I know what you did last night
Sumarry: Tsuna tidak tahu, bahwa rencananya membawa teman-temannya liburan berujung petaka. Mansion ditengah hutan, orang-orang yang rupawan dan segala kegelapan dibalik semua keindahan.
Pairing: All x G, 69, Dae, 100, B, 00, Lal. Mengandung rare crack pairing yang takkan pernah ditemukan di fic lainnya :)
Disclaimer: KHR punya tante amano akira
Rating: M, untuk adegan berdarah, bacok-bacokan, penyiksaan, dan adegan thrilling lainnya.
Warning: mutlak OOC, abal, alay, gaje, tidak akan lulus sensor karena terlalu sadis, penuh adegan anarkisme, chara death, ada-adegan-orang-makan-orang, rape, typo yang bertebaran dimana-mana seperti ranjau (?), alur ngebosenin. Don't like don't read! Bangkit dari hiatus
^^9
.
.
.
.
.
.
.
.
Enma duduk terhenyak sambil mengerutkan keningnya dengan frustasi. Beberapa menit yang lalu ia mematahkan leher Hibari Kyouya dengan alasan percobaan pemerkosaan. Tentu saja tidak hanya itu. Ia melemparkan Hibari kedalam perapian, menyalakan apinya dan melemparinya dengan garam biru yang dia bawa didalam kantongnya. Sekarang Hibari Kyouya yang kita kenal tidak lebih hanyalah seonggok abu emas yang bertebaran di kamar. Namun, akibat garam itu kedua tangannya memerah, melepuh-lepuh dan mengepulkan asap, seakan baru saja dibakar diatas kompor barbecue.
Ia teringat akan kenangannya, entah sudah berapa lama, saat dia mengendap-endap kedalam ruang kerja ayahnya, dan membuka buku tentang Sejarah Vrykolakas. Buku itu sebesar nampan minuman dan setebal 20cm. Di salah satu babnya, tempat dimana Enma membaca, disana dikatakan:
Iblis pemakan manusia biasanya menjauhi daerah pantai. Karena udara dan air yang mengandung kadar logam berat tinggi dapat menyebabkan iritas bagi tubuh mereka abadi. Pendeta Marconi Spinoza, seorang keturunan Ruddy pernah mencoba mengusir makhluk itu dengan vitriol biru dari ladang. Sang iblis pemakan manusia langsung terbakar, lalu hancur menjadi serbuk emas dan tak akan bisa bangkit lagi.
Mary Ann Suzzette pernah nyaris dimakan makhluk terkutuk itu. namun tidak berhasil setelah makhluk itu lari tunggang langgang. Penyebabnya adalah gelang tembaga yang digunakan wanita itu. Tembaga membuat sel-sel tubuh makhluk itu tercerai berai, seakan-akan meleleh, lalu hancur seperti serbuk karat pada besi.
Tembaga.
Pantas saja ayahnya dulu melarangnya menggunakan barang-barang dari tembaga.
Enma berbaring, memikirkan satu minggu yang berlalu begitu cepat, yang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Serta merta ia teringat akan Byakuran. Lelaki berambut putih yang bersumpah akan mencintainya dengan seluruh jiwa, raga dan waktunya. Enma percaya hal itu. Ia ingin percaya. Cinta adalah hal biasa bagi manusia, namun tidak demikian bagi makhluk seperti vrykolakas. Tidak hanya cinta untuk melampiaskan nafsu binatang makhluk pemakan daging itu. Cinta sebagai sesama vrykolakas. Berjanji dalam keabadian. Enma mulai menghitung-hitung apakah keabadian itu lama.
Enma menutup matanya, membayangkan apa yang akan mereka lakukan dalam jangka waktu yang disebut 'keabadian' itu. Makan eskrim, clubbing, membuka sebuah restoran, tidur siang, main ski, hiking...
"Enma?"
Anak berambut merah itu menoleh. Dilihatnya sosok Giotto yang menggendong Tsunayoshi. Anak itu perlahan mulai sadar. Giotto membaringkan Tsunayoshi diatas ranjang, disebelah Enma.
"Syukurlah kau tidak apa-apa." Ucap Giotto.
"Ya." Jawab Enma datar.
"Kau tahu, aku rasa aku membuat Tsunayoshi trance."
"Tidak mungkin. Kau itu bukan darah Ru..." ucapan Enma terputus. Ia mengingat bekas luka dipinggang Giotto. Bekas luka yang berdenyut-denyut itu.
"Kau membuat roh Istah merasuki Tsunayoshi?"
"Tidak, ini tidak seperti yang kau kira. Aku tidak tahu bagaimana bisa hal itu..." Giotto kelihatan frustasi.
"Lalu bagaimana?" tanya Enma apatis. Giotto memperhatika sebelah lengannya yang kelihatan mengerikan, tidak kelihatan menyembuh. Wajah Enma kelihatan memucat
"A...ano, Enmakun..." Tsunayoshi meraih lengan Enma yang terbakar. Tanpa sadar, remaja berambut merah itu menyentak tangannya, dan menyebabkan Tsunayoshi terhempas ke ranjang.
"Ma...maaf. Tadi itu sakit sekali." Ujar Enma, mengulurkan sebelah tangannya yang sehat.
"Ada apa dengan tanganmu? Seperti terkena eksim, dan mengeluarkan asap." Kata Tsunayoshi polos, dengan kekhawatiran yang tulus.
"Tidak apa-apa." Katanya. "Hanya kecerobohanku yang bodoh."
"Sini," Giotto menarik tangan Enma, mengucurkan lukanya dengan tetesan darah dari luka yang dibuatnya sendiri. Bau darahnya yang seperti logam dan garam membuat Enma mau muntah. Namun ia akui, perlahan luka bakarnya membaik.
"Darimana kau mendapatkan vitriol biru, Enma?" tanya Giotto.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Flashback]
"Vitriol biru?"
Cozart kelihatan sedikit berpikir keras. Reborn dan Adel memasang pandangan was-was, mungkin saja makhluk berkepala nanas itu masih dapat hidup. Namun, buntalan kain yang dijejalkan kedalam tabung larutan embalming itu tidak bergerak sama sekali. Begitupun tubuhnya yang tercabik menjadi sepuluh bagian lebih yang tidak simetris hasil amukan Cozart.
"Aku belum pernah melihat benda yang kau katakan, Enma. Kalau memang benda itu terbuat dari tembaga, aku tak tahu apa yang harus kita lakukan dengannya." Kata Cozart pasrah.
"Oh, ayolah! Kau hidup lebih lama dari aku! Masa kau tidak tahu apa-apa soal itu? Dibuku yang ayah punya, aku baca disana. Garam. Itu salah satu garam, Cozart!"
"Garam biru? Apa yang kau maksud itu tembaga(II) sulfat?" celetuk Reborn.
"Apa itu?" balas Enma cepat. "Kau tahu?"
"Iya, campuran antara tembaga dan asam sulfat. Pada abad pertengahan, ahli alkimia menyebut semua garam yang terbuat dari logam dan asam sulfat dikatakan sebagai vitriol. Pada zaman ini digunakan sebagai pembasmi hama pada tanaman."
"Visita Interiora Terrae Rectificando Invenies Occultum Lapidem."Gumam Cozart. "Ya, aku ingat. Memang ada apa dengan benda itu?"
"Kurasa," Bisik Enma. "Kita bisa membunuh makhluk-makhluk saudara kita itu dengan benda yang kumaksud tadi."
"Sekarang apa?" tanya Adel menginterupsi. "Kita harus mencarinya kan? Vitriol biru itu? Tembaga Sulfat?"
Adel dan Enma mulai mengacak-acak semua botol di ruangan itu. Reborn dan Cozart seakan tengah menyusun sesuatu dalam otak mereka. Adel membaca satu persatu label di sana dengan sangat teliti, sebelum akhirnya ia melempar sebuah botol plastik dengan tulisan Bordeaux Mixture. Bentuknya seperti gula batu yang setengah hancur, dengan warna hijau toska—cenderung biru.
"Di komposisinya ada tembaga sulfat." Terang Adel.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sayangnya, aku bukan dukun yang bisa menjelaskan bagaimana proses sebuah kesurupan terjadi." Ketus Enma sarkastis.
"Giotto-san..." lirih Tsuna, Enma bisa membaca ada ketakutan yang begitu bergemuruh di dalam dadanya.
"Padre keturunan Ruddy itu mengerti kan?" Giotto menatap Enma.
Pemuda serba merah itu hanya menggedikkan bahunya.
"Kenapa kau tak tahu?" bentak Giotto kesal.
"Kau sendiri saja yang bahkan memiliki darahnya tidak tahu. Jangan membuat dirimu semakin tidak berguna dan hanya bisa memperkeruh suasana!"
Hening. Giotto dengan arogannya membuang muka.
"Yang bisa kau lakukan hanyalah menemui mereka." Enma bersandar ke ranjang. Tatapan matanya meredup. Sepertinya ia begitu lelah."Bawa ini bersamamu."
Enma memberikan sebotol Bordeaux mixture dan sebuah pisau daging kepada Giotto. Dan juga menyelimuti Tsuna dengan selimut, yang sedikit terpercik darah. Tsunayoshi menolaknya mentah-mentah. Pria pirang yang menjadi sentral segala masalah ini membawa dua benda itu, lalu menggeret kekasihnya pergi dari kamar itu. Meninggalkan Enma sendirian yang masih belum bisa mengumpulkan tenaga untuk berjalan.
Tidak tahu terima kasih, rutuk Enma.
Pemuda itu menarik selimut yang ditolak Tsuna tadi. Enma memeluknya. Lembut kain itu memberikannnya kehangatan dan kenyamanan. Hal itu malah makin memperparah kepedihan dalam hatinya. Apakah hal yang ditunjukkan Mukuro itu benar? Apakah Byakuran benar-benar sudah mati seperti yang ditampakannya?
Lima tahun. Byakuran telah menjadi kekasihnya selama lima tahun. Lima tahun itu tidak sebentar. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama. Susah, senang, indah, sakit. Enma ingat ketika Byakuran mengajaknya main ke water park. Ia ingat saat Byakuran bertengkar parah dengan Belphegor karena berani menyentuhnya barang seujung bibir. Enma ingat tujuh hari yang lalu Byakuran bilang mereka akan pergi camping ke dalam hutan dan makan kelinci bakar setengah matang akhir pekan ini.
Baik janji maupun kenangan, semuanya jadi terasa menyakitkan.
Kenapa Giotto harus jatuh cinta pada Tsuna?
Kenapa enam hari kebelakang itu harus terjadi?
Kenapa Mukuro memutilasinya hidup-hidup?
Kenapa Hibari Kyoya mau memperkosanya?
Kenapa Belphegor membunuh Yamamoto?
Kenapa para Padre itu datang?
Kenapa Mukuro membunuh Byakuran?
Terlalu banyak kata 'kenapa' dalam kepalanya.
Berputar-putar.
Memusingkan.
Airmata mulai meleleh dari sepasang manik delima Enma.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Giotto-san..."
Giotto menoleh. Tsuna memegangi kedua lututnya, terengah-engah. Mereka sudah berlarian, mencari dimana para pendeta asal Cornwall itu berada. Mansion ini mempersulit pencarian mereka. Giotto menghampiri Tsuna, berlutut dan menanyakan apa dia baik-baik saja. Tsuna tak bisa menjawab. Bibirnya bergemelutruk, dan keringat dingin berkucuran dari dahinya. Lelah, takut, marah dan sedih. Emosi yang begitu bertubi-tubi dalam tujuh hari berturut-turut telah membawa Tsuna kedalam limitnya sebagai seorang manusia.
"Ayo, Tsuna." Giotto memapah Tsuna di punggungnya. Lalu mereka berdua berjalan menuruni tangga. Di akhir koridor yang tengah mereka lewati ada sesosok vrykolakas yang begitu asing di mata Giotto. Saat ia mendekat, ia merasakan aura kekuatan yang dahsyat hingga membuat kulitnya terasa terbakar.
"Putera Ruddy..."
Suaranya bergaung dalam hingga mencapai setiap senti otak Giotto. Tanpa diperintah, ia berbalik dan lari sambil menyeret Tsunayoshi bak dikejar seekor iblis. Jantungnya nyaris melompat keluar dari mulut. Ia berlari seperti orang gila.
BRUK!
Giotto terpental beberapa langkah. Ia menabrak sosok itu, yang entah sejak kapan berada di depannya. Giotto berusaha menyeimbangkan penglihatannya. Sosok jangkung, dengan lengan dan kaki panjang. Rambutnya merah kasar. Bau karat besi begitu menusuk paru-parunya. Namun, yang membuat Giotto janggal, raut wajahnya tak asing.
Seperti Enma saat usianya 25 tahun nanti.
"Putera Ruddy..." bisiknya lagi. Jemarinya yang kurus bak tengkorak menjulur, mengusap pipi Giotto dengan penuh kelembutan. Ada kehangatan dari kasih sayang dari hawa tangannya. Sosok itu tersenyum kaku dan mengangguk.
"Segala yang dari laut akan kembali pada laut."
Sosok itu memberdirikan Giotto. Pria pirang itu menggedikkan kepalanya berkali-kali. Begitu juga dengan Tsunayoshi. Mereka berjalan, mendobraki setiap pintu dengan sangat gegabah hingga menemukan kamar yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat. Giotto melihat, dari balik kemejanya yang longgar menyembul perban-perban kotor dengan bercak tembaga dan berbau aneh. Kuku jarinya kotor, tidak rata bekas dipotong.
"Kau kakaknya Enma?" bisik Giotto. Cozart tak menjawab. Ia menatap Giotto dengan kaku.
"Kakaknya Enma-kun?" pekik Tsuna. "Pantas. Mirip sekaliiiiii."
Respon yang dikeluarkan Cozart sangat mengerikan. Ia mencabut sebuah pisau panjang dari balik kemejanya, dan mencengkram Tsuna. Dengan rapal aneh ia menghunus pisau itu dan hendak menghujamkannya pada Tsuna.
"JANGAAAAAAN!" Giotto berusaha menghalaunya. Namun hanya dengan sekali sentak, Giotto terpelanting. Kepalanya terbentur. Segalanya jadi kabur.
Cozart terus merapal. Tsuna menjerit, menangis ketakutan dan meronta sekuat tenaga. Namun tenaganya yang lemah tak ada artinya bagi Cozart. Dari mulut Tsuna keluar debu-debu emas yang berterbangan keluar, lalu menyerap kedalam pisau itu. ketika tak ada lagi debu yang mengalir keluar dari mulutnya secara magis dan tak masuk akal itu, Cozart menurunkan pisaunya. Ia kembali berkomat-kamit, lalu mengecup kening Tsunayoshi seakan memberikan sebuah pemberkatan.
"Apa...yang...kau...laku...kan?" lirih Tsunayoshi. Cozart kembali tersenyum kaku. Ia tak memandang mata Tsuna.
"Kau.Trance. Atau bahasa awamnya kerasukan. Dalam dunia vrykolakas¸ makhluk seperti kami bisa mentransferkan apa saja dalam sekali hubungan badan. Kekuatan, kelemahan, karakter, dendam..." Cozart berkata dengan nada datar dan patah-patah. Ia memukulkan pisaunya yang kini bermata emas ke lantai. Lapisan emas itu runtuh, dan lenyap begitu saja. Ia lalu melihat ke arah Giotto, lalu mengulurkan tangannya.
"Maaf, tapi itu pekerjaan." Katanya.
Giotto menerima tangannya. Ketika ia sudah sepenuhnya bangun, Cozart menarik baju Giotto hingga lepas dengan sekali gerak. Ia berjongkok, matanya lekat pada bekas luka di pinggang Giotto yang menghitam, dan benar-benar terlihat berdenyut. Lalu tangan kerontangnya menelusuri badan Giotto, hingga akhirnya sampai pada wajahnya.
"Pasti berat, hidup dalam dua jiwa begitu. Lapar dan tak tega. Mencintai tapi membenci."
Cozart seperti tengah berbicara sendiri. Giotto buru-buru mengambil pakaiannya dan memakainya kembali.
"Kita bisa beristirahat dengan tenang disini." Katanya.
Giotto naik ke ranjang, dimana Tsunayoshi kelihatan pulih meski bertahap. Cozart memilih berbaring di lantai. Kaki panjangnya menendang meja dan menjatuhkan sebuah lampu hingga pecah. Ia panik sendiri, lalu berguling malas. Mereka tak saling bicara selama beberapa menit.
"Ano...Padre..." ujar Giotto. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kau vrykolakas. Tetapi kau terlahir dengan darah Ruddy." Katanya. "Selama ini kau berhasil mempertahankan satu karakter dalam hidupmu. Namun, ada suatu faktor yang membuat karakter aslimu mendobrak keluar."
Giotto kelihatan tidak mengerti. Cozart mendengus jengkel.
"Berikan kepalamu." Katanya. Ia membentangkan telapak tangannya yang ramping dan panjang karena jemari kerontangnya yang seperti cakar.
Giotto menunduk, membiarkan tangan vrykolakas daraah murni paling ganas sepanjang sejarah itu terbenam dalam helai-helai pirangnya yang sudah mulai kusut masai. Tidak ada yang terjadi. Namun ia kembali melihat Cozart yang merapal.
"Cinta..." katanya. "Ketika seorang vrykolakas melakukan ritual seks sesama jenis pada bulan baru sebagai pengikat janji, mereka—suka atau tidak akan menjadi pasangan dalam keabadian. Saling memikul suka duka. Dan cinta akan tumbuh perlahan dalam hati masing-masing."
Giotto membelalak. Semua kebingungan ini perlahan mulai terungkap.
"Kau dan Daemon Spade sudah merupakan satu pasang. Karakter Spade mulai tumbuh pada dirimu, begitupun dengannya. Tapi..." Cozart menatap dalam-dalam mata Giotto. "Cinta Spade musnah karena benci yang mengalir dalam nadimu. Darah Ruddy-mu mati suri, dan perlahan hilang ketika kau mulai menyerah untuk berjuang..."
Yang dikatakan Cozart nyaris benar semua. Spade memang memberikan apapun untuknya, jiwa, raga, harta, waktu dan cintanya. Masa lalu Giotto yang kelam, dimana ia melihat seluruh masa depannya dibakar hangus jadi abu yang ditiup oleh angin laut Cornwall, menjadi dendam yang mengakar kedalam jiwanya. Tetapi, makin kemari...setelah bertahun-tahun, perlawanan Giotto meredup. Ia mulai menerima setiap cumbuan Spade. Ia melunak, seakan dendamnya sudah mulai layu.
"Anak itu manis." Kata Cozart. "Matanya penuh cinta."
Tsunayoshi.
Sosok yang membuat Giotto nekad melawan seorang Daemon Spade, seorang vrykolakas yang kalibernya setara dengan orang yang ada di hadapannya. Senyum manisnya mampu menghangatkan hati Giotto yang beku. Suaranya menyembuhkan luka-luka Giotto yang menganga. Hingga tiba dimana mereka melakukannya. Meski dibawah kesadaran, Giotto yakin, bahwa mereka melakukannya diatas nama cinta.
Cinta itu membuat darah Ruddy Giotto bangun. Ia ingin, sekali ini saja, berusaha melindungi Tsunayoshi. Cinta yang hilang selama lima tahun. Giotto ingin memperjuangkan Tsuna. Hanya itu.
"Jangan sampai kau melawan hirarki vrykolakas. Kau takkan bisa lari." Kata Cozart.
Giotto terdiam. Ia mengelus lembut rambut Tsunayoshi.
"Apa tak ada cara lain?" tanya Giotto.
"Ada." Kata Cozart. "Kau bisa terus maju. Hal itu takkan mudah. Trauma yang dihadapi Tsuna dan yang lain sudah terlalu jauh. Kau tak akan bisa membuat seakan semua ini hanya cerita fiksi atau petualangan yang dibuat-buat."
Giotto menghela nafas dalam. Ia tak tahu apakah Tsunayoshi akan bertahan. Ia pasti, akan sungguh-sungguh menjaga sang terkasih dengan segenap tekadnya. Meskipun terus bergerak maju adalah sesuatu yang nyaris mustahil, the life must go on. Sempat terlintas di benak Giotto untuk membunuh Tsuna. Namun apa? Hal itu takkan membawa perubahan apa-apa. Tak ada satu nyawapun yang bisa diselamatkannya.
"Tapi..." kata Cozart. "Ada cara lain. Aku tak mau menyebutkannya. Dan aku juga tak mau melakukannya. Berbahaya. Dibutuhkan banyak sekali korban." Ia melihat kearah Cozart. "Tapi, sepertinya hanya satu korban kali ini,"
Giotto menunggu.
"Kau bisa pergi ke masa lalu. Kau bisa merubah hirarki vrykolakas dirimu sendiri."
.
.
.
.
.
.
.
.
BAB SEBELAAAAS! Hell yeah, maaf ya para readersku. Aku stuck of idea, dan akhirnya meng-hiatuskan IKWDYLN. Dan untuk memperbesar sepak terjang saya dalam bangkit dari hiatus karena di sparta sama PELAJARAN, saya mengupdate IKWDYLN ini. Ini ngetiknya ngebut satu hari, dari siang sampai malam. Makanya kalo ada berkodi kodi typo, maafkan daku para readers yang terhormat. Untuk fic lain sepertinya menyusul. Semoga fic gore-lemon ini masih ada yang sudi baca –sujud-
Fic ini didedikasikan pada kalian semua. Hope you leave me review so i know what's in your mind
