Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinspirasi dari anime "Tonari No kaibutsu", sekedar mengenang akan salah satu anime favorit author, sampai sekarang pun masih jatuh hati akan alurnya. Haa..~ jadi kangen wajah tampan Yoshida Haru. Menggunakan judul yang sama, sedikit berbeda dari yang aslinya, author hanya mengambil beberapa scene.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ My Little Monster ]
.
.
(21)
= Arti Seseorang =
.
.
Kegiatan sekolah yang sudah berakhir, jalanan akan ramai dengan para murid dari SMA Konoha yang berjalan pulang. Karin tengah berjalan keluar gerbang, berhenti sejenak, Sasuke tidak jauh dari arah jalan Karin, berjalan lebih cepat sekedar menyapa pemuda itu.
"Sasuke? Kau tidak pulang?" Ucap Karin.
"Aku sedang menunggumu." Ucap Sasuke.
Karin sedikit terkejut dan juga senang, Sasuke menunggunya, hal yang tidak biasanya.
"A-ada apa?" Gugup Karin.
"Untuk ucapanmu yang waktu itu, aku ingin minta maaf." Ucap Sasuke dan Karin masih terdiam, dia menunggu Sasuke menyelesaikan ucapan yang mungkin saja sesuai dengan apa yang tengah di pikirkannya. "Aku menyukai orang lain." Lanjut Sasuke.
"Uhm, aku sudah tahu." Ucap Karin, sedikit sesak, tapi seperti itulah kenyataannya, Sasuke jauh lebih menyukai pacarnya.
"Aku sedikit bingung, aku pikir kau menyukaiku sebagai seorang teman."
"Pantas saja dia tidak marah atau mengusirku, aku pun salah tanggap akan reaksinya tempo hari." Karin menyadari salah pahamnya.
"Terima kasih, aku berterima kasih kau tidak mengusirku dan mau mendengar apa yang aku ucapkan padamu, aku merasa sedikit di terima olehmu." Ucap Karin dan tersenyum malu.
"Hn, kita masih tetap teman." Ucap Sasuke.
Karin berusaha tersenyum walaupun sakit, dia sudah memastikan hal ini.
"Baiklah, dah." Ucap Sasuke, berjalan ke arah lain, dia berlari cukup cepat untuk mengajar Sakura yang mungkin masih berada di perjalanan.
Karin menatap pemuda itu pergi, dia akan terus menyukai Sasuke, walaupun hanya dirinya sendiri, melepas kacamatanya dan menghapus air matanya yang sempat terbendung.
.
.
Sasuke masih berlari dan berhasil menemukan Sakura, merangkul gadis itu dan membuat Sakura terkejut.
"Hari ini kita ke sesuatu tempat." Ucap Sasuke.
"Eh? Kemana?"
"Makan-makan, aku ingin mentraktirmu, apa kau pikir hanya Sasori yang bisa mentraktirmu."
"Masih membahas hal itu juga? Ah, ya sudahlah." Ucap Sakura, pasrah.
Mendatangi sebuah kedai ramen, langkah mereka terhenti, tidak jauh dari mereka, Rin berjalan bersama Kakashi.
"Ri-hmmpp!" Segera saja Sakura menutup mulut Sasuke yang hampir meneriaki nama Rin. "Ada apa?" Ucap Sasuke.
"Shhtt..! jangan mengganggu Rin." Tegur Sakura.
"Uhm, jadi benar yaa, Rin itu menyukai Kakashi-sensei."
"Aku pun tidak bisa percaya akan hal ini, tipe Rin pria yang sudah tua." Ucap Sakura.
"Kakashi-sensei tidak begitu tua, umurnya masih 37 tahun." Ucap Sasuke.
"Umur kita masih 16 tahun, apa yang kau pikirkan antara 37 tahun dan 16 tahun?" Ucap Sakura, tidak habis pikir akan tipe pria idaman Rin.
"Jika seseorang itu berarti untuknya, umur mungkin bukan sebuah halangan."
"Dari mana kau mendapat kata-kata itu?"
"Naori suka mengatakan hal seperti itu."
"Apa kita akan berdiri di sini terus?"
Sasuke segera mengajak Sakura masuk ke kedai ramen itu, keadaan menjadi sedikit tegang, hanya pada Sasuke, mereka tidak sengaja bertemu dengan Sasori dan teman-temannya.
"Hoaa! manusia barbar!" Ucap teman-teman Sasori, mereka jadi panik sendiri saat melihat Sasuke.
"Kalian!" Gertak Sasuke, dia pun menjadi kesal dan bersiap akan menghajar mereka.
"Jangan membuat kekacauan disini." Tegur Sakura.
"Oh, baiklah." Ucap Sasuke, tenang.
"Dia menjadi jinak gara-gara Sakura? Pemuda aneh." Batin Sasori, dia pun tidak menyangka bisa bertemu Sakura.
"Kita bertemu lagi." Ucap Sasori, senang, seketika wajahnya berubah cemberut saat menatap ke arah Sasuke. "Aku harap kau tidak bersama dia." Tambah Sasori.
"Jangan coba-coba mendekati Sakura!" Ancam Sasuke.
"Jadi, kapan kita makan ramen?" Ucap Sakura, Sasuke jadi melupakan rencana mereka.
Selanjutnya...
Sakura memilih duduk di tempat yang sama dengan Sasori dan teman-temannya, sekedar menjalin keakraban dan berharap Sasuke tidak lagi bersiap memukul mereka.
"Hei, Uchiha, apa kau suka ikut latihan boxing? Kau sangat kuat." Ucap teman-teman Sasori.
"Apa maksud kalian? Aku memang kuat dan tidak pernah mengikuti hal semacam itu." Ucap Sasuke.
Mereka jadi sibuk berbicara, Sasuke sedikit senang saat di puji, wajahnya terlihat berseri-seri, teman-teman Sasori tidak ingin mencari masalah lagi, memilih untuk berdamai dan menjadi teman.
"Kau tidak lelah punya pacar seperti dia?" Ucap Sasori, dia jadi bisa berbicara dengan Sakura, Sasuke tidak terusik.
"Sangat melelahkan, tapi aku sudah tidak bisa berpisah dengannya lagi, dia cukup berarti untukku." Ucap Sakura dan tersipu malu.
Sasori menopang dagunya, jawaban yang tidak ingin di harapkannya.
"Setelahnya aku akan menikahi Sakura." Ucap Sasuke, merangkul gadisnya.
Prok! Prok! Prok!
Teman-teman Sasori bertepuk tangan dan bahkan ada yang bersiul, mereka heboh sendiri mendengar ucapan Sasuke yang sangat terang-terangan. Wajah Sakura sudah sangat malu dan tertunduk, satu hal yang tidak bisa lepas dari Sasuke, berbicara apapun yang ada di kepalanya.
"Oh, seharusnya aku bertanya, apa kau tidak malu punya pacar seperti itu?" Batin Sasori, dia sudah salah bertanya. Melihat tingkah Sakura, lebih tepatnya dia malu punya pacar yang terlalu to the point.
.
Sementara Rin, saat ini dia terlihat sangat gugup, Rin baru saja mengetahui jika arah jalan rumahnya dan Kakashi searah, cuma berbeda pada membelokan nanti, Rin harus belok ke kiri dan Kakashi ke Kanan.
"Sensei tidak naik mobil untuk ke sekolah?" Ucap Rin, sekedar mencari topik pembicaraan.
"Akan jauh lebih sehat jika berjalan kaki, lagi pula jarak rumah dan sekolah tidak begitu jauh." Ucap Kakashi, menanggapi ucapan muridnya itu.
"Sensei benar, jalan kaki lebih baik." Ucap Rin dan tersenyum, dia jadi bisa pulang bersama gurunya.
"Apa kau sudah membaca novelnya?" Ucap Kakashi, mengingat akan novel yang di berikannya.
"Be-belum, aku belum sempat membacanya."
"Itu novel terbaik dan bestseller, kau akan suka saat membacanya."
"Aku lebih menyukai sensei." Ucap Rin tiba-tiba, tersadar akan ucapannya dan segera menutup mulutnya. "A-aku duluan!" Rin segera berlari dan meninggalkan Kakashi, dia tidak percaya jika akan mengatakan hal itu.
Kakashi menatap muridnya yang pergi begitu saja, dia tidak salah dengar akan ucapan Rin, gadis itu jelas-jelas mengatakan suka padanya, sebuah senyum di wajah Kakashi, tidak mengerti kenapa di umurnya yang sudah kepala 3 ini masih ada gadis yang menyukainya.
.
.
Kegiatan pagi yang di awali dengan wajah suram oleh Rin, gadis itu hanya menyembunyikan wajahnya di kedua lipatan lengannya di meja, Sakura memperhatikan tingkah aneh temannya itu.
"Apa kau mendapat nilai buruk?" Tanya Sakura, memikirkan jika sikap Rin akibat nilainya.
"Ini lebih buruk dari sekedar nilai." Ucap Rin tanpa mengubah posisinya.
"Rin kemarin kami me-hmpp!" Segera saja Sakura menutup mulut Sasuke, lagi-lagi berbicara sesuatu yang tidak tepat waktu.
"Shhtt...! jangan katakan apapun saat di kelas." Ucap Sakura, Sasuke mengangguk dan tangan gadis itu terlepas.
"Kenapa kau tidak membiarkan Sasuke mengatakan apa yang ingin di katakannya?" Ucap Rin, dia sudah duduk dengan benar dan menatap curiga pada Sakura.
Gadis berambut softpink ini menghela napas sejenak, dia tahu jika keadaan kemarin adalah hal Rin sangat tidak ingin ada yang tahu, memajukan wajahnya ke telinga Rin dan berbisik jika kemarin dia dan Sasuke melihatnya pulang bersama guru mereka, wajah Rin merona dan kembali mengingat apa yang sudah di ucapkannya.
"Lalu apa yang terjadi?" Ucap Sakura, dia pun penasaran.
"Aku tidak sengaja mengatakan suka." Ucap Rin dan kembali berwajah suram.
"Kau sangat berani."
"Hanya spontan saja, aku benar-benar buruk, sekarang bagaimana tanggapan Kakashi-sensei padaku?"
"Aku yakin dia akan menjadi pria yang bijak."
"Cepat duduk di kursi kalian." Tegur Kakashi saat masuk ke kelas. Tatapan pertamanya setelah tepat berdiri di depan adalah melihat Rin, gadis itu terkejut dan segera menundukkan wajahnya yang tengah malu tiba-tiba di tatap. "Aku yakin ini akan sedikit rumit." Pikir Kakashi.
.
.
Prittt...! Priiittt...!
"Sekarang kegiatan pemanasan, hari ini kita akan berolahraga bersama kelas lain" Ucap seorang guru olahraga.
"Pak guru, apa aku boleh pemanasan bersama Sakura?" Ucap Sasuke.
"Tidak boleh! Lakukan pemanasan dengan sesama murid laki-laki!" Teriak guru olahraga.
"Sasuke! Kau melupakanku!" Protes Naruto.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya, dia di permalukan di lapangan olahraga.
"Siapa lagi yang tidak punya pasangan?" Ucap guru itu.
Sakura mengangkat tangan dan begitu juga Karin, kelas mereka sedang memiliki jam olahraga yang sama, namun guru dari kelas Karin tengah sakit dan guru olahraga dari kelas Sakura menggabungkan kelas mereka.
Suasana sedikit canggung antara keduanya, Sasuke pun sudah mengatakan apa yang di ucapkan Karin pada Sakura, Karin pun tidak menyangka akan pemanasan bersama gadis yang di sukai Sasuke.
"Aku yakin jika Sasuke sudah mengatakannya padamu, dia itu selalu blak-blakan." Ucap Karin, berusaha berbicara pada Sakura.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan hal apapun dari kalian, itu bukan sebuah masalah." Ucap Sakura, tenang.
"Aku tidak bermaksud merebutnya-" Sakura terdiam, "-Aku pikir kau sangat beruntung bersama Sasuke, kebanyakan orang berpikir dia murid yang buruk, tapi aku sudah melihat sisi lain dari Sasuke."
"Aku harap semua orang berpikiran seperti itu, tapi mereka terlanjur beranggapan jika Sasuke itu memiliki sikap yang buruk."
"Apa kau tidak keberatan jika kami berteman?"
"Tidak, selama itu keputusan Sasuke, aku memberinya kebebasan, lagi pula tidak ada untungnya aku melarangnya berteman dengan siapapun." Ucap Sakura, sedikit tidak ambil pusing akan hal yang di lakukan Sasuke
Karin tersenyum, merasakan jika Sakura pun gadis yang baik, mereka pasangan yang sesuai, walaupun perasaannya harus di kubur dalam-dalam.
.
.
.
.
.
.
(22)
= Jadilah Yang Terbaik =
.
.
Memasuki musim dingin, cuaca cukup dingin di pagi hari dan malam harinya, walaupun siang hari masih ada matahari yang bersinar namun itu sedikit tertutupi oleh awan mendung.
"Kita harus mengadakan acara tahun baru bersama!" Ucap semangat Naruto, untuk pertama kalinya dia bisa mengadakan tahun bersama teman-temannya.
"Aku harap bisa membuat permohonan di tahun baru." Ucap Rin, masih mengharapkan gurunya walaupun sampai sekarang dia terus menghindari Kakashi gara-gara ucapannya sebelumnya.
"Acara tahun baru?" Ucap Sasuke, dia mengingat sesuatu. "Naori mengajak kita ke barnya."
"Apa! Bar! Kita masih anak sekolahan, bisa-bisa mendapat teguran gara-gara masuk bar." Ucap Rin.
"Benar-benar, apa yang kau ucapkan Sasuke? Lebih baik kita pergi ke tempat karokean dan makan-makan bersama." Ucap Naruto.
"Bukan seperti itu, Nao menutup barnya di malam tahun baru, lagi pula di barnya ada karokean dan berbagai fasilitas." Jelas Sasuke.
"Benarkah!" Semangat Naruto.
"Aku ikut saja selama bersama kalian." Ucap Rin.
"Aku sibuk belajar di akhir tahun." Ucap Sakura.
"Kau bisa belajar di sana." Ucap Sasuke, dia tidak akan membantah Sakura lagi.
"Baiklah, aku akan ikut." Ucap Sakura, pasrah.
.
.
Bar Naori.
Rin menatap lainnya, pikirnya hanya akan ada dirinya, Naruto, Sakura, Sasuke dan Naori, sekarang, lagi-agi dia berlindung pada Sakura.
"Sasori memaksaku untuk mengajaknya." Ucap Naruto dan menunjuk Sasori.
"Bohong! Aku tidak memaksanya!" Protes Sasori, wajahnya benar-benar memerah.
"Kami di ajak Sasuke." Ucap ketiga teman Sasori, Sasuke mengajak mereka kecuali Sasori, Sasuke masih tetap tidak suka padanya.
"Aku pikir kalian akan ke bar dan bersenang-senang, aku sampai menjitak Sasuke dan Naruto." Ucap Kakashi, saat mendengar ajakan kedua muridnya itu, mereka mendapat getokan tepat di kepala mereka masing-masing, setelah Sasuke menjelaskannya dan Kakashi mau saja ikut, lagi-lagi kedua muridnya itu melibatkannya dalam sebuah kegiatan.
Rin memandang kesal pada Naruto dan Sasuke, lagi-lagi mereka mengajak Kakashi. Pandangan Rin kemudian tertuju pada Karin, memikirkan bagaimana bisa gadis itu berada di tempat ini, dia jadi tidak bisa mengadakan pesta hanya dengan teman-temannya.
"Apa tidak apa-apa aku juga di sini?" Ucap Karin, merasa sedikit terasingkan.
"Tidak apa-apa, lagi pula Sasuke yang mengajakmu." Ucap Sakura, mengerti akan sikap Karin yang seperti akan di kucilkan.
"Lumayan juga, aku pikir hanya kalian yang datang." Ucap Naori yang baru saja keluar dari salah satu ruangan, mengenakan yukata dengan corak biru tua bercampur ungu, motif bunga dan obi berwarna kuning terang, rambut ungunya di ikat rapi, tak lupa make up pada wajahnya yang membuat Naori semakin cantik.
"Wanita cantiiiiiiiik!" Teriak senang teman-teman Sasori.
"Terima kasih." Ucap Naori, tiba-tiba di puji oleh anak-anak sekolahan itu, memandangi beberapa orang yang di ajak Sasuke, tatapannya tertuju pada seorang pria berambut silver. "Oh, kau yang pernah datang bersama pria beralis tebal itu?" Naori merasa tidak asing pada pria itu.
"Ah, pantas saja aku merasa tidak asing dengan bar ini, tapi karena kosong dan semua lampunya menjadi terang jadi sedikit berbeda." Ucap Kakashi.
"Salam kenal, aku wali Sasuke." Ucap Naori, sekedar memperkenalkan diri.
"Namaku Kakashi Hatake. Aku wali kelas Sasuke." Ucap Kakashi, ikut memperkenalkan diri.
Seluruh muridnya memandangi Kakashi dengan tatapan aneh, guru mereka suka juga pergi ke bar.
"Hei-hei, ini bukan seperti yang kalian pikir, aku hanya di ajak seorang teman, dia suka sekali menantangku untuk minum, tapi dia tipe yang cepat mabuk dan aku harus mengantarnya pulang, tenang saja temanku itu seorang pria juga." Bela Kakashi, tatapan muridnya menjadi salah paham padanya.
Rin bernapas lega, pikirnya Kakashi adalah pria yang buruk.
Mereka pun mulai memasuki salah satu tempat karokean yang ada di bar Naori, barnya cukup besar dan luas ada tiga lantai dengan berbagai fasilitas. Mereka pun patungan untuk membeli makanan dan membawanya ke sana, Naori juga sudah membelikan makanan, mejanya menjadi ramai dengan ayam goreng dan minuman bersoda.
Naruto dan teman-teman Sasori sibuk karokean, yang lainnya sibuk makan, Sasori malas menatap mereka yang terlalu heboh, memilih memperhatikan Sakura, memikirkan gadis itu yang bahkan tidak terusik dengan keributan yang mereka buat, Sasuke menonton mereka yang karokean, Kakashi jadi ada teman untuk berbicara, Rin terus menatap Naori yang menurutnya memiliki umur yang sesuai untuk Kakashi, Sakura sibuk belajar, Karin terlihat canggung, memandangi sekitar yang begitu kacau, dia sedikit sulit membaur.
"Sakura, apa menurutmu guru Kakashi tertarik pada kak Naori?" Bisik Rin pada Sakura.
Gadis itu berhenti belajar dan menatap gurunya sejenak. "Aku tidak yakin mereka saling menyukai." Ucap Sakura pada Rin.
"Kau masih bisa belajar di saat seperti ini?" Ucap Sasori.
"Aku tidak peduli pada mereka." Ucap Sakura, cuek.
"Ga-gadis yang unik." Batin Sasori.
Naori berjalan keluar ke toilet dan di ikuti oleh Rin, gadis ini ingin berbicara serius pada wanita itu.
"Ka-Kak Naori." Ucap gugup Rin.
"Hn? Ada apa?"
"Aku tahu kau itu cantik dan seperti wanita idaman, umurmu sudah sesuai untuk seorang pria." Ucap Rin.
Naori menatap bingung pada gadis SMA itu, dia pun tidak tangkap maksud ucapan Rin.
"Aku mohon jangan mendekati Kakashi-sensei!" Tegas Rin.
Sebuah cubitan di kedua pipi Rin. "Katakan dengan jelas apa yang ingin kau ucapkan." Ucap Naori dan melepaskan tangannya dari pipi Rin.
Gadis itu menggosok-gosok pipinya yang sakit setelah di cubit. "Aku menyukai Kakashi-sensei." Ucap Rin, dia pun menundukkan wajahnya.
"Oh, jadi ini tentang perasaan suka terhadap guru, apa kau tidak sadar jika umur gurumu itu tidak jauh beda dengan umurku?"
"Aku tidak peduli! Aku tetap menyukainya!" Tegas Rin.
"Gadis yang bersemangat, lagi pula gurumu itu bukan tipeku, aku tidak tertarik padanya, apa kau tidak mengatakan hal ini pada gurumu?" Ucap Naori.
"Ti-tidak mungkin aku mengatakannya, apa yang di pikirkan Kakashi-sensei nanti, mungkin aku akan di anggap gadis aneh yang menyukai pria tua." Ucap Rin dan wajahnya terlihat sedih.
Sebuah usapan lembut pada puncuk kepalanya. "Lakukan saja yang terbaik dan lihat bagaimana reaksi gurumu itu, aku rasa dia pria yang sangat baik." Ucap Naori dan tersenyum, berjalan keluar meninggalkan Rin.
.
.
Pukul 22:45
Keadaannya semakin ramai, Naruto dan lainnya memaksa Kakashi untuk karokean, Sasuke tidak mau bernyanyi, dia sibuk menjaga Sakura, Sasori jadi tidak bisa leluasa berdekatan dengan Sakura, Rin memilih main tebak-tebakan bersama Karin, dia tidak bisa berbicara dengan Sakura, gadis itu lebih fokus belajar dan terus menegur Sasuke jika mencari masalah dengan Sasori.
Kegiatan mereka berakhir setelah hampir pergantian jam, mendatangi sebuah kuil untuk berdoa, disana pun begitu ramai dengan banyak orang, tempat-tempat yang menjajahkan makanan dan minuman, mereka berkeliaran dan terpisah satu sama lain.
"Lain kali aku ingin melihatmu dengan yukata." Ucap Sasuke, mengajak Sakura dan hanya mereka yang berjalan berdua.
"Aku malas menggunakannya, lagi pula ibu tidak ada di rumah, ayahku pun tidak mengerti cara memasangkannya." Ucap Sakura.
"Nao akan memasangkannya untukmu." Ucap Sasuke.
"Uhm... Mungkin tahun depan saja." Ucap Sakura, wajahnya sedikit merona, Sasuke begitu antusias ingin melihatnya dengan yukata.
"Aku akan menunggunya." Ucap Sasuke, menggenggam tangan Sakura dan berjalan di keramaian,
Sasori bisa menatap mereka, di samping itu, Rin terus menatap ke arah Sasori, dia sudah tahu jika pemuda berambut merah ini seperti tidak pernah menyerah untuk sekedar berdekatan dengan Sakura, Sasori menyadari tatapan itu dan menoleh ke arah Rin.
"Apa yang kau lihat?" Ucap Sasori, menatap kesal pada gadis itu.
"Dengar yaa, Sakura itu hanya milik Sasuke! Jangan coba-coba berharap!" Ucap Rin.
"Apa maksudmu! Kau cari masalah denganku?" Ucap Sasori dan menjitak keras jidat Rin.
"Auh! Sakit! Kau tetap tidak akan bersama Sakura!" Teriak Rin dan kabur.
"Aku tidak mengerti kenapa harus mengikuti mereka." Ucap Karin dalam hati, setelah melihat tingkah Sasori dan Rin, dia pun mulai terpisah setelah Rin yang mengajaknya pergi dan kini gadis itu kabur dari Sasori.
"Kenapa kau tidak mengikutinya?" Ucap Sasori pada Karin yang hanya terdiam.
"Aku tidak ada masalah denganmu, kenapa kau berbicara seperti itu? Jika kau ingin pergi, pergi saja lebih dulu." Kesal Karin, seakan dia ikut-ikutan membuat masalah.
"Bukannya kau juga menyukai Sasuke?" Ucap Sasori, dia sudah memperhatikan hal ini sejak tadi, gadis berkacamata di hadapannya ini terus menatap ke arah Sasuke dan wajahnya merona.
"Me-memangnya kenapa jika aku suka pada Sasuke? Ti-tidak ada yang salah dalam hal ini." Ucap Karin.
"Dasar, kau pun tidak akan mendapatkannya." Ucap Sasori, seperti membalas ucapan Rin pada Karin.
"Aku tahu. Kau pun tidak akan pernah mendapatkan Haruno!" Ucap kesal Karin, dia pun di libatkan.
"Apa katamu!" Ucap Sasori, kesal, ingin menjitak juga gadis itu, namun Karin sudah kabur lebih dulu. "Sial! Kenapa gadis-gadis yang berada di sekitar Sasuke begitu menyebalkan."
.
.
Rin berjalan perlahan setelah kabur dari Sasori, langkahnya terhenti, dia bertemu Kakashi yang sendirian berjalan, mengingat saat mereka datang, Naori terus bersama gurunya itu.
"Aku pikir Kakashi-sensei bersama kak Naori." Ucap Rin dan memasang wajah cemberutnya.
"Dia pergi bersama kenalannya, Naori itu wanita yang cukup di kenal banyak orang." Ucap Kakashi. "Dimana yang lain?" Dia hanya menemukan Rin setelah mencari murid-muridnya yang mengajaknya ke kuil.
"Aku tidak tahu, aku pun terpisah dengan mereka." Ucap Rin.
"Kita jalan bersama saja." Ucap Kakashi.
Ucapannya membuat wajah Rin sangat merona, dia pun terlihat senang bisa berjalan berduaan dengan guru yang di sukainya, berjalan bersama di tengah keramaian, gadis ini terlihat menundukkan wajahnya karena malu.
"Apa Kakashi-sensei menyukai kak Naori?" Tanya Rin, dia jadi memikirkan hal itu.
"Itu tidak mungkin, Naori bukan tipeku walaupun menurutku dia wanita yang baik." Ucap Kakashi dan tersenyum.
Tangan Rin mengepal, kali ini dia akan mengatakannya dengan benar, jantungnya berdegup cukup cepat dan kedua tangannya terasa dingin.
"Ba-bagaimana kalau aku menyukai sensei?" Ucap Rin dan menatap gurunya itu.
Lagi-lagi sebuah senyum di wajah Kakashi, wajah Rin semakin merona. "Mungkin aku bisa saja di tahan karena memiliki hubungan dengan anak di bawah umur." Ucap Kakashi.
"Ka-kalau begitu tunggulah di saat umurku sudah dewasa!" Tegas Rin, masih tidak menyerah.
"Aku akan semakin tua saat kau menjadi dewasa, lagi pula masih banyak pemuda yang akan cocok denganmu, jangan sia-siakan masa-masamu hanya bersama pria sepertiku." Ucap Kakashi dan mengusap perlahan puncuk kepala Rin. "Terima kasih sudah mengatakannya padaku." Lagi-lagi guru tampan itu hanya memperlihatkan senyuman pada muridnya.
Saat ini Kakashi harus lebih tegas pada muridnya itu, mengambil keputusannya sendiri dan berharap tidak akan berdampak apa-apa pada muridnya itu, dia menghargai keberanian Rin untuk menyatakan perasaannya, namun dia tidak kepikiran akan sebuah perasaan khusus pada muridnya itu.
Wajah Rin tertunduk, air matanya mulai menetes, dia sudah mengungkapkan isi hatinya dan hanya itu jawaban yang di terimanya dari gurunya, sebuah penolakan yang akan sulit di terimanya, tiba-tiba sebuah topeng menutupi wajah Rin.
"Aku tidak ingin orang salah paham jika melihatmu seperti ini." Ucap Kakashi, saat melihat air mata Rin yang menetes, pria ini segera membeli sebuah topeng dan memasangkannya pada wajah Rin, gadis yang sedang menangis pasti akan merasa malu jika di lihat oleh orang banyak.
Rin masih menangis dan tidak peduli sekitarnya, topeng itu menghalangi siapapun yang akan melihat wajah sedihnya, Kakashi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia sudah membuat seorang gadis menangis.
"Sebaiknya kita pergi ke area yang tidak terlalu banyak orang." Ucap Kakashi, mengajak Rin pergi, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, menggenggam tangan muridnya itu, Rin jadi terasa begitu rapuh setelah menerima penolakkan darinya.
.
.
Tempat ramalan keberuntungan.
Sasuke dan Sakura melihat hasil kertas keberuntungan yang mereka ambil. Kertas milik Sakura bukan sebuah keberuntungan, bertuliskan seseorang akan mengambil prestasimu. Kertas milik Sasuke juga bukan sebuah keberuntungan, bertuliskan perhatikan apa yang anda katakan, masalah berlebihan akan datang.
Sakura menatap ke arah Sasuke, mungkin ramalan itu akan terjadi padanya jika Sasuke terus bersamanya, Sasuke sendiri tidak peduli akan ramalannya.
"Gantung lebih tinggi." Ucap Sakura pada Sasuke saat mereka menempatkan kertas ramalan mereka di sebuah tempat yang sudah di sediakan.
Sasori akhirnya menemukan Sakura lagi, namun mereka masih bersama sejak tadi, berdiri tidak jauh dari mereka, menatap tidak senang pada mereka.
"Oii Sasori, kami mencarimu, kemana saja?" Ucap teman-teman Sasori, mereka akhirnya bertemu setelah masing-masing berkeliaran entah kemana.
"Kau terus memperhatikan mereka?" Ucap salah satu dari mereka.
"Cih, bukan seperti itu, ayo pergi." Ucap Sasori dan bergegas meninggalkan tempat itu, tidak ingin berlama-lama melihat Sakura terus bersama Sasuke.
"Apa ayahmu tidak sendirian di rumah?" Ucap Sasuke.
"Ayah pergi bertemu ibu, katanya dia tidak peduli walaupun di usir, Ayah sama sepertiku, kami sama-sama merindukan ibu." Ucap Sakura.
"Kalau begitu, setelah ini menginaplah di apartemen, Nao akan membuat makanan khusus tahun baru." Ucap Sasuke, membungkus dengan rapi wajah senang dengan wajah tenangnya, dia sangat ingin Sakura menginap bersama.
"Ajak yang lainnya juga."
"Aku tidak ingin mengajak Sasori." Ucap Sasuke memasang wajah malasnya.
"Setidaknya kita harus bertanya pada mereka." Ucap Sakura, mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Naruto, Rin dan Sasori.
"Se-sejak kapan kau punya nomer Sasori!" Ucap Sasuke, baru saja mengetahui hal ini.
"Dia memberikannya saat mentraktirku di kafe." Ucap Sakura.
:: Naruto.
Oke-oke, aku menuggu kalian di tangga kuil, terlalu ramai di dalam.
:: Sasori.
Aku sudah di jalan pulang, aku yakin pacarmu itu akan terus menatap kesal padaku, selamat tahun baru.
:: Rin.
Aku ada di dekat tangga, kita bertemu di sana.
"Aku akan menghubungi Karin." Ucap Sasuke.
"Sejak kapan kau punya nomer ponsel Karin!" Ucap Sakura, merasa dirinya berbicara seperti Sasuke tadi.
"Dia memberikannya padaku. Ah, halo Karin, mau menginap di apartemenku?"
"Maaf, Sasuke, aku sudah pulang."
"Uhm.. Baiklah."
"Selamat tahun baru, Sasuke."
"Hn, selamat tahun baru."
Sasuke selesai berbicara dan mematikan ponselnya, Sakura pun memperlihatkan semua pesan dari mereka yang sudah membalas pesan Sakura.
"Apa yang di katakan Karin?" Tanya Sakura.
"Dia sudah pulang."
"Uhm..."
.
.
Setibanya di apartemen, Naori sudah lebih dulu tiba dan menyiapkan segalanya, kotatsu atau meja penghangat dan makanan untuk tahun baru, mereka kembali lapar setelah sibuk berkeliling di area kuil. Kakashi sudah berpesan pada Rin jika dia pulang lebih awal setelah mengantar Karin di area dekat tangga kuil.
"Hangatnya." Ucap Rin, duduk dan memasukkan kakinya ke dalam meja kotatsu.
"Jangan pura-pura lupa, kau janji bercerita padaku." Ucap Naruto.
Saat berjalan ke tangga kuil, Naruto bertemu Rin, dia memegang sebuah topeng dan terus menangis, Naruto sampai kebingungan ingin menghilangkan rasa sedih Rin.
"Aku di tolak Kakashi-sensei." Ucap Rin.
Sakura, Sasuke, Naruto, bahkan Naori terkejut. "Di tolak!" Ucap mereka serempak.
"Dia tidak bisa memiliki perasaan yang sama denganku." Ucap Rin dan wajahnya kembali terlihat sedih.
"Tenanglah, laki-laki masih banyak. Aku rasa kau sudah cukup berani untuk menyatakan perasaanmu." Ucap Naori.
"Aku hanya sedih mendengar kenyataan ini." Ucap Rin.
"Dia sudah tua, lebih baik kau mencari yang seusiamu saja." Ucap Naruto.
"Kau mencari masalah denganku! Hmp! Aku tidak peduli, Kakashi-sensei tidak akan tergantikan oleh siapapun!" Tegas Rin.
"Ma-maaf." Ucap Naruto, dia pun kembali memancing kemarahan Rin, sudah cukup sekali Naruto mendapat pukulan di wajahnya.
"Ya sudah, kalian segeralah makan." Ucap Naori, merasa dia tidak sesuai di antara para anak muda ini.
.
.
Pukul 05 pagi.
Rin terbangun lebih cepat, dia bahkan bermimpi buruk akan Kakashi yang menjauhinya setelah apa yang di katakannya, semuanya tertidur dan menjadikan kotatsu sebagai selimut, kecuali Naori yang memilih tidur di kamarnya, menatap Naruto yang masih tertidur pulas, Sakura yang tertidur di sebelah Sasuke, lengan Sasuke menjadi bantal untuk kepala Sakura.
"Kau sudah bangun? Ini masih jam 5." Ucap Naori.
"Aku sudah tidak bisa tidur lagi." Ucap Rin.
"Masih memikirkan gurumu itu?"
"Sepertinya memang akan sulit." Ucap Rin dan wajahnya kembali bersedih.
"Ah, di balkon bisa melihat matahari terbit, mau melihat bersama?" Ucap Naori.
Rin mengangguk perlahan, memakai jaket tebalnya, Rin melihat posisi tidur Sakura dan Sasuke yang cukup menggemaskan, mengambil ponsel dan memotret mereka.
"Jika saja hubunganku dan Kakashi-sensei seperti mereka? Aku benar-benar iri melihatnya."
Udara di balkon cukup dingin, seperti yang di katakan Naori, mereka bisa melihat matahari terbit, Naori ke dapur sejenak dan membawakan Rin coklat hangat.
"Kadang lelaki itu sulit di tebak, aku sendiri sudah banyak menolak, tapi aku belum pernah di tolak." Ucap Naori, menyombongkan diri.
Rin merasa sangat iri akan ucapan Naori yang bisa dengan mudah mendapatkan pasangan, tidak jauh beda dengan ucapan Sakura yang tidak akan pernah di tinggalkan oleh Sasuke.
"Aku sangat iri akan orang-orang yang mudah mendapatkan cintanya, sementara aku sudah berusaha keras tapi hasilnya tidak ada." Ucap Rin.
"Bagaimana dengan Naruto?"
"Di-dia bukan tipeku! Aku ingin seperti Kakashi-sensei." Ucap Rin.
Naori hanya tertawa mendengar ucapan gadis itu, pintu balkon tergeser, Sakura dan Sasuke juga sudah bangun.
"Kalian cepat sekali bangun." Ucap Sakura.
"Kau saja yang lama bangun, jika terlambat kau tidak akan melihat matahari terbit, bagaimana dengan Naruto?" Ucap Rin.
"Dia masih tidur, sepertinya tidak akan bangun." Ucap Sasuke.
"Disini dingin sekali." Ucap Sakura, walaupun sudah memakai jaket tebal, bahkan setiap mereka berbicara ada hembusan napas yang terlihat.
Sebuah pelukan dari belakang Sakura. "Bagaimana? Sekarang kau sudah hangat?" Ucap Sasuke.
Wajah Sakura sudah sangat merona, Sasuke berani memeluknya di sebelah Rin dan Naori.
"Jangan membuat suasana jadi lebih menyebalkan lagi." Singgung Rin, dia sudah sangat iri sejak tadi.
"Hahahahahha, sudahlah, tidak perlu melepaskannya Sakura." Ucap Naori, melihat Sakura yang terus merontah namun Sasuke tidak melepaskannya.
Matahari di tahun pertama mulai tampak, namun sedikit terhalangi oleh awan dan hanya bayang-bayang cahaya saja yang tampak dari matahari yang terbit.
"Aku tidak bisa melihatnya!" Ucap Rin, percuma saja menatap langit dan terhalang oleh awan.
.
.
~ TBC ~
.
.
update again...~
nama Naori ternyata paling sulit di ketik. jadi kadang ketulis NOARI... HAHAHAHHA,, so sorry jika penulisan nama sepupu Sasuke salah XD.
And, Sasuke di sini terlalu OOC, tapi nggak apa-apa sih, emang harus begitu.
terakhir... terima kasih reviewe, follow, and likenya... jika ada yang bertanya, author akan jawab di next chapter.
.
.
See next chapter lagi...~
