangnya, kedua tangan tertaut di balik punggung, sebelum dia melambai dengan semangat pada Hermione. "Hermione, Neville! Kalian pagi sekali."
"Pagi," Hermione balas melambai, lalu memandangi Harry yang mengambil tempat duduk di sebelahnya sambil menyeka dahi. Kening Hermione terlipat—dengan keringat seperti itu, Harry benar-benar butuh mandi. "Merlin, apa yang barusan kau lakukan, Harry?"
"Latihan," jawab Harry, seolah semua itu menjelaskan segalanya. Kemudian, kepada Ginny yang berjalan menuju pemilik kedai, dia berteriak, "Ginny, bisakah kau memesankan air juga untukku?"
Hermione mengamati Harry lamat-lamat. Setidaknya, dia tampak baik-baik saja. "Kuharap kau mandi setelah ini."
"Bauku seburuk itu?" Harry mengendus udara di sekitarnya sendiri, lalu mengangkat bahu. Tak lama kemudian, Ginny datang membawa dua gelas dan sebuah handuk, yang diterima dengan penuh terima kasih oleh Harry. "Di mana Ron?"
Ginny menunjuk ke arah tangga, di mana seorang Ron berjalan dengan wajah penuh kantuk. "Baru saja bangun. Seperti biasa."
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Ron bertanya ketika dia sampai di meja yang mereka tempati. "Astaga, aku lapar sekali."
"Apa hanya makanan yang ada di pikiranmu?" Hermione menggeleng, menyaksikan Ron meneriakkan pesanan dari tempatnya duduk. Karena semua orang berkumpul di sana, Hermione memutuskan untuk menyampaikan kecemasannya. "Daripada itu, sepertinya kita harus pergi ke kota lagi hari ini."
"Mencari transportasi atau cara untuk pergi ke gua?" sambung Harry setelah dia meneguk ganas airnya.
Hermione mengiyakan dengan anggukan singkat. "Sihir teleport dan kapal kurang aman untuk digunakan. Tapi pasti ada cara lain untuk pergi ke sana."
"Adakah semacam burung ajaib untuk ditunggangi?" usul Ron asal.
Ginny memberinya tatapan datar. "Kau mau disihir jadi sekecil semut dan coba menunggangi burung, kalau begitu?"
"Anda segalanya memang sepraktis itu, ya," gumam Neville muram.
"Kenapa tidak menyamar dan bertanya ke prajurit di kota? Mereka pasti tahu sesuatu," usul Harry lagi, sebelum dia menghentikan dirinya sendiri dan mengibaskan tangan. "Oh, lupakan, itu cara yang bodoh. Mereka bakal langsung curiga."
Prajurit di kota?
Hermione mematung. Mendadak, dia teringat akan pertemuannya dengan seorang prajurit Durmstrang sore kemarin. Prajurit yang kaku dan kikuk, yang menolongnya ketika dia terjatuh…
"Halooo, Hermione? Kau baik-baik saja?" Ron menjentikkan jarinya beberapa kali. "Mate, dia mengerikan, tiba-tiba tersenyum sendiri."
Pipi Hermione merona. "Aku tidak… Aku tidak tersenyum!"
Tatapan datar yang dilemparkan teman-temannya berkata lain. Hermione mengembuskan napas tajam, mencoba menenangkan diri, dan mengeluarkan dehaman keras. "Aku baru saja ingat sesuatu. Kalau tidak merepotkan, aku punya keinginan untuk mengunjungi sebuah tempat sebelum kita mencari informasi."
"Sebuah tempat?" ulang Ginny.
Tulang-tulang di dalam dada Hermione terasa nyeri ketika dia mengambil banyak udara, lalu mengembuskannya kembali. Dia menatap satu per satu teman-temannya dalam diam, dan ketika pandangannya terakhir mendarat pada Harry, dia berkata dengan jelas, "Slum Area. Aku ingin mengunjungi Slum Area."
Seketika, Ron dan Ginny mematung. Hermione tidak merasa heran jika keduanya tahu—mereka telah lama tinggal di atas Domus.
"Apa itu Slum Area?" tanya Harry. Rengutan pada wajahnya menandakan bahwa dugaannya tentang Slum Area bukanlah gambaran yang menggembirakan.
"Di mana ada cahaya, di baliknya akan terdapat bayangan. Demikian juga Domus," Hermione memulai perlahan. "Slum Area—daerah kumuh—adalah bayangan pada setiap perkotaan Muggle. Tempat yang tersembunyi dari dunia dan media, tetapi ada. Tempat yang menjadi bukti dari segala macam kegelapan hati manusia." Hermione menahan tatapan Harry dengan bola mata yang berkilat sedih. "Itu adalah… rumahku sebelum aku dibebaskan."
XOXO
Harry tak pernah mengira bahwa di dunia tempatnya tinggal selama ini, ada sebuah tempat yang tak pernah dia ketahui keberadaannya.
Slum Area. Daerah kumuh. Hermione bilang, daerah seperti itu ada di setiap kota Muggle sebagai sisi gelap dari kemegahan Domus. Tidak banyak orang yang tahu keberadaannya, dan semakin tidak banyak pula mereka yang berani masuk ke dalamnya. Menurut Hermione, daerah kumuh adalah tempat paling tidak menyenangkan yang pernah diketahuinya.
Di depan rombongan remaja itu—plus Neville yang bersikeras ikut, Hermione memimpin mereka melewati jalanan kecil yang cukup sepi. Semakin lama mereka berjalan, Harry merasa bahwa mereka semakin menjauh dari sinar matahari. Sekelilingnya bertambah gelap dan pengap secara gradual.
Tepat ketika Harry menebak-nebak berapa lama lagi perjalanan mereka berlangsung, Hermione berhenti di depan pintu masuk kecil. Sebuah papan besi yang berkarat melengkung di atasnya, menggantung lemah dengan sisa-sisa gaya yang merekatkannya. Hermione menelan ludah, mengangguk kepada dirinya sendiri, lalu mengajak mereka masuk dengan hati-hati.
Hal pertama yang menyambut Harry adalah bau yang tidak mengenakkan—seperti sesuatu yang tidak pernah kau cuci selama bertahun-tahun. Sialnya, jerengan kain-kain di atas kepala mereka, yang dipasang dengan sengaja, menghalau sinar matahari dan udara segar untuk masuk. Harry menyapukan matanya ke segala penjuru, dan entah kenapa tidak merasa heran tatkala pandangannya menangkap segunung sampah di sebuah sisi. Segerombol anak-anak bermain di dekat sampah itu, tak tahu bahaya apa yang akan mereka dapat dari sampah-sampah dan lalat di sana.
"Jadi ini Slum Area?" Harry berkomentar sambil berusaha menghirup udara seminimal mungkin. Bahkan, kain yang dikenakannya sebagai penutup hidung tak berhasil menghalau bebauan tidak sedap itu. Bagaimana bisa Hermione bertahan cukup lama di tempat seperti ini? "Seperti pasar. Tapi lebih…"
"Lebih jorok dan kotor? Ya, aku tahu apa yang kau rasakan." Hermione berjengit. Dia pasti memiliki ingatan-ingatan tidak menyenangkan selama dia menjadi seorang budak. Tinggal di daerah kumuh, dikelilingi sampah, disiksa majikan. Harry memikirkan seberapa banyak orang-orang yang masih mengalami hal sama…
"Aku tidak tahu, Hermione, tapi apakah mereka memang biasa, err, makan dari sampah?" Ron menunjuk ke sebuah arah, di mana seorang pria tampak sedang mencelupkan setengah badannya ke dalam bak sampah, dan keluar membawa sesuatu yang terlihat seperti roti busuk. "Ew. Serius, ew."
"Rumah-rumahnya juga terlihat seperti bisa ambruk kapan saja," Ginny mencatat, dan dia benar. Rerumah penduduk berjejer dengan rapat, cukup rapat untuk menimbulkan ketidaknyamanan. Di atas itu semua, mereka membuat rumah-rumah itu dari bahan ala kadar yang bisa mereka temukan—kardus, plastik, serabut-serabut. Harry tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika hujan deras datang. Di samping rumah yang rusak, mereka juga akan terjangkit wabah penyakit dari betapa banyaknya sampah yang dibiarkan menumpuk di sana.
"Kriminalitas, wabah penyakit, prostitusi, perbudakan, segala macam kegilaan… semua bisa kau temukan di sini. Rasanya seperti semua hal-hal buruk dari Domus yang mereka sembunyikan memang terpusat di sini—atau sengaja dibuang kemari." Hermione menunjuk ke sebuah arah dengan dagunya. Di sana, tiga orang lelaki tampak sedang mengerumuni seorang wanita. Tak ada yang beranjak untuk menolong. Harry menggertakkan gigi, bersiap membisikkan sebuah mantra, tetapi Hermione menahannya. "Jangan, Harry. Aku tahu kau ingin menolong mereka—aku sangat tahu. Tapi mereka semua akan mencurigai kita, dan itu tidak akan berujung baik."
Atau dengan kata lain, 'Ini bukan daerah kita, jadi jangan main-main.'
"H-Hei, mungkin ini hanya perasaanku saja, t-tapi…" Neville menyembunyikan diri di belakang Hermione dengan takut. "M-Mereka semua sedang melihat kita?"
Harry menyapu sekitar sekali lagi. Neville tidak sekadar paranoid. Memang benar, berpasang-pasang mata sedang menatap mereka dengan kilatan yang… yah, tidak bisa Harry sebut bagus. Orang-orang di sana memiliki mata yang hampir mati—putus asa dan kesakitan—tetapi ketika disodori kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, sorot mereka berubah lapar. Tentu saja, datang ke tempat seperti itu dengan pakaian bagus bukanlah ide yang cemerlang.
"Mereka tidak akan menyerang kalau kita bergeombol. Ayo, sebaiknya kita terus berjalan," ajak Hermione, dan Harry menurut dengan senang hati. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan sempit nan bau, dengan lantai batu yang mulai menghitam dan berlumut—licin akan zat yang terbentuk dari akumulasi berbagai macam kotoran. Yang cukup mengejutkan, Harry cukup sering menemukan orang yang bermabuk-mabukan. Bukankah mereka seharusnya tidak punya cukup uang untuk membeli bir? Ataukah seseorang di dalam kota memanfaatkan kecanduan mereka untuk meraup untung?
Beberapa kaki di hadapannya, seorang pria berkumis mengacungkan tinjunya dan berteriak garang, "Bocah keparat, kembalikan daganganku!" Tepat saat itu, di sebelah Harry, seorang anak lelaki kecil dengan tubuh terlampau kurus melintas membawa sekarung buah-buahan. Orang-orang pura-pura tak mendengar dan tak melihat—agaknya, pencurian adalah hal yang lazim di sana. Harry hanya bisa menyaksikan anak itu berlari melewatinya dalam diam. Dihadapkan keadaan seperti ini, dia tak tahu mana yang benar dan salah. Mencuri adalah perbuatan yang salah, Harry tahu. Di sisi lain, jika dirinya berada di posisi anak kurus itu, dia pasti tak punya pilihan selain melakukan hal-hal ilegal demi bertahan hidup.
"Bagaimana bisa tempat seperti ini ada?" Harry gagal menahan pertanyaannya. "Domus itu makmur, aku tahu. Walaupun mereka menghabiskan banyak uang untuk penelitian mengenai sihir artifisial, mereka meraup lebih banyak untung darinya. Mereka pasti punya dana yang lebih dari cukup untuk membuat sejahtera orang-orang ini, tapi kenapa…?"
"Ini adalah hukum yang dibuat Kau-Tahu-Siapa, Harry." Hermione menjawab dengan suara yang terlampau kecil. "Pangeran Kegelapan sangat menjunjung tinggi kekuatan. Makanya, dia menyuruh kepada rakyatnya, jadilah kuat, dan kalian tidak akan sengsara. Mereka yang kuat akan bertahan, dan yang lemah akan musnah perlahan-lahan."
Harry menelan ludah kering. Kerongkongannya terasa terganjal. "Tidak mungkin. Hal seperti itu…"
"Tak jarang, yang kuat juga bertahan di atas orang-orang lemah yang ditindas dan diperasnya," tambah Ginny. "Tindas atau ditindas. Makan atau dimakan. Orang-orang mengajariku cara hidup di Domus—dan begitulah kata mereka."
"Tapi tentu saja, kita tidak melakukannya," Ron buru-buru menambahkan. "Kita tidak menindas siapa-siapa."
"A-Aku tidak akan bisa bertahan lama kalau aku hidup di Domus!" Neville menutup mulutnya dengan resah.
Harry mengepalkan kedua tangannya. Kenapa sesuatu seperti ini harus ada? Kenapa Slum Area harus ada? Dia tidak pernah tahu. Selama dirinya terkurung di kediaman Dursley, Harry selalu berpikir bahwa nasibnya begitu malang. Dia tidak tahu bahwa di luar sana, di daerah-daerah kumuh seperti ini, ada lebih banyak lagi orang yang jauh lebih tidak beruntung darinya.
Pada saat itulah, Harry disadarkan kembali bahwa dirinya masih sangat, sangat naif. Dan dia yakin, ini belum ada apa-apanya dibandingkan semua rahasia yang menanti untuk diungkap di masa mendatang. Ketika dia membuka setiap lapis kegelapan di Domus, Harry yakin, itu tidak akan menjadi sebuah momen yang menyenangkan.
"Mereka semua menderita, tapi mereka tidak menyadarinya." Harry mengamati sekelilingnya dengan ngeri. Semua orang di sana adalah korban lain dari Voldemort. Orang-orang itu adalah rakyat Voldemort, sesama Muggle, tetapi mereka harus menderita karena raja mereka.
"Mereka berhenti peduli sejak lama, Harry," balas Hermione sendu. "Mereka berhenti berharap sejak lama."
Mulut Harry membuka, lalu menutup lagi. Benaknya dilanda dengan berbagai emosi secara bersamaan—amarah, keterkejutan, horor, dan lebih banyak amarah. Dia tidak mempercayai semua ini. Voldemort membiarkan sesuatu seperti Slum Area ada di bawah pemerintahannya? Tidak—dia sengaja membiarkannya ada? Karena sebuah hukum rimba yang luar biasa tidak adil?
Tangan Harry terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Segala hal mengenaskan yang dilihatnya hari ini menambah lebih banyak alasan untuk melawan Voldemort. Dan Harry tahu, ini bukan hal terkejam yang bisa Voldemort lakukan.
Kalau dia mengalahkan Voldemort… segalanya bisa berubah.
"A-Ada yang sedang memukuli istrinya di sana," Neville berkomentar, dan Harry berusaha sebisa mungkin untuk tidak menampakkan amarahnya. Ron, di sisi lain, memilih mengomentari hal lain.
"Hei, gadis di sana sedang melihatku. Kau pikir dia tertarik denganku—Ow!"
Ginny menggeram, tak merasa bersalah setelah mencubit lengan kakaknya. "Dia sedang menjual tubuhnya, tentu saja dia berusaha menggoda semua orang yang ditemuinya!"
Semua itu membuat Harry merasa semakin miris. Di tengah argumen Ron dan Ginny, dia memilih untuk tidak mengatakan apapun.
Mereka berbelok menuju sebuah jalan yang lebih kecil. Samar-samar, Harry mencium bau kencing dan muntahan. Wajah Neville terlihat hijau menahan mual. Sementara itu, Ron mencoba menyalakan keran yang dijumpainya di samping tubuhnya, tetapi sedetik kemudian, dia melompat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Blimey! Aku belum pernah melihat air sekotor ini!"
Harry melirik Hermione dari sudut matanya dengan simpatik. Jika gadis itu tidak memiliki kemampuan sihir natural di dalam dirinya, dia pasti tidak sesehat ini.
"Hermione, aku tidak tahan lagi," Ron merengek, "Ayo keluar dari sini!"
Hanya saja, gadis yang bersangkutan berhenti dengan tubuh menegang. Harry mengikuti arah pandangannya, dan menemukan segerombol gadis yang duduk berdekat-dekatan pada sebuah tembok berlumut. Pakaian mereka lusuh dan compang-camping, pergelangan mereka terikat, rambut mereka kusut.
Harry melebarkan mata.
Budak. Seperti Hermione ketika dia belum memilih untuk bebas.
Selama beberapa waktu yang cukup lama, Hermione menatap gadis-gadis itu tanpa berkedip. Meski rautnya tak menunjukkan apapun, Harry dapat menebak bahwa gir-gir kecil di dalam otak Hermione sedang berputar. Mungkin dengan seenak hati menayangkan ulang ingatan-ingatan traumatisnya di masa lalu. "Oh," bisik Hermione. Selanjutnya, dia tak mengatakan apapun lagi.
Harry meletakkan tangannya di atas bahu sang gadis, berharap gestur itu dapat sedikit menenangkannya. "Kau baik-baik saja, Hermione?"
Pertanyaan itu seperti sebuah jarum yang beradu kontak dengan balon dan membuatnya meletus. Seketika, Hermione tersadar dari apapun yang dipikirkannya, dan dengan satu tarikan napas tajam, dia berbisik parau, "Maaf, tapi bolehkah aku meminta waktu sebentar setelah ini?" Harry menjawabnya dengan anggukan maklum. "Aku ingin berpikir. Sendiri."
"Tentu saja. Serahkan soal mengumpulkan informasi kepada kami."
Senyum yang ditawarkan Hermione terlalu kaku. Harry membalas dengan remasan pelan pada bahu Hermione, sebelum dia memutar tubuh dan memijat wajah. "Mungkin sebaiknya kita keluar sekarang."
Di tengah jalan menuju pintu keluar, Ron berubah histeris ketika mereka menangkap basah seorang wanita yang sedang bekerja sebagai pemuas hasrat.
("M-M-Mereka! Sedang! Melakukan itu! D-D-Di tempat terbuka!"
"Ron, berisik!")
Tingkah pemuda berkepala merah itu membuat senyuman kecil muncul di wajah Hermione. Harry mau tak mau turut membuat ekspresi yang sama.
XOXO
Cuaca hari itu sangat cerah. Sinar matahari jatuh di atas kota dengan intensitas dan panas tinggi. Beruntung, jumlah air yang besar pada Ibukota membuat segalanya terasa lebih mendingan.
Hermione menyusuri tepian sungai dengan pikiran melanglang buana. Harry dan yang lain telah kembali ke penginapan beberapa saat yang lalu—Hermione menyuruh mereka untuk beristirahat dan tak perlu mengkhawatirkan tentang mencari informasi untuk sementara. Hermione tahu, mereka sama terguncang dengan dirinya. Semua orang yang waras akan begitu ketika mereka menyaksikan Slum Area. Menyaksikan kebobrokan Domus yang sebenarnya.
Niatnya pergi ke tempat itu adalah untuk mencari dorongan yang bisa membuatnya terus melangkah maju, agar dia teringat tempat macam apa Slum Area yang dulu pernah menjadi rumahnya, dan agar dia tidak lagi kembali ke tempat itu. Hermione tak menyangka kalau dia akan mengulang kembali masa-masa pahitnya dulu tepat ketika dia melihat gadis-gadis yang pernah bernasib sama dengannya.
Dan Hermione lebih sedih lagi karena fakta bahwa dia tak bisa melakukan apapun untuk menolong mereka saat ini. Mungkin seharusnya dia memberi mereka sesuatu tadi—makanan, minuman, apapun. Akan tetapi, membayangkan hukuman yang akan mereka dapatkan jika majikan mereka tahu membuat Hermione urung.
Hukuman memang tidak pernah menyenangkan. Hermione, yang luar biasa rebel pada waktunya menjadi budak, cukup sering merasakan berbagai macam hukuman dari majikannya. Meski begitu, Hermione yakin, bahkan saat dirinya menjadi budak, dia masih beruntung. Majikannya dulu hanya berani memukuli dan mencekik lehernya—dia selalu berkata kalau Hermione adalah aset berharga. Tidak seperti teman-temannya, yang sempat dilukai dengan lebih menyakitkan. Disiksa. Disentuh—
Hermione membungkuk dan mendekap dirinya sendiri. Kalau saja dia tidak bertemu Harry, mungkin… mungkin saja, majikannya yang dulu akan menyentuhnya. Lambat laun, dia pasti akan melakukan hal-hal lebih buruk yang ada di luar imajinasinya…
Membayangkan semua itu membuat Hermione muak. Dia tak menyadari detak jantung dan tarikan napasnya yang meningkat—terlalu larut dalam ketakutannya sendiri—sampai seseorang menanyakannya keras-keras.
"Kau baik-baik saja?"
Secara impuls, Hermione mendongak cepat, dan dia buru-buru menutup mulut dengan tangannya untuk menahan jeritannya.
Pria maskulin berambut hitam dalam seragam prajurit, dengan wajah mengerikan tetapi canggung.
Mereka bertemu lagi.
Hermione berusaha meredam geliat rasa senang di dalam dirinya.
"O-Oh. Tentu. Aku baik-baik saja," kata Hermione, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kita bertemu lagi." Pajurit Durmstrang itu mengatakan apa yang persis ada di benak Hermione. "Bolehkah aku duduk di sini?"
Hermione mengangguk dengan gerakan kaku. Detak jantungnya kembali meroket. Dia tidak tahu penyebab apa yang memicunya—fakta bahwa prajurit itu adalah musuhnya, atau karena dia merasa luar biasa gugup berbicara dengannya. Astaga. Kenapa pula dia bertingkah seperti ini?
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," Pria itu berkata dengan aksen unik yang sangat kental. Ketika Hermione sibuk memikirkan alasan cepat untuk membalasnya, sang pria menambahkan, "Tapi, kota ini memang cukup besar."
Hermione memaksakan sebuah senyuman. "A-Aku memang jarang keluar dari rumahku sebelum ini. Ibuku selalu marah karena aku sering mengurung diri di perpustakaan, atau di kamar."
"Kau senang membaca?"
"Sangat," Hermione menjawab antusias.
Sang pria mengangguk, lalu menjulurkan tangannya yang lebar. "Namaku Viktor Krum. Komandan dari Prajurit Khusus Durmstrang."
Hermione mengerjap cukup lama. Komandan Durmstrang? Hermione tidak percaya ini—dirinya sedang berbicara santai dengan seorang komandan dari pihak musuh. "Hermione. Hermione Granger." Dan Hermione tak tahu apa yang mendorong dirinya untuk memberikan nama aslinya. Dia buru-buru menyalami tangan Viktor untuk menutupi keraguannya. "Maafkan kelancanganku. Aku tidak tahu kalau kau…"
Komandan Durmstrang. Yang kemungkinan besar akan menjadi lawannya.
"Bukan masalah," Viktor menggeleng. Keheningan yang aneh menyelimuti keduanya selama beberapa saat, sebelum Viktor memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa kau duduk di sini sendirian? Kau terlihat… bermasalah."
Oh, tentu, Hermione punya cukup banyak masalah sekarang. Salah satunya adalah memikirkan cara bertahan hidup dari Voldemort dan prajuritnya.
"Aku hanya memikirkan sesuatu. Sesuatu yang kurang menyenangkan." Hermione menatap lantai bebatuan di bawah kedua kakinya. Dan, sebelum dia berhasil menahan mulutnya, dia melanjutkan, "Aku berniat untuk mengatasi traumaku, tapi, yah. Kau lihat sendiri hasilnya."
Viktor menggumam, isyarat bahwa dia mendengarkan. "Butuh waktu untuk mengusir trauma. Belum tentu kau langsung berhasil."
"Kau benar." Hermione menghela napas. Sebenarnya, apa yang dilakukannya di sini? Mencurahkan isi hatinya kepada seorang musuh, dan di atas itu semua, ditenangkan oleh musuh yang bersangkutan? Hermione jadi merasa bersalah kepada Harry dan yang lain.
"Jadi, Hermy-own?" Viktor bergerak canggung pada tempatnya duduk. Ketika Hermione menatapnya dengan tidak mengerti, Viktor terlihat semakin bingung. "Itu namamu, bukan?"
"Oh. Oh!" Kedua mata Hermione melebar penuh kesadaran. Dia memanggilnya… Hermy-own. Astaga. Menyaksikan seorang komandan berjuang susah payah untuk melafalkan namanya… Hermione gagal menahan senyuman lebar yang merambati wajahnya. "Hermione. Yang benar, Her-my-oh-nee."
Dahi Viktor mengerut dalam-dalam. "Herm-own-ninny?"
Derai tawa menggelegak begitu saja dari tenggorokan Hermione, gagal difilter. "Her-mi-o-ne," Dia mengajari dengan sabar.
"Herm-own-ninny," Viktor menggumam dengan wajah yang menyiratkan pertanyaan 'apakah-ini-sudah-benar', dan Hermione tertawa lagi.
"Baiklah. Kau bisa memanggilku begitu."
Kali ini, ujung bibir Viktor tertarik ke atas, membentuk sesuatu yang sangat menyerupai senyuman, dan Hermione harus mengalihkan matanya sekali lagi untuk menenangkan diri. "Kau sedih karena memikirkan… traumamu?"
Hermione berjengit, lalu mengangguk. "Yeah, well… Kau tidak seharusnya menemukanku dalam keadaan menyedihkan tadi. Tapi aku baik-baik saja sekarang, sungguh."
Viktor memberinya satu tatapan intens, seolah dia sedang memastikan bahwa Hermione benar-benar merasa baikan. "Kalau aku sedang merasa kurang enak, aku akan pergi ke pantai dan menikmati ombak laut."
Apakah itu adalah sebuah saran? Hermione merona. Bagaimana bisa seseorang yang memihak Voldemort bersikap sebaik ini kepadanya? Atau jangan-jangan semua ini hanya lagak belaka? Hermione tidak tahu lagi apa yang seharusnya dia lakukan. "Apa kau menyukai laut, Viktor?"
"Sangat," jawab Viktor, mengembalikan apa yang Hermione katakan tadi, dan kedua matanya berkilat terhibur. Hermione tersenyum semakin lebar.
"Aku belum pernah ke pantai sebelumnya. Belum pernah melihat laut." Hermione meletakkan beberapa helai rambut di balik telinganya. Sebagian masa kecil yang diingatnya adalah ditangkap, dijadikan budak, dan dioper dari satu majikan ke majikan lain. "Apa saja yang bisa kau temukan di sana?"
"Ombak." Viktor mengedip, terlihat luar biasa serius untuk sebuah jawaban yang… seharusnya tidak perlu diutarakannya, karena Hermione bukan orang bodoh, dan dia tahu di sana ada ombak. Kendati demikian, dia berjuang untuk menutup mulut dan mendengarkan. "Ada banyak sekali ombak. Suaranya menenangkan sekali. Lalu pasir. Pasir yang lembut di atas kakimu. Aku juga suka bau laut. Kau tidak akan bisa melupakan bau laut."
Hermione memejamkan kedua matanya. "Sepertinya itu adalah tempat yang indah."
"Aku bisa membawamu ke sana, kalau kau mau," tawar Viktor dengan tulus. "Aku bisa meluangkan sedikit waktuku. Tapi kau harus hati-hati, karena ada makhluk magis yang hidup di Sea of East."
Kedua mata Hermione kembali membuka. "Makhluk magis?"
Viktor mengangguk. "Giant Squid. Dia hidup di dalam Sea of East. Senang mengambil barang-barang nelayan kalau kau tidak memberinya makan. Dia tidak sepenuhnya jahat, tapi ada satu kejadian di mana satu orang berusaha memotong tentakelnya, dan orang itu…"
Sisa cerita Viktor seperti tidak tersaring ke dalam otaknya. Hermione membulatkan mata, menahan napas, dan hanya ada satu hal yang menghinggapi pikirannya.
Giant Squid. Itu dia—dengan makhluk itu, mungkin mereka bisa…
"Ada apa, Herm-own-ninny?" Viktor memanggil dengan ragu.
Hermione mengerjap, memegangi kepalanya yang berdenyut dipenuhi pencerahan yang menggembirakan, dan dengan suara yang dia harap tidak terlalu antusias, dia meminta, "Hei, Viktor… Bisakah kau ceritakan lebih lanjut tentang Giant Squid ini?"
XOXO
Harry telah kembali dari Slum Area sekitar satu jam yang lalu. Sekarang, dia bersama Ron dan yang lainnya tengah menunggu Hermione di dalam kedai sambil bersantai-santai. Atau setidaknya, sesantai mungkin di dalam kondisi mereka sebagai pemberontak. Harry duduk di atas sebuah kursi dengan kepala tertunduk lemas. Dia tidak tahu kenapa, tetapi kombinasi dari susu hangat dan angir semilir berbau laut membuat kantuknya menyergap.
Dia merasa lelah sekali… Kelopak matanya telah menurun. Tidak ada salahnya tidur sebentar, pikirnya.
Dan Harry baru saja akan terseret ke dunia mimpi jika saja pintu kedai tidak terbuka dengan dobrakan keras, membuatnya melompat kaget dan hampir terjatuh dari kursinya. Ron berkomentar dengan nada datar, "Sudah kubilang, kau bakal jatuh kalau tidur di situ." Harry melemparinya dengan sebuah "Diamlah, Ron" dan memutar kepala untuk melihat pengunjung kedai… yang ternyata adalah Hermione.
"Hermione," Harry menyambut seraya mengusap kantuk dari matanya. Perhatiannya segera jatuh ke atas beberapa tas belanja yang dijinjing sang gadis. "Kau berbelanja?"
Hermione buru-buru meletakkan barang belanjaannya di atas meja, lalu dengan satu jentikan jari, dia menggunakan sihir peredam suara. Apa yang dilakukannya membuat Harry bergerak mendekat, karena tentunya, Hermione memiliki hal penting untuk disampaikan.
"Aku telah menemukannya," bisik Hermione penuh kemenangan. "Cara untuk pergi ke gua itu."
"Benarkah? Itu hebat," timpal Harry yang langsung tertarik.
Ginny bersitatap dengan Ron, lalu Neville—yang terlihat menyeruput minumannya dengan tatapan apakah-aku-boleh-ikut-mendengarkan. "Bagaimana caranya?"
"Kita akan naik cumi raksasa," Hermione menyatakan dengan nada final. Semuanya terdiam, mengedip tidak paham, saling pandang.
Sampai akhirnya, muncul sebuah teriakan, "Hah!?" dari Ron dan Harry.
To Be Continued
Tahukah kalian, saya ngetik ini di tengah-tengah UAS buat mengusir jenuh. Ha ha. :")
Btw, budak-budak biasanya tinggal terpisah dari majikan mereka. Mereka tinggal di Slum Area. Salah satu alasannya adalah untuk menimbulkan ketergantungan kepada reward dari majikannya. Karena sudah lama hidup di tempat kayak Slum Area, mereka langsung mau desperate melakukan hampir apa saja demi mendapat sesuatu yang lebih baik.
Viktor/Hermione bisa dianggap selingan, guys, karena kemungkinan besar bukan endgame pair. Kecuali mayoritas dari kalian kepinginnya itu sih…
Next chapter akan banyak action. Voldie… akan muncul (saya ga akan ngomong kapan), jadi tunggu saja dengan sabar ehe.
Terima kasih kepada kalian yang telah bersedia membaca, memasukkan fik ini ke daftar fav/follow, bahkan me-review. Terima kasih kepada 'Guest' yang udah mau nunggu kelanjutan fic gaje ini uhuhu.
See you!
