.
.
.
Love Shake
Jeon Wonwoo l Kim Mingyu l Other Cast
Rated : T
Disclaimer : Cerita hasil imajinasi saya sedangkan castnya milik bersama
.
.
.
"Park Siyeon?!"
Atensi Ketiga orang yang berada di meja makan langsung teralihkan pada Hyosung. Tatapan mereka mengandung rasa penasaran yang sangat besar. Terutama Himchan dan anaknya. Chaeyeon mungkin hanya terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi? Siapa Park Siyeon?" tanya Himchan.
"Bukan sesuatu yang pantas jika dibicarakan sekarang. Kita masih makan," balas Hyosung sembari menaruh kembali ponsel Wonwoo di meja.
Acara sarapan mereka kembali berlanjut. Mingyu dan Chaeyeon makan dengan lahap. Sang lelaki menyuapi setiap menu yang ada pada sang perempuan. Hyosung saja sampai gemas sendiri melihatnya.
"Kau tak berniat menyuapiku?" tanya Hyosung penuh harap pada Himchan.
Himchan hanya melirik Hyosung sekilas, "Kau sudah besar."
"Chaeyeon juga sudah besar."
"Kau lebih besar."
"Suapi adikmu ini, Oppa~"
"Maaf, aku tak terpengaruh dengan itu."
Hyosung berdecak dan kembali fokus pada sarapannya. Ia mendumel tak jelas sedangkan makanannya hanya diaduk-diaduk saja.
"Ya tuhan, Jeon Hyosung, berhenti bertingkah kekanakan," tegur Himchan.
"Apa susahnya menyuapiku, huh?" balas Hyosung dengan kesal.
Himchan menyumpit kimbap lalu menyodorkannya pada Hyosung, "Buka mulutmu, Hyosung-ie."
Wajah kesal Hyosung hilang sudah. Dengan semangat, Ia membuka mulutnya. Menerima suapan dari Himchan, mengunyahnya lalu menelannya.
"Sudah lama sekali aku tak pernah disuapi oleh orang lain," ucap Hyosung sambil menatap lurus kedepan. Mengingat-ngingat saat terakhir ia disuapi oleh seseorang.
"Berhenti merasa kehilangan dan tersakiti seorang diri. Posisimu sama dengan posisiku," Himchan berucap dengan nada kesal.
"Kita semacam koalisi, ya? Koalisi patah hati," lalu Hyosung tertawa hambar setelahnya.
"Berhenti bernostalgia, Nona Jeon. Kau pasti sebentar lagi akan menangis."
"Kau juga jangan menangis. Malu dengan anak dan calon menantumu."
Himchan tak membalas lagi. Lirikan tak suka sudah mewakili seluruh rasa kesalnya pada Hyosung.
"Setelah ini, Kita akan bertemu Sunhwa. Membicarakan tentang gaun pengantinku dan jasmu."
"Kau serius ingin menikah?" tanya Himchan penuh keraguan.
"Tidak. Tapi aku juga tak mau menjadi perawan tua."
"Mingyu juga butuh sosok yang selalu berada disampingnya."
"Jadi, Ayo lakukan!"
"Kami sudah selesai," ucap Chaeyeon. Gadis itu menumpuk piring bekas makannya dan Mingyu menjadi satu.
"Bagaimana rasanya, Chaeyeon-ie?" tanya Hyosung.
"Enak sekali, Ahjumma," balas Chaeyeon sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Kalian mau berangkat sekarang?"
"Iya, Tapi aku harus mengantar Chaeyeon kembali kerumah," kali ini Mingyu yang menjawab.
"Titip ponsel Wonwoo," Hyosung menyodorkan ponsel Wonwoo pada Mingyu, "Anak itu akan kelabakan jika tahu tak membawa ponsel."
Mingyu menerima ponsel Wonwoo lalu memasukkannya ke dalam tas, "Nanti akan aku berikan. Kalau begitu, kami pamit dulu."
Mingyu dan Chaeyeon membungkuk secara bersamaan. Lalu, Chaeyeon mengulanginya lagi.
"Terimakasih untuk sarapannya."
Keduanya pun beranjak dari meja makan dengan bergandengan tangan. Membuat Hyosung yang melihatnya gemas. Ia bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri.
"Jadi, Anakku benar-benar normal dan tak menyukai adikmu," Himchan membuka pembicaraan. Bukan pembicaraan tapi lebih tepatnya adalah sebuah perdebatan.
"Adikku, Jeon Wonwoo itu manis. Junhui saja pernah jatuh cinta pada Wonwoo. Tapi sayangnya Wonwoo masih normal," Hyosung mulai naik pitam padahal ini baru awalan.
"Junhui? Siapa Junhui?"
"Teman Wonwoo yang waktu itu menelpon. Kau lupa? Wajar saja usiamu sudah hampir senja,"
"Yak Jeon Hyosung!"
"Dilarang berteriak, Kim Himchan. Bersihkan ini dan bersiaplah. Kita harus bertemu Sunhwa."
Seharusnya Hyosung yang membersihkannya. Hitung-hitung latihan sebelum menikah nanti. Jangan bilang nanti setelah menikah posisi mereka akan tertukar! Hyosung sebagai kepala rumah tangga sedangkan Himchan sebagai ibu rumah tangga. Jangan dibayangkan, Tolong.
.
.
.
.
.
Himchan telah bersiap di mobil. Sudah hampir setengah jam ia duduk di kursi kemudi dan Hyosung belum keluar juga dari rumah. Entah apa yang dilakukannya di dalam. Jelas-jelas ia lebih dulu bersiap karena Himchan harus membersihkan kekacauan di meja makan.
"Maaf, membuatmu menunggu lama," ucap Hyosung yang baru saja keluar rumah. Penampilannya sama saja seperti tadi. Tak ada yang berubah sama sekali.
"Apa yang kau lakukan sedari tadi, hah?"
"Aku? Aku tidur. Badanku pegal sekali tadi."
"Ya tuhan, Jeon Hyosung, kau ini—"
"Berhenti mengomel seperti ibu-ibu! Cepat nyalakan mesinnya!"
"Iya, Nyonya Kim."
"Sialan, Aku belum resmi jadi Nyoya Kim! Panggil aku Nona Jeon yang terhormat."
"Tak sudi aku memanggilmu seperti itu."
"Yak kenapa kau tak menyalakan mesinnya juga?!"
"Diam dan duduklah dengan tenang dulu baru aku nyalakan."
Hyosung langsung mengunci mulutnya. Ia membenahi posisi duduknya senyaman mungkin lalu menyibukkan diri dengan ponsel. Lucu sekali jika ia hanya menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Himchan di depan rumah.
Himchan tersenyum puas melihat reaksi Hyosung. Ancamannya berhasil ternyata. Ia lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju Apartemen Sunhwa. Semoga saja ia masih hapal jalannya karena ia baru sekali pergi kesana.
Perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai ke apartemen Sunhwa tak memakan waktu lama. Selain jaraknya yang tak begitu jauh, jalanan yang sepi juga menjadi faktornya. Keduanya turun bersamaan setelah Himchan selesai memarkirkan mobilnya.
"Apartemen Sunhwa nomor berapa?" tanya Himchan.
"125," Hyosung membalasnya dengan begitu singkat.
Mereka berjalan berdampingan dengan sebuah jarak pemisah diantara mereka. Memasuki gedung apartemen yang nampak sederhana. Berbeda sekali dengan milik Hyosung.
Suasana gedung apartemen Sunhwa tak begitu ramai di sekisaran pukul sepuluh. Orang-orang yang punya aktivitas di pagi hari, mungkin sudah sejak subuh meninggalkan rumahnya. Tersisa beberapa orang saja yang masih berlalu-lalang dan menetap di dalam.
"Kau kenal dia?" Himchan bertanya tiba-tiba.
"Siapa?"
Himchan menoleh ke belakang lalu menunjuk seseorang berpakaian serba hitam dengan jari telunjuk, "Dia tersenyum saat melintasi kita."
Hyosung menggeleng, "Aku tak kenal karena aku tak lihat wajah."
Saat sudah berada di depan apartemen Sunhwa, ponsel Hyosung tiba-tiba berdering. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu menjawab panggilan yang ternyata dari Sunhwa.
"Yeoboseo?"
"Eonni, Kau dimana?"
"Di depan apartemenmu? Cepat buka pintunya!"
"Pergi ke kafe seberang saja. Aku sedang berada disana dengan Jieun dan temannya."
Belum sempat Hyosung mengomeli sang penelpon, Sunhwa lebih dulu mematikannya. Pencegahan yang bagus bagi kesehatan telinganya.
"Kita ke kafe seberang sekarang juga," ucap Hyosung dengan amat datar.
"Kenapa?" tanya Himchan.
"Sunhwa ada disana bersama Jieun dan temannya."
"Temanmu itu benar-benar ya."
"Kadang aku menyesal berteman dengan mereka."
.
.
.
.
.
Himchan membuka pintu kafe dan membiarkan Hyosung masuk lebih dulu. Sang wanita berjalan cepat dengan sedikit menghentakkan kaki menuju meja yang diisi oleh tiga orang. Dua wanita dan satu pria.
Hyosung menyuruh Himchan duduk disebelahnya setelah ia berhasil mengusir Sunhwa lebih dulu. Mereka yang sedang menertawakan Sunhwa mendadak bisu saat Himchan datang.
"Wahh, jadi ini calon suamimu?" Jieun bertanya dengan sangat riang.
Hyosung mengangguk kemudian melingkarkan lengannya pada lengan Himchan, "Tentu saja! Kami serasi, kan?"
Jieun terdiam sebentar kemudian mengangguk dengan cepat, "Kalau tak serasi kalian tak mungkin ingin menikah."
"Oppa, Ini Jieun. Song Jieun. Dia yang akan menyanyi pada pernikahan kita nanti," Hyosung mengenalkan Jieun pada Himchan. Mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya.
Himchan dan Jieun saling melempar senyum dan sapaan singkat tanpa adanya acara berjabat tangan. Sekarang giliran Jieun yang mengenalkan orang bawaannya.
"Ini Yongguk Oppa. Bang Yongguk. Rekan kerja sekaligus pencipta lagu yang bernaung dibawah agensi yang sama denganku."
"Kalian bisa meminta dibuatkan lagu khusus pada Yongguk Oppa," saran Sunhwa, "aku baru saja dipuji denga sebait lagu olehnya."
"Bolehkah?" tanya Hyosung dengan sangat antusias. Pernikahannya pasti akan lebih berkesan nanti.
"Tentu saja," balas Yongguk cepat. "Kapan kalian akan menikah?"
"Satu bulan lagi? Atau mungkin lebih cepat."
"Aku usahakan dua minggu lagi akan selesai."
"Oppa, Ayo kembali bekerja. Aku masih harus melatih anak-anak," ajak Jieun.
Jieun bangun lalu menarik tangan Yongguk agar ikut bangun. Keduanya kemudian berpamitan pada yang lain.
"Aku tak bisa lama-lama karena aku sibuk," ucap Sunhwa sembari mengeluarkan sebuah buku dari dalam ranselnya, "Di dalam sini ada beberapa desain baju yang kubuat khusus untuk kalian. Pilih dan hubungi aku besok."
Setelah berkata demikian, Sunhwa langsung berpamitan dan beranjak dari tempatnya. Tersisa Hyosung dan Himchan sekarang.
"Ya tuhan, rancangannya bagus-bagus sekali," puji Hyosung saat melihat halaman demi halaman buku pemberian Sunhwa, "Bagaimana aku bisa memilih salah satu?"
"Hyosung-ah," panggil Himchan.
Hyosung hanya membalasnya dengan sebuah gumaman.
"Bang Yongguk."
Dahi Hyosung mengernyit. Ia langsung menutup bukunya dan menatap Himchan. Sepertinya akan ada pembicaraan yang serius.
"Ada apa dengan dia?"
"Dia adalah orang yang membuatku tak kunjung menikah lagi sampai sekarang."
"Jangan bilang dia yang merebut milikmu?"
"Jika yang kau maksud milikku adalah hati, maka tebakanmu benar."
"Jadi, kau dan dia...," Hyosung tak menggantung kalimatnya, "sudah berapa lama?"
"Ya, aku dan dia punya hubungan khusus dan sudah lumayan lama tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa berpamitan denganku."
"Kalau begitu pasti kau sudah mengenal Jieun sebelumnya."
"Aktingnya benar-benar bagus. Kita seolah tak pernah kenal sebelumnya. Jieun seharusnya merangkap jadi guru akting bagi anak didiknya."
"Kau tak berniat membatalkan pernikahan kita, kan?"
Himchan menggeleng dengan mantap, "Aku tak mungkin menikah dengannya karena kita sama-sama seorang pria dewasa. Mingyu pasti malu nanti."
"Malu? Padahal anakmu itu menyukai adikku."
"Tenang saja, Aku akan mengikuti perjanjian kita di awal."
"Aku masih tak percaya kau belok. Bagaimana bisa kau seperti itu setelah kepergian istrimu?"
"Karena aku ingin mendiang istriku menjadi wanita terakhir yang aku cintai di dunia."
.
.
.
.
.
"Berkediplah," tegur Seungcheol, "matamu memang tak sakit, huh?"
Wonwoo menggeleng, "terlalu sayang dilewatkan walau hanya sedetik."
Seungcheol menghela nafasnya. Menyebalkan sekali mengajak bicara orang yang sedang kasmaran. Apa dulu ia seperti Wonwoo saat sedang jatuh cinta dengan Jisoo?
"Siyeon makin cantik saja sekarang," puji Wonwoo.
"Dia sudah besar dan pandai merawat diri sekarang. Bukan bocah ingusan seperti dulu."
"Hyung, tumben sendirian? Biasanya menempel dengan Jisoo Hyung dan Jeonghan Hyung."
"Karena kami punya jadwal yang sangat-sangat berbeda. Hanya aku yang dapat jatah kelas pagi diantara mereka."
"Aku juga ada kelas siang hari ini."
"Aku full dari pagi sampai sore. Jadi, aku pamit masuk kelas, ok?"
Wonwoo mengacungkan ibu jarinya, "Selamat belajar, Hyung!"
Seungcheol membalas dengan singkat kemudian beranjak dari tempatnya. Membawa serta sekaleng kopi yang belum habis sepenuhnya.
Tersisa Wonwoo disana dengan meja kosong tanpa makanan dan minuman. Ia tak melewatkan satu detikpun untuk itu. Melihat Park Siyeon saja sudah membuatnya kenyang.
Wonwoo bangun saat Siyeon dan kedua temannya beranjak dari tempat. Ia mengikuti ketiga gadis itu dari jarak sekitar lima meter. Jaga jarak aman agar tak dikira penguntit.
Wonwoo mendesah kecewa saat ketiganya masuk ke sebuah ruang kelas. Ia akhirnya juga ikut masuk ke perpustakaan yang letaknya bersebelahan dengan ruang kelas tersebut. Menunggu sampai siang hari di perpustakaan bukanlah hal buruk. Lebih hemat daripada harus menunggu di kantin.
Wonwoo berjalan ke salah satu rak dan mengambil beberapa buku secara acak. Pada dasarnya ia suka buku dengan genre apapun. Lagipula membaca itu untuk menambah ilmu jadi tak perlu pilih-pilih buku.
Wonwoo berjalan menuju salah satu meja yang kosong di deretan depan. Rata-rata pengunjung perpustakaan sedang mengerjakan tugas atau belajar bukan membaca sepertinya.
Wonwoo memulainya dari buku yang bersampul cokelat tua. Baru beberapa lembar ia lahap, tiba-tiba ada seseorang mengetuk mejanya. Ia langsung mengangkat kepalanya.
"Ponselmu, Hyung."
Kim Mingyu ternyata. Mingyu meletakkan ponsel Wonwoo diatas meja lalu langsung melenggang pergi. Tak mau mendengar ucapan terimakasih dari Wonwoo, huh?
"Kenapa kemari? Itu Wonwoo Oppa, kan?" tanya Chaeyeon, " Ayo duduk disebelahnya saja."
Mingyu menahan tangan Chaeyeon saat hendak menghampiri Wonwoo, "Jangan, nanti dia terganggu."
"Kenapa terganggu? Kita sama-sama membaca buku, kan?"
"Baiklah, Chaeyeon-ie."
Mingyu menggandeng tangan Chaeyeon menuju meja di sebelah Wonwoo. Ia menarik kursi yang berada tepat disamping Wonwoo untuk Chaeyeon.
"Oppa, Annyeong!" Sapa Chaeyeon
Wonwoo menoleh sekilas sembari tersenyum. Ia sedang benar-benar hanyut dalam buku bacaannya. Tak bisa diganggu sama sekali.
"Mingyu-ah, kau mau baca buku yang mana?"
"Kau mau yang mana?"
"Aku suka kedua."
"Aku baca yang atas kau yang bawah."
"Aku mau yang bawah saja."
"Kau bilang suka keduanya."
"Tapi aku tiba-tiba tertarik dengan yang bawah."
"Kau yang bawah dan aku yang atas."
"Hanya memilih buku saja berisik sekali," cibir Wonwoo dalam hati. Ia tak mungkin mengatakannya karena pasti Chaeyeon akan merasa sakit hati.
Tak ada pembicaraan apapun lagi setelahnya. Masing-masing telah hanyut dalam buku bacaannya. Hingga tak terasa sudah menghabiskan puluhan menit untuk duduk dan membaca.
Wonwoo merenggangkan otot-ototnya saat telah menamatkan satu buku. Ia melirik jam tangannya sekilas. Sebentar lagi kelasnya dimulai. Benar-benar tak terasa.
Wonwoo mengembalikan buku-buku yang belum sempat dibacanya ke rak. Ia berpamitan kepada penjaga perpustakaan yang sudah hapal dengannya. Terlalu sering Wonwoo kemari setiap minggunya.
Ngomong-ngomong, Chaeyeon dan Mingyu sudah pergi sejak tadi. Mereka ada kelas katanya.
Saat hendak menaiki tangga, Wonwoo tak sengaja berpapasan dengan Siyeon. Ia mengurungkan niatnya dan segera mengikuti gadis itu.
Siyeon ternyata kembali mengunjungi kantin. Bedanya kali ini ia hanya seorang diri. Kedua temannya mungkin sudah pulang atau punya urusan lain.
Wonwoo menempati meja yang tempatnya strategis. Tak begitu dekat dan tak begitu jauh. Jarak amanlah pokoknya. Ia belum siap bertemu Siyeon secara langsung.
.
.
.
.
.
Puluhan menit tak terasa telah berlalu. Kelas siangnya pun ia lewati begitu saja. Siyeon benar-benar menjadi prioritasnya sekarang. Padahal masih bisa di lanjut besok atau besoknya lagi. Bukankah Siyeon juga mahasiswi disini?
"Wahh kau masih betah disini rupanya."
Wonwoo melirik sekilas kearah Seungcheol yang menempati kursi di seberangnya. Ia kembali melirik lagi. Kali ini fokusnya pada minuman isotonik yang lelaki itu bawa. Detik berikutnya, isotonik milik Seungcheol telah berpindah tangan.
"Aku haus sekali, Hyung. Sejak tadi kerongkonganku tak teraliri air," adu Wonwoo setelah menghabiskan separuh isotonik milik Seungcheol.
"Memang Siyeon tak membelikanmu minum, huh?" Cibir Seungcheol, "Kau melakukan perkerjaan yang sia-sia."
"Apa yang aku lakukan tak ada yang sia-sia, Hyung."
"Yo! Hyungdel Whats up!"
Seungkwan datang dengan Seokmin dan langsung membuat keributan. Untung saja para penghuni kantin sedang benar-benar larut dalam dunia mereka masing-masing.
"Whats Up, Boo!"
Wonwoo merutuk saat Seungcheol malah membalasnya. Mereka berdua lalu berhigh five dengan senyum bodoh yang terpatri di wajah masing-masing. Seokmin yang ikut-ikutan menambah gaduh suasana.
"Ya tuhan, aku lelah sekali hari ini."
Junhui tiba-tiba saja muncul dan mengisi tempat di sebelah kanan Wonwoo. Semula Seokmin yang ingin duduk disana. Anak itu akhirnya bergeser ke sebelah kiri Wonwoo.
"Kau kenapa, hyung?" tanya Seungkwan yang sudah duduk manis di sebelah kiri Seungcheol.
"Jadwalku full dari pagi sampai sekarang. Setiap aku berencana membolos pasti selalu berpapasan dengan Minghao lalu dia akan berkata seperti ini," Junhui berdehem sebentar sebelum kembali membuka mulutnya, "Gege, mau kemana? Membolos? Bagaimana mau menikahiku jika masa depan gege tak jelas nanti."
Semuanya langsung tertawa setelah mendengar curahan hati Junhui. Tak terkecuali Wonwoo. Walaupun matanya masih tetap fokus memandangi Siyeon.
Tawa mereka mendadak terhenti saat ponsel Junhui berbunyi. Masing-masing telah hapal dengan nada dering tiap kawannya. Hapal pula dengan kebiasaan Wonwoo yang mensilent ponselnya tanpa alasan yang jelas.
"Yeoboseo."
"..."
"Kau dimana memang?"
"..."
"Aku juga di kantin. Kau melihatku, kan?"
"..."
"Datangi saja mejaku saat tugasmu sudah selesai."
"..."
"Aku tunggu, Siyeon-ie"
Seungcheol dan Wonwoo langsung menatap Junhui penuh selidik. Dari apa yang mereka dengar, Junhui menyebutkan nama 'Siyeon' sebelum meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Kau berniat menikungku, Wen?" Wonwoo bertanya dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
"Menikung? Lucu sekali, Jeon" Junhui menanggapinya bagaikan sebuah lelucon. Lelaki itu bahkan tertawa di akhir kalimatnya.
"Siyeon, Park Siyeon, Kau mengenalnya?" tanya Seungcheol.
"Maksudmu dia?" Junhui menunjuk perempuan yang sedang duduk seorang diri dengan laptop yang terbuka.
"Kau benar-benar ingin menikungku, ya?!" Wonwoo sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
"Menikung apanya? Sudah ada Minghao di hatiku."
"Orang sepertimu mana cukup hanya Minghao saja."
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Seokmin. Ia tak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi.
"Junhui bermaksud menikungku!" Wonwoo menunjuk Junhui dengan telunjuknya.
"Berhenti menuduhku yang tidak-tidak, Jeon!" elak Junhui
"Wonwoo menyukai Park Siyeon, Junhui," ucap Seungcheol bermaksud menyudahi acara perdebatan mereka.
"Benarkah? Kalau begitu gantikan aku menemaninya berkeliling kampus."
.
.
.
.
.
Jantung Wonwoo berpacu dengan sangat cepat saat ini. Seakan bisa melompat leluar kapan bisa. Baru berjalan beriringan dengan Siyeon efeknya sudah bisa sedahsyat ini.
"Oppa, lapangan itu biasanya digunakan untuk apa?" tanya Siyeon sambil menunjuk lapangan yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempat mereka.
"Serbaguna. Bisa untuk futsal dan basket. Kadang juga dijadikan tempat latihan menari oleh anak-anak seni."
"Menari ya? Aku jadi ingin melihatnya."
"Kau bisa menunggunya sampai sore. Tapi tidak setiap hari ada."
"Biasanya hari apa saja, Oppa?"
"Tak tentu. Nanti aku tanyakan dulu. Aku punya tiga teman anak seni."
"Gomawo, Oppa."
Wonwoo terpaku melihat senyum Siyeon. Bumi seolah berhenti berputar pada porosnya dan jarum jam seakan berhenti bekerja. Apapun yang ada di sekitarnya menghilang seketika. Hanya ada Siyeon yang tersenyum sangat manis di sekelilingnya. Dunia imajinasi Jeon Wonwoo sungguh luar biasa.
"Oppa sepertinya kita harus putar balik."
"Hah? Apa?"
"Ada yang sedang berciuman disana."
Wonwoo mengikuti arah pandang Siyeon. Sekitar tujuh meter di depan mereka ada sepasang kekasih yang saling memagut bibir satu sama lain. Dasar pasangan tak tahu tempat. Jelas-jelas ini tempat umum.
"Kim Mingyu dan gadis itu ternyata benar-benar berpacaran."
"Kim Mingyu?"
"Iya, Kim Mingyu yang anak kedokteran. Dia sedang menjadi buah bibir dimana-mana."
Wonwoo menajamkan penglihatannya. Ingin memastikan sendiri apa yang diucapkan Siyeon benar atau tidak.
"Siapa gadis yang bersama Mingyu?"
"Mungkin Jung Chaeyeon."
Sedetik setelah Siyeon berkata demikian, Kedua orang disana menghentikan ciumannya. Siyeon dan Wonwoo masih menunggu-nunggu untuk bisa melihat dengan jelas siapa sosok gadis yang dicium Mingyu.
"Wah dia benar-benar Jung Chaeyeon!"
Wonwoo tercengang mendengar penuturan Siyeon. Matanya yang semula menyipit langsung membulat sempurna. Gadis yang sedang bersama Mingyu benar-benar Jung Chaeyeon. Gadis yang sempat sarapan bersamanya dan gadis yang duduk disebelahnya saat di perpustakaan tadi.
"Apa mereka benar-benar berpacaran?" tanya Wonwoo yang terdengar seperti gumaman.
"Tentu saja! Mereka tak mungkin berciuman sepanas itu jika tak memiliki hubungan."
"Siyeon-ah, Maaf aku harus pergi."
.
.
.
.
.
"Junhui, Dimana Jeon Wonwoo?"
Junhui yang sedang tertawa terbahak-bahak mendadak terdiam. Ia menatap tajam Hanbin yang baru saja menghabiskan sodanya tanpa izin.
"Kau kemari untuk mencari Wonwoo atau menghabiskan minumanku?" tanya Junhui dengan sinis.
"Aku haus setelah mencari Wonwoo kemana-mana."
"Kau kan satu kelas dengannya."
"Tapi dia tak masuk kelas hari ini."
"Anak itu benar-benar," Seungcheol jadi geram sendiri.
"Jangan bilang Wonwoo Hyung rela membolos karena Park Siyeon," tebak Seungkwan.
"Sepertinya tebakanmu benar, Boo" balas Seungcheol.
"Wonwoo Hyung sedang menemani Park Siyeon berkeliling kampus," lapor Seokmin pada Hanbin.
"Park Siyeon? Sepertinya aku kenal dengan anak itu. Baiklah aku akan mencari mereka lagi."
Sebelum pergi ,Hanbin sempat-sempatnya meminum soda milik Junhui lagi. Untung saja ia segera kabur sebelum Junhui melayangkan tendangannya.
Hanbin kembali menelusuri koridor kampusnya. Sesekali ia akan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia harus benar-benar bertemu Jeon Wonwoo hari ini juga.
"Park Siyeon?"
Gadis yang dipanggil Hanbin menoleh lalu tersenyum. Dari reaksi yang diberikan, sudah pasti gadis itu benar Park Siyeon.
"Apa kau melihat Jeon Wonwoo?" tanya Hanbin langsung pada inti permasalahan.
"Wonwoo Oppa tadi berpamitan setelah melihat Kim Mingyu dan Jung Chaeyon berciuman."
Hanbin mengerutkan dahi kemudian kembali bertanya, "Dia pergi kemana?"
"Aku kurang tahu, Sunbae."
"Terimakasih, Siyeon-ssi."
Siyeon tersenyum tipis sambil membungkukkan kepalanya sedikit. Setelahnya, gadis itu melenggang pergi.
"Bukankah Wonwoo menyukai gadis tadi? Tapi kenapa dia tiba-tiba pergi saat..." Hanbin menggantung ucapannya sendiri, "Jangan-jangan Wonwoo menyukai Mingyu!"
"Siapa yang menyukai siapa, hah?"
Hanbin tersadar dari pemikiran tak pentingnya. Di depannya sudah ada Jeon Wonwoo yang berdiri angkuh dengan ekspresi datar. Ia tak perlu susah-susah lagi mencari temannya yang satu ini.
"Kau membolos kemana tadi?" Hanbin langsung menintrogasi Wonwoo.
"Aku di kantin."
"Membolos karena seorang gadis itu tak ada untungnya, teman."
"Cepat katakan apa tujuanmu menemuiku. Aku sedang malas di ceramahi."
"Siapa yang menemui siapa, hah? Jelas-jelas kau yang menemuiku lebih dulu."
"Fine, Aku pergi."
"Yak Jeon Wonwoo!"
Hanbin mengeluarkan selembar kertas beserta beberapa buku dari dalam tasnya. Setelah itu, Ia segera mengejar Wonwoo yang sudah berbelok di tikungan.
"Jeon Wonwoo!"
Wonwoo berhenti kemudian menoleh dengan malas, "Apa lagi?"
"Baca buku-buku ini dan beberapa buku yang ada di daftar," Hanbin menyerahkan buku-buku yang berada di genggaman beserta secari kertas pada Wonwoo, "Di pertemuan selanjutnya akan ada tugas kelompok. Kemugkinan kita akan berada di kelompok yang sama."
"Aku akan ke perpustakaan sekarang juga."
"Bagus, Kalau begitu aku pergi dulu."
Wonwoo menghela nafasnya. Ia menatap nanar daftar buku di kertas yang Hanbin berikan. Ada sekitar sepuluh judul buku yang tertulis disana. Tak mungkin Wonwoo bisa membacanya dalam satu malam atau bahkan beberapa hari kedepan. Di pertemuan selanjutnya mungkin ia baru bisa menghabiskan lima buku.
.
.
.
.
.
Wonwoo melakukan peregangan pada otot-otot tangannya. Mulutnya juga ikut menguap lebar sekali sedangkan matanya berkedip-kedip menahan rasa kantuk. Ia benar-benar menghabiskan sore harinya di perpustakaan.
"Aku akan melanjutkannya dirumah saja."
Wonwoo merapikan buku-buku yang di atas mejanya. Sebagian buku tersebut ada yang dimasukkan kedalam tas. Ia akan melanjutkannya dirumah atau di perjalan pulang nanti.
Wonwoo mengembalikan buku yang tak jadi di pinjamnya ke rak. Ia kemudian berjalan menuju meja penjaga perpustakaan. Melaporkan pada penjaga perpustakaan bahwa ia meminjam beberapa buku. Setelahnya, Ia baru melenggang pergi dari perpustakaan.
Wonwoo mendesah kecewa saat mengetahui di luar sedang hujan deras. Ia benar-benar lelah dan ingin bertemu dengan kasur empuknya. Menerobos hujan sama saja dengan mencari masalah. Tubuhnya sensitif sekali dengan hujan.
"Wonwoo Hyung!"
Wonwoo menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar suara Mingyu memanggil namanya. Jelas-jelas tak ada satupun orang yang berada di koridor kecuali dirinya. Jangan-jangan itu suara hantu penunggu koridor yang menyamar menjadi Mingyu!
"Hyung!"
Wonwoo berjengit saat ada yang menepuk pundaknya. Ia segera merapalkan doa untuk meminta perlindungan pada tuhan.
"Hyung!"
Wonwoo menegang saat tubuhnya dibalikkan dengan paksa. Matanya terpejam rapat sekali dan bibirnya masih merapalkan doa.
"Hyung?"
"Jangan ganggu aku... kumohon..."
Wonwoo memberanikan membuka matanya sedikit saat mendengar suara kekehan. Ia kembali menutup mata saat sosok itu malah menatapnya.
"Hyung, ini aku Mingyu. Kim Mingyu."
"Bohong... Kau pasti hantu penunggu koridor..."
"Terserah kau mau percaya atau tidak."
Sosok yang dikira hantu oleh Wonwoo mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Sosok itu lalu menarik tangan Wonwoo dan meletakkan payung tersebut diatas telapak tangan Wonwoo.
"Pulanglah dan jaga tubuhmu agar tetap kering."
Usapan di kepala menyadarkan Wonwoo. Ia memberanikan membuka matanya. Menatap sosok di depannya yang sedang tersenyum sangat manis. Rasanya persis seperti melihat senyum Siyeon saat tadi menemani gadis itu berkeliling.
Sosok itu sungguhan Kim Mingyu. Bukan hantu penunggu koridor seperti perkiraannya.
"Aku duluan, Hyung. Hati-hati di jalan."
Sampai Mingyu menghilang di tikungan Wonwoo hanya diam mematung. Tak tersenyum dan tak membuka mulutnya sedikitpun. Ia terlalu terkejut dengan tingkah Mingyu barusan. Ini interaksi terlama mereka setelah Mingyu kembali ke korea.
"Dia masih berani berlaku manis padaku setelah mencium Chaeyeon tadi?!"
Wonwoo membuka payung di tangannya dengan perasaan sebal. Ia bahkan terkesan memaksa saat payung tersebut sedikit macet saat proses pembukannya.
"Mau mencoba mempermainkan perasaan orang lain, hah? Cih, memang dia siapa?!"
Perjalanan Wonwoo menuju halte di penuhi dengan gerutuannya yang tak jelas. Sesekali ia akan menyumpahi Mingyu dan mendoakannya dengan yang tidak-tidak. Wonwoo benar-benar menjadi cerewet saat ini.
Wonwoo tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Dari arah berlawanan, matanya menangkap Mingyu dan Chaeyeon yang berlari menerobos hujan dengan sebuah jaket. Ia yakin sekali jika jaket itu milik Mingyu karena anak itu memakainya tadi.
"Sekarang apalagi, hah?! Mereka ingin mengalahkan romantisme sepasang kekasih dalam drama di tv? Menjijikan sekali."
Tiba-tiba saja payung yang di genggam Wonwoo jatuh bertepatan dengan Mingyu yang menyatukan bibirnya dengan bibir Chaeyeon. Seketika tubuhnya telah basah karena derasnya hujan.
"Mingyu..."
Sudah dipastikan Wonwoo akan demam tinggi malam ini.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Rada maksa yah? I know kok ~
Ini emang maksa lanjut karena akutu merasa punya hutang sama kalian u.u sebenernya aku udah mulai jenuh sama cerita ini. Tapi nanggung ahh dikit lagi kelar xDD
Siapa Park Siyeon? Dia itu Pledis girls yang juga ikut di Produce 101 dan aku gatau banyak tentang dia termasuk wajahnya xDD buat yang nyaranin pake nama aslinya Park Siyeon maaf aku gabisa:))
Hubungan Hyosung sama Himchan mulai goyah dengan hadirnya Yongguk. Kalo jodohnya Hyosung dateng maka bakalan ada Banghim sama Meanie. Kira-kira siapa yang pantes dipasangin sama Hyosung? jujur aku bingung ToT saran coba biar dia bisa muncul sepenuhnya. di sini sama di chap sebelumnya pernah muncul lohh ~
Park Siyeon sama Jung Chaeyeon itu gabakalan aku jadiin jahat yahh
yang jahat itu Mingyu sama Wonwoo sama sendiri xDD
Next Chap semoga bisa lebih cepat
aku ada banyak waktu luang setelah berpisah dengan fakeworld ~ sekarang waktu aku cuma diisi sama belajar belajar dan belajar xDD
Makasih buat yang sudah review, follow, favorite dan baca juga:))
Terakhri, Review Juseyeo...
