Hai~ Jumpa dengan Ritsu lagi setelah sekian lama~~~ sempat drop dan males lanjutin ff karena flame. Saya orang yang pundungan sejujurnya,, tapi akhirnya bisa mood lagi. Semoga minna-san terhibur :D
Naruto adalah milik Masashi Kishimoto sensei. Story Hurt milik Yagami Ritsu
"Kenapa kau sangat menyukai Naruto?"
Hinata memekik, memalingkan wajahnya, melihat Kiba yang rupanya memergokinya terus memandang Naruto yang sedang menyendiri di pinggir lapangan; memandangi siswa lain yang sedang bermain bola tanpanya.
"Ki-Kiba? A-ano..." Wajah Hinata berubah merah padam, matanya memandang ke semua arah gelisah.
"Kau tahu?" Kiba menarik kursi di depan Hinata, mendudukkan kursi itu sambil tersenyum kecil. "Cuma kau yang menyukai anak rubah itu."
Hinata mengernyit bingung. "Kenapa kalian tidak menyukainya?" Hinata penasaran, meski sebenarnya ia malu sekali. "Naruto anak yang baik, dia hanya..." Hinata melirik lagi ke luar jendela kelas, melihat rupanya Naruto sudah turun ke lapangan. Dia tertawa sambil menggiring bola. "Kesepian." Ada senyum kelegaan di wajah Hinata, wajah murung yang sempat singgah di wajah Naruto berubah tawa. Menghantarkan perasaan hangat di relung hatinya.
"Sepertinya kau benar-benar menyukainya."
"Ja-jangan katakan pada siapa pun!" Hinata memohon.
Sedangkan Kiba hanya terkekeh. "Tenang saja, aku bukan tukang gosip.
"Terima kasih, Kiba-kun."
Hurt
Bel pulang sudah berdering sejak setengah jam lalu, murid lain mungkin sudah sampai di setasiun atau tengah pergi ke karaoke atau makan bersama di lestoran. Tapi tidak dengan Hinata, dirinya baru saja tiba di loker sepatu. Ia tadi mampir ke perpustakaan dan meminjam beberapa buku untuk bahan tugas biologi besok.
"Hinata!" Ada sosok Naruto di depan gerbang, memperlihatkan cengiran khasnya yang ceria.
"Ah, ada apa Naruto?" Hinata balik bertanya, yang tak Naruto tahu bahwa degupan jantung Hinata tengah meningkat.
"Begini, besok ada tugas biologi kan?" Tanya Naruto yang dijawab dengan anggukan kecil dari Hinata. "Bolehkah aku ikut mengerjakannya denganmu?" Naruto salah tingkah. "Aku tahu belakangan ini aku selalu merepotkanmu, tapi berkat belajar denganmu nilaiku mulai membaik." Kali ini Naruto menggaruk belakang kepalanya. "Jadi, bagaimana?"
Hinata tersenyum, ada kebahagiaan di sana. Memang entah sejak kapan, Naruto dan Hinata menjadi dekat. Ah benar juga, semanjak Hinata ditugaskan untuk memberikan pelajaran tambahan untuk Naruto. Mungkin untuk para murid lain, harus memberikan pelajaran tambahan untuk Naruto adalah masalah dan kesia-siaan. Naruto sangat berisik, selalu bertanya seolah-olah tak ada hal yang ia pahami satu pun.
Tapi Hinata adalah wanita yang penyabar, tutur kata yang lembut dan penyampaian yang halus dengan sukses mampu membuat otak buntu Naruto memahami apa tiap-tiap pelajaran yang di sampaikan. Rumus-rumus rumit diterangkan Hinata dengan sederhana.
"Kau bisa menjadi guru yang baik, Hinata."
Pujian kecil dari Naruto membuat Hinata makin bersemangat. Ia tidak pernah menolak untuk mengajari apa-apa yang tidak dimengerti Naruto. Bahkan meski itu bukan tugas yang diberikan guru untuknya. Seolah itu memang kewajibannya.
Hurt
Naruto membuka matanya, sinar mentari yang menyelusup dari tirai kamarnya membuatnya bangun dalam keadaan tak nyaman. Bukan karena salah sinar mentari itu. Tapi karena Naruto baru saja mabuk semalam. Tenggerokannya kering dan kepalanya sakit seolah habis dibenturkan pada benda keras. Dirinya bangun terhuyung menuju dapur, membuka kulkas dan meminum dengan cepat sebotol air mineral dingin hingga tandas. Ia mendudukkan tubuhnya sejenak di meja makan. Menenangkan dirinya dan mengumpulkan nyawanya.
Naruto termenung, memandangi butiran air yang jatuh menelurusuri sisi botol yang baru saja ia habiskan.
Tentu saja otak Naruto tak jauh-jauh berfantasi mengenai Hinata. Sejak beberapa waktu ini ia frustasi dan dongkol. Naruto tidak berkonsentrasi dalam belajar, matanya selalu tertuju pada sosok Hinata yang kini tak lagi duduk di depannya, melaikan duduk bersebalahan dengan Sasuke yang jaraknya cukup jauh darinya. Ia hanya dapat melirik sekilas wajah Hinata yang semakin gembil, dan perut ratanya yang kini sudah berisi janin. Calon buah hati Hinata dengan Sasuke.
Naruto menggelengkan kepalanya cepat, memikirkan Hinata dan bayinya selalu membuatnya kacau.
"To-tolong..."
Dan wajah memohon Hinata malam itu semakin meremukkan hatinya. Begitu bodoh dan tololnya ia malam itu. Meninggalkan Hinata yang tengah akan dimangsa Sasuke. Bila malam itu ia menghentikan aksi Sasuke semuanya tidak akan seperti ini.
Oh betapa bajingannya ia ketika mengenang bagaimana ia memperlakukan Hinata, dosa yang memang takkan terampuni. Lalu sekarang, ia ingin Hinata kembali padanya?
Poin paling bodoh atas keegoisan Naruto. Ya, dengan sangat menjijikkan dan tanpa menghiraukan harga dirinya yang tak lagi bernilai. Naruto ingin Hinata kembali padanya. Memperbaiki semuanya yang bahkan telah remuk redam. Kepercayaan yang dibangun bak kastil, namun rapuh karena hanya terbuat dari pasir. Bisa saja hancur terkena ombak pasang, atau terkikis sedikit demi sedikit hingga rata.
Lalu bagaimana dengan bayinya? Naruto sangat yakin bahwa ia bisa menerima bayi yang bukan darah dagingnya. Biarlah itu seolah bayaran atas perlakuan Naruto.
Ia hanya ingin Hinata berada lagi di sisinya. Ia hanya ingin Naruto Uzumaki menjadi pusat dunia Hinata. Tak rela dan sudi menerima bahwa dengan mudah Sasuke Uchiha yang bahkan Hinata tak mengenalnya pun kini menggeser posisinya.
Naruto mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Apa yang harus kulakukan, Hinata?"
Melihat Hinata berlindung di balik punggung Sasuke membuatnya sakit. Bahkan minuman berakohol yang katanya dapat menghilangkan rasa sakit dan frustasi pun tak dapat menghilangkannya. Menghilangkan fakta bahwa Sasuke kini adalah nomer satu untuk Hinata.
"SIAL!"
Hurt
"Bagaimana?"
Sasuke tersenyum ketika tirai yang ada di hadapannya terbuka, memperlihatkan Hinata dengan gaun putih, tiara, dan tudung transparan. Tak lupa dengan sebuket bunga lili yang digenggam Hinata.
Sasuke bertepuk dalam hati.
Lihat? Hinata sangat cantik, bahkan meski dengan kiloan berat badan yang mulai naik.
"Kau sangat cantik." Puji Sasuke sungguh-sungguh. Membuat Hinata langsung menunduk malu.
Hah! Siapa orang bodoh dan tolol yang menyebarkan kabar bahwa Hinata hanyalah gadis sederhana yang nerd dan tidak menarik? Omong kosong! Hinata adalah wanita paling cantik yang pernah Sasuke temui, bukan hanya cantik secara fisik tapi juga cantik kepribadiannya. Oh, tentu banyak wanita yang lebih menarik (untuk kalangan pria lainnya). Yang bahkan menjijikkan untuk Sasuke. Wanita yang histeris, cerewet, berisik, dan munafik. Bahkan meski para wanita itu menggoda Sasuke dengan tubuh indahnya (Sasuke mengakui itu) tapi toh nyatanya ia hanya tertarik pada Hinata.
Tapi yahhh... Harus Sasuke akui ia sangat berterima kasih pada siapa pun yang menyebarkan betapa tak menariknya Hinata Hyuuga, jadi hanya Sasuke yang tahu kelebihan wanita ini. Calon istri dan ibu dari anaknya. Bolehkah Sasuke bersorak? Oh ayolah, ia lelaki normal yang tetap ingin berselebrasi atas kebahagiaannya.
Sasuke bangkit dari sofa, berjalan menuju Hinata yang masih menundukkan wajahnya. Sasuke memeluk Hinata lembut, mengecup pipi Hinata, yang membuat Hinata diam seribu bahasa. Lalu berbisik di cuping Hinata. "Bagaimana bila sang pengantin aku bawa ke gereja saat ini juga?"
"Apa?"
Sasuke tertawa sambil melepaskan pelukannya, memandang dengan geli wajah merah Hinata yang sudah seperti kepiting rebus. Membuat Hinata merungut dengan kesal.
"Baiklah, maafkan aku." Sasuke menghentikan tawanya, "Sekarang giliran kau yang duduk, dan lihat betapa tampannya Sasuke Uchiha ini."
Hinata duduk dengan perasaan senang, entah kenapa kata-kata Sasuke yang menyebalkan tadi malah membuatnya senyum-senyum sendiri. Seharusnya ia marah, tapi nyatanya tidak. Digoda oleh Sasuke tidak pernah membuatnya marah, malah membuat Hinata tertawa. Melihat sisi lain dari Sasuke Uchiha adalah kesenangan tersendiri untuk Hinata. Selama ini yang Hinata tahu, Sasuke adalah cassanova yang paling Hinata benci. Berganti-ganti wanita dan sikap dingin juga ketus membuat nilai Sasuke semakin buruk untuk Hinata.
Tapi sekarang lihatlah, karma berbalik padanya.
Tirai terbuka, nampaklah Sasuke dengan pakaian pernikahannya. Jas berwarna abu mengkilap dan kemeja putih itu membuat penampilan Sasuke terlihat tampan.
Hinata benar-benar jatuh cinta pada Sasuke Uchiha.
"Kau sangat beruntung menikahiku, nona Hyuuga..."
Hinata bangkit dari sofa menuju Sasuke. Memperbaiki sedikit dasi Sasuke, lalu tersenyum, mengangguk kecil.
"Ya, aku tahu."
Tbc
Mind to RnR?
Terima kasih karena sudah menunggu kelanjutan dari Hurt. Chap kali ini isinya mengenai hubungan Hinata yang semakin erat dengan Sasuke juga persiapan pernikahan mereka berdua.
Ffn lain akan segera Up. pantengin ya? Hehe xD
Semoga terhibur. Sankyuu... SeeU next chap. Salam sayang, Ritsu :D
