DISCLAIMER: Naruto © Masashi Kishimoto.

RATE: M

WARNING : TYPO, AU, OOC, ^_^ banyak kesalahan dan jangan lempar saya kejurang.

.

(Ini ceritaku, aku bebas berimajinasi didalamnya. Dan aku adalah seorang Inocent akut jadi jangan memperparah ketidak sukaan anda pada Ino karena memaksa membaca cerita dari orang frustasi seperti saya.)

...

..

.

Enjoy

"Gaara lahir, enam bulan sebelum kelahiran Sasuke." Tuan Sabaku seolah tau apa yang sedang Kakashi pikirkan, ia mencoba menjelakan atas keterkejutannya Kakashi. Dan kalimat itu sukses membuat Kakashi kembali menatapnya.

Jadi benar yang dikatakan oleh Sasuke, bahwa ayahnya ini telah selingkuh. Meski sudah terlalu lama ia mengapdi kepada perusahaan Uchiha bukan berarti ia bisa seenaknya mengetahui urusan pribadi dari keluarga tersebut atau sampai ikut campur kedalamnya.

Tidak, Kakashi bukan orang seperti itu, selama ini ia hanya menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya diperusahaan.

"Aku tidak tau bahwa Karura sedang mengandung Gaara saat aku meninggalkannya waktu itu." terlihat menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, "dan menikahi Mikoto."

Kedua pria yang berbeda warna rambut itu sama-sama terlihat kaget mendengarnya, terutama Kakashi tidak memberikan komentar, jadi Karura yang pertama dan Mikoto? ia hanya tersenyum dan mengangguk tanda ia paham. Toh urusan pribadi bosnya bukanlah urusannya, ia tidak ada hak untuk ikut campur. Perjodohan ya mungkin.

"Jadi anda dan Karura-sama?" namun rasa penasarannya membuat ia bertanya juga dengan hati-hati, bagaimanapun juga ia tak selancang itu.

Mendengar pertanyaan dari Kakashi, tuan Sabaku tersenyum dan Gaara menajamkan pendengarannya untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan sang ayah.

"Dia adalah kekasihku dulu, tapi perjodohan membuatku harus meninggalkannya. Karura mengalah dan memintaku untuk menikahi Mikoto."

Kakashi bungkam. Jadi begitu cerita sebenarnya? Meski bos Uchiha-nya selalu terlihat membenci pria yang terlihat semakin tua didepannya ini dan bahkan selalu terdengar umpatan dan kutukan keluar dari bibir anak muda itu untuk ayahnya sendiri. Bahkan ia sampai ngeri sendiri melihat kebencia Sasuke pada sang ayah, ya mungkin itu wajar saat tidak mengetahui kenyataannya dan hal inilah yang membuat pria Uchiha itu begitu membenci sang ayah. Namun sepertinya Uchiha Sasuke tidak mengetahui yang sebenarnya.

Memang selama Kakashi mengenal pria Sabaku dan selama ia menjabat sebagai presdir diperusahaan besar itu, sebelum kemudian digantikan oleh Sang putra. Bos Sabaku-nya ini orang yang baik dan tegas. Ia tidak pernah melihat Sabaku Rei selingkuh atau tidak mempedulikan Mikoto dan Sasuke. Namun siapa yang tau rahasia dibalik topeng manusia.

Lain Kakashi lain pula dengan Gaara, Pria itu terlihat mengerutkan kedua alisnya mendengar penuturan ayahnya. Ia tau ayahnya meninggalkan ibunya dan membiarkan ibunya membesarkan dirinya seorang diri karena alasan perjodohan. Seharusnya ia membenci ayahnya.

Entah ayahnya ini sedang bernostalgia atau apa, tapi sungguh kenapa ayahnya ini begitu terlihat santai waktu mengunggapkannya. Apa lagi pada orang lain, Terlihat menjijikan, seolah membanggakan diri terhadap tingkah lakunya dimasa lalu.

Mungkin ada kebanggaan tersendiri didalam diri ayahnya bisa menaklukkan dua wanita sekaligus. Tapi sungguh dimata Gaara ayahnya terlihat benar-benar brengsek dan pecundang. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan wanita yang telah ia tiduri dan kemudian menikah dengan wanita lain. Perjodohan itu alasan yang klise.

Pantas saja kalau Uchiha Sasuke membenci ayahnya, ia pun akan melakukan hal yang sama. Andai saja ibunya tidak memohon padanya untuk menerima ayahnya kembali. Sebegitu cintanya kah ibunya kepada ayahnya? Meski telah ditinggalkan masih mau menerimanya kembali.

"Oya... bagaimana kabarmu Kakashi?" Tuan Sabaku menoleh kearah pria disampingnya.

Dan lagi Kakashi memberikan senyumannya. "Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja Sabaku-sama. Anda sendiri?"

"Aku juga baik Kakashi." Perkataannya diintrupsi oleh seorang pelayan yang datang membawakan pesanan kedua Sabaku. Minus pesanan Kakashi.

"Bagaimana kabar Sasuke?" tuan Sabaku masih belum menyentuh makannya, ia malah kembali bertanya.

Lain halnya dengan Gaara, pria itu malah dengan santai menikmati makan siangnya dan sekali-kali mendengar pmbicaraan kedua orang pria didepannya. Tidak mau ikut kedalam obrolan mereka, ia hanya akan menjawab apa bila ditanya, Itu saja.

"Sasuke-sama juga baik-baik saja."

"Kenapa kau tidak mengajaknya kemari tadi?" Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan yang ia buat untuk bercanda. Sebab ia sangat tau sebenci apa putranya itu kepadanya. Setiap mereka berdua bertemu selalu saja ada pertengkaran dan menciptakan moment yang buruk. Tidak jarang pula ia memberi tamparan kepada sang putra pada akhirnya.

Pria paruh baya itu tersenyum miris. Tentu saja tidak ada seorang ayah di dunia ini yang bangga dibenci oleh putranya sendiri. Sasuke hanya tidak tau cerita sebenarnya dan ia juga membiarkan cerita yang salah itu mendekam pada diri Sasuke, tidak ada keinginan untuk membela diri. Bagaimana pun juga ia salah. Dan lagi ia belum tentu yakin Sasuke akan mengerti dengan kenyataan yang ada. Anak itu terlalu akngkuh untuk luluh.

Tuan Sabaku menghela napas panjang. Sudah lama sekali rasanya ia tidak bertemu dengan putranya itu. Ada rasa rindu untuk sang putra. Namun Sasuke terlalu arogan untuk ditaklukkan dan semua Uchiha selalu begitu.

"Ini tadi dia keluar, ada janji dengan seorang temannya mungkin." Kakashi memberitau.

Dan jawaban itu mampuh membuat Sabaku Rei menoleh kearahnya, sedikit terkejut namun kemudia ia tersenyum.

"Sedang kencan, eh? Jadi dia sudah memiliki kekasih?"

"Saya kurang tau." Kakashi sambil tersenyum saat menjawabnya. Kalau saja hubungannya dengan Yamanaka Ino tidak berakhir mungkin ia akan menjawab sudah dengan cukup yakin.

Dan terlihat pria tua itu menghela napas panjang. "Sudah waktunya dia menikah dan menata masa depannya." Kakashi mengangguk mendengarnya.

"Kau sendiri, kapan kau menikah Kakashi?" kali ini Kakashi hanya tertawa untuk menjawabnya.

Kemudian seorang pelayan mengatarkan pesanan milik Hatake Kakashi.

Setelah melihat jawaban dari Kakashi lewat senyumnya tuan Sabaku menambahkan sebuah kalimat lain. "Lebih baik kita makan dulu Kakashi." Dan dijawab dengan anggukan olehnya.

Cukup lama ketiganya terlihat menikmati makan siangnya, sebelum tiba-tiba kepala keluarga Sabaku kembali membuka suara disela makannya.

"Oya, bagaimana kabar perusahaan?"

"Seperti yang sudah anda ketahui, perusahaan Uchiha menjadi perusahaan yang mampuh mendapat laba besar beberapa tahun terakhir ini."

Tuan Sabaku hanya mengangguk mengerti. Ia kembali tersenyum sebelum berkata. "Anak manja itu telah menjelma menjadi moster untuk para pesaingnya." Ada rasa bangga ketika mengucapkannya. Uchiha memang mengerikan.

Kakashi mengiyakan dengan anggukan. Sebelum menimpali.

"Apa anda ingin menjalin kerja sama dengan putra anda? Saya akan mencoba bicara dengannya, saya rasa Sasuke-sama akan setuju." Kakashi sedikit hati-hati saat mengucapkannya. Takut kalau saja ucapannya menyakiti pria yang ia hormati didepannya ini.

Pria itu tersenyum bahkan sedikit tertawa mendengar ucapan Kakashi.

"Haa... haa... haa... aku sudah terlalu tua untuk menumpuk harta seperti itu Kakashi. Biar putra-putraku saja yang melanjutkannya sekarang." Sang ayah menatap sang putra yang juga sedang menatapnya.

Kakashi paham yang dimaksut dengan putra-putranya, memang manta atasannya ini memiliki dua orang putra. Namun ia belum mendengar sepak terjang sang Sabaku muda ini didunia bisnis seperti Uchiha muda. Apa permainannya cukup halus sampai tidak didengar oleh telingganya.

Ia tidak ingin menerka-nerka, kalau sang Sabaku telah menduduki sebagai pewaris Sabaku-corp seperti halnya Uchiha Sasuke, kemungkin besar mereka akan bersaing. Namun selama ini Sasuke seakan tidak peduli dengan perusahaan ayahnya padahal perusahaan itu cukup diperhitungkan pasar saham dunia. Namun tidak tertarik untuk menjalin kerja sama atau menjadikan pesangingnya.

"Aku harus berterimakasi padamu Kakashi, bagaimana pun juga Sasuke tidak akan mencapai sampai sejauh ini andai saja kau tidak disampingnya." Tuan Sabaku menambahkan, ia berhenti dari makannya.

Kembali lagi kakashi tersenyum. "Saya hanya menjalankan apa yang telah menjadi tanggung jawab saya Sabaku-sama." Ia merendah. "Semua ini juga berkat anda." Kakashi menambahkan.

Bagaimanpun juga ia sangat tau, tuan Sabaku itu tidak lepas tangan begitu saja. Terbukti sampai sekarang ia masih membantunya untuk pengarahan perusahaan dan masih peduli meski tanpa sepengetahuan Sasuke.

.

.

.

Naruto hanya diam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut wanita berambut merah jambu yang kini telah sepenuhnya menangis dan menunduk didepannya.

Sulit dipercaya Sakura-nya dulu itu telah mengalami mimpi buruk yang mengerikan sebelum akhirnya bertemu dan diselamatkan oleh sahabat stoic-nya. Dan yang lebih tidak ia percaya adalah Sasuke mau repot-repot menjadi pahlawan untuk gadis yang pernah ia idamkan.

Mungkin ia harus merelakan kedua orang yang sudah ia anggap sahabat baginya ini bahagia, mempercayakan Sasuke untuk menjaga gadis yang kini telah kehilangan segalanya. Tentu ia yang akan menjaga dan menjadi sandaran Sakura andainya ia belum menikah dan mempunyai istri.

Sedangkan Suigetsu pun juga ikut terdiam setelah mendengar semua cerita dari wanita yang selama ini ia anggap sebagai selingkihan Sasuke. Namun yang baru ia dengar adalah hal yang berbeda dari yang selama ini ia bayangkan.

Dan terjawab sudah semua rasa penasarannya, kenapa Sasuke dulu ingin ia memenangkan wanita itu untuknya dan mau menampungnya sampai sekarang. Jadi itu sebabnya. Ia tidak menyangka sahabat angkuhnya itu masih mepunyai hati nurani. Terlalu kejam pikiranya.

"Sudahlah Sakura." Sasuke memecah kesunyian yang tercipta.

Ia tidak terlalu senang manjadi pahlawan dalam cerita yang wanita itu ciptakan. Waktu itu ia hanya ingin tau kenapa wanita seperti Sakura bisa ada di sebuah club malam yang menjadi pusat pria hidung belang berada, tidak ada niat untuk menolongnya apa lagi menampunya sampai sekarang.

Tapi setelah mendengar cerita yang cukup mengejutkan itu ia jadi teringat wanitanya, beberapa tahun silam. Saat wanitanya kehilangan ayahnya yang menjadi tumpuan baginya. Saat wanitanya memutuskan berhenti dari kuliahnya dan memilih berkerja disebuah café.

Tentu saja itu adalah keputusan konyol, wanita itu seolah-olah tidak menganggapnya ada. Menangis sendiri, menanggungnya sendiri padahal Sasuke selalu ada untuknya bahkan Sasuke siap meberikan dunia berseta isinya untuknya, terdengar terlalu berlebihan memang. Tapi sungguh ia tidak ingin melihat wanita yang sangat ia cintai menderita. Kehilangan ayahnya bukanlah segalanya karena nyatanya Ino masih memilikinya.

Dan karena itulah ia memutuskan untuk serius berkerja lebih dari sebelumnya dan membanggun perusahaan Uchiha seperti pencapaiannya sekarang. Hanya Untuk Yamanaka Ino, seandainya wanita itu tau bahwa hidupnya hanya untuk wanita itu.

Membuat Ino berhenti berkerja dan kembali melanjutkan kuliah dan hidupnya ada ditangannya. Seakan semua pengorbanannya itu ipas dengan cinta yang diberikan oleh wanitanya waktu itu. Karena Sasuke pertama kali meraskan apa yang dinamakan candu baginya selain alcohol adalah bercinta dengan Yamanaka Ino.

Sial! Kenapa ia malah mengingatnya.

"Naruto apa kau masih lama?" tanyanya pada si pirang cerah. Mencoba mengalihkan pikirannya.

Bila ia melanjutkan pikirannya itu cuaca panas sekarang ini akan menjadi panas oleh pikiran liarnya sendiri.

Naruto menatapnya sejenak sebelum meliat jam pada pergelangan tangannya hampir jam empat sore. Kemudian ia menoleh pada wanita yang kini sudah berhenti menangis disampinya.

"Aku harus segera pulang dulu Sakura-chan, pasti aku akan datang kemari lagi atau kalau kau mau aku akan mengajakmu jalan-jalan bersama Hinata, biar kalian juga bisa akrap. Bagaimana?"

Sebelum menjawab Sakura tersenyum kepada pria yang yang kini sedang menatapnya intens. Kemudian ia mengangguk, menyutujuinya.

"Baiklah, Suigetsu-san aku titip Sakura-chan padamu ya?" Suigetsu yang mendengarnya hanya menautkan alisnya tidak setuju, apa-apaan perintahnya itu?

Naruto berdiri dan kemudian diikuti oleh Sasuke, mereka berdua berjalan keluar dan menuju area parking.

"Apa kau akan kembali kekantor lagi Naruto?" mereka berjalan beriringan menuju mobil masing-masing.

"Tidak, aku sudah minta ijin Neji hari ini."

"Bagus temani aku kalau begitu."

.

.

.

Didalam mobil menuju kembali ke butik dengan Shizune yang mengmudi. Dua orang itu hanya diam dengan pikiran masing-masing. Tadi setelah menebus obat untuknya diapotik rumah sakit mereka langsung memutuskan kembali kebutik.

"Apa kau tidak ingin makan siang dulu Ino-chan?" Shizune bertanya, bagaimana pun juga ini sudah lewat jam makan siang dan mereka belum mengisi perut mereka. terlebih lagi wanita disampingnya ini.

"Aku tidak lapar Shizune-nee." Jawabnya singkat tanpa menoleh kesipenanya dan masih setia memandang luar jendela mobil.

Shizune menghela napas mendengarnya, bukankah baru beberapa saat lalu dokter mengatakan bahwa ia terlalu kurus untuk ukuran wanita hamil? Tidak diherenkan kalau ia tidak pernah makan, tapi tentu saja itu akan berdampak buruk pada kondisinya dan juga bayi yang ia kandung.

"Ino-chan, kau harus makan sedikit saja ya? Aku akan mencari restaurant terdekat." Keputusan yang dibuat dengan sedikit harapan bahwa wanita disampingnya ini mau menyetujui ajakannya.

Ino menoleh, dan menjawab "Aku ingin makan ramen."

Tentu saja pernyataan itu dijawab senyum senang diwajah ayu Shizune. Wanita itu mengangguk antusias. Segera saja ia mencari kedai ramen yang cukup enak menurutnya.

.

.

.

Sungguh Naruto tidak dapat menahan keterkejutannya saat ini. Apa yang sahabat raven-nya ini minta, menemaninya dan menyuruhnya mengikutinya, karena mereka membawa dua kendaraan. Ia menurut kemana Sasuke akan membawanya dan keterkejutannya berlipat ketika mobil buggati yang dikendarai pria itu berhenti disebuah kedai ramen.

Bahkan ia hampir saja menjatuhkan rahangnya dengan tidak elit saat menerima kenyataan yang aneh dari sang sahabat lama. Sejak kapan Sasuke menyukai ramen? Apa pria itu baru saja terbentur sesuatu? Ya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghantui otaknya.

"Kau tidak memesan Naruto?" bahkan saat suara datar Sasuke didengar oleh telinganya, ia hanya mengerjapkan matanya perlahan. Jangan lupan dengan mulut yang masih membukan karena terlalu tidak percaya.

"Naruto?" Sasuke meninggikan suaranya dan kini menatap kearah sahabat jabriknya yang masih diam.

Naruto gelagapan saat baru saja sadar dari keterkejutannya. "Err... iya aku pesan beef ramen paman." Ia mengaruk belakang kepalanya kemudian.

Sasuke masih tak acuh, bahkan ketika Naruto kembali menatapnya. "Err... Sasuke?" Naruto mencoba mencari perhatian dari sang sahabat. Dan kemudian Sasuke menoleh kearahnya. "Sejak kapan kau menyukai ramen?" tambahnya.

Terlihat tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari pria Namikaze, ia hanya mengedikkan bahu. Sekali lagi ia juga tidak tau sejak kapan atau lebih tepatnya kenapa ia ingin makan ramen hari ini.

"Kau aneh teme, tadi setroberry-cake dan sekarang ramen. Apa kau baik-baik saja?" Naruto menambahkan setelah ia masih belum mendapat jawaban.

Pernyataan dan pertanyaan Naruto kali ini memang harus ia setujui, ia memang harus mengakui hari ini dirinya cukup aneh. menginginkan hal diluar kesukaannya.

"Aku tidak tau apa aku baik-baik saja, aku hanya merasa ingin." Ia berrucap cukup pelan dengan menunduk, seolah dirinya yang biasa dengan bangga mengangkat dagu tinggi dengan tingkat kecokakannya telah lenyap pada dirinya saat ini.

Setelah mendengarnya Naruto yang biasahnya sangat cerewet itu hanya bisa diam, mungkin memang temannya ini sedang ingin saja. Sasuke sudah banyak berubah dari mau menolong Sakura dan sekarang dia juga menyukai ramen seperti dirinya.

"Sasuke, apa kau masih belum bisa menyukai Sakura-chan?" Naruto ingin mengetahuinya. Namun Sasuke seperti enggan menjawabnya.

"Err... apa kau normal Sasuke?" pertanyaan tambahan yang cukup hati-hati keluar dari bibirnya.

Seketika Sasuke mengerutkan alis saat mendengarnya dan menoleh cepat. "Apa maksutmu?"

"Kau tidak gay kan?"

Sial! kenapa sahabatnya ini bisa berpikiran seperti itu? apa ia terlihat seperti seorang gay dimatanya.

"Apa aku terlihat seperti gay? Apa karena aku mengajakmu makan seperti ini jadi seperti gay? Brengsek kau Naruto." Tentu saja dia marah bahkan kini dengan tatapan dingin yang mengarah pada pria kuning didepannya dan jangan lupakan kalimat panjang yang baru ia keluarkan.

Cepat-cepat Naruto mencari jawaban yang kiranya benar untuk ia ucapkan, jangan sampai ia salah bicara lagi. Bisa-bisa kedai ramennya ini jadi rata dengan tanah. Terlalu berlebihan.

"Bukan begitu maksut ku Sasuke, kau taukan Sakura-chan sangat menyukaimu dari dulu dan aku rasa sampai sekarang—" ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "—tapi kau terlihat masih tidak tertarik dengannya bahkan aku juga tidak pernah mengetahuimu berkencan dengan seorang wanita."

Sasuke menghela napas mendengarnya, namun ucapan yang baru akan ia keluarga ditahan oleh datangnya pesanan mereka. dua porsi beef ramen.

"Aku tidak menyukainya, apa aku harus berkencan dengan wanita yang tidak aku sukai?"

"Lalu seperti apa wanita yang kau sukai?"

"Apa aku harus memberitaumu?" Sasuke meliriknya tajam.

Terlihat Naruto menghela naps lagi. "Padahal aku akan merelakan Saskura-chan bila dia bersamamu." Komentarnya.

"Bodoh." Ya temannya itu masih tetap bodoh.

Setelah itu mereka hanya diam menikmati makanan mereka disore hari yang tenang, Naruto melirik Sasuke, sahabatnya itu terlihat makan dengan tenang. Bahkan ramennya masih terlihat penuh. Berbeda dengan dirinya ramennya telah hampir setengah.

Ponselnya bergetar, Naruto membukanya. Pesan dari sang istri yang menanyakan keberadaanya. Ia membalas cepat bahwa ia akan segera pulang, Lalu pikirannya melayang pada tugas untuknya dari Neji sang kakak ipar. Memberikan undangkan pada sahabat berambut merahnya. Ia menepuk jidatnya tanpa sadar tidakannya itu membuat Sasuke menoleh.

"Kau baik-baik saja?" bukan kuatir hanya merasa terganggu dengan tindakan bodoh Naruto.

"Ya, tapi aku harus segera pulang ada hal yang harus aku kerjakan." Terangnya. Berharap Sasuke tidak kecewa kalau dia pulang terlebih dahulu.

Pria Uchiha itu mengangguk, "Pergilah, aku masih ingin disini."

Setelah mendengarnya Naruto bergegas mengambil dompetnya bermaksut untuk membayar namun Sasuke menahannya dan mengucapakan biar dia saja yang membayar.

"Baiklah, ja... Sasuke." pria itu pergi.

Sasuke meletakan sumpitnya dan diam beberapa saat dan menghela napas. Ia masih ingin disini lebih lama lagi menikmati udara sore diluar kebiasaannya. Tidak buruk juga. Pria itu memilih memejamkan mata.

Suara seorang wanita membuat ia menajamkan pengdengarannya, seperti familiar dengan suara itu namun sebuah nama yang didengar setelah dari wanita itu membuat Uchiha tampan itu membuka mata hitannya dan menoleh.

"Ino?"

Ino wanita itu membelalakan mata birunya ketika tau siapa pria sampingnya itu, Uchiha Sasuke. Entah kesialan atau keberuntungan bisa bertemu orang yang telah lama tidak ia temuai di sini. Disebuah kedai ramen.

Aneh tentu melihat Sasuke berada ditempat seperti ini, setaunya Sasuke tidak menyukai ramen dan dia juga tidak melihat mobil sasuke tadi waktu didepan? Apa pria itu tidak membawa mobil atau memarkirkannya jauh dari kedai?

Ia gugup bahkan sampai tidak bisa berkata-kata terlalu tiba-tiba dan itu mengejutkannya. Dia berdiri dari duduknya, pergi dari tempat ini secepatnya adalah yang terbaik. Menarik tangan shizune. "Kita pergi dari sini Shizune-nee."

"Ino tunggu." Sasuke menarik tangan wanita yang masih bisa dijangkaunya dengan cepat.

Entah apa yang membuat Sasuke melakukan ini? tapi yang pasti ia sangat merindukan wanita didepannya ini, sungguh Sasuke ingin sekali memeluknya dan membawanya keranjang. Keparat! ia segera mengenyahnya pikirannya.

"Lepas Sasuke." Seakan terhipnotis oleh ucapan sang wanita, tangan yang masih mencengkram pergelangan wanita didepannya itu terlepas.

Wanita itu berbalik. Tidak akan peduli lagi pada pria itu sekarang, Sasuke sudah kehilangannya saat ia melaskannya dulu. Ia terlalu kecewa dengan pria itu, meski dalam hati kecilnya ia begitu sangat merindukan pria itu, sosoknya dan sentuhan yang pria itu berikan. Tapi itu sudah terlambat ia telah menikah dan ada sosok suami yang telah memberikan semua padanya. Tanpa terasa air matanya telah membanjiri pipi putihnya.

.

.

.

.

.

Gaara membuka sebuah pesan singkat di ponselnya. Sebuah pesan dari sahabatnya, Naruto.

'Kau dimana Gaara? Apa kau ada dikantor?'

Segera setelah membacanya ia membalasnya.

'Ada apa Naruto?'

'Aku ingin memberikan undangan pernikahn Neji padamu. Kau dimana?'

'Tunggu aku dikantor.'

Setelah mengirim pesan terakhinya, Gaara kembali memasukan ponselnya pada saku jasnya.

"Ayah?" panggilnya pada sanga ayah, yang masih terlihat menikmati obrolan panjangnya denga pria yang bernama Kakashi. Dan sepertinya mereka tidak berniat mengakhiri obralannya dengan cepat.

Tua Sabaku menoleh, begitupu Kakashi.

"Aku harus kembali kekantor sekarang." Ucapnya kemudian.

Sabaku Rei mengerutkan alis. "Apa ada yang kau kerjakan dikantor sekarang?" ini sudah terlalu sore untuk memutuskan kembali kekantor.

"Ya!" jawab Gaara singkat.

"Baiklah," sang ayah mengangguk kearahnya. "Kau bawa saja mobilnya. Biar ayah diantar Kakashi nanti." Dan kemudian menoleh kearah Kakashi dan Kakashi memberikan anggukan.

Setelah mengambil kuncinya ia segera berjalan keluar restaurant dan menuju area mobilnya berada.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kantornya dan ia sudah melihat naruto, sahabatnya menunggu di lobi banggunan besar itu.

"Ada apa Naruto?" tanyanya kemudian setelah sampai didepan sang sahabat.

Langsung saja Naruro menyerahkan apa sedari tadi ia bawa. "Ini."

Gaara terlihat mengamati terlebih dahulu sebelum menerimanya. Sebuah undangan dari seorang Hyuga Neji dan Tenten dia tidak kenal dengan mempelai wanitanya tapi ia cukup kenal dengan kakak ipar dari sahabatnya itu. Dan acara nya satu minggu lagi.

"Neji akan menikah?" dia bertanya dan dijawab anggukan oleh Naruto.

"Kau harus datang Gaara." Perintahnya meski dengan bercanda.

"Hn." Jawaban yang cukup singkat dan tak bermakna. Tapi sahabatnya ini sudah terlalu hapal.

Setalah itu mereka keluar dari lobi kantor dan menuju mobil masing-masing terparkir. Tentu saja dengan tujuan berbeda, Naruto menuju kediamannya sedangkan Gaara menuju butik tempat sang istri berkerja.

.

.

.

.

.

Ino meminta Shizune untuk mengantarnya ke apartment miliknya. Dia ingin menangis disana tidak ingin kembali kebutik bahkan menyuruh Shizune untuk meninggalkannya sendiri. Namu wanita dewasa itu tidak melakukannya ia terlalu takut meninggalkan wanita ini sendiri disaat dalam keadaan kacaunya.

Ia tau pertemuannya denga Uchiha Sasuke kembali mengguncangnya. Ini salahnya kenapa dari sekian banyak kedai ramen ia harus berhenti disitu dan kenapa ada pria Uchiha itu di tempat itu.

Ino masih menangis, bahkan tidak mempedulikan ponsel yang berada dalam tas jinjingnya yang sedari tadi bergetar. Ia menoleh pada wanita yang masih menangis dengan menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya. Ia membelai lembut pungguh wanita rapuh itu, Shizune mengerti mungkin karena keadaanya saat ini yang sedang hamil yang membuatnya lebih sensitive.

Shizune meraih tas berwarna tosca yang ada dimeja dan mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar. Ternyata panggilang dari Gaara.

"Ino-chan, Gaara-kun menelpon," Shizune memberi tau dan menambahkan "apa kau tidak mau mengangkatnya?"

Setelah mendengar nama sang suami disebut wanita cantik bak boneka itu buru-buru menggusap air matanya dan mencoba berhenti terisak sebelum menerima telpon dari sang pria.

Ia tidak mau membuat Gaara kuatir ketika mendengarnya menangis ditambah lagi mungkin pria itu sedang mencarinya, sebab ia belum memberi tau Gaara soal kepulangannya ke apartment.

"Halo... Gaara!" setelah menerima ponselnya dari shizune ia mengangkatnya.

Terdengar helaan napas dari sebrang. Benarkan, suaminya sedang kuatir sekarang.

'Kau dimana Ino?'

"Aku pulang ke-apartment, maaf tidak memberi taumu."

'kau baik-baik saja?' tanya Gaara lagi pada yang istri. Dan ia sedang menautkan alisnya sekarang meski tidak dapat dilihat oleh Ino.

"Ya." Mencoba mengatur napas agar isakan kecilnya tidak didengar sang suami.

'Aku akan segera kesana.' Segera pria itu menutup telponnya.

.

.

.

Gaara telah sampai di butik sang istri namun salah satu Karyawa butik memberitaunya bahwa nonanya sedang keluar bersama Shizune waktu makan siang tadi dan belum kembali sampai sekarang.

Dan Gaara tau soal makan siang itu karena memang Ino memebritaunya namun sekarang belum kembali? Apa yang terjadi? Dimana mereka? kemudia ia memutuskan menelpon namun cukup lama tidak dianggat.

Setalah dianggkat akhrinya ia tau istrinya ada di apartment nya, kekuatirannya tidak berkurang setelah mendengar suara istrinya, sebab suaranya terdengar aneh. tanpa membuang waktu pria tampan itu melajukan mobilnya kearah apartment.

Pria tampan itu semakin mengerutkan alis nya ketika sampai di dalam apartment sang istri ia hanya melihat Shizune duduk diruang tamu. Lalu dimana Ino?

"Shizune-nee?" sapanya dan membaut wanita yang disapa menoleh.

"Gaara-kun" sebelum melanjutkan kalimatnya ia mencoba tersenyum kearah pria itu.

"Dimana Ino?" Gaara bertanya mendahului rasa penasarannya.

"Ino-chan sedang mandi." Shizune tidak berbohong saat mengatakan itu, sebab bebera saat yang lalu ketika Gaara mengatakan akan datang, Shizune menyuruhnya untuk merapikan dirinya. Agar Gaara tidak menjadi kuatir.

"Maaf membuat mu kuatir, kami keluar untuk makan siang dan jalan-jalan sebentar dan tidak memberi taumu." Ia mencoba menjelaskan panjang lebar dan berharap pria yang ada didepannya itu mengerti.

Ia melihat Gaara mengangguk, Shizune tersenyum. Sukurlah suami dari Ino-chan nya ini sungguh pengertian.

"Kalau begitu aku harus segera pulang. Tolong kau beritau Ino-chan ya!" ia mengambil tasnya dan berdiri. Kemudian melangkah keluar.

Sebelum itu ia melihat Gaara mengangguk dan berucap. "Hati-hati Shizune-nee!"

Pintu apartment tertutup, ia melonggarkan dasinya yang sedari tadi belum sempat ia longgarkan berjalan kearah kamar sang istri.

Gaara melihat Ino baru saja keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan kimono mandinya saat ia baru saja masuk kedalam kamar.

"Gaara?" Ino menyapa ketika melihat sang suami. "Apa Shizune-nee sudah pulang?" tambahnya dan sang suami mengangguk.

Pria tampan itu berjalan mendekat, entah rasa kuatirnya seakan menguap dan menghilang entah kemana ketika ia melihat istrinya tepat didepannya. Atau ia begitu merindukan wanita ini. mungkin saja ia.

Gaara menyadarkan kepala bersurai merahnya pada bahu kanan wanitanya dan membiarkan kedua tanganyanya mengelantung bebas pada sisi tubunya. Dengan posisi seperti itu ia dapat mencium wangi menguar dari tubuh Ino, sabun beraroma madu, manis ia menyukainya.

Ino membawa tangan kanannya untuk menyentuh pungguh sang suami, kuatir. Apa karena terlalu kuatir terhadap dirinya Gaara seperti ini. ia jadi merasa bersalah.

"Kau baik-baik saja Gaara? Maaf tidak memberitaumu kalau aku disini."

Pria itu tak menjawab dan juga tidak mengangkat kepalanya dari bahu kecil miliknya. Melainkan apa yang pria itu lakukan kemudian membuatnya menegang ditempat.

Memberi ciuman kecil seakan malas pada leher jenjangnya bahkan kini komono mandinya yang menutupi pundah kanannya telah merosot kelengannya. Ciuman Gaara turun ketulang clavicula. Dan seketika ia merinding.

Bahkan kini tangan kanannya yang bebeas Gaara gunakan untuk menarik pinggang rampingnya untuk merapat padanya. Ciuman Gaara semakin membuat Ino gilla, semakin turun dan semakin medesak.

Kruuuk...

Namun segala aktivitas Gaara terhenti oleh bunyi yang memalukan untuk Ino, perutnya berbunyi. Ia hampir lupa kalau ia belum makan seharian ini.

Ia hanya nyengir ketika Gaara mengankat kepalanya dan menatapnya.

"Kau lapar?" tanya pria itu dan Ino mengangguk.

"Mandilah dulu, biar aku memasak untuk makan kita." Ino berpendapat sambil membenarkan kimono mandinya yang berantakan.

"Ini mengganggu." Ucap Gaara sambil membalai perut Ino yang masih tebalut kimono. Kemudian mencium bibir sang istri sekilas sebelum berjalan kedalam kamar mandi.

Ino hanya tersenyum setelah itu ia segera ganti baju dan bergegas keluar dari kamar untuk memasak. Ia berharap masih ada bahan makanan di lemari es, sehingga ia tak perlu repot-repot ke supermarket.

.

.

.

Ino memutuskan membuat spaghetti. Sebab hanya bahan untuk membuat pasta ala Italia itulah yang masih tersisa di lemari pendingin. Ditambah cara membuatnya mudah dan praktis jadi ia tidak perlu repot untuk membutuhkan waktu lama memasak.

Terbukti memang ia hanya memerlukan waktu lima belas menit untuk menghidangkan masakannya di dua piring untuk dua orang ia dan sang suami di meja makan.

Memutuskan mencuci peralatan memasaknya selagi menunggu suaminya turun. Setelah semua selesai ia cuci, Gaara sudah menarik salah satu kursi dan mendudukan diri disana.

"Hanya spaghetti yang tersisa jadi aku memutuskan untuk membuatnya. Tidak apa-apakan?" ia sedikit kuatir dengan selera makan Gaara, sebab ia beberapa kali melihat ibu mertuanya selalu membuatkan makanan yang berbahan dasar rempela. Makanan kesukaan sang suami.

Dia memberikan senyuman pada istrinya sebelum mengangguk. Menandakan bahwa ia tak masalah.

Mereka memutuskan makan dengan diam, sebelum Gaara membuka suara.

"Ino?" Ino menoleh pada sang suami.

"Hmm...?" dan menjawab dengan gumaman.

Gaara masih diam menatapnya. Seakan mencari kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.

"Apa kau keberatan tinggal bersamaku di kediaman Sabaku?"

Pertanyaan Gaara itu membuat wanita berparas cantik menghentikan kunyaannya unruk sekedar memastikan pendengarannya. Ia masih belum mengerti maksut dari kalimat Gaara. Jadi ia menunggu Gaara untuk menjelaskan namun pria itu hanya diam tidak ada sambungan kalimat setelahnya.

Akhirnya ia memutuskan bertanya. "Maksutmu?"

"Jangan tinggal di apartment lagi, apa kau mau tinggal bersamaku kita berdua dirumah Sabaku?" ia terlihat mencoba menjelaskan.

"Kenapa tiba-tiba Gaara?" Ino masih belum mengerti.

"Tidak, aku rasa kau tidak akan kesepian disana, ada ibuku yang selalu dirumah." Maksut dari penjelasannya cukup panjang sampai ia harus menghela napas untuk mengatakannya.

Ino tersenyum. Apa Gaara takut ia kesepian dan bukankah ada Gaara disampingnya?

"Kalau kau keberatan, kita bisa membeli rumah nanti."

Ino mengerutkan keningnya. Membeli rumah? "Kau tidak suka tinggal di apartment?"

"Bukan begitu." Gaara masih mencoba memilih kata yang tepat. Terlihat menarik napas kembali "Hanya saja tinggal di apartment setelah menikah itu kurang nyaman apa lagi setelah ada anak-anak nanti."

Kali ini wanita cantik itu tersenyum, tentu saja ia tidak keberatan tinggal bersama kedua orang tua Gaara, ibu mertuanya adalah orang yang baik tapi apa suaminya ini sudah mengharapkan adanya anak-anak diantara mereka? tentu saja ia senang mendengarnya, Gaara sungguh berbeda dengan Sasuke.

Pikirannya itu mengingatkannya tentang pertemuannya kembali dengan pria itu tadi sore dan juga soal kehamilannya. Mungkin sekarang waktunya yang tepat untuk mengatakan pada sang suami.

Ia menggerakan tangannya untuk menyentuh punggung tangan sang suami yang bebas diatas meja. Dan ia mengambil napas terlebih dahulu. Namun Mendahuluinya.

Gaara menoleh menatap mata aquamarine yang indah didepannya. "Kau mau kan?" ia mencoba memastikan. Dan wanita itu mengangguk.

"Tentu saja aku tidak keberatan Gaara." Akhirnya ia menjawab. Sedikit kecewa karena ia masih belum berani untuk mengatakannya. Terlalu pengecut, terlalu takut dengan resiko yang mungkin ia dapat.

Setelah itu mereka melanjutkan makan yang tertunda karena obrolan mereka. cukup lama hening dengan pikiran dan makan mereka masing-masih sampai Ino berdiri untuk mencuci piringnya yang masih sisa banyak spaghetti yang tidak ia makan. Kemudia diikuti oleh Gaara memberikan piringnya untuk dicuci.

Malam itu keduanya memutusakan untuk tidur di apartment. namun sialnya Gaara tidak memiliki baju ganti alhasil ia terpaksa hanya bertelanjang dada, sebab tidak mau membuat kemejanya lecek untuk pergi kekantor besok. Dan ia terlalu malas untuk pulang terlebih dahulu hanya untuk menganti kemeja besok.

Sang istri sudah tertidur. Mungkin wanitanya ini kelelahan. Membenarkan selimut mereka dan medekap erat sang wanita. Mata bermanik jade itu memejam.

.

.

.

.

.

Sasuke masih belum bisa tidur, padahal waktu sudah menujukkan pukul dua dini hari. Tapi matanya seakan enggak untuk terpejam. Ia tidur terlentang di ranjang king size ditemani dengan selimut tebal yang hanya ia gunakan sebatas perut.

Tatapannya menerawang jauh kelangit-langit kamar yang kini telah gelap tanpa penerangan lampu sedikitpun. Mungkin hanya cahaya remang-remang dari luar yang masih bisa terlihat lewat jendela kaca besar dikamarnya. Karena tirai tidak ia tutup.

Entah apa yang sedang pria tampan itu pikirkan sekarang, mungkin pertemuannya kembali dengan wanita yang masih mengisi pikirannya tadi sore itu sukses mengacaukan system saraf dan pembulu daranya.

"Sial!" ia mengumpat.

Mendadak kepalanya seakan mendapat pukulan, ia memeijat pelipisnya. Merasa nyeri bukan hanya dikepala namun hatinya. Takdir seakan mencemoohnya dengan mempertemukannya kembali dengan wanita itu. Memang tidak mustahil untuk bertemu kembali sebab mereka masih berada dikota yang sama.

Sasuke memutuskan bangun dari posisi berbaringnya, duduk sebentar dan menyibak selimut tebalnya. Mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Mungkin keluar dan menacari udara segar bukan ide yang buruk.

Membuka almari pakaiannya untuk mengambil jaket, tanpa perlu repot-repot menganti kaos tidur putihnya dan celana piama miliknya yang ia kenakan.

Keluar apartment dan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Sebelum masuk kedalam mobil buggati-nya pandangannya tertuju pada mobil Ferrari merah yang terparkir tepat disebelah buggati miliknya.

Ia ingat tahun lalu mobil itu ia beli sebagai hadiah untuk kelulusan kekasihnya dari universitas. Sebenarnya lebih tepatnya untuk koleksi pribadinya karena ia memang menyukai mobil pabrikan Italia itu jadi akan terlihat sempurna apabila wanitanya mengendarainya meski nyatanya mobil mewah itu hanya menjadi pendekam di basement apartment wanita itu karena ia jarang ia gunakan, ditambah lagi Sasuke selalu mengantar jemputnya kemanapun wanita itu inginkan.

Ia mengehla napas lelah. Dan memutuskan masuk kedalam mobil buggati-nya, mengendarainya dengan pelan. Masih belum memiliki tujuan. Menyusuri jalanan kota Tokyo di waktu hampir pagi hari.

Mungkin menyenangkan menikmati soup tomat hangat saat ini. Tapi dimana ia ia bisa menemukan restaurant yang masih buka jam segini? Langsung saja pikirannya melayang ke restaurant dua pulu empat jam yang terletak tak jauh dari apartment mantan kekasihnya. Langsung saja ia menjalan kendaraannya ketempat restaurant terletak.

Benar saja restaurant itu masih buka, dan kenapa ia bisa tau? Jawabannya mudah ia sering meminta Ino untuk membelikannya dulu saat ia merasa kelaparan dimalam hari setelah kegitan yang mereka lakukan.

Ia memutuskan segera masuk sebelum memilih tempat duduk ia mengamati sebentar, sepi, tak terlalu ramai bahkan hanya ada dirinya dan dua orang yang terlihat seperti suami istri.

"Selamat datang anak muda!" sapa paman pemilik restaurant. Memang bukan restaurant besar jadi pemiliknya bisa turun langsung.

Ia mendekat dan mengutarakan pesanannya setelah mendapat jawaban tunggu sebentar ia segera memilih tempat duduk.

Tak lama semangkuk soup tomat yang terlihat masih panas terhidang dimeja dihadapannya. Setelah melihat sang paman restaurant mengantarkan pesanannya namun tidak langsung pergi. Bahkan ucapan paman pemilik restaurant selanjutnya membuat ia memberi tatapan tak suka.

"Sedang ngidam juga eh anak muda?" pria itu tersenyum jail. Mencoba candaan basa basi. Sebab pelanggannya yang satunya mengaku sedang ngidam menikmati soup buah dimalam hari. Matanya menoleh pada kedua pasangan di salah satu meja restaurant.

Sasuke mengikuti pandangan mata sang paman restaurant dan seketika ia mengerti. Tidak memberi jawaban karena pertanyaan hanya untu bercanda. Meski ia tidak menyukai cara bercandanya namun kata-kata sang paman malah mengusik pikirannya. Bukan hanya sekali tapi hampir dari tadi siang ia mendengar kata ngidam keluar dari mulut orang-orang yang melihatnya diluar kebiasaan.

Setelah mengucapkan selamat makan sang paman pergi dari hadapannya. Namun Sasuke masih enggan untuk menyentuh pesanannya. Ia masih memikirkan kata-kata ngidam. Apa yang salah pada dirinya akhir-akhir ini? tadi cake dan ramen dan sekarang kenapa ia lebih memilih berada di restaurant dan ingin makan soup tomat dibandingkan menghabiskan waktunya di sebuah klub malah dengan meminum wine kesukaannya berbotol-botol?

Langsung saja ia ingat tentang kehamilan Ino, apa ia memang benar tengah ngidam? Tapi apa mungkin seorang pria bisa mengalami ngidam disaat pasangannya yang mengandung? Konyol. Sekali lagi ia harus mengumpat. Keparat!

.

.

.

.

.

Seminggu telah berlalu dan dilewati dengan keinginan pada dirinya yang tidak wajar, namun pria Uchiha itu mencoba untuk tak mempedulikannya. Kalau memang wanita itu tetap mempertahankan bayinya itu berarti wanita itu menantangnya.

"Tch..." ia memukul setir mobilnya, memandang bangunan yang kini terlihat sangat ramai. Gedung resepsi pernikahan seorang Hyuga.

Kenapa ia ada disini dan mau repot-repot datang? Salahkan saja pria Hatake yang seenaknya memaksa dan menyuruhnya datang sendiri padahal sasuke sudah menyuruh Kakashi saja yang datang atau kirimkan saja hadiah pernikah untuk Hyuga, namun Kakashi mengatakan akan tidak sopan sebab Neji telah mau repot-repot datang sendiri memberikan undangan padanya.

Sebenarnya persetan dengan itu semua toh ia tidak memintanya, namun ini menyangkut kerja sama kedua perusahaan. Benar-benar sialan.

Sasuke turun dari kendaraannya dan memasuki gedung terlihat mega dengan desain khas pesta pernikahan. Pria tampan dengan rambut raven dan bermanik sekelam malam itu berjalan tenang diantara kerumunan orang yang juga tengan menghadiri acara tersebut.

Sebuah tuxedo mahal dengan brand Louis Vultton dari Prancis melekat anggun pada tubuh atletis-nya. Mata onyx-nya menangkap orang yang ia kenal dan juga menjadi orang yang mengundangnya ke acaranya ini, Hyuga Neji. Pria berambut coklat panjang itu terlihat sedang berbincang dengan orang yang juga ia kenal, Uzumaki Naruto sahabat lamanya.

Tak perlu pikir dua kali, langsung saja kakinya ia langkahkan ke tempat empat orang didepannya.

"Selamat atas pernikahanmu Hyuga Neji." Sapanya datar, bahkan tidak menunjukan sedikitpun senyum diwajah tampannya. Setelah ia tepat berada didepan pria itu.

Neji seketika menoleh dan mendapati orang yang menyapanya, Uchiha Sasuke berdiri dihadapannya seorang diri. Ia menarik bibirnya simetris menunjukan senyum saat menyambut kedatangan orang yang menurut ia tidak mungkin datang. Tapi pikirannya itu ternyata salah.

"Terimakasi Uchiha-san, sudah mau datang. Kau datang sendiri?"

"Hn." Ia menjawab dengan menggumam tak jelas. Tentu saja ia datang sendiri. Apa ia terlihat datang dengan seseorang disampingnya?

Naruto tersenyum melihat percakapan dua orang yang sama-sama dingin. Tidak heran kalau Neji menggundang sahabatnya ini, sebab mereka telah menjalin kerja sama.

Pria berambut kuning itu memutuskan menyapa sang sahabat. "Oi... Sasuke, kau tidak mengajak Sakura-chan?"

Suara Naruto membuatnya menoleh kearah pria yang berdiri disamping wanita mungil berambut panjang. Ia tidak mengenalnya tapi ia berani bertaruh bahwa wanita itu adalah seorang Hyuga yang juga menyandang setatus sebagai istrinya.

Sasuke enggan menjawab pertanyaan itu, sebab apa ia harus membawa wanita itu kemanapun dan apa-apaan pertanyaannya itu? sampai suara keterkejutan Neji mengalihkannya kembali dari Naruto.

"Aku tidak menyangka kalau kalian sudah sangat akrap?" tanyanya tidak yakin. Apa ia melupakan sesuatu? Tentang hubungan mereka misalnya? Setaunya Uchiha didepannya ini dan adik iparnya yang berisik itu hanya sekali bertemu itupun diacara perusahaan.

Jadi tidak mungkin bisa cepat menjadi seakrap ini? sebab ia mengenal Uchiha bukan orang yang muda akrap dengan orang terbukti dengan dirinya. Ia tida bisa seakrap itu dengannya meski mereka sering bertemu untuk urusan perusahaan namun mereka masih memanggil nama marga mereka masing-masing. Kecuali adik iparnya ini memang tidak memiliki sopan santun karena langsung memanggil nama kecilnya padsa orang yang baru ia kenal.

Naruto nyengir mendengarnya, kemudian mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"He... he... he... kau tidak tau ya? Uchiha yang terhormat ini adalah sahabat lamaku saat di Konoha dulu." Jelasnya dan Neji langsung paham.

"Saya harap anda bisa menikmati pestanya Uchiha-san." Neji menambahkan. Kemudian kebersamaan mereka diisi oleh keheningan. Namun karena pada dasarnya Naruto tidak bisa diam jadi dia yang bersuara terlebih dahulu.

"Sasuke, ayo kita mengambil minum saja dulu!" ajak pria berkulit tan pada sasuke menuju meja tempat segala minuman berada. Sasuke mengangguk mengikuti sang sahabat.

Mereka berjalan menjauh dari pasangan kedua penganntin dan Hinata untuk mengambil minum.

Dua pasangan yang juga menjadi tamu dalam acara resepsi pernikahan dari keluarga terhormat Hyuga, baru saja memasuki gedung acara. Gaara yang seminggu lalu mendapat undangan dari Naruto meminta Ino sang istri untuk menemaninya yang kebetulan wanita cantik itulah yang menjadi desainer gaun pengantin pemilik acara. Jadi ia juga mendapat undangan secara langsung dari pengantin wanita waktu itu yang datang bersama adik iparnya, Namikaze Hinata.

Permata hijau teduhnya menangkap kedua pasangan pengantin didepan mereka agak jauh ditengah gedung. Gaara berjalan kearah sang pengantin dan masih dengan sang istri disampingnya melingkarkan tangan putihnya pada lengan sang suami.

"Selamat atas pernikahanmu Neji." Sapa pria bermarga Sabaku, setelah keduanya tepat berada didepan kedua mempelai.

"Terimakasi Gaara." Jawab Neji kemudia matanya melirik kearah waniata disamping pria berambut merah. "Dia?" tambahnya.

"Dia Ino, istriku." Dan Ino tersenyum.

Kening sang pengantin pria mengerut. "Kau sudah menikah?" rasa penasarannya bertambah. Bukankah wanita ini adalah desainer dari outfit ia dan sang istri gunakan saat ini.

"Begitulah." Gaara tersenyum saat menjawabnya.

"Dan kau tidak menggundangku?" ia menoleh kearah Gaara.

"Memang bukan sebuah pernikahan semeriah ini." Gaara mejawab seadanya dan kenyataanya memang begitu.

Dan jawaban itu semakin membuatnya menautkan alis. Namun kemudian sang istri Tenten menyela. "Apa aku belum memberitaumu, bahwa desainer cantik yang merancang gaun ku malam ini adalah istri Gaara-san?" Sang Hyuga sulung menoleh pada sang istri, yang tampak cantik dengan gaun malam bermarna tembaga yang menjuntai sampai kelantai dan atasnya menutupi sebagian pundak kanannya.

"Hinata-chan yang menyarankan, dan aku menyukainnya. Indah bukan?" sang istri menambahkan. Sedang Hinata hanya tersenyum mengiyakan.

.

.

.

Naruto baru saja menyerahkan gelas berisi cocktail ketangan sahabat raven-nya ketika mata biru langitnya menangkap sahabat berambut merah-nya sedang berbincang dengan kedua pasangan pengantin. Sepertinya Gaara baru saja datang.

"Ayo aku kenalkan denagn sahabat baruku yang memiliki sifat hampir sama denganmu." Pria Namikaze itu berbisik pada pria yang kini tengan memunggungi kedua penganti.

Sasuke hanya mengerutkan alisnya tanpa berniat memberi respon. Memang ada-ada saja sahabatnya ini. Dan mendengar Naruto menambahkan. "Dia juga baru saja menikah."

Kemudian Nama seseorang yang baru saja Naruto panggil membuatnya semakin tak tertarik. Jangankan berbalik untuk melihat menolehkan kepalanya barang sejenak pun tidak.

"Gaaraaa-...?"

Sedangkan Gaara yang merasa namanya dipanggil dengan cukup kencang pun menoleh. Ia terlalu tau siapa yang memanggilnya, itu sahabatnya. ia paham kebiasaan Namikaze Naruto.

"Aku akan menemui Naruto dulu." Gaara terlebih dahulu memberi tau Neji sebelum ia pergi dari hadapan pasangan pengantin didepannya untuk menemui sang sahabat.

Kepergian Gaara, di ikuti oleh sang istri dan Hinata dibelakangnya.

"Naruto." Sapa pria tampan itu setelah sampai didepan sang pemanggil. Dan disusul oleh Ino yang berdiri disampingnya dan Hinata disamping Naruto.

Seketika Naruto memutar tubuh sahabat raven-nya yang sedari tadi memunggungi dan tidak mau berbalik.

Pria Uchiha itu memicingkan matanya seketika pada orang didepannya, dan Gaara pu sama. Sama-sama kaget.

"Sasuke, dia Gaara dan istrinya-" jelas Naruto pada pria disampingnya. Namun kalimat akhirnya terpotong oleh suara baritone disampingnya.

"INO?" keterkejutannya bertambah ketika mata hitamnya melihat siapa wanita yang berada disamping orang yang masuk daftar paling ia benci. Dan tadi Naruto mengatakan istri?

"Eh... kalian sudah saling mengenal?" Naruto bertanya penasaran. Memang tidak heran kalau wanita itu mengenal sasuke, mungkin mantan fangirl-nya namun ini Sasuke.

Gaara melirik pada sang istri yang ada disampingnya dan Ino menegang ditempat seolah seluruh napasnya tercekat bahkan bibirnya tanpa sadar memanggil nama orang yang membuatnya terkejut didepannya.

"Sasuke?" lirihnya.

"Tch..." pria Uchiha itu mendengus saat mengetahui kenyataaan yang sulit dipercaya olehnya. "Jadi dia pria yang kau bilang mau menikahimu?" ada penekanan disetiap kata yang meluncur dari bibirnya. Bahkan kalimat selanjutnya yang ia sampaikan seolah mencemooh orang yang bersangkutan. "Dan dengan bodohnya mau bertanggung jawab atas kehamilanmu?"

Seketikan pria tampan bersurai merah menoleh cepat pada sang istri yang masih diam setelah mendengar kalimat terakhir

Dari Sasuke. "Kau hamil?" tanyanya tidak percaya.

Wanita cantik itu terlihat menahan apa saja yang ingin ia keluarkan terlebih air matanya sekarang, ia menoleh takut-takut pada sang suami. Entah jawaban seperti apa yang harus ia berikan? Kenapa jadi seperti ini Tuhan?

"Jawab aku Ino!" Gaara membentaknya. Pria itu tidak pernah membentaknya selama ia mengenalnya tapi kali ini ia bisa melihat emosi kemarahan pada jade yang selalu meneduhkan itu.

Bentakan Gaara itu sukses membuat cairan bening yang ada di pelupuk mata birunya jatuh tanpa bisa ia cegah lagi. Sungguh bukan dengan cara seperti ini untuk memberi tau Gaara soal kehamilannya.

"Gaara aku-..."

"Jadi kau tidak tau, bahwa istrimu ini sedang mengandung anakku?" Sasuke memotong dengan cepat apapun kalimat yang akan disampaikan oleh wanita pirang. Dan tampak jelas seringai menjengkelkan diwajahnya.

"Sasuke sudah cukup." Ino yang sudah menangis itu berucap cukup nyaring bahkan membentak.

Gaara menoleh lagi pada Sasuke saat mendengar pernyataan pria itu. sungguh Gaara tidak pernah sebenci ini pada seorang Uchiha Sasuke, selain itu ia juga tidak mengenal anak dari ayahnya ini dengan baik selain orang yang membenci ibunya yang dianggap perusak hubungan orang dan juga orang yang membenci dirinya. Namun kali ini ia bisa menilai orang seperti apa Uchiha didepannya ini.

Sedangkan Naruto dan Hinata hanya diam tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi pada tiga orang yang mereka anggap sahabat.

"Jadi... dia, pria itu?" Ucap Gaara akhirnya. Ada rasa kecewa yang cukup nyata untuk ia tutupi dalam kalimat nya. Sungguh ia kecewa, kenapa Ino tidak memberitaunya. Mantan kekasih istrinya adalah Uchiha Sasuke dan soal kehamilannya, istrinya mengandung anak Sasuke yang juga menjadi saudara tirinya. Tuhan dan takdir benar-benar mempermainkannya, sialan! ia benar-benar bodoh sekarang.

"Kenapa kau tidak meberitauku?" Gaara bertanya lagi namun Ino masih diam. Wanita itu hanya menangis dan menundukan kepalanya.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksut untuk tidak memberitaumu Gaara. Percayalah!" sungguh Ino membenci keadaan ini, apa yang harus ia jelaskan? Ia benci bila harus menangis dan kehilangan kata-kata seperti ini.

"Dia saudara ku Ino, apa kau tau itu?" Gaara terlihat menghela napas berat dan kalimat itu sukses membuat wanita cantik itu mendonggak menatapnya tidak percaya. Begitupun dengan Haruto dan Hinata. Begaimana dengan Sasuke? pria itu hanya mendengus mendengarnya.

Terkejut, tidak percaya. Benarkah kenyataan yang baru saja ia dengar ini? kenyataan Gaara dan Sasuke adalah saudara sungguh seolah memukulnya, sakit. Mendadak kepalanya semakin bertambah sakit bahkan kini seolah seluruh pembulu daranya tersumbat. Perutnya pun bereaksi, kram.

Siapa yang perlu disalah disini? Dirinyakah yang tidak tau kenyataan menyakitkan ini? atau Gaara dan Sasuke yang tidak memberitaunya sejak awal? Ataukah Tuhan dan takdir yang mempermainkannya sejauh ini?

Seluruh sarafnya lemas, seolah ia tidak dapat untuk berdiri dengan kedua kakinya. "Maaf Gaara, aku tidak-aku tidak tau...kalau kalian-..." ia mencoba untuk bicara membela diri kerena bagaimanapun juga ia memang tidak tau.

Tangisannya semakin membuat ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Sampai tindakan Sasuke memotong kalimat yang belum sempurna itu dengan memberikan sebuah tarikan pada pergelangan tangannya.

"Ikut denganku!" Ucap pria raven itu saat menariknya.

Bahkan tidak mempedulihan orang-orang yang menatap kearah mereka. termasuk Hyuga Neji. Naruto juga hanya melihat dengan binggung dengan apa yang harus ia lakukan.

"Lepas, lepas Sasuke." Ino meronta dan menghempaskan cengkraman pada pergelangan tangannya. ia sudah tidak peduli dengan keadaan ada dimana ia sekarang. Yang ia tau ia harus bertriak dan ia tidak akan menurut lagi dengan apa yang dikatakan oleh pria ini. Tidak setelah pria ini menghapusnya.

Apa mau Sasuke sebenmarnya Ino tidak mengerti, sungguh kenapa Sasuke selalu seenaknya terhadap dirinya? Apa Sasuke pikir ia sebuah boneka? Boneka yang bisa ia mainkan sesuka pria itu?

"Kau sudah melepasku Sasuke, kau sendiri yang bilang dan aku berhak menikah dengan siapapun kan?" cukup. Meski dengan tersengal dan bertriak, Sasuke harus tau dan harus ingat dengan kata-katanya dulu.

Sudah tidak peduli lagi dengan triakannya yang membuat semua pasang mata tamu undangan menatap kedireksi mereka. menghentikan aktifitas mereka untuk sekedar memberi tatapan apa yang terjadi.

"Kau bebas menikah dengan siapapun, tapi tidak dengan dia, brengsek." Sasuke pun sama ia marah bahkan ia ikut bertriak. Apa yang dilakukan wanita ini adalah kesalahan terbesarnya dan tidak akan pernah membiarkan wanita ini bersama Sabaku.

Air matanya semakin deras mengalir, bahkan sampai sekarang pria ini masih terlalu senang untuk melukainya. Kenapa? Kenapa ia harus mengikuti sitiap ucapannya? Bukan sepenuhnya salahnya dengan keadaan ini, bertemu dan menikah dengan Gaara yang ternyata saudara dari pria yang melukainya. Ironis.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sasuke marah padanya dan ia juga yakin bahwa Gaara juga marah padanya, terbukti pria itu membentaknya tadi dan sekarang pria itu hanya diam. Kekecewaan Gaara terlalu besar untuk tak diacuhkan.

Hyuga Neji yang merasa tidak nyaman dengan kejadian yang tengah terjadi, ia bergegas mendatangi Sasuke, bermaksut untuk menenangkan pria itu. "Uchiha-san?"

Uchiha Sasuke masih terlalu keras kepala, bahkan keberadaan Neji tak membuat takut akan diusir dari tempat ini karena telah membuat kekacauan. Ia masih berdiri angkuh dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata dingin menatap wanita didepannya. "jangan ikut campur."

Larangan itu mutlak dan ia memang harus tidak ikut campur. Ia tidak akan ikut campur andai saja ini bukan soal acaranya. Sungguh Neji tidak bisa akrap dengan pria ini.

Gaara mendekat dan menarik Ino untuk mengikutinya. "Kita pulang!" ucapnya kemudian.

Namun Sasuke pun juga dengan cepat menarik tangan wanita itu yang masih bisa ia jangkau untuk mencegah ia pergi. Dan jadilah Ino berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Sakit pada pergelangan tangannya yang ditarik seenaknya, seolah ia adalah tali.

"Tch... menjijikan ibu dan anak sama saja." Sasuke memprofokasi disela tarikannya yang masih mengerat. Bahkan tidak mempedulikan wanitanya yang kesakitan.

Mendengar kata ibu, membuat Gaara berhenti dan melepas cengraman pada pergelangan tangan sang istri. Pria itu menatap Sasuke tajam, seolah ketenangan yang ia tunjukan sedari tadi hanyalah topeng. Dan sekarang wajah tenang itu mengeras terprofokasi. Sasuke sukses membuang topeng yang sejak tadi coba ia kenakan.

Ia paham, bahkan sangat paham kemana arah pembicaraan Uchiha Sasuke selanjutnya.

"Perebut dan perusak hubungan orang. Seperti seorang pelacur murahan." Sang Uchiha masih melemparkan kata-kata pedas dengan tenang seolah ia tidak peduli dengan orang yang akan tersinggung dengan ucapannya. Ia terlalu cokkan untuk peduli.

Cukup sudah, mungkin selama ini Gaara diam dengan semua tindakan angkuh dan kearoganan seorang Uchiha yang memandang rendah ibunya, ia tidak peduli bahkan sampai detik lalu ia masih sabar, mencoba menahan emosi untuk tidak membuat masalah namun kali ini...?

Duak...

Sebuah pukulan ia berikan pada pipi kiri pria didepannya. "Jaga cara bicaramu Uchiha." ia tidak akan menahan diri lagi, peduli setan dengan semuanya.

Sasuke yang tidak siap akan pukulan yang tiba-tiba itu pun limbung kebelakang. "Keparat!" umpatnya. Ia dapat merasakan rasa asin disudut bibirnya.

Melihat hal itu membuat Ino menahan lengan Gaara. "Cukup Gaara." Namun Gaara seolah tidak peduli akan larangannya.

Duak...

Dengan cepat Sasuke pun membalasnya. "Apa aku salah mengatakan bahwa ibumu adalah seorang pe-la-cur?" bahkan ia menekan dan mengejah kata pelacur pada kalimatnya setelah memberi pukulan balasan.

Sukses kalimat profokasi dari Sasuke membuat Gaara semakin marah dan membalasnya memberi pukulan lagi dan lagi begitupun dengan Sasuke. Bahkan tidak mempedulikan triakan Ino.

"Hentikan Sasuke!"

Naruto dan Neji pun sudah menahan mereka, namun kedua pria itu masih meronta untuk dilepaskan. Mungkin sekarang dari benci sampai kepukulan dan akan saling membunuh kalau saja mereka tidak dihentika.

Sungguh pria Hyuga dan Namikaze itu tidak habis pikir bahwa pria yang hampir memiliki kesamaan sifat ini memiliki masalah serumit ini. Dan parahnya mereka di hubungan oleh benang hitam takdir.

Ino yang melihat itu semakin dibuatnya syok dengan tindakan kedua pria didepannya yang masih kekanak-kanakan. Sungguh hal itu membuatnya semakin kesakitan, kepalanya semakin sakit dan nyeri pada perutnya bertambah mencengkram.

"Hentikan!" ia masih teteap mencoba bertriak meski kini terdengar lemah. Dan andai saja Hinata tidak menahanya pasti ia sudah memisah mereka berdua, namun tubuhnya semakin bertambah lemas.

"Lepaskan brengsek." Sasuke masih meronta begitupun dengan Gaara.

"Lepas." Sampai suara nyaring Hinata menghentikan segala rontahan kedua pria itu.

"Ino-chan?" triak Hinata menahan tubuh wanita yang kini hampir merosot ke karpet dibawanya yang menjadi batas langsung dengan lantai.

"Ugh... perutku, sakit...!" ucap Ino dengan mencengram tangan Hinata yang menahannya. Sakit dan semakin sakit setelah itu semua menjadi gelap. Ino pingsan.

"Naruto-kun-!" Hinata yang panik langsung memanggil suaminya. Dan berhasil. triakanya itu membuat ke dua orang yang masih bersitegang dan dua orang yang tengah menahan mereka bergegas berlari kearahnya.

"Ino!/Ino!" ucap Sasuke dan Gaara bersamaan. Sasuke segera mengambil alih Ino dari Hinata.

.

.

.

.

.

To Be Continue

Thanks to : hanna ramada, Miya Maretha GaaIno, xoxo, Rikuodu461, Ahmad Mahmudi, Hana, NameNoor wahdah, Rei Malik, Chimi Wila chan, Yamanaka Tenten, Tamiino, Zielavienaz96.